• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor-faktor pendukung dan penghambat dari kurikulum berbasis kompetensi komunikatif (KBKK) untuk meningkatkan kemampuan

METODOLOGI PENELITIAN

KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI

5. Faktor-faktor pendukung dan penghambat dari kurikulum berbasis kompetensi komunikatif (KBKK) untuk meningkatkan kemampuan

berbicara untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP)

Terwujudnya kurikukulum berbasis kompetensi komunikatif (KBKK) bahasa Jepang memberikan pengaruh yang baik dalam meningkatkan kegiatan belajar mengajar bahasa Jepang di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Implementasi KBKK di kelas telah memudahkan guru dalam melangsungkan kegiatan belajar mengajar yang menarik dan menyenangkan. Keaktifan siswa dalam belajar terlihat ketika pembelajaran mulai dari berlatih mengucapkan kosakata-kosakata baru, membuat kalimat sederhana dan mencoba berlatih melalui role play, bercakap-cakap dengan teman sebangku atau kelompok, memberikan motivasi dan sinergi bagi siswa dalam belajar bahasa Jepang. Kemampuan berbicara siswa dapat dilihat didalam dan diluar kelas, seperti mengucapkan persalaman sesama teman atau dengan gurunya. Kegiatan guru dalam mengajar menentukan tercapainya tujuan yang diharapkan dalam kurikulum yang disusun. Sehingga guru harus memahami lebih dulu sasaran atau tujuan capaian yang diharapkan dalam pembelajaran bahasa Jepang pada setiap tema-tema materi ajar.

Keunggulan dari KBKK bahasa Jepang adalah merupakan inovasi baru dalam perkembangan pendidikan bahasa Jepang untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP), selain menjadi pedoman bagi guru-guru dalam mengajar bahasa Jepang di Sekolah Menengah Pertama (SMP) kelas 7, kurikulum, silabus dan materi ajar yang disusun ini juga mampu mengaktifkan siswa dalam kegiatan belajar mengajar khususnya dalam mengembangkan kemampuan berbicara. Kompetensi kebahasaan, kompetensi aksional, kompetensi sosiokultural dan kompetensi strategi dapat terintegrasi dengan penggunaan silabus gabungan. Hal ini

Herniwati, 2015

KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI KOMUNIKATIF BAHASA JEPANG UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA PADA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

memberikan pengaruh yang baik dalam menciptakan suasana kelas yang komunikatif.

Hambatan yang terjadi dalam penyusunan kurikulum ini adalah belum tersedianya penelitian-penelitian terdahulu yang dapat dijadikan acuan atau bahan pembanding penelitian ini. Keterbatasan bahan ajar bahasa Jepang untuk anak-anak sangat terbatas sehingga dibutuhkan waktu yang cukup lama dalam penyusunan materi ajar yang sesuai untuk siswa-siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dalam implementasi kurikukulum berbasis kompetensi komunikatif (KBKK) bahasa Jepang durasi waktu yang terbatas sehingga setiap tema yang dipelajari membutuh dua kali pertemuan. Sehingga di setiap Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang dijadikan tempat penelitian memiliki perbedaan dalam pencapaian materi ajar. Bagi siswa pembelajaran bahasa Jepang merupakan bahasa asing kedua setelah bahasa Inggris yang telah dipelajari lebih dulu ketika sekolah dasar. Sehingga ketika pembelajaran bahasa Jepang siswa begitu antusias dan bersemangat dalam belajar, sehingga suasana kelas sangat ramai dengan aktivitas siswa dalam mengucapkan materi-materi ajar yang diberikan. Oleh karena itu sebagai pengajar perlu memahami teknik pengelolaan kelas yang baik agar kegiatan belajar mengajar bahasa Jepang di kelas dapat terorganisasi dengan baik, agar siswa tidak hiperaktif dan akhirnya tidak memberikan peluang pada siswa yang masih malu-malu dalam berbicara bahasa Jepang.

B. Implikasi

Hasil penelitian ini bertujuan untuk membangun sebuah produk kurikulum sebagai desain kurikulum berupa organisasi silabus, organisasi bahan ajar dan rancangan pedoman pengajaran (RPP). Selanjutnya implementasi kurikulum dalam mencapai tujuan kurikulum yang sudah didesain sebelumnya. Implikasi secara umum dalam penelitian ini adalah :

1. Kurikulum berbasis kompetensi komunikatif (KBKK) bahasa Jepang ini merupakan hasil dari analisis kebutuhan yang menjadi harapan dari para

Herniwati, 2015

KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI KOMUNIKATIF BAHASA JEPANG UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA PADA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

guru dan siswa pembelajar bahasa Jepang sebagai steakholder. Konsep kurikulum teknologi menjadi model penyusunan dimana tujuan kompetensi, isi/ materi, evaluasi ditujuakan untuk pencapaian kompetensi komunikatif khususnya kemampuan berbicara bahasa Jepang dasar. Dimana penyusunan desain kurikulum ini didasarkan pada kompentensi komunikatif yang menjadi tujuan pembelajaran bahasa Jepang sebagai bahasa asing. Adanya keterkaitan erat antara kurikulum dengan implementasi pembelajaran sebagai realisasi dari desain kurikulum yang dibuat. Kurikulum berbasis kompetensi komunikatif (KBKK) bahasa Jepang merupakan satu perangkat (desain, implementasi dan evaluasi) yang tidak dapat dipisahkan. Implikasinya bahwa kurikulum merupakan pedoman yang dijadikan dasar untuk mengatur dan mengendalikan penyelenggaraan suatu pendidikan atau pembelajaran di sekolah. Implementasi KBKK ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Jepang tingkat dasar, maka gabungan kurikulum subjek matter dan kurikulum yang terintegrasi menjadi desain yang sesuai untuk kurikulum berbasis kompetensi komunikatif (KBKK) bahasa Jepang ini. 2. Pengembangan organisasi materi ajar bahasa Jepang tingkat dasar ini

diarahkan pada tema-tema yang mudah berhubungan dengan diri sendiri, persalaman, perkenalan dan tema-tema yang dekat dengan kehidupan nyata sehari-hari siswa di lingkungan sekolah dan rumah. Struktur susunan materi ajar dimulai dari kosakata, pola kalimat, latihan membuat kalimat, percakapan dan latihan percakapan. Implikasinya materi ajar yang menarik berisikan gambar-gambar dan warna memberikan motivasi pada siswa dalam pembelajaran sehingga tercipta pembelajaran yang menyenangkan.

3. Implementasi kurikulum berbasis kompetensi komunikatif (KBKK) bahasa Jepang di kelas dilaksanakan dua kali 40 menit memberikan keleluasaan pada guru untuk lebih mengaktifkan siswa dalam berlatih mengucapkan kosa kata, berlatih membuat kalimat sederhana dan

Herniwati, 2015

KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI KOMUNIKATIF BAHASA JEPANG UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA PADA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

mempresentasikan percakapan sederhana dengan menggunakan berbagai teknik pembelajaran seperti drill, role play, information gap, game dan sebagainya. Implikasinya implementasi KBKK bahasa Jepang ini mampu mengaktifkan siswa dalam berbicara dengan guru dan teman sebangku atau kelompoknya, sehingga empat kompetensi kebahasaan, kompetensi aksional, kompetensi sosiokultural dan kompetensi strategi yang merupakan bagian dalam kompetensi komunikatif dapat tercapai. Selain itu dalam kegiatan belajar teknik tiga “M” “Memahami (Wakaru),

Menghapal (Oboeru), Menggunakan (Tsukaeru)” siswa berani mencoba mengungkapkan dengan bahasa Jepang sederhana sesuai dengan tema-tema pelajaran yang dipelajarinya.

4. Bagi guru-guru bahasa Jepang Sekolah Menengah Pertama (SMP), kurikulum berbasis kompetensi komunikatif (KBKK) bahasa Jepang ini memiliki keunggulan dan kelemahan. Keunggulan KBKK ini sangat membantu guru dalam meningkatkan kinerja dan kemampuan guru dalam mengajar. Kelemahannya, guru pun harus mampu untuk mengembangkan lebih jauh media media pembelajaran tambahan yang mampu meningkatkan keterampilan berbahasa lainnya selain keterampilan berbicara.

5. Bagi siswa, keunggulan KBKK dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam belajar bahasa Jepang juga mampu meningkat kepercayaan diri siswa untuk berani berbicara bahasa Jepang di depan kelas. Hal ini dapat dilihat dari hasil statistik yang mengalami peningkatan setelah adalanya implementasi kurikulum berbasis kompetensi komunikatif (KBKK) bahasa Jepang. Kelemahannya pengelolaan kelas perlu diperhatikan karena kondisi kelas yang menjadi ramai saat siswa-siswa tampil di depan kelas untuk mempresentasikan percakapan sederhana yang dibuatnya. Karena teman yang belum tampil melaksanakan latihan berulang-ulang dengan teman-temannya sehingga kondisi kelas menjadi kurang kondusif.

Herniwati, 2015

KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI KOMUNIKATIF BAHASA JEPANG UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA PADA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

C. Rekomendasi

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil-hasil yang signifikan untuk perkembangan pendidikan bahasa Jepang di Sekolah Menengah Pertama (SMP), maka perlu adanya rekomendasi kepada beberapa pihak terkait yakni, a) guru bahasa Jepang SMP, b) pemegang kebijakan diknas dan sekolah, dan c) peneliti selanjutnya yang akan mengembang pendidikan bahasa Jepang lebih lanjut.

a) Rekomendasi kepada guru-guru bahasa Jepang SMP

Dengan terwujudnya kurikulum kompetensi berbasis komunikatif (KBKK) bahasa Jepang ini merupakan terobosan baru dalam perkembangan pendidikan bahasa Jepang untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Indonesia. Dengan adanya desain kurikulum kompetensi berbasis komunikatif (KBKK) bahasa Jepang, organisasi silabus dan organisasi materi ajar bahasa Jepang tingkat dasar harapan dari guru-guru dan siswa tercapai, guru dapat mengimplementasikannya dengan menekankan pendekatan komunikatif sehingga siswa memiliki kemampuan berbicara. Materi ajar bahasa Jepang yang sesuai dengan tujuan dari KBKK memberikan keleluasaan bagi guru-guru untuk mengembangkannya lebih menarik dan menyenangkan. Perkembangan teknologi dapat membantu guru-guru untuk membuat media pembelajaran yang inovatif.

b) Rekomendasi pemegang kebijakan diknas dan sekolah

Pembelajaran bahasa asing di sekolah baik diajarkan sejak dini, tidak hanya bahasa Inggris namun bahasa asing lainnya pun dalam hal ini bahasa Jepang dapat dijadikan salah satu bahasa asing yang baik diajarkan pada anak-anak menginjak remaja. Di era globalisasi ini kemampuan bahasa asing merupakan salah satu yang harus dikuasai oleh putra-putri Indonesia. Sudah selayaknya sebagai pemangku kebijakan diknas untuk mengembangkan mata pelajaran bahasa asing sebagai muatan lokal atau mata pelajaran pengembangan diri di sekolah, baik SD maupun SMP. Pengenalan bahasa Jepang dasar telah menjadi daya tarik tersendiri di

Herniwati, 2015

KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI KOMUNIKATIF BAHASA JEPANG UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA PADA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

SMP-SMP yang mengajarkan mata pelajaran bahasa Jepang sebagai mata pelajaran unggulan. Motivasi siswa yang tinggi memberikan sinergi yang baik bagi siswa-siswa di setiap kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Keingintahuan mereka terhadap hal-hal baru dari bahasa Jepang menjadi satu tantangan bagi mereka untuk menguasainya. Dengan adanya kurikulum kompetensi berbasis komunikatif (KBKK) bahasa Jepang ini telah memberikan kontribusi yang baik dalam meningkatkan kemampuan berbicara siswa-siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP). Walaupun dengan bahasa Jepang dasar dan sederhana siswa berani mencoba untuk berbicara bahasa Jepang di depan teman dan gurunya.

c) Rekomendasi kepada Peneliti selanjutnya

Kurikulum kompetensi berbasis komunikatif (KBKK) bahasa Jepang disusun untuk siswa kelas 7 dan diharapkan akan berlanjut untuk kelas 8 dan kelas 9. Namun, masih banyak masalah-masalah lain yang berkaitan dengan pendidikan bahasa Jepang di sekolah menengah, baik di Sekolah Menengah Pertama (SMP) maupun SMA/MA dan SMK. Dengan adanya kurikulum 2013 sebagai tenaga pendidik perlu adanya kajian-kajian yang terkait dengan implementasi kurikulum 2013 untuk mata pelajaran bahasa Jepang. Evaluasi kurikulum menjadi kajian yang menarik untuk dapat meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Jepang pada sekolah menengah di Indonesia.

Herniwati, 2015

KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI KOMUNIKATIF BAHASA JEPANG UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA PADA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Herniwati, 2015

KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI KOMUNIKATIF BAHASA JEPANG UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA PADA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Daftar Pustaka

Anderson, L.W. & Krathwohl. (2001). A Taxonomy for Learning, Teaching and

Assessing. New York: Addison Wesley Longman, Inc.

Auerbach. E.R. 1986. Competency-Based ESL: One Step Forward or Two Steps

BackTESOL QUARTERLY Vol.20 No.3 September 1986, pp. 411-429

Azies , F. & Alwasilah, A. C. (1996). Pengajaran Bahasa Komunikatif Teori dan

Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Beachamp, G. A. (1981). Curriculum Theory. Wilmette, Ilinois:The KAGG Press. Borg & Gall. (1979). Educational Research : an Introduction. New York

Longman

Brumfit, C. J. & K. Johnson. (1991). The Communicative Approach to Language

Teaching. Oxford:Oxford University Press.

Brown, H.D. (2001). Principles of language learning and teaching (4th ed.). Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall Regents.

Bruner, J.S. (1960) The Process of Education. New York: Vintage

Canale, M. (1983). From Communicative Competence to Communicative

Language Pedagogy, In J. Richards & R. Schmidt (eds.) Language and Communication (pp.2-25). New York: Longman.

Canale, M. & Swain, M.K. 1980. Theoretical bases of communicative approaches

to second language teaching and testing. Applied Linguistics, 1, 1-47.

Caswel H. L & Campbell. D.S. (1935). Curriculum Devolopment. New York : American Book .Co

Celce M. et.all (1995). Communicative Competence: A Pedagogically Motivated

Model With Content Specifications Issues In Appplied Linguistics, 6,5-35

Cummins, J. (1980). The Cross-Lingual Dimensions of Language Proficiency:

Implications for Bilingual Education and The Optimal Age Issue. TESQL

Quartery, 14, 175-187.

Cummins, J. (1981). The Role of Primary Language Development in Promoting

Herniwati, 2015

KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI KOMUNIKATIF BAHASA JEPANG UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA PADA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

California State University, evaluation, dissemination and assessment center.

Depdiknas. (2003). Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem

Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas R.I.

Doll, R.C. (1974). Curriculum Improvement, Decision Making and Process. Boston: Allyn & Bacon , Inc.

Dubin, F. & Olshtain, E. (1986). Course Design Developing Programs and

Materials for Language Learning. New York: Cambrige University Press.

Dulay, H., Burt & Krashen, S. (1986). Language Two. New York: Oxford Univerisity Press.

Fogarty, R. (1991). Ten Ways to Integrate Curriculum. Educational Leadership,

49(2), 61-65

Fullan. M. (1982). The Meaning of Education al Change. New York: Teacher College. Press

Ghazali, S. A. (2010). Pembelajaran Keterampilan Berbahasa Dengan

Pendekatan Komunikatif – Interaktif. Bandung: Refika Aditama

Grognet, A. G., & Crandall, J. (1982). Competency- Bases Curricula in Adult

ESL. ERIC/CLL New Bulletin 6: 3.

Hajime,T. (2002). Hajimete No Nihongo Kyouiku-2 Nihongo Kyoujuhou

Nyuumon. Jepang:Bonjinsha

Hamalik, O. (2007). Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung: Remaja Rosda Karya

Hamid, Hasan Said. (2008). Evaluasi Kurikulum. Bandung: Remaja Rosda Karya Halliday, M.A.K. 1985. Spoken and Written. Language. Oxford: Oxford

University

Hasan, S. H. (1988). Evaluasi Kurikulum. Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikti P2LPTK

Hasan, S. H. (2008). Evaluasi Kurikulum. Bandung: Remaja Rosda Karya

Heryati, Y. (2009). Penerapan Model Pembelajaran Siswa Aktif (Student Active

Learning) Bagi peningkatan Keterampilan Berbicara bahasa Indonesia.

Herniwati, 2015

KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI KOMUNIKATIF BAHASA JEPANG UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA PADA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Hymes, D. H. (1972). On Communicative Competence. In Pride, J. B., & Holmes, J. (Eds.), Sociolinguistics, 269-293. Baltimore, USA: Penguin Education, Penguin Books Ltd.

Iskandarwassid & Sunendar D. (2009). Strategi Pembelajaran Bahasa, Bandung: Remaja. Rosdakarya.

Kasbolah, K. (1999). Desain Silabus dalam Pendidikan Bahasa. Makalah dalam Lokakarya Pengembangan Kurikulum Program Studi Bahasa, IKIP Bandung.

Kawaguchi, Y. & Yokomizo, S. (2005). Seichou suruKyoushi tame no Nihongo

Kyouiku Handobukku(jou). Japan: Hitsujishobu.

Lapp, D. et.all. (1975). Teaching and Learning: Philosophical, Psychological,

Curricular Application. New York: Macmillan Pub.Co.Inc.

Lengkanawati, N. S. (2007). Pendidikan bahasa. Dalam Mohamad Ali dan rekan (penyunting) Ilmu dan Aplikasi Pendidikan (Hal. 659-692) Bandung Pedagogiana Press.

Littlewood, W. (1981). Communicative Language Teaching: An Introduction . Cambrige, England: Cambrige University Press.

Logan, L.dkk. (1972). Creative Comunication Teaching The Language Arts. Canada: Montal.

Longstreet.W.S & Shane.H.G.(1993). Curriculum for New Millennium. Boston: Bacon

Mari, K. dkk. (2009). Hanasukoto o Oshieru. Kokusai Koryukikin Nihongo

Kyoujuhou Shirizu- 6. Jepang: The Japan Foundation.

M.C. Ashan. ( 1981). Competency Based Education and Behavioral Objectives. New Jersey: Englewood Clifss Educaional Technology Publication Inc. Mc. Neil J.D. (1977). Curriculum Comprehensive Introduction. Boston: Little

Brown & Co. Inc.

Miller, J.P. & W. Seller. (1985). Curriculum: Perspective and Practice. New York dan London: Longman.

Herniwati, 2015

KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI KOMUNIKATIF BAHASA JEPANG UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA PADA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Nababan, P.W.J. (1993). Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Nasution . S. (2006). Kurikulum dan Pengajaran. Jakarta: Bumi Aksara

Nurgiyantoro. B. (2010). Penilaian Pembelajaran Bahasa Berbasis Kompetensi. Yogyakarta: BPFE.

Oiler, J. N.,Jr. (1979). Language Test at School: A Pragmatic Approach. New York: Longman

Oliva, P. F. (1991). Developing the Curriculum. New York: Harper Collins. Ozaki, T. (1992). Nihongo Kyouiku no Koosu Dezain- Kaigai Gakushuusha no

tame no Koosu Dezain. Jepang Tokyo: Fukumura Shuppan

Paulston, C.B. (1974). Linguistics and Communicative Competence. TESQL Quartery, 8, 4-347-62.

Richard, J.C & Rodgers.T. (1986) Approaches and Methods in Language Teaching. New York: Cambrige University Press.

Richard, J.C. (2002). Curriculum Development in Language Teaching. New York: Cambrige University Press.

Rivers & Temperley. (1978). A Pratical Guide to The Teaching of English as a

Second of Foreign Language. New York: Oxford University Press.

Rubin, Joan dan Thompson. Irene (1994). How to be a more successful language

learner. Boston: Heinle and Heinle Publishers.

Sanjaya, W. (2006). Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis

Kompetensi. Jakarta: Kencana Prenada Media

Sanjaya, W. (2008). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media

Savignon, S. J. (1972). Communicative Competence: An Experiment in

Foreign-Language Teaching. Philadelphia: The Centre for Curriculum

Development, Inc.

Savignon, S. J. (1983). Communicative Competence: Theory and Classroom

Practice. Texts and Contexts in Second Language Learning. Reading,

Herniwati, 2015

KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI KOMUNIKATIF BAHASA JEPANG UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA PADA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Saylor,J.G.,Alexander,W.M.(1981). Curriculum Planning for Better Teaching and

Learning. New York: Holt Renehart and Winston.

Schubert, W. H. (1986). Curriculum : Perspective, Paradigm, and Possibility. New York: Macmillan Pub.

Stern, H. H. (1983). Fundamental concepts of language teaching. Oxford: Oxford University Press.

Subyakto, Nababan, Sri. Utari(1988). Metode Pengajaran Bahasa. Jakarta: Gramedia

Sudjana, N. (1996). Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah. Bandung: Sinar Baru Algensindo

Sudjianto. (2010). Metodologi Pembelajaran Keterampilan Berbahasa Jepang. Jurusan Pendidikan Bahasa Jepang FPB UPI

Sukmadinata, N. S. (2008). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sukmadinata, N.S. (2010). Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung: Rosdakarya.

Sukmadinata, N. S. dan Syaodih, E. (2012) . Kurikulum dan Pembelajaran

Kompetensi. Bandung: Refika Aditama.

Tanaka, N. (1997). Nihongo Kyouiku Kikan ni Okeru Koosu Dezain . Tokyo: Bonjinsha

Tanaka, N. (1998). Nihongo Kyouiku no Hoohoo . Tokyo: Bonjinsha.

Tarigan, H. G. (2009). Pengembangan Kurikulum Bahasa. Bandung: Angkasa. Tarigan, H. G. (2008). Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.

Bandung: Angkasa.

Taba, H. (1962). Curriculum Development, Theory, and Practice: Foundation

Process, Design, and Strategy for Planning Both Primary and Secondary.

New York: Harcourt, Brace &Word, Inc.

The Japan Foundation. ( 2012). Survey Report on Japanese-Language Education

Herniwati, 2015

KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI KOMUNIKATIF BAHASA JEPANG UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA PADA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Tyler, R. (1950). Basic Principles for Curriculum and Instruction. Chicago: University of Chicago Press.

Vygotsky.L. (1978). Mind in Society. Harvard: Harvard University.Press

Zais, R. S. (1986). Curriculum Principles and Foundation. New York: Harper & Row Publisher

Riwayat Hidup

Herniwati lahir di kota Bandung pada tanggal 2 Juni 1972 dari pasangan Drs. H. Mas Hidayat dan Hj. Nani Sumarni. Ia adalah anak ke lima dari enam bersaudara dan telah menikah dengan Abdul Kadir, S. Pd. Dengan dikaruniai tiga orang putri, yaitu, Nabila Siti Mahdiyyah, Shakura Hanna Fazila dan Khalisa Lutfiya Aiko.

Penulis menyelesaikan Sekolah Dasar PPSP tahun 1984, SMP Negeri 38 Bandung tahun 1987 dan SMA Negeri 2 Bandung tahun 1990. Pendidikan tinggi diselesaikan pada tahun 1995 pada Program Pendidikan Bahasa Jepang FPBS IKIP Bandung, kemudian menyelesaikan program S2 di Universitas Indonesia Program Studi Kajian Wilayah Jepang Jurusan linguistik terapan bahasa Jepang pada tahun 2001. Pada tahun 2011 melanjutkan studi S3 di Program Studi Pengembangan Kurikulum Sekolah Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia. Pada tahun 1995 sampai 1996 mendapatkan beasiswa

monbukagakusho Japanese studies di Universitas Hiroshima Jepang. Selanjutnya

pada tahun 2002 sampai 2004 mendapatkan beasiswa monbukagakusho pada program Teacher Training di Universitas Shizuoka Jepang. Kemudian pada bulan oktober sampai desember tahun 2014 selama 1.5 bulan memperoleh kesempatan mengikuti program The Japan Foundation Japanese Language Education

Herniwati, 2015

KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI KOMUNIKATIF BAHASA JEPANG UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA PADA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Capacity Building Southeast Asian Teachers’ Training College Course in Japan

di Osaka Jepang. Bekerja sebagai staf pengajar Jurusan Pendidikan Bahasa Jepang FPBS Universitas Pendidikan Indonesia sejak tahun 1996 hingga sekarang.

Kegiatan ilmiah yang dilakukan berupa menjadi pembicara dalam seminar dan workshop baik nasional dan international, Seminar International Malaysia University (2012), International Seminar Education Comparative in Competency

Based Curriculum Between Indonesia and Malaysia (2012), International Seminar Student Centered Learning (SCL) on Japanese Language Education and Roles of The Teachers (2013), Seminar dan Workshop Penelitian Tindakan Kelas

Pendidikan bahasa Jepang (2013), SEAQIL GOES TO SCHOOLS: Reaching Out

For The Advancement of Language Learning (2014). FORUM ILMIAH X (Seminar International Bahasa, Sastra, Seni, dan Pembelajarannya) (2014) , Lokakarya Penyusunan KBK KKNI Prodi Bahasa dan Sastra Jepang Universitas Brawijaya (2015).

Karya ilmiah yang ditulis dalam penelitian, buku dan jurnal yaitu Inovasi pembelajaran cerita anak dan Legenda Jepang pada mata kuliah Nihon Bungaku (2010), Inovasi model pembelajaran cerita anak dan Legenda Jepang melalui Multimedia (2010), bersama team teaching Dosen bahasa Jepang menulis buku ajar mata kuliah Shokyu Hyouki I (2012), buku ajar mata kuliah Shokyu Hyuki II (2012), buku ajar mata kuliah Shokyu Kaiwa I (2012), buku ajar mata kuliah

Shokyu Kaiwa II (2010), Pengantar Kesusastraan Jepang (2010), Tanoshiku Nihongo no Benkyou (2014).

Artikel dan makalah yang dimuat dalam jurnal nasional tidak terakreditasi, Evaluasi Kompetensi Bahasa Jepang Melalui Hasil Ujian International Japanese

Language Proficiency Test (JLPT) Pada Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa

Jepang FPBS Universitas Pendidikan Indonesia (2012), Pengaruh Motivasi Belajar terhadap Implementasi Kurikulum bahasa Jepang (2012), Apresiasi Cerpen Jepang Melalui Film dengan Pembelajaran Student Centered Learning (SCL) Pada Mata Kuliah Nihon Bungaku (2013), Implementasi Teknik

Model-Herniwati, 2015

KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI KOMUNIKATIF BAHASA JEPANG UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA PADA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Model Pembelajaran dalam Mengapresiasikan Karya Sastra Jepang dalam Mata Kuliah Nihon Bungaku (2013), Model Pembelajaran Bahasa Jepang Terkini (2014),. Model Pembelajaran Kanji “Wakaru Oboeru Tsukau” dalam

Dokumen terkait