Menurut Crawley dan Mountain dalam Rahim (2008: 2) membaca pada hakikatnya adalah suatu yang rumit yang melibatkan banyak hal, tidak hanya sekedar melafalkan tulisan, tetapi juga melibatkan aktivitas visual, berpikir, psikolinguistik, dan metakognitif. Sebagai proses visual membaca merupakan proses menerjemahkan simbol tulis (huruf) kedalam kata-kata lisan.
Kasus kesulitan membaca yang sering ditemukan di sekolah merupakan contoh klasik dari kekurangan keberfungsian aspek kognitif siswa berkesulitan belajar. Sering ditemui siswa yang mengalami kesulitan belajar membaca menunjukkan kemampuan berhitung atau matematika yang tinggi. Kasus semacam tadi membuktikan bahwa siswa berkesulitan belajar memiliki kemampuan kognitif yang normal, akan tetapi kemampuan tersebut tidak berfungsi secara optimal sehingga terjadi keterbelakangan akademik (academic retardation) yakni terjadinya kesenjangan antara apa yang mestinya dilakukan siswa dengan apa yang dicapainya, hal ini terdapat pada aspek kognitif siswa Somantri (2006: 200).
Dyslexiaatau ketidakcakapan membaca adalah jenis lain gangguan belajar. Semula istilah dyslexia ini digunakan di dalam dunia medis, tetapi saat ini digunakan pada dunia pendidikan dalam mengidentifikasi siswa berkecerdasan normal yang mengalami kesulitan berkompetensi dengan temannya di sekolah. Simpton umum yang sering ditampilkan siswa
dyslexiaadalah kelemahan orientasi kanan kiri, kecenderungan membaca
kata bergerak mundur seperti “dia” dibaca “aid”, kelemahan keterampilan
Kesulitan belajar yang lain yang ditunjukkan yaitu lemahnya dalam berhitung dan kesalahan hitung, kelemahan memori, kesulitan auditif, kelemahan memori-visual, tidak mampu memvisualkan kembali objek, kata, atau huruf, dan dalam membaca keras tidak mampu menkonversikan simbol visual kedalam simbol auditif yang sejalan dengan bunyi kata secara benar. Kata yang diucapkan tidak sesuai dengan apa yang dilihat.
Bryan dan Bryan seperti dikutip oleh Mercer dalam Abdurrahman (2009: 204) mendefinisikan dyslexia sebagai suatu sindrom kesulitan
dalam mempelajari komponen-komponen kata dan kalimat,
mengintegrasikan komponen-komponen kata dan kalimat, dan dalam belajar segala sesuatu yang berkenaan dengan waktu, arah, dan masa. Hornsby dalam Abdurrahman (2009:204) mendefinisikan dyslexiatidak hanya kesulitan belajar membaca tetapi juga menulis. Definisi Hornsby tersebut dapat dipahami karena ada kaitan yang erat antara membaca dengan menulis. Siswa yang berkesulitan belajar membaca umumnya juga kesulitan menulis. Kesulitan belajar membaca dan menulis tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan kesulitan bahasa, karena semua merupakan komponen sistem komunikasi yang terintegegrasi.
Mercer dalam Abdurrahman (2009:204) menyebutkan ada empat kelompok karakteristik kesulitan belajar membaca, yaitu berkenaan dengan (1) kebiasaan membaca, (2) kekeliruan mengenal kata, (3) kekeliruan pemahaman, dan (4) gejala-gejala serbaneka. Siswa berkesulitan belajar membaca sering memperlihatkan kebiasaan membaca yang penuh ketegangan seperti mengernyitkan kening, gelisah, irama suara meninggi, atau menggigit bibir. Siswa juga sering memperlihatkan adanya perasaan tidak aman yang ditandai dengan perilaku menolak untuk membaca, menangis, atau mencoba melawan guru. Pada saat membaca siswa sering kehilangan jejak sehingga sering terjadi pengulangan atau ada baris yang terlompat sehingga tidak dibaca. Siswa juga sering memperlihatkan adanya gerakan kepala ke arah lateral, ke kiri atau ke kanan, dan kadang-kadang meletakkan kepalanya pada buku. Siswa berkesulitan belajar mebaca juga sering memegang buku bacaan yang terlalu menyimpang dari kebiasaan anak normal, yaitu jarak antara mata dan buku bacaan kurang dari 15 inci (kurang lebih 37,5 cm).
Siswa berkesulitan belajar membaca sering mengalami kekeliruan dalam mengenal kata. Kekeliruan jenis ini mencakup penghilangan, penyisipan, penggantian, pembalikan, salah ucap, pengubahan tempat, tidak mengenal kata, dan tersentak-sentak. Gejala keraguan tampak pada saat siswa berhenti membaca suatu kata dalam kalimat karena tidak dapat mengucapkan kata tersebut.
Siswa sering berhadapan dengan irama yang tersentak-sentak karena sering berhadapan dengan kata-kata yang tidak dikenal ucapannya. Gejala kekeliruan memahami bacaan tampak pada banyaknya kekeliruan dalam menjawab pertanyaan yang terkait dengan bacaan, tidak mampu mengemukakan urutan cerita yang dibaca, dan tidak mampu memahami tema utama dari suatu cerita. Gejala serbaneka tampak seperti membaca kata demi kata, membaca dengan penuh ketegangan dan nada tinggi, dan membaca dengan penekanan yang tidak tepat.
Dyslexia adalah kesukaran dalam membaca yang tidak disadari oleh penggunaan neurologis, tidak ada bukti tentang adanya kerusakan otak atau gangguan organis lainnya. Siswa penderita dyslexia mengalami kesukaran dalam hal belajar membaca. Misal pada siswa yang duduk di kelas 4, tetapi dalam hal membaca masih setaraf dengan siswa yang duduk di kelas 1 SD. Siswa tidak mampu mengelompokkan atau menggabungkan fonem-fonem tulisan sehingga mengalami keterlambatan dalam membaca. Prinsip-prinsip fonemik merupakan faktor penting yang dapat menjadi penyebab terjadinya kearah persoalan membaca Mar’at (83: 2011).
Siswa dyslexiatidak hanya mengalami kesulitan dalam membaca, tapi juga dalam hal mengeja, menulis dan beberapa aspek bahasa yang lain. Kesulitan membaca pada siswadyslexia ini tidak sebanding dengan tingkat intelegensi ataupun motivasi yang dimiliki untuk kemampuan membaca dengan lancar dan akurat, karena siswadyslexia biasanya mempunyai level intelegensi yang normal bahkan sebagian diantaranya diatas normal. Dyslexia merupakan kelainan dengan dasar kelainan neurobiologis, dan ditandai dengan kesulitan dalam mengenal kata dengan tepat atau akurat dalam pengejaan dan dalam kemampuan mengkode simbol.
Myklebust dan Johnson seperti dikutip Hargrove dan Poteet dalam Abdurrahman (2009: 205) mengemukakan beberapa ciri siswa berkesulitan belajar membaca sebagai berikut:
a. Mengalami kekurangan dalam memori visual dan auditoris, kekurangan dalam memori jangka pendek dan jangka panjang,
b. Memiliki masalah dalam mengingat data seperti mengingat hari-hari dalam seminggu,
c. Memiliki masalah dalam mengenal arah kiri dan kanan, d. Memiliki kekurangan dalam memahami waktu,
e. Jika diminta menggambar orang sering tidak lengkap, f. Miskin dalam mengeja,
g. Sulit dalam menginterpretasikan globe, peta, atau grafik, h. Kekurangan dalam koordinasi dan keseimbangan,
i. Kesulitan dalam belajar berhitung, j. Kesulitan dalam belajar bahasa asing.
Pendapat Vernon yang juga dikutip oleh Hargrove dan Poteet dalam Abdurrahman (2009: 206) mengemukakan perilaku siswa berkesulitan belajar membaca sebagai berikut:
a. Memiliki kekurangan dalam diskriminasi penglihatan, b. Tidak mampu menganalisis kata menjadi huruf-huruf, c. Memiliki kekurangan dalam memori visual,
d. Memiliki kekurangan dalam melakukan diskriminasi auditoris, e. Tidak mampu memahami simbol bunyi,
f. Kurang mampu mengintegrasikan penglihatan dengan pendengaran, g. Kesulitan dalam mempelajari asosiasi simbol-simbol ireguler (khusus
yang berbahasa Inggris),
h. Kesulitan dalam mengurutkan kata-kata dan huruf-huruf, i. Membaca kata demi kata,
j. Kurang memiliki kemampuan dalam berpikir konseptual.
Penghilangan huruf atau kata sering dilakukan oleh siswa berkesulitan belajar membaca karena adanya kekurangan dalam mengenal huruf, bunyi bahasa (fonik), dan bentuk kalimat. Penghilangan huruf atau kata biasanya terjadi pada pertengahan atau akhir kata atau kalimat. Penyebab lain dari adanya penghilangan tersebut adalah karena siswa menganggap huruf atau kata yang dihilangkan tersebut tidak diperlakukan. Contoh penghilangan huruf atau kata adalah “Baju anak itu merah” dibaca
“Baju itu merah” atau “Adik membeli roti” dibaca “Adik beli roti”.
Penyelipan kata terjadi karena siswa kurang mengenal huruf, membaca terlalu cepat, atau karena bicaranya melampaui kecepatan membacanya. Contoh dari kesalahan ini misalnya pada saat siswa seharusnya membaca
“Baju Mama di lemari” dibaca “Baju Mama ada di lemari”. Penggantian
kata merupakan kesalahan yang banyak terjadi. Hal ini mungkin disebabkan karena siswa tidak memahami kata tersebut sehingga hanya menerka-nerka saja. Contoh penggantian kata yang tidak mengubah kata
adalah “Tas Ayah di dalam mobil” dibaca oleh siswa“Tas Bapak di dalam mobil”.
Pengucapan kata yang salah terdiri dari tiga macam, (1) pengucapan kata yang salah makna berbeda, (2) pengucapan kata salah makna sama, dan (3) pengucapan kata salah tidak bermakna. Keadaan semacam ini dapat terjadi karena siswa tidak mengenal huruf sehingga menduga-duga saja, mungkin karena membaca terlalu cepat, karena perasaan tertekan atau takut kepada guru, atau karena perbedaan dialek siswa dengan bahasa Indonesia yang baku. Contoh pengucapan kata salah
makna berbeda adalah “Baju bibi baru” dibaca “baju bibi biru”, pengucapan salah makna salah adalah “Kakak pergi ke sekolah” dibaca “Kakak pegi ke sekolah”, sedangkan contoh pengucapan salah tidak
Pengucapan kata dengan bantuan guru terjadi jika guru ingin membantu siswa melafalkan kata-kata. Hal ini terjadi karena sudah beberapa menit ditunggu oleh guru siswa belum juga melafalkan kata-kata yang diharapkan. Siswa yang memerlukan bantuan semacam itu biasanya karena adanya kekurangan dalam mengenal huruf atau karena takut risiko jika terjadi kesalahan. Siswa semacam ini biasanya juga memiliki kepercayaan diri yang kurang, terutama pada saat menghadapi tugas membaca. Pengulangan dapat terjadi pada kata, suku kata, atau kalimat.
Contoh pengulangan adalah “Bab-ba-ba Bapak menulis su-su surat”.
Pengulangan terjadi mungkin karena kurang mengenal huruf sehingga harus memperlambat membaca sambil mengingat-ingat nama huruf yang kurang dikenal tersebut. Kadang-kadang siswa sengaja mengulang kalimat untuk lebih memahami arti kalimat tersebut.
Pembalikan huruf terjadi karena siswa bingung posisi kiri-kanan, atau atas bawah. Pembalikan terjadi terutama pada huruf-huruf yang hampir sama seperti d dengan b, p dengan q, m dengan n atau w. Pembetulan sendiri dilakukan oleh siswa jika siswa menyadari adanya kesalahan. Kesadaran akan adanya kesalahan, siswa lalu mencoba membetulkan sendiri bacaannya. Siswa yang ragu-ragu terhadap kemampuannya sering membaca dengan terbata-bata. Siswa yang ragu-ragu dalam membaca sering dianggap bukan sebagai kesalahan. Meskipun demikian guru umumnya berupaya untuk memperbaiki karena dianggap sebagai kebiasaan yang tidak baik.
Keraguan dalam membaca juga sering disebabkan siswa kurang mengenal huruf atau karena kekurangan pemahaman.Kesulitan belajar membaca tidak hanya ditemui oleh siswa tk dan siswa kelas rendah saja, ada juga siswa kelas tinggi yang berkesulitan belajar membaca. Kesulitan belajar yang sering ditemui di sekolah dasar adalah membaca, menulis, matematika, dan mata pelajaran yang lainnya.
Siswa yang mengalami kesulitan belajar biasanya ada sifat yang menonjol tidak seperti teman lainnya siswa tersebut hiperaktif, susah untuk berkomunikasi, dan lain sebagainya. Dalam keselutan belajar tersebut selain guru yang harus memacu siswa agar dapat menerima pembelajaran dengan baik sebaiknya orang tua juga mengimbangi agar mendapatkan hasil yang maksimal karena orang tua juga sangat berpengaruh.