BAB III HASIL PENELITIAN
B. Penaatan PT Dan Liris terhadap Upaya Pengelolaan Lingkungan
1. Ketaatan PT Dan Liris terhadap Upaya Pengelolaan dan Upaya
commit to user
Baku mutu limbah cair secara umum untuk wilayah Provinsi Jawa Tengah diatur dalam Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 5 tahun 2012 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 10 tahun 2004 tentang Baku Mutu Air Limbah. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 5 tahun 2012 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 10 tahun 2004 tentang Baku Mutu Air Limbah memuat parameter apa saja yang terdapat dalam kandungan air limbah untuk tiap kegiatan usaha yang berbeda dengan disertai batasan maksimum toleransi yang diwujudkan dalam statistik angka dan satuan. Terdapat 10 (sepuluh) Lampiran dalam Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 5 tahun 2012 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 10 tahun 2004 tentang Baku Mutu Air Limbah, 9 (sembilan) Lampiran untuk penetapan Baku Mutu untuk tiap kegiatan usaha yang berbeda, dan Lampiran ke 10 (sepuluh) merupakan penjelasan atas perhitungan debit air limbah maksimum dan beban pencemaran maksimum untuk menentukan mutu air limbah.
Penilaian terhadap kualitas air limbah PT Dan Liris menggunakan Baku Mutu yang ditetapkan dalam lampiran I tentang Baku Mutu Air Limbah Kegiatan Industri, Nomor 32 tentang Baku Mutu Air Limbah Industri Tekstil dan Batik. Parameter yang diuji adalah Temperatur (batas maksimal 38o C) , BODs (batas maksimal 60mg/L) , COD (batas maksimal 150mg/L), TSS (batas maksimal 50mg/L), Fenol total (batas maksimal 0,5mg/L), Khrom Total (Cr) (batas maksimal 1,0mg/L), Amoniak total (NH3-N) (batas maksimal 8,0mg/L), Sulfida (Sebagai S) (batas maksimal 0,3mg/L), Minyak dan Lemak (batas maksimal 3,0mg/L), pH (kisaran 6,0- 9,0), dan Debit Maksimum (m3/Ton Produk Tekstil). Beban pencemaran dihitung dari tiap-tiap jenis tahapan kegiatan produksi yaitu pertama, Tekstil Terpadu, kedua, pencucian kapas, pemintalan, penenunan, ketiga perekatan (Sizing) Desizing, keempat, pengikisan, pemasakan (Klering,
commit to user
Scouring), kelima pemucatan (Bleaching), keenam Merserisasi, ketujuh Pencelupan (Dyeing), kedelapan pencetakan (printing).
Ketaatan PT Dan Liris dalam upaya pengelolaan air limbah dapat dikaji dengan penaatan terhadap Pasal 8 Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 10 tahun 2004 tentang Baku Mutu Air Limbah sebagaimana diubah dengan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 10 tahun 2004 tentang Baku Mutu Air Limbah. Pasal 8 memuat tentang kewajiban pelaku usaha yang membuang air limbah ke lingkungan untuk:
1). Memenuhi baku mutu sesuai Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 5 tahun 2012 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 10 tahun 2004 tentang Baku Mutu Air Limbah.
2). Melakukan pengolahan air limbah yang dibuang agar memenuhi baku mutu air limbah sebagaimana tercantum dalam lampiran Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 5 tahun 2012 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 10 tahun 2004 tentang Baku Mutu Air Limbah.
3). Membuat instalasi pengolahan air limbah dan sistem saluran air limbah kedap air sehingga tidak terjadi perembesan air limbah ke lingkungan.
4). Memasang alat ukur debit atau laju alir limbah pada inlet instalasi pengolahan air limbah serta outlet instalasi pengolahan air limbah serta inlet pemanfaatan kembali apabila air limbah yang dihasilkan dimanfaatkan kembali.
5). Melakukan pencatatan debit harian air limbah baik untuk air limbah yang dibuang ke sumber air dan/atau laut, dan/ ata yang dimanfaatkan kembali.
6). Melakukan pencatatan pH Harian air limbah.
7). Tidak melakukan pengenceran air limbah ke dalam aliran buangan air limbah.
commit to user
8). Melakukan pencatatan jumlah bahan baku dan produk harian senyatanya.
9). Memisahkan saluran pembuangan air limbah dengan limpasan air hujan.
10).Menetapkan titik penaatan untuk pengambilan contoh uji.
11).Memeriksakan kadar parameter air limbah sebagaimana tercantum dalam lampiran Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 5 tahun 2012 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 10 tahun 2004 tentang Baku Mutu Air Limbah secara berkala paling sedikit 1 (satu) kali dalam 1 (satu) bulan di laboratoruim yang terakreditasi di Kementrian Lingkungan Hidup.
12).Menyampaikan laporan debit air limbah harian, pH Harian, penggunaan bahan baku, jumlah produk harian, dan kadar parameter air limbah sebagaimana dimaksud dalam huruf c, huruf e, huruf g, dan huruf j secara berkala paling sedikit 1 (satu) kali dalam 1 (satu) bulan kepada Buoati/ Walikota dengan tembusan kepada Gubernur dan Menteri serta instansi lain yang terkait sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
13).melaporkan kepada Bupati/ Walikota dengan tembusan kepada Gubernur dan Menteri mengenai kejadian tidak normal dan/atau keadaan darurat yang mengakibatkan baku mutu air limbah dilampaui serta rincian upaya penanggulangannya paling lama 2 x 24 jam.
Kesiapan PT Dan Liris secara fisik dalam pengelolaan air limbah diwujudkan dengan pembangunan saluran (Instalasi Pengolahan Air Limbah) IPAL yang memadai. Legalisasi IPAL PT Dan Liris adalah Keputusan Bupati Sukoharjo Nomor 660.1/ 390/ 2012 tentang Pemberian Izin Pembuangan Air Limbah Hasil Pengolahan Instalasi Pengolah Air Limbah ke Perairan Umum kepada PT Dan Liris.
commit to user
Pengelolaan air limbah PT Dan Liris menggunakan sistem penggabungan, dalam hal ini semua saluran pembuangan air dalam pabrik bermuara di IPAL. Saluran pembuangan air di tiap-tiap masing-masing unit disaluran ke pipa dan dialirkan ke IPAL. Saluran untuk air limbah dan air hujan dibedakan, dalam artian bahwa air limbah disalurkan dengan menggunakan pipa yang sebagian tertanam/ tidak terlihat, sedangkan untuk saluran air hujan adalah melewati parit-parit yang disebuat disetiap penggir bangunan ditiap unit pabrik.
Pencatatan debit air dilakukan dengan mengukur kecepatan aliran air. Dalam hal saluran IPAL, PT Dan Liris juga menerima sebagian air limbah dari PT Batik Keris yang berlokasi bersebelahan, dan masih merupakan perusahaan yang bersaudara. Debit air diatur agar jangan sampai terlalu berlebih/ melebihi batas dikarenakan adanya proses pengendapan yang memakan waktu 20 jam. Oleh karenanya, sudah ditentukan berapa kapasitas maksimal produksi PT Dan Liris dengan asumsi perhitungn penggunaan air dan sisa dari penggunaan air tersebut.
Secara fisik bangunan IPAL PT Dan Liris telah memenuhi persayratan. Sebagai satu-satunya unit yang bekerja 7 x 24 jam dalam satu minggu ini memang dituntut kesiapan prima terutama dalam hal pengawasan alat-alat dan sarana pendukung lain. Bak-bak penampungan dibuat dari lapisan logam anti karat kedap air dengan ketebalan kurang lebih 10cm. Bak-bak penampungan dibuat diatas cetakan betol setebal setengah meter dari permukaan tanah galian sehingga meminimalisir rembesan air limbah ke tanah. (wawancara dengan Bapak Sarwono, Staff lapangan/ teknis bagian Utility PT Dan Liris pada Jumat, 16 November 2012).
Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa selama ini PT Dan Liris dapat dikategorikan perusahaan yang dapat memenuhi baku mutu tersebut, meskipun terkadang adakalanya salah satu parameter melebihi ambang batas. Data yang penulis kaji ketika berada di Bagian Utility PT Dan Liris adalah laporan hasil uji laboratorium sepanjang tahun 2011.
commit to user
Ringkasan atas laporan tersebut tersaji dalam laporan penilaian PROPER Kementrian Lingkungan Hidup. Hasilnya, untuk tahun 2011 ketaatan PT Dan Liris dalam Pengelolaan dan Pemantauan Kualitas air limbah adalah 91%. Hal ini dikarenakan ada satu parameter yang melebihi batas yaitu parameter Sulfida pada bulan September 2011. Tingkat ketaatan 91% menurut Laporan PROPER Kementrian Lingkungan hidup ini menandakan bahwa PT Dan Liris sudah cukup baik dalam hal pengelolaan dan pemantauan Air Limbah. Ketaatan dalam pelaporan ditunjukkan dengan pembuatan laporan rutin setiap satu bulan sekali nuk kepentingan iantern dan tiga bulan sekali untuk dilaporkan pada Badan lingkungan Hidup Kabupateen Sukoharjo.
2. Ketaatan PT Dan Liris terhadap Upaya Pengelolaan dan Upaya Pemantauan Kualitas Udara.
Pengukuran Kualitas Udara didasarkan atas dua hal yaitu Uji Udara Emisi dan Uji Udara Ambien. Uji udara emisi didasarkan atas penilaian terhadap emisi dari sumber tidak bergerak seperti ketel uap dan steamboiler. Sedangkan untuk Uji Udara Ambien dilakukan dengan penilaian dari titik-titik tertentu disekitar lokasi pabrik.
Baku Mutu Udara Emisi di Provinsi Jawa Tengah ditetapkan dalam Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 10 tahun 2000 tentang Baku Mutu Udara Emisi Sumber Tidak Bergerak Tingkat Provinsi Jawa Tengah. Parameter pengukuran udara emisi yang digunakan dalam análisis Uji Emisi Udara PT Dan Liris adalah sulfur dioksida (SO2) (batas maksimum 750mg/m3), nitrogen dioksida (NOX) (batas maksimum 825mg/m3), Total Partikel Debu (batas maksimum 230mg/m3), Opasitas (batas maksimal 20%). Stándar ini sama dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 7 tahun 2007 tentang Baku Mutu Emisi Tidak Bergerak Bagi Ketel Uap yang Menggunakan Bahan Bakar Batubara.
Baku Mutu udara Ambien di Provinsi Jawa Tengah ditetapkan dalam keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 8 tahun 2001 tentang
commit to user
Baku Mutu Udara Ambien di Provinsi Jawa Tengah. Ketentuan mengenai analisa baku mutu udara ambien terdapat dalam Lampiran. Penentuan titik lokasi pengukuran didasarkan atas pertimbangan arah angin. Parameter yang dipergnakan dalam penilaian baku mutu ambien adalah SO2 (Sulfur
Oksida), CO (Karbon Monoksida), NO2 (Nitrogen Dioksida), O3
(Oksidan), HC (Hidro Carbon), PM10 (Partikel <10 um), PM10 (Partikel < 2,5 um), TSP (debu), Pb (Timah Hitam), Dust Fall (Debu Jatuh), Total Flurides (as F), Flour Indeks, Khlorine dan Khlorine Dioksida, dan Sulphat Indeks.
Pengukuran atas baku mutu udara ambien dilakukan dalam jarak waktu tertentu yang telah ditentukan. Masing-masing parameter mempunyai waktu pengukuran yang berbeda. Begitu pula dengan metode análisis dan peralatan yang dipergunakan.
Penulis mengkaji hasil Laporan uji Udara Emisi dan Laporan Uji Udara Ambien PT Dan Liris selama tahun 2011 sampai dengan laporan terakhir adalah September 2012. Selama kurun waktu tersebut, tidak pernah sekalipun ada parameter yang melebihi batas maksimum yang ditetapkan. Dengan demikian, PT Dan Liris telah taat dalam memenuhi ketentuan Pasal 4 Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 10 tahun 2000 tentang Baku Mutu Udara Emisi Sumber Tidak Bergerak Tingkat Provinsi Jawa Tengah yang berbunyi;
“Seluruh kegiatan industri yang mengeluarkan emisi wajib memenuhi ketentuan Baku mutu Udara Emisi Sumber Tidak Bergerak sebagaimana tersebut dalam Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 Keputusan ini”
Wujud Penaatan elaksanaan pengelolaan dan pemantauan emisi udara dari sumber yang tidak bergerak yang lain adalah dengan melihat kelengkapan peralatan dan pemenuhan kewajiban pelaporan. Seperti telah ditentukan dalam Pasal 6 Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 10 tahun 2000 tentang Baku Mutu Udara Emisi Sumber Tidak Bergerak Tingkat Provinsi Jawa Tengah. Pasal 6 tersebut memuat ketentuan bahwa penanggngjawab kegaiatan wajib:
commit to user
1). Membat cerobong emisi yang dilengkapi dengan sarana pendukung dan alat pengaman.
2). Memasang alat ukur pemantauan yang meliputi kadar dan laju alir volume untuk setiap cerobong emisi.
3). Melakukan pencatatan harian hasil emisi yang dikeluarkan dari setiap cerobong emisi.
4). Menyampaikan laporan hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam huruf (c) kepada Gubernur Jawa Tengah dengan tembusan Kepala Bapedalda sekurang-kurangnya setiap 3 (tiga) bulan sekali.
5). Melaporkan kepada Gubernur serta Kepala Bapedalda apabila ada kejadian tidak normal atau dalam keadaan darurat yang mengakibatkan baku mutu udara terlampaui.
Dalam Pasal 6 poin a, disebutkan bahwa penanggungjawab kegiatan wajib membuat cerobong asap dengan sarana alat pendukung dan pengaman. Hal ini dapat dibuktikan secara visual, yaitu memang benar ada cerobong asap yang berfungsi dengan baik di kawasan pabrik. Cerobong asap tersebt dibuat dengan sekurangnya tiga lapis dengan masing-masing lapis disertai filter. Selain itu setiap cerobong juga dilengkapi dengan alat ukur pemantauan seperti alat ukur arah dan kecepatan angin (wawancara dengan Sarwono, staff teknis Bagian Utility PT Dan Liris). Selain itu juga dengan melihat dokumen pelaporan yang memuat rincian spesifikasi cerobong asap. Sehingga jelas bahwa untuk Pasal 6 poin a dan b, PT Dan Liris telah memenuhinya.
Ketentuan Pasal 6 poin c menyebutkan adanya kewajiban pencatatan harian mengenai hasil emisi dari setiap cerobong emisi. Dengan dipasangainya alat ukur dan dengan metode pamantauan setiap hari, maka secara langsung PT Dan Liris sudah memenuhi kriteria. Setidaknya kemudian setiap per 3 bulan lapporan tersebut dilaporkan kepada Badan Lingkungan hidup Kabupaten Sukoharjo. Dengan
commit to user
demikian Pasal 6 poin c dan d dapat dipenuhi. Poin yang terakhir, adalah bahwasanya PT Dan Liris telah beruapay semaksimal mungkin dalam usaha pengelolaan dan pemanantauan lingkungan sehingga belum pernah ditemukan laporan atas kejadian tidak normal yang membahayakan.
Sedangkan untuk hasil uji Udara Ambien, rata-rata sampel yang penulis kaji dari Laporan Hasil Uji Emisi Udara Ambien bulan Januari 2011 sampai dengan September 2012 adalah tidak jauh berbeda. Pada intinya adalah bahwa secara umum ketaatan PT Dan Liris dalam Pengujian Udara Ambien tidak pernah mengalami angka diatas baku mutu yang telah ditetapkan. Bahkan, Menurut Kasubag Bidang I Badan Lingkungan Hidup Sukoharjo, P.Adi Nugroho, PT Dan Liris merupakan perusahaan dengan laporan yang terbaik (wawancara kepada Kepala Bidang I: Bidang Pengendalian Dampak Lingkungan Badan Lingkungan Hidup Sukoharjo pada hari Rabu, 19 Desember 2012). Laporan PROPER Kementrian Lingkungan Hidup tahun 2011 juga menyebutkan bahwa ketaatan PT Dan Liris dalam upaya pengendalian pencemaran udara adalah 100%.
3. Ketaatan PT Dan Liris terhadap Upaya Pengelolaan dan Upaya Pemantauan Limbah B3
Pemerintah provinsi Jawa Tengah belum memiliki peraturan daerah mengenai pengelolaan limbah B3, sehingga patokan untuk pengelolaan limbah B3 mengacu pada peraturan pemerintah pusat. Peraturan tersebut adalah Peraturan Pemerintah Nomor 18 tahun 1999 jo Peraturan Pemerintah Nomor 85 tahun 1999 jo Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2001 tentang Pengelolaan Limbah B3. Pasal 1 butir 3 Peraturan Pemerintah Nomor 18 tahun 1999 menyebutkan cakupan pengelolaan limbah B3 adalah rangkaian kegiatan yang mencakup reduksi, penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan, pengolahan, dan penimbunan limbah B3. Kegiatan Pegelolaan dan Pemantauan Limbah B3 PT Dan Liris hanya meliputi kegiatan pengumpulan, pengangkutan,
commit to user
dan penimbunan limbah B3. Sesuai dengan rencana dalam UKL-UPL bahwa dalam pengelolaan limbah B3 PT Dan Liris bekerjasama dengan PT Teknotama Lingkungan Indonesia.
PT Teknotama Lingkungan Indonesia adalah perusahaan resmi yang ditunjuk Pemerintah Republik Indonesia dalam hal ini Kementrian Lingkungan Hidup. PT Dan Liris dalam hal uapaya pengelolaan dan pemantauan limbah B3 hanya memiliki izin sebatas izin penyimpanan yang dibuktikan dengan Izin Penyimpanan Limbah B3 PT Dan Liris No.660.1/ 185/ 2010. Sehingga batasan kajian dalam penaatan pengelolaan dan pemantauan limbah B3 ini hanyalah sebatas pada tahapan penyimpanan saja.
Ketentuan pasal 10 Peraturan Pemerintah Nomor 18 tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah B3 menyebutkan bahwa penghasil limbah B3 dengan kapasitas dibawah 50 (lima puluh) kg per hari dapat menimbun limbah B3 maksimal waktu 90 (hari) hari sebelum diserahkan hari kepada pemanfaat atau pengolah atau penimbun limbah B3, dengan persetujuan instansi yang bertanggung jawab. Besar kapasitas limbah B3 yang dihasilkan per bulan adalah 200kg dari Lumpur IPAL dan 25.000kg dari abu batubara. Apabila dikalkulasikan dalam hitungan hari maka besarnya limbah B3 per harinya adalah 6,67kg untuk Lumpur IPAL dan 833,3kg untuk Abu Batubara. PT Teknotama Lingkungan Indonesia timbunan limbah B3 selambat-lambatnya setiap sebulan sekali untuk mengambil timbunan limbah padatan Lumpur IPAL dan setiap hari untuk abu batubara.
Laporan atas kegiatan penyimpanan, pengangkutan dan penimbunan batubara ini dilaporkan setiap 6 (enam) bulan sekali kepada Badan lingkungan Hidup Kabupaten Sukoharjo dengan tembusan Gubernur Jawa Tengah dan Kemenrtian lingkungan Hidup. Hal ini telah sesuai dengan apa yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 18 tahun 1999 jo Peraturan Pemerintah Nomor 85 tahun 1999 jo Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2001 tentang Pengelolaan Limbah B3.
commit to user
67 BAB IV PENUTUP
A. Simpulan
Analisis terhadap dampak lingkungan Yang ditimblakan PT Dan Liris diwujudkan secara konkret dengan adanya Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan yang ditindaklanjuti dengan Upaya Pengelolaan dan Pemantaan Lingkungan. Ketaatan atas Pelaksanaan Upaya Pengelolaan dana Pemantauan Lingkungan PT Dan Liris menjadi bagian yang tidak terpisahakan dari Upaya Pengelolaan dan Pemantauan lingkungan tersebut. Dari hasi uaraian pembahasan, penulis menarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Upaya Pengelolaan dan Pemantauan lingkungan PT Dan Liris meliputi Upaya Pengelolaan dan Pemantauan Limbah Cair, Upaya Pengelolaan dan Pemantauan Limbah Padat dimana terdapat Upaya Pengelolaan dan Pemantauan limbah B3, Upaya Pengelolaan dan Pemantauan atas Bahaya Kebakaran, Upaya Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Sosial Ekonomi Budaya Keamanan dan Kesehatan.
2. Dalam pelaksanaan Upaya Pengelolaan dan Pemantauan PT Dan Liris telah taat hukum dengan mengikuti prosedur dan ketentan yang ada dalam pertauran perundang-undangan.
B. Saran
Atas hasil penelitian ini, penulis memberikan saran sebagai berikut: 1. Kepada Pemerintah Kabupaten Sukoharjo.
Kepada pemerintah Sukoharjo terutama dinas terkait dengan perizinan lingkungan sebaiknya lebih memperketat dalam pengawasan namun tetap dengan prinsip kerja tepat, cermat dan cepat utamanya dalam penerbitan suatu izin. Hal ini diperlukan agar tidak terjadi kekosongan hukum atas legalitas operasional bidang lingkungan sebuah perusahaan, dalam hal ini adalah PT Dan Liris yang masih menunggu proses perpanjangan izin IPAL. 2. Kepada PT Dan Liris.
commit to user
PT Dan Liris hendaknya lebih memaksimalkan dalam Upaya Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan utamanya adalah berkaitan dengan peralatan teknis pengelolaan air limbah (IPAL) yang sudah mulai menyusut nilai kegunaannya diakibatkan oleh usia.