• Tidak ada hasil yang ditemukan

KETAHANAN NASIONAL

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN (Halaman 40-44)

Keberhasilan gerakan reformasi telah memberikan perubahan yang signifikan

terhadap upaya penyelesaian konflik internal di Indonesia, khususnya separatis Aceh. Upaya perdamaian yang gagal yaitu Jeda Kemanusiaan dimasa Presiden Abdurrahman Wahid dan Cessation of Hostilities Agreement (CoHA) semasa Presiden Megawati Sukarnoputri, kemudian disempurnakan dengan kesepakatan bersama dalam bentuk nota kesepahaman Helsinki. Upaya ketiga penyelesaian konflik ini diharapkan akan membawa perdamaian yang berkelanjutan di Aceh.

Nota kesepahaman Helsinki memuat butir-butir kesepahaman yang kompremensif. Bukan sekedar gencatan senjata dan damai saja, namun juga mengatur penyelesaian konflik secara menyeluruh, berkelanjutan dan bermartabat, melalui terwujudnya pemerintahan Aceh melalui proses yang demokratis dan adil dalam konstitusi Republik Indonesia.70 Dalam perspektif ketahanan nasional, adanya kesepakatan antara pemerintah dengan kelompok separatis GAM ini berimplikasi kepada dua hal yang sangat menguntungkan ketahanan nasional Indonesia. Pertama adalah adanya komitmen perdamaian antara kelompok separatis GAM yang secara jelas ditegaskan dalam kata pembuka nota kesepahaman Helsinki yang berbunyi :

Para pihak bertekad untuk menciptakan kondisi sehingga pemerintahan rakyat Aceh dapat diwujudkan melalui suatu proses yang demokratis dan adil dalam negara kesatuan dan konstitusi Republik Indonesia.

Dengan memperhatikan kalimat tersebut, secara literal dapat diartikan bahwa kelompok separatis GAM telah menerima Republik Indonesia sebagai negara dan tanah airnya. Ini merupakan pernyataan kunci dimana konflik vertikal antara Pemerintah dengan kelompok separatis GAM telah selesai. Kelompok separatis GAM di Aceh telah melepaskan tujuan perjuangannya yaitu kemerdekaan dengan syarat boleh menyalurkan aspirasi politiknya melalui partai politik lokal (butir 1.2.1. nota kesepahaman). Pengakuan terhadap negara kesatuan dan konstitusi Republik Indonesia oleh kelompok separatis GAM tersebut menunjukkan bangkitnya kembali rasa ke-Indonesia-an para pemberontak sebagai sebuah rasa nasionalisme. Hal ini mengawali kembali pasang naiknya integrasi nasional bangsa Indonesia sebagai titik balik rasa ke-Acehan (etnonasionalisme yang akan ditanggalkannya). Dengan pernyataan ini akar masalah pertama konflik Aceh, yaitu pengakuan identitas telah selesai dan tinggal akar

70 Nota Kesepahaman Antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka, Depkominfo, Jakarta, 2005

permasalahan kedua yaitu ketidakadilan (justice).

Kesadaran perdamaian tersebut kemudian diikuti dengan pelaksanaan subtansi nota kesepahaman. Pemberian amnesti terhadap sejumlah 1.757 tahanan kasus separatis GAM melalui Keppres 44 Tahun 2005 dilanjutkan reintegrasi sebagai titik awal pengakuan integritas mereka di masyarakat telah memberikan kesan positif bagi mantan kombatan GAM. Pembubaran sayap militer kelompok separatis GAM yaitu Tentara Nangroe Aceh (TNA) menjadi Komite Peralihan Aceh (KPA) dalam jangka pendek telah mengurangi potensi terjadinya konflik. Disisi lain dengan pelaksanaan reformasi aparat keamanan sesuai dalam nota kesepahaman Helsinki tentunya akan lebih menurunkan eskalasi konflik dan kekerasan di Aceh. Pelaksanaan nota kesepahaman Helsinki dalam periode awal ini diyakini telah mampu mengembalikan keamanan secara umum di Aceh. Meskipun masih besarnya potensi konflik, situasi keamanan Aceh secara umum dan ketertiban masyarakat dapat dikatakan meningkat dan kondusif untuk melaksanakan pembangunan. Semangat perdamaian telah mendorong penyelesaian konflik berupa terwujudnya situasi aman yang merupakan salah satu unsur dari ketahanan wilayah di provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Kondisi ini tentunya juga merupakan cerminan dari ketahanan nasional Indonesia. Penyelesaian konflik separatis GAM di Aceh secara bermartabat dan berkelanjutan merupakan wujud dari ketahanan nasional Indonesia.

Lalu yang kedua, adalah dengan melihat kemenangan pasangan Irwandi Yusuf dan M. Nazar sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur NAD periode tahun 2007-2012. Hasil Pilkada yang dimenangkan oleh tokoh GAM pasangan Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar merupakan realitas politik lokal yang berkembang di masyarakat. Namun sesungguhnya bagi pemerintahan SBY-JK justru terkurangi beban tanggung jawabnya untuk mengurus Aceh yang impulsif tersebut. Dipersilakan saja kebutuhan masyarakat Aceh diurus sendiri oleh Pemda bersangkutan, asal masih dalam kerangka NKRI. Sebab Pilkada tersebut sudah terikat oleh nota kesepahaman Helsinki yang menyatakan Aceh merupakan bagian sah dari NKRI. Oleh karena itu suksesnya Pilkada Aceh juga makin memperkuat dukungan masyarakat internasional bahwa Aceh merupakan wilayah NKRI, sehingga kemenangan tokoh GAM yang pernah mencita-citakan merdeka dari Indonesia menjadi tidak relevan lagi. Kalau cita-cita ingin merdeka tersebut mau diteruskan akan kehilangan dukungan internasional. Kemenangan dalam Pilkada bukan dalam format referendum seperti yang pernah kita

alami di Timor Timur tahun 1999 dulu. Pilkada ini merupakan jalan keluar terbaik untuk membuat Aceh makin masuk ke dalam internal sistem tata kenegaraan NKRI.

Sebagaimana kita ketahui bahwa ketahanan nasional Indonesia terdiri atas dua komponen utama, yaitu trigatra dan pancagatra. Trigatra sendiri merupakan aspek alamiah yang merupakan perpaduan dari geografi, sumber daya alam, dan sumberdaya manusia. Sedangkan pancagatra merupakan aspek mental yang terdiri atas lima aspek seperti ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan. Kita dapat memetakan pelaksanaan nota kesepahaman Helsinki. Tahap awal pembentukan perdamaian (peacebuilding) secara nyata merupakan penguatan dari gatra pertahanan dan keamanan dari aspek mental. Sementara gatra yang lain yaitu politik, diwujudkan melalui pemilihan umum lokal (pilkada) yang berlangsung secara demokratis. Dalam gatra ekonomi, penyelesaian konflik di Aceh telah meningkatkan daya jual Indonesia di luar negeri, terbukti dengan datang dan berinvestasinya para investor asing di Indonesia. Dari sisi gatra sosial budaya, penyelesaian konflik di Aceh meskipun dimediasi oleh Crisis Management Initiative (CMI), pemrakarsa penyelesaian konflik adalah pemerintah Indonesia. Hal ini tentunya menunjukkan peradaban Indonesia dalam menjunjung harkat dan martabat manusia.

Semangat desentralisasi dalam pelaksanaan pemerintahan khususnya pemerintahan daerah di provinsi NAD diformat dalam Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA). UU PA ini merukapan upaya penyelesaian konflik vertikal antara Pusat dengan Daerah disatu pihak dan implementasi asas desentralisasi yang diamanatkan oleh konstitusi serta mengakomodasi kepentingan masyarakat di tingkat lokal. Diharapkan segenap kebijakan yang ada akan dapat meminimalisasi konflik dan ketegangan hubungan Pusat-Daerah. Besarnya kewenangan yang diberikan kepada Pemda NAD dengan didukung oleh perimbangan dana yang hampir tiga kali lipat dari Daana Alokasi Umum Nasional (DAUM) merupakan kesempatan yang sangat berharga untuk semakin diharapkan akan mampu mempercepat pelaksanaan pembangunan demi terwujudnya kesejahteraan di Aceh.

Pemerintahan Irwandi-Nazar selama hampir satu setengah tahun berjalan telah mampu meningkatkan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal dengan program kredit pinjaman lunaknya dan secara khusus adalah pemberdayaan ekonomi bagi para anggota mantan kombatan GAM. Dengan dukungan bantuan dana reintegrasi dan kredit lunak

telah mempercepat proses para mantan TNA untuk kembali pada pekerjaannya semula dan ini akan mengurangi penyebab konflik. Permasalahan berikutnya adalah pada birokrasi lokal di Aceh, mengingat begitu tingginya semangat desentralisasi sebagai wujud pendobrakan santralisasi. Bagi sebagian orang di Aceh otonomi daerah didefinisikan sebagai spirit serba mementingkan daerah Aceh, suku di Aceh dan dan golongan masyarakat Aceh. Semangat otonomi seperti ini cenderung mendorong terjadinya kemerosotan integritas nasional. Lebih jauh tentang hal tersebut otonomi justru akan mendorong terjadinya penguatan sentimen dan identitas lokal, yang dalam konteks Aceh tampak dari meningkatnya sentimen putra daerah Aceh dalam pengisian posisi-posisi birokrasi pada tingkatan lokal. Bila hal seperti ini terus-menerus dilakukan akan semakin memperburuk citra birokrasi Aceh dalam memberikan pelayanan dan dalam jangka panjangnya negara bangsa yang multietnis akan terancam serius jika propinsialisme atau local nationalism beramalgamasi dengan etnosentrisme, sehingga menjadi ethno-nationalisme.

Bila kondisi seperti ini dibiarkan maka semangat untuk mewujudkan pemerintahan yang kuat yang mampu mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya akan semakin jauh dan justru memisahkan Aceh dari perkembangan dinamika Indonesia. Pembangunan Aceh kedepan harus mampu membuka diri dengan masyarakat luar baik dalam konteks nasional maupun internasional. Kesadaran bahwa keterbukaan dengan dunia luar harus segera dibangun dan ditumbuhkembangkan. Untuk mencapai hal tersebut Pemerintah khususnya Pemda Aceh harus melakukan perubahan internal provinsi Aceh khususnya yang berkaitan dengan pemberdayaan ekonomi dan pendidikan bagi warga Aceh.

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN (Halaman 40-44)

Dokumen terkait