• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perimbangan Keuangan

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN (Halaman 33-37)

UUPA memberikan tugas dan wewenang yang sangat luas bagi Gubernur termasuk diantaranya adalah mengelola keuangan daerah. Pemerintah Pusat menjadikan Undang-undang Pemerintahan Aceh (UUPA) sebagai “kontrak kerja” bagi Gubernur Provinsi Aceh dalam menjalankan pemerintahan. Sharing of power dalam UU PA juga diimbangi dengan pengalokasian dana perimbangan keuangan yang cukup memadai. Selain Dana Alokasi Umum (DAU) yang besarnya sebesar 2%, provinsi NAD juga menerima dana tambahan (pasal 181) yang jumlah nominalnya cukup signifikan. Seperti halnya dana perimbangan untuk hidrokarbon pertambangan minyak sebesar 55 % dan gas sebesar 40%, serta dari sumber daya alam sebesar 80%. Lebih daripada itu, Aceh juga menerima Dana Otonomi Khusus (pasal 183 UU PA) sebesar 2% dari plafon Dana Alokasi Umum Nasional (DAUN) pada tahun pertama sampai dengan tahun ke-15, dan selanjutnya adalah di tahuk ke-16 sampai tahun ke-20 Aceh akan menerima Dana Otonomi Khusus sebesar 1% dari plafon DAUN.

Implementasi dana 2% itu tentunya harus melalui Qanun. Hal ini sangat bergantung pada interpretasi dari penyelenggara pemerintahan daerah serta kondisi interaksi antara pemerintahan propinsi dengan kabupaten/kota. Jika tahun 2007 total DAUN /(Perpres No. 104/2006) adalah Rp. 164.787.400.000.000, maka untuk lima belas tahun ke depan dana yang bisa dipergunakan Gubernur (sekarang Irwandi Yusuf) dalam membiayai pembangunan adalah Rp. 3.295.748.000.000,- per tahunnya.

Dalam hal penyelesaian konflik secara bermartabat dan berkelanjutan (reintegrasi masyarakat pasca konflik), Undang-undang ini mengakomodasi pasal tentang Hak Azasi Manusia yang menganut pada Kovenan Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Hak-hak Sipil dan Politik dan mengenai Hak-hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya. Maka dalam Undang-undang ini bab XXXIV mengatur tentang pelaksanaan Hak Azasi Manusia yang diwujudkan dalam kelembagaan berupa Pengadilan HAM di Aceh dan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Aceh. Tujuan pelaksananan pengadilan HAM ini adalah dalam rangka pemberian rasa keadilan bagi setiap warga Aceh korban konflik. Sehingga dalam putusan yang di buat dalam pengadilan HAM di Aceh adalah harus memuat tentang pemberian kompensasi, restitusi, dan atau rehabilitasi bagi korban pelanggaran HAM (pasal 228 ayat 2 UU PA).

UU PA sebagai salah satu wujud pelaksanaan butir nota kesepahaman Helsinki adalah realisasi dari desentralisasi. Dengan UU PA ini diharapkan porsi sharing of power yang cukup luas seperti kewenangan mengatur dan mengurus urusan pemerintahan di sektor publik kecuali urusan pemerintahan yang menjadi urusan Pemerintah Pusat (pasal 7 ayat 1 UU PA) akan memberikan keleluasaan yang cukup bagi Pemda NAD untuk mempercepat pemulihan pembangunan ekonomi Aceh pasca konflik berkepanjangan. Tidak hanya itu, Pemerintah provinsi Aceh dan DPRA juga memiliki hak untuk memberikan pertimbangan berkenaan dengan kebijakan administratif yang dibuat oleh pemerintah pusat dan DPR RI berkaitan dengan Aceh (pasal 8 UU PA).

2) Pelaksanaan Syari’ah Islam

UU PA juga menjamin pelaksanaan Syari’ah (Bab XVII) serta Dewan Syari’ah (Bab XVIII), yaitu dua ciri yang menandai tradisi Islam NAD. Inilah pula yang memberikan porsi berlebih bagi propinsi NAD dibandingkan dengan propinsi-propinsi

lain, dimana berdasarkan UU No 32 tahun 2004 urusan agama seperti syari’ah merupakan salah satu bidang yang tidak didesentralisasikan. Pelaksanaan syariah sebagaimana tertuang dalam UU PA, sebenarnya telah tercantum dalam produk hukum sebelumnya yang mengatur tentang otonomi secara khusus bagi NAD, yaitu UU Nomor 44/ 1999, dan UU Nomor 18/ 2001. Syari’at islam di Aceh dilaksanakan oleh Dinas Syari’at Islam yang bertugas dan berwenang merancang qanun pengamalan dan pengawasan pelaksanaan Syari’at Islam di tengah masyarakat serta pemberian bimbingan dan penyuluhan tentangnya. Untuk memperkuat tugas dan wewenang tersebut, Dinas Syari’at Islam membentuk lembaga pengawas yang disebut Lembaga Wilayatul Hisbah (WH).64

Substansi paling pokok pelaksanaan Syari’at Islam di Aceh tertuang dalam Perda No.5 Tahun 2000 tentang 13 aspek pelaksanaan Syari’at Islam, yaitu bidang akidah, ibadah, mu’amalah, akhlak, pendidikan dan dakwah Islamiyah/amar ma’ruf nahi mungkar, baitul mal, kemasyarakatan, Syi’ar Islam, pembelaan Islam, qadha, jinayat, munakahat dan mawarits. Masing-masing aspek tersebut di atas diatur lebih rinci dengan peraturan yang lebih khusus. Beberapa diantaranya telah ditetapkan dalam bentuk Qanun-qanun yaitu Qanun No.11 Tahun 2002 tentang Aqidah, Ibadah dan Syi’ar Islam, Qanun No.12 Tahun 2003 tentang Minuman Khamar dan sejenisnya, Qanun No.13 Tahun 2003 tentang Maisir dan Qanun No.14 Tahun 2004 tentang Khalwat (Meusum). Aspek-aspek tersebut telah menjadi bagian dari hukum positif, karena itu ia harus ditegakkan menurut kerangka sistem penegakan hukum yang ada.

Tabel. 4.5

Rasio Jumlah Personel WH Dengan Jumlah Penduduk NAD No Kabupaten/Kota PendudukJumlah JumlahWH Rasio

1. Kota Banda Aceh 177.881 45 Orang 1:3.953

2. Kota Sabang 28.597 12 Orang 1:2.383

3. Kabupaten Pidie 474.359 30 Orang 1:15.812

4. Kabupaten Nagan Raya 123.743 93 Orang 1:1.331

5. Kabupaten Biereun 351.835 73 Orang 1:4.820

6. Kabupaten Aceh Tengah 160.549 16 Orang 1:10.034

64Wilayatul Hisbah adalah sebuah kata yang diperkenalkan kembali setelah beratus tahun lampau pernah popular pada masa Rasulullah. Dalam literatur fiqh dikenal ada 3 (tiga) otoritas untuk penegakan hukum, yaitu Wilayatul Qadha’ (pengadilan atau arbitrase). Wilayatul Mazhalim (lembaga sengketa ketatausahaan negara) serta Wilayatul Hisbah, yaitu badan pemberi peringatan dan badan pengawas. Lembaga atau badan ini bertugas mengingatkan anggota masyarakat tentang aturan -aturan yang ada yang harus diikuti. Al Yasa’, “Pelaksanaan Syari’at Islam…”,, hal. 247-248.

7. Kabupaten Aceh Timur 304.643 -

-8. Kabupaten Aceh Utara 493.670 72 Orang 1:6.857

9. Kota Lhokseumawe 154.634 40 Orang 1:3.866

10 .

Kabupaten Aceh Tamiang 235.314 29 Orang 1:8.114

11

. Kabupaten Bener Meriah 105.148 6 O rang 1:17.525

12 .

Kabupaten Aceh Barat 150.450 20 Orang 1:7.523

13

. Kota Langsa 137.586 30 Orang 1:4.586

14 .

Kabupaten Aceh Jaya 60.660 16 Orang 1:3.791

15

. Kabupaten Aceh Barat Daya 115.676 20 Orang 1:5.784 16

.

Kabupaten Aceh Selatan 191.539 30 Orang 1:6.385

17

. Kabupaten Aceh Besar 296.541 50 Orang 1:5.931

18 .

Kabupaten Aceh T enggara 169.053 -

-19

. Kabupaten Aceh Singkil 148.277 -

-20 .

Kabupaten Gayo Lues 72.045 30 Orang 1:2.402

21 .

Kabupaten Simeulue 78.389 36 Orang 1:2.178

22 .

Provinsi NAD - 61 Orang

-J u m l a h 4.031.589 710 orang 1:5.678

Sumber : Data Dinas Syari’at Islam Aceh, 27 April 2007

Lembaga Wilayatul Hisbah bertugas membina, mengawasi dan melakukan advokasi terhadap pelaksanaan amar ma’ruf nahi mungkar. Jumlah personel WH sebagaimana ditampilkan dalam tabe 4.5. adalah 710 orang yang tersebar disebanyak Kabupaten/Kota di provinsi NAD. Adapun kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan oleh Wilayatul Hisbah antara lain adalah :

a. Patroli Rutin. Patroli ini dilaksanakan oleh Petugas WH setiap hari guna melakukan penegakan pelaksanaan syariat ke wilayah pengawasannya.

b. Operasi Pengawasan Jum’at. Operasi Pengawasan Jum’at dilaksanakan oleh Petugas Wilayatul Hisbah (WH) berkerja sama dengan anggota Kepolisian Wanita setempat dalam rangka memberikan himbauan kepada masyarakat

untuk menghentikan segala aktivitas dan kegiatan serta menutup Toko-toko menjelang Shalat jum’at (pukul 12.00 WIB).

c. Pengawasan Terpadu. Pengawasan terpadu yang dilaksanakan oleh Petugas Wilayatul Hisbah (WH) berkerja sama dengan pihak terkait seperti Kepolisian, Aparat TNI dan Satpol PP Pemda.

d. Tindak lanjut laporan masyarakat. Petugas WH selain melakukan patroli juga dapat menindaklanjuti laporan dari masyarakat atas pelanggaran dibidang syariat Islam.

Setelah lima tahun pelaksanaan Syari’at Islam, banyak kalangan telah memberikan masukan dan kritikan kepada Pemerintah Aceh untuk melakukan berbagai langkah nyata terhadap penyempurnaan Syari’at Islam di Aceh, terutama menyangkut dengan substansi qanun 7 dan ekses negatif yang ditimbulkannya. Diantara ekses negatif tersebut adalah lahirnya nyeri jasmani dan ruhani atau singkatnya kekerasan yang dilakukan oleh personel WH pada saat melaksanakan tugasnya. Media massa sering menginformasikan kepada publik tentang berbagai aksi kekerasan yang kontradiktif dengan hakikat Syari’at Islam itu sendiri.

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN (Halaman 33-37)

Dokumen terkait