• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

4.1. Profil Perusahaan

4.1.5 Ketenagakerjaan

Jumlah tenaga kerja di PT Mekar Unggul Sari terdiri dari 200 orang yang terdiri dari karyawan pimpinan, staf, karyawan bulanan, karyawan harian dan honorer. Jam kerja untuk karyawan baik untuk pimpinan maupun karyawan lainnya adalah 40 jam per minggu. Dengan rincian sebagai berikut :

a. Pimpinan dan staf : hari kerja senin sampai jumat dengan jam kerja mulai pukul 08.00 WIB – 17.00 WIB, dan jam istirahat jam 12.00 WIB – 13.00 WIB.

61 b. Karyawan bulanan dan harian : hari kerja senin sampai sabtu dengan jam kerja mulai pukul 08.00 WIB – 17.00 WIB, dan jam istirahat jam 11.00 WIB – 13.00 WIB (senin – kamis) dan jam 13.00 WIB – 14.00 WIB (jumat dan sabtu).

Untuk menunjang kegiatan wisata, prasarana dan fasilitas yang dapat dinikmati oleh pengunjung di Taman Buah Mekarsari adalah :

1. Kebun koleksi tanaman buah yang mempunyai luas area 88 ha yang terbagi dalam 5 blok yaitu blok A – blok E. Kebun koleksi ini dibangun dengan teknologi dan penataan landscape yang menarik, ditanami dengan aneka koleksi tanaman buah baik lokal maupun introduksi dari luar negri. hari kerja senin sampai minggu dengan jam kerja mulai pukul 08.00 WIB – 17.00 WIB.

2. Kawasan danau Cipicung, danau alami yang memiliki luas lahan 27,5 ha.

62 BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Perumusan Model

Analisis optimalisasi produksi melon hidroponik pada penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk memaksimumkan keuntungan yang diterima PT Mekar Unggul Sari dari tingkat produksi dua jenis melon yaitu melon golden dan melon glamour hijau. Penelitian Optimalisasi ini dimulai dengan penentuan fungsi tujuan, penentuan variabel keputusan dan dilanjutkan dengan penentuan fungsi kendala. Penentuan variabel keputusan berdasarkan aktivitas kegiatan produksi melon hidroponik yang dilakukan oleh PT Mekar Unggul Sari yang terdiri dari tujuh variabel keputusan.

5.1.1 Perumusan Fungsi Tujuan Optimalisasi Produksi Melon Hidroponik PT Mekar Unggul Sari

Tahap awal dalam pembuatan model program linear adalah merumuskan fungsi tujuan. Fungsi tujuan yang dirumuskan pada penelitian ini untuk mengetahui tingkat produksi optimal melon hidroponik pada PT Mekar Unggul Sari, sehingga dapat diketahui keuntungan maksimal yang dapat dicapai perusahaan. Nilai keuntungan setiap jenis melon merupakan selisih antara harga jual per buah dengan biaya produksi yang dikeluarkan untuk memproduksi satu jenis melon.

Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui bahwa setiap jenis melon hidroponik yang dihasilkan PT Mekar Unggul Sari memiliki harga jual yang berbeda-beda, yaitu Rp 25.000/kg untuk melon golden dan Rp 17.000/kg untuk melon glamour hijau. Biaya produksi yang tertera pada Tabel 4, peneliti dapatkan dari hasil

63 wawancara dengan bapak Didi yang menyatakan rincian biaya produksi melon secara hidroponik merupakan rahasia perusahaan, sehingga bapak Didi hanya menginformasikan bahwa keuntungan melon hidroponik sebesar 30% dari harga jual. Berdasarkan pernyataan tersebut, maka peneliti mendapatkan nilai biaya produksi sebesar Rp 17.500/kg untuk melon golden, Rp 11.900/kg untuk melon glamour hijau dan nilai keuntungan sebesar Rp 7.500/kg untuk melon golden serta Rp 5.100/kg untuk melon glamour hijau.

Satu buah melon hidroponik diasumsikan memiliki berat ± 1 kg/buah.

Keuntungan melon golden sebesar Rp 1.642.500 pada Tabel 4, didapatkan dari hasil perkalian antara keuntungan melon golden, yaitu sebesar Rp 7.500/kg dengan jumlah rata-rata produksi melon golden per greenhouse pada kuartal ketiga tahun 2017, yaitu sebesar 219 buah, seperti yang terlampir pada Lampiran 3. Keuntungan melon glamour hijau sebesar Rp 693.600 pada Tabel 4, didapatkan dari hasil perkalian antara keuntungan melon glamour, yaitu sebesar Rp 5.100/kg dengan jumlah rata-rata produksi melon glamour per greenhouse pada kuartal ketiga tahun 2017, yaitu sebesar 136 buah, seperti yang terlampir pada Lampiran 3. Peneliti menetapkan nilai rata-rata produksi melon hidroponik pada kuartal ketiga tahun 2017 karena data tersebut merupakan data terbaru pada saat peneliti melakukan penelitian. Rincian perolehan keuntungan yang diperoleh dari masing-masing jenis melon tersaji pada Tabel 4.

64

Total Keuntungan (Rp) 2.336.100

Pada penelitian ini, variabel keputusan yang dimaksud adalah aktivitas kegiatan produksi melon secara hidroponik pada PT Mekar Unggul Sari. Setiap jenis buah melon dilambangkan dengan X1 (melon golden) dan X2 (melon glamour hijau). Nilai keuntungan dari masing-masing jenis buah melon pada tabel 4 merupakan koefisien dari variabel keputusan. Nilai keuntungan tersebut diperoleh dari selisih antara harga jual dengan biaya total per unit melon hidroponik. Biaya-biaya yang sangat berpengaruh selama proses produksi tersebut antara lain, Biaya-biaya benih, biaya nutrisi AB Mix, biaya media tanam rockwool, biaya polibag, dan biaya tenaga kerja.

Fungsi tujuan dari model program linear untuk mengetahui tingkat produksi yang optimal dapat dirumuskan sebagai berikut:

Max Z = 7.500X1 + 5.100X2

Dimana : Z = Nilai fungsi tujuan memaksimalkan keuntungan (Rp)

Xj = Variabel keputusan yaitu jumlah produksi suatu jenis melon (unit) j = Jenis buah melon (1 dan 2)

65 5.1.2 Perumusan Fungsi Kendala Optimalisasi Produksi Melon Hidroponik

PT Mekar Unggul Sari

Proses produksi melon hidroponik perusahaan dihadapkan pada sebuah masalah yaitu, tidak terpenuhinya target produksi perusahaan sebesar 517 buah/greenhouse yang diakibatkan keterbatasan sumberdaya yang ada.

Keterbatasan ini akan menjadi suatu kendala bagi perusahaan dan berpengaruh dalam proses pengambilan keputusan produksi. Kendala pada model program linear untuk optimalisasi produksi melon hidroponik pada PT Mekar Unggul Sari antara lain kendala benih, nutrisi AB mix, media tanam rockwool, dan tenaga kerja. Data kendala tersebut didapatkan dari hasil wawancara dengan pak Didi Suhendi selaku staff bagian melon, pak Yanto Maryanto selaku koordinator bagian melon, dan pak Agus selaku karyawan bagian melon penanggungjawab gudang dan nutrisi.

Penjelasan masing-masing kendala dirumuskan ke dalam model program linear, sebagai berikut:

a. Kendala Benih

Bahan baku yang digunakan dalam memproduksi melon secara hidroponik diantaranya yaitu benih. Benih tersebut dipasok dari agen yang sudah bekerjasama dengan PT Mekar Unggul Sari. Benih dijadikan kendala karena benih adalah salah satu bahan baku produksi yang dibutuhkan dan ketersediaannya masih bergantung pada agen. Benih jenis Melon Golden dalam satu kemasan berisi 550 benih dengan berat bersih 15 gram dan benih jenis Melon Glamour dalam satu kemasan berisi 100 butir benih dengan berat bersih 10 gram. Satu greenhouse membutuhkan 608 benih melon tetapi benih yang dipersiapkan yaitu 10% dari jumlah benih yang

66 dibutuhkan. Perhitungan koefisien kendala benih tersaji pada Lampiran 5, berikut perumusan ke dalam model kendalanya:

A ) 1,88 X1 <= 493 1,88 X2 <= 176

b. Kendala Nutrisi AB Mix

Nutrisi AB Mix merupakan salah satu bahan baku penting yang pasti dibutuhkan dalam memproduksi melon secara hidroponik. Bahan baku tersebut dipasok dari agen yang sudah bekerjasama dengan PT Mekar Unggul Sari.

Keberadaan yang pasti dibutuhkan membuat Nutrisi AB Mix menjadi salah satu kendala pada proses produksi ini. Satu set Nutrisi AB Mix yang digunakan untuk produksi melon secara hidroponik terdiri dari Nutrisi A dan B yang dilarutkan.

Nutrisi AB Mix tersebut dipasok dari agen yang sudah bekerjasama dengan PT Mekar Unggul Sari. Nutrisi A memiliki berat 20 kg dan Nutrisi B memiliki berat 21 kg. Satu periode produksi melon secara hidroponik memerlukan tiga set Nutrisi AB Mix. Perhitungan koefisien kendala Nutrisi AB Mix tersaji pada Lampiran 5, berikut perumusan ke dalam model kendalanya:

B ) 0,34 X1 <= 91 0,34 X2 <= 32

c. Kendala Media Tanam Rockwool

Salah satu media tanam yang digunakan untuk produksi melon secara hidroponik yaitu rockwool. Media tanam tersebut dipasok dari agen yang sudah bekerjasama dengan PT Mekar Unggul Sari. Rockwool dijadikan kendala produksi karena persediaan dan harganya tergantung pada agen, berbeda dengan media

67 tanam arang sekam dan cocopeat yang diproduksi sendiri oleh PT Mekar Unggul Sari. Satu unit rockwool berukuran panjang 100 cm, lebar 7,5 cm, tinggi 14,5 cm.

Kebutuhan media tanam rockwool untuk satu buah melon yaitu panjang 3 cm, lebar 3 cm, tinggi 3 cm. Perhitungan koefisien kendala rockwool tersaji pada Lampiran 5, berikut perumusan ke dalam model kendalanya:

C ) 61,26 X1 <= 16095 61,26 X2 <= 5655 d. Kendala Tenaga Kerja

PT Mekar Unggul Sari memiliki empat orang tenaga kerja yang khusus menangani produksi melon secara hidroponik. PT Mekar Unggul Sari menerapkan sistem jam kerja yaitu tujuh jam kerja per hari dan hari kerja dari senin sampai sabtu untuk bagian produksi atau tenaga kerja kebun. Tenaga kerja tersebut bertugas mengurus produksi 12 greenhouse dan Rumah Nutrisi mulai dari pembibitan hingga panen. Peneliti menggunakan satuan gaji per jam untuk memudahkan peneliti menemukan nilai koefisien kendala tenaga kerja. Pada perhitungan koefisien kendala tenaga kerja, peneliti tidak mencantumkan kebutuhan dan kapasitas tenaga kerja karena divisi produksi melon memandang bahwa produksi melon hidroponik dapat ditangani hanya dengan satu orang karyawan untuk empat greenhouse. Perhitungan koefisien kendala tenaga kerja tersaji pada Lampiran 5, berikut perumusan ke dalam model kendalanya:

D ) 44,72 ( X1 + X2 ) <= 15876

68 e. Kendala Polibag

Wadah media tanam yang digunakan PT Mekar Unggul Sari dalam memproduksi melon secara hidroponik adalah polibag. Kapasitas satu polibag dapat menampung dua tanaman melon. Pada satu greenhouse terdapat 304 polibag.

Polibag tersebut dipasok dari agen yang sudah bekerjasama dengan PT Mekar Unggul Sari. Polibag dijadikan kendala produksi menggantikan greenhouse karena biaya pembangunan greenhouse tidak diketahui secara pasti sehingga tidak dapat diketahui biaya penyusutannya. Alasan lainnya adalah karena persediaan polibag dan harganya tergantung pada agen. Perhitungan koefisien kendala polibag tersaji pada Lampiran 5, berikut perumusan ke dalam model kendalanya:

E ) 0,88 X1 <= 230 0,88 X2 <= 85

5.2 Hasil Optimalisasi

5.2.1 Tingkat Produksi Optimal

Tujuan yang ingin diketahui dalam penelitian ini adalah tingkat produksi optimal buah melon hidroponik yang dapat dihasilkan oleh PT Mekar Unggul Sari berdasarkan sumberdaya yang dimiliki. Tingkat produksi optimal tersebut memberikan keuntungan yang maksimal untuk perusahaan. Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan aplikasi LINDO yang tersaji pada Lampiran 6, dapat diketahui tingkat produksi optimal dari aktivitas produksi buah melon hidroponik dapat memberikan keuntungan yang optimal sebesar Rp. 2.431.016, sedangkan keuntungan pada kondisi aktual sebesar Rp.2.336.100 seperti yang tersaji pada

69 Tabel 4. Pada kondisi optimal ini, perusahaan mendapatkan keuntungan lebih besar dari pada kondisi aktual, yaitu Rp. 94.916.

Pada Tabel 5 dapat diketahui bahwa kedua jenis melon hidroponik yang terdapat pada PT Mekar Unggul Sari diproduksi seluruhnya dengan jumlah yang berbeda-beda setiap jenisnya. Pada Tabel 5 terdapat selisih tingkat produksi pada kondisi aktual dan optimalnya. Nilai selisih tersebut terdapat nilai yang negatif dan positif. Nilai negatif diberikan jika nilai pada kondisi aktual lebih kecil daripada kondisi optimal. Nilai positif diberikan jika nilai pada kondisi aktual lebih besar daripada kondisi optimal. Berikut merupakan tingkat produksi pada kondisi aktual dan kondisi optimal, yang tersaji pada Tabel 5.

Tabel 5. Tingkat Produksi pada Kondisi Aktual dan Kondisi Optimal Jenis

Pada Tabel 5, dapat dilihat bahwa tingkat produksi buah melon hidroponik jenis melon golden memiliki jumlah kondisi aktual yang lebih kecil dari jumlah kondisi optimal. Selisih produksi yang terdapat pada melon golden sebesar -42 buah. Angka tersebut jauh dari kondisi optimal yang harusnya dapat dicapai oleh perusahaan. Nilai selisih antara kondisi aktual dan kondisi optimal melon glamour bernilai positif yaitu sebesar +44. Hasil perhitungan kondisi optimal tersebut dapat dilihat pada lampiran 6.

Dapat diketahui pada Lampiran 6 bahwa hasil output dari reduced cost melon Golden dan melon Glamour hidroponik yang dihasilkan perusahaan bernilai nol.

70 Hal ini berarti jika kedua jenis hidroponik tersebut tetap diproduksi maka tidak akan mengurangi jumlah keuntungan yang diperoleh PT Mekar Unggul Sari.

5.2.2 Analisis Alokasi Sumberdaya

Pada penelitian ini dilakukan analisis alokasi sumberdaya dengan tujuan untuk mengetahui tingkat penggunaan sumberdaya pada kegiatan produksi buah melon hidroponik. Analisis tersebut dilakukan untuk mengetahui sumberdaya yang digunakan dalam produksi, apakah ketersediaannya berlebih atau mengalami kelangkaan dengan melihat nilai slack/surplus dan nilai dual.

Nilai sumberdaya terbatas dinyatakan dengan nilai slack/surplus sama dengan nol, yang artinya memiliki sumberdaya yang habis terpakai dalam kegiatan produksinya. Sumberdaya yang memiliki nilai slack/surplus nol akan beriringan dengan nilai dual price yang lebih dari nol, artinya setiap penambahan satu unit ketersediaan sumberdaya akan meningkatkan atau menambah keuntungan sebesar nilai dualnya.

Nilai sumberdaya berlebih akan dinyatakan dengan nilai slack/surplus lebih besar dari nol dan memiliki nilai dual sama dengan nol. Nilai nol pada dual price tersebut menunjukkan bahwa setiap penambahan satu unit ketersediaan sumberdaya tidak akan mempengaruhi keuntungan yang didapat oleh perusahaan.

5.2.2.1 Kendala Benih

Penggunaan benih buah melon hidroponik pada PT Mekar Unggul Sari tersaji pada Tabel 6, dimana terdapat nilai slack/surplus yang bernilai sama dengan nol dan lebih besar dari nol. Benih melon golden dan melon glamour hidroponik merupakan sumberdaya berlebih karena memiliki nilai slack/surplus, yang artinya

71 kedua benih tersebut merupakan sumberdaya berlebih (tidak habis terpakai).

Berikut merupakan hasil nilai slack/surplus benih melon hidroponik di PT Mekar Unggul Sari.

Tabel 6. Nilai Slack/Surplus dan Nilai Dual Kendala Benih

Sumberdaya Slack/Surplus (unit) Nilai Dual (Rp)

Benih Melon Golden 1.63 0

Benih Melon Glamour 2.45 0

Berdasarkan Tabel 6 dapat diketahui nilai dual dari kedua benih melon bernilai nol, yang artinya walaupun ketersediaan benih golden dan glamour ditingkatkan sebesar satu unit, maka tidak akan mempengaruhi keuntungan yang diperoleh perusahaan.

5.2.2.2 Kendala Nutrisi AB Mix

Seperti penanaman hidroponik pada umumnya, dalam proses produksi melon hidroponik juga menggunakan nutrisi AB Mix. Penggunaan nutrisi AB Mix dapat dilihat dari nilai slack/surplus dan nilai dual secara terperinci seperti yang tersaji pada Tabel 7.

Tabel 7. Nilai Slack/Surplus dan Nilai Dual Kendala Nutrisi AB Mix

Sumberdaya Slack/Surplus (Kg) Nilai Dual (Rp)

Nutrisi AB Mix Melon Golden 2.13 0

Nutrisi AB Mix Melon Glamour 0.61 0

Berdasarkan Tabel 7, terlihat bahwa nutrisi AB Mix memiliki persediaan berlebih atau sumberdaya yang digunakan tidak habis terpakai. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai slack/surplus yang lebih dari nol. PT Mekar Unggul Sari menyediakan nutrisi AB Mix dalam jumlah yang berlebih untuk persediaan.

72 5.2.2.3 Kendala Rockwool

Rockwool merupakan media tanam yang penting dalam produksi tanaman melon secara hidroponik. Penggunaan rockwool dapat dilihat dari nilai slack/surplus dan nilai dual secara terperinci seperti yang tersaji pada Tabel 8.

Tabel 8. Nilai Slack/Surplus dan Nilai Dual Kendala Rockwool

Sumberdaya Slack/Surplus (Unit) Nilai Dual (Rp)

Rockwool Melon Golden 83.86 0

Rockwool Melon Glamour 0 83.25

Berdasarkan Tabel 8, terlihat bahwa rockwool untuk melon golden memiliki persediaan berlebih atau sumberdaya yang digunakan tidak habis terpakai. Berbeda dengan rockwool melon golden, rockwool melon glamour merupakan sumberdaya yang habis terpakai/sumberdaya yang terbatas.

5.2.2.4 Kendala Tenaga Kerja

Tenaga kerja merupakan hal yang terpenting dalam suatu perusahaan, begitu pula dengan produksi melon secara hidroponik. Penggunaan tenaga kerja dapat dilihat dari nilai slack/surplus dan nilai dual secara terperinci seperti yang tersaji pada Tabel 9.

Tabel 9. Nilai Slack/Surplus dan Nilai Dual Kendala Tenaga Kerja

Sumberdaya Slack/Surplus Nilai Dual (Rp)

Tenaga Kerja Melon Golden 59.64 0

Tenaga Kerja Melon Glamour 59.64 0

Berdasarkan Tabel 9, terlihat bahwa tenaga kerja untuk melon golden dan glamour memiliki nilai slack/surplus dan nilai dual yang sama. Nilai slack/surplus lebih dari nol menandakan bahwa tenaga kerja memiliki persediaan berlebih atau sumberdaya yang digunakan tidak habis terpakai.

73 5.2.2.5 Kendala Polibag

Polibag merupakan wadah yang digunakan untuk produksi melon hidroponik di PT Mekar Unggul Sari. Penggunaan polibag dapat dilihat dari nilai slack/surplus dan nilai dual secara terperinci seperti yang tersaji pada Tabel 10.

Tabel 10. Nilai Slack/Surplus dan Nilai Dual Kendala Polibag

Sumberdaya Slack/Surplus Nilai Dual (Rp)

Polibag Melon Golden 0 8522,72

Polibag Melon Glamour 3.76 0

Berdasarkan Tabel 10, terlihat bahwa polibag untuk melon golden merupakan sumberdaya yang habis terpakai/sumberdaya yang terbatas. Berbeda dengan polibag untuk melon glamour yang merupakan sumberdaya berlebih atau sumberdaya yang digunakan tidak habis terpakai.

5.2.3 Analisis Sensitivitas

Analisis sensitivitas pada penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu yang berhubungan dengan perubahan salah satu koefisien keuntungan dan berhubungan dengan perubahan salah satu ketersediaan sumberdaya. Pada analisis sensitivitas terdapat batasan perubahan, yaitu allowable increase (batasan penambahan) dan allowable decrease (batasan pengurangan).

Batasan pada koefisien keuntungan menunjukkan batas perubahan yang tidak akan mengubah tingkat produksi optimalnya. Batasan sensitivitas pada ketersediaan sumberdaya menunjukkan batas perubahan yang tidak akan mengubah nilai dual dari sumberdaya yang bersangkutan. Berikut merupakan hasil perhitungan analisis sensitivitas dengan menggunakan aplikasi LINDO.

74 Tabel 12. Analisis Sensitivitas Koefisien Fungsi Tujuan Produksi Melon

Hidroponik

Melon Golden 7500.00 Infinity 7500.00

Melon Glamour 5100.00 Infinity 5100.00

Berdasarkan Tabel 12, terlihat bahwa nilai allowable increase koefisien fungsi tujuan (keuntungan) dari buah melon golden dan melon glamour dapat ditingkatkan pada besaran yang tidak terhingga (infinity). Nilai allowable decrease koefisien fungsi tujuan (keuntungan) dari buah melon golden dan melon glamour dapat dilakukan pengurangan nilai koefisien tidak melebihi 7500 untuk melon golden dan 5100 untuk melon glamour. PT Mekar Unggul Sari dapat meningkatkan keuntungan untuk masing-masing jenis melon berapapun besarnya. Nilai hasil perhitungan analisis sensitivitas untuk sumberdaya, tersaji pada Tabel 13 berikut.

Tabel 13. Analisis Sensitivitas Ruas Kanan Produksi Melon Hidroponik pada PT Mekasr Unggul Sari

Benih Melon glamour 176.00 Infinity 2.45

Nutrisi AB Mix Melon Golden 91.00 Infinity 2.13 Nutrisi AB Mix Melon

Glamour 32.00 Infinity 0.61

Rockwool Melon Golden 16095.00 Infinity 83.86 Rockwool Melon Glamour 5655.00 76.92 5655.00 Tenaga Kerja Melon Golden 15876.00 Infinity 59,64 Tenaga Kerja Melon Glamour 15876.00 Infinity 59,64 Polibag Melon Golden 230.00 Infinity 230.00

Polibag Melon Glamour 85.00 Infinity 3.76

Berdasarkan Tabel 13, dapat diketahui bahwa analisis sensitivitas pada nilai sumberdaya untuk kendala benih melon golden, benih melon glamour, nutrisi AB mix melon golden nutrisi AB mix melon glamour, rockwool melon golden, tenaga

75 kerja melon golden, polibag melon golden, polibag melon glamour, dapat mengalami peningkatan tanpa batas, tetapi kenaikan untuk kendala tersebut tidak akan mengubah tingkat keuntungan. Hal tersebut karena nilai dual sama dengan nol. Pada kendala rockwool melon glamour dan tenaga kerja melon glamour dapat dinaikkan dan diturunkan sampai batas yang tertera pada Tabel 13.

76 BAB VI

PENUTUP

6. 1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil olahan optimalisasi produksi melon secara hidroponik pada PT Mekar Unggul Sari, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

1. Kombinasi produksi melon hidroponik pada PT Mekar Unggul Sari belum mencapai kondisi optimal. Hasil tersebut dapat dilihat dari hasil selisih produksi aktual dan optimal bernilai negatif dan positif, yaitu -42 buah untuk melon golden dan +44 buah untuk melon glamour.

2. Berdasarkan hasil perhitungan optimalisasi produksi melon hidroponik pada PT Mekar Unggul Sari, kombinasi produksi melon hidroponik optimal adalah 261 buah untuk melon golden dan 92 buah untuk melon glamour. Dengan memproduksi 261 buah melon golden dan 92 buah melon glamour, maka perusahaan dapat meningkatkan keuntungan menjadi Rp 2.431.016.

3. Analisis sumberdaya optimal yang digunakan PT Mekar Unggul Sari memiliki banyak sumberdaya yang berlebih dan sedikit sumberdaya yang habis terpakai. Sumberdaya yang berlebih pada produksi melon hidroponik di PT Mekar Unggul Sari, yaitu benih melon golden dan glamour, nutrisi AB Mix melon golden dan glamour, rockwool melon golden, tenaga kerja, dan polibag melon glamour. Sumberdaya yang habis terpakai yaitu rockwool melon glamour dan polibag melon golden.

77 6. 2 Saran

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian ini, maka penulis memberikan saran sebagai berikut:

1. Pada produksi melon hidroponik jenis melon golden, perusahaan diharapkan dapat mengoptimalkan penggunaan sumberdaya yang berlebih, yaitu benih melon, nutrisi AB Mix, tenaga kerja dan rockwool, agar produksi buah melon hidroponik jenis melon golden dapat mencapai kondisi optimal.

2. Pada produksi melon hidroponik jenis melon glamour, perusahaan diharapkan dapat mengoptimalkan penggunaan sumberdaya yang berlebih, yaitu benih melon, nutrisi AB Mix, tenaga kerja, dan polibag, agar produksi buah melon hidroponik jenis melon glamour dapat mencapai kondisi optimal.

78 DAFTAR PUSTAKA

Andalona Rizki Fauzhi, Sherly. 2013. Optimalisasi Penanganan Pasca Panen Benih Sayuran Pada PT Sang Hyang Seri (Persero) Regional III Cabang Pujon-Malang. [Skripsi]. Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Jakarta.

Anonim. 2007. Budi Daya Melon. PT Agromedia Pustaka: Jakarta.

Anonim. 2009. Buku Pintar Budi Daya Tanaman Buah Unggul Indonesia. PT Agromedia Pustaka: Jakarta.

Astuti, Marhanani Tri. 2014. Potensi Agrowisata dalam Meningkatkan Pengembangan Pariwisata. Jurnal Departemen Pariwisata Vol. 1 No. 1.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif: Jakarta.

Dimyati, et al. 2010. Operations Research: Model-Model Pengambilan Keputusan, Cetakan Kesebelas. Sinar Baru Algensindo: Bandung.

Ferniasari, Rani. 2011. Optimalisasi Produksi Tanaman Hias untuk Vertical Garden pada PT Godongijo Asri, Sawangan, Depok, Provinsi Jawa Barat.

[Skripsi]. Fakultas Ekononomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor.

Bogor.

Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. 2014. Capaian Sektor Pariwisata 3 Tahun Jokowi-JK. Kementerian Pariwisata: Jakarta.

Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. 2015. Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Pariwisata Tahun 2015. Kementerian Pariwisata: Jakarta.

Lipsey, RG Steiner, P.O dan Purvis, D, D. 1995. Pengantar Mikro Ekonomi.

Erlangga: Jakarta.

Margianasari, et al. 2012. Bertanam Melon Eksklusif dalam Pot. Penebar Swadaya:

Margianasari, et al. 2012. Bertanam Melon Eksklusif dalam Pot. Penebar Swadaya: