BAB V GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
5.7 Ketenagakerjaan PT. Armindo Catur Pratama
PT. Armindo Catur Pratama memiliki tenaga kerja yang di golongkan menjadi :
1. Tenaga kerja tetap 2. Tenaga kerja kontrak
3. Tenaga kerja koperasi ( tenaga kerja yang tidak termaksud sebagai karyawan perusahaan tetapi dipekerjakan oleh perusahaan). Jumlah tenaga kerja PT. Armindo Catur Pratama adalah 527 orang dengan rincian pada tabel 1.
Tenaga kerja PT. Armindo Catur Pratama memiliki tingkat pendidikan di sesuaikan dengan pekerjaannya dilapangan sebagai berikut : 1. Pendidikan operator dan staff minimal STLA sampai dengan D2.
2. Pendidikan staff keatas minimal D3 sampai S1.
70
Tabel.5.1
Rincian Jumlah Tenaga Kerja PT. ARMINDO CATUR PRATAMA TAHUN 2016
N0. Departemen
Manajer Supervisor
Departemen
Foreman Leader Staf Operator
Tetap Kontrak Tetap Kontrak Tetap Kontrak Tetap Kontrak Tetap Kontrak Koperasi Tetap Kontrak Koperasi
Lk Pr Lk Pr Lk Pr Lk Pr Lk Pr Lk Pr Lk Pr Lk Pr Lk Pr Lk Pr Lk Pr Lk Pr Lk Pr Lk Pr
1 Galvanize - - - - - - - - 1 - - - 3 - - - 3 - - - - - 21 - 23 - 13 - 64
2 Assesoris - - - - - - - - 1 - - - 1 - - - 4 - 2 - - - 8 - 26 - 8 - 50
3 Tower Pipa - - - - - - - - 1 - - - 2 - - - 1 - - - - - 4 - 23 - 10 - 41
4 Persediaan - - - - - - - - 2 - - - 4 - - - - 1 3 - - - 11 - 33 - 17 - 71
5 ME produksi - - - - - - - - 1 - - - 2 - - - 6 - 2 - 4 - - - - - - - 15
6 Press Shop - - - - - - - - - - - - 1 - - - 1 - - - - - 5 - 9 - - - 16
7 Plate - - - - - - - - 1 - - - 2 - - - - - - - 1 - 3 - 37 - 5 - 49
8 Tower Siku - - - - 1 - - - - - - - 3 - - - 2 - - - - - 9 - 37 - 5 - 57
9 Enginering 1 - - - 1 - - - - - - - 1 - - - 2 - 7 1 - - - - - - - - 13
10 Marketing Corrugat 1 - - - - - - - - - - - 1 - - - 4 1 - - - - - - - - - - 7
11 Marketing Tower - 1 - - - - - - - - - - - - - - - 2 - 2 - - - - - - - - 5
12 Pembeliaan - - - - 1 - - - - - - - 1 - - - 2 - 2 1 - - - - - - - - 7
14 PPIC - - - - 1 - - - - - - - 2 - - - 5 - 5 - - - - - - - - - 13
15 QESH - - - - - - - - 2 - - - - - - - 1 - 1 1 - - - - - - - - 5
16 HRD - - 1 - 1 - - - 2 1 - - 4 - - - 14 - 31 5 17 - - - - - - - 76
17 Quality Control - - - - - - - - 1 - - - 1 - 1 - 3 - 6 - 2 - - - - - - - 14
18 Produksi Manajer 1 - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - 1
19 Administrasi Produksi - - - - - - - - - - - - - - - - - 1 - - - - - - - - - - 1
20 ME Dies - - - - - - - - 1 - - - - - - - 2 - 1 - - - - - - - - - 4
21 Contruksi - - - - - - - - - - - - - - - - - - 1 - - - - - - - - - 1
Jumlah 4 1 1 - 5 1 - - 17 3 - - 26 - 1 - 54 7 64 12 24 - 61 - 18
8
- 58 - 527
72 BAB VI
HASIL PENELITIAN
6.1 Identifikasi Risiko dan Analisis Risiko K3 pada proses mesin bubut Identifikasi risiko yang dilakukan dengan cara melakukan observasi pada tahapan proses kerja dan melakukan wawancara tidak terstruktur terhadap unit K3 dan pekerja di unit kerja mesin bubut serta melihat dokumen kerja berupa instruksi kerja. Dalam melakukan identifikasi risiko, penulis mengamati tahapan kerja yang ada di unit kerja mesin bubut.
Sedangkan Analisis risiko dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dengan menentukan nilai konsekuensi, paparan, dan kemungkinan dari setiap risiko, nilai tersebut lalu dihitung dan dibandingkan dengan standar level risiko untuk mendapatkan tingkatan risiko yang ada pada tahapan mesin bubut tersebut.
Tabel 6.1
Personil Yang Terlibat Dalam Proses Pembubutan
No Jabatan Jumlah personil
1 HSE Officer 1
2 Safety Officer 1
3 Quality Control 1
4 EngineeR 1
5 Worker 1
Dalam proses pembubutan ini 1 orang Pekerja bertugas sebagai penanggung jawab atas gambar struktur bahan yang akan dibubut dan juga bertanggung jawab atas ketersediaan matrial-matrial di proyek PT.Armindo Catur Pratama, 1 orang engineer bertugas untuk memastikan
Quality Control bertugas untuk pengecekan hasil pembubutan dan pengetesan bahan jadi sebelum digunakan, 1 orang Safety Officer bertugas untuk membuat ijin kerja K3, memberikan tugas kepada pekerja dalam pembubutan dan mengawasi kinerja pekerjanya, 1 orang HSE Officer PT.Armindo Catur Pratama bertugas untuk mengecek kembali setiap unit kerja mesin bubut.
74 6.2 Identifikasi Risiko Pada Proses Mesin Bubut (Turning)
Tabel 6-2 Indentifikasi risiko pada proses mesin bubut (Turning)
No. Langkah Kerja Deskripsi Kegiatan Penyebab Risiko Consequence
s (Dampak) b. Membawa tools terlalu Banyak c. Tidak menggunakan
Toolbox
d. Bekerja tidak hati-hati
e. Tidak menggunakan APD
75 pada toolpost membuka baut
b. Pasang pahat
f. Bercanda dengan teman g. Kurang hati-hati
h. Bercanda dengan teman i. Teman yang bercanda j. Kurang hati – hati
k. Menempatkan tangan ke bagian bergerak
a. Tertimpa kunci cekam (chuck) (bahaya
a. Tidak menguasai cara Kerja b. Kurang hati-hati
c. Putaran mesin terlalu Tinggi d. Penguncian cekam tidak Kuat e. Melihat terlalu dekat
f. Pencahayaan kurang baik g. Tidak menggunakan APD h. Melihat terlalu dekat
a. Terpental kunci chuck yang tertinggal di
76
i. Tidak menggunakan APD j. Pencahayaan kurang baik k. Wearpack tidak lengan Panjang l. Kurang hati-hati
m. Tidak menggunakan Coolant n. Putran mesin yang tidak sesuai
dengan benda kerja o. Toolpost tidak kencang p. Melihat teralu dekat
q. Tidak menggunakan APD (Safety glasses / Goggle)
r. Tidak menggunakan APD (Safety shoes)
s. Housekeeping yang kurang baik t. Lantai kerja yang licin
u. Cairan pendingin (coolant) yang berceceran
v. Tidak menggunakan cairan pendingin (coolant)
w. Tidak menggunakan lap (majun) x. Bekerja kurang hati – hati y. Tidak menggunakan lap (majun) z. Tidak mengikir terlebih Dahulu
Tidak menggunakan APD (Safety shoes)
77 (Safety glasses / Goggle)
d. Jarak yang terlalu dekat dengan b. Membawa tools terlalu Banyak c. Tidak menggunakan Toolbox d. Bekerja tidak hati-hati e. Tidak menggunakan APD f. Housekeeping yang kurang Baik
a. Kaki tertimpa tools
78
6.3 Penilaian Potensi Bahaya, Resiko dan Pengendalian Proses kerja dalam pembubutan
Penilaian potensi bahaya, resiko di PT. Armindo Catur Pratama dalam menggunakan Job Safety Analiysis penilaian ini dilakukan berdasarkan Standar Oprasional Prosedur Identifikasi Bahaya Penilaian Resiko dan Penetapan Pengendalian.
6.3.1 Proses Pembubutan
“Pengambilan alat-alat (pahat, chuck bor, sigmat, dan benda kerja, palu) dari tempatnya harus hati-hati karna kalau kita gak pake sarung tangan bisa luka, kalau bawa kebanyakan juga itu kan berat nanti kamu bisa keseleo, kalau jatuh terus nimpah kaki mu kan itu bahaya mas, jadi harus bener hati-hati meskipun sepele keliatanya.
Barang yang udah disiapkan tadi di cek lagi siapa tau ada yang kurang atau belum siap dipakai,kalau udah di cek dan lengkap ya alat-alatnya dirapihkan disimpan deket mesin bubut biar nanti waktu pembubutan kita gak jauh-jauh ngambil alat-alat yang kita butuhin.
Tahap selanjutnya tekan saklar ON, cek kondisi mesin nya lancar atau ada masalah, kalau lancar ya lanjut kalau ada yang aneh ya di periksa dulu ya. Kalau udah yakin mesin aman liat spek yang mau dikerjain dan liat material yang mau kita bubut disitu diukur dan dipastikan pas.kalau udah ready pasang pahatnya dan pasang juga material yang mau dibubut di tempat penyangganya, pastikan sudah terpasang dengan benar sebelum melakukan pembubutan. Kalau
bubutnya hati-hati dan teliti yah karna kalau salah sedikit bisa fatal hasilnya nanti. Kalaun sudah yakin sesuai dengan spek di cek ulang dan di ukur biar sesuai dengan spek yang dimau. Kalau sudah ngebubut mesin nya dirapihin lagi, dibersihin gram-gram atau scrab yang ada dimesin bubutnya jangan lupa si alat-alat atau perkakasnya di rapiin lahi ditempatnya biar kalau bnesok lusa mau make gak usah nyari kemana-mana ”.( Safety Officer dan Worker PT. Armindo Catur Pratama)
Tabel 6.3
Penilaian Resiko pada Proses Pembubutan
Berdasarkan penilaian ini, potensi bahaya pembubutan ini sangat bahaya sehingga mendapatkan skor 80, tremasuk katagori Significant yang berarti resiko yang memerlukan tindakan Level of Risk Penilaian Tingkat Resiko
Keterangan Penyebab
1 2 3 4 5
Frequency (F)
√
Frekuensi kecelakaan
bisa terjadi setiap saat Mesin bubut bisa melukai pekerja
80
penanganan segera atau secepatnya agar dapat meminimalisir nilai resiko dan dapat diterima. Faktor penyebab kecelakaan tersebut termasuk unsafe action (kondisi tidak aman) seperti bekerja tidak mengikuti SOP dan tidak memakai APD. Pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah pengawasan, perhatian, dan pemeriksaan alat pelindung diri. Adapun rekomendasi yang diusulkan adalah melakukan pengawasan lebih ketat atau safety patrol.
6.3.2 Pengecekan Hasil Bubut
“ini perlu dilakukan untuk memastikan hasil bubut sesuai dengan spek yang diinginkan dan menjaga kualitas agar nantinya waktu sampai ditangan konsumen mereka gak kecewa sama hasil dari PT ini.
Seberapapun sulitnya spek yang diminta kita usahain semaksimal mungkin biar sesuai. Kehati-hatian dan pengalaman sangat berpengarus disini.”.(Quality Control).
Dari wawancara ini dapat disimpulkan untuk aktivitas ini peneliti menemukan bahwa bukan hanya pengetahuan unutk masalah membubut, tapi pengalaman dan kehati-hatian pekerja menjadi faktor yang sangat mendukung.
Penilaian Resiko pada Pemeriksaan hasil bubut
Berdasarkan peniliaian ini, potensi bahaya Pemeriksaan Mesin Bubut ini berbahaya dan mendapatkan skor 36, tolerable yang berarti memerlukan perhatian. Faktor penyebab kecelakaan tersebut termasuk unsafe action (kondisi tidak aman). Pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah pengawasan, perhatian, dan pemeriksaan alat pelindung diri. Adapun rekomendasi yang diusulkan adalah melakukan pengawasan dan pemeriksaan sebelum bekerja.
6.3.3 Pemeriksaan Mesin Bubut
Dari hasil wawancara, untuk aktivitas ini peneliti menemukan beberapa potensi bahaya yang dapat terjadi serta penyebab yang Level of Risk Penilaian Tingkat Resiko
Keterangan Penyebab
1 2 3 4 5
Frequency (F)
√
Frekuensi kecelakaan
bisa terjadi setiap saat Hasil bubut yang sudah jadi bisa saja
82
ditimbulkan. Berikut ini adalah beberapa potensi bahaya yang terjadi pada aktivitas Pengecekan atau perawatan mesin, antara lain :
1. Kecelakaan personel 2. Konsleting listrik
3. Tertimpa material pada kaki 4. Terjepit material pada tangan
Penilaiaan resiko dilakukan pada identifikasi proses bahaya kecelakaan, konsleting mesin, mesin macet,banyak material yang berada didalam mesin. Alasan penulis memilih potensi bahaya tersebut dikarenakan resiko potensi yang sedang dan lebih dominan timbul.
Adapun penilaian dapat dilihat pada table dibawah ini . Tabel 6.5
Penilaian Resiko pada Pemeriksaan Mesin Bubut
Level of Risk Penilaian Tingkat Resiko
Keterangan Penyebab
1 2 3 4 5
Frequency (F)
√
Frekuensi kecelakaan
bisa terjadi setiap saat Mesin bubut yang sedang dalam
Mesin Bubut ini berbahaya dan mendapatkan skor 24, tolerable yang berarti memerlukan perhatian. Faktor penyebab kecelakaan tersebut termasuk unsafe action (kondisi tidak aman). Pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah pengawasan, perhatian, dan pemeriksaan alat pelindung diri. Adapun rekomendasi yang diusulkan adalah melakukan pengawasan dan pemeriksaan sebelum bekerja.
6.3.4 Pengawasan Kerja
Dari hasil wawancara, untuk aktivitas ini peneliti menemukan beberapa potensi bahaya yang dapat terjadi serta penyebab yang ditimbulkan. Berikut ini adalah beberapa potensi bahaya yang terjadi pada Pengawasan kerja antara lain :
1. Tertimpa Material
2. Tersandung oleh kabel dan perkakas 3. Terkilir saat Patroli
Penilaian resiko dilakukan pada potensi. Pengawasan kerja dan saat patroli dapat tertimpa material, tersandung kabel atau perkakas dan terkilir atau keselo jika tidak hati-hati. Alasan penulis memilih potensi bahaya tersebut karna beresiko B e r a t . Adapun hasil penilaian dapat dilihat pada table dibawah ini
84
Tabel 6.6
Penilaian resiko pada aktifitas pengawasan kerja
Berdasarkan penilaian ini, potensi bahaya pada pengawasan kerja mendapatkan skor 24, termasuk katagori tolerable yang berarti memerlukan perhatian. Faktor penyebab kecelakaan tersebut termasuk unsafe action (kondisi tidak aman) dan ketidak hati-hatian.
Pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah pengawasan, perhatian, dan pemeriksaan alat pelindung diri. Adapun rekomendasi yang diusulkan adalah melakukan safety patrol keamanan.
Level of Risk Penilaian Tingkat Resiko
Keterangan Penyebab
1 2 3 4 5
Frequency (F) √
Frekuensi kecelakaan kira-kira 1 kali dalam
sehari Tidak hati-hati dalam berkeliling
85 BAB VII PEMBAHASAN
7.1 Tahapan-Tahapan Proses Kerja Pada Unit Mesin Bubut Di PT. Armindo Catur Pratama Tahun 2016.
Aktivitas Pembubutan ini Termasuk dalam kategori Significant dengan nilai resiko 61-80 karena aktivitas tersebut memiliki nilai resiko yang memerlukan tindakan penanganan segera atau secepatnya agar dapat meminimalisir nilai resiko dan dapat diterima.
Dalam bahaya resiko aktivitas proses pembubutan harus memiliki nilai Standar Prosedur < 20 yaitu melakukan kegiatan selayaknya dengan aman, yang berarti Pengendalian yang harus dilakukan oleh perusahaan adalah menyediakan APD sesuai dengan standart yang berlaku, menyediakan kacamata dan body harness. Adapun recommended action yang diusulkan adalah mengganti peralatan bubut yang sudah tidak layak pakai.
Peneliti berpendapat bahwa aktivitas pembubutan di PT. Armindo Catur Pratama masih belum aman dikarnakan pekerja masih banyak yang mengabaikan tentang keselamatan dalam bekerja, kurang mengerti dalam prosedur k3 dan mengabaikan dalam pemakaian APD. dengan memiliki nilai resiko 80 dalam katagori significant yang berarti memerlukan tindakan secepatnya.
Pihak pengawas kerja di PT. ACP diharapkan mampu melaksanakan
86
pengawasan kerja dengan lebih baik, memperketat dalam mengawasi pekerja dan memastikan pekerja bekerja sesuai SOP yang sudah ada dan memberikan edukasi atau pemahaman pentingnya menggunakan APD saat bekerja.
7.2 Mengidentifikasi Potensi Bahaya Pengecekan Hasil Bubut Di PT.
Armindo Catur Pratama Tahun 2016
Termasuk kategori tolerable dengan nilai resiko 21-40 karena nilai resiko yang muncul dari aktivitas tersebut diharuskan melakukan perhatian secara menyeluruh agar nilai resiko tersebut tidak semakin tinggi.
Dalam bahaya resiko aktivitas proses pengecekan hasil bubut harus memiliki nilai Standar Prosedur < 20 yaitu melakukan kegiatan selayaknya dengan aman, yang berarti Pengendalian yang harus dilakukan oleh perusahaan adalah pengawasan, perhatian, dan pemeriksaan alat pelindung diri. Adapun rekomendasi yang diusulkan adalah melakukan pengawasan dan pemeriksaan sebelum bekerja.
Peneliti berpendapat pada aktivitas proses pengecekan hasil bubut di PT. Armindo Catur Pratama masih kurang aman. Disebabkan pekerja masih mengabaikan dalam pemakaian APD saat melakukan pemeriksaan hasil bubut, tanpa pemakaian sarung tangan, tangan bisa tergores hasil bubut yang belum lebut atau masih kasar. Dengan memiliki nilai resiko 36 dalam katagori Tolerable yang berarti memerlukan perhatian.
Pihak pengawas kerja di PT. ACP diharapkan mampu melaksanakan pengawasan kerja dengan lebih baik, memperketat dalam mengawasi pekerja
dan memastikan pekerja bekerja sesuai SOP yang sudah ada dan memberikan edukasi atau pemahaman pentingnya menggunakan APD saat bekerja.
7.3 Pada Pemeriksaan Mesin Bubut di PT. Armindo Catur Pratama Tahun 2016
Termasuk kategori tolerable dengan nilai resiko 21-40 karena nilai resiko yang muncul dari aktivitas tersebut harus perbaikan agar nilai resiko tersebut tidak semakin tinggi.
Dalam bahaya resiko Aktivitas pemeriksaan mesin bubut harus memiliki nilai Standar Prosedur < 20 yaitu melakukan kegiatan selayaknya dengan aman, yang berarti Pengendalian yang dilakukan oleh perusahaan adalah menyediakan APD sesuai dengan standart yang berlaku, dan body harness. adapun Pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah pengawasan, perhatian, dan pemeriksaan alat pelindung diri, dan adapun rekomendasi yang diusulkan adalah melakukan safety patrol keamanan.
Peneliti juga berpendapat pada Aktivitas proses pemeriksaan mesin bubut masih belom aman. Dikarnakan dalam aktivitas ini masih ada pekerja yang mengabaikan dalam pemakaian APD saat melakukan pengecekan mesin yang mana disana berbagai risiko bahaya sangat besar dan mungkin terjadi apabila kita tidak teliti dan hati-hati. Dengan memiliki nilai resiko 24 dalam katagori tolerable yang berarti memerlukan perhatian..
Pihak pengawas kerja di PT. ACP diharapkan mampu melaksanakan pengawasan kerja dengan lebih baik, memperketat dalam mengawasi pekerja
88
dan memastikan pekerja bekerja sesuai SOP yang sudah ada dan memberikan edukasi atau pemahaman pentingnya menggunakan APD saat bekerja.
7.4 Pengawasan Kerja Unit Mesin Bubut Di PT. Armindo Catur Pratama Tahun 2016
Termasuk kategori tolerable dengan nilai resiko 21-40 karena nilai resiko yang muncul dari aktivitas tersebut diharuskan melakukan perhatian secara menyeluruh agar nilai resiko tersebut tidak semakin tinggi.
Dalam bahaya resiko aktivitas Pengawasan kerja harus memiliki nilai Standar Prosedur < 20 yaitu melakukan kegiatan selayaknya dengan aman, yang berarti Pengendalian yang harus dilakukan oleh perusahaan adalah pengawasan, perhatian, dan pemeriksaan alat pelindung diri. Adapun rekomendasi yang diusulkan adalah melakukan safety patrol keamanan.
Peneliti berpendapat pada aktivitas pengawasan kerja di PT.
Armindo Catur Pratama masih kurang aman. Disebabkan pekerja masih mengabaikan prosedur dalam bekerja dan menyimpan perkakas sembarangan yang membahayan petugas K3 saat berpatroli yang mana bisa mengakibatkan kecelakaan apabila perkakas tersebut membuat petugas tersandung atau material yang tidak disimpan rapi menimpa petugas saat melakukan pengawasan kerja. Dengan memiliki nilai resiko 24 dalam katagori Tolerable yang berarti memerlukan perhatian.
Pihak pengawas kerja di PT. ACP diharapkan mampu melaksanakan pengawasan kerja dengan lebih baik, memperketat dalam mengawasi pekerja
dan memastikan pekerja bekerja sesuai SOP yang sudah ada dan memberikan edukasi atau pemahaman pentingnya menggunakan APD saat bekerja.
90
BAB VIII
KESIMPULAN DAN SARAN
8.1 Kesimpulan
Berdasarkan analisa terhadap aktivitas pembubutan di PT. Armindo Catur Pratama, dapat diketahui Level of risk terbesar sampai terkecil pada setiap langkah-langkah aktivitas pembubutan, sebagai berikut :
Tabel 8.1
Level of risk aktivitas Proses Pembubutan
Aktivitas pekerjaan Kategori Nilai
Risiko
- Unacceptable > 80
1. Aktivitas Proses Pembubutan Significant 61 – 80
- Moderate 41-60
2. Pengecekan Hasil Bubut 3. Pemeriksaan Mesin Bubut 4. Pengawasan Kerja
Tolerable -
21 – 40 -
- Trivial < 20
Berdasarkan tabel level of risk diatas dari aktivitas proses pembubutan mendapatkan hasil nilai risiko paling besar, yang mana dapat menimbulkan bahaya seperti cacat permanen dan kerusakan sekitar unit kerja mesin bubut.
Dari observasi diatas, peneliti menyimpulkan bahwa aktifitas proses pembubutan berisiko tinggi dan sangat berbahaya untuk pekerja bila mereka
tidak mengikuti SOP dan tidak memakai APD yang telah disediakan oleh perusahaan, selain itu pihak perusahaan pun harus tegas dalam melakukan pengawasan kerja dan memberikan pemahaman pentingnya bekerja memakai APD dan mengikuti SOP yaang sudah ada.
Oleh karena itu PT. Armindo Catur Pratama harus lebih ketat dalam mengawasi pekerja dan memastikan pekerja bekerja sesuai SOP yang sudah ada, memberikan edukasi atau pemahaman pentingnya menggunakan APD saat bekerja, memberikan reward bagi pekerja yang menaati peraturan dan memberikan sanksi yang membuat jera untuk pekerja yang melanggar.
8.2 Saran
8.2.1 Pekerja
1. Pekerja diharapkan bekerja Sesuai Standar Oprasional Prosedur (SOP).
2. Diharapkan para pekerja selalu menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) saat bekerja.
3. Melakukan tool box meeting setiap pagi sebelum memulai pekerjaan.
4. Pemeriksaan dan Perawatan semua peralatan yang digunakan oleh para pekerja secara rutin.
8.2.2 PT. ACP
1. Mengganti peralatan yang sudah tidak layak digunakan.
2. Melakukan safety patrol keamanan secara rutin.
3. Diadakan nya pelatihan dan seminar kilat terkait pembubutan, K3 dan untuk kesadaran pekerja tentang pentingnya K3 minimal 6 bulan sekali
92
secara rutin dan berkala.
4. Peremajaan APD untuk para pekerja dan Staff.
8.2.3 Peneliti Selanjutnya
1. Agar peneliti selanjutnya meneliti aspek lain yang belum diteliti.
2. Agar peneliti selanjutnya melengkapi kekurangan peneliti sebelumnya.
Achamadi, Umar, Fahmi, 2013, Kesehatan Masyarakat: Teori dan Aplikasi, Rajawali Pers, Jakarta.
Anizar, 2009, Teknik Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Industri, Graha Ilmu, Yogyakarta.
Annishia, Fristi Bella, 2011, Analisis Perilaku Tidak Aman Pekerja Konstruksi PT.
PP (Persero) Di Proyek Pembangunan Tiffany Apartemen Jakarta Selatan Tahun 2011, Skripsi UIN, Jakarta.
AS/NZS 4360 (2004), 3rd Edition The Australian And New Zealand Standard on Risk Management, Broadleaf Capital International Pty Ltd, NSW Australia.
Aulia Ishak. 2004. Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Dalam Upaya Meningkatkan Produktivitas Dan Mutu Kerja, Skripsi FKM UI, Depok.
Bird, E, F and Germain, G, L. 1990. Practical Loss Control Leadership. Edisi Revisi.
Colling, David, 1990, Indutrial Safety Management and Technology. Pentice Hall Inc.
Cross, 1998, Pengendalian resiko dan meminimalkan kecelakaan. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Depkes RI. 2013. Kecelakaan dan Penyakit Akibat Kerja. Jakarta.
Geller, E Scoot. 2001. The Pshychology Of Safety Handbook. USA: Lewis
Halimah, Siti, 2010, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Aman Karyawan di PT. SIM Plant Tambun II Tahun 2010. Skripsi UIN, Jakarta.
Havosan, Ivan, 2008, Analisis Human Error pada Kecelakaan Penerbangan di Indonesia Tahun 1999 hingga 2007 dengan Pendekatan Unsafe Act dalam Human Factors Analysis and Classification System (HFACS), Skripsi FKM UI, Depok.
Heinrich, H. W, 1980, Industrial Accident Prevention, McGraw-Hill Book Company, New York.
Helliyanti, Putri, 2009, Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Tidak Aman Di Departemen Utility And Operation PT. Indofood, Skripsi FKM UI, Depok.
Hermiyanti, Dyah, 2012, Analisis Penyebab Kecelakaan Fatal Jatuh dari Kapal pada Transportasi air Survei Seismik 2D PT X di Simenggaris Kalimantan Timur Tahun 2010, Tesis FKM UI, Depok.
Hinze, Jimmie, W, 1997, Contruction Safety, Prentice Hall Inc, New Jersey.
Listiyaningsih, Dyah, 2011, Kajian Terjadinya Kesalahan Manusia (Human Error) Pada Petugas Air Traffic Controller dalam Aktivitas Pemandu Lalu Lintas Udara PT. Angkasa Pura II (Persero) Bandar Udara Soekarno-Hatta Tanggerang Tahun 2011, Skripsi. FKM UI, Depok.
Lalu Husni. 2006. Hukum Ketenagakerjaan, Edisi Revisi. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Maharani B, Susan Heyka, 2013, Analisis Faktor Internal Perilaku Tidak Aman Operator Dump Truck Di PT Pamapersada Nusantara Distrik Aria Tahun 2013, Skripsi FKM UI, Depok.
Moloeng, 2004. Teknik Triangulasi. Jakarta: Salemba Humanika. Jakarta.
Murthi, Albert Rudolf, Yuri Widya. 2009. Evaluasi Unsafe Act Pekerja pada Suatu Proyek. Thesis Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Kristen Petra. Surabaya.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta.
Jakarta.
Nugroho, Saragih & Eko. 2012. Metode Kuantitatif: Pendekatan Pengambilan Keputusan Untuk Ilmu Sosial dan Bisnis. Salemba Humanika. Jakarta.
OHSAS 18001: 2007, Occupational Health and Safety
Permenaker No. 03 tahun 1998 tentang Tata Cara Pelaporan dan Pemerikasaan Kecelakaan.
Permenaker No. 01 tahun 1980 tentang K3 Pada Konstuksi Bangunan
Petersen, Dan, 1994, Safety and Health Management in Occupational Health and Safety, ed Joseph LADou, 2nd Edition, National Safety Council, Itasca, Illinois, USA
Puspitasari, Apriastuti, 2010, Analisis Human Error pada Kejadian Kecelakaan di Direktorat Logistik dan Ekspor Plant PT Holcim Indonesia, Tbk Tahun 2010, Skripsi FKM UI, Depok.
Ramli, Soehatman. 2010. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Dian Rakyat. Jakarta.
Reason, J T, 1997, Managing The Risk of Organizational Accidents, Ashgate Publishing Ltd, England.
Rijanto, B. Boedi. 2010. Pedoman Praktis Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan Industri Konstruksi. Mitra Wacana Media. Jakarta.
Sastrowinoto, Suyatno, 1985, Meningkatkan Produktivitas dengan Ergonomi, PT.Pustaka Binaman Pressindo. Jakarta.
Shappell S.A and Wiegmann D.A, 2000, The Human Factors Analysis and Classification System-HFAC, Virginia : Departement of Transportation.
Shintania, Bhrian, 2012, Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kecelakaan Kerja Pada Pekerja Konstruksi di PT PP Tahun 2012, Skripsi. FKM UI,
Suardi, 2005, tinjauan terhadap keselamatan dan kesehatan kerja
Sugiyono, 2010. Metode Penelitian Pendidikan: PendekatanKuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Suma’mur, 1989, Ergonomi untuk Produktivitas Kerja, PT Temprint, Jakarta.
Tarwaka, 2010, Ergonomi Industri: Dasar-dasar Pengetahuan Ergonomi dan Aplikasi di Tempat Kerja, Edisi II, Harapan Press, Solo.
Tarwaka, 2010, Ergonomi Industri: Dasar-dasar Pengetahuan Ergonomi dan Aplikasi di Tempat Kerja, Edisi II, Harapan Press, Solo.