• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

4.10 Triangulasi

Selain menggunakan reduksi data peneliti juga menggunakan teknik Triangulasi sebagai teknik untuk mengecek keabsahan data. Dimana dalam pengertiannya triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain dalam membandingkan hasil wawancara terhadap objek penelitian (Moloeng, 2014)

Pengumpulan Data

Kumpulan : Verifikasi Reduksi Data

Penyajian Data

Triangulasi dapat dilakukan dengan menggunakan teknik yang berbeda (Nasution, 2003) yaitu wawancara, observasi dan dokumen.

Triangulasi ini selain digunakan untuk mengecek kebenaran data juga dilakukan untuk memperkaya data. Menurut Nasution, selain itu triangulasi juga dapat berguna untuk menyelidiki validitas tafsiran peneliti terhadap data, karena itu triangulasi bersifat reflektif.

Denzin (dalam Moloeng, 2004), membedakan empat macam triangulasi diantaranya dengan memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik dan teori. Pada penelitian ini, dari keempat macam triangulasi tersebut, peneliti hanya menggunakan teknik pemeriksaan dengan memanfaatkan sumber.

Triangulasi dengan sumber artinya membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif (Patton,1987). Adapun untuk mencapai kepercayaan itu, maka ditempuh langkah sebagai berikut :

1. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara

2. Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi.

3. Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu.

4. Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan masyarakat dari berbagai kelas.

60

6. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.

Sementara itu, dalam catatan Tedi Cahyono dilengkapi bahwa dalam riset kualitatif triangulasi merupakan proses yang harus dilalui oleh seorang peneliti disamping proses lainnya, dimana proses ini menentukan aspek validitas informasi yang diperoleh untuk kemudian disusun dalam suatu penelitian. teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Teknik triangulasi yang paling banyak digunakan ialah pemeriksaan melalui sumber lain. Model triangulasi diajukan untuk menghilangkan dikotomi antara pendekatan kualitatif dan kuantitatif sehingga benar-benar ditemukan teori yang tepat.

Murti B., 2006 menyatakan bahwa tujuan umum dilakukan triangulasi adalah untuk meningkatkan kekuatan teoritis, metodologis, maupun interpretatif dari sebuah riset. Dengan demikian triangulasi memiliki arti penting dalam menjembatani dikotomi riset kualitatif dan kuantitatif, sedangkan menurut Yin R.K, 2003 menyatakan bahwa pengumpulan data triangulasi (triangulation) melibatkan observasi, wawancara dan dokumentasi.

Penyajian data merupakan kegiatan terpenting yang kedua dalam penelitian kualitatif. Penyajian data yaitu sebagai sekumpulan informasi

yang tersusun member kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan (Silalahi, 2009).

Penyajian data yang sering digunakan untuk data kualitatif pada masa yang lalu adalah dalam bentuk teks naratif dalam puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan halaman. Akan tetapi, teks naratif dalam jumlah yang besar melebihi beban kemampuan manusia dalam memproses informasi.

Manusia tidak cukup mampu memproses informasi yang besar jumlahnya;

kecenderungan kognitifnya adalah menyederhanakan informasi yang kompleks ke dalam kesatuan bentuk yang disederhanakan dan selektif atau konfigurasi yang mudah dipahami.

Penyajian data dalam kualitatif sekarang ini juga dapat dilakukan dalam berbagai jenis matriks, grafik, jaringan, dan bagan. Semuanya dirancang untuk menggabungkan informasi yang tersusun dalam suatu bentuk yang padu padan dan mudah diraih. Jadi, penyajian data merupakan bagian dari analisis.

Menurut (Sugiyono, 200), Triangulasi dalam pengujian kredibilitas ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu. Terdapat trigulasi sumber, triangulasi pengumpulan data, dan triangulasi waktu.

1. Triangulasi Sumber

62

Triangulasi sumber untuk mengkaji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber.

2. Triangulasi Teknik

Triangulasi teknik untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Misal data diperoleh dengan wawancara, lalu dicek dengan observasi, dokumentasi.

3. Triangulasi waktu

Waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data. Data yang dikumpulkan dengan teknik wawancara di pagi hari pada saat nara sumber masih segar, belum banyak masalah akan memberikan data yang lebih valid sehingga lebih kredibel. Pengujian keabsahan data dapat dilakukan dengan cara melakukan pengecekkan dengan wawancara, observasi atau teknik lain dalam waktu atau situasi yang berbeda.

Dengan demikian penulis menggunakan teknik Triangulasi Sumber untuk penelitian ini, karena teknik tersbut sangat cocok bagi penulis dalam melakukan penlitian, bila hasil uji menghasilkan data yang berbeda, maka dilakukan secara berulang-ulang sehingga sampai ditemukan kapasitas datanya.

63 BAB V

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

5.1. Sejarah PT. Armindo Catur Pratama

PT. Armindo Catur Pratama dibawah Surat Pejabat No.135, dengan Notaris Agung Madjid,SH, di Jakarta pada tangal 29 Januari 1992 dan Memiliki Legalitas Pengakuan Hokum Republik Indonesia Sejak 23 September 1993 No. C2-9557.HT.01.01 Th 1993. PT. Armmindo Catur Pratama berdiri di areal seluas 12 hektar.

Proses produksi awal PT. Armindo Catur Pratama memperdagangkan kontruksi baja yang utama yaitu pipa baja yang berkerut atau yang biasa digunakan bagian bawah jalan raya, pagar, pagar Flex-Beam, geladak jembatan. Produksi ini sudah dipasarkan ke dunia pasar pada 1995 sebagai titik awal aktifitas produksi PT. Armindo Catur Pratama. PT. Armindo Catur Pratama meningkatakan pelayanan dan kualitas untuk menghargai pelanggannya yang ditandai dengan suksesnya peningkatan mutu dan pelayanan terhadap pelanggan.

Aktifitas produksi PT. Armindo Catur Pratama akhirnya menghasilkan suatu akreditasi oleh Sgs Yarsley, Jasa Sertifikasi Internasional dengan Pendaftaran Q16600 yang diperoleh pada tanggal 23 Agustus 1999. Sebagai konsekuensi pembangunan berkelanjutan, di awal tahun 2000. PT. Armindo Catur Pratama dipertimbangkan untuk masuk kedalam bisnis yang beraneka ragam dengan meningkatkan proyek yang

64

menghasilkan menara telekomunikasi, menara jalur transmisi dalam beberapa jenis.

PT. Armindo Catur Pratama menyediakan jasa pelayanan Galvanize atau gembleng. Gembleng panas yang di celupkan mempunyai ukuran wadah 8500 Mm X 2000 Mm X 1500 Mm. Proses produksi PT. Armindo Catur Pratama dapat menghasilkan produk yang dapat memenuhi persetujuan untuk B 729, Standard Astm A- 123 dan menghasilkan 24.000 ton per tahun hasil produksi.

PT. Armindo Catur Pratama mendapat persetujuan dari SII No. 1187- 84- / SNI 07- 0950- 1989. Sejak perusahan ini menghasilkan kapasitas produksi kerut ( CSP, Magari) 7.200 ton per tahun, menara malaikat 18.000 ton per tahun, menara pipa 7.000 ton per tahun.

5.2. Visi dan Misi PT. Armindo Catur Pratama 5.2.1. Visi PT. Armindo Catur Pratama

“MENJADI LEADER DI INDONESIA DAN PEMAIN DUNIA DI BIDANG STEEL CONSTRUCTION”.

5.2.2. Misi PT. Armindo Catur Pratama

Misi PT. Armindo Catur Pratama tahun 2008 – 2016 adalah :

1. Menjadi perusahaan steel construction terbaik nasional dalam quality dan pangsa pasar.

2. Secara terus menerus meningkatkan nilai kepuasan pelanggan.

3. mengembangkan produk produk dan jasa steel construction sesuai kebutuhan pasar.

4. Melakukan pengembangan kompetisi SDM melalui implementasi AHRM yang konsisten.

5. Memberikan manfaat kepada: shere holder-suplier-employee.

6. Menjadikan perusahaan yang aman, nyaman, dan ramah lingkungan yang berguna bagi masyarakat.

5.3. Kebijakan PT. Armindo Catur Pratama

Untuk menciptakan perusahaan yang bermutu dan berkualitas, ramah lingkungan serta memberikan perlindungan kepada tenaga kerja terhadap kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja untuk memenuhi tuntutan pasar dan kepuasan pelanggan maka manajemen dan seluru karyawan PT.

Armindo Catur Pratama berusaha untuk :

1. Menghasilkan produk corruagatgated steel, tower, jembatan dan hot dip galvanise serta pelayanan bermutu dan berkualitas bertaraf internasional.

2. Mengupayakan lingkungan kerja yang aman, nyaman, dan mencegah terjadinya kecelakaan atau penyakit akibat kerja dengan melengkapi sarana alat pelindung diri yang memadai.

3. Mengupayakan kesadaran karyawan akan lingkungan, keselamatan dan kesehatan kerja untuk memenuhi ketentuan hokum, tanggung jawab bersama.

4. Melakukan berbaikan dan pengembangan secara terus menerus dari sector apapun.

66

5. Memelihara hubungan harmonis dan komonikatif antara sumber daya manusia, masyarakat dan pemerintah.

5.4. Lokasi PT. Armindo Catur Pratama

Secara geografis PT. Armindo Catur Pratama berada di Desa Gunung Putri yang luasnya 244 Ha, dan jumblah penduduk 10.568 jiwa. Daerah ini terdapat sekitar 3.409 kepala kelurga dengan kepadatan penduduk 43 jiwa per hektar tanah. PT. Armindo Catur Pratama berlokasi di Jl. Raya Gunung Putri km. 8 Desa Gunung Putri, Kabupaten Jawa Barat Indonesia. Lokasi keberadaan PT. Armindo Catur Pratama dibatasi oleh :

a. Sebelah Timur : Desa Karangan dan Desa Tanjung Udik, Kecamatan Gunung Putri.

b. Sebalah Selatan : Desa Citeureup, Kecamatan Citeureup dan Desa Bantar Jati, Kecamatan Klapanunggal.

c. Sebelah Barat : Desa Karanangan, Kecamatan Gunung Putri.

d. Sebelah Timur : Desa Bantar Jati, Kecamatan Klapanunggal.

5.5. Strktur Organisasi PT. Armindo Catur Pratama

Struktur organisasi PT. Armindo Catur Pratama tediri dari beberapa tingkatan yang dipimpin oleh dewan dereksi perusahaan. Pimpinan tertinggi dari perusahaan ini adalah Direktur Utama yang di bantu oleh dua Direktur perusahaan yang menjadi satu tim dalam dewan dereksi. Untuk tingkatan departemen PT. Armindo Catur Pratama terdapat 21 departemen yang

dibawahi ,asimg – masing pekerjaan tersendiri dan memiliki garis perintah yang saling melengkapi yang terkait pada sub departemen. Struktur organisasi ini di buat untuk menjadi hubungan antara atasan dan bawahan berjalan secara langsung dengan wewenang yang telah di tentukan sesuai dengan tanggung jawab, tugas, kewajiban dalam melaksanakan tugas untuk mencapai visi perusahaan yang di buat oleh job date setiap departemen.

5.6. Sarana PT. Armindo Catur Pratama 5.6.1. Sarana Kantor

PT. Armindo Catur Pratama memiliki 1 gedung kantor utama dimana gedung diperuntukan untuk memfasilitasi kegiatan adminitrasi perusahaan, dan memiliki 5 gedung kantor produksi untuk memonitoring kegiatan produksi dan segala adminitrasi yang diperlukan.

5.6.2. Sarana Proses Produksi

PT. Armindo Catur Pratama memiliki 2 gedung utama untuk kegiatan proses seluruh kehiatan produksi, 3 bidang area pendukung proses produksi yang menjadi daerah penyimpanan, paking, dan loading. Daerah produksi juga dilengkapi dengan bengkel yang diperuntukan untuk memfasilitasi servis mesin – mesin produksi.

68

5.6.3. Sarana Umum

PT. Armindo Catur Pratama memiliki sarana umum seperti sarana olahraga, musolah, dan parkir motor dan mobil yang diperuntukan untuk karyawan dan tamu pada daerah yang terpisah.

5.6.4. Sarana Kesehatan dan Tanggap Darurat

PT. Armindo Catur Pratama memiliki sarana kesehatan yang meliputi kotak P3K dan poliklinik yang dilengkapi obat – obatan dan oksigen. Sarana kesehatan lain PT. Armindo Catur Pratama memiliki mobil ambulance untuk mempermudah evakuasi pertolonganmenuju rumah sakit bagi karyawan yang mengalami kecelakan kerja dan alat tanggap darurat seperti Alat Pemadam Api Ringan dan Kotak Pasir.

5.6.5. Sarana Keamanan

PT. Armindo Catur Pratama memiliki sarana keamanan yaitu satpam yang memiliki 4 pos satpam dimana 3 terdapat di daerah gedung dan kantor roduksi dan 1 di kantor gedung utama. Keamanan juga dilengkapai dengan alat – alat keamanan dan kendaraan bermotor untuk mempermudah pergerakan melakukan pelaksanan keamanan di dalam atau luar sekeliling area perusahaan.

5.7. Ketenagakerjaan PT. Armindo Catur Pratama

PT. Armindo Catur Pratama memiliki tenaga kerja yang di golongkan menjadi :

1. Tenaga kerja tetap 2. Tenaga kerja kontrak

3. Tenaga kerja koperasi ( tenaga kerja yang tidak termaksud sebagai karyawan perusahaan tetapi dipekerjakan oleh perusahaan). Jumlah tenaga kerja PT. Armindo Catur Pratama adalah 527 orang dengan rincian pada tabel 1.

Tenaga kerja PT. Armindo Catur Pratama memiliki tingkat pendidikan di sesuaikan dengan pekerjaannya dilapangan sebagai berikut : 1. Pendidikan operator dan staff minimal STLA sampai dengan D2.

2. Pendidikan staff keatas minimal D3 sampai S1.

70

Tabel.5.1

Rincian Jumlah Tenaga Kerja PT. ARMINDO CATUR PRATAMA TAHUN 2016

N0. Departemen

Manajer Supervisor

Departemen

Foreman Leader Staf Operator

Tetap Kontrak Tetap Kontrak Tetap Kontrak Tetap Kontrak Tetap Kontrak Koperasi Tetap Kontrak Koperasi

Lk Pr Lk Pr Lk Pr Lk Pr Lk Pr Lk Pr Lk Pr Lk Pr Lk Pr Lk Pr Lk Pr Lk Pr Lk Pr Lk Pr

1 Galvanize - - - - - - - - 1 - - - 3 - - - 3 - - - - - 21 - 23 - 13 - 64

2 Assesoris - - - - - - - - 1 - - - 1 - - - 4 - 2 - - - 8 - 26 - 8 - 50

3 Tower Pipa - - - - - - - - 1 - - - 2 - - - 1 - - - - - 4 - 23 - 10 - 41

4 Persediaan - - - - - - - - 2 - - - 4 - - - - 1 3 - - - 11 - 33 - 17 - 71

5 ME produksi - - - - - - - - 1 - - - 2 - - - 6 - 2 - 4 - - - - - - - 15

6 Press Shop - - - - - - - - - - - - 1 - - - 1 - - - - - 5 - 9 - - - 16

7 Plate - - - - - - - - 1 - - - 2 - - - - - - - 1 - 3 - 37 - 5 - 49

8 Tower Siku - - - - 1 - - - - - - - 3 - - - 2 - - - - - 9 - 37 - 5 - 57

9 Enginering 1 - - - 1 - - - - - - - 1 - - - 2 - 7 1 - - - - - - - - 13

10 Marketing Corrugat 1 - - - - - - - - - - - 1 - - - 4 1 - - - - - - - - - - 7

11 Marketing Tower - 1 - - - - - - - - - - - - - - - 2 - 2 - - - - - - - - 5

12 Pembeliaan - - - - 1 - - - - - - - 1 - - - 2 - 2 1 - - - - - - - - 7

14 PPIC - - - - 1 - - - - - - - 2 - - - 5 - 5 - - - - - - - - - 13

15 QESH - - - - - - - - 2 - - - - - - - 1 - 1 1 - - - - - - - - 5

16 HRD - - 1 - 1 - - - 2 1 - - 4 - - - 14 - 31 5 17 - - - - - - - 76

17 Quality Control - - - - - - - - 1 - - - 1 - 1 - 3 - 6 - 2 - - - - - - - 14

18 Produksi Manajer 1 - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - 1

19 Administrasi Produksi - - - - - - - - - - - - - - - - - 1 - - - - - - - - - - 1

20 ME Dies - - - - - - - - 1 - - - - - - - 2 - 1 - - - - - - - - - 4

21 Contruksi - - - - - - - - - - - - - - - - - - 1 - - - - - - - - - 1

Jumlah 4 1 1 - 5 1 - - 17 3 - - 26 - 1 - 54 7 64 12 24 - 61 - 18

8

- 58 - 527

72 BAB VI

HASIL PENELITIAN

6.1 Identifikasi Risiko dan Analisis Risiko K3 pada proses mesin bubut Identifikasi risiko yang dilakukan dengan cara melakukan observasi pada tahapan proses kerja dan melakukan wawancara tidak terstruktur terhadap unit K3 dan pekerja di unit kerja mesin bubut serta melihat dokumen kerja berupa instruksi kerja. Dalam melakukan identifikasi risiko, penulis mengamati tahapan kerja yang ada di unit kerja mesin bubut.

Sedangkan Analisis risiko dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dengan menentukan nilai konsekuensi, paparan, dan kemungkinan dari setiap risiko, nilai tersebut lalu dihitung dan dibandingkan dengan standar level risiko untuk mendapatkan tingkatan risiko yang ada pada tahapan mesin bubut tersebut.

Tabel 6.1

Personil Yang Terlibat Dalam Proses Pembubutan

No Jabatan Jumlah personil

1 HSE Officer 1

2 Safety Officer 1

3 Quality Control 1

4 EngineeR 1

5 Worker 1

Dalam proses pembubutan ini 1 orang Pekerja bertugas sebagai penanggung jawab atas gambar struktur bahan yang akan dibubut dan juga bertanggung jawab atas ketersediaan matrial-matrial di proyek PT.Armindo Catur Pratama, 1 orang engineer bertugas untuk memastikan

Quality Control bertugas untuk pengecekan hasil pembubutan dan pengetesan bahan jadi sebelum digunakan, 1 orang Safety Officer bertugas untuk membuat ijin kerja K3, memberikan tugas kepada pekerja dalam pembubutan dan mengawasi kinerja pekerjanya, 1 orang HSE Officer PT.Armindo Catur Pratama bertugas untuk mengecek kembali setiap unit kerja mesin bubut.

74 6.2 Identifikasi Risiko Pada Proses Mesin Bubut (Turning)

Tabel 6-2 Indentifikasi risiko pada proses mesin bubut (Turning)

No. Langkah Kerja Deskripsi Kegiatan Penyebab Risiko Consequence

s (Dampak) b. Membawa tools terlalu Banyak c. Tidak menggunakan

Toolbox

d. Bekerja tidak hati-hati

e. Tidak menggunakan APD

75 pada toolpost membuka baut

b. Pasang pahat

f. Bercanda dengan teman g. Kurang hati-hati

h. Bercanda dengan teman i. Teman yang bercanda j. Kurang hati – hati

k. Menempatkan tangan ke bagian bergerak

a. Tertimpa kunci cekam (chuck) (bahaya

a. Tidak menguasai cara Kerja b. Kurang hati-hati

c. Putaran mesin terlalu Tinggi d. Penguncian cekam tidak Kuat e. Melihat terlalu dekat

f. Pencahayaan kurang baik g. Tidak menggunakan APD h. Melihat terlalu dekat

a. Terpental kunci chuck yang tertinggal di

76

i. Tidak menggunakan APD j. Pencahayaan kurang baik k. Wearpack tidak lengan Panjang l. Kurang hati-hati

m. Tidak menggunakan Coolant n. Putran mesin yang tidak sesuai

dengan benda kerja o. Toolpost tidak kencang p. Melihat teralu dekat

q. Tidak menggunakan APD (Safety glasses / Goggle)

r. Tidak menggunakan APD (Safety shoes)

s. Housekeeping yang kurang baik t. Lantai kerja yang licin

u. Cairan pendingin (coolant) yang berceceran

v. Tidak menggunakan cairan pendingin (coolant)

w. Tidak menggunakan lap (majun) x. Bekerja kurang hati – hati y. Tidak menggunakan lap (majun) z. Tidak mengikir terlebih Dahulu

Tidak menggunakan APD (Safety shoes)

77 (Safety glasses / Goggle)

d. Jarak yang terlalu dekat dengan b. Membawa tools terlalu Banyak c. Tidak menggunakan Toolbox d. Bekerja tidak hati-hati e. Tidak menggunakan APD f. Housekeeping yang kurang Baik

a. Kaki tertimpa tools

78

6.3 Penilaian Potensi Bahaya, Resiko dan Pengendalian Proses kerja dalam pembubutan

Penilaian potensi bahaya, resiko di PT. Armindo Catur Pratama dalam menggunakan Job Safety Analiysis penilaian ini dilakukan berdasarkan Standar Oprasional Prosedur Identifikasi Bahaya Penilaian Resiko dan Penetapan Pengendalian.

6.3.1 Proses Pembubutan

“Pengambilan alat-alat (pahat, chuck bor, sigmat, dan benda kerja, palu) dari tempatnya harus hati-hati karna kalau kita gak pake sarung tangan bisa luka, kalau bawa kebanyakan juga itu kan berat nanti kamu bisa keseleo, kalau jatuh terus nimpah kaki mu kan itu bahaya mas, jadi harus bener hati-hati meskipun sepele keliatanya.

Barang yang udah disiapkan tadi di cek lagi siapa tau ada yang kurang atau belum siap dipakai,kalau udah di cek dan lengkap ya alat-alatnya dirapihkan disimpan deket mesin bubut biar nanti waktu pembubutan kita gak jauh-jauh ngambil alat-alat yang kita butuhin.

Tahap selanjutnya tekan saklar ON, cek kondisi mesin nya lancar atau ada masalah, kalau lancar ya lanjut kalau ada yang aneh ya di periksa dulu ya. Kalau udah yakin mesin aman liat spek yang mau dikerjain dan liat material yang mau kita bubut disitu diukur dan dipastikan pas.kalau udah ready pasang pahatnya dan pasang juga material yang mau dibubut di tempat penyangganya, pastikan sudah terpasang dengan benar sebelum melakukan pembubutan. Kalau

bubutnya hati-hati dan teliti yah karna kalau salah sedikit bisa fatal hasilnya nanti. Kalaun sudah yakin sesuai dengan spek di cek ulang dan di ukur biar sesuai dengan spek yang dimau. Kalau sudah ngebubut mesin nya dirapihin lagi, dibersihin gram-gram atau scrab yang ada dimesin bubutnya jangan lupa si alat-alat atau perkakasnya di rapiin lahi ditempatnya biar kalau bnesok lusa mau make gak usah nyari kemana-mana ”.( Safety Officer dan Worker PT. Armindo Catur Pratama)

Tabel 6.3

Penilaian Resiko pada Proses Pembubutan

Berdasarkan penilaian ini, potensi bahaya pembubutan ini sangat bahaya sehingga mendapatkan skor 80, tremasuk katagori Significant yang berarti resiko yang memerlukan tindakan Level of Risk Penilaian Tingkat Resiko

Keterangan Penyebab

1 2 3 4 5

Frequency (F)

Frekuensi kecelakaan

bisa terjadi setiap saat Mesin bubut bisa melukai pekerja

80

penanganan segera atau secepatnya agar dapat meminimalisir nilai resiko dan dapat diterima. Faktor penyebab kecelakaan tersebut termasuk unsafe action (kondisi tidak aman) seperti bekerja tidak mengikuti SOP dan tidak memakai APD. Pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah pengawasan, perhatian, dan pemeriksaan alat pelindung diri. Adapun rekomendasi yang diusulkan adalah melakukan pengawasan lebih ketat atau safety patrol.

6.3.2 Pengecekan Hasil Bubut

“ini perlu dilakukan untuk memastikan hasil bubut sesuai dengan spek yang diinginkan dan menjaga kualitas agar nantinya waktu sampai ditangan konsumen mereka gak kecewa sama hasil dari PT ini.

Seberapapun sulitnya spek yang diminta kita usahain semaksimal mungkin biar sesuai. Kehati-hatian dan pengalaman sangat berpengarus disini.”.(Quality Control).

Dari wawancara ini dapat disimpulkan untuk aktivitas ini peneliti menemukan bahwa bukan hanya pengetahuan unutk masalah membubut, tapi pengalaman dan kehati-hatian pekerja menjadi faktor yang sangat mendukung.

Penilaian Resiko pada Pemeriksaan hasil bubut

Berdasarkan peniliaian ini, potensi bahaya Pemeriksaan Mesin Bubut ini berbahaya dan mendapatkan skor 36, tolerable yang berarti memerlukan perhatian. Faktor penyebab kecelakaan tersebut termasuk unsafe action (kondisi tidak aman). Pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah pengawasan, perhatian, dan pemeriksaan alat pelindung diri. Adapun rekomendasi yang diusulkan adalah melakukan pengawasan dan pemeriksaan sebelum bekerja.

6.3.3 Pemeriksaan Mesin Bubut

Dari hasil wawancara, untuk aktivitas ini peneliti menemukan beberapa potensi bahaya yang dapat terjadi serta penyebab yang Level of Risk Penilaian Tingkat Resiko

Keterangan Penyebab

1 2 3 4 5

Frequency (F)

Frekuensi kecelakaan

bisa terjadi setiap saat Hasil bubut yang sudah jadi bisa saja

82

ditimbulkan. Berikut ini adalah beberapa potensi bahaya yang terjadi pada aktivitas Pengecekan atau perawatan mesin, antara lain :

1. Kecelakaan personel 2. Konsleting listrik

3. Tertimpa material pada kaki 4. Terjepit material pada tangan

Penilaiaan resiko dilakukan pada identifikasi proses bahaya kecelakaan, konsleting mesin, mesin macet,banyak material yang berada didalam mesin. Alasan penulis memilih potensi bahaya tersebut dikarenakan resiko potensi yang sedang dan lebih dominan timbul.

Adapun penilaian dapat dilihat pada table dibawah ini . Tabel 6.5

Penilaian Resiko pada Pemeriksaan Mesin Bubut

Level of Risk Penilaian Tingkat Resiko

Keterangan Penyebab

1 2 3 4 5

Frequency (F)

Frekuensi kecelakaan

bisa terjadi setiap saat Mesin bubut yang sedang dalam

Mesin Bubut ini berbahaya dan mendapatkan skor 24, tolerable yang berarti memerlukan perhatian. Faktor penyebab kecelakaan tersebut termasuk unsafe action (kondisi tidak aman). Pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah pengawasan, perhatian, dan pemeriksaan alat pelindung diri. Adapun rekomendasi yang diusulkan adalah melakukan pengawasan dan pemeriksaan sebelum bekerja.

6.3.4 Pengawasan Kerja

Dari hasil wawancara, untuk aktivitas ini peneliti menemukan beberapa potensi bahaya yang dapat terjadi serta penyebab yang ditimbulkan. Berikut ini adalah beberapa potensi bahaya yang terjadi pada Pengawasan kerja antara lain :

1. Tertimpa Material

2. Tersandung oleh kabel dan perkakas 3. Terkilir saat Patroli

Penilaian resiko dilakukan pada potensi. Pengawasan kerja dan saat patroli dapat tertimpa material, tersandung kabel atau perkakas dan terkilir atau keselo jika tidak hati-hati. Alasan penulis memilih potensi bahaya tersebut karna beresiko B e r a t . Adapun hasil penilaian dapat dilihat pada table dibawah ini

84

Tabel 6.6

Penilaian resiko pada aktifitas pengawasan kerja

Berdasarkan penilaian ini, potensi bahaya pada pengawasan kerja mendapatkan skor 24, termasuk katagori tolerable yang berarti memerlukan perhatian. Faktor penyebab kecelakaan tersebut termasuk unsafe action (kondisi tidak aman) dan ketidak hati-hatian.

Pengendalian yang telah dilakukan oleh perusahaan adalah pengawasan, perhatian, dan pemeriksaan alat pelindung diri. Adapun rekomendasi yang diusulkan adalah melakukan safety patrol keamanan.

Level of Risk Penilaian Tingkat Resiko

Keterangan Penyebab

1 2 3 4 5

Frequency (F)

Frekuensi kecelakaan kira-kira 1 kali dalam

sehari Tidak hati-hati dalam berkeliling

85 BAB VII PEMBAHASAN

7.1 Tahapan-Tahapan Proses Kerja Pada Unit Mesin Bubut Di PT. Armindo Catur Pratama Tahun 2016.

Aktivitas Pembubutan ini Termasuk dalam kategori Significant dengan nilai resiko 61-80 karena aktivitas tersebut memiliki nilai resiko

Aktivitas Pembubutan ini Termasuk dalam kategori Significant dengan nilai resiko 61-80 karena aktivitas tersebut memiliki nilai resiko