BAB II TINJAUAN UMUM
A. Ketentuan Keberadaan Warga Negara Asing (WNA)
1. Visa sebagai izin masuk
Penduduk Indonesia pada hakikatnya terdiri atas dua golongan, yaitu warga Negara Indonesia (WNI) dan orang asing atau warga negara asing (WNA). Oleh karena itu, Indonesia merasa perlu untuk mengatur permasalahan orang asing yang berada di Indonesia.29
Pasal 2 sampai 9 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) mengatur mengenai batas-batas berlakunya perundang-undangan hokum pidana menurut
29
Koerniatmanto Soetoprawiro, Hukum Kewarganegaraan dan Keimigrasian Indonesia, Gramedia Jakarta, 1996, hal. 74.
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009
tempat terjadinya perbuatan. Ditinjau dari sudut negara, ada dua kemungkinan pendirian, yaitu: 30
1. Perundang-undangan hukum pidana berlaku bagi semua perbuatan pidana yang terjadi dalam wilayah negara, baik dilakukan oleh warga negaranya sendiri maupun oleh negara asing (asas teritorial).
2. Perundang-undangan hukum pidana berlaku bagi semua perbuatan pidana yang dilakukan oleh waraga negara, dimana saja, juga diluar wilayah negara (asas personal atau juga dinamakan prinsip nasional aktif).
Sesuai dengan ketentuan ketentuan Undang-undang RI Nomor 9 tahun 1992 tentang keimigrasian, dalam pasal 6 ayat 1 disebutkan bahwa “setiap orang asing yang masuk wilayah Indonesia wajib membawa Visa”.31
Menurut Hadi Kiswanto:
Oleh karena itu setiap orang asing yang masuk wilayah Indonesia wajib memiliki visa, ada beberapa pengertian visa yang dapat dikemukakan, antara lain:
32
Di dalam Buku Petunjuk Keimigrasian Republik Indonesia Bagian I Visa dan Izin Tinggal disebutkan:
“Visa adalah izin tertulisuntuk masuk ke suatu negara yang tercantum dalam surat perjalanan”.
33
30
Moeljatno, Asas-asas Hukum Pidana, Rineka Cipta, Jakarta, 2000, hal. 38.
31
Lihat Pasal 6 ayat (1) Undang-undang RI No. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian.
32
Hadi Kiswanto, Tugas Pokok dan Fungsi Direktorat Jendral Imigrasi, Departemen Kehakiman RI, Jakarta, 1983, hal. 10.
33
Direktorat Jendral Imigrasi, Buku Petunjuk Keimigrasian RI Bagian I Visa Izin Tinggal, Jakarta, 1982, hal. 2.
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009
“Visa adalah izin tertulis yang ditandatangani oleh pejabat yang berwenang di dalam papor kebangsaan yang menyatakan bahwa yang bersangkutan dapat mengadakan perjalanan ke negara yang dituju”.
WJS Poerwadarnita, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan:34
“Visa adalah izin tertulis yang diberikan oleh pejabat yang berwenang pada Perwakilan Republik Indonesia atau di tempat lainnya yang ditetapkan olah Pemerintah Republik Indonesia yang memuat persetujuan bagi orang asing untuk masuk dan melakukan perjalanan ke wilayah Indonesia.”
“Visa adalah izin untuk keluar atau masuk ke sesuatu negara.”
Sedangkan menurut Undang-undang RI No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian menyebutkan:
35
“Tugas Pokok Direktorat Jendral Imigrasi adalah mengtaur dan mengawasi lalu lintas antar Republik Indonesia dengan negara lain serta menyelenggarakan pengawasan orang asing dalam wilayah negara
Maksud dan tujuan pemberian visa menurut petunjuk Pusdiklat Departemen Kehakiman Republik Indonesia yaitu untuk dapt mengendalikan serta mengawasi lalu lintas orang asing yang keluar nasuk (ke dan dari) wilayah Indonesia. Hal ini sejalan dengan tugas pokok Direktorat Jendaral Imigrasi yang tertuang dalam keputusan Menteri Kehakiman RI No. M.29. PR. 07.04 Tahun 1981 yang menyatakan sebagai berikut:
34
WJS Poerwadarninta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1986, hal. 142.
35
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009
Republik Indonesia demi menjamin ketertiban, ketentraman, dan keamanan nasional.” 36
Berdasarkan prinsip ini, hanya orang asing yang dapat memberikan manfaat bagi kesejahteraan rakyat, bangsa dan negara Republik Indonesi serta tidak membahayakan keamanan dan ketertiban, juga tidak bermusuhan baik terhadap rakyat, maupun negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang diizinkan masuk ke wilayah Indonesia.
Menurut Undang-undang No. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian Visa ini diberikan kepada orang asing yang maksud dan tujuan kedatangannya di Indonesia tidak menimbulkan gangguan terhadap ketertiban dan keamanan nasional. Hal ini sejalan dengan prinsip yang bersifat “selekrif” (selective policy).
37
Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 32 Tahun 1994 tentang Visa, Izin masuk dan Izin Keimigrasian, ada lima jenis visa:
38
a. Visa Diplomatik, diberikan kepada orang asing pemegang Paspor Diplomatik yang hendak bepergian ke Indonesia dengan tugas Diplomatik.
b. Visa Dinas, diberikan kepada orang asing pemegang Paspor Dinas yang hendak bepergian ke Indonesia untuk melaksanakan tugas resmi dari Pemerintah asing yang bersangkutan atau diutus oleh Organisasi Internasional, tetapi tugas tersebut tidak bersifat Diplomatik.
36
Pusdiklat Pegawai Departemen Kehakiman, Beberapa Pedoman dan Ketentuan Tentang Imigrasi dan Ketatalaksanaan: Bahan Penataran Administrasi Apratur Kehakiman, Jakarta, 1982, hal. 6.
37
Lihat dalam Penjelasan Umum Undang-undang RI No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian.
38
Lihat Pasal 1-17 PP No. 32 Tahun 1994 tentang Visa, Izin Masuk dan Izin Keimigrasian
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009
c. Visa Singgah, dapat diberikan kepada orang asing untuk singgah di wilayah Negara Republik Indonesia untuk meneruskan perjalanan ke negara lain atau kembali ke negara asal. Visa ini diberikan untuk singgah di wilayah Negara Indonesia paling lama 14 (empat belas) hari terhitung sejak tanggal diberikannya izin masuk di wilayah Negara Republik Indonesia.
d. Visa Kunjungan, dapat diberikan kepada orang asing untuk berkunjung di wilayah Negara Republik Indonesia paling lama 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal diberikannya Izin Masuk di wilayah Negara Indonesia. Dalam hal ini orang asing dapat menggunakan Multipel Visa, yaitu visa Kunjungan untuk beberapa kali melakukan perjalanan dari dan ke wilayah Negara Republik Indonesia.
e. Visa Tinggal Terbatas, dapat diberikan kepada orang asing untuk tinggal di wilayah Negara Republik Indonesia paling lama satu tahun terhitung sejak tanggal diberikannya izin masuk di wilayah Negara Republik Indonesia.
2. Bebas visa kunjungan singkat (BVKS)
Pada dasarnya setiap orang yang akan memasuki suatu negara harus memiliki visa, tetapi dalam pasal 7 Undang-undang No. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian dinyatakan:39
39
Lihat Pasal 7 Undang-undang RI No. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian
“dikecualikan dari kewajiban memiliki visa bagi orang asing yang masuk wilayah Indonesia adalah:
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009
a. Orang asing warga negara dari negara yang berdasarkan keputusan Presiden tidak diwajibkan memilki visa
b. Orang asing yang memiliki Ijin masuk kembali
c. Kapten atau Nakoda kapal dan awak yang bertugas pada alat angkut yang berlabuh dipelabuhan atau mendarat di Bandar Udara di wilayah Indonesia d. Penumpang transit di Pelabuhan atau Bandar Udara diwilayah Indonesia
sepanjang tidak keluar dari tempat transit yang berada di daerah tempat Pemeriksaan Imigrasi.
Dalam hal tertentu, terdapat negara-negara yang diberikan kemudahan kepada orang asing untuk masuk ke suatu negra Indonesia dengan tidak memerlukan visa, seperti yang disebutkan pada huruf (a) diatas. Biasanya kemudahan ini diberikan untuk kepentingan negara tersebut yaitu agar orang asing lebih banyak masuk ke negaranya dan ini akan menghasilkan devisa.40
40
Tim Analisa dan Evakuasi (Antonius Ginting, dkk), “Analisa dan Evaluasi tentang Pengaturan Fasilitas Bebas Visa wisata bagi Orang Asing yang Berkunjung ke Indonesia” (Laporan Penelitian), Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN), Jakarta, 1984, hal. 9.
Selain itu juga pemberian kemudahan tersebut juga didasarkan kepada azas resiprositas yaitu negara yang memberikan kemudahan bebas visa terhadap waraga asing tertentu, maka waraga negara dari negara tersebut juga mendapatkan pembebasan visa apabila akan ke negara asing tertentu. Sebagai contoh, warga negara ASEAN dapat saling masuk ke negara-negara ASEAN lainnya tanpa terlebih dahulu meminta visa.
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009
Pemerintah Republik Indonesia dengan peraturan perundang-undangan berupa Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia No. M.02.01.01 tahun 1993 tentang Bebas Visa Kunjungan Singkat (BVKS), memberikan kemudahan kepada waraga negara dari +
Kunjungan wisata adalah perjalanan mengunjungi Indonesia untuk berlibur, menikmati objek-objek wisata dan lain-lain. Kunjungan sosial budaya adalah kunjungan dalam rangak mengunjungi family, melakukan penelitian dan kunjungan yang bersifat sosial budaya, sedangkan kunjungan usaha adalah kunjungan dalam rangaka membina hubungan bisnis, pembicaraan bisnis dan penjajakan memperluas usaha bisinis di Indonesia. Orang asing yang diberikan BVKS ini dapat melakukn kegiatan-kegiatan sebagaimana tersebut diatas dengan catatan dilarang melakukan kegiatan yang sifatnya bekerja.
46 negara dapat masuk ke wilayah Indonesia selama 2 (dua) bulan. Orang asing yang diberi fasilitas BVKS dapat melakukan kegiatan seperti kunjungan wisata, social budaya dan usaha.
41
Adapun negara-negara penerima BVKS, adalah:
42
1. Amerika Serikat 24. Malaysia
2. Arab Saudi 25. Maldive
3. Argentina 26. Malta 4. Australia 27. Maroko 5. Austria 28. Mesir 6. Belanda 29. Mexico 7. Belgia 30. Monaco 8. Brazil 31. Myanmar
9. Brunai Darussalam 32. Nepai
10. Chili 33. Norwegia
41
Lukman Bratamidjaja, “Aspek Ilmu Perundang-undangan BVKS Bagian I”, Pintu Gerbang No. 44, Direktorat Jendral Imigrasi, Jakarta, 2002, hal. 24-25
42
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009
11. Denmark 34. Prancis
12. Finlandia 35. Philipina
13. Hongkong 36. Selandia Baru
14. Hungaria 37. Spanyol 15. Inggris 38. Singapura 16. Irlandia 39. Swedia 17. Israel 40. Swiss 18. Italia 41. Taiwan 19. Jepang 42. Tanzania 20. Jerman 43. Thailand 21. Kanada 44. Turki
22. Korea Selatan 45. Uni Emirat Arab
23. Luxemburg 46. Yunani
3. Surat perjalanan republik Indonesia (Paspor)
Paspor adalah sebuah dokumen resmi yang dikeluarkan oleh suatu badan pemerintah yang berwenang untuk bangsanya atau untuk penduduk asing.43
“surat perjalanan adalah dokumen resmi yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang dari suatu negara yang memuat identitas pemegangnya dan berlaku untuk melakukan perjalanan antar negara”.
Sedangkan menurut Undang-undang RI No. 9 tahun 1992 tentang keimigrasian menyatakan:
44
Paspor berfungsi sebagai surat perjalanan yang digunakan untuk meninggalkan dan memasuki kembali negara yang bersangkutan, dan memasuki dan meninggalkan negara lain yang mempunyai hubungan diplomatik dengan negara yang mengeluarkan paspor tersebut. Orang yang ingin mengunjungi negara lain harus mengetahui apakah paspornya berlaku untuk negara yang akan dituju
43
R. Felix Hadi Mulyatno dan Endar Sugiarto, Pabean, Imigrasi, dan Karantina, PT. Gramedia Pustaka, Jakarta, 1997, hal. 39.
44
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009
atau tidak45
Kebangsaan seseorang bisa dilihat pada kartu identitasnya, misalnya dipaspor atau kartu penduduk. Itu bukan berarti bahwa pemegang paspor dari negara yang mengeluarkan paspor tersebut adalah warga negaranya. Itu sebabnya kita dulu mengenal “Dwi Warga Negara”, yang artinya seseorang bias mempunyai dua warga negara, misalnya Cina dan Indonesia, dan mereka boleh menggunakan kedua paspor mereka.
. Disamping itu, kita juga harus mengetahui apakah paspor berlaku untuk negara transit yang akan disinggahi dalam perjalanan menuju ke negara tujuan atau tidak.
46
Dalam pasal 29 Undang-undang No. 9 tahun 1992 tentang Keimigrasian disebutkan Surat Perjalanan Republik Indonesia terdiri atas:
47
a. Papor biasa, diberikan kepada warga negara Indonesia yang akan melakukan perjalanan keluar negeri (keluar wilayah Indonesia) secara normal.
b. Paspor diplomatik, diberikan kepada warga negara Indonesia yang akan melakukan perjalanan keluar wilayah Indonesia dalam rangka penamatan atau tugas yang bersifat diplomatik
c. Paspor Haji, diberikan kepada waraga negara Indonesia yang akan melakukan perjalanan keluar wilayah Indonesia dalam rangka menunaikan inbadah haji. d. Paspor untuk orang asing, diberikan kepada orang asing yang pada saat
diberlakukannya undang-undang ini telah memliki izin tinggal tetap akan
45
R. Felix Hadi Mulyatno dan Endar Sugiarto, Op. cit, hal. 40.
46
Ibid, hal. 40
47
Yoyok Adi Syahputra : Penegakan Hukum Pidana Terhadap Penyalahgunaan Izin Keimigrasian Menurut Undang-Undang Ri No. 9 Tahun 1992 Tentang Keimigrasian (Studi Kasus Pengadilan Negeri Medan), 2007. USU Repository © 2009
melakukan perjalanan keluar wilayah Indonesia dan tidak mempunyai surat perjalanan serta dalam waktu yang dianggap layak tidak dapat memperolehnya dari negaranya atau negara lain.
e. Surat perjalanan laksana paspor untuk orang asing, dapat diberikan kepada orang asing yang tidak mempunyai surat perjalanan yang sah dan atas kehendak sendiri keluar dari wilayah Indonesia sejauh dia tidak terkena pencegahan, dan dikenakan tindakan pengusiran atau deportasi atau dalam keadaan tertentu yang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional diberi izin untuk masuk ke wilayah Indonesia.
f. Surat perjalanan laksana paspor untuk warga negara Indonesia, diberikan dalam keadaan khusus apabila paspor biasa tidak diberikan.
g. Surat perjalanan laksana paspor dinas, diberikan kepada warga negara Indonesia dalam keadaan khusus apabila tidak mendapatkan paspor dinas. h. Paspor dinas, diberikan kepada warga negara Indonesia yang akan melakukan
perjalanan keluar wilayah Indonesia dalam rangka dinas/tugas dari pemerintah, yang bukan bersifat diplomatik.
Masa berlakunya paspor adalah 5 (lima) tahun. Sedangkan untuk WNI yang berdomisili di luar negeri masa berlakunya paspor adalah 2 tahun.