penyelenggaraan ibadah umrah di Indonesia, serta gambaran umum biro perjalanan umrah tempat dilakukannya penelitian yaitu PT. Al-Falah Tours &
Travel Medan.
Bab IV Tinjauan Yuridis Pelaksanaan Perjanjian Penggunaan Jasa Biro Perjalanan Umrah Dan Hubungannya Dengan Tanggung Jawab Pelaku Usaha Menurut Undang-Undang Perlindungan Konsumen, bab ini akan menguraikan
jawaban dari permasalahan yang diangkat dalam skripsi ini yaitu menguraikan kendala dalam pelaksanaan perjanjian penggunaan jasa biro perjalanan umrah pada Pada PT. Al-Falah Tours & Travel yang kesepakatannya dilaksanakan secara lisan, tanggung jawab PT. Al-Falah Tours & Travel sebagai pelaku usaha terhadap konsumennya, dan juga menguraikan mengenai upaya penyelesaian masalah yang terjadi antara PT. Al-Falah Tours & Travel dengan konsumennya.
Bab V Simpulan Dan Saran, pada bab terakhir skripsi ini ditarik kesimpulan terhadap pembahasan pada Bab I sampai dengan Bab IV, serta memberikan saran-saran yang didapat penulis selama proses penulisan skripsi.
A. Perjanjian
1. Pengertian Perjanjian
Manusia merupakan makhluk sosial yang artinya manusia membutuhkan manusia lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh karena itu manusia selalu membangun suatu hubungan interaksi dengan manusia lain dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan dari hubungan tersebut adalah untuk mencapai tujuan atau keinginan masing-masing pihak. Keinginan pihak-pihak tersebut dituang dalam suatu perjanjian.
Para ahli memakai istilah berbeda-beda dalam mengartikan perjanjian.
Munir Fuady mengatakan bahwa “istilah perjanjian merupakan kesepadanan dari istilah overeenkomst dalam bahasa Belanda atau agreement dalam bahasa Inggris”.36 Overeenkomst dalam bahasa Belanda atau agreement dalam bahasa Inggris mempunyai arti yang sama yaitu “persetujuan atau permufakatan”.37 Achman Ichsan memakai istilah verbintenis untuk perjanjian, sedangkan Utrecht memakai istilah overeenkomst.38
Perikatan dan perjanjian menunjuk pada dua hal yang berbeda. Perikatan merupakan suatu istilah atau pernyataan yang bersifat abstrak, yang menunjuk
36 Munir Fuady, Hukum Kontrak (Dari Sudut Pandang Hukum Bisnis), (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2001), hal. 2
37 Yan Pramadya Puspa, Kamus Hukum Edisi Lengkap Bahasa Belanda Indonesia Inggris, (Semarang: CV Aneka Ilmu, 2008), hal. 427
38 Titik Triwulan Tutik, Hukum Perdata Dalam Sistem Hukum Nasional, (Jakarta:
Kencana, 2014), hal. 197
pada hubungan hukum dalam lapangan harta kekayaan antara dua orang atau lebih orang atau pihak, dimana hubungan hukum tersebut melahirkan kewajiban kepada salah satu pihak yang terlibat dalam hubungan hukum tersebut.39
Buku III KUHPerdata tidak mencantumkan pengertian perikatan, maka untuk mengetahui pengertian perikatan harus dirumuskan sedemikian rupa dalam ilmu pengetahuan hukum. Berdasarkan Pasal 1233 KUHPerdata menyatakan bahwa “tiap-tiap perikatan dilahirkan baik karena persetujuan, baik karena undang-undang”
Perikatan adalah “hubungan hukum antara dua pihak di dalam lapangan harta kekayaan, dimana pihak yang satu (kreditur) berhak atas prestasi dan pihak yang lain (debitur) berkewajiban memenuhi prestasi itu”.40 Sehingga dapat dikatakan bahwa di dalam suatu perikatan terdapat hak di satu pihak dan kewajiban di pihak lain berupa suatu prestasi yang harus dipenuhi.
Perikatan melahirkan hak dan kewajiban dalam lapangan hukum harta kekayaan. Dengan demikian berarti perjanjian juga akan melahirkan hak dan kewajiban dalam lapangan harta kekayaan bagi pihak-pihak yang membuat perjanjian.41
Menurut kamus hukum yang dimaksud perikatan, perjanjian, dan persetujuan adalah sebagai berikut :
Perikatan adalah “suatu kesepakatan atau persetujuan untuk memberikan, berbuat, atau tidak berbuat sesuatu”. Perjanjian adalah “suatu persetujuan tertulis atau lisan yang dibuat dua pihak atau lebih di mana
39 Kartini Muljadi, dkk, Perikatan Yang Lahir Dari Perjanjian, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), hal. 1
40 Riduan Syahrani, Seluk Beluk dan Asas-Asas Hukum Perdata, (Bandung: Alumni, 2004), hal. 195
41 Kartini Muljadi, dkk, Op. Cit. hal. 2
masing pihak berjanji akan mentaati apa yang tersebut dalam persetujuan itu sebagai kesepakatan bersama”. Persetujuan adalah “pemufakatan atau perjanjian antara satu orang atau lebih mengikat dirinya pada satu orang atau lebih yang menimbulkan hak dan kewajiban antara pihak-pihak dalam perjanjian”.42
Pengertian perjanjian diatur di dalam Pasal 1313 KUHPerdata. Pasal 1313 KUHPerdata merumuskan "suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih".43
Definisi perjanjian yang dirumuskan di dalam Pasal 1313 KUHPerdata tersebut dirasa kurang lengkap. Salim memberikan pendapatnya mengenai ketidakjelasan definisi perjanjian dalam Pasal 1313 KUHPerdata yaitu sebagai berikut :
Definisi perjanjian dalam Pasal 1313 ini adalah tidak jelas, karena setiap perbuatan dapat disebut perjanjian, tidak tampak asas konsensualisme, dan bersifat dualisme. Tidak jelasnya definisi ini disebabkan dalam rumusan tersebut hanya disebutkan perbuatan saja. Maka yang bukan perbuatan hukum pun disebut dengan perjanjian. Untuk memperjelas pengertian itu maka harus dicari dalam doktrin. Jadi menurut doktrin (teori lama) yang disebut perjanjian adalah “perbuatan hukum berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum” (Salim, 2015: 25).44
Beberapa ahli hukum juga mencoba merumuskan definisi perjanjian yang lebih lengkap, antara lain :
42 Charlie Rudayat, Kamus Hukum (Rangkuman Istilah-Istilah Dan Pengertian Dalam Hukum), (Jakarta: Pustaka Mahardika, 2012), hal. 349-350
43 Subekti,R, dan Tjitrosudibio, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, (Jakarta:
Pradnya Paramita, 2004), hal. 338
44 Salim H.S, Hukum Kontrak Teori & Teknik Penyusunan Kontrak, (Jakarta: Sinar Grafika, 2015), hal. 25
Menurut teori baru yang dikemukakan oleh Van Dunne yang diartikan dengan perjanjian adalah “suatu hubungan hukum antara dua pihak atau lebih berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum”.45
Menurut Salim pengertian perjanjian adalah :
“Perjanjian merupakan hubungan hukum antara subjek hukum yang satu dengan subjek hukum yang lain dalam bidang harta kekayaan, di mana subjek hukum yang satu berhak atas prestasi dan begitu juga subjek hukum yang lain berkewajiban untuk melaksanakan prestasinya sesuai dengan yang telah disepakatinya”.46
Abdul Kadir Muhammad juga berpendapat definisi perjanjian dalam Pasal 1313 KUHPerdata kurang lengkap dan memiliki beberapa kelemahan antara lain :
a. Rumusan tersebut hanya cocok untuk perjanjian sepihak karena kata
“mengikatkan‟ hanya datang dari salah satu pihak;
b. Definisi tersebut terlalu luas, karena tidak disebutkan mengikatkan diri terbatas dalam lapangan hukum harta kekayaan, sehingga dapat pula mencakup perjanjian perkawinan dalam lapangan hukum keluarga;
c. Tanpa menyebut tujuan, sehingga tidak jelas untuk apa para pihak mengikatkan diri.47
Berdasarkan alasan-alasan tersebut maka perlu dirumuskan kembali apa yang dimaksud dengan perjanjian. Abdulkadir Muhammad memberikan definisi perjanjian adalah “suatu persetujuan dengan mana dua orang atau lebih yang saling mengikatkan diri untuk melaksanakan suatu hal dalam lapangan harta kekayaan”.48
45 Ibid., hal. 26
46 Ibid., hal. 27
47 Abdulkadir Muhammad, Hukum Perikatan, (Bandung: Alumni, 2008), hal. 78
48 Ibid., hal. 79
Menurut Subekti perjanjian adalah “suatu peristiwa dimana seorang berjanji kepada seorang lain, atau di mana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal”.49
Handri Raharjo juga memberikan penyempurnaan terhadap definisi perjanjian yaitu sebagai berikut :
“Suatu hubungan hukum dibidang harta kekayaan yang didasari kata sepakat antara subjek hukum yang satu dengan yang lain, dan di antara subjek hukum tersebut saling mengikatkan dirinya sehingga subjek hukum yang satu berhak atas prestasi dan begitu juga subjek hukum yang lain berkewajiban untuk melaksanakan prestasinya sesuai dengan kesepakatan yang telah disepakati para pihak tersebut serta menimbulkan akibat hukum”.50
Charless L. Knapp dan Nathan M. Crystal mengemukakan perjanjian adalah “suatu persetujuan antara dua orang atau lebih tidak hanya memberikan kepercayaan, tetapi secara bersama saling pengertian untuk melakukan sesuatu pada masa mendatang oleh seseorang atau keduanya dari mereka”.51
Menurut Black’s Law Dictionary yang diartikan dengan perjanjian adalah:
“Suatu persetujuan antara dua orang atau lebih di mana menimbulkan sebuah kewajiban untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu secara sebagian”. Inti definisi yang tercantum dalam Black’s Law Dictionary ini bahwa perjanjian dilihat sebagai persetujuan dari para pihak untuk melaksanakan kewajiban”.52
Dilihat dari beberapa pengertian mengenai perjanjian maka dapat dikatakan bahwa perjanjian itu adalah “perbuatan hukum di mana dua orang atau lebih saling berjanji dan diutarakan baik secara lisan maupun tertulis dan
49 Subekti R, Hukum Perjanjian, (Jakarta : Intermasa, 2009), hal. 84
50 Handri Raharjo, Hukum Perjanjian Di Indonesia, (Yogyakarta: Pustaka Yustisia, 2009), hal. 42
51 Salim H.S, Op.Cit, hal. 26
52 Ibid.
melahirkan suatu hak dan kewajiban yang terdapat dalam diri masing-masing pihak untuk dilaksanakan”.
2. Asas-Asas Dalam Perjanjian
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) asas adalah “dasar, tujuan, alasan, sesuatu yang menjadi pokok pendapat”.53 Menurut kamus hukum asas adalah “suatu pemikiran yang dirumuskan secara luas dan mendasari adanya sesuatu norma hukum”.54
Chainur Arrasjid mengatakan bahwa asas adalah “suatu alam pikiran atau cita-cita ideal yang melatarbelakangi pembentukan norma hukum yang konkret dan bersifat umum atau abstrak”.55
P. Scholten dalam buku Sudikno Mertokusumo berpendapat bahwa asas adalah “kecendrungan-kecendrungan yang diisyaratkan oleh pandangan kesusilaan kita pada hukum, merupakan sifat-sifat umum dengan segala keterbatasannya sebagai pembawaan yang umum itu, tetapi yang tidak boleh tidak harus ada”.56
Perjanjian mengenal lima asas penting, yaitu asas kebebasan berkontrak, asas konsensualisme, asas pacta sunt servanda (asas kepastian hukum), asas iktikad baik (goede trouw), dan asas kepribadian (personalia). Kelima asas itu dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Asas Kebebasan Berkontrak
53 Indrawan. W.S, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (Jombang: Lintas Media, 2010), hal. 42
54 Charlie Rudayat, Op.Cit, hal. 59
55 Chainur Arrasjid, Dasar-Dasar Ilmu Hukum, (Jakarta: PT. Sinar Grafika, 2000), hal.
37
56 Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum, (Yogyakarta: Liberty, 2005), hal. 34
Asas kebebasan berkontrak dapat dilihat dari ketentuan Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata yang berbunyi “semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya”.
Asas kebebasan berkontrak adalah suatu asas yang memberikan kebebasan kepada para pihak untuk:
1) Membuat atau tidak membuat perjanjian;
2) Mengadakan perjanjian dengan siapa pun;
3) Menentukan isi perjanjian, pelaksanaan dan persyaratannya;
4) Menentukan bentuknya perjanjian, yaitu tertulis atau lisan.57
Lahirnya asas kebebasan berkontrak dilatarbelakangi oleh paham individualisme yang lahir pada zaman Yunani dan berkembang pesat pada zaman renaissance melalui ajaran-ajaran Hugo de Groth, Thomas Hobbes, John Locke, dan Rosseau. Menurut paham individualisme, setiap orang bebas untuk memperoleh apa yang dikehendakinya. Pada hukum kontrak, asas ini diwujudkan dalam kebebasan berkontrak.58
Meskipun para pihak memiliki kebebasan dalam berkontrak, kebebasan tersebut bukanlah sebebas-bebasnya, namun kebebasan yang tetap dibatasi.
Artinya, para pihak bebas membuat kontrak (perjanjian) dan mengatur sendiri isi kontrak tersebut sepanjang memenuhi ketentuan yaitu memenuhi syarat sebagai suatu kontrak, tidak dilarang oleh undang-undang, sesuai dengan kebiasaan yang berlaku, dan sepanjang kontrak tersebut dilaksanakan dengan iktikad baik.59
57 Salim H.S, Op.Cit, hal. 9
58 Ibid.
59 Charlie Rudayat, Op.Cit, hal. 63
Asas kebebasan berkontrak ini tetap dibatasi oleh Pasal 1337 KUHPerdata yang secara tegas menyatakan “suatu sebab adalah terlarang apabila dilarang oleh undang-undang, atau apabila berlawanan dengan kesusilaan baik atau ketertiban umum”.
Dengan asas kebebasan berkontrak ini, para pihak yang membuat dan mengadakan perjanjian diperbolehkan untuk menyusun dan membuat kesepakatan atau perjanjian atau kewajiban apa saja, selama dan sepanjang prestasi yang dilakukan tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang. Para pihak membuat isi perjanjian sesuai dengan apa yang mereka kehendaki kemudian dituangkan dalam perjanjian tersebut namun tidak boleh melanggar aturan-aturan yang berlaku.
b. Asas Konsensualisme
Perjanjian terbentuk karena adanya perjumpaan kehendak (consensus) dari pihak-pihak. Perjanjian pada pokoknya dapat dibuat bebas tidak terikat bentuk dan tercapai tidak secara formil, tetapi cukup melalui konsensus belaka.60
Titik Triwulan Tutik menyatakan asas konsensualisme artinya adalah
“suatu perikatan itu terjadi sejak saat tercapainya kata sepakat antara para pihak”.61
Menurut kamus hukum asas konsensualisme adalah suatu asas yang menyatakan “suatu kontrak sudah sah dan mengikat ketika tercapai kata sepakat dan mempunyai akibat hukum, sehingga mulai saat itu juga sudah timbul hak dan kewajiban di antara para pihak”.62
60 Herlien Budiono, Asas Keseimbangan Bagi Hukum Perjanjian Indonesia (Hukum Perjanjian Berlandaskan Asas-Asas Indonesia), (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2006), hal. 95
61 Tutik Triwulan Tutik, Op.Cit, hal. 227
62 Charlie Rudayat, Op.Cit, hal. 66
Asas konsensualisme dapat disimpulkan dalam Pasal 1320 ayat (1) KUHPerdata. Menurut Pasal 1320 ayat (1) KUHPerdata salah satu syarat sahnya perjanjian yaitu adanya kesepakatan kedua belah pihak. Asas konsensualisme merupakan asas yang mendasari bahwa perjanjian pada umumnya tidak diadakan secara formal, tetapi cukup dengan adanya kesepakatan kedua belah pihak.
Kesepakatan merupakan persesuaian antara kehendak dan pernyataan yang dibuat oleh kedua belah pihak.63
Suatu perjanjian sudah sah dan mengikat ketika tercapai kata sepakat, tentunya selama syarat-syarat sahnya perjanjian lainnya sudah dipenuhi. Jadi, dengan adanya kata sepakat perjanjian tersebut pada prinsipnya sudah mengikat dan sudah mempunyai akibat hukum, sehingga mulai saat itu juga sudah timbul hak dan kewajiban di antara para pihak. Dengan demikian, pada prinsipnya syarat tertulis tidak diwajibkan untuk suatu perjanjian. Perjanjian lisan pun sebenarnya sah-sah saja menurut hukum.64
c. Asas Pacta Sunt Servanda (Asas Kepastian Hukum)
Pada mulanya asas ini dikenal dalam hukum gereja yang menyebutkan bahwa terjadinya suatu perjanjian apabila ada kesepakatan kedua belah pihak dan dikuatkan dengan sumpah yang artinya perjanjian yang dibuat tersebut adalah suatu perbuatan yang sakral. Namun, dalam perkembangannya asas pacta sunt servanda diberi arti pactum, yang berarti sepakat tidak perlu dikuatkan dengan
63 Salim H.S, Op.Cit, hal. 10
64 Munir Fuady, Op. Cit. hal. 30
sumpah dan tindakan formalitas lainnya. Sedangkan nudus pactum sudah cukup dengan sepakat saja.65
Asas pacta sunt servanda disebut juga dengan asas kepastian hukum.
Asas ini berhubungan dengan akibat perjanjian. Asas pacta sunt servanda adalah asas yang menyatakan bahwa “hakim atau pihak ketiga harus menghormati substansi dari perjanjian yang dibuat oleh para pihak sebagaimana layaknya sebuah undang-undang”. Hakim atau pihak ketiga tidak boleh melakukan intervensi terhadap substansi perjanjian yang dibuat oleh para pihak.66
Asas pacta sunt servanda dalam kamus hukum diartikan bahwa
“perjanjian yang sudah disepakati berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak yang bersangkutan”.67
Asas pacta sunt servanda dapat disimpulkan dalam Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata yang berbunyi “perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang”.
d. Asas Iktikad Baik (Goede Trouw)
Asas iktikad baik diatur dalam Pasal 1338 ayat (3) KUHPerdata yang berbunyi “perjanjian harus dilaksanakan dengan iktikad baik”. Asas iktikad baik merupakan asas bahwa para pihak yaitu pihak kreditur dan debitur harus melaksanakan substansi perjanjian berdasarkan kepercayaan atau keyakinan yang
65 Salim H.S, Op.Cit, hal. 10
66 Ibid.
67 Charlie Rudayat, Op.Cit, hal. 68
teguh atau kemauan baik dari para pihak. Iktikad baik sangat penting dalam perjanjian antara para pihak yang dihadapkan dalam suatu hubungan hukum.68
Asas iktikad baik dibagi menjadi dua macam, yaitu iktikad baik nisbi dan iktikad baik mutlak. Pada iktikad baik nisbi, orang memperhatikan sikap tingkah laku yang nyata dari subjek. Pada iktikad baik mutlak, penilaiannya terletak pada akal sehat dan keadilan, dibuat ukuran yang objektif untuk menilai keadaan (penilaian tidak memihak) menurut norma-norma yang objektif.69
Iktikad baik dalam perjanjian merupakan doktrin atau asas yang berasal dari hukum Romawi. Iktikad baik dalam hukum Romawi mengacu pada tiga bentuk perilaku para pihak dalam perjanjian, yaitu :
1) Para pihak harus memegang teguh janji atau perkataannya.
2) Para pihak tidak boleh mengambil keuntungan dengan tindakan yang menyesatkan terhadap salah satu pihak.
3) Para pihak mematuhi kewajibannya dan berperilaku sebagai orang terhormat dan jujur walaupun kewajiban tersebut tidak secara tegas diperjanjikan.70
Wirjono Prodjodikoro membagi iktikad baik menjadi dua macam, yaitu : 1) Iktikad baik pada waktu mulai berlakunya suatu hubungan hukum.
Iktikad baik di sini biasanya berupa perkiraan atau anggapan seseorang bahwa syarat-syarat yang diperlukan bagi dimulai hubungan hukum telah terpenuhi. Dalam konteks ini hukum memberikan perlindungan kepada pihak yang beriktikad baik, sedang bagi pihak yang beriktikad tidak baik (te kwader trouw) harus bertanggungjawab dan menanggung risiko.
Iktikad baik semacam ini dapat disimak dari ketentuan Pasal 1977 ayat (1) KUHPerdata dan Pasal 1963 KUHPerdata yang terkait dengan salah satu syarat untuk memperoleh hak milik atas barang melalui daluarsa.
Iktikad baik ini bersifat subjektif dan statis.
2) Iktikad baik pada waktu pelaksanaan hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang termaktub dalam hubungan hukum itu.
68 Ahmadi Miru, Hukum Kontrak dan Perancangan Kontrak, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007), hal. 5
69 Salim H.S, Op.Cit, hal. 11
70 Ridwan Khairandy, Iktikad Baik Dalam Kebebasan Berkontrak, (Jakarta: Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2004), hal. 132
Pengertian iktikad baik semacam ini sebagaimana diatur dalam Pasal 1338 ayat (3) KUHPerdata adalah bersifat objektif dan dinamis mengikuti situasi sekitar perbuatan hukumnya. Titik berat iktikad baik terletak pada tindakan yang akan dilakukan oleh kedua belah pihak yaitu tindakan sebagai pelaksanaan sesuatu hal.71
e. Asas Kepribadian (Personalia)
Asas kepribadian merupakan asas yang menentukan bahwa seseorang yang akan melakukan dan atau membuat suatu kontrak bertindak hanya untuk kepentingan perseorangan saja. Asas personalia atau asas kepribadian menurut kamus hukum adalah “suatu asas dalam hukum perjanjian di mana suatu perjanjian yang dibuat oleh seseorang dalam kepastiannya sebagai individu, subjek hukum pribadi, hanya akan berlaku dan mengikat untuk dirinya sendiri”.72
Ketentuan asas personalia atau asas kepribadian dapat dilihat pada Pasal 1315 dan Pasal 1340 KUHPerdata. Pasal 1315 KUHPerdata berbunyi “pada umumnya seseorang tidak dapat mengadakan perikatan atau perjanjian selain untuk dirinya sendiri.” Inti dari ketentuan ini bahwa sesorang yang mengadakan perjanjian berlaku hanya untuk kepentingan dirinya sendiri.73
Pasal 1340 KUHPerdata berbunyi “perjanjian hanya berlaku antara pihak yang membuatnya”. Ini berarti bahwa perjanjian yang dibuat oleh para pihak hanya berlaku bagi mereka yang membuatnya. Namun, ketentuan ini ada pengecualiannya sebagaimana yang diintrodusir dalam Pasal 1317 KUHPerdata yang berbunyi “dapat pula perjanjian diadakan untuk kepentingan pihak ketiga bila suatu perjanjian yang dibuat untuk diri sendiri, atau suatu pemberian kepada
71 Agus Yudha Hernoko, Hukum Perjanjian “Asas Proporsionalitas dalam Kontrak Komersial”, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013), hal. 15-16
72 Charlie Rudayat, Op.Cit, hal. 68
73 Salim H.S, Op.Cit, hal. 12
orang lain, mengandung suatu syarat semacam itu”. Pasal ini mengkonstruksikan bahwa seseorang dapat mengadakan perjanjian untuk kepentingan orang lain dengan suatu syarat yang ditentukan, sedangkan pada Pasal 1318 KUHPerdata tidak hanya mengatur perjanjian untuk diri sendiri tapi juga untuk kepentingan ahli warisnya dan untuk orang-orang yang memperoleh hak dari padanya.74
Di samping kelima asas itu, di dalam Lokakarya Hukum Perikatan yang diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional, Departemen Kehakiman dari tanggal 17 sampai dengan tanggal 19 Desember 1985 telah berhasil dirumuskan 8 (delapan) asas hukum perikatan nasional. Kedelapan asas itu adalah asas kepercayaan, asas persamaan hukum, asas keseimbangan, asas kepastian hukum, asas moral, asas kepatutan, asas kebiasaan, dan asas perlindungan (protection).75
Kedelapan asas itu dijelaskan sebagai berikut ini : a. Asas Kepercayaan
Asas kepercayaan mengandung pengertian bahwa “setiap orang yang akan mengadakan perjanjian saling percaya untuk memenuhi setiap prestasi yang diadakan di antara mereka di belakang hari”.76
b. Asas Persamaan Hukum
Asas persamaan hukum mengandung pengertian bahwa “subjek hukum yang mengadakan perjanjian mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama dalam hukum”. Para subjek hukum tersebut tidak dibeda-bedakan antara
74 Ibid., hal. 13
75 Ibid.
76 Ibid.
satu sama lain walaupun subjek hukum itu berbeda warna kulit, agama, dan ras dan lain sebagainya.77
c. Asas Keseimbangan
Asas keseimbangan adalah asas yang menghendaki kedua belah pihak memenuhi dan melaksanakan perjanjian. Kreditur mempunyai kekuatan untuk menuntut prestasi dan jika diperlukan dapat menuntut pelunasan prestasi melalui kekayaan debitur, namun debitur memikul pula kewajiban untuk melaksanakan perjanjian itu dengan iktikad baik.78
d. Asas Kepastian Hukum
Perjanjian sebagai figur hukum harus mengandung kepastian hukum.
Kepastian ini terungkap dari kekuatan mengikatnya perjanjian, yaitu sebagai undang-undang bagi yang membuatnya.79
e. Asas Moral
Asas moral ini terikat dalam perikatan wajar, yaitu perbuatan sukarela dari seseorang tidak dapat menuntut hak baginya menggugat prestasi dari pihak debitur. Hal ini terlihat dalam zaakwarneming yaitu seseorang melakukan perbuatan dengan sukarela (moral). Orang yang bersangkutan mempunyai kewajiban hukum untuk meneruskan dan menyelesaikan perbuatannya itu. Salah satu faktor yang memberikan motivasi pada yang bersangkutan melakukan perbuatan hukum itu adalah didasarkan pada kesusilaan (moral) sebagai panggilan hati nuraninya.80
77 Ibid.
78 Ibid.
79 Ibid., hal. 14
80 Ibid.
f. Asas Kepatutan
Asas kepatutan tertuang dalam Pasal 1339 KUHPerdata. Asas ini berkaitan dengan ketentuan mengenai isi perjanjian.81 Pasal 1339 KUHPerdata menyatakan bahwa “semua perjanjian baik yang mempunyai suatu nama khusus maupun yang tidak terkenal dengan suatu nama tertentu tunduk pada peraturan-peraturan umum yang termuat di dalam KUHPerdata”.
g. Asas Kebiasaan
Asas ini dipandang sebagai bagian dari perjanjian. Suatu perjanjian tidak hanya mengikat untuk apa yang secara tegas diatur, akan tetapi juga hal-hal yang menurut kebiasaan lazim diikuti.82
h. Asas Perlindungan (Protection)
Asas perlindungan mengandung makna yaitu antara debitur dan kreditur harus dilindungi oleh hukum. Namun, yang perlu mendapat perlindungan itu
Asas perlindungan mengandung makna yaitu antara debitur dan kreditur harus dilindungi oleh hukum. Namun, yang perlu mendapat perlindungan itu