• Tidak ada hasil yang ditemukan

KETENTUAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG Bagian Kesatu

Umum Pasal 43

(1) K etentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten.

(2) K etentuan pengendalian pemanfaatan ruang terdiri atas : a. ketentuan umum peraturan zonasi;

b. ketentuan perizinan;

c. ketentuan insentif dan disinsentif; dan d. ketentuan sanksi.

Bagian Kedua

Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Pasal 44

(1) Ketentuan umum sistem peraturan zonasi kabupaten sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 ayat (2) huruf a, digunakan sebagai pedoman bagi pemerintah daerah dalam menyusun peraturan zonasi.

(2) Ketentuan umum peraturan zonasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat ketentuan mengenai :

a. jenis kegiatan yang diperbolehkan, diperbolehkan dengan syarat dan tidak diperbolehkan;

b. intensitas pemanfaatan ruang;

c. prasarana dan sarana air minum; dan d. ketentuan lain yang dibutuhkan.

(3) Ketentuan umum peraturan zonasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas :

a. ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan lindung;

b. ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan budidaya; dan c. ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan sekitar sistem

prasarana nasional dan wilayah terdiri atas : 1. kawasan sekitar prasarana transportasi; 2. kawasan sekitar prasarana energi;

3. kawasan sekitar prasarana telekomunikasi; 4. kawasan sekitar prasarana sumberdaya air; dan 5. kawasan sekitar prasarana pengelolaan lingkungan.

(4) Ketentuan umum peraturan zonasi dijabarkan lebih lanjut dalam Lampiran XIX yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

Bagian Ketiga Ketentuan Perizinan

Pasal 45

(1) Ketentuan perizinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 ayat (2) huruf b, merupakan acuan bagi pejabat yang berwenang dalam pemberian izin pemanfaatan ruang dengan mengacu pada rencana tata ruang dan peraturan zonasi.

(2) Izin pemanfaatan ruang diberikan oleh pejabat yang berwenang sesuai dengan kewenangannya.

(3) Pemberian izin pemanfaatan ruang dilakukan menurut prosedur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 46

(1) Jenis perizinan terkait pemanfaatan ruang di daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (2), terdiri atas :

a. izin prinsip; b. izin lokasi;

c. izin peruntukkan penggunaan dan pemanfaatan tanah; d. izin mendirikan bangunan; dan

e. izin lain berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. (2) Setiap izin-izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus

melampirkan tinjauan pertimbangan teknis pertanahan.

(3) Mekanisme perizinan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a sampai dengan huruf e diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.

Bagian Keempat

Ketentuan Insentif dan Disinsentif Paragraf 1

Umum Pasal 47

(1) Ketentuan insentif dan disinsentif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 ayat (2) huruf c, merupakan acuan bagi pemerintah daerah dalam pemberian insentif dan pengenaan disinsentif.

(2) Insentif dapat diberikan untuk kegiatan pemanfaatan ruang pada kawasan yang didorong pengembangannya.

(3) Disinsentif diberikan untuk kegiatan pemanfaatan ruang pada kawasan yang dibatasi pengembangannya.

Paragraf 2

Bentuk dan Tata Cara Pemberian Insentif Pasal 48

(1) Insentif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 ayat (2) dapat berupa fiskal dan/atau insentif non fiskal.

(2) Insentif fiskal sebagaiman ayat (1) dapat berupa: a. pemberian keringanan pajak; dan/atau b. pengurangan retribusi.

(3) Insentif non fiskal sebagaiman ayat (1) dapat berupa: a. pemberian kompensasi; b. subsidi silang; c. kemudahan perizinan; d. imbalan; e. sewa ruang; f. urun saham;

g. penyediaan prasarana dan sarana; h. penghargaan; dan/atau

Pasal 49

Insentif dari pemerintah kabupaten/kota kepada pemerintah kabupaten/kota lainnya yang saling berhubungan dapat berupa :

a. pemberian kompensasi dari pemerintah kabupaten/kota penerima manfaat kepada kabupaten/kota pemberi manfaat atas manfaat yang diterima oleh kabupaten/kota penerima manfaat;

b. kompensasi pemberian penyediaan sarana dan prasarana;

c. kemudahan perizinan bagi kegiatan pemanfaatan ruang yang diberikan oleh pemerintah kabupaten/kota penerima manfaat kepada investor yang berasal dari kabupaten/kota pemberi manfaat; dan/atau

d. publikasi atau promosi kabupaten/kota. Pasal 50

Insentif dari pemerintah daerah kepada masyarakat dapat berupa : a. pemberian keringanan pajak;

b. pemberian kompensasi; c. pengurangan retribusi; d. imbalan;

e. sewa ruang; f. urun saham;

g. penyediaan prasarana dan sarana; dan/atau h. kemudahan perizinan.

Pasal 51

(1) Mekanisme pemberian insentif yang berasal dari pemerintah daerah diatur dengan Peraturan Bupati.

(2) Mekanisme pemberian insentif dari pemerintah kabupaten/kota kepada pemerintah kabupaten/kota lainnya diberikan berdasarkan kesepakatan bersama antar pemerintah kabupaten/kota bersangkutan. (3) Pengaturan mekanisme pemberian insentif sebagaimana dimaksud

pada ayat (2) berpedoman pada peraturan perundang-undangan. Paragraf 3

Bentuk dan Tata Cara Pemberian Disinsentif Pasal 52

(1) Disinsentif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 ayat (3) dapat berupa fiskal dan/atau insentif non fiskal.

(2) Disinsentif fiskal sebagaiman ayat (1) berupa pengenaan pajak yang tinggi.

(3) Disinsentif non fiskal sebagaiman ayat (1) berupa : a. kewajiban memberi kompensasi;

b. pensyaratan khusus dalam perizinan; c. kewajiban memberi imbalan; dan/atau

(4) Pemberian insentif dan disinsentif fiskal dan/atau non fiskal dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 53

Disinsentif dari pemerintah kabupaten/kota kepada pemerintah kabupaten/kota lainnya yang saling berhubungan dapat berupa:

a. pengajuan pemberian kompensasi dari pemerintah kabupaten/kota pemberi manfaat kepada kabupaten/kota penerima manfaat;

b. pembatasan penyediaan sarana dan prasarana; dan/atau

c. persyaratan khusus dalam perizinan bagi kegiatan pemanfaatan ruang yang diberikan oleh pemerintah kabupaten/kota pemberi manfaat kepada investor yang berasal dari kabupaten/kota penerima manfaat.

Pasal 54

Disinsentif dari pemerintah daerah kepada masyarakat dapat berupa: a. kewajiban memberi kompensasi;

b. pensyaratan khusus dalam perizinan bagi kegiatan pemanfaatan ruang yang diberikan oleh pemerintah dan pemerintah daerah;

c. kewajiban memberi imbalan;

d. pembatasan penyediaan sarana dan prasarana; dan/atau e. pensyaratan khusus dalam perizinan.

Pasal 55

(1) Mekanisme pemberian disinsentif yang berasal dari pemerintah daerah diatur dengan Peraturan Bupati.

(2) Mekanisme pemberian disinsentif dari pemerintah kabupaten/kota kepada pemerintah kabupaten/kota lainnya diberikan berdasarkan kesepakatan bersama antar pemerintah kabupaten/kota bersangkutan. (3) Pengaturan mekanisme pemberian disinsentif sebagaimana dimaksud

pada ayat (2) berpedoman pada peraturan perundang-undangan.

Bagian Kelima Ketentuan Sanksi

Pasal 56

(1) Ketentuan sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 ayat (2) huruf d, merupakan acuan bagi pemerintah daerah dalam pengenaan sanksi administratif kepada setiap orang yang melakukan pelanggaran di bidang penataan ruang.

(2) Pelanggaran di bidang penataan ruang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi :

a. pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang; b. pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan izin pemamfaatan

c. pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan persyaratan izin yang diberikan oleh pejabat yang berwenang; dan/atau

d. pemanfaatan ruang yang menghalangi akses terhadap kawasan yang dinyatakan oleh peraturan perundang – undangan sebagai milik umum.

(3) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa :

a. peringatan tertulis;

b. penghentian sementara kegiatan;

c. penghentian sementara pelayanan umum; d. penutupan lokasi;

e. pencabutan izin; f. pembatalan izin;

g. pembongkaran bangunan;

h. pemulihan fungsi ruang; dan/ atau i. denda administratif.

Pasal 57

(1) Pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 ayat (2) huruf a, meliputi : a. memanfaatkan ruang dengan izin pemanfaatan ruang di lokasi yang

tidak sesuai dengan peruntukannya;

b. memanfaatkan ruang tanpa izin pemanfaatan ruang di lokasi yang sesuai peruntukannya; dan/atau

c. memanfaatkan ruang tanpa izin pemanfaatan ruang di lokasi yang tidak sesuai peruntukannya.

(2) Pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan izin pemanfaatan ruang yang diberikan oleh pejabat berwenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 ayat (2) huruf b, meliputi :

a. tidak menindaklanjuti izin pemanfaatan ruang yang telah dikeluarkan; dan/atau

b. memanfaatkan ruang tidak sesuai dengan fungsi ruang yang tercantum dalam izin pemanfaatan ruang.

(3) Pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan persyaratan izin yang diberikan oleh pejabat yang berwenang sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 56 ayat (2) huruf c, meliputi :

a. melanggar batas sempadan yang telah ditentukan;

b. melanggar ketentuan koefisien lantai bangunan yang telah ditentukan;

c. melanggar ketentuan koefisien dasar bangunan dan koefisien dasar hijauh;

d. melakukan perubahan sebagian atau keseluruhan fungsi bangunan;

e. melakukan perubahan sebagian atau keseluruhan fungsi lahan; dan/atau

f. tidak menyediakan fasilitas sosial atan fasilitas umum sesuai dengan persyaratan dalam izin pemanfaatan ruang.

(4) Menghalangi akses terhadap kawasan yang dinyatakan oleh peraturan perundang – undangan sebagai milik umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 ayat (2) huruf d, meliputi :

a. menutup akses ke pesisir pantai, sungai, danau, situ dan sumberdaya alam serta prasarana publik;

b. menutup akses terhadap sumber air;

c. menutup akses terhadap taman dan ruang terbuka hijau d. menutup akses terhadap fasilitas pejalan kaki;

e. menutup akses terhadap lokasi dan jalur evakuasi bencana; dan/atau

f. menutup akses terhadap jalan umum tanpa izin pejabat yang berwenang.

Pasal 58

Tata cara pengenaan sanksi administratif dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang – undangan bidang penataan ruang.

Pasal 59

Setiap orang yang melakukan pelanggaran terhadap rencana tata ruang yang telah ditetapkan dapat dikenakan sanksi pidana sesuai dengan ketentuan peraturan perundang – undangan bidang penataan ruang.

BAB IX KELEMBAGAAN

Pasal 60

(1) Dalam rangka koordinasi penataan ruang dan kerjasama antar antar sektor/antar daerah, dibentuk BKPRD.

(2) Tugas, susunan organisasi dan tata kerja BKPRD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Keputusan Bupati.

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai kelembagaan penataan ruang mengacu pada peraturan perundang-undangan.

BAB X

HAK, KEWAJIBAN DAN PERAN MASYARAKAT

Dokumen terkait