BAB III KRITERIA SOSIAL
KETENTUAN PENUTUP Pasal
1. Dengan ditetapkannya Peraturan Bupati ini, maka Surat Keputusan Bupati Lampung Barat no 11/2004 dan Peraturan Bupati nomor 225/2006 dinyatakan tidak berlaku lagi.
2. Peraturan Bupati ini hanya berlaku untuk Hutan Kemasyarakatan di Hutan Lindung
3. Peraturan Bupati ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. Agar setiap orang dapat mengetahuinya,
memerintahkan pengundangan peraturan Bupati ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Lampung Barat.
Ditetapkan di Liwa Pada tanggal ... BUPATI LAMPUNG BARAT, Dto.
Mukhlis Basri Tembusan disampaikan kepada Yth :
1. Ketua DPRD Kabupaten Lampung Barat
2. Kepala Badan/Dinas/Kantor Lingkup Pemerintah Kabupaten Lampung Barat 3. Himpunan Peraturan Bupati.
Foto: doc. WG-Tenure
Sukapura yang didorong oleh WG-Tenure selama ini dalam suatu forum seminar nasional. Permasalahan yang dialami oleh Masyarakat Pekon Sukapura merupakan salah satu kasus tenurial masyarakat yang mungkin banyak terjadi di wilayah lainnya. Upaya- upaya yang telah diinisiasi oleh masyarakat dan Pemda Lampung Barat dengan dukungan para
mitranya bisa dilihat sebagai bentuk pembelajaran dalam mencapai penyelesaian atas konflik tenurial yang dialami. Seminar dimaksudkan u n t u k m e m b a h a s p e l u a n g - p e l u a n g m e k a n i s m e penyelesaian konflik tenurial di kawasan hutan khususnya pada fungsi hutan lindung.
S e p e r t i p e r n a h d i m u a t sebelumnya dalam Warta Tenure edisi I bahwa Pekon (Desa) Sukapura
Kecamatan Sumberjaya adalah desa definitif yang telah ditetapkan pada tahun 1954. Desa ini lahir dan berkembang dari program BRN (Biro Rekonstruksi Nasional), dimana pada tahun 1951-1952 sebanyak 250 KK atau sekitar 680 jiwa dari daerah Jawa Barat (Kabupaten Tasikmalaya) ditransmigrasikan ke daerah ini. Seiring dengan perkembangannya saat ini di Desa Sukapura telah bermukim sekitar 679 KK atau sekitar 1629 jiwa. Demikian juga dengan kondisi desanya telah banyak mengalami perkembangan. Pemukiman, sarana dan prasarana umum (seperti Sekolah Dasar, pasar) telah
PLTA Way Besay dengan mekanisme tukar guling. Pada tahun 1994 sesuai dengan kebijakan Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK), sebagian wilayah desa masuk ke dalam wilayah Hutan Lindung (Register 45B Bukit Rigis), termasuk areal pemukiman penduduk. Kembali masalah kepastian hak penguasaan lahan (land tenure) mengemuka. Hal ini menyebabkan masyarakat desa Sukapura merasa perlu untuk mendapatkan kejelasan status pemukiman d a n l a h a n m e r e k a .
Mengingat kenyataan sejarah dan fakta di lapangan, masyarakat menginginkan areal pemukiman mereka d i k e l u a r k a n d a r i kawasan hutan lindung. W G - T e n u r e d e n g a n dukungan dana dari MFP DFID bersama dengan mitra di lapangan mendukung inisiatif yang dilakukan oleh masyarakat dan Pemda Lampung Barat untuk mendapatkan kepastian status pemukiman masyarakat. Berbagai dialog telah dilakukan dengan pihak-pihak terkait. ICRAF-SEA sebagai lembaga independen juga telah melakukan penelitian terhadap peluang pelepasan Pekon Sukapura dari kawasan hutan lindung Bukit Rigis. Dari berbagai kegiatan yang dilakukan maka Pemerintah Daerah Lampung Barat pada Tahun 2006 dan Tahun 2008 telah mengirimkan Surat Permohonan Enclave kepada Menteri Kehutanan.
Foto: doc. WG-Tenure
Selanjutnya pada Bulan Januari 2009 yang lalu Pemerintah Daerah Lampung Barat didampingi oleh WATALA dan WG-Tenure melakukan audiensi dengan Kepala Pusat Pengukuhan Kawasan Hutan, Badan Planologi Kehutanan. Dalam pertemuan audiensi terhadap permasalahan yang dialami oleh masyarakat Pekon Sukapura Kecamatan Sumberjaya dan permohonan penyelesaiannya diusulkan untuk disinergikan dengan revisi Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Lampung.
Seminar yang diselenggarakan pada tanggal 11 Maret 2009 dengan dukungan dari MFP II-Kehati-Dephut, menghadirkan 5 (lima) narasumber masing-masing (1) Ichwanto M. Nuh (WATALA) yang mempresentasikan konstruksi sejarah Pekon Sukapura; (2) Gamal Pasya (ICRAF-SEA) yang menyajikan hasil kajian peluang
masyarakat dan Pemda Lampung Barat untuk mendapatkan kepastian status tanah Pekon Sukapura; (4) DR. Ir. Dwi Sudharto, MSi (Direktur Pengukuhan dan Penatagunaan Kawasan Hutan, Ditjen Planologi Kehutanan; dan (5) Kepala Bappeda Propinsi Lampung yang memaparkan RTRW Propinsi Penyelesaian Konflik di Kawasan Hutan. Seminar dihadiri sekitar empat puluh peserta dari unsur Pemerintah, NGO, Perguruan Tinggi, Lembaga penelitian, dan swasta. Seminar difasilitasi oleh Ir. Martua Sirait, MSc. dan dibuka dengan sambutan pengantar oleh Ir. Iman Santoso, MSc. selaku Koordinator Pengurus WG-Tenure.
Beberapa catatan seminar:
- Melalui konstruksi sejarah diketahui bahwa masyarakat di Pekon Sukapura didatangkan di wilayah tersebut melalui program Pemerintah meskipun pada tahun 1935 Besluit (Keputusan) Residen Lampung N0.117 Tanggal 19 Maret 1935 menyatakan Penunjukan Bukit Register 45B sebagai Kawasan Hutan Lindung
- Hasil kajian pelepasan pekon sukapura yang dilakukan oleh Tim ICRAF-SEA Sumberjaya dengan ruang lingkup analisis review kebijakan; sosial, ekonomi, dan budaya; fisik dan lingkungan; berdasarkan Uji Pedoman Penyelesaian Enclave dalam kawasan hutan Dirjen Inventarisasi dan Tata Guna Hutan, tahun 1994 (10 kriteria), menunjukkan skor 210. Berdasarkan
65 Working Group on Forest Land Tenure www.wg-tenure.org -
Tenure
Edisi Khusus - April 2009- Rekomendasi hasil study ICRAF-SEA adalah:
Skenario 1: Semua areal yang dimohonkan (dipetakan) seluas 302,5 ha di-enclavekan dengan opsi
property right sebagai output.
Skenario 2: Semua menjadi enclave pekon Sukapura dengan ketentuan penggunaan lahan sbb: (1) Pemukiman seluas 70 Ha sebagai
property right, dan
(2) Sisanya 232,5 Ha subyek property right, tapi land use diatur ketat oleh pemerintah (dikelola dengan model hutan hak).
Skenario 3: Hanya pemukiman saja seluas 70 Ha yang di enclavekan dengan status property right
dan sisanya 232,5 Ha sebagai access right
(Misalnya HKm, Hutan Desa, dll) namun berstatus non enclave dan tidak menjadi wilayah pekon.
- Usulan pelepasan kawasan hutan secara parsial di lokasi tersebut sampai saat ini belum ada solusi konkrit mengingat status lokasi yang dimohon adalah kawasan Hutan Lindung yang telah ditata batas dan disahkan tanggal 13 Juni 1940. Selanjutnya lokasi tersebut ditata batas kembali dengan Berita Acara Tata Batas tanggal 24 Maret 1994 dan disahkan oleh Menteri Kehutanan tanggal 19 September 1994.
ini adalah 29,92% yang sudah berada di bawah ambang batas luas minimal yaitu 30%.
- Rekomendasi dari Departemen Kehutanan (Ditjen Planologi) antara lain:
Pengurangan luas kawasan hutan sejauh mungkin dihindari dan apabila terpaksa dilakukan harus diupayakan penyediaan areal pengganti.
Pada prinsipnya mekanisme perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan secara partial sama dengan perubahan skala provinsi melalui revisi RTRWP/K.
Mengingat amanat upaya penyelesaian secara partial yang telah ditempuh dalam jangka waktu yang cukup lama dan belum bisa menuntaskan permasalahan yang ada dan sejalan dengan pelaksanaan amanat UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang agar semua Perda RTRWP/K dilakukan penyesuaian, maka usulan perubahan disarankan diintegrasikan dalam Revisi RTRWP. - Disarankan kepada Pemda Lampung Barat untuk memasukkan permasalahan Sukapura terhadap usulan revisi RTRWK Lampung Barat yang akan diintegrasikan dengan revisi RTRWP Lampung.