Rata Sebagai Bahan Acuan Pembuatan Peraturan Nagar
1. Perubahan Kebijakan dan Peristiwa Politik
Perubahan kebijakan ini terjadi akibat perubahan fungsi kawasan hutan dari hutan lindung dan produksi menjadi hutan konservasi. Selain perubahan fungsi ini mengakibatkan beralihnya lembaga yang mengatur kawasan tersebut dari Perum Perhutani menjadi Taman Nasional, ia juga mengubah akses masyarakat atas tanah- tanah tersebut. Ketika pihak taman nasional berusaha mengusir masyarakat keluar dari kawasan hutan, masyarakat menggunakan klaim mekanisme bagi hasil sebagai alat bukti.
Situasi perpolitikan yang tidak kondusif, seperti di masa Pendudukan Jepang, mendorong lembaga-lembaga pemerintah membiarkan atau mendorong masyarakat setempat untuk membuka hutan. Selain itu pula, situasi perpolitikan yang kacau di masa pemberontakan DI/TII menyebabkan masyarakat bermigrasi ke wilayah berhutan.
menyebabkan kesimpangsiuran lokasi batas-batas
secara tidak sengaja menciptakan adanya klaim atas kawasan hutan tersebut. Di masa pendudukan Jepang, wedana setempat mempersilakan masyarakat untuk membuka kawasan hutan. Peristiwa ini kemudian berlanjut di masa Perum Perhutani, dimana aparat Perhutani “melegalkan” garapan masyarakat dengan mekanisme bagi hasil dengan sebutan tumpangsari. Dengan memanfaatkan kesimpangsiuran batas kawasan hutan, lembaga desa pun hingga kini menarik pajak masyarakat yang menggarap lahan tersebut melalui SPPT.
Kesimpulan
Dua sumber penyebab utama timbulnya klaim masyarakat, perubahan kebijakan dan peristiwa politik serta peranan lembaga pemerintah, tidak terlepas dari ketidakkonsistenan dan ketidakjelasan sikap pemerintah dalam memberikan akses pada kawasan hutan konservasi. UU No. 5 tahun 1990, PP No. 68 tahun 1997 dan SK Menteri Kehutanan P 19 tahun 2004 serta SK Menteri Kehutan P 56 tahun 2006 sebenarnya memberikan peluang bagi masyarakat untuk mengakses kawasan hutan konservasi. Namun, sangat disayangkan bahwa pemerintah tidak dapat bersikap seberapa jauh masyarakat dapat mengakses hutan konservasi tersebut. Selain itu pula, seluruh aturan kebijakan konservasi tidak memuat sama sekali mekanisme penyelesaian konflik yang bersifat tumpang tindih klaim penguasaan tanah. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah enggan untuk bernegosiasi dalam penguasaan tanah hutan. Selama pemerintah menunjuk dan menetapkan kawasan hutan, maka pemerintah berhak mengelola dan mengalokasikan peruntukkan kawasan hutan tersebut tanpa peduli bahwa kawasan hutan tersebut masih memiliki masalah klaim-klaim penguasaan tanah dari masyarakat sekitar. Sejak kawasan hutan ini ditunjuk pada tahun 2003, pemerintah masih abai atas permasalahan ini tanpa melihat bahwa kondisi ini bukan hanya berdampak kepada penurunan kualitas sumber penghidupan masyarakat, tapi juga memperburuk pengelolaan taman nasional itu sendiri.
kawasan hutan dan bukan kawasan hutan yang seharusnya dapat menjadi tanah milik masyarakat. 2. Peranan Lembaga Pemerintahan
Seperti yang disampaikan di atas, lembaga pemerintah
Bagus Priatna, 2008. Pal Batas Lahan Kehutanan (kini taman nasional) dengan
1) Tim Penaskah Reformulasi terdiri dari:Warsito, Taryono, Sunarto, Rasna, Endang, Erpan, Engkos, Anton, Waremtahu, Nurka Cahyaningsih dan Gamal Pasya. Komposisi tim merupakan
perwakilan dari Dinas Kehutanan, penyuluh, kelompok tani, LSM Watala dan ICRAF. Tim Kerja disahkan oleh Surat Keputusan Kepala Dinas Kehutanan Lampung Barat melalui SK Kadishut no.522/65/Kpts/III.05/2007, Desember 2007.
2) Kedua kebijakan lokal tersebut merupakan Perangkat Panduan Monitoring dan Evaluasi HKm Lampung Barat
3) Sebanyak 5 kelompok lain telah berstatus izin definitif, dan tetap membutuhkan perangkat kebijakan tersebut untuk evaluasi reguler setiap 5 tahun.
Latar Belakang
Kebijakan Hutan Kemasyarakatan (HKm), merupakan kebijakan yang melibatkan masyarakat sekitar hutan sebagai pelaku utama untuk turut serta mengelola hutan , telah diimplementasikan di Lampung Barat sejak tahun 1999. Melalui payung hukum Surat Keputusan (SK) Menteri Kehutanan No. 31/Kpts-II/2001, telah dikeluarkan ijin terhadap sekitar 31 kelompok tani HKm yang tersebar di 5 Kecamatan (Sumberjaya, Way Tenong, Gedung Serian, Belalau, dan Bengkunat) di Lampung Barat. Surat Keputusan tersebut pada Desember 2007 mengalami revisi menjadi Permenhut 37/Menhut- II/2007, dan secara otomatis sudah tidak berlaku lagi. Permenhut No.37/Menhut-II/2007 kemudian menjadi landasan dikeluarkannya ijin definitif bagi 5 kelompok HKm di Lampung Barat, setelah dilakukan evaluasi terhadap kelompok- kelompok tersebut.
Masalah
Berdasarkan payung hukum SK Menhut No. 31/Kpts-II/2001, Pemerintah Kabupaten Lampung Barat telah mengeluarkan 2 (dua) buah peraturan teknis yang digunakan sebagai panduan implementasi HKm di Lampung Barat,
2)
yaitu SK Bupati Lampung Barat No. 11/2004 dan Peraturan Bupati Lampung Barat No. 225/2006 .
Terkait dengan direvisinya SK Menhut No. 31/2001 menjadi Permenhut No.37/2007, terdapat sejumlah perubahan substansi yang berimplikasi terhadap 2 (dua) peraturan teknis yang telah dikeluarkan oleh Bupati Lampung Barat. Maka perlu untuk melakukan reformulasi terhadap dua kebijakan Bupati Lampung Barat tersebut.
HKm Lampung Barat dan Kebutuhan Perangkat Evaluasi
Sebagaimana diketahui, Departemen Kehutanan c/q Ditjen Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial (RLPS) melakukan percepatan pemberian izin HKm untuk kelompok kelompok HKm se Indonesia. Dalam proses percepatan tersebut, ditargetkan bahwa pada tahun 2009 akan diberikan areal pengelolaan HKm sebesar 400.000 ha, dan seluas 2,1 juta Ha pada tahun 2015. Dari sejumlah 400.000 ha tersebut, Propinsi Lampung direncanakan akan menyumbang seluas 85.280,21 Ha. Besaran angka tersebut merupakan gabungan total luasan areal kerja Hkm di beberapa Kabupaten se Propinsi Lampung.
Di Kabupaten Lampung Barat, sampai dengan sekarang terdapat 31 kelompok HKm dengan areal kerja seluas 28.759,9 Ha. Dari kelompok-kelompok tersebut sebanyak 26 kelompok masih berstatus ijin sementara dan sedang bersiap
3)
dievaluasi guna mendapatkan peningkatan status menjadi ijin definitif . Belum lagi, sejumlah proposal permohonan izin yang diajukan kepada Bupati Lampung Barat, yang masih dalam proses di Dinas Kehutanan dan memerlukan dukungan Sumber Daya Manusia dan Dana. Revisi penyempurnaan kedua peraturan tersebut yang akan digunakan sebagai perangkat evaluasi menjadi kebutuhan yang essensial bagi penyelenggaraan HKm Kabupaten Lampung Barat, terutama untuk mendukung percepatan penyelenggaraan HKm di Tingkat Nasional.
1)
Dari serial lokakarya yang dilakukan, terdapat beberapa perubahan substansi termasuk kritik, masukan dan saran. Perdebatan substansi perubahan tersebut diyakini diperoleh atas proses implementasi kebijakan HKm di Lampung Barat selama ini. Berikut dapat dilihat gambaran proses perubahan tersebut dari masing-masing tahapan, sebagai bahan pembelajaran bersama.
Lokakarya Seri I (28 Mei 2008):
Pada lokakarya seri I , perubahan-perubahan yang terjadi lebih ke arah penyesuaian kata; menghapus peraturan lama yang tidak perlu atau tidak berlaku lagi; menambah dengan beberapa peraturan baru yang berlaku sesuai dengan substansi kebijakan yang dibuat; antara lain :
1. Beberapa peraturan yang dihapus karena sudah tidak berlaku lagi adalah Undang-Undang (UU) nomor 22/1999 , Peraturan Pemerintah (PP) no. 34/2002 , PP 62/98, PP 25/2000 dan Surat Keputusan (SK) Menteri Kehutanan no 31/Kpts- II/2001, dan sebagai pengganti dari beberapa peraturan yang dihapus tersebut adalah mencantumkan penggantinya antara lain : UU nomor 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah, Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) no. 3/2005 tentang Perubahan atas UU no.32/2004 tentang Pemerintahan Daerah, memasukkan PP 38/2007, PP 6/2007, dan P.37/Menhut-II/2007.
2.Melakukan penggantian kata-kata menyesuaikan dengan istilah yang ada pada P.37, seperti : - Menyesuaikan kata Badan Hukum
- Mengganti seluruh istilah 'areal kelola' menjadi 'areal kerja'
- Program jangka pendek, menengah dan panjang menjadi Rencana Kerja Umum (RKU) dan Rencana Kerja Operasional (RKO), seperti pada pasal 12, ayat (1)
- Mengganti semua nama Dinas Kehutanan dan Pengelolaan Sumber Daya Alam menjadi Dinas Kehutanan , karena nama Satker tersebut pada jajaran Pemerintah Daerah Lampung Barat berubah menjadi Dinas Kehutanan saja. 3.Pasal 7, menambahkan ayat (3), yang berbunyi 'Untuk IUPHHK bagi kelompok yang mengelola di kawasan Hutan Produksi
harus berbentuk Badan Hukum'
Penambahan ayat tersebut berguna untuk mempertegas status kelompok yang beraktivitas di Hutan Produksi. Karena kelompok tersebut diizinkan untuk memanfaatkan kayu, maka berdasarkan PP6/2007, pasal 92 dan P.37/Menhut- II/2007, Pasal 21, ayat (1), izin pemanfaatan hasil hutan kayu tersebut akan diberikan pada kelompok yang telah berstatus koperasi/badan hukum. Mengacu kepada PP tersebut, di Lampung Barat terdapat satu kelompok HKm yang beraktivitas di kawasan Hutan Produksi
4.Pasal 12 menambahkan ayat (8), yang berbunyi 'mekanisme pemanfaatan kayu pada HKm yang berada di hutan produksi'. Alasan penambahan ayat tersebut karena sebelumnya ketika masih mengacu pada SK 31/Kpts-II/2001, belum ada hal yang mengatur bahwa HKm diizinkan di kawasan Hutan Produksi, tetapi kemudian PP 6/2007, pasal 92, menyatakan bahwa HKm diizinkan di hutan produksi, sebagaimana penjelasan pada item (3) sebelumnya. Maka perlu untuk menambahkan ayat tersebut untuk mengakomodir mekanisme pemanfaatan kayu oleh kelompok HKm tersebut.
5.Pasal 22, ayat (1), bagian b, menghapus kata 'papan'. Kemudian ayat (1), bagian c, dihapus.
Pada peraturan yang lama, ayat ini mengatur bahwa pemanfaatan kayu oleh kelompok HKm di Lampung Barat di ijinkan, sepanjang untuk kebutuhan subsisten. Ayat ini dibuat, dengan alasan walaupun HKm beraktivitas di Hutan Lindung, tetapi dengan logika, jika masyarakat yang menanam tentunya boleh menikmati, sepanjang pemanfaatannya diatur dan hanya untuk kebutuhan subsisten.
Tetapi pada proses reformulasi terjadi perdebatan bahwa sebaiknya dihapus, karena PP.6/2007 yang menjadi salah satu acuan kebijakan pemanfaatan hutan ternyata tidak mengatur pemanfaatan kayu di hutan lindung. Beberapa
pihak masyarakat menginginkan pengaturan tersebut tetap ada, dengan pertimbangan adanya kebutuhan kayu lokal, dan pemanfaatan hak atas apa yang telah mereka lakukan (penanaman). Dari pihak pemerintah mengkhawatirkan jika ayat tersebut tetap dicantumkan, akan terjadi kesalahan karena payung hukumnya belum ada. Pencantuman pada peraturan lama merupakan sebuah kebijakan affirmative Pemerintah Daerah Lampung Barat.
Berdasarkan hasil diskusi dan kesepakatan Tim kerja, ayat ini kemudian dihapus.
6.Pasal 26, ayat (2) bagian a, ditambahkan bahwa salah satu mekanisme evaluasi dan monitoring juga dapat melalui
pelaporan oleh kelompok.
Bagian ini ditambahkan menyesuaikan dengan P.37/Menhut-II/2007, pasal 31, ayat (1). Disepakati Dinas Kehutanan akan bertanggung jawab membuat format pelaporan.
Pada pasal 26, ayat (5), menambahkan menjadi bagian b, yang berbunyi : 'Untuk yang berijin definitif, paling lambat 3 tahun sebelum ijin definitif berakhir melaporkan kepada Dinas Kehutanan untuk menentukan dan memperpanjang masa ijin'
Bagian ini ditambahkan menyesuaikan dengan P.37/Menhut-II/2007, pasal 32. Perlu dijelaskan bahwa dalam pemberian izin HKm, Pemerintah Daerah Lampung Barat menerapkan kebijakan lokal yakni pemberian izin bertahap, dimulai dari izin sementara (masa 5 tahun) dan dilanjutkan izin definitif (35 tahun). Peraturan yang lama masih mengatur mekanisme izin sementara, belumada untuk izin definitif. Penambahan bagian b pada ayat (5) pasal 26 tersebut, mengatur mekanisme izin definitif.
Lokakarya Seri II (25 Juli 2008):
Beberapa perubahan yang terjadi pada lokakarya seri II adalah : 1. Menyempurnakan ayat (3), pada pasal 7, yang berbunyi :
' Bagi kelompok HKm di wilayah Hutan Produksi, untuk IUPHHK harus berbentuk Badan Hukum dalam jangka waktu minimal 10 tahun setelah mendapatkan IUPHKm'
Mengacu pada PP nomor 6/2007, tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, serta Pemanfaatan Hutan, pasal 92, yang menyatakan bahwa kegiatan Hutan Kemasyarakatan (HKm)dapat dilakukan di kawasan Hutan Produksi dan Hutan Lindung. Sebagaimana yang telah dibahas pada lokakarya seri I, bahwa di Lampung Barat terdapat satu kelompok HKm yang berkegiatan di kawasan Hutan Produksi, dan telah mendapatkan ijin sementara selama 5 tahun. Maka Peraturan Bupati ini diharapkan dapat mengakomodir kebutuhan kelompok HKm di Kawasan Hutan Produksi.
Pada P.37/Menhut-II/2007, Pasal 20, mensyaratkan bentuk koperasi/badan hukum untuk IUPHHK dalam jangka waktu 5 tahun setelah mendapat ijin HKm. Tetapi, pada Peraturan Bupati Lampung Barat tim kerja bersepakat untuk mencantumkan minimal 10 tahun, dengan alasan, bahwa : pengertian status koperasi/badan hukum kelompok untuk keperluan izin pemanfaatan kayu di Hutan Produksi. Berdasarkan pertimbangan, pada kondisi iklim Lampung Barat, pohon kayu baru layak dipanen (kelayakan diameter) setelah berusia minimal 10 tahun. Usia 5 tahun dianggap terlalu dini, dikhawatirkan akan terjadi over logging.
2. Pasal 10, ayat 5, yang berbunyi 'Areal kerja kelompok agar dipetakan dan dilakukan secara partisipatif melibatkan anggota kelompok dan pihak yang berwenang'.
Terjadi perdebatan pada tim kerja mengenai makna kata “partisipatif”. Terdapat interpretasi yang berbeda antara perwakilan penyuluh dan perwakilan kelompok masyarakat. Para penyuluh lebih melihat kepada keabsahan peta areal kerja HKm. Menurut mereka, peta (dalam bentuk apapun) yang sah adalah peta yang dibuat oleh pihak yang berwenang dalam hal ini adalah instansi resmi pemerintah yang membidangi urusan kehutanan dan perpetaan , contoh : dinas kehutanan. Dan, menganggap peta partisipatif yang dibuat oleh kelompok masyarakat tidak sah, karena dibuat oleh pihak yang tidak berwenang. Di sisi lain, representasi kelompok masyarakat menyatakan bahwa , peta areal kerja HKm yang diusulkan kelompok kepada Bupati merupakan peta yang sah dengan proses pembuatan yang partisipatif (dalam konteks melibatkan semua pihak termasuk petani HKm, dan diketahui oleh aparat desa dan
Kepala Dinas Kehutanan).
Mengacu kepada P.37/Menhut-II/2007, pasal 8, ayat (2), yang menjelaskan bagian mengenai Tata Cara Penetapan Areal Kerja HKm, sebagai berikut : 'permohonan sebagaimana dimaksud ayat (1) dilengkapi dengan sketsa areal kerja yang dimohon dan Surat Keterangan Kelompok yang memuat data dasar kelompok masyarakat dari Kepala Desa'
Turunan P.37/Menhut-II/2007, pada bagian tata cara penetapan areal kerja HKm, lebih jelas menjabarkan bahwa permohonan ijin oleh kelompok kepada Bupati dilakukan dengan melampirkan peta yang berupa peta sketsa. Berdasarkan permohonan kelompok HKm, Pemerintah Daerah mengusulkan areal kerja HKm kepada Menteri Kehutanan, dalam bentuk peta digitasi. Peta usulan Pemda tersebut kewajiban pemenuhannya merupakan tanggung jawab Pemerintah Daerah.
Perdebatan yang menyangkut cara dan kewenangan pembuatan peta tersebut selalu menjadi polemik dan bahan perdebatan di tingkat lapang. Penjelasan dari turunan P.37/Menhut-II/2007 cukup jelas untuk menggambarkan kewenangan masing-masing pada setiap tahapan dan proses.
3. Pasal 12, ayat (1) , menyempurnakan menjadi 'Kelompok wajib memiliki Rencana Kerja Umum dan Rencana Kerja Operasional yang dituangkan dalam Program Kerja minimal terdiri atas Jangka Pendek Setahun dan Jangka Menengah Lima Tahun, dan Jangka Panjang 35 tahun'
Pasal ini dibuat menyesuaikan dengan P.37/Menhut-II/2007. Pada Kebijakan HKm sebelumnya yakni SK 31/Kpts- II/2001, yang tercantum adalah program jangka pendek dan panjang, sedang pada P.37/Menhut-II-2007, pasal 27, ayat (2) berganti menjadi kelompok diharuskan membuat Rencana Umum dan Rencana Operasional.
4. Menyempurnakan pasal 26, ayat 5, bagian a, b, dan c, mengenai hal-hal yang mengatur mekanisme monitoring dan evaluasi pada kelompok.
Mengacu kepada P. 37/Menhut-II/2007, pasal 32, bahwa untuk kelompok yang telah mendapatkan ijin definitif , ketika ijin hampir berakhir diharuskan meminta dievaluasi minimal 3 tahun sebelum ijin berakhir. Item tersebut belum di akomodir pada kebijakan yang lama.
Lokakarya Seri III (28 Agustus 2008) :
Perubahan-perubahan yang terdapat pada Lokakarya Seri III ini adalah sebagai berikut :
1. Pada pasal 5, ayat (2), yang mengatur ruang lingkup kegiatan HKm Lampung Barat, jika pada peraturan sebelumnya terdapat 3 kriteria yaitu : kelembagaan, tehnik konservasi dan dampak kegiatan, maka pada peraturan baru ini ketiga kriteria tersebut diganti menjadi : kriteria sosial, ekologis dan ekonomi. Hal tersebut menyesuaikan dengan P.37/Menhut-II/2007, pasal 2 , ayat 1, bagian a, yang menyatakan bahwa 'penyelenggaraan Hutan Kemasyarakatan berazaskan manfaat dan lestari secara ekologi, ekonomi, sosial dan budaya'.
Maka untuk seterusnya, pada panduan yang baru, kata-kata kriteria kelembagaan, kriteria tehnik konservasi dan kriteria dampak kegiatan berubah menjadi kriteria sosial, kriteria ekologis dan kriteria ekonomis.
2. Pasal 7, yang sebelumnya mengatur tentang bentuk kelompok di hapus, dan dianggap sudah tidak relevan dengan kondisi dan perkembangan kelompok di lapangan.
Unsur-unsur pada pasal 7, ayat (1) dan (2), yang mengharuskan adanya nama dan alamat sekretariat dan masyarakat yang bernaung di dalam kelompok harus berbentuk organisasi petani pengelola HKm, merupakan hal yang pokok dalam kelembagaan kelompok tani HKm. Oleh karena itu, asumsi yang dipakai adalah semua kelompok pasti memenuhi unsur-unsur tersebut.
Kemudian, ayat (3) juga turut dihapus, melalui pertimbangan sesuai dengan P.37/2007, pasal 21, ayat (5), yang memberi IUPHHK kepada kelompok adalah kewenangan Gubernur, bukan menjadi kewenangan Bupati. Peraturan ini dibuat sebagai Peraturan Bupati, jadi Bupati tidak ada kewenangan untuk memasukkan aturan tersebut dalam sebuah Peraturan Bupati.
Atas pertimbangan-pertimbangan di atas, maka kriteria Bentuk kelompok dihapus. Setelah pasal 7 dihapus, maka otomatis pasal 8 berubah menjadi pasal 7, dan seterusnya menyesuaikan.
3. Pasal 12, ayat (8), yang dimunculkan sebagai hasil pada lokakarya seri I, pada lokakarya seri III ini dihapus kembali. Pertimbangannya adalah, mengacu kepada P.37/2007, pasal 21, ayat (5), Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu HKm (IUPHHK HKm) diberikan oleh seorang Gubernur, dan dalam pelaporan pertanggungjawaban, kelompok penerima ijin melapor kepada pemberi ijin, dalam hal ini adalah Gubernur (P.37/2007, Pasal 26, bagian f). Sebagaimana diketahui, Peraturan ini adalah Peraturan Bupati, dan seperti yang disebutkan terdahulu Bupati tidak memiliki kewenangan untuk mengatur pemanfaatan kayu. Artinya mekanisme tersebut tidak dapat diakomodir dalam peraturan ini. Maka, mekanisme pemanfaatan kayu pada peraturan ini di hapus kembali.
4. Menyempurnakan dan menambahkan pada Pasal 11, kalimat yang diletakkan pada ayat (1) dan ayat (2), sebagai berikut :
1. Kelompok wajib memiliki Rencana Kerja Umum (RKU) dan Rencana Kerja Operasional (RKO) :
Rencana Kerja Umum berlaku selama 35 tahun , yang memuat penataan hutan yang meliputi penataan batas areal kerja dan penataan batas areal kerja masing-masing anggota kelompok, rencana penanaman, rencana pemeliharaan, rencana pemanfaatan, rencana perlindungan
Rencana Kerja Operasional kelompok berlaku selama 1 tahun, yang memuat : rencana umum secara rinci dan target yang akan dicapai.
2. Untuk menjamin keterkaitan RKO terhadap RKU, maka kelompok diharapkan membuat target kerja lima tahunan berisi hal-hal yang ingin dicapai setiap 5 tahun
5. Pasal 13, bobot total penilaian indikator kriteria sosial berubah menurun menjadi 35 %.
Pembahasannya adalah, perubahan pada pasal ini merupakan implikasi dari dihapusnya Pasal 7, tentang Bentuk Kelompok. Maka point penilaian kriteria bentuk kelompok sebesar 5% juga turut dihapus, sehingga terjadi pengurangan pada akumulasi bobot nilai total indikator kriteria sosial, yang sebelumnya berjumlah 40% menjadi 35%. 6. Pasal 18, ayat (1) berubah, Bobot penilaian indikator rehabilitasi pada blok budidaya yang berupa lahan terbuka, sebesar 25%.
Meningkat 5% dari yang sebelumnya hanya 20%.
Alasan perdebatan adalah : jika kembali kepada definisi lahan terbuka adalah lahan di kawasan hutan negara yang secara fisik sudah dan/atau hampir tidak memiliki tutupan pohon serta memerlukan upaya rehabilitasi melalui kegiatan pengelolaan blok budidaya HKm oleh kelompok yang telah memiliki ijin. Dan kelompok melakukan tutupan lahan tersebut dengan kaidah-kaidah konservasi.
Maka upaya yang dilakukan oleh kelompok HKm tersebut perlu diapresiasi dengan memperbesar bobot pada kegiatan tersebut.
7. Menambahkan Pasal Baru, yaitu Pasal 25 yang berbunyi : ”Format penghitungan skor dan bobot kriteria dan indikator monitoring dan evaluasi pelaksanaan program HKm terlampir di dalam Peraturan Bupati ini”
Dengan ditambahkannya pasal baru, pasal 25, maka pasal 25 lama berubah menjadi pasal 26, dan seterusnya mengikuti.
8. Menambahkan pada Pasal 26, ayat (4), bahwa 'Penyelenggaraan Lomba pelaksanaan HKm se kabupaten Lampung Barat ditujukan untuk mendorong peningkatan kualitas HKm dan biayanya dibebankan kepada APBD kabupaten Lampung Barat dan atau sumber lain yang tidak mengikat'
Menambahkan pasal 26, ayat (7) dan ayat (8) :
(7)Pelaporan pelaksanaan rencana kerja operasional dibuat oleh Kelompok dan ditujukan kepada Dinas/instansi kabupaten Lampung Barat yang menangani sektor kehutanan , setiap tahun.
selanjutnya oleh Dinas Kehutanan Kabupaten Lampung Barat
9. Menambahkan pada Pasal 27, ayat (d), (e), (f) menjadi :
Monev dapat berupa:
a. Pertemuan-pertemuan internal kelompok, pertemuan gabungan di tingkat kawasan, pertemuan multi pihak dan multi tataran.
b. Pengamatan dan pembuktian di tingkat hamparan kelompok c. Kunjungan silang antar kelompok pengelola HKm
d. Pelaporan oleh Kelompok
e. Lomba pelaksanaan HKm se Lambar
f. Monev 5 tahunan untuk menetapkan kelayakan kelompok untuk memperoleh ijin definitif g. Evaluasi oleh pihak independen yang disepakati oleh para pihak
10. Pada Pasal 27, menambahkan 'bahwa dengan ditetapkannya Peraturan Bupati ini maka, SK Bupati no 11/2004 dan Perbup no 225/2006 dinyatakan tidak berlaku lagi’
Lokakarya Seri IV/Ujicoba (27- 29 Nopember 2008) :
Pada lokakarya seri ini, dilakukan uji coba terhadap draft III yang telah dihasilkan melalui tiga seri lokakarya sebelumnya. Lokakarya ujicoba bertujuan untuk melakukan uji coba terhadap draft peraturan tersebut guna mendapatkan masukan, koreksi, saran, perbaikan substansi aktual dari hasil implementasi ujicoba di lapang.
Perangkat uji coba menggunakan panduan kriteria dan indikator HKm yang telah diberi skoring dan bobot. Perangkat tersebut akan menjadi lampiran 1 dari Peraturan Bupati ini, sebagaimana dinyatakan pada pasal 25, draft III Peraturan Bupati.
Ujicoba dilakukan selama 3 hari, dengan perincian kegiatan :
- hari pertama, merupakan pembekalan terhadap tim yang melakukan ujicoba, agar memiliki interpretasi yang sama terhadap substansi draft dan perangkat panduan skoring dan bobot penilaian
- hari kedua, pengambilan data lapang, baik kriteria sosial, ekologi dan ekonomi - hari ketiga, perhitungan nilai dan diskusi atas temuan yang didapat selama ujicoba
Beberapa perubahan terhadap panduan skoring dan bobot kriteria dan indikator HKm, berdasarkan masukan dari ujicoba dapat dilihat sebagai berikut :
1. Bab II, Kriteria Keanggotaan Kelompok, cara verifikasi poin 3 b, menambahkan /mencantumkan angka 30% di depan kata 'sebagian kecil' masyarakat yang tidak memiliki KTP. Pada peraturan yang lama angka tidak dicantumkan, sehingga dapat menimbulkan beda penafsiran nilai untuk kalimat sebagian kecil. Dengan menambahkan angka 30%, maka nilai 'sebagian kecil' dapat terukur.
2. Bab 8, kriteria zona pemanfaatan pada lahan berupa kebun, point 1
Menambah kata merata, sesudah kata penyebaran, sehingga kalimat jadi berbunyi : 'Jumlah tanaman tajuk tinggi dan sedang lebih dari 400 batang/ha dengan penyebaran merata di masing-masing lahan anggota kelompok'
Makna penambahan kata merata (penyebaran merata), dimaksudkan agar pola tanam yang dilakukan oleh anggota kelompok pada masing-masing lahan dilakukan menyebar merata di lahan, dengan jarak tanam yang teratur dan