Keberadaan LKM/BKM di tingkat kelurahan/desa mengemban misi untuk membangun kapital sosial dengan menumbuhkan kembali nilai-nilai kemanusiaan, ikatan-ikatan sosial dan menggalang solidaritas sosial sesama warga agar saling bekerjasama demi kebaikan, kepentingan dan kebutuhan bersama serta pada gilirannya akan memperkuat keswadayaan masyarakat warga.
Rembug Warga Tahunan perlu untuk dilakukan masyarakat dalam rangka menjamin tegaknya supremasi masyarakat sipil yaitu tetap mempunyai ruang publik untuk memperjuangkan aspirasinya, menyelesaikan, memecahkan, permasalahan sendiri secara bebas demi terwujudnya kesejahteraan sosial.
Selain itu untuk kepentingan mewujudkan sebuah tatanan masyarakat berdaya (civil society) yang ditandai dengan semakin mandirinya lembaga masyarakatnya untuk mengemban amanah dalam melaksanakan program penanggulangan kemiskinan yang diamanahkan oleh masyarakat. Semakin melembaganya kontrol sosial masyarakat terhadap pengambilan dan pelaksanaan kebijakan dari kelembagaan yang ada dimasyarakat, sehingga bisa dijamin kemanfaatannya optimal bagi kepentingan warga miskin.
Untuk mengetahui kinerja LKM/BKM dalam mengemban misinya maka diperlukan sebuah mekanisme kontrol dari masyarakat selaku pihak pemberi amanah kepada LKM/BKM selaku pengemban amanah yang dilakukan dalam sebuah forum resmi pertanggunjawaban. Forum inilah yang kemudian disebut dengan istilah Rembug Warga Tahunan (RWT).
RWT merupakan sebuah kegiatan yang penting untuk dilaksanakan oleh masyarakat warga karena beberapa alasan tertentu sebagai berikut:
a. Keberadaan LKM/BKM merupakan prakarsa dan inisiatif warga sehingga berhasil dibangun dan difungsikan sebagai lembaga yang menjadi motor untuk membangun kepedulian dan memanfaatkan segenab potensi yang ada di masyarakat untuk upaya penanggulangan kemiskinan.
b. Sebagai wujud lembaga yang terbuka dan menerapkan prinsip-prinsip; transparansi, demokrasi, partisipasi, akuntabilitas maka LKM/BKM diharapkan mampu secara optimal menyerap dan mengakomodasi aspirasi dan kebutuhan masyarakat sehingga partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan tentang pembangunan akan terus meningkat dan tumbuh secara alamiah.
yang telah diberikan dan diterima sehingga semakin memperkuat modal sosial dan penerapan prinsip keterbukaan (transparansi) dan tanggung gugat(akuntabilitas) dimasyarakat.
e. Masyarakat Warga dan LKM/BKM terus berupaya membangun kepercayaan yang semakin luas kepada pihak lain; baik pemerintah maupun swasta hingga terjalinnya kerjasama, hal ini sekaligus sebagai bukti nyata kemampuan untuk mengakses sumberdaya dari pihak luar untuk program penanggulangan kemiskinan.
f. Masyarakat Warga dan LKM/BKM semakin mampu merencanakan, menyusun, melaksanakan dan mengevaluasi program penanggulangan kemiskinan secara optimal, efektif dan berkelanjutan, sehingga bisa menjamin kemanfaatannya bagi kelompok sasaran yaitu keluarga miskin.
g. Pelaksanaan RWT oleh masyarakat secara rutin, tepat waktu, produktif merupakan salah satu indikasi semakin tumbuhnya kesadaran kritis masyarakat akan arti pentingnya keberadaan BKM/LKM sebagai lembaga sosial yang diprakarsai oleh masyarakat untuk melakukan usaha penanggulangan kemiskinan ditingkat kelurahan/desa.
2 Apa Yang Menjadi Syarat-Syarat RWT?
LKM/BKM sebagai lembaga yang memiliki legitimasi kuat di masyarakat kelurahan/desa karena pimpinan kolektifnya dipilih secara langsung melalui pemilu, maka konsekuensinya adalah pertanggungjawaban BKM juga berpulang kepada masyarakat pula. Mekanisme kerja LKM/BKM selanjutnya ditetapkan dan termaktub dalam Anggaran Dasar (AD) BKM.
Selanjutnya ditangan masyarakatlah parakarsa pelaksanaan serangkaian kegiatan penanggulangan kemiskinan berada, masyarakat warga termasuk didalamnya BKM/LKM bertanggungjawab sepenuhnya untuk melaksanakan beragam kegiatan program pembangunan, dan kegiatan kelembagaan LKM/BKM, termasuk didalamnya tentang Rembug Warga Tahunan (RWT).
Jadi RWT sepenuhnya merupakan bagian dari program kegiatan masyarakat warga kelurahan/ desa, oleh karenanya dalam masa pelaksanaan tugas satu tahun kegiatan maka kegiatan RWT dijadikan kegiatan rutin penutup tahun. Semua hasil pelaksananan kegiatan yang telah dilakukan oleh BKM/LKM bisa dimintakan pertanggung jawabanya .
Sebelum melaksanakan kegiatan RWT maka ada beberapa syarat-syarat yang harus terlebih dahulu dipenuhi oleh masyarakat warga dan BKM/LKM antara lain:
a. BKM/LKM telah resmi dibentuk oleh masyarakat warga dalam sebuah rembug pembentukan BKM/LKM dan secara resmi pula telah dicatatkan pula ke notaris. (untuk wilayah Lokasi baru).
b. BKM/LKM telah menyelesaikan kegiatan Tinjauan Partisipatif yang dibuktikan dengan adanya dokumen hasil tinjauan partisipatif yang memuat antara lain: pengelolaan keuangan, pelaksanaan program pembangunan (renta/ PJM Pronangkis), kinerja kelembagaan LKM/BKM (untuk lokasi lama).
c. BKM/LKM telah menyelesaikan audit independent dan dibuktikan dengan adanya laporan hasil audit.
Apabila syarat diatas sudah dipenuhi maka warga masyarakat sebuah kelurahan/ desa sudah bisa melakukan serangkaian kegiatan RWT pada setiap akhir tahun.
3 Kapankah harus dilakukan RWT?
RWT bukan merupakan kegiatan yang terpisah dan berdiri sendiri, namun bisa ditegaskan bahwa RWT merupakan bagian dari kegiatan yang telah dicanangkan dalam program Warga kelurahan/ desa. Rembug Warga Tahunan dilaksanakan secara rutin setiap tahun, tepatnya pada bulan Desember.
Untuk dapat melaksanakan RWT diakhir tahun maka BKM/LKM sudah harus juga mempunyai rencana kerja yang didalamnya juga memuat rencana pelaksanaan kegiatan RWT. Hal ini dimaksudkan agar kegiatan RWT telah dijadikan bagian dari program masyarakat yang juga masuk dalam Anggaran Dasar (AD) BKM/LKM.
4 Apa saja agenda dalam RWT?
Berdasarkan pada pedoman pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan 2009, Bab IV tentang kegiatan di masyarakat (hal 26), menjelaskan bahwa kegiatan dimasyarakat dibagi menjadi; siklus I, siklus 2, dan siklus 3, dan siklus 4. Dari semua jenis siklus tersebut diakhiri dengan pelaksanaan kegiatan RWT pada bulan Desember.
Karena perbedaan karakteristik kelurahan/desa yang menjadi lokasi pelaksanaan P2KP maupun PNPM MP serta menu pembelajaran yang sudah dilakukan oleh masyarakat warga maka agenda pelaksanaan RWT-nya juga berbeda pula.
Daftar agenda kegiatan RWT berdasarkan tahun siklusnya sebagai berikut: a. Agenda RWT tahun I (khusus lokasi baru)
i. Paparan tim Pemetaan Swadaya tentang hasil Lokakarya PS kelurahan
ii. Paparan tim Pembangunan LKM/BKM tentang hasil pelaksanaan kegiatan, tantangan dan kendala, rekomendasi.
iii.Penyampaian rencana kerja BKM/LKM setahun ke depan b. Agenda RWT tahun II :
i. Paparan Tim tinjauan partisipatif tentang hasil pelaksanaan Tinjauan Partisipatif ii. Laporan pertanggungjawaban LKM/BKM dan penetapannya
iii.Pembahasan dan Penetapan Anggaran Dasar BKM/LKM (bila ada perubahan) iv.Penetapan Renta PJM Untuk periode satu tahun kedepan.
iii.Pembahasan dan Penetapan Anggaran Dasar BKM/LKM (bila ada perubahan) iv.Penetapan Renta PJM Untuk periode satu tahun kedepan.
v. Penetapan Daftar Usulan Program Musrenbang (DUPM)
vi.Penyampaian rencana kerja BKM/LKM setahun ke depan termasuk rencana pelaksanaan siklus RK, PS, pemilihan ulang BKM/LKM, dan PJM Pronangkis.
d. Agenda RWT tahun IV: (masa bakti BKM 3 tahun selesai)
i. Paparan Tim tinjauan partisipatif tentang hasil pelaksanaan Tinjauan Partisipatif ii.Laporan pertanggungjawaban BKM/LKM dan penetapannya
iii. Pemilihan pimpinan kolektif LKM/BKM tingkat Kelurahan dan penetapannya iv. Pembahasan dan Penetapan Anggaran Dasar BKM/LKM
v. Penetapan PJM Pronangkis 3 tahun kedepan vi. Penetapan Renta PJM setahun kedepan.
vii. Penetapan Daftar Usulan Program Musrenbang (DUPM) e. Agenda RWT tahun V
Agenda kegiatan yang dilaksanakan dalam RWT untuk tahun V adalah: menggunakan kembali agenda yang sama dengan agenda pelaksanaan RWT tahun II, demikian pula seterusnya untuk agenda tahun ke VI agendanya sama dengan agenda pelaksanaan RWT tahun ke III. 5 Apa Yang Harus diperhatikan?
Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam pelaksanaan RWT:
a. Periode masa bakti BKM/LKM saat ini ada yang 2 tahun atau 3 tahun, hal ini tidak menjadi masalah karena keduanya juga dimungkinkan. Namun agar periode BKM/LKM sama dengan periodenya PJM Pronangkis maka masyarakat bisa mempertimbangkan periode masa bakti BKM/LKM menjadi 3 tahun.
b. Bentuk forum RWT adalah sebuah musyawarah (sidang) organisasi maka agenda kegiatan RWT diawali dengan sidang pembahasan dan penetapan tata tertib RWT yang didalamnya mengatur antara lain mengenai pemilihan pimpinan RWT, pimpinan sidang-sidang, mekanisme pengambilan keputusan dalam sidang, dll.
c. Daftar Usulan Program Musrenbang (DUPM) adalah program-program yang diambilkan dari menu di PJM Pronangkis untuk diusulkan pada musrenbang tingkat kelurahan/desa dan kecamatan. Karena daftar tersebut adalah usulan untuk kegiatan 2 tahun kedepan maka “tidak cukup” hanya kegiatan yang direncana tahunan seperti yang ada pada renta PJM Pronangkis setahun kedepan.
d. Apabila periode masa bakti BKM/LKM adalah dua tahunan maka agenda RWT tahun III ditambahkan agenda: Pemilihan pimpinan kolektif LKM/BKM tingkat Kelurahan dan penetapannya. Sedangkan untuk PJM Pronangkisnya, bila bertepatan dengan periode ke tiga maka agendanya adalah penetapan PJM pronangkis tiga tahun kedepan. Namun apabila bertepatan dengan tahun kesatu dan kedua periode PJM pronangkisnya maka agenda RWT-nya haRWT-nya menetapkan rencana tahunan saja.
e. Untuk agenda RWT yang periode tahunnya bertepatan dengan agenda pemilihan ulang pimpinan kolektif BKM maka agenda: penyampaian rencana kerja LKM/BKM bisa dilakukan oleh BKM terpilih pada waktu dan forum yang berbeda. Hal ini dikarenakan untuk memberi ruang dan waktu kepada BKM untuk menyusun agenda kerja tahunannya.
6 Dimanakah RWT dilakukan ?
BKM/LKM adalah kelembagaan tingkat kelurahan yang proses pembentukannya dilakukan oleh utusan masyarakat pada tingkat kelurahan/ desa, maka seyogyanya pelaksanaan RWT juga dilakukan pada tingkatan yang sama yaitu kelurahan/desa oleh para utusan masyarakat.
Untuk tempat pelaksanaan RWT dipersilahkan kepada BKM dan warga serta aparat kelurahan/ desa menentukannya. Beberapa hal bisa menjadi bahan pertimbangan dalam pemilihan tempat antara lain :
• kenyamanan, seperti aspek luas karena terkait daya tampung peserta
• Ketersediaan fasilitas minimal seperti tempat duduk dan pencahayaan yang baik. • kemudahan akses bagi peserta rembug seperti perempuan, orang tua, dan utusan dari
wilayah yang jauh (bila ada lokasi demikian).
Umumnya dilakukan di balai desa/ balai pertemuan warga, namun bila kelurahan/desa belum memiliki fasilitas ini maka tempat-tempat lain seperti ruang kelas sekolah bisa menjadi pilihan bagi masyarakat.
7 Darimana pembiayaan kegiatan RWT ?
Rembug Warga Tahunan merupakan rembug warga ditingkat kelurahan/desa, maka inisiasi kegiatan ini sepenuhnya bersumber pada kekuatan warga masyarakat, tentu termasuk didalamnya BKM. Dengan mempertimbangkan kemanfaatan RWT maka sudah sepatutnya pihak-pihak terkait juga berpartisipasi dalam pembiayaan kegiatan ini seperti lazimnya pada kegiatan masyarakat lainnya.
Beberapa pihak yang bisa menjadi sumber pembiayaan pelaksanaan Rembug Warga Tahunan (RWT) antara lain:
a. Swadaya Masyarakat, upaya penggalangan dana untuk kegiatan tahunan ini bisa dilakukan oleh BKM dan pelaku masyarakat yang lain.
b. BOP LKM/BKM, apabila LKM/BKM sudah berjalan maka sebagian BOP, atau penyisihan dari pendapatan bersih tahunan bisa dialokasikan untuk menujang kegiatan ini.
c. Sumbangan BOP dari APBD apabila sudah dianggarkan, atau sumbangan pelaksanaan kegiatan dari pemerintah desa atau kantor kelurahan.