Zona Berdasarkan Pola Ruang
Wilayah Kabupaten Deskripsi
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi
Ketentuan Umum Kegiatan Keterangan A. Kawasan Lindung
A1. Kawasan lindung yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya
a. Kawasan hutan lindung
Kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah
a. Pemanfaatan ruang untuk wisata alam tanpa merubah bentang alam;
b. Ketentuan pelarangan seluruh kegiatan yang berpotensi mengurangi luas kawasan hutan dan tutupan vegetasi; c. Pemanfaatan ruang kawasan
untuk kegiatan budidaya hanya diizinkan bagi penduduk dengan luasan tetap, tidak mengurangi fungsi lindung kawasan, dan dibawah pengawasan ketat; d. Penetapan dan penegasan batas
kawasan hutan lindung untuk menghindari konflik pemanfaatan ruang;
e. Penetapan batas kawasan hutan dilakukan secara terkordinasi sesuai ketentuan prundangan yang berlaku;
f. Sosialisasi batas kawasan hutan kepada masyarakat;
g. Pengaturan kembali secara bertahap penguasaan dan penggunaan tanah sesuai dengan fungsi lindung.
Kawasan hutan lindung seluas 6.715,88 Ha, yang terdiri atas:
kawasan hutan lindung di Kecamatan Bangkala dengan luas kurang lebih 3.536,03 Ha;
kawasan hutan lindung di Kecamatan Bangkala Barat dengan luas kurang lebih 1.467,45Ha;
kawasan hutan lindung di Kecamatan Bontoramba dengan luas kurang lebih 848,33 Ha;
kawasan hutan lindung di Kecamatan Kelara dengan luas kurang lebih 216,86 Ha; dan
kawasan hutan lindung di Kecamatan Rumbia dengan luas kurang lebih 647,21 Ha.
87 Zona Berdasarkan Pola Ruang
Wilayah Kabupaten Deskripsi
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi
Ketentuan Umum Kegiatan Keterangan
b. Kawasan resapan air:
Kawasan Resapan Air adalah kawasan yang mempunyai kemampuan tinggi untuk meresapkan air hujan sehingga merupakan tempat pengisian air bumi (akuifer) yang berguna sebagai sumber air.
a. Pemanfaatan ruang secara terbatas untuk kegiatan budidaya tidak terbangun yang memiliki kemampuan tinggi dalam menahan limpasan air hujan;
b. Penyediaan sumur resapan pada lahan terbangun yang sudah ada; dan
c. Penerapan prinsip zero delta Q policy terhadap setiap kegiatan budidaya terbangun yang diajukan izinnya.
kawasan resapan air di Kabupaten Jeneponto meliputi areal bagian atas selain kawasan hutan lindung dan suaka margasatwa dengan lereng di atas 45%.
A2. Kawasan perlindungan setempat
a. kawasan sempadan pantai;
Sempadan pantai adalah
kawasan sepanjang pantai yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi pantai.
Ketentuan:
a. daratan sepanjang tepian laut dengan jarak minimal 100 meter dari titik pasang air laut tertinggi ke arah darat; atau
b. daratan sepanjang tepian laut yang bentuk dan kondisi fisik pantainya curam atau terjal dengan jarak proporsional terhadap bentuk dan kondisi fisik pantai. Kawasan sempadan pantai terdapat di pesisir kecamatan Bangkala Barat, Kecamatan Bangkala, Kecamatan Tamalatea, Kecamatan Binamu, Kecamatan Arungkeke, Kecamatan Batang, dan
88 Zona Berdasarkan Pola Ruang
Wilayah Kabupaten Deskripsi
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi
Ketentuan Umum Kegiatan Keterangan Pemanfaatan:
a. Pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau;
b. Pengembangan struktur alami dan struktur buatan untuk mencegah abrasi;
c. Pendirian bangunan yang dibatasi hanya untuk menunjang kegiatan rekreasi pantai;
d. Ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada huruf c; dan
e. Ketentuan pelarangan semua jenis kegiatan yang dapat menurunkan luas, nilai ekologis, dan estetika kawasan.
Kecamatan Tarowang,
b. kawasan sempadan sungai;
Sempadan sungai adalah kawasan sepanjang kiri kanan sungai, termasuk sungai buatan/kanal/ saluran irigasi primer, yang mempunyai manfaat penting untuk
mempertahankan fungsi sungai.
d. daratan sepanjang tepian sungai besar tidak bertanggul diluar kawasan permukiman dengan lebar 100 (seratus) meter dari tepi sungai;
e. daratan sepanjang tepian anak sungai tidak bertanggul diluar kawasan permukiman dengan lebar paling sedikit 50 (lima puluh) meter dari tepi sungai; dan
f. untuk sungai dikawasan permukiman berupa sempadan sungai yang diperkirakan cukup untuk dibangun jalan inspeksi antara 10 – 15 meter.
Pemanfaatan:
a. Pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau;
Kawasan sempadan sungai terdapat di sungai-sungai besar dan kecil
89 Zona Berdasarkan Pola Ruang
Wilayah Kabupaten Deskripsi
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi
Ketentuan Umum Kegiatan Keterangan b. Ketentuan pelarangan
pendirian bangunan kecuali bangunan yang dimaksudkan untuk pengelolaan badan air dan/atau pemanfaatan air; c. Pendirian bangunan dibatasi
hanya untuk menunjang fungsi taman rekreasi; d. Penetapan lebar sempadan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
c. kawasan sekitar danau/waduk;
Kawasan sekitar danau/waduk adalah kawasan tertentu disekeliling danau/waduk yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi danau/waduk.
a. Pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau
b. Jalur hijau minimal 100 meter dari tepi waduk.
c. Ketentuan pelarangan pendirian bangunan kecuali bangunan yang dimaksudkan untuk pengelolaan badan air dan/atau pemanfaatan air; d. Pendirian bangunan dibatasi
hanya untuk menunjang fungsi taman rekreasi; e. Penetapan lebar sempadan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Kawasan sekitar waduk merupakan areal persiapan dengan jarak 100 meter pada rencana kawasan pembangunan Bendungan Kelara-Karaloe, di Kecamatan Kelara (perbatasan Kabupaten Gowa)
A3. kawasan suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya
a. kawasan suaka margasatwa
Kawasan suaka alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan, plasma nutfah, ilmu pengetahuan dan
Dalam hutan suaka alam/margasatwa, tidak dibenarkan melakukan kegiatan yang dapat merubah keutuhan kawasan hutan suaka alam (UU no 5 1990), kecuali untuk kegiatan-kegiatan bagi kepentingan penelitian dan pengembangan, ilmu pengetahuan, pendidikan dan kegiatan lainnya yang menunjang budidaya (pasal 17).
Kawasan suaka alam terdiri atas Suaka margasatwa dan taman buru Komara/Bangkala terdapat di Kecamatan Bangkala dengan luas kurang lebih 2.512 ha;
90 Zona Berdasarkan Pola Ruang
Wilayah Kabupaten Deskripsi
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi
Ketentuan Umum Kegiatan Keterangan pembangungan pada umumnya. Yang dimaksud dengan perubahan terhadap
keutuhan kawasan suaka alam meliputi mengurangi, menghilangkan fungsi dan luas kawasan suaka alam, serta menambah jenis tumbuhan dan satwa lain yang tidak asli.
b. kawasan pantai berhutan bakau
Kawasan pantai berhutan bakau merupakan suatu ekosistem hutan yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut dengan suplai air tawar yang cukup. Kawasan pantai berhutan bakau berfungsi sebagai sumber bahan organik, habitat berbagai hewan aquatik bernilai ekonomis tinggi, pelindung abrasi dan penahan intrusi air laut.
a. Areal pasang surut dengan mangrove di atasnya yang masih utuh perlu
dipertahankan sebagai kawasan lindung. b. Areal selain mangrove dan daerah
terbangun diperlukan penetapan lebar minimal sempadan pantai.
c. Wilayah budidaya tambak/kolam yang telah ada dipertahankan keberadaannya, dengan sistem pengelolaan yang bertumpu pada kaidah konservasi. Lahan-lahan pasang surut yang dulunya mangrove, tapi karena adanya
pembukaan lahan dan kemudian tidak produktif lagi perlu direhabilitasi.
kawasan pantai berhutan bakau tersebar di wilayah Kecamatan Bangkala, Bangkala Barat, Tamalatea, Tarowang, Batang, dan Arungkeke.dengan luas kurang lebih 206 ha.
A4. kawasan rawan bencana alam
a. kawasan rawan banjir
Kawasan rawan banjir adalah kawasan yang karena kondisi topografi, geologi, dan land usenya sering dilanda banjir pada curah hujan di atas normal
Peraturan zonasi untuk kawasan rawan banjir, adalah membatasi kegiatan intensif dalam kawasan rawan banjir dan melakukan pengendalian bencana banjir dalam bentuk sebagai berikut:
a. Struktural: dilakukan melalui kegiatan rekayasa teknis, terutama dalam penyediaan prasarana dan sarana serta penanggulangan banjir
b. Non Struktural: dilakukan untuk meminimalkan kerugian yang terjadi akibat bencana banjir, baik korban jiwa maupun materi, yang dilakukan melalui
Kawasan rawan banjir terdapat di dataran pantai di sebelah barat Kecamatan Bangkala (Allu), Tamalatea (Topa, Kelurahan Tonrokassi Timur), Bontoramba, Tarowang, Binamu bagian selatan, dan dataran sebelah timur: Arungkeke dan Batang.
91 Zona Berdasarkan Pola Ruang
Wilayah Kabupaten Deskripsi
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi
Ketentuan Umum Kegiatan Keterangan pengelolaan daerah pengaliran,
pengelolaan kawasan banjir, flood proofing, penataan sistem permukiman, sistem peringatan dini, mekanisme perijinan, serta kegiatan lain yang berkaitan dengan upaya pembatasan (limitasi) pemanfaatan lahan dalam rangka mempertahankan keseimbangan ekosistem.
Untuk zonasi ruang kawasan rawan banjir, diperlukan penanganan banjir yang berupa pencegahan dini (preventif) dan pencegahan sebelum terjadinya bencana banjir (mitigasi), yang terdiri dari kombinasi antara upaya struktur (bangunan pengendali banjir) dan non-struktur (perbaikan atau pengendalian DAS).
a. kawasan rawan longsor
kawasan rawan longsor adalah kawasan yang karena kondisi topografi, geologi, dan land usenya berpotensi untuk terjadinya gerakan tanah dan longsor
Menghindari pembangunan
pemukiman dan kegiatan budidaya intensif lainnya pada sekitar
kawasan rawan longsor.
kawasan rawan tanah longsor terdapat di bagian utara Kabupaten utamanya di beberapa segmen kecamatan Bangkala, Bangkala Barat, Rumbia, dan Kelara.
b. kawasan rawan gelombang pasang
Kawasan rawan gelombang pasang adalah kawasan yang karena tipologi pantainya rawan terhadap ancaman gelombang pasang yang dapat
mempengaruhi dan mengancam aktivitas di sepanjang pesisir
Menghindari pembangunan pemukiman dan kegiatan budidaya intensif lainnya pada sekitar
kawasan rawan gelombang pasang, yang dibuktikan dengan kejadian adanya gelombang pasang
Kawasan rawan gelombang pasang adalah beberapa segmen wilayah sepanjang pesisir di Kecamatan Bangkala Barat, Bangkala, Tamalatea, Binamu, Arungkeke, Batang, dan Tarowang.
A5. kawasan lindung geologi Kawasan rawan bencana alam geologi terdiri atas: kawasan rawan tsunami dan kawasan
Membatasi pembangunan pemukiman dan kegiatan budidaya intensif lainnya pada sekitar
Kawasan rawan tsunami, terdapat di sepanjang pesisir Kabupaten meliputi
92 Zona Berdasarkan Pola Ruang
Wilayah Kabupaten Deskripsi
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi
Ketentuan Umum Kegiatan Keterangan rawan abrasi kawasan rawan terjadinya tsunami
Melakukan pengendalian terhadap potensi abrasi, melalui pengendalian structural dan non-struktural
Kecamatan Bangkala Barat, Bangkala, Tamalatea,
Binamu, Arungkeke, Batang, dan Tarowang; dan kawasan rawan abrasi terdapat di sepanjang pesisir Kecamatan Bangkala Barat, Bangkala, Tamalatea, Binamu, Arungkeke, Batang, dan Tarowang.
A6. kawasan lindung lainnya
a. Taman buru
Taman buru (game park) adalah sebentuk kawasan konservasi yang dipersiapkan selain untuk tujuan pelestarian, juga untuk mengakomodir kebutuhan perburuan satwa. Dengan demikian, kawasan taman buru memang dibangun untuk
keperluan perburuan satwa yang sudah ditentukan jenisnya, dan disertai
persyaratan-persyaratannya.
a. Pelestarian vegetasi yang ada dalam kawasan
b. Menghindari kegiatan yang dapat mengurangi, menghilangkan fungsi dan luas kawasan, serta menambah jenis tumbuhan dan satwa lain yang tidak asli.
Taman buru
Komara/Bangkala yang menyatu dengan Suaka Margesatwa di Kecamatan Bangkala dengan luas kurang lebih 2.512 ha
c. Terumbu karang
Terumbu karang adalah
sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan sejenis tumbuhan alga yang disebut zooxanhellae. Terumbu karang merupakan habitat bagi berbagai spesies tumbuhan laut, hewan laut, dan mikroorganisme laut lainnya yang belum diketahui.
Melarang kegiatan yang dapat merusak keutuhan terumbu karang
Terumbu karang di sekitar pulau-pulau kecil di Kecamatan Bangkala
93 Zona Berdasarkan Pola Ruang
Wilayah Kabupaten Deskripsi
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi
Ketentuan Umum Kegiatan Keterangan
B1. Kawasan peruntukan hutan produksi
Kawasan hutan produksi menurut ketentuan terbaru tidak dibedakan lagi atas hutan produksi terbatas, hutan produksi biasa, dan hutan produksi yang dapat dikonversi. Walaupun hutan produksi saat ini sudah tidak dibedakan antara HPT, HPB, HPK, namun dalam pemanfaatannya harus tetap mengacu pada ketentuan teknis pengelolaan kawasan budidaya kehutanan.
a. Pemanfaatan hutan produksi dapat berupa pemanfaatan kawasan, pemanfaatan jasa lingkungan, pemanfaatan hasil hutan kayu dan bukan kayu serta pemungutan hasil hutan kayu dan bukan kayu.
b. Pemanfaatan kawasan dilaksanakan untuk memanfaatkan ruang tumbuh sehingga diperoleh manfaat lingkungan, manfaat sosial dan manfaat ekonomi yang optimal. c. Pemanfaatan jasa lingkungan dilakukan dalam bentuk usaha yang memanfaatkan potensi jasa lingkungan dengan tidak merusak lingkungan dan tidak mengurangi fungsi pokoknya. d. Pemanfaatan hasil hutan
dilakukan dalam bentuk usaha pemanfaatan hutan alam dan usaha pemanfaatan hutan tanaman. Usaha pemanfaatan hutan tanaman diutamakan dilaksanakan pada hutan yang tidak produktif dalam rangka mempertahankan hutan alam. e. Pemungutan hasil hutan
meliputi pemanenan, penyaradan, pengangkutan, pengolahan dan pemasaran yang diberikan untuk jangka waktu tertentu.
B2. Kawasan hutan rakyat Hutan rakyat adalah hutan yang tumbuh di atas tanah yang dibebani hak milik maupun hak
Pengusahaan kegiatan budidaya di dalam kawasan hutan, dengan tetap mempertahankan fungsi
Kawasan peruntukan hutan rakyat/ kemasyarakatan terdapat
94 Zona Berdasarkan Pola Ruang
Wilayah Kabupaten Deskripsi
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi
Ketentuan Umum Kegiatan Keterangan lainnya dengan ketentuan luas
minimum 0,25 Ha, penutupan tajuk tanaman kayu-kayuan dan tanaman lainnya lebih dari 50 %.
perlindungan kawasan di Desa Kapita, Desa Gunung Silanu, dan Desa Marayoka Kecamatan Bangkala dengan luasan kurang lebih 1000 Ha.
B3. Kawasan peruntukan pertanian
Kawasan peruntukan pertanian adalah kawasan yang karena potensi kesesuaian yang dimilikinya, ditetapkan sebagai kawasan pertanian
a. Pengembangan komoditas pertanian pada lahan-lahan mempunyai nilai kesesuaian lahan dari sangat sesuai (S1) sampai marginal (S3) untuk tanaman pertanian (pangan lahan kering, pangan lahan basah, dan hortikultura) b. Pemanfaatan ruang untuk
permukiman petani dengan kepadatan rendah
c. Ketentuan pelarangan alih fungsi lahan pertanian, khususnya daerah lumbung pangan, menjadi lahan budidaya non-pertanian kecuali untuk pembangunan sistem jaringan prasarana utama.
Arahan lokasi untuk tanaman pertanian (pangan lahan kering, pangan lahan basah, dan hortikultura) dapat dilihat pada Peta Pola Ruang (Buku III).
B4. Kawasan peruntukan perkebunan
Kawasan peruntukan
perkebunan adalah kawasan yang karena potensi kesesuaian lahan yang dimilikinya,
ditetapkan sebagai kawasan perkebunan
a. Pengembangan komoditas perkebunan (tanaman tahunan) pada lahan-lahan mempunyai nilai kesesuaian lahan dari sangat sesuai (S1) sampai marginal (S3) untuk tanaman perkebunan
b. Pemanfaatan ruang untuk permukiman petani dengan kepadatan rendah
Arahan lokasi untuk tanaman perkebunan unggulan dan Agroforestri dapat dilihat pada Peta Pola Ruang (Buku III). Tanaman perkebunan yang potensil adalah Jambu Mente,
Kelapa, Kapas, Kapok, Kopi Robusta, dan Lontar.
95 Zona Berdasarkan Pola Ruang
Wilayah Kabupaten Deskripsi
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi
Ketentuan Umum Kegiatan Keterangan
B5. Kawasan peruntukan perikanan
Kawasan peruntukan perikanan adalah kawasan yang karena potensi dan stok serta
kesesuaian lahan dan perairan yang dimilikinya, ditetapkan sebagai kawasan perikanan
a. Pemanfaatan ruang untuk permukiman petani dan/atau nelayan dengan kepadatan rendah;
b. Pemanfaatan ruang untuk kawasan pemijahan dan/atau kawasan sabuk hijau;
c. Pemanfaatan sumber daya perikanan agar tidak melebihi potensi lestari.
Peta sebaran kawasan perikanan di Kabupaten Jeneponto dapat dilihat pada Buku III (Album Peta)
B6. Kawasan peruntukan pertambangan
Kawasan peruntukan
pertambangan adalah kawasan yang karena potensi yang dimilikinya, ditetapkan sebagai kawasan pertambangan
a. Pengaturan pendirian bangunan agar tidak mengganggu fungsi alur pelayaran yang ditetapkan peraturan perundang-undangan;
b. Pengaturan kawasan tambang dengan
memperhatikan keseimbangan antara biaya dan manfaat serta keseimbangan antara risiko dan manfaat;
c. Pengaturan bangunan lain di sekitar instalasi dan peralatan kegiatan pertambangan yang berpotensi menimbulkan bahaya dengan memperhatikan kepentingan daerah;
d. Eksploitasi bahan tambang C harus tidak mengganggu konstruksi prasarana wilayah seperti dam, irigasi, tanggul, jembatan, jalan, maupun pondasi bangunan di sekitar area penambangan;
e. Kegiatan pertambangan hendaknya dilakukan melalui
Peta sebaran Tambang di Kabupaten Jeneponto dapat dilihat pada Buku III (Album Peta)
96 Zona Berdasarkan Pola Ruang
Wilayah Kabupaten Deskripsi
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi
Ketentuan Umum Kegiatan Keterangan praktek-praktek yang ramah
lingkungan untuk mencegah terjadinya kerusakan
lingkungan dan pencemaran lingkungan;
f. Melakukan upaya pemulihan kualitas lingkungan pasca tambang melalui kegiatan rehabilitasi maupun reklamasi kawasan tambang.
B7. Kawasan peruntukan industri
Kawasan peruntukan industry adalah kawasan yang karena realitas pembangunan dan potensi yang dimilikinya, ditetapkan sebagai kawasan industri
a. Pemanfaatan ruang untuk kegiatan industri baik yang sesuai dengan kemampuan penggunaan teknologi, potensi sumber daya alam maupun sumber daya manusia di wilayah sekitarnya;
b. Pembatasan pembangunan perumahan baru sekitar kawasan peruntukan industri. c. Pelarangan membuang zat
pencemar (termasuk limbah B3) dari hasil kegiatan industri ke media lingkungan hidup
d. Pengelolaan limbah B3 mengacu pada peraturan perundangan yang berlaku
e. Pencegahan pencemaran di dalam kawasan peruntukan industri melalui sarana pengelolaan limbah atau
penerapan produksi bersih, dan aktivitas produksi ramah
lingkungan.
f. Penerapan mekanisme insentif dan disinsentif
Kawasan peruntukan industry besar terdapat di Kawasan Industri Mallasoro, yang saat ini baru mulai dibangun PLTU Mallasoro dan PLTU Punagaya, seluas kurang lebih 258 ha.
Kawasan peruntukan industry sedang adalah Tambak Garam di Nassara, Kecamatan Bangkala, seluas kurang lebih 220 ha.dan Industrti Garam di Arungkeke seluas 330 Ha. Kawasan peruntukan industry rumahtangga dijumpai di semua kecamatan.
97 Zona Berdasarkan Pola Ruang
Wilayah Kabupaten Deskripsi
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi
Ketentuan Umum Kegiatan Keterangan
B8. Kawasan peruntukan pariwisata
Kawasan peruntukan pariwisata adalah kawasan yang karena realitas pembangunan dan potensi yang dimilikinya, ditetapkan sebagai kawasan pariwisata
a. Pemanfaatan potensi alam dan budaya masyarakat sesuai daya dukung dan daya tampung lingkungan;
b. Perlindungan terhadap situs peninggalan kebudayaan masa lampau;
c. Pembatasan pendirian bangunan hanya untuk menunjang kegiatan pariwisata; dan
d. Ketentuan pelarangan pendirian bangunan selain yang dimaksud pada huruf c.
Peta sebaran lokasi
pariwisata dapat dilihat pada Album Peta Buku III.
B9. Kawasan peruntukan permukiman perkotaan
Kawasan yang diperuntukkan untuk tempat tinggal atau lingkungan hunian yang ada di kawasan perkotaan
a. Penetapan areal pemukiman baru
b. Penetapan amplop bangunan; c. Penetapan tema arsitektur
bangunan;
d. Penetapan kelengkapan
bangunan dan lingkungan; dan e. Penetapan jenis dan syarat
penggunaan bangunan yang diizinkan.
f. Membatasi kegiatan komersil pada zona perumahan g. Membatasi pembangunan
perumahan pada kawasan rawan bencana alam
Kawasan Permukiman Perkotaan tersebar di Kawasan Perkotaan Bontosunggu Kecamatan Binamu dan Perkotaan Allu Kecamatan Bangkala.
B10. Kawasan peruntukan permukiman pedesaan
Kawasan yang diperuntukkan untuk tempat tinggal atau lingkungan hunian yang ada di kawasan perdesaan
a. Penataan kawasan permukiman perdesaan
b. Membatasi pembangunan perumahan pada kawasan rawan bencana alam
Kawasan Permukiman Perdesaan tersebar di seluruh wilayah kecamatan di Kabupaten Jeneponto
C. Kawasan Sekitar Sistem Prasarana Wilayah di Kabupaten C1. Sekitar prasarana
98 Zona Berdasarkan Pola Ruang
Wilayah Kabupaten Deskripsi
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi
Ketentuan Umum Kegiatan Keterangan transportasi
a. Sekitar jaringan jalan
Kawasan sekitar jaringan jalan adalah kawasan kiri dan kanan jalan baik jalan eksisting maupun jalan yang sedang direncanakan
a. Pemanfaatan ruang di sepanjang sisi jalan nasional maupun jalan kabupaten dengan tingkat intensitas menengah hingga tinggi yang kecenderungan pengembangan ruangnya dibatasi;
b. Ketentuan pelarangan alih fungsi lahan yang berfungsi lindung di sepanjang sisi jalan nasional maupun jalan
kabupaten;
c. Penetapan garis sempadan bangunan di sisi jalan nasional maupun jalan kabupaten yang memenuhi ketentuan daerah pengawasan jalan;
d. Ruang milik jalan ditetapkan dengan peraturan perundangan yang berlaku;
e. Dalam hal ruang milik jalan tidak cukup luas, lebar ruang pengawasan jalan ditentukan dari tepi badan jalan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
Peta jaringan jalan dapat dilihat pada Peta Struktur Ruang (Album Peta, Buku III)
g. Sekitar jaringan jalan kereta api
Kawasan sekitar jaringan jalan KA adalah kawasan kiri dan kanan jalan KA yang sedang direncanakan
a. Pemanfaatan ruang di sepanjang sisi jaringan jalur kereta api dilakukan dengan tingkat intensitas menengah hingga tinggi yang
kecenderungan pengembangan ruangnya dibatasi;
b. Ketentuan pelarangan
pemanfaatan ruang pengawasan jalur kereta api yang dapat
Peta jaringan jalan KA dapat dilihat pada Peta Struktur Ruang (Album Peta, Buku III)
99 Zona Berdasarkan Pola Ruang
Wilayah Kabupaten Deskripsi
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi
Ketentuan Umum Kegiatan Keterangan mengganggu kepentingan
operasi dan keselamatan transportasi perkeretaapian; c. Pembatasan pemanfaatan ruang
yang peka terhadap dampak lingkungan akibat lalu lintas kereta api di sepanjang jalur kereta api;
d. Pembatasan jumlah perlintasan sebidang antara jaringan jalur kereta api dengan jalan; dan e. Penetapan garis sempadan
bangunan di sisi jaringan jalur kereta api dengan
memperhatikan dampak lingkungan dan kebutuhan pengembangan jaringan jalur kereta api.
h. Sekitar pelabuhan
Kawasan sekitar pelabuhan adalah kawasan yang masuk dalam areal pelabuhan berdasarkan kebijakan kepelabuhanan
a. Pemanfaatan ruang ditijukan untuk kebutuhan operasional dan pengembangan kawasan pelabuhan.
b. Pembatasan pemanfaatan ruang di dalam daerah lingkungan kerja pelabuhan dan daerah lingkungan kepentingan
pelabuhan harus mendapatkan izin sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Peta lokasi pelabuhan dapat dilihat pada Peta Struktur Ruang (Album Peta, Buku III)
C2. Sekitar prasarana sumber daya air
Kawasan sekitar sumberdaya air adalah kawasan kiri dan kanan sungai
a. Pemanfaatan ruang pada kawasan di sekitar wilayah sungai dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan dan fungsi lindung kawasan; b. Pemanfaatan ruang di sekitar
wilayah sungai lintas Kabupaten, secara selaras
Peta lokasi prasarana sumber daya air dilihat pada narasi Buku II dan Peta Struktur Ruang (Album Peta, Buku III)
100 Zona Berdasarkan Pola Ruang
Wilayah Kabupaten Deskripsi
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi
Ketentuan Umum Kegiatan Keterangan dengan pemanfaatan ruang
pada wilayah sungai di Kabupaten yang berbatasan.
C3. Sekitar prasarana energi
Kawasan sekitar prasarana energi adalah kawasan sekitar pembangkit listrik dan jaringan SUTT, baik eksisting maupun yang sedang direncanakan
a. Pembangkit listrik tenaga mikrohidro disusun dengan memperhatikan pemanfaatan ruang di sekitar pembangkit listrik, yang harus
memperhatikan jarak aman dari kegiatan lain.
b. Peraturan zonasi untuk jaringan transmisi tenaga listrik disusun dengan memperhatikan
ketentuan pelarangan pemanfaatan ruang bebas di