• Tidak ada hasil yang ditemukan

RENCANA POLA RUANG WILAYAH Bagian Kesatu

Umum Pasal 21

(1) Rencana pola ruang wilayah kabupaten meliputi rencana kawasan lindung dan kawasan budidaya.

(2) Rencana pola ruang wilayah Kabupaten sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digambarkan dalam peta rencana pola ruang dengan tingkat ketelitian skala 1 : 50.000 sebagai Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari peraturan daerah ini.

Bagian Kedua Kawasan Lindung

Pasal 22

Kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1), terdiri atas:

a. kawasan hutan lindung;

b. kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan

bawahannya;

c. kawasan perlindungan setempat;

d. kawasan suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya;

e. kawasan rawan bencana alam;

f. kawasan lindung geologi; dan

g. kawasan lindung lainnya.

Paragraf 1

Kawasan Hutan Lindung Pasal 23

Kawasan hutan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) seluas kurang lebih 6.715 Ha, yang terdiri atas:

(1). kawasan hutan lindung di Kecamatan Bangkala dengan luas kurang lebih 3.536 Ha;

(2). kawasan hutan lindung di Kecamatan Bangkala Barat dengan luas kurang lebih 1.467Ha;

(3). kawasan hutan lindung di Kecamatan Bontoramba dengan luas kurang lebih 848 Ha;

(4). kawasan hutan lindung di Kecamatan Kelara dengan luas kurang lebih 216 Ha; dan

(5). kawasan hutan lindung di Kecamatan Rumbia dengan luas kurang lebih 647 Ha.

27 Paragraf 2

Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Terhadap Kawasan Bawahannya

Pasal 24

(1) Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 huruf b, merupakan kawasan resapan air yang meliputi areal yang mempunyai kemampuan tinggi untuk meresapkan air hujan dan sebagai pengontrol tata air permukaan selain kawasan hutan lindung dan suaka margasatwa dengan kemiringan lereng di atas 45%.

(2) Kawasan resapan air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan di Kecamatan Rumbia, Kecamatan Kelara, Kecamatan Bontoramba, Kecamatan Bangkala Barat, Kecamatan Bangkala, Kecamatan Turatea, dan Kecamatan Tarowang.

Paragraf 3

Kawasan Perlindungan Setempat Pasal 25

(1) Kawasan perlindungan setempat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 huruf c, terdiri atas:

a. kawasan sempadan pantai; b. kawasan sempadan sungai; c. kawasan sempadan pantai

d. kawasan sekitar danau atau waduk; dan e. ruang terbuka hijau kawasan perkotaan.

(2) Kawasan sempadan pantai sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a ditetapkan di sepanjang pesisir pantai di Kecamatan Bangkala Barat, Kecamatan Bangkala, Kecamatan Tamalatea, Kecamatan Binamu, Kecamatan Arungkeke, Kecamatan Batang, dan Kecamatan Tarowang, dengan ketentuan:

a. daratan sepanjang tepian laut dengan jarak paling sedikit 100 (seratus) meter dari titik pasang air laut tertinggi ke arah darat; atau b. daratan sepanjang tepian laut yang bentuk dan kondisi fisik pantainya curam atau terjal dengan jarak proporsional terhadap bentuk dan kondisi fisik pantai.

(3) Kawasan sempadan sungai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, ditetapkan di Sungai Jeneponto, Sungai Tamanroya, Sungai tarowang, Sungai Allu, dan Sungai Topa dengan ketentuan:

a. daratan sepanjang tepian sungai bertanggul dengan lebar paling sedikit 5 (lima) meter dari kaki tanggul sebelah luar;

b. daratan sepanjang tepian sungai besar tidak bertanggul diluar kawasan permukiman dengan lebar paling sedikit 100 (seratus) meter dari tepi sungai; dan

c. daratan sepanjang tepian anak sungai tidak bertanggul di luar kawasan permukiman dengan lebar paling sedikit 50 (lima pulh) meter dari tepi sungai.

(4) Kawasan sekitar danau atau waduk dimaksud pada ayat (1) huruf c, merupakan kawasan persiapan rencana pembangunan Bendungan

28

Kelara-Karaloe di Kecamatan Kelara yang berjarak 100 (seratus) meter dari rencana pembangunan bendungan.

(5) Kawasan ruang terbuka hijau sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, berupa Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan (RTHKP) yang ditetapkan menyebar dan seimbang dengan memperhatikan fungsi ekologis, social budaya, estetika, dan ekonomi dengan ketentuan RTH publik paling sedikit 20% (dua puluh persen) dan RTH privat paling sedikit 10% (sepuluh persen) dari luas kawasan perkotaan yaitu PKW, PKLp dan PPK.

Paragraf 4

Kawasan Suaka Alam, Pelestarian Alam dan Cagar Budaya Pasal 26

(1) Kawasan Suaka Alam, Pelestarian Alam dan Cagar Budaya, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 huruf d, terdiri atas:

a. Kawasan suaka margasatwa; dan b. Kawasan pantai berhutan bakau.

(2) Kawasan suaka margasatwa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a ditetapkan di Kawasan Suaka Margasatwa Ko’mara berada di Kecamatan Bangkala dengan luasan kurang lebih 2.250,87 (dua ribu dua ratus lima puluh koma delapan puluh tujuh) hektar; dan

(3) Kawasan pantai berhutan bakau, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b ditetapkan di Kecamatan Bangkala, Kecamatan Bangkala Barat, Kecamatan Tamalatea, Kecamatan Tarowang, Kecamatan Batang dan Kecamatan Arungkeke dengan luasan kurang lebih 206 (dua ratus enam) hektar.

Paragraf 5

Kawasan Rawan Bencana Alam Pasal 27

(1) Kawasan rawan bencana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 huruf e, terdiri atas:

a. Kawasan rawan banjir;

b. kawasan rawan tanah longsor; dan c. kawasan rawan gelombang pasang.

(2) Kawasan rawan banjir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, ditetapkan di sebagian Kecamatan Bangkala, sebagian Kecamatan Bangkala Barat, sebagian Kecamatan Tamalatea, sebagiaan Kecamatan Bontoramba, sebagian Kecamatan Binamu, sebagian Kecamatan Arungkeke, dan sebagian Kecamatan Batang;

(3) Kawasan rawan tanah longsor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, ditetapkan di Kecamatan Bangkala, Kecamatan Bangkala Barat, Kecamatan Rumbia, dan Kecamatan Kelara; dan

(4) Kawasan rawan gelombang pasang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c ditetapkan di sepanjang pesisir Kabupaten Jeneponto di Kecamatan Bangkala Barat, Kecamatan Bangkala, Kecamatan Tamalatea,

29

Kecamatan Binamu, Kecamatan Arungkeke, Kecamatan Batang, dan Kecamatan Tarowang.

Paragraf 6

Kawasan Lindung Geologi

Pasal 28

(1) Kawasan lindung geologi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 huruf f, merupakan kawasan rawan bencana alam geologi;

(2) Kawasan rawan bencana alam geologi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), terdiri atas:

a. Kawasan rawan gempa bumi ditetapkan di sleuruh wilayah kecamatan dengan kategori seismisitas rendah;

b. Kawasan rawan gerakan tanah ditetapkan di Kecamatan Bangkala, Kecamatan Bangkala Barat, Kecamatan Rumbia, dan Kecamatan Kelara;

c. Kawasan rawan tsunami ditetapkan di sepanjang pesisir Kabupaten Jeneponto meliputi Kecamatan Bangkala Barat, Kecamatan Bangkala, Kecamatan Tamalatea, Kecamatan Binamu, Kecamatan Arungkeke, Kecamatan Batang, dan Kecamatan Tarowang; dan

d. Kawasan rawan abrasi pantai ditetapkan di sepanjang pesisir Kabupaten Jeneponto meliputi Kecamatan Bangkala Barat, Kecamatan Bangkala, Kecamatan Tamalatea, Kecamatan Binamu, Kecamatan Arungkeke, Kecamatan Batang, dan Kecamatan Tarowang.

Paragraf 7

Kawasan Lindung Lainnya

Pasal 29

(1) Kawasan lindung lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 huruf g, terdiri atas:

a. Taman buru; dan

b. Kawasan konservasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

(2) Kawasan taman buru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, ditetapkan di Taman Buru Bangkala Kecamatan Bangkala Barat yang menyatu dengan Suaka Margasatwa Ko’mara dengan luasan kurang lebih 2.382 (dua ribu tiga ratus delapan puluh dua) hektar; dan

(3) Kawasan konservasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, ditetapkan di Kecamatan Bangkala dengan luasan krang lebih 214 (dua ratus empat belas) hektar.

Bagian Ketiga Kawasan Budidaya

Pasal 30

Kawasan budidaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1), terdiri atas:

a. kawasan peruntukan hutan produksi;

b. kawasan peruntukan hutan rakyat;

c. kawasan peruntukan pertanian;

30 e. kawasan peruntukan pertambangan;

f. kawasan peruntukan industri;

g. kawasan peruntukan pariwisata;

h. kawasan peruntukan permukiman; dan

i. kawasan peruntukan lainnya.

Paragraf 1

Kawasan Peruntukan Hutan Produksi

Pasal 31

(1) Kawasan peruntukan hutan produksi di Kabupaten Jeneponto sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 huruf a, terdiri atas:

a. Kawasan hutan produksi terbatas; dan b. Kawasan hutan produksi tetap.

(2) Kawasan hutan produksi terbatas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dengan luasan kurang lebih 375 (tiga ratus tujuh puluh lima) hektar, ditetapkan di sebagian wilayah Kecamatan Bangkala, dan sebagian wilayah Kecamatan Bontoramba;

(3) Kawasan hutan produksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dengan luasan kurang lebih 125 (seratus dua puluh lima) hektar, ditetapkan di sebagian wilayah Kecamatan Rumbia dan sebagian wilayah Kecamatan Bontoramba.

Paragraf 2

Kawasan Peruntukan Hutan Rakyat

Pasal 32

Kawasan peruntukan hutan rakyat di Kabupaten Jeneponto sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 huruf b ditetapkan di Desa Kapita, Desa Gunung Silanu dan Desa Marayoka Kecamatan Bangkala dengan luasan kurang lebih 1.000 (seribu) hektar.

Paragraf 3

Kawasan Peruntukan Pertanian

Pasal 33

(1) Kawasan peruntukan pertanian di Kabupaten Jeneponto sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 huruf c, terdiri atas:

a. Kawasan peruntukan pertanian tanaman pangan;

b. Kawasan peruntukan pertanian holtikultura;

c. Kawasan peruntukan perkebunan; dan

d. Kawasan peruntukan peternakan.

(2) Kawasan peruntukan pertanian tanaman pangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, terdiri atas:

a. Kawasan peruntukan pertanian lahan basah ditetapkan di sebagian wilayah Kecamatan Bangkala, sebagian wilayah Kecamatan Bangkala Barat, sebagian wilayah Kecamatan Tamalatea, sebagian wilayah Kecamatan Bontoramba, sebagain wilayah Kecamatan Binamu, sebagian wilayah Kecamatan Turatea, sebagian wilayah Kecamatan Batang, sebagian wilayah Kecamatan Arungkeke, sebagian wilayah Kecamatan Tarowang, sebagian wilayah Kecamatan

31

Kelara, dan sebagain wilayah Kecamatan Rumbia dengan luasan kurang lebih 27.234 (dua puluh tujuh ribu dua ratus tiga puluh empat) hektar; dan

b. Kawasan peruntukan pertanian lahan kering ditetapkan di sebagian wilayah Kecamatan Bangkala, sebagian wilayah Kecamatan Bangkala Barat, sebagian wilayah Kecamatan Tamalatea, sebagian wilayah Kecamatan Bontoramba, sebagain wilayah Kecamatan Binamu, sebagian wilayah Kecamatan Turatea, sebagian wilayah Kecamatan Batang, sebagian wilayah Kecamatan Arungkeke, sebagian wilayah Kecamatan Tarowang, sebagian wilayah Kecamatan Kelara, dan sebagain wilayah Kecamatan Rumbia dengan luasan kurang lebih 19.592 (sembilan belas ribu lima ratus Sembilan puluh dua) hektar.

(3) Kawasan peruntukan pertanian hortikultura sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, terdiri dari:

a. Kawasan peruntukan pertanian hortikultura komoditas sayuran ditetapkan di Kecamatan Rumbia dengan luasan kurang lebih 2.826 (dua ribu delapan ratus dua puluh enam) hektar; dan

b. Kawasan peruntukan pertanian hortikultura komoditas buah-buahan ditetapkan di sebagian wilayah Kecamatan Bangkala, sebagian wilayah Kecamatan Bangkala Barat, sebagian wilayah Kecamatan Tamalatea, sebagian wilayah Kecamatan Bontoramba, sebagain wilayah Kecamatan Binamu, sebagian wilayah Kecamatan Turatea, sebagian wilayah Kecamatan Batang, sebagian wilayah Kecamatan Arungkeke, sebagian wilayah Kecamatan Tarowang, sebagian wilayah Kecamatan Kelara, dan sebagain wilayah Kecamatan Rumbia dengan luasan kurang lebih 196.530 (seratus sembilan puluh enam ribu lima ratus tiga puluh) hektar.

(4) Kawasan peruntukan perkebunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c merupakan kawasan perkebunan dan kawasan wanatani terdiri dari:

a. kawasan peruntukan perkebunan kakao dan kopi robusta ditetapkan di sebagian wilayah Kecamatan Bangkala dengan luasan kurang lebih 1.223 (seribu dua ratus dua puluh tiga) hektar;

b. kawasan peruntukan perkebunan kakao, kopi robusta, dan kelapa ditetapkan di sebagian wilayah Kecamatan Bangkala Barat dengan luasan kurang lebih 2.103 (dua ribu seratus tiga) hektar;

c. kawasan peruntukan perkebunan kakao, dan kelapa ditetapkan di sebagian wilayah Kecamatan Bontoramba dengan luasan kurang lebih 1.594 (seribu lima ratus sembilan puluh empat) hektar;

d. kawasan peruntukan perkebunan kakao, kopi robusta, jambu mete, dan kapuk ditetapkan di sebagian wilayah Kecamatan Kelara dengan luasan kurang lebih 208 (dua ratus delapan) hektar; dan

e. kawasan peruntukan perkebunan kakao, kopi robusta, cengkeh, jambu mete, dan kapuk ditetapkan di sebagian wilayah Kecamatan Rumbia dengan luasan kurang lebih 115 (seratus lima belas) hektar.

(5) Kawasan peruntukan peternakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, berupa Kawasan peruntukan pengembangan ternak besar ditetapkan di sebagian wilayah Kecamatan Bangkala, sebagian wilayah Kecamatan Bangkala Barat, sebagian wilayah Kecamatan Tamalatea, sebagian wilayah Kecamatan Bontoramba, sebagain wilayah Kecamatan Binamu, sebagian wilayah Kecamatan Turatea, sebagian wilayah Kecamatan Batang, sebagian wilayah Kecamatan Arungkeke, sebagian wilayah Kecamatan Tarowang, sebagian wilayah Kecamatan Kelara, dan

32

sebagain wilayah Kecamatan Rumbia dengan luasan kurang lebih 10.540 (sepuluh ribu lima ratus empat puluh) hektar.

(6) Kawasan peruntukan pertanian tanaman pangan di Kabupaten Jeneponto sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan sebagai kawasan pertanian tanaman pangan berkelanjutan, dengan luasan kurang lebih 27.234 (dua puluh tujuh ribu dua ratus tiga puluh empat) hektar.

Paragraf 4

Kawasan Peruntukan Perikanan

Pasal 34

(1) Kawasan peruntukan perikanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 huruf d, terdiri atas :

a. kawasan peruntukan perikanan tangkap; b. kawasan peruntukan budidaya perikanan; dan c. kawasan pengolahan ikan

(2) Kawasan peruntukan budidaya perikanan tangkap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, ditetapkan pada wilayah perairan Laut Flores dan wilayah perairan Teluk Bone yang meliputi kawasan pesisir Kecamatan Bangkala Barat, kawasan pesisir Kecamatan Bangkala, kawasan pesisir Kecamatan Tamalatea, kawasan pesisir Kecamatan Binamu, kawasan pesisir Kecamatan Arungkeke, dan kawasan pesisir Kecamatan Tarowang;

(3) Kawasan peruntukan budidaya perikanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, terdiri dari:

a. Kawasan budidaya perikanan air laut komoditas rumput laut ditetapkan di sebagian wilayah Kecamatan Binamu, sebagian wilayah Kecamatan Bangkala, sebagian wilayah Kecamatan Bangkala Barat, sebagain wilayah Kecamatan Arungkeke, sebagian wilayah Kecamatan Tarowang, sebagian wilayah Kecamatan Batang, dan sebagian wilayah Kecamatan Tamalatea dengan luasan kurang lebih 8.150 (delapan ribu seratus lima puluh) hektar; dan

b. Kawasan budidaya perikanan air payau komoditas udang dan ikan bandeng ditetapkan di sebagian wilayah Kecamatan Binamu, sebagian wilayah Kecamatan Bangkala, sebagian wilayah Kecamatan Bangkala Barat, sebagain wilayah Kecamatan Arungkeke, sebagian wilayah Kecamatan Tarowang, sebagian wilayah Kecamatan Batang, dan sebagian wilayah Kecamatan Tamalatea dengan luasan kurang lebih 3.178 (tiga ribu seratus tujuh puluh delapan) hektar; dan

c. Kawasan budidaya perikanan air tawar ditetapkan di sebagian wilayah Kecamatan Bangkala, sebagian wilayah Kecamatan Bangkala Barat, sebagain wilayah Kecamatan Arungkeke, sebagian wilayah Kecamatan Batang, sebagian wilayah Kecamatan Rumbia, dan sebagian wilayah Kecamatan Tamalatea dengan luasan kurang lebih 2.961 (dua ribu sembilan ratus enam puluh satu) hektar.

(4) Kawasan pengolahan ikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, ditetapkan di Kawasan Pengolahan Ikan Pabiringa Kecamatan Binamu dengan luasan kurang lebih 22 (dua puluh dua) hektar.

33

Kawasan pelabuhan khusus perikanan Kabupaten Jeneponto (KIPPT) ditetapkan di Pangkalan Pendataran Ikan (PPI) Tanrusampe Kelurahan Pabiringa Kecamatan Binamu.

Paragraf 5

Kawasan Peruntukan Pertambangan Pasal 36

Kawasan peruntukan pertambangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 huruf e, terdiri atas :

a. Kawasan peruntukan pertambangan mineral dan batubara; dan b. Kawasan peruntukan pertambangan minyak dan gas bumi.

Pasal 37

(1) Kawasan peruntukan pertambangan mineral dan batubara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 huruf a, terdiri atas :

a. Wilayah usaha pertambangan; dan b. wilayah pertambangan rakyat.

(2) Wilayah usaha pertambangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, terdiri atas :

a. wilayah usaha pertambangan mineral logam komoditas tambang pasir besi ditetapkan di sebagian wilayah Kecamatan Binamu dan sebagian wilayah Kecamatan Arungkeke;

b. wilayah usaha pertambangan mineral bukan logam meliputi:

1. Komoditas tambang bentonit ditetapkan di sebagian wilayah Kecamatan Bangkala dan sebagian wilayah Kecamatan Binamu;

2. Komoditas tambang clay ditetapkan di sebagian wilayah Kecamatan Bangkala, sebagian wilayah Kecamatan Binamu, dan sebagian wilayah Kecamatan Tamalatea;

3. Komoditas tambang dolomit ditetapkan di sebagian wilayah Kecamatan Tamalatea;

4. Komoditas tambang oker ditetapkan di sebagian wilayah Kecamatan Rumbia dan sebagian wilayah Kecamatan Kelara;

5. Komoditas tambang mika ditetapkan di sebagian wilayah Kecamatan Bangkala Barat; dan

6. Komoditas tambang zeolit ditetapkan di sebagian wilayah Kecamatan Bangkala dan sebagian wilayah Kecamatan Tamalatea.

c. wilayah usaha pertambangan mineral batuan meliputi:

1. Komoditas tambang batu gamping ditetapkan di sebagian wilayah Kecamatan Bangkala, sebagian wilayah Kecamatan Bangkala Barat, sebagian wilayah Kecamatan Binamu, dan sebagian wilayah Kecamatan Tamalatea;

2. Komoditas tambang andesit ditetapkan di sebagian wilayah Kecamatan Batang;

3. Komoditas tambang basalt ditetapkan di sebagian wilayah Kecamatan Bangkala, sebagian wilayah Kecamatan Rumbia, sebagian wilayah Kecamatan Bontoramba, dan sebagian wilayah Kecamatan Tamalatea;

4. Komoditas tambang breksi ditetapkan di sebagian wilayah Kecamatan Bangkala Barat, sebagian wilayah Kecamatan

34

Kelara, sebagian wilayah Kecamatan Turatea, dan sebagian wilayah Kecamatan Batang;

5. Komoditas tambang tufa ditetapkan di sebagian wilayah Kecamatan Bangkala, dan sebagian wilayah Kecamatan Bontoramba;

6. Komoditas tambang kaldeson ditetapkan di sebagian wilayah Kecamatan Bangkala, dan sebagian wilayah Kecamatan Tamalatea; dan

7. Komoditas tambang kerikil berpasir alami ditetapkan di sebagian wilayah Kecamatan Bangkala, sebagian wilayah

Kecamatan Binamu, sebagian wilayah Kecamatan

Bontoramba, sebagian wilayah Kecamatan Turatea, dan sebagian wilayah Kecamatan Tamalatea.

(3) Wilayah usaha pertambangan rakyat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, berupa wilayah usaha pertambangan mineral batuan komoditas tambang kerikil berpasir alami ditetapkan di sebagian wilayah Kecamatan Bangkala, sebagian wilayah Kecamatan Binamu, sebagian wilayah Kecamatan Bontoramba, sebagian wilayah Kecamatan Turatea, dan sebagian wilayah Kecamatan Tamalatea.

Pasal 38

Kawasan peruntukan pertambangan minyak dan gas bumi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 huruf b, merupakan kawasan peruntukan pertambangan minyak Blok Karaengta yang berada di wilayah perairan laut Kabupaten Jeneponto.

Paragraf 6

Kawasan Peruntukan Industri Pasal 39

(1) Kawasan peruntukan industri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 huruf f, terdiri atas:

a. Kawasan peruntukan industri besar;

b. Kawasan peruntukan industri sedang; dan

c. kawasan peruntukan industri rumah tangga.

(2) Kawasan peruntukan industri besar sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a terdapat di Kawasan Industri Mallasoro, dengan luasan kurang lebih 258 (dua ratus lima puluh delapan) hektar;

(3) Kawasan Industri Mallasoro sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilengkapi dengan infrastruktur pendukung meliputi:

a. Pembangkit listrik; dan b. Pelabuhan khusus.

(4) Pembangkit listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a, adalah PLTU Mallasoro, dan PLTU Punagaya;

(5) Pelabuhan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b, terdiri dari:

a. Pelabuhan khusus PLTU Punagaya yang dilengkapi dengan terminal barang di sisi Timur Teluk Laikang Kecamatan Bangkala; dan

b. Pelabuhan khusus PLTU Mallasoroyang dilengkapi dengan terminal barang di sisi Timur Tanjung Mallasoro Kecamatan Bangkala.

35

(6) Kawasan peruntukan industri sedang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b, terdiri dari:

a. Kawasan tambak garam Nassara Kecamatan Bangkala dengan luasan kurang lebih 220 (dua ratus dua puluh) hektar; dan

b. Kawasan tambak garam Arungkeke Kecamatan Arungkeke dengan luasan kurang lebih 300 (tiga ratus) hektar.

(7) Kawasan peruntukan industri rumah tangga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a berupa kawasan aglomerasi industry rumah tangga ditetapkan di PKL, PKLp dan PPK.

Paragraf 7

Kawasan Peruntukan Pariwisata Pasal 40

(1) Kawasan peruntukan pariwisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 huruf f, terdiri atas:

a. Kawasan peruntukan pariwisata budaya;

b. Kawasan peruntukan pariwisata alam; dan

c. kawasan peruntukan pariwisata buatan.

(2) Kawasan peruntukan pariwisata budaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, terdiri atas:

a. Rumah Adat (Balla Kambara) dan Masjid Tua Tolo di Kelurahan Tolo Kecamatan Kelara;

b. Rumah Adat Kampala di Desa Kampala Kecamatan ArungKeke;

c. Rumah Adat Binamu di Kelurahan Pabbiringa Kecamatan Binamu;

d. Rumah Adat Kalimporo di Desa Kalimporo Kecamatan Bangkala;

e. Artefak Serpih Bilah di Kelurahan Palengu, Kecamatan Bangkala;

f. Situs Serpih Bilah Karama di Desa Banrimanurung, Kecamatan Bangkala Barat;

g. Kompleks Makam Nong dan Bungung Lompoa di Kampung Bungung Lompoa, Kelurahan Tolo, Kecamatan Kelara;

h. Benteng Karampuang berada di Lingkungan Karampuang dan Balai Pasui, Kecamatan Kelara;

i. Kompleks Makam Raja-Raja Binamu di Kec. Bontoramba;

j. Makam Manjang Loe di Kec. Tamalatea;

k. Kompleks Makam Joko di Kec. Bontoramba;

l. Kompleks Makam Kalimporo di Desa Kalimporo, Kecamatan Bangkala;

m. Makam Pasiri Dg Mangasa Karaeng Labbua Talibannanna di Desa Tuju Kecamatan Bangkala Barat;

n. Makam I Maddi Dg Ri Makka di Kelurahan Tonrokassi Kecamatan Tamalatea;

o. Makam Pattima Dg Ti'no di Kelurahan Pabbiringa Kecamatan Binamu;

p. Makam Karampuang Butung di Kelurahan Biringkasi Kecamatan Binamu;

q. Makam Sapanang (Kr. Bebang) desa Sapanang di Kecamatan Binamu;

r. Makam Dampang Tolo dan Makam Karaeng Sapaloe di Kelurahan Tolo , Kecamatan Kelara;

s. Makam Ta'baka di Desa Arungkeke Pallantikang, Kecamatan Arungkeke; dan

t. Makam Karaeng Sengge dan Makam Karaeng Bisea di Desa Balangloe Tarowang Kecamatan Tarowang.

36

(3) Kawasan peruntukan pariwisata alam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, terdiri atas:

a. Pantai Birta Ria Kassi di Kelurahan Tonrokassi Kecamatan Tamalatea;

b. Pantai Balangloe Tarowang di Desa Balangloe Tarowang Kecamatan Tarowang;

c. Tanjung Mallasoro' di Kecamatan Bangkala;

d. Pulau Libukang (Pulau Harapan) di Kelurahan Bontorannu, Kecamatan Bangkala;

e. Air Terjun Je'ne Aribba di Desa Kapita, Kecamatan Bangkala;

f. Air Terjun Boro di Kec. Rumbia;

g. Kawasan Mangrove Kassi Desa Tarowang Kecamatan Tarowang;

h. Bungung Salapang di Desa Bontorappo, Kecamatan Tarowang;

i. Agrowisata dan Pesanggrahan Loka di Kecamatan Rumbia;

j. Pantai Karsut di Desa Kampala Kecamatan Arungkeke;

k. Pasar Kuda di Kelurahan Tolo Kecamatan Kelara; dan

l. Kawasan Pelestarian Tanaman Lontara di Kecamatan Tamalatea. (4) Kawasan peruntukan pariwisata buatan sebagaimana dimaksud pada

ayat (1) huruf c, terdiri atas:

a. Bintang Karaeng Resort di Kecamatan Binamu;

b. Kawasan Tambak Garam Tradisional Nassara di Kecamatan Bangkala;

c. Kawasan Tambak Garam tradisional Arungkeke di Kecamatan Arungkeke;

d. Arena Pacuan Kuda di Kecamatan Bangkala; dan e. Anjungan Pantai Arungkeke di Kecamatan Arungkeke.

Paragraf 8

Kawasan Peruntukan Permukiman Pasal 41

(1) Kawasan peruntukan permukiman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 huruf g, terdiri atas :

a. kawasan peruntukan permukiman perkotaan; dan b. kawasan peruntukan permukiman perdesaan.

(2) Kawasan peruntukan permukiman perkotaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a berupa kawasan permukiman yang didominasi oleh kegiatan non agraris dengan tatanan kawasan permukiman yang terdiri dari sumberdaya buatan seperti perumahan, fasilitas sosial, fasilitas umum, serta prasarana wilayah perkotaan lainnya;

(3) Kawasan peruntukan permukiman perkotaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan pada Kawasan Perkotaan Bontosunggu Kecamatan Binamu dan Kawasan Perkotaan Allu Kecamatan Bangkala; (4) Kawasan peruntukan permukiman perdesaan sebagaimana dimaksud

pada ayat (1) huruf b berupa kawasan permukiman yang didominasi oleh kegiatan agraris dengan kondisi kepadatan bangunan, penduduk yang rendah dan kurang intensif dalam pemanfaatan daerah terbangun. (5) Kawasan peruntukan permukiman perdesaan sebagaimana dimaksud

pada ayat (4) ditetapkan pada sebagian wilayah Kecamatan Bangkala Barat, sebagian wilayah Kecamatan Bangkala, sebagian wilayah Kecamatan Tamalatea, sebagian wilayah Kecamatan Bontoramba, sebagian wilayah Kecamatan Turatea, sebagian wilayah Kecamatan Batang, sebagian wilayah Kecamatan Arungkeke, sebagian wilayah

37

Kecamatan Tarowang, sebagian wilayah Kecamatan Kelara, dan sebagian wilayah Kecamatan Rumbia.

(6) Kawasan peruntukan permukiman perdesaan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) juga ditetapkan kawasan permukiman Perdesaan transmigrasi pada sebagian wilayah kecamatan Bangkala Barat.

Paragraf 9

Kawasan Peruntukan Lainnya Pasal 42

(1) Kawasan peruntukan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 huruf h, merupakan kawasan peruntukan pertahanan dan keamanan; (2) Kawasan peruntukan pertahanan dan keamanan sebagaimana

dimaksud pada ayat (1), yaitu kawasan yang merupakan aset-aset pertahanan dan keamanan/TNI Negara Kesatuan Republik Indonesia terdiri atas:

a. Kantor Komando Daerah Militer 1425 Jeneponto di Kelurahan Balang Kecamatan Binamu;

b. Kantor Batalyon Infanteri 726 Tamalatea di Kelurahan Bulujaya Kecamatan Bangkala Barat

c. Kantor Komado Rayon Militer 1425-01 Binamu di Kelurahan Balang Toa Kecamatan Binamu;

d. Kantor Komado Rayon Militer 1425-02 Bangkala di Kelurahan Allu Kecamatan Bangkala;

e. Kantor Komado Rayon Militer 1425-03 Tamalatea di Kelurahan Bontotangnga Kecamatan Tamalatea;

f. Kantor Komado Rayon Militer 1425-04 Kelara di Kelurahan Tolo Kecamatan Kelara;

g. Kantor Komado Rayon Militer 1425-05 Batang di Kelurahan Togo-Togo Kecamatan Batang;

h. Kantor Kepolisian Resort Jeneponto di Kelurahan Empong Kecamatan Binamu;

i. Kantor Kepolisian Sektor Batang di Kelurahan Togo-Togo Kecamatan Batang;

j. Kantor Kepolisian Sektor Arungkeke di Kelurahan Arungkeke Kecamatan Arungkeke;

k. Kantor Kepolisian Sektor Binamu di Kelurahan Panaikang Kecamatan Binamu;

l. Kantor Kepolisian Sektor Kelara di Kelurahan Tolo Kecamatan Kelara;

m. Kantor Kepolisian Sektor Tamalate di Kelurahan Bontotangnga Kecamatan Tamalatea;

n. Kantor Kepolisian Sektor Bangkala di Kelurahan Pallengu Kecamatan Bangkala;

Pasal 43

(1) Pemanfaatan kawasan untuk peruntukan lain selain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 - 42 dapat dilaksanakan apabila tidak mengganggu fungsi kawasan yang bersangkutan dan tidak melanggar Ketentuan Umum Peraturan Zonasi sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah ini.

Dokumen terkait