BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
B. HASIL PENELITIAN
3. Keterampilan
keputusan, komunikasi asertif, negosiasi, dan melakukan penolakan. Keterampilan ini dapat berkontribusi pada hubungan kekeluargaan dan persahabatan yang lebih sehat dan produktif. 4) Tanggung jawab : PKRS dapat mendorong remaja untuk
bertanggung jawab atas segala tindakannya dengan cara penghargaan, penerimaan, toleransi dan empati terhadap orang lain tanpa melihat status kesehatan, sosial ekonomi, maupun gender, menolak kekerasan dalam pacaran, serta perilaku seksual yang aman dan bertanggung jawab.
5) Peer educator : Pendidik sebaya memiliki peran aktif dalam memberikan pembelajaran PKRS.
Menurut Saragih (2014) pada tahun 2009, United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), United Nations Population Fund (UNFPA), United Nations Programme on
HIV & AIDS (UNAIDS) dan WHO mengeluarkan panduan pendidikan seksualitas bagi sekolah, guru, dan pendidik kesehatan yang dinamakan International Technical Guidance on Sexuality Education: an evidence-informed approached for schools, teachers, and health educators (ITGSE). Lima komponen PKRS dan panduan ITGSE memiliki kemiripan yaitu terdapat aspek biologis reproduksi, pencegahan perilaku beresiko, serta aspek sosial reproduksi yang mencakup pengajaran mengenai sikap, nilai, norma dan keterampilan berkomunikasi asertif.
Gambaran diatas menunjukkan bahwa pendidikan seks di Indonesia lebih dikenal dengan program pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas, dan pendidikan seksualitas. Aspek dalam pendidikan seks meliputi aspek biologis, psikologis, sosial-budaya, agama dan gender.
10. Ruang Lingkup dan Masalah- masalah dalam Pendidikan Seks Menurut Djiwandono (2008) seharusnya pendidikan seks merupakan sebuah proses yang berlangsung secara sadar di keluarga, sekolah dan masyarakat. Hal ini untuk menyampaikan proses hubungan yang intim menurut agama dan nilai-nilai yang diyakini atau dianut oleh masyarakat. Pendidikan seks sangat membutuhkan peran keluarga (orang tua) maupun sekolah dan keduanya memberikan sumbangan yang berbeda. Di dalam keluarga, melalui suasana yang
hangat, akrab dan penuh kasih masalah-masalah seksual seharusnya dengan mudah dibicarakan daripada di sekolah. Akan tetapi, di sekolah rasa solidaritas dan tanggung jawab dapat lebih mudah dikembangkan. Tanpa keberadaan sekolah atau tempat pendidikan lain, orang tua tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Jadi orang tua, guru, sekolah adalah satu tim yang sangat bermanfaat dalam memberikan pendidikan seks.
Banyak masalah-masalah yang timbul karena ketidaktahuan anak mengenai seks, sehingga pengetahuan mengenai seks tampaknya penting dan sangat diperlukan oleh anak agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari (Sarwono dan Siamsidar, 1986). Seks juga menjadi masalah yang sangat pribadi dan tergantung pada latar belakang seseorang. Jika sejak kecil tidak diberikan penjelasan mengenai seks atau mengetahui sambil lalu dari orang tua, maka kemungkinan akan mengalami kesulitan untuk membicarakan masalah seks secara objektif. Saat ini, nilai-nilai moral semakin kabur karena anak dihadapkan pada godaan seksual dan penyelamat keadaan ini adalah orang tua. Orang tua perlu mempersiapkan diri dengan belajar tentang cara mengajarkan pendidikan seks yang baik dan tepat (Djiwandono, 2008).
Menurut Sarlito W. Sarwono (1994) sebaiknya pendidikan seks dimulai dari rumah, karena masalah seks merupakan masalah yang sifatnya sangat pribadi jika dijadikan materi pendidikan juga
memerlukan penyampaian yang pribadi. Pendidikan seks dan keluarga memiliki hubungan yang sangat erat dan penting. Keluarga adalah pemberi pendidikan seks pertama bagi anak dan memiliki pengaruh dalam mengembangkan nilai seksual serta pemahaman tentang seks pada anak (Halstead dan Reiss, 2004). Menurut Johan S. Tukan (1985:130) orang tua adalah pendidik yang pertama dan yang utama.
Gunarsa, Y. Singgih (2002) mengatakan peranan orang tua dalam perkembangan anak adalah:
a. Sebagai orang tua, membesarkan, merawat, memelihara dan memberikan kesempatan anak untuk berkembang.
b. Sebagai guru, mengajarkan ketangkasan dan keterampilan motorik, mengajarkan nilai dan peraturan dalam kehidupan bermasyarakat dan menanamkan pedoman hidup bermasyarakat. c. Sebagai tokoh teladan, menjadi role model yang akan ditiru pola
tingkah lakunya.
d. Sebagai pengawas, orang tua memiliki tugas untuk memperhatikan, mengamati dan mengawasi tingkah laku anak. Kartini Kartono (1985) orang tua bertanggung jawab untuk menciptakan suasana keluarga yang sedemikan rupa sehingga kelak anak akan menjadi pribadi yang kuat, sehat sampai berhasil menghadapi tantangan dalam kehidupannya, termasuk dalam kehidupan seks dan keluarga. Beberapa sikap keluarga dalam membantu anak membangun sikap yang sehat dalam kehidupan seks :
a. Menciptakan dan menumbuhkan suasana yang sehat dalam keluarga, suasana yang membuat anak merasa diterima, dikasihi oleh orang tua.
b. Menjalin kedekatan dan kehangatan dengan anak sehingga bisa memahami, memperhatikan kebutuhan anak.
c. Memberikan informasi mengenai kehidupan seks kepada anak melalui buku, penjelasan, bertukar pikiran dalam hal-hal yang berkaitan dengan masalah seks.
d. Menciptakan komunikasi yang baik antara orang tua dan anak.
Menurut Schwier dan Hingsburger (Puspita dalam Wulansari, 2007) menyatakan bahwa dalam memberikan pendidikan seks perlu memperhatikan usia mental anak yaitu sebagai berikut :
a. Antara 3 – 9 tahun. Pada usia mental ini anak diberikan pendidikan mengenai perbedaan antara laki-laki dan perempuan seperti anatomi tubuh, mengenal nama anggota badan, kebiasaan, emosi, tuntutan sosial dan sebagainya. Dalam usia mental ini juga diberikan pendidikan tentang tempat publik (tempat milik masyarakat) dan pribadi (tempat khusus untuk anak tersebut). Selain itu, mereka juga perlu mengetahui dan memahami proses kelahiran bayi.
b. Antara 9 – 15 tahun. Anak sudah mulai mengalami pubertas, sehingga mereka membutuhkan pemahaman mengenai menstruasi, mimpi basah. Mereka juga perlu mengetahui
perubahan fisik yang akan terjadi pada mereka terkait dengan pubertas termasuk perasaan dan dorongan seksual yang mereka alami. Selain itu, mereka juga harus memahami proses reproduksi/pembuahan.
c. Usia 16 tahun ke atas. Pada usia mental ini pendidikan seks mulai mengarah pada hubungan seksual dengan orang lain. Termasuk segala konsekuensi perilaku seksual yaitu kehamilan, penularan penyakit kelamin serta tanggung jawab perkawinan dan memiliki anak. Selain itu, mereka juga harus memahami hukum dan konsekuensi jika mereka melakukan tindakan atau perilaku menyimpang secara seksual.
Pendidikan yang diberikan orang tua kepada anaknya adalah dasar bagi pendidikan selanjutnya (Sumardi, Griess, Augustine, 1975). Berdasarkan hal ini maka sikap orang tua dapat digolongkan menjadi tiga yaitu :
a) Orang tua yang melarang anaknya membicarakan masalah seks, karena hal ini adalah tabu.
b) Orang tua yang bersikap acuh tak acuh, sama sekali tidak memperhatikan pendidikan anaknya, termasuk dalam masalah seksualitas. Hal ini mungkin disebabkan oleh kesibukan mereka, atau disebabkan karena mereka tidak tahu bagaimana harus menjelaskan, dan mungkin karena mereka memiliki anggapan
bahwa nantinya anak mereka akan mengetahui sendiri tentang seksualitas.
c) Orang tua yang benar-benar memperhatikan pendidikan anak. Mereka akan memberikan penjelasan ketika anak bertanya dan akan memberikan perhatian terhadap pergaulan anaknya.
Menurut Thornburg (Santrock, 2003) kebanyakan remaja tidak dapat berbicara secara bebas dengan orang tua mereka mengenai masalah seksual. Survei menunjukkan bahwa sekitar 17% pendidikan seks yang diterima remaja diperoleh dari ibu, dan 2% dari ayah. Fisher menambahkan jika para remaja bisa bicara secara terbuka dan bebas mengenai seks dengan orang tua, maka mereka akan cenderung tidak aktif secara seksual dan penggunaan kontrasepsi oleh remaja perempuan juga meningkat jika mereka bisa mengkomunikasikan seks dengan orang tua (Santrock, 2003).
Berdasarkan Journal of Family Psychology, pada umumnya anak perempuan lebih memiliki kedekatan secara emosional maupun fisik dengan ibunya. Hal ini karena ibu memiliki waktu lebih banyak daripada ayah. Ibu lebih banyak untuk mengasuh, beraktifitas bersama, berkomunikasi dengan anak perempuannya, dan ibu lebih memahami serta mengerti perubahan-perubahan yang terjadi pada anak perempuannya daripada ayah (Maharani, 2006). Selain itu, Agung (Laily dan Matulessy, 2004) menambahkan bahwa tidak jarang orang tua menanamkan persepsi yang negatif, seks adalah jorok dan tabu
untuk dibicarakan. Hal ini bisa terbawa oleh anak hingga dewasa, dan tetap menganggap seks adalah sesuatu yang tabu dan jorok. Konsekuensinya adalah akan timbul hambatan seksual pada anak termasuk peran seksualnya dan bahkan pada hubungan suami istri.
Orang tua seringkali memiliki sikap yang cenderung tertutup dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan anaknya mengenai masalah seks, dan menganggap seks adalah tabu. Hal ini kemudian menyebabkan anak mencoba mencari informasi di luar rumah (Sarwono dan Siamsidar, 1986). Sikap orang tua yang belum terbuka tentang seks karena masih kuatnya rasa tabu. Orang tua seringkali juga kurang paham yang disebabkan oleh pengetahuan yang terbatas sehingga menyebabkan orang tua kurang berfungsi sebagai sumber pendidikan seks (Sarwono, 2005:196). Menurut Masters, Johnson, & Kolodny (Laily dan Matulessy, 2004) masih banyak orang tua yang tidak tahu cara memberi informasi yang tepat mengenai masalah seksual kepada anaknya.
Sekarang ini, kesibukan orang tua membuat hubungan antara anak dan orang tua menjadi semakin renggang. Kesibukan kedua orang tua yang bekerja hampir menyita seluruh waktu mereka sehingga hanya memiliki sedikit waktu untuk mendampingi anaknya, apalagi terkait dengan pendidikan seks yang sebagian besar orang tua masih canggung untuk menyampaikannya (Habsyah dalam Nurmanina, 2012). Menurut Murdijana (Creagh, 2004) orang tua merasa tidak
nyaman membahas masalah seks dengan anaknya karena sebagai berikut :
a. Orang tua merasa tidak memiliki pengetahuan untuk menjawab pertanyaan tentang kesehatan reproduksi.
b. Orang tua tidak mengetahui batasan informasi yang pantas untuk diberitahukan kepada anaknya.
c. Orang tua tidak tahu usia yang tepat untuk mulai memberikan pendidikan seks kepada anaknya.
d. Orang tua tidak tahu cara berkomunikasi tentangs seks dengan anaknya.
e. Orang tua kurang bisa menciptakan suasana terbuka dan nyaman untuk membahas masalah seksualitas dengan anaknya.
Sebagaimana, menurut Kartini Kartono dalam buku Peranan Keluarga Memandu Anak (1985) terdapat beberapa penyebab orang tua sering tidak memberikan pendidikan seks kepada anaknya :
a. Orang tua menganggap seks adalah suatu hal yang tabu.
b. Orang tua tidak mengetahui pentingnya pendidikan seks bagi anak.
c. Orang tua tidak memiliki pengetahuan mengenai seks dan tidak mengetahui cara memberikan pendidikan seks.
d. Orang tua merasa malu jika membicarakan masalah seks.
e. Orang tua menganggap bahwa masalah seks pada akhirnya akan diketahui sendiri oleh anak.
f. Orang tua merasa khawatir jika anak akan melakukan perbuatan menyimpang setelah diberikan penjelasan tentang seks.
Menurut Lubis (Sumaryani, 2014) faktor-faktor yang mempengaruhi orangtua dalam memberikan pendidikan seks :
a. Faktor sosial ekonomi : Semakin rendah penghasilan keluarga maka orang tua akan semakin lama di luar rumah sehingga dalam memberikan pendidikan seks semakin buruk.
b. Faktor sosial budaya : Mengajarkan pendidikan seks adalah masalah yang tabu sehingga akan mempengaruhi orang tua dalam memberikan pendidikan seks.
c. Riwayat pendidikan seks : Riwayat pendidikan seks yang dimiliki orang tua dalam mendapatkan informasi mengenai seks sebelumnya.
11. Permasalahan Orang Tua dalam Memberikan Pendidikan Seks pada Anak
Berdasarkan pembahasan-pembahasan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa area permasalahan yang sering dihadapi orang tua dalam memberikan pendidikan seks, area-area tersebut antara lain:
1) Area Sikap
a. Orang tua bersikap tertutup menghadapi pertanyaan anak, orang tua malu membicarakan masalah seks dan orang tua
masih canggung untuk menyampaikannya (Sarwono dan Siamsidar, 1986; Kartini Kartono, 1985; Habsyah dalam Nurmanina, 2012). Hal ini karena orang tua masih memiliki rasa tabu yang kuat, akhirnya belum terbuka mengenai masalah seks (Sarwono, 2005).
b. Orang tua bersikap acuh tak acuh terhadap masalah seksualitas (Sumardi, Griess, Augustine, 1975). Hal ini kemungkinan karena mereka memiliki anggapan bahwa nantinya anak mereka akan mengetahui sendiri tentang seks (Sumardi, Griess, Augustine, 1975).
c. Orang tua kurang bisa menciptakan suasana terbuka dan nyaman untuk membahas masalah seks dengan anaknya (Murdijana dalam Creagh, 2004). Hal ini kemungkinan disebabkan karena orang tua masih menabukan masalah seks dan mereka berpendapat seks adalah sesuatu yang alamiah, kemudian akan diketahui setelah menikah (Sarlito W.
Sarwono, 1994; Mu’tadin dalam Evi Karota & Yesi Ariani,
2005).
d. Orang tua khawatir anak akan melakukan perbuatan menyimpang setelah diberikan penjelasan masalah seks (Kartini Kartono, 1985). Hal ini berkaitan dengan nilai-nilai yang diyakini oleh orang tua bahwa ketika dibicarakan secara
terbuka maka berpengaruh pada perilaku seksual anaknya (PKBI dalam Evi Karota & Yesi Ariani, 2005).
e. Orang tua melarang anaknya membicarakan masalah seks (Sumardi, Griess, Augustine, 1975). Hal ini karena masih kuatnya rasa tabu dan pembicaraan mengenai seks di depan umum adalah sesuatu yang porno sehingga pembicaraan mengenai seks dilarang (Skripsiadi dalam Sumaryani, 2014). Soekamto (Risnawati, 2002) menyatakan bahwa menurut pandangan Psikoanalisa, tabunya pembicaraan mengenai masalah seks disebabkan karena seks dianggap sumber dari dorongan-dorongan naluri di dalam id. Dorongan-dorongan-dorongan naluri seksual ini bertentangan dengan moral yang ada sehingga dorongan ini harus ditekan, tidak boleh dimunculkan pada orang lain dalam bentuk perilaku terbuka. Pada akhirnya tekanan ini mempersulit komunikasi. Sebagaimana menurut Sarwono (2005) pendidikan bukanlah penerangan tentang seks semata, tetapi seperti pendidikan lain pada umumnya yang mengandung penanaman nilai-nilai.
Informasi tentang seks tidak diberikan “telanjang”, tetapi secara “kontekstual” yang berkaitan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat sehingga memiliki ruang lingkup yang luas.
a. Orang tua tidak memiliki pengetahuan untuk menjawab pertanyaan tentang kesehatan reproduksi (Murdijana dalam Creagh, 2004).
b. Orang tua tidak mengetahui pentingnya pendidikan seks (Kartini Kartono, 1985).
c. Orang tua tidak mengetahui batasan informasi yang pantas untuk diberitahukan kepada anaknya (Murdijana dalam Creagh, 2004).
d. Orang tua tidak mengetahui bagaimana harus menjelaskan pendidikan seks dan tidak tahu kapan memberikan pendidikan seks (Widjanarko dalam Evi Karota & Yesi Ariani, 2005).
e. Orang tua tidak mengetahui cara memberikan pendidikan seks dan orang tua tidak tahu usia yang tepat untuk mulai memberikan pendidikan seks kepada anaknya (Murdijana dalam Creagh, 2004).
Berdasarkan uraian diatas, menurut Djiwandono (2008) pada kenyataannya rata-rata orang tua ‘buta’ dalam pendidikan seks dan
seksualitas dan membicarakan seksualitas. Hal ini karena seksualitas adalah suatu hal yang tabu. Orang tua seharusnya membekali diri dengan pengetahuan seputar seksualitas terlebih dahulu sebelum memberikan pendidikan seks.
Orang tua tidak tahu cara memberi informasi yang tepat mengenai masalah seksual kepada anaknya, orang tua tidak tahu cara berkomunikasi tentang seks dengan anaknya. Hal ini kemungkinan karena orang tua tidak memiliki pengalaman dalam memberikan informasi tentang seks (Widjanarko, dalam Evi Karota & Yesi Ariani, 2005). Orang tua juga memiliki pengetahuan yang rendah tentang pendidikan seks (Nugraha dalam S.R. Juliana Marpaung & Setiawan, tanpa tahun). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin buruk taraf komunikasi antara orang tua dan anak akan semakin besar kemungkinan remaja melakukan tindakan-tindakan seksual (Sarwono dalam Paramita, 2009).
4) Area Kesibukan Orang tua
Orang tua memiliki kesibukan kerja sehingga orang tua hanya memiliki sedikit untuk mendampingi anaknya. Menurut Habsyah (Nurmanina, 2012) kesibukan orang tua membuat hubungan antara orang tua dan anak menjadi semakin renggang, sehingga mereka hanya memiliki waktu sedikit untuk mendampingi anaknya. Selain itu, menurut Widyarini; Mahayoni (Pratiwi, 2010) orang tua kekurangan waktu untuk mendampingi anaknya karena orang tua sibuk bekerja mencari nafkah sehingga anak kurang mendapatkan pendidikan dari orang tuanya.
Pendidikan seks yang diterima remaja lebih banyak dari ibu daripada ayah. Menurut Thornburg (Santrock, 2003) kebanyakan remaja tidak dapat berbicara secara bebas dengan orang tua mereka mengenai masalah seksual. Survei menunjukkan bahwa sekitar 17% pendidikan seks yang diterima remaja diperoleh dari ibu, dan 2% dari ayah.
6) Area Sosial Ekonomi
Semakin rendah penghasilan keluarga maka orang tua akan semakin lama di luar rumah sehingga dalam memberikan pendidikan seks semakin buruk (Lubis dalam Sumaryani, 2014). 7) Area Budaya
Orang tua menganggap bahwa mengajarkan pendidikan seks adalah masalah yang tabu. Dalam buku Sampyuh Seks Jawa Agung (Endraswara dalam Pratiwi, 2010) menyatakan bahwa orang Jawa mengenal etika tabu dan tidak pantas, sehingga pemaparan seksualitas disampaikan dengan cukup hati-hati. Sebagaimana menurut Skripsiadi (Sumaryani, 2014) tabunya masalah seks karena faktor budaya yang melarang pembicaraan mengenai seks di depan umum, sehingga seks dianggap sesuatu yang porno dan sifatnya sangat pribadi dan tidak boleh diungkapkan kepada orang lain. Selain itu, tabu karena pengertian mengenai seksualitas di masyarakat yang masih sempit, pembicaraannya seolah-olah hanya diartikan kearah hubungan
seksual. Soekamto (Risnawati, 2002) menurut pandangan Psikoanalisa, tabunya pembicaraan mengenai masalah seks disebabkan karena seks dianggap sumber dari dorongan-dorongan naluri di dalam id. Dorongan-dorongan naluri seksual ini bertentangan dengan moral yang ada sehingga dorongan ini harus ditekan, tidak boleh dimunculkan pada orang lain dalam bentuk perilaku terbuka. Pada akhirnya tekanan ini mempersulit komunikasi.
B. DESKRIPSI TENTANG DESA SOBAYAN DAN MASYARAKATNYA Peneliti memilih desa Sobayan sebagai lokasi penelitian karena desa tersebut terdapat kawasan lokalisasi liar yang dan hingga saat ini aktivitasnya masih ada. Penduduk atau warga masyarakat menyebut
kawasan tersebut dengan istilah “komplek”. Dalam media online disebutkan bahwa salah satu desa di Kecamatan Pedan yang dikenal sebagai lokalisasi tidak resmi (http://www.suaramerdeka.com). Menurut salah satu peneliti dari Pusat Penelitian Kependudukan Universitas Sebelas Maret (PPK UNS) Solo, Argyo MSc, memaparkan hasil penelitian Rapid Assesment untuk Masalah HIV/AIDS di Kabupaten Klaten. Salah satu desa di Kecamatan Pedan terdapat bekas lokalisasi yang masih digunakan sebagai tempat transaksi seksual. Argyo mengungkapkan tempat tersebut sampai saat ini masih ada aktivitas (www.solopos.co.id).
Keberadaan lokalisasi tersebut sudah lama yaitu sejak jaman Belanda, sehingga aktivitasnya masih ada hingga saat ini (wawancara, 1 Desember 2014). Para PSK (Pekerja Seks Komersial) kebanyakan adalah pendatang dari daerah di Jawa Timur. Lokalisasi ini berada di tengah pemukiman penduduk. Lokalisasi adalah bagian dari prostitusi yang digolongkan menurut tempat atau lokasinya. Lokalisasi diartikan sebagai yang terisolasi atau terpisah dari kompleks penduduk lainnya. Komplek ini dikenal dengan daerah lampu merah atau petak-petak daerah tertutup (Kartono, 2007:253). Menurut Sunardi (Issabela & Hendriani, 2010) saat ini lokalisasi berada di lingkungan yang juga dihuni oleh warga masyarakat yang tidak terlibat dalam bisnis prostitusi. Kondisi ini sesuai dengan keberadaan lokalisasi salah satu desa di Kecamatan Pedan.
Berdasarkan data Monografi, desa Sobayan memiliki luas 93.3415 ha. Secara topografis desa tersebut merupakan daerah dataran rendah yang terdapat sawah dan ladang yang luas. Jumlah penduduknya adalah 4028 (penduduk laki-laki: 2027 jiwa, dan penduduk perempuan: 2001 jiwa) dan jumlah KK 912. Desa tersebut juga merupakan salah satu desa layak anak dengan jumlah anak: 1147 anak usia 0 – 18 tahun. Tabel dibawah ini adalah data mengenai Jenjang Pendidikan Penduduk desa Sobayan (Tabel 2), Jenjang Pendidikan Anak (Tabel 3) dan Mata Pencaharian penduduk desa Sobayan (Tabel 4) yaitu sebagai berikut :
Tabel 2
Jenjang Pendidikan Penduduk desa Sobayan (Data Monografi, 31 Juni 2014)
No. Pendidikan Jumlah
a. TK 121 b. SD 84 c. SMP 127 d. SMA 133 e. Akademi (D1-D3) 49 f. Sarjana (S1–S3) 42 Tabel 3
Jenjang Pendidikan Anak desa Sobayan (Data Anak, per 1 januari 2014)
No. Pendidikan Jumlah
1. PAUD / TK 282 2. SD/MIM 453 3. SMP/ SEDERAJAT 169 4. SMA/SEDERAJAT 172 Jumlah 1147 Tabel 4
Mata Pencaharian Penduduk desa Sobayan (Data Monografi, 31 Juni 2014)
No. Mata Pencaharian Jumlah 1. Karyawan
a. PNS 120
b. ABRI 28
c. Swasta 465
3. Petani 40
4. Pertukangan 60
5. Buruh Tani 62
6. Pensiunan 76
Berdasarkan data diatas, Mayoritas Pendidikan Penduduk adalah di jenjang pendidikan SMA dan SMP. Selain itu, Mayoritas Pendidikan Anak adalah di jenjang pendidikan SD dan PAUD/ TK. Mayoritas Mata Pencaharian Penduduk adalah sebagai Wiraswasta/ Pedagang dan Swasta. Desa Sobayan terdiri dari 18 dukuh dengan jumlah RT: 40 dan RW: 13. Enam dukuh diantaranya adalah 2 dukuh berada di kawasan lokalisasi (RW 3 dan 4) dan 4 dukuh berbatasan langsung dengan lokalisasi (RW 2 dan 5). Selain itu, desa Sobayan menjadi salah satu Desa Menuju Layak Anak dengan jumlah anak lebih dari seribu anak. Gambar (1) adalah kawasan lokalisasi yang keberadaanya dekat dengan pemukiman penduduk di desa Sobayan :
Gambar 1
Melihat kondisi tersebut, tampaknya anak-anak di desa Sobayan melewati proses tumbuh kembang dalam lingkungan prostitusi dan mereka yang tinggal di kawasan lokalisasi tersebut mau-tidak-mau melihat transaksi seksual yang terjadi disana. Dalam konteks ini, pendidikan seks menjadi sangat penting terlebih bagi warga masyarakat yang tinggal di kawasan lokalisasi tersebut. Namun kenyataannya adalah belum ada perhatian yang nyata dari para orang tua mengenai pemberian pendidikan seks kepada anaknya, bahkan cenderung menunda dan menabukan masalah seks. Maka peneliti merasa tertarik meneliti bagaimana praktek pendidikan seks disana? Apakah pendidikan seks diberikan oleh para orang tua untuk anak-anaknya? Adakah pendampingan untuk anak-anak disana?. Apa yang sudah dilakukan para orang tua di desa tersebut? Jika pendampingan atau prakteknya belum ada maka apa yang menjadi hambatan/ permasalahan-permasalahan paraorang tua dalam memberikan pendidikan seks?.
C. KERANGKA PENELITIAN
Menurut Sarwono (2005) pendidikan seks adalah salah satu cara untuk mengurangi atau mencegah penyalahgunaan seks dan dampak negatif yang tidak diharapkan. Maka dalam hal ini orang tua memiliki tugas dalam memberikan pendidikan seks (Djiwandono, 2008). Namun, berdasarkan pembahasan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa terdapat
beberapa area permasalahan yang dimiliki para orangtua dalam memberikan pendidikan seks kepada anaknya antara lain adalah :
1) Area sikap yaitu orang tua memiliki sikap-sikap pasif dalam masalah seks dan memberikan atau menjelaskan pendidikan seks, misalnya sikap tertutup, khawatir dan tabu.
2) Area pengetahuan yaitu berkaitan dengan pengetahuan orang tua yang terbatas mengenai seks dan seksualitas, termasuk dalam pemberian pendidikan seks kepada anaknya. Misalnya tidak memiliki pengetahuan untuk menjawab pertanyaan tentang masalah seks, tidak mengetahui bagaimana menjelaskan, dan tidak