• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

C. SARAN

3. Mengapa perasaan tersebut muncul secara dominan?

A. Melakukan sesuatu untuk memenuhi keingintahuan anda tentang seks

B. Anda tidak melakukan sesuatu untuk memenuhi keingintahuan anda tentang seks

C. Lainnya :

5. Saat anak anda menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan seks, apa respon anda?

A. Saya menjawab pertanyaan tersebut

B. Melarang untuk menanyakan hal-hal tentang seks C. Tidak menjawab pertanyaan tersebut

D. Lainnya :

6. Saat anak anda menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan seks, apa perasaan anda?

2. Pengetahuan a. Pengetahuan orang tua untuk menjawab pertanyaan anak

7. Ketika secara tiba-tiba anak anda menanyakan darimana seorang bayi itu ada, apa jawaban anda?

informasi mengenai seks

b. Pemahaman orang tua dalam menjelaskan istilah-istilah yang berkaitan dengan masalah seks (misalnya anatomi tubuh, proses reproduksi, organ-organ seksual, dll)

10. Menurut yang anda ketahui, apa tanda-tanda fisik/fisiologis seorang perempuan memasuki masa remaja?

11. Ketika anak anda bertanya tentang kenapa lat kelaminnya berbeda dengan alat kelamin anak lain yang berjenis kelamin berbeda, apa jawaban anda?

12. Menurut yang anda ketahui, apa nama atau sebutan dari : a. Organ intim anak perempuan :

b. Organ intim anak laki-laki :

13. Apa yang anda ketahui tentang menstruasi?

14. Menurut yang anda ketahui, mengapa seorang perempuan menstruasi? 15. Apa yang anda ketahui tentang mimpi basah?

16. Menurut yang anda ketahui, mengapa seorang laki-laki mimpi basah? 3. Keterampilan a. Metode/ cara

memberikan pendidikan seks

17. Bagaimana cara anda memberikan informasi tentang seks kepada anak anda?

A. Saya memberikan penjelasan dan informasi tentang seks secara langsung kepada anak saya

B. Saya memberikan penjelasan tentang seks melalui media (buku, internet, film, televisi, dst) kepada anak saya

C. Saya memberikan kebebasan kepada anak saya untuk mencari sendiri informasi tentang seks

seks

F. Saya menunggu anak bertanya mengenai seks, kemudian saya memberikan informasi tentang seks

G. Lainnya : b. Informasi dan

batasan dalam memberikan pendidikan seks

18. Informasi-informasi apa yang anda sampaikan ketika membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan seks?

19. Batasan-batasan apa yang anda berikan kepada anak anda ketika membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan seks?

c. Sumber pendidikan seks

20. Siapa yang lebih sering membicarakan masalah seks kepada anak anda? A. Saya dan pasangan saya

B. Saya

C. Pasangan saya

D. Tidak saya dan pasangan saya E. Kakak-adik

F.Keluarga besar : Kakek-nenek, paman-bibi G. Sekolah

H. Lingkungan Masyarakat I. Teman sebaya

J. Tidak ada yang membicarakan masalah seks K. Lainnya :

B. Saya

C. Pasangan saya D. Kakak-Adik

E. Keluarga Besar: Kakek-Nenek, Paman-Bibi F. Teman sebaya G. Guru H. Sekolah I. Buku J. Majalah K. Internet L. Ahli M. Film N. TV

O. Belum mendapatkam informasi seks dari mana saja P.Lainnya :

4. Kesibukan Orang tua

Intensitas kebersamaan orang tua dengan anak

22. Berapa jam anda dirumah dalam sehari? A. 1–5 jam

B. 5–9 jam C. 9–12 jam

B. 6–10 jam C. 11–15 jam D. > 16 jam 5. Relasi Anak dengan Orang tua a. Intensitas kedekatan orang tua dengan anak

24. Pilihlah pernyataan dibawah ini yang sesuai dengan kondisi saat ini : A. Anak saya terbuka dengan saya maupun pasangan saya

B. Anak saya lebih terbuka dengan pasangan saya C. Anak saya lebih terbuka dengan saya

D. Anak saya tidak terbuka dengan saya maupun pasangan saya 25. Apa aktivitas-aktivitas yang paling dekat dengan anak anda? 26. Apa aktivitas-aktivitas yang tidak dekat dengan anak anda? 6. Sosial-Ekonomi a. Pekerjaan (PK) Pekerjaan :

b. Tingkat Pendapatan Keluarga

(PH) Berapa penghasilan anda per bulan? A. < Rp 500.000

B. Rp 500.000–Rp 1.000.000 C. Rp 1.000.000–Rp 2.000.000 D. Rp 2000.000–Rp 3.000.000 E. > Rp 3.000.000

7. Seks a. Tanggapan orangtua

mengenai seks

27. Menurut anda, apa hambatan/kesulitan terbesar dalam memberikan informasi tentang seks kepada anak anda?

b. Tantangan orang tua dalam memberikan pendidikan seks

28. Apa upaya yang anda lakukan saat ini untuk mengatasi hambatan/kesulitan dalam memberikan informasi tentang seks kepada anak anda?

d. Perilaku seksual menyimpang

30. Sejauh yang anda pahami, bagaimana lingkungan memandang tentang seks?

F. VALIDITAS INSTRUMEN DAN KEABSAHAN DATA 1. Validitas Instrumen

Instrumen dikatakan valid jika instrumen tersebut mampu mengukur apa yang akan diukur (Sugiyono 2013). Sebagaimana menurut Suryabrata (2005) validitas penelitian membicarakan tentang derajat kesesuaian hasil penelitian dengan keadaan yang sebenarnya. Notoadmodjo (2010) menambahkan bahwa validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur benar-benar mengukur apa yang diukur. Azwar (2007) validitas adalah ketepatan dan kecermatan alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya.

Validitas dalam penelitian ini adalah validitas isi (content validity). Validitas isi (Azwar, 1999) merupakan validitas yang melalui pengujian isi tes dengan analisis rasional (professional judgement). Menurut Idrus (2009) validitas isi biasanya juga ditentukan dengan metode professional judgement atau pendapat ahli yang melihat apakah keseluruhan materi dalam sebuah alat ukur secara representatif terwakili oleh pertanyaan atau pernyataan yang ada. Azwar (2001) validitas isi memiliki dua tipe yaitu validitas logis (logical validity) dan validitas muka (face validity).

Validitas logis menunjukkan sejauh mana isi tes dapat mewakili ciri-ciri atribut yang akan diukur. Validitas muka berarti validitas yang didasarkan pada penilaian terhadap format tampilan tes. Valid apabila penampilan tes meyakinkan dan memberikan kesan mampu mengungkapkan aspek yang akan diukur. Dalam menentukan validitas

logis (logical validity), peneliti meminta pendapat ahli (rational expert judgement) yaitu Carolus Wijoyo Adinungroho, M. Psi, selaku dosen pembimbing untuk memeriksa materi kuesioner dan menyimpulkan apakah item-item dalam kuesioner sesuai dengan area yang akan diteliti. Validitas muka (face validity), peneliti meminta beberapa orang tua dan beberapa mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma untuk memeriksa dan menyimpulkan apakah item dalam kuesioner sudah memberikan kesan paham dan mampu untuk mengukur hal-hal yang akan diukur. Area-area yang akan diteliti dalam penelitian ini dapat dilihat dalam tabel blue-print kuesioner (Tabel 8) :

Tabel 8 Blue-print Kuesioner Identitas Nama : Usia : Pendidikan terakhir :

Status dalam keluarga : Suami / Istri Jumlah anak :

Usia anak / Jenis kelamin : Pendidikan anak :

Area Kriteria No. Soal Total

1. Sikap a. Gambaran sikap orang tua saat membicarakan topik tentang seks

b. Gambaran sikap orang tua saat anak menanyakan masalah seks

c. Gambaran sikap orang tua mengenai pemberian pendidikan seks.

1,2,3

5,6 4

6

untuk menjawab pertanyaan anak mengenai masalah seks dan pemberian informasi mengenai seks

b. Pemahaman orang tua dalam menjelaskan istilah-istilah yang berkaitan dengan masalah seks (misalnya anatomi tubuh, proses reproduksi, organ-organ seksual, dll) 9,10,12,1 3,14,15,1 6 10

3. Keterampilan a. Metode/ cara

memberikan pendidikan seks

b. Informasi dan batasan dalam memberikan pendidikan seks

c. Sumber pendidikan seks

17 18,19 21 4 4. Kesibukan Orang tua

Intensitas kebersamaan orang tua dengan anak

22,23 2

5. Relasi Anak dengan Orang tua

a. Intensitas kedekatan orang tua dengan anak b. Kenyamanan serta keterbukaan mengenai masalah seks 24,25,26 20 4 6. Sosial– Ekonomi a. Pekerjaan b. Tingkat Pendapatan Keluarga (Identitas Informan) 7. Seks a. Tanggapan orangtua

mengenai seks

b. Tantangan orang tua dalam memberikan pendidikan seks

c. Upaya dalam mengatasi kesulitan d. Perilaku seksual menyimpang 30 27 28 29 4 Jumlah 30 30

2. Keabsahan data

Dalam penelitian ini, untuk menguji keabsahan data dilakukan dengan cara member checking pada 27 KK dengan jeda waktu 8 hari (8 September 2015 - 15 dan 16 September 2015). Member checking adalah suatu proses dimana peneliti menanyakan baik secara tertulis atau lisan kepada seorang atau lebih informan untuk mengecek keakuratan laporan atau keterangan (Emzir, 2012). Proses member checking dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Peneliti mengurutkan tanggal pengambilan jawaban sesuai tanggal yang terlama yaitu informan yang pertama kali diambil datanya sampai informan terakhir.

2. Peneliti kembali ke lapangan untuk mengecek apakah keterangan hasil penelitian tersebut sudah akurat.

3. Peneliti membacakan laporan hasil penelitian dan memberikan kesempatan kepada semua informan untuk berkomentar tentang hasil penelitian.

Berdasarkan hasil member checking menunjukkan bahwa keterangan informan penelitian adalah akurat dan tidak ada perubahan dengan jawaban sebelumnya. Hal ini dapat disimpulkan bahwa alat ukur mampu menunjukkan jawaban yang konsisten saat diberikan kepada informan yang sama dengan jeda waktu tertentu.

G. ANALISIS DATA

Penelitian ini dianalisis menggunakan pendekatan kualitatif menurut Miles & Huberman (Emzir, 2012 ; Afrizal, 2015) dengan tahapan sebagai berikut :

a. Reduksi data

Reduksi data adalah suatu bentuk analisis yang mempertajam, memilih, memfokuskan, membuang dan menyusun data sehingga kesimpulan akhir dapat digambarkan dan diverifikasi. Peneliti menulis catatan lapangan dan membaca keseluruhan catatan lapangan. Kemudian peneliti memilah informasi yang penting dan tidak penting dengan memberikan tanda/nama/tema, serta mengklasifikasikan tema-tema hasil temuan.

b. Penyajian Data

Sekumpulan informasi yang tersusun yang memberikan kemungkinan adanya pendiskipsian kesimpulan dan pengambilan tindakan. Peneliti menyajikan temuan penelitian yang berupa pengelompokan atau kategori dalam sebuah diagram.

c. Penarikan kesimpulan / verifikasi

Peneliti menarik kesimpulan dari temuan data yang merupakan interpretasi atas temuan suatu wawancara. Setelah menarik kesimpulan, peneliti mengecek kembali kesahihan interpretasi dengan cara mengecek ulang proses koding dan penyajian data untuk memastikan tidak ada kesalahan dalam proses analisis.

75 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. PELAKSANAAN PENELITIAN

1. Tahap Persiapan

a. Peneliti mencari informasi tentang desa SB kepada Sekretaris desa SB.

b. Peneliti mempersiapkan surat permohonan ijin penelitian kepada Pemerintah Kabupaten Klaten (Bappeda) dengan berbagai tembusan ke beberapa instansi terkait.

c. Peneliti meminta bantuan dua orang pewawancara lain untuk membantu proses pengambilan data dan memberikan penjelasan serta petunjuk pelaksanaan wawancara. Hal ini untuk memudahkan dalam hal waktu dan pengambilan data jika dilakukan untuk pasangan suami istri.

d. Peneliti mempersiapkan kebutuhan atau perlengkapan penelitian yaitu kuesioner dan alat tulis.

2. Tahap Pelaksanaan

a. Peneliti melakukan survei lokasi bersama Sekretaris desa dan peneliti diperkenalkan kepada setiap Ketua RW di kawasan lokalisasi. Hal ini untuk memberitahukan maksud dan tujuan peneliti melakukan penelitian di kawasan lokalisasi.

b. Peneliti melakukan wawancara dengan kuesioner yang sudah dipersiapkan sebelumnya kepada para orang tua yang memiliki anak usia sekolah secara door to door. Proses wawancaranya adalah sebagai berikut : peneliti membacakan pertanyaan (terdiri dari 30 pertanyaan), informan diminta menjawab semua pertanyaan dan peneliti menuliskan semua jawaban informan di lembar jawaban yang sudah tersedia.

c. Peneliti melakukan member checking untuk mengecek keabsahan data penelitian.

Tabel 9

Persiapan dan Pelaksanaan

No. Tanggal Keterangan

1. 1 Desember 2014 Mencari informasi ke Kelurahan Desa SB (Wawancara Sekretaris Desa)

2. 3 Desember 2014 Pengurusan surat perijinan penelitian ke Bappeda

3. 1 Januari 2015 Wawancara Sekretaris desa SB 4. 16 & 19 Januari

2015

Pengumpulan data awal tentang desa SB

5. 19 Februari 2015 Survei lokasi 6. 20 Juli 2015 - 27 Juli 2015 Validasi instrument 7. 24 Agustus 2015–1 September 2015 Pengambilan data 8. 8 September 2015 – 16 September 2015 Member checking

B. HASIL PENELITIAN 1. Sikap

Sikap seks orang tua dapat dikategorikan menjadi 2 yaitu sikap seks terhadap dirinya sendiri dan sikap seks dalam konteks dengan anak. Sikap seks terhadap dirinya sendiri, meliputi pikiran, tindakan dan perasaan. Pikiran orang tua mengenai seks yaitu positif. Orang tua melihat seks sebagai sesuatu yang baik bagi dirinya, dan seks berkaitan dengan aturan/ norma yang berlaku. Hal ini kemudian muncul dalam pikiran mereka yaitu mengenai suatu hubungan suami-istri, hubungan lawan jenis, bercinta dan pacaran. Artinya adalah orang tua mengartikan kata seks sebagai suatu hubungan dan seks bukan dalam arti yang sebenarnya mengenai arti kata seks pada umumnya. Selain itu, tindakan mereka terhadap seks juga positif, mereka merasa nyaman melakukan sesuatu untuk memenuhi keingintahuannya tentang seks. Hal ini menunjukkan bahwa ada tindakan timbal balik dari orang tua, ketika muncul rasa ingin tahu, maka akan melakukan sesuatu untuk memenuhi rasa ingin tahu tersebut.

Kondisi yang berbeda ditunjukkan orang tua melalui perasaannya. Perasaan mereka terhadap seks adalah takut, was-was, cemas, gelisah dan khawatir. Perasaan tersebut mayoritas ditunjukkan oleh ibu, dengan beberapa alasan diantaranya adalah perasaan tidak nyaman berkaitan dengan tuntutan istri untuk melayani suami, pola pikir tentang seks yang menjurus kearah negatif, sesuatu yang tidak pantas, faktor keengganan orang tua dalam memberikan informasi mengenai seks kepada anak dan

ketidaknyamanan orang tua dalam membicarakan seks. Hal ini sesuai dengan pandangan mereka terhadap seks yaitu sesuatu yang tabu, sesuatu yang tidak perlu dibicarakan, seks adalah sesuatu yang bisa dibeli dan bebas. Maka artinya adalah terdapat kekhawatiran dan ketidaknyamanan dalam memaknai seks, yang tampaknya disebabkan oleh rasa tabu dan rasa acuh terhadap seks.

Sikap seks orang tua terhadap anak ditunjukkan oleh perasaan was-was, khawatir, takut, gelisah dan tidak tenang. Perasaan tersebut muncul karena kekhawatiran terhadap hal-hal negatif yang dapat terjadi kepada anak, dan kekhawatiran mengenai pergaulan yang semakin bebas. Dengan demikian maka menunjukkan bahwa perasaan orang tua cenderung negatif dan orang tua memiliki kekhawatiran terhadap anak. Selain itu, tindakan/ respon orang tua dalam menghadapi pertanyaan anak adalah menghindari pertanyaan dengan melarang dan tidak menjawab pertanyaan anak mengenai seks. Hal ini menunjukkan sikap menghindari pembicaraan mengenai seks. Kondisi ini tampaknya juga dipengaruhi oleh pandangan mereka terhadap seks yaitu seks sebagai sesuatu yang tabu, sesuatu yang tidak perlu dibicarakan, seks adalah sesuatu yang bisa dibeli dan bebas.

Berdasarkan uraian diatas, tampak bahwa sikap seks orang tua terhadap dirinya sendiri adalah memiliki ketertarikan untuk memenuhi rasa ingin mengenai seks. Meskipun pikirannya positif, namun tidak diikuti dengan pemahaman yang cukup mengenai arti kata seks yang sebenarnya, sehingga terdapat kekhawatiran dan ketidaknyamanan dalam memaknai seks.

Sedangkan sikap seks orang tua terhadap anak adalah menghindari pembicaraan mengenai seks karena muncul perasaan yang tidak nyaman terhadap seks dan yang cenderung negatif, dan memunculkan kekhawatiran terhadap anak. Sikap diatas kemungkinan disebabkan oleh rasa tabu dan acuh dalam pembicaraan mengenai seks.

2. Pengetahuan

Pengetahuan orang tua mengenai seks dapat ditunjukkan pengetahuan tentang darimana seorang bayi itu ada, mengenai tanda-tanda fisik/fisiologis seorang laki-laki, tanda-tanda fisik/fisiologis seorang perempuan, perbedaan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan, mengenai nama organ intim laki-laki dan perempuan, tentang apa itu menstruasi dan mimpi basah, mengapa menstruasi dan mimpi basah dan tentang pemberian informasi tentang seks kepada anak.

Pengetahuan mereka tentang darimana seorang bayi itu ada. Pada umumnya orang tua menjawab bayi berasal dari perut ibu dan anugerah Tuhan (37,5%). Beberapa yang lain tidak bisa menjawab dan enggan memberikan informasi asal muasal kehadiran bayi (17,5%). Hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak menjawab sesuai fakta yang sebenarnya, tidak memberikan jawaban sesuai sumber informasi yang akurat dan menunjukkan keengganan dalam memberikan informasi mengenai seks.

Pengetahuan mengenai tanda-tanda fisik/fisiologis seorang laki-laki. Mayoritas jawaban orang tua adalah perubahan suara dan mimpi basah

(62,5%). Beberapa yang lain menjawab mengenai penampilan dan perubahan sikap terhadap lawan jenis (35%). Hal ini menunjukkan bahwa jawaban mereka mengenai tanda fisiologis sudah tepat. Namun, masih ditemukan jawaban yang tidak termasuk dalam tanda-tanda fisik/fisiologis seorang laki-laki yaitu mengenai penampilan dan perubahan sikap terhadap lawan jenis.

Pengetahuan tentang tanda-tanda fisik/fisiologis seorang perempuan. Mayoritas orang tua menjawab menstruasi, mens, haid dan bulanan (80%). Beberapa yang lain menjawab tentang perhatian yang lebih terhadap penampilan (35%). Hal ini menunjukkan bahwa jawaban mereka mengenai tanda fisiologis sudah tepat. Akan tetapi, masih ditemukan jawaban yang tidak termasuk dalam tanda-tanda fisik/fisiologis seorang perempuan yaitu tentang perubahan perilaku mengenai penampilan.

Pengetahuan mengenai perbedaan jenis kelamin antara laki-laki dan

perempuan. Mayoritas jawaban orang tua adalah perempuan “begini”, laki

-laki “begini” (40%). Orang tua tidak memberikan penjelasan secara jelas

mengenai perbedaan diantara keduanya. Hal ini menunjukkan kesungkanan membicarakan perbedaan jenis kelamin laki-laki dan perempuan.

Pengetahuan mengenai nama organ intim laki-laki dan perempuan. Mayoritas jawaban mereka adalah penis (42,5%) dan vagina (57,5%). Beberapa yang lain menjawab dengan istilah Jawa (menjawab vagina dengan sebutan memek (2%), nunuk (12,5%), nonok (2,5%), mawar (2,5%), tempe (2,5%), sedangkan menjawab penis dengan sebutan burung (17,5%),

titit (20%), cimblek (2,5%), emprit (5%)). Jawaban orang tua sudah tepat, dan peneliti menemukan temuan bahwa masih terdapat beberapa istilah yang digunakan untuk menyebutkan nama organ intim laki-laki dan perempuan. Hal ini berarti menunjukkan ketidaknyamanan untuk menyebutkan nama organ intim laki-laki dan perempuan.

Pengetahuan tentang apa itu menstruasi dan mimpi basah. Pada umumnya jawaban mereka, menstruasi mengarah pada perkembangan dari anak menjadi dewasa, tanda anak perempuan memasuki masa dewasa, siklus peralihan, menginjak remaja, akil baliknya perempuan (17,5%). Mimpi basah adalah sesuatu yang terjadi pada laki-laki usia remaja, lelaki sudah beranjak remaja, pertanda peralihan dari anak-anak ke remaja, dan pertanda akil balik seorang laki-laki (25%). Hal ini menunjukkan bahwa jawaban orang tua belum mengarah ke pengetahuan logis tentang proses terjadinya mestruasi dan mimpi basah.

Pengetahuan tentang mengapa menstruasi dan mimpi basah. Menstruasi merupakan kodrat wanita, takdir perempuan dan dari sanaNya/ dari Tuhan (35%). Mimpi basah mengenai masa puber, memasuki masa dewasa/ remaja, penanda peralihan dari anak-anak ke remaja, karena usianya sudah 17 tahun dan tandanya sudah dewasa, serta merupakan proses kedewasaan seks (35%). Jawaban orang tua belum berdasarkan pengetahuan logis mengapa terjadi menstruasi dan mimpi basah.

Pengetahuan tentang pemberian informasi tentang seks kepada anak. Sebagian besar para orang tua akan memberikan informasi tentang seks pada

saat anak memasuki usia sekolah yaitu SMP (40%). Beberapa yang lain merasa belum pernah memberikan informasi mengenai seks dan tidak perlu diberitahu karena sifatnya adalah naluriah (25%). Hal ini menunjukkan bahwa para orang tua menginformasikan pendidikan seks saat anak memasuki masa remaja. Bahkan, beberapa yang lain menunjukkan bahwa pendidikan seks tidak perlu diberikan kepada anak karena sifatnya adalah naluriah (25%). Menurut yang mereka ketahui perilaku seksual yang menyimpang adalah homo dan lesbi (40%). Jawaban mereka dalam menyebutkan contoh perilaku seksual menyimpang sudah tepat.

Melihat data diatas pengetahuan tentang asal muasal bayi, perbedaan jenis kelamin laki-laki dan perempuan, pengetahuan mengenai apa itu menstruasi dan mimpi basah, mengapa menstruasi dan mimpi basah menunjukkan persentase yang kurang dari 50%. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan mereka terbatas mengenai seks. Orang tua sebenarnya sudah memahami pertanyaan, akan tetapi tidak tahu bagaimana mengkomunikasikan dan menjelaskan secara logis dan ilmiah atau secara ilmu pengetahuan tentang hal-hal yang berkaitannya dengan seks. Orang tua juga merasa tidak paham mengenai seks. Berdasarkan pengetahuan yang dimiliki, orang tua akan memberikan pendidikan seks ketika anak memasuki usia remaja.

3. Keterampilan

Cara orang tua memberikan informasi mengenai seks adalah kebanyakan dari mereka akan menunggu anak untuk bertanya mengenai seks, kemudian baru memberikan informasi tentang seks (32,5%). Informasi yang akan diberikan orang tua untuk anak adalah informasi tentang pendidikan, kesehatan, alat kelamin, pergaulan, etika dan pernikahan (45%). Ditambah lagi orang tua memiliki kesulitan bagaimana cara menjelaskan, menerangkan dan menyampaikan dengan penyampaian yang sesuai dengan kondisi/ usia anak. Dengan hal ini, orang tua tampaknya bersikap pasif dan cenderung menghindari pembicaraan mengenai seks.

Dalam batasan pemberian informasi seks, mayoritas belum membicarakan batasan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan seks (22,5%). Hal ini mengindikasikan tidak ada batasan tentang pemberian informasi seks terhadap anak. Sedangkan untuk sumber informasi seks, kebanyakan anak mereka belum mendapatkan informasi seks dari mana saja, termasuk dari orang tua (35%). Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada sumber informasi seks untuk anak dan orang tua tidak mengambil peran utama dalam memberikan pendidikan seks.

Berdasarkan keterampilan orang tua menunjukkan persentase yang kurang dari 50%, tampaknya memiliki keterbatasan dalam memberikan pendidikan seks. Keterbatasan tersebut meliputi kesulitannya orang tua mengenai cara mengkomunikasikan seks (menjelaskan, menerangkan, dan menyampaikan) sesuai dengan kondisi/usia anak, orang tua tidak

mengetahui batasan mana yang diinformasikan dan mana yang tidak diinformasikan untuk anak, Selain itu, kurangnya inisiatif aktif dari orang tua untuk memberikan edukasi mengenai seks pada anak dan orang tua tidak cukup yakin akan kemampuan mereka sendiri untuk menjelaskan informasi berkenaan tentang seks sehingga yang terjadi adalah orang tua menjadi pasif dan menghindari pembicaraan mengenai seks.

4. Kondisi Keluarga

Mayoritas pekerjaan informan wanita adalah sebagai ibu rumah tangga (37,5%) dan informan laki-laki adalah buruh (17,5%). Penghasilan mereka per bulan adalah Rp 1.000.000 – Rp 2.000.000. Penghasilan orang tua termasuk dalam kelompok penghasilan kelas menengah ke bawah. Mayoritas anak terbuka dengan kedua orang tuanya (67,5%). Sedangkan aktivitas yang paling dekat dilakukan bersama anak adalah bermain dan liburan bersama, dan aktivitas yang tidak dekat dengan anak adalah saat anak sekolah dan les. Waktu yang dimiliki orang tua untuk berada dirumah adalah 9 – 12 jam untuk ayah dan 24 jam untuk ibu. Waktu mayoritas kebersamaan ayah dengan anak adalah 1-5 jam sehari dan kebersamaan ibu dengan anak adalah > 16 jam (lebih dari 16 jam) sehari. Hal ini menunjukkan bahwa intensitas kebersamaan ibu dengan anak lebih banyak daripada ayah. Orang tua tidak ada yang membicarakan mengenai seks kepada anaknya.

Uraian diatas menunjukkan bahwa kedua orang tua sebenarnya memiliki

Dokumen terkait