Proses-proses Pemberdayaan bagi Praktek Pekerjaan Sosial
A. Proses Praktek Pekerjaan Sosial Generik Berbasis Pemberdayaan
3. Keterampilan-keterampian interpersonal
Dengan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan emosional, fisik, dan interaksional klien, pekerja sosial meningkatkan pengembangan relasi profesional yang efektif. Rasa saling percaya dan kepercayaan merupakan unsur yang sangat penting di dalam relasi profesional. Keterampilan-keterampilan interpersonal yang dibutuhkan bagi pengembangan relasi interpersonal antara lain ialah empati yang akurat, kehangatan yang tidak bermaksud untuk memiliki, ketulusan, dan kepekaan budaya.
Praktisioner pekerjaan sosial memperlihatkan empati dengan cara memahami dan merespons kepada perasaan- perasaan klien dengan kepekaan dan memahami. Pekerja sosial mengkomunikasikan kehangatan kepada klien melalui komitmennya yang memperdulikan dan penghargaan atau penghormatannya yang tanpa syarat kepada klien. Pekerja sosial memperlihatkan ketulusan hati dengan bertindak secara spontan, tidak bermaksud apa-apa selain membantu, dan tulus. Identitas ras atau etnis pekerja sosial dan klien serta budaya yang dominan yang tercermin di dalam sistem penyelenggaraan pelayanan sosial, mempengaruhi pengembangan relasi dan, pada akhirnya, keberhasilan atau kegagalan intervensi.
Relasi profesional yang positif adalah landasan lagi proses pemberian bantuan. Adalah tanggung jawab pekerja sosial untuk memulai dan mempertahankan interaksi yang saling menghormati dengan klien yang mencerminkan kehangatan, ketulusan dan kepekaan budaya.
C.
Pemaknaan Situasi
Klien melibatkan diri dalam pelayanan-pelayanan sosial karena suatu alasan. Alasan ini sering berkaitan dengan suatu masalah, isu, atau kebutuhan yang klien ingin atasi. Pemaknaan tantangan-tantangan ialah suatu proses yang diterapkan oleh pekerja sosial dalam dialognya dengan klien tentang alasan-alasan klien meminta bantuan.
Untuk mengidentifikasikan situasinya secara akurat, klien mendeskripsikan fakta-fakta, peristiwa-peristiwa, reaksi- reaksi dan usaha-usahanya sebelumnya dalam mengatasi masalah. Mendorong klien untuk mengungkapkan perasaan- perasaannya tentang situasinya dan usaha-usahanya sebelumnya dalam menghadapi situasi itu membantu menentukan dampak keseluruhan masalah. Pekerja sosial yang memberdayakan melihat persoalan klien sebagai tantangan, karena tantangan berarti potensi untuk mengatasi masalah. Pekerja sosial memulai diskusi tentang situasi klien sebagaimana klien memahami situasi itu. Pekerja sosial menguji faktor-faktor yang klien ketahui dan yakini berkaitan dari pengalaman profesionalnya. Klien dan pekerja sosial dapat menemukan seperangkat isu yang saling berkaitan yang harus dipertimbangkan di dalam konteks lingkungan sosial yang lebih luas. Tantangan-antangan yang berbeda cenderung terjadi pada masing-masing level sistem (Tabel 8.3).
Tabel 8.3
Isu-isu Khusus pada Level Sistem yang Berbeda Isu-isu individu, keluarga, dan kelompok kecil
x Penyesuaian interpersonal
x Masalah perkawinan dan keluarga x Viktimisasi
x Stres
x Kebutuhan-kebutuhan advokasi x Kurangnya sumberdaya
x Pelanggaran hukum atau hak-hak sipil
x Kebutuhan akan pengembangan keterampilan- keterampilan kehidupan
x Kebutuhan akan pengembangan keterampilan- keterampilan sosialisasi
x Konflik interpersonal x Transisi kehidupan
x Penampilan peran yang kurang memadai x Akses kepada pelayanan-pelayanan
x Kebutuhan akan pelayanan-pelayanan perlindungan x Kurangnya kesempatan-kesempatan
x Kebutuhan akan informasi dan rujukan x Kebutuhan akan pengembangan keterampilan-
keterampilan pengasuhan
Isu-isu kelompok formal dan organisasi x Hubungan kerja
x Tindakan-tindakan yang tegas x Kebutuhan konseling karyawan x Perubahan kebijakan adminsitratif x Perencanan strategis
x Usaha-usaha koordiansi
x Pengembangan relawan-relawan x Kampanye sosial
x Pengambilan keputusan manajemen x Kelelahan staf x Produktivitas karyawan x Penempatan kerja x Partisipasi anggota x Pemanfaatan sumberdaya-sumberdaya x Manajemen hibah
x Kebutuhan pengembangan staf x Analisis program
Isu-isu komunitas dan masyarakat x Pengembangan ekonomi x Ketenagakerjaan
x Ketegangan antarkelompok
x Realokasi sumberdaya-sumberdaya x Pembangunan koalisi
x Perubahan kebijakan sosial x Konflik kepentingan
x Kurangnya perumahan yang terbeli x Isu-isu kesehatan publik
x Reformasi pelayanan kesehatan dan kemanusiaan x Kebutuhan-kebutuhan perundang-undangan x Pendidikan masyarakat
x Reformasi perundang-undangan
x Erosi hak-hak hukum atau hak-hak sipil
Isu-isu profesi pekerjaan sosial x Profesionalisasi
x Pemantauan kaum profesional x Diskusi antar-rekan sekerja
x Jurang dan hambatan dalam pelayanan x Jaringan penyelenggaraan pelayanan sosial x Relasi antardisiplin
x Kebutuhan-kebutuhan populasi klien yang tertindas x Citra pekerjaan sosial
x Pengembangan teori
x Pengkomunikasian hasil-hasil penelitian
Untuk memahami situasi klien, pekerja sosial mempelajari hakekat dan lingkup kebutuhan-kebutuhannya, mengidentifikasikan informasi lain yang relevan, dan menguji syarat-syarat untuk memperoleh pelayanan-pelayanan dan sumberdaya-sumberdaya.
Dengan mengambil variasi-variasi budaya dan faktor-faktor kesejarahan, fisik, perkembangan, emosi, demografi, dan organisasi sebagai bahan pertimbangan, pekerja sosial mempertimbangkan keunikan isu-isu yang diungkapkan dan karakteristik umumnya. Untuk mencapai ini, walaupun menggunakan pengetahuan yang tergeneralisasikan, pekerja sosial yang efektif mempertahankan perspektifnya tentang keunikan orang atau struktur sosial tertentu di dalam situasi- situasi tertentu.
Konteks budaya sangat penting, sebagaimana budaya secara khas mendefinisikan transaksi antara manusia dengan lingkungan sosial dan fisiknya. Keberagaman budaya dapat menjadi suatu sumber kekuatan-kekuatan pribadi dan sumberdaya-sumberdaya serta hambatan-hambatan lingkungan. Faktor-faktor budaya pekerja sosial dan klien dapat dipertimbangkan termasuk karakteritrik seperti keyakinan-keyakinan dan tradisi-tradisi budaya, definisi peran-peran dan kewenangan, dan pembangunan jejaring dukungan sosial. Selain itu, klien dan pekerja sosial harus menganalisis isu-isu lingkungan yang berkaitan dengan kekuasaan dan ketidakberdayan dalam ranah pribadi, interpersonal, dan sosiopolitik (Gutierrez & Lewis, 1999; Solomon, 1976, dalam DuBois & Miley, 2005: 206). Sebagai contoh, klien dan pekerja soaial dapat mempelajari bagaimana faktor-faktor seperti sikap-sikap prasangka buruk, stratifikasi soaial, akses yang tidak setara kepada sumberdaya- sumberdaya dan struktur-struktur kesempatan, serta perilaku- perilaku diskriminatif lainnya mempengaruhi klien secara personal dan interpersonal di dalam konteks transaksinya dengan lingkungan sosial dan fisiknya.
D.
Pendefinisian Arah
Pekerja sosial dan klien harus memiliki beberapa arah di dalam usaha kerjasama mereka. Dalam proses pendefinisian arah, pekerja sosial dan klien mengklarifiikasikan tujuan- tujuan awal bagi relasi kerja mereka dan merespons secara cepat dan tepat sebelum krisis terjadi.
Pendefinisian arah memberikan suatu tujuan bagi kegiatan- kegiatan pekerja sosial dan klien. Tujuan mengorientasikan pekerja sosial dan klien kepada situasi-situasi klien, sebagaimana tantangan-tantangan dan kekuatan-kekuatan lebih jelas di dalam konteks tujuan-tujuan. Praktisioner dapat merangkaikan responsnya dengan cara diarahkan kepada tujuan-tujuan, memfokuskan perhatiannya kepada penemuan sumberdaya-sumberdaya yang akan memfasilitasi pencapaian tujuan-tujuan, dan menggunakan tujuan-tujuan klien sebagai panduan dalam memperoleh informasi yang relevan. Penelitian menunjukkan suatu hubungan antara penentuan tujuan-tujuan, keyakinan akan kemunginan pencapaian
tujuan-tujuan ini, dan hasil-hasil kinerja (Bandura & Cervone, 1983, dalam DuBois & Miley, 2005: 206). Penentuan tujuan- tujuan dan keyakinan-keyakinan akan pencapaian tujuan- tujuan tersebut mendorong perilaku.
Pada titik tertentu dalam usaha kerjasama ini, arah yang didefinisikan oleh pekerja sosial dan klien baru bersifat pendahuluan. Tujuan-tujuan pendahuluan merangkaikan asesmen kegiatan-kegiatan, sedangkan tujuan-tujuan jangka panjang yang spesifik dan tujuan-tujuan jangka pendek yang dapat diukur merupakan komponen yang integral dari suatu elemen selanjutnya di dalam proses—rencana tindakan. Kesepakatan-kesepakatan awal lebih berfokus pada tujuan umum usaha kejasama daripada pada rencana-rencana tindakan yang spesifik.