Fungsi-fungsi dan Peran-peran Pekerjaan Sosial
2. Peran-peran dan strategi-strategi pekerjaan sosial
Fungsi pekerjaan sosial memiliki peran-peran dan strategi-strategi masing-masing. Peran-peran pekerjaan sosial adalah pola-pola perilaku profesional yang diharapkan. Peran-peran memberikan perilaku-perilaku tertentu dan menentukan respons-respons yang tepat
sesuai dengan situasi-situasi tertentu. Ketiga komponen yang saling berkaitan ini melahirkan masing-masing peran: konsep peran, atau bagaimana manusia yakin mereka seharusnya bertindak di dalam suatu situasi tertentu; harapan-harapan peran, atau bagaimana orang lain yakin manusia seharusnya bertindak ketika mereka menduduki suatu status tertentu; dan penampilan peran,
atau bagaimana mansuia benar-benar bertindak (Goldstein, 1973, dalam DuBois & Miley, 2005: 227). Dengan kata lain, peran-peran memiliki komponen- komponen psikologis yaitu persepsi-persepsi dan perasaan-perasaan; komponen-komponen sosial yaitu perilaku-perilaku dan harapan-harapan terhadap orang lain; dan komponen perilaku-perilaku.
Peran-peran pekerjaan sosial memberikan arah bagi kegiatan-kegiatan profesional. Peran-peran juga mendefinisikan hakekat transaksi di antara rekan-rekan sesama profesional. Peran-peran pekerjaan sosial dan strategi-strategi terkait mengajukan cara-cara umum untuk mencapai tujuan-tujuan.
Peran-peran pekerjaan sosial didefinisikan oleh beberapa penulis (McPheeters, 1971; Pincus & Minahan, 1973; Teare & McPheeters, 1970; 1982) dan disajikan secara bervariasi sebagai peran-peran pemberian bantuan (Siporin, 1975), peran-peran intervensi (Compton & Galaway, 1999), dan perangkat-perangkat peran (Connaway & Gentry, 1988). Penyajian peran-peran pekerjaan sosial ini menekankan pertukaran-pertukaran informasi yang melekat di dalam masing-masing peran. Dengan demikian, kegiatan-kegiatan klien dan pekerja sosial menekankan pada tugas-tugas antara lain mengases, memproses, memanfaatkan, dan mengkomunikasikan informasi. Skema di bawah ini mengorganisasikan peran-peran pekerjaan sosial di dalam konteks jenis-jenis sistem klien—dari level mikro ke level meso hingga level makro—dan mencakup peran-peran yang berkaitan dengan interaksi dengan rekan-rekan sesama profesional.
Strategi-strategi dan tugas-tugas menggerakkan peran- peran pekerjaan sosial (Tabel 9.1). Strategi ialah suatu rencana yang mensistematisasikan tindakan, yang memberikan suatu pedoman “cetak biru”, atau cara yang maksudnya dilaksanakan di dalam praktek (Siporin, 1975, dalam DuBois & Miley, 2005: 228). Strategi- strategi meliputi dimensi-dimensi perencanaan dan tindakan. Ketika strategi-strategi menjadi tindakan- tindakan, transaksi-transaksi berlangsung di dalam konteks manusia dan lingkungan. Strategi-strategi lain bereaksi di dalam transaksi-transaksi ini dan memberikan umpan balik atau pertukaran-pertukaran informasi.
Tabel 9.1
Peran-peran dan Strategi-strategi Pekerjaan Sosial
Sistem Klien Fungsi Individu & keluarga Kelompok formal & organisasi Komunitas dan masyarakat Profesi pekerjaan sosial Konsultansi Peran Strategi Manajemen sumberdaya Peran Strategi Pendidikan Peran Strategi Enabler Penemuan solusi Broker/ advokat Manajemen kasus Guru Pemrosesan informasi Fasilitator Pengembangan organisasi Pimpinan sidang/ mediator Pembangunan jaringan Pelatih Pelatih profesional Perencana Penelitian dan perencanaan Aktivis Aksi sosial Penjangkauan Pendidikan masyarakat Kolega/monito Akulturasi profesional Katalisator Pelayanan masyarakat Peneliti/sarjana Pengembangan pengetahuan
Sumber:DuBois & Miley, 2005: 228.
Pekerja sosial tidak memulai usahanya dengan menseleksi peran-peran atau strategi-strategi dan kemudian menentukan rencana-rencana tindakan, tetapi hakekat situasilah yang seharusnya mendorong penseleksian peran-peran dan strategi-strategi.
Tantangan-tantangan sistem klienlah, bukan metode- metode yang diinginkan oleh praktisioner, yang melahirkan strategi-strategi. Pekerja sosial generalis merangkai situasi-situasi di dalam konteks intervensi pada semua level sistem. Pendekatan ini menawarkan sejumlah kemungkinan untuk mengaitkan rencana- rencana tindakan level mikro, meso, dan makro. Untuk mengklarifikasikan fungsi-fungsi pekerjaan sosial dan peran-peran terkait, sisa bab ini mendefinisikan masing- masing peran dan memberikan contoh-contoh ilustrasi.
B. Konsultansi
Konsultansi mengacu kepada kegiatan-kegiatan profesional melalui mana pekerja sosial dan kien memprakarsai perubahan dengan cara mengklarifikasikan isu-isu klien, menemukan opsi-opsi, dan mengembangkan rencana-rencana tindakan. Konsultansi juga berlandaskan pada keahlian klien dan pekerja sosial. Pekerja sosial membawa serta pengetahuan, nilai-nilai, dan keterampilan-keterampilan yang diperoleh secara formal; klien juga membawa serta pengetahuan, nilai-nilai, dan keterampilan-keterampilan yang diperolehnya berdasarkan pengalaman-pengalaman kehidupan pribadi, organisasi, dan masyarakat.
Dalam mengadopsi orientasi usaha kolaboratif ini dengan klien, pekerja sosial yang berbasis pemberdayaan harus menguji bias yang melekat di dalam pemikiran-pemikiran tradisional tentang relasi klien dan pekerja sosial. Sebagai contoh, Maluccio (1979), dalam perbandingannya tentang persepsi klien dan pekerja sosial, menemukan bahwa “sementara pekerja sosial cenderung melihat klien sebagai partisipan yang reaktif dalam interaksinya dengan lingkungan, klien muncul sebagai organisme yang aktif, yang memandang dirinya sendiri sebagai sosok yang mampu berfungsi, berubah dan bertumbuh secara mandiri” (DuBois & Miley, 2005: 229). Menurut Hepworth, Rooney, dan Larsen (1997) “walaupun pekerja sosial sangat mendukung keyakinan bahwa manusia memiliki hak dan kesempatan untuk mengembangkan potensinya, kecenderungannya untuk memfokuskan diri pada patologi memiliki dampak yang mendasari komitmen nilai yang sangat kuat itu” (DuBois & Miley, 2005: 228.). Bahkan suatu indikasi yang hampir tidak kentara bahwa pekerja sosial
memandang klien secara negatif dapat meruntuhkan harga diri dan kepercayaan diri klien. Bagi klien yang mendekati relasi pemberian bantuan dengan harga diri yang sudah cacat, suatu fokus yang tidak seimbang pada kelemahan-kelemahan dan patologi meningkatkan perasaan-perasaan putus asa dan tidak berdaya klien. Citra pekerja sosial tentang disfungsi, disorganisasi, dan patologi menambah berat perasaan- perasaan ragu, tidak memadai, dan tidak berharga klien. Apabila klien memandang dirinya berkompeten, pekerja sosial juga harus memandang mereka (Hepworth, Rooney, dan Larsen) demikian. Dengan mengembangkan kemitraan- kemitraan yang kolaboratif dengan klien, pekerja sosial yang berbasis pemberdayaan mengakui, menegaskan, dan membangun kekuatan-kekuatan dan potensi klien bagi perubahan.
Melalui peran-peran dan strategi-strategi terkait dengan konsultansi, klien dan pekerja sosial mengalamatkan masalah- masalah pribadi, keluarga, organisasi, komunitas, atau masyarakat dengan klien pada semua level sistem. Pada klien level mikro—individu, keluarga, dan kelompok kecil—peran enabler menyatukan strategi-strategi konseling yang mendorong perubahan. Pada klien level meso, peran fasilitator berfokus pada pengembangan organsiasi. Peran sistem makro perencana sosial memuat strategi-strategi penelitian dan perencanaan untuk memprakarsai perubahan level makro. Akhirnya, pada sistem profesi pekerjaan sosial, peran rekan-rekan seprofesi (kolega) atau pemantauan memberikan dukungan dan umpan balik dari rekan-rekan seprofesi untuk meningkatkan kompetensi praktisioner dan memperkuat profesi sebagai suatu keseluruhan.