LANDASAN TEORI
2. Keterampilan Proses Sains
Keterampilan proses merupakan pendekatan belajar-mengajar yang mengarah kepada pengembangan kemampuan mental, fisik, dan sosial yang mendasar sebagai penggerak kemampuan yang lebih tinggi dalam diri invidu siswa. Pendekatan keterampilan proses lebih menekankan pada penumbuhan dan pengembangan sejumlah keterampilan tertentu pada diri peserta didik agar mereka mampu memproses informasi sehingga ditemukan hal-hal yang baru dan bermanfaat baik berupa fakta, konsep, maupun pengembangan sikap dan nilai.
Hal ini senada dengan pendapat Sriyono (1992) menyatakan bahwa dalam pendekatan keterampilan proses dilaksanakan dengan lebih menekankan pada bagaimana cara siswa dalam belajar, bagaimana cara siswa mengelola perolehannya, sehingga dapat menjadi miliknya; dimengerti dan dapat diterapkan sebagai bekal dalam kehidupan di masyarakat sesuai kebutuhannya. Untuk pembelajaran.
Kamalia (2010) berpendapat bahwa pendekatan keterampilan proses adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat berproses untuk dapat menemukan fakta-fakta, membangun konsep-konsep dan teori-teori dengan keterampilan intelektual dan sikap ilmiah siswa sendiri.
Terdapat beberapa alasan yang mendasari perlunya keterampilan proses sains dilatihkan pada siswa dalam kegiatan belajar mengajar diungkapkan oleh Dimyati dan Mudjiono (2006) bahwa terdapat berbagai keterampilan dalam keterampilan proses, keterampilan tersebut terdiri dari keterampilan-keterampilan dasar (basic skills) dan keterampilan-keterampilan-keterampilan-keterampilan terintegrasi
13
(integrated skills). Keterampilan-keterampilan dasar terdiri dari enam keterampilan, yaitu : mengobservasi, mengklasifikasi, memprediksi, mengukur, menyimpulkan, dan mengkomunikasikan. Keterampilan-keterampilan terintegrasi terdiri dari : mengidentifikasi variabel, membuat tabulasi data, menyajikan data dalam bentuk grafik, menggambarkan hubungan antar variabel, menyimpulkan dan mengolah data, menganalisa penelitian, menyusun hipotesis, mendefinisikan variabel secara operasional, merancang penelitian dan melaksanakan eksperimen.
Semiawan (1992) berpendapat bahwa terdapat beberapa alasan yang mendasari perlunya dilatihkan keterampilan proses sains pada siswa dalam kegiatan belajar mengajar diungkapkan oleh yaitu: siswa harus dilatih untuk menemukan pengetahuan dan konsep serta mengembangkan sendiri, siswa akan mudah memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak jika disertai contoh yang konkrit, siswa perlu dilatih untuk selalu bertanya, berfikir kritis dan mengusahakan kemungkinan-kemungkinan untuk menjawab suatu masalah, serta pengembangan konsep dalam proses belajar mengajar. Pengembangan konsep tidak lepas dari pengembangan sikap dalam diri siswa, dengan dilatihkannya keterampilan proses sains dapat mengembangkan sikap ilmiah dalam diri siswa.
Peran guru dalam mengembangkan keterampilan proses sains siswa menurut Rustaman (2005) terdiri dari: (1) memberikan kesempatan pada siswa untuk menggunakan keterampilan proses dalam melakkan eksplorasi materi dan fenomena yang memungkinkan siswa menggunakan alat indranya, mengumpulkan bukti-bukti, bertanya, merumuskan hipotesis dan keterampilan proses sains yang lainnya, (2) memberi kesempatan pada siswa untuk berdiskusi dalam kelompok ataupun kelas, tugas-tugas dirancang agar siswa berbagi gagasan, menyimak teman lain, mempertahankan dan menjelaskan gagasan mereka sehingga mereka dituntut untuk berfikir reflektif, (3) membantu siswa untuk menyadari bahwa keterampilan proses sains penting sebagai bagian dari proses belajar mereka sendiri, dengan kata lain membantu pengembangan keterampilan bergantung pada pengetahuan siswa, (4) mendorong siswa mengulas (review) secara kritis tentang kegiatan yang telah mereka lakukan, (5) memberi teknik atau strategi untuk meningkatkan keterampilan, khususnya ketepatan dalam
14
observasi. Guru bertindak sebagai fasilitator, guru tidak memberikan konsep kepada siswa, tetapi berusaha untuk membimbing dan menciptakan kondisi belajar yang memungkinkan siswa untuk dapat melakukan penemuan konsep-konsep atau fakta-fakta.
Kamalia (2010) berpendapat bahwa pendekatan keterampilan proses adalah perlakuan yang diterapkan dalam pembelajaran yang menekankan pada pembentukan keterampilan memperoleh pengetahuan kemudian mengkomunikasikan perolehannya. Keterampilan memperoleh pengetahuan dapat dengan menggunakan kemampuan olah pikir (psikis) atau olah perbuatan (fisik).
Belajar sains tidak hanya belajar dalam wujud pengetahuan dekklaratif berupa fakta, konsep, hukum, prinsip, tetapi juga belajar tentang pengetahuan prosedural berupa cara memperoleh informasi, cara sains dan teknologi bekerja, kebiasaan bekerja ilmiah dan keterampilan berfikir. Belajar sains memfokuskan kegiatan pada penemuan dan pengolahan informasi melalui kegiatan mengamati, mengukur, mengajukan pertanyaan, mengklasifikasi, memecahkan masalah dan lain-lain (Wenno, 2008).
Keterampilan proses sains mempunyai ciri-ciri tertentu, menurut Samana (1992) ciri-ciri tersebut meliputi pendekatan pembelajaran yang strategis, mendayagunakan semua fungsi diri siswa, mendukung nilai tambah dan meningkatkan kreativitas, berasaskan utuh serta kemanusiaan dan meningkatkan sosialisasi diri siswa.
Rustaman (2005) berpendapat bahwa keterampilan proses sains mempunyai ciri-ciri aktifitas yang dapat diamati sehingga memudahkan dalam pengukurannya. Penjelasan jenis keterampilan proses sains dan ciri indikatornya dapat dilihat pada Tabel 2.1
15
Tabel 2.1 Macam-macam Keterampilan Proses Sains dan Indikatornya Keterampilan Proses
Sains
Indikator
1. Mengamati v Menggunakan banyak indera untuk memperoleh informasi
2. Mengelompokkan v Membandingkan beberapa objek v Membandingkan ciri-ciri
v Mencari persamaan dan perbedaan
3. Menafsirkan v Mencari hubungan hasil-hasil pengamatan v Menyimpulkan hasil pengamatan
4. Memprediksi v Menggunakan pola hasil pengamatan
v Mengemukakan kejadian yang mungkin terjadi pada sesuatu yang belum diamati
5. Mengajukan pertanyaan
v Membuat pertanyaan apa, bagaimana, dan mengapa v Bertanya meminta suatu penjelasan
6. Berhipotesis v Mengetahui terdapat bangak penjelasan dari satu kejadian
v Memahami bahwa suatu penjelasan perlu diuji kebenarannya
7. Merencanakan percobaan
v Menentukan alat/bahan/sumber yang akan digunakan v Menentukan variabel
v Menentukan apa yang akan dilaksanakan berupa langkah kerja
v Menentukan apa yang akan diukur, diamati, dan dicatat
8. Menggunakan Alat
v Mengetahui bagaimana menggunakan alat dan bahan 9. Menerapkan
konsep
v Menggunakan konsep yan telah dipelajari dalam situasi baru
v Menggunakan konsep lama untuk memahami kejadian baru
10. Berkomunikasi v Memvariasi bentuk penyajian
v Menggunakan grafik, tabel, atau diagram 11. Melaksanakan
percobaan
v Menentukan alat/bahan/sumber yang akan digunakan v Menentukan variabel
v Menentukan apa yang akan dilaksanakan berupa langkah kerja
v Menentukan apa yang akan diukur, diamati, dan dicatat
Keterampilan proses sains dilatihkan untuk mendapatkan suatu pengetahuan dari dalam siswa. Guru mengajar bukanlah memindahkan pengetahuan dari guru pada siswa, melainkan suatu aktivitas yang memungkinkan siswa dapat membangun sendiri pengetahuannya sehingga siswa aktif dalam
16
pembelajaran. Diperlukan suatu pembelajaran yang dapat menunjang dilatihkannya keterampilan proses sains siswa.
Siswa akan mendapatkan ditribusi yang baik dari keterampilan proses, siswa memperoleh pengertian yang tepat tentang hakikat pengetahuan, memperoleh kesempatan bekerja dengan ilmu pengetahuan dan merasa senang memperoleh kesempatan belajar proses memperoleh dan memproduk ilmu pengetahuan (Dimyati dan Mudjiono, 2006)
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa keterampilan proses sains dapat membantu siswa dalam menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta dapat menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut. Keterampilan proses sains juga menjadi roda penggerak penemuan dan pengembangan sikap dan nilai. Seluruh irama gerak atau tindakan dalam proses belajar-mengajar seperti ini akan menciptakan kondisi belajar siswa aktif .