i
PENGARUH PENGGUNAAN MODUL HASIL PENELITIAN BENTOS PADA POKOK BAHASAN PENCEMARAN LINGKUNGAN
TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA KELAS X SMA NEGERI 1 MOJOLABAN
TAHUN PELAJARAN 2011/2012
SKRIPSI
Oleh :
PANDU HARYO WIBOWO K 4308106
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA OKTOBER 2012
ii
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini
Nama : Pandu Haryo Wibowo
NIM : K 4308106
Jurusan / Program Studi : PMIPA / Pendidikan Biologi
menyatakan bahwa skripsi saya berjudul ”PENGARUH PENGGUNAAN MODUL HASIL PENELITIAN BENTOS PADA POKOK BAHASAN PENCEMARAN LINGKUNGAN TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA KELAS X SMA NEGERI 1 MOJOLABAN TAHUN PELAJARAN 2011/2012” ini benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri.
Selain itu, sumber informasi yang dikutip dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka.
Apabila pada kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan skripsi ini hasil jiplakan, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan saya.
Surakarta, Oktober 2012 Yang membuat pernyataan
Pandu Haryo Wibowo
iii
PENGARUH PENGGUNAAN MODUL HASIL PENELITIAN BENTOS PADA POKOK BAHASAN PENCEMARAN LINGKUNGAN
TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA KELAS X SMA NEGERI 1 MOJOLABAN
TAHUN PELAJARAN 2011/2012
Oleh :
PANDU HARYO WIBOWO K 4308106
Skripsi
Ditulis dan diajukan untuk memenuhi syarat guna mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Program Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA OKTOBER 2012
iv
PERSETUJUAN
Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Surakarta, Oktober 2012
Pembimbing I Pembimbing II
Meti Indrowati, S.Si, M.Si Bowo Sugiharto, S.Pd, M.Pd NIP. 19781001 200112 2 001 NIP.19760125 200501 1 001
v
PENGESAHAN
Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima untuk memenuhi persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.
Pada hari : Rabu
Tanggal : 10 Oktober 2012
Tim Penguji Skripsi
Nama Terang Tanda Tangan
Ketua : Puguh Karyanto, S.Si, M.Si, Ph.D ………..
Sekretaris : Joko Ariyanto, S.Si, M.Si ………...
Anggota I : Meti Indrowati, S.Si, M.Si ...
Anggota II : Bowo Sugiharto, S.Pd, M.Pd ...
Disahkan oleh
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta
a.n. Dekan
Pembantu Dekan I,
Prof. Dr. rer. nat. Sajidan., M.Si NIP. 19660415 199103 002
vi MOTTO
Berusaha menjadi diri sendiri, mencari jati diri, dan hidup mandiri saat jauh dari keluarga.
(Penulis)
Sebuah kegagalan merupakan sesuatu yang indah karena setelah melewatinya maka akan semakin dekat dengan keberhasilan.
(Penulis)
Seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan skripsi yang terpenting adalah dapat menyelesaikannya dengan sebaik mungkin
(Penulis)
Mimpi itu tidak akan menjadi kenyataan jika tidak ada usaha dan tekad untuk mewujudkannya.
(Bapak & Ibu)
Jadikanlah sabar dan shalatmu sebagai penolongmu, karena sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar
(Al-Baqarah: 153)
“Allah meninggikan orang-orang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”
(QS. Al-Mujadalah :14)
vii
PERSEMBAHAN
Kupanjatkan syukurku padaMu Ya Robb, karya ini aku persembahkan untuk:
Bapaku tersayang yang tak pernah berhenti memberikan dukungan, mendoakan, dan selalu berjuang demi masa depanku.
Ibuku tersayang yang senantisa mendukungku, memberikan motivasi, memberikan semua yang aku inginkan, mendoakan disetiap langkahku dan memberikan kasih sayang selama ini.
Adikku tersayang yang selalu meberikan kebahagiaan, kasih sayang dan doanya untukku.
Ibu Harlita yang telah membimbingku selama ini.
Ibu Meti Indrowati yang dengan sabar memberikan arahan dan bimbingan untukku.
Bapak Bowo Sugiharto yang telah memberikan ilmu dan bimbingannya.
Ibu Sri Supadningsih yang telah memberi izin dan membantu selama penelitian.
Ibu Deasy yang selalu membantuku dan mendoakanku selama PPL.
Siswa kelas X SMA Negeri 1 Mojolaban yang telah membantu dalam penelitianku
Siswa kelas VIII SMP Negeri 7 Surakarta yang telah membantu dalam PPL.
Novia yang selalu memberikan semangat, membantu dan menemaniku, terimakasih untuk semuanya dan maaf selalu merepotkan kamu.
Taufik, Luqman, Purwo, dan Rofa terima kasih atas semua yang kita lalui bersama tertawa, bahagia dan sedih bersama, persaudaraan yang sangat indah dan tak mungkin terlupakan.
Dwito, Agung, Eko, Evin, Sintaria, Wulan, Sophia, Suparmi, dan Anggun yang memberikan tawa kebahagiaan selama ini.
Mba Laras dan mba Siti yang telah membantu dan memberi saran yang baik.
Sahabat-sahabatku yang selalu berbagi cerita baik suka maupun duka.
Teman-teman sebimbingan yang senantiasa berjuang bersama.
Teman-teman pendidikan Biologi UNS 2008 yang memberikan banyak kenangan dan cerita indah dalam hidupku.
Almamater Universitas Sebelas Maret Surakarta.
viii ABSTRACT
Pandu Haryo Wibowo. THE EFFECT OF BENTOS RESEARCH FINDING MODULE USE IN ENVIRONMENTAL POLLUTION SUBJECT MATTER ON THE SCIENCE PROCESS SKILL OF THE X GRADERS OF SMA NEGERI 1 MOJOLABAN IN THE SCHOOL YEAR OF 2011/2012. Thesis, Surakarta: Teacher Training and Education Faculty. Surakarta Sebelas Maret University, October 2012.
This research aims to find out the effect of bentos research finding module use in environmental pollution subject matter on the science process skill of the X graders of SMA Negeri 1 Mojolaban in the school year of 2011/2012.
This study was a quasi-experimental research with quantitative approach.
The research design used was Posttest Only Control Design applying the module of bentos research finding to the experiment group and conventional model with varying lecture to the group control. The population of research was all X graders of SMA Negeri 1 Mojolaban in the school year of 2011/2012. The sampling technique used was cluster random sampling, thereby the X.5 grade was obtained as experiment group and X.6 grade as the control. Techniques of collecting data used were essay test, observation, and school document. The hypothesis testing was done using t-test.
The result of research using t-test obtained α of 0.004, so the probability significance (p-value) < 0.05; thus HO was not supported, and H1 was supported, it means that there was a significant difference of effect between the use of bentos research finding module as bioindicator of environmental pollution subject matter in experiment class and the application of conventional learning model with varying lecture in control group on the student science process skill.
From the result of research, it could be concluded that the use of bentos research finding module as bioindicator in environmental pollution subject matter affected the science process skill of the X graders of SMA Negeri 1 Mojolaban in the school year of 2011/2012.
Keywords: Module, Science Process Skill
ix
ABSTRACT
Pandu Haryo Wibowo. PENGARUH PENGGUNAAN MODUL HASIL PENELITIAN BENTOS PADA POKOK BAHASAN PENCEMARAN LINGKUNGAN TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA KELAS X SMA NEGERI 1 MOJOLABAN TAHUN PELAJARAN 2011/2012. Skripsi. Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sebelas Maret Surakarta, Oktober 2012.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan modul hasil penelitian bentos pada pokok bahasan pencemaran lingkungan terhadap keterampilan proses sains siswa kelas X SMA Negeri 1 Mojolaban tahun pelajaran 2011/2012.
Penelitian ini termasuk dalam eksperimen semu dengan pendekatan kuantitatif. Desain penelitian adalah Posttest Only Control Design dengan menerapkan modul hasil penelitian bentos pada kelompok eksperimen dan model pembelajaran konvensional dengan ceramah bervariasi pada kelompok kontrol.
Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas X SMA Negeri 1 Mojolaban tahun pelajaran 2011/2012. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah cluster random sampling, sehingga diperoleh kelas X.5 sebagai kelompok eksperimen dan X.6 sebagai kelompok kontrol. Teknik pengumpulan data menggunakan, tes uraian, lembar observasi, dan dokumen sekolah. Uji hipotesis menggunakan uji-t.
Hasil penelitian menggunakan uji-t diperoleh α sebesar 0.004, jadi signifikasi probabilitas (p-value) < 0.05, sehingga HO ditolak, maka H1 diterima, artinya bahwa ada perbedaan yang nyata antara penggunaan modul hasil penelitian bentos sebagai bioindikator pada pokok bahasan pencemaran lingkungan pada kelas eksperimen dan penerapan model pembelajaran konvensional dengan ceramah bervariasi pada kelompok kontrol terhadap kemampuan keterampilan proses sains siswa.
Hasil penelitian ini disimpulkan bahwa penggunaan modul hasil penelitian bentos sebagai bioindikator pada pokok bahasan pencemaran lingkungan berpengaruh terhadap keterampilan proses sains siswa kelas X SMA Negeri 1 Mojolaban tahun pelajaran 2011/2012.
Kata Kunci: Modul, Keterampilan Proses Sains
x
KATA PENGANTAR
Puji Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang memberi kedamaian hati dan inspirasi. Atas rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul ”PENGARUH PENGGUNAAN MODUL HASIL PENELITIAN BENTOS PADA POKOK
BAHASAN PENCEMARAN LINGKUNGAN TERHADAP
KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA KELAS X SMA NEGERI 1 MOJOLABAN TAHUN PELAJARAN 2011/2012”.
Skripsi ini disusun untuk memenuhi persyaratan dalam mendapatkan gelar sarjana pada program Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Pendidikan dan Keguruan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Selama pembuatan skripsi ini, tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang telah memberi ijin dan kesempatan dalam penyusunan skripsi.
2. Ketua Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.
3. Ketua Program Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.
4. Meti Indrowati, S.Si, M.Si, selaku Pembimbing I yang selalu memberikan bimbingan dan motivasi dalam menyelesaikan penyusunan skripsi.
5. Bowo Sugiharto, S.Pd, M.Pd, selaku Pembimbing II yang selalu memberikan bimbingan dan motivasi dalam menyelesaikan penyusunan skripsi.
6. Kepala SMA Negeri 1 Mojolaban yang telah memberi ijin dalam penelitian.
7. Sri Supadningsih, S.Pd selaku guru mata pelajaran biologi yang telah memberi bimbingan dan bantuan selama penelitian.
8. Para siswa SMA Negeri 1 Mojolaban yang telah bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini.
9. Berbagai pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini yang tidak mungkin disebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih belum sempurna karena keterbatasan penulis. Meskipun demikian, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semuanya.
Surakarta, Oktober 2012 Penulis
xi
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERNYATAAN ... ii
HALAMAN PENGAJUAN... iii
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iv
HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI ... v
HALAMAN MOTO ... vi
HALAMAN PERSEMBAHAN ... vii
ABSTRACT ... viii
ABSTRAK ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL ... xiv
DAFTAR GAMBAR ... xv
DAFTAR LAMPIRAN ... xvi
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Pembatasan Masalah ... 7
C. Perumusan Masalah ... 7
D. Tujuan Penelitian ... 7
E. Manfaat Penelitian ... 8
BAB II. LANDASAN TEORI ... 9
A. Tinjauan Pustaka ... 9
1. Pengertian Modul Pembelajaran... 9
a. Pengertian Modul ... 9
b. Modul Sebagai Media Pembelajaran ... 10
2. Keterampilan Proses Sains ... 12
xii
B. Hasil Penelitian Relevan ... 16
C. Kerangka Berfikir ... 17
D. Hipotesis ... 19
BAB III. METODE PENELITIAN ... 20
I. Penelitian Laboratorium ... ... ... 20
A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 20
1. Tempat Penelitian... 20
2. Waktu Penelitian ... 20
B. Penyusunan Modul Hasil Penelitian ... 20
1. Alat dan Bahan ... 20
2. Cara Kerja ... 20
a. Pengambilan Sampel Bentos ... 20
b. Penghitungan kerapatan Bentos ... 21
c. Pengukuran Parameter Kimia Fisika Air Sungai ... 21
d. Interpretasi Data ... 21
II. Penelitian Sekolah ... 22
A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 22
1. Tempat Penelitian... 22
2. Waktu Penelitian ... 22
B. Rancangan Penelitian ... 23
C. Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel ... 25
1. Populasi Penelitian . …... 25
2. Sampel Penelitian .... ... 25
D. TeknikPengambilan Sampel ... 26
E. Teknik Pengumpulan Data ... 27
1. Variabel Penelitian ... ... ... 27
a. Variabel Bebas ... 27
b. Variabel Terikat ... 27
2. Metode Pengumpulan Data ... 27
a. Metode Tes ... ... 27
b. Metode Nontes ... ... 28
xiii
3. Teknik Penyusunan Instrumen ... 28
F. Validasi Instrumen ... 28
1. Validasi ... 29
2. Reabilitas ... 31
G. Teknik Analisis Data ... 32
1. Uji Prasarat ... 32
a. Uji Normalitas ... 32
b. Uji Homogenitas ... 33
2. Uji Hipotesis ... 33
H. Prosedur Penelitian ... ... 33
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 34
A. Deskripsi Data ... 35
B. Pengujian Prasyarat Analisis ... 37
1. Hasil Uji Normalitas ... 37
2. Hasil Uji Homogenitas ... 38
C. Pengujian Hipotesis ... 39
D. Pembahasan Hasil Analisis Data ... 40
BAB V. SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN ... 45
A. Simpulan ... 45
B. Implikasi ... 45
C. Saran ... 45
DAFTAR PUSTAKA ... 47
xiv
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1. Macam-macam Keterampilan Proses Sains dan Indikatornya ... 15
Tabel 3.1. Tingkat Pencemaran Berdasarkan Indeks Diversitas ... 21
Tabel 3.2. Rancangan Penelitian Posttest Only Control Design ... 23
Tabel 3.3. Rangkuman Uji Normalitas ... 26
Tabel 3.4. Rangkuman Hasil Uji Homogenitas ... 27
Tabel 3.5. Rangkuman Hasil Uji Validitas Try Out... 30
Tabel 3.6. Skala Penilaian Reliabilitas Butir Soal atau Item ... 32
Tabel 3.7. Rangkuman Hasil Try Out Uji Reliabilitas ... 32
Tabel 4.1. Data keterampilan Proses Sains Kelas Kontrol dan Kelas Eksperiment ... 35
Tabel 4.2. Hasil Uji Normalitas Keterampilan Proses Sains ... 38
Tabel 4.3. Hasil Uji Homogenitas Keterampilan Proses Sains ... 38
Tabel 4.4. Rangkuman Hasil Uji t Keterampilan Proses Sains ... 40
xv
DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 2.1. Skema Kerangka Barfikir... 18 Gambar 3.1. Waktu Penelitian ... 22 Gambar 3.2. Skema Paradigma Penelitian ... 25 Gambar 4.1. Grafik Perbandingan Rata-Rata Nilai Keterampilan Proses
Sains Kelompok.Kontrol dan Eksperimen ... 36 Gambar 4.2. Histogram Rata-Rata Nilai KPS Siswa Setiap Aspek. ... 37 Gambar 4.1. Perbandingan Hasil Belajar Ranah Psikomotor Biologi
Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen. ... 48
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1 Instrumen Penelitian ... 49
a. Silabus Kelas Eksperimen ... 50
b. Silabus Kelas Kontrol ... 53
c. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Eksperimen ... 56
d. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Kontrol ... 73
e. Lembar Observasi Psikomotor ... 90
f. Rubrik Penilaian Lembar Observasi Psikomotor ... 91
g. Lembar Observasi Penilaian Afektif……… 92
h. Rubrik Penilaian Lembar Observasi Afektif……… 93
i. Kisi-kisi Soal Uraian ... 95
j. Soal Uraian ... 96
k. Rubrik Penilaian Soal Uraian... 98
l. Lembar Kerja Siswa... 100
m. Modul ... 114
Lampiran 2. Analisis Instrumen ... 143
a. Uji Validitas Soal Uraian Try Out ... 144
b. Uji Realibilitas Soal Uraian Try Out ... 147
c. Rangkuman Hasil Try Out ... 148
d. Surat Pernyataan Valid dari Ahli ... 149
Lampian 3. Data Hasil Penelitian ... 151
a. Daftar Nilai Kelas Eksperimen ... 152
b. Daftar Nilai Kelas Kontrol ... 154
c. Distribusi Keterampilan Proses Sains ... 156
d. Dokumen Nilai Kelas Eksperimen ... 157
e. Dokumen Nilai Kelas Kontrol ... 158
Lampiran 4. Analisis Data ... 159
a. Uji Homogenitas Data Dokumen ... 160
b. Uji Normalitas Data Dokumen ... 161
c. Uji Homogenitas Keterampilan Proses Sains ... 162
xvii
d. Uji Normalitas Keterampilan Proses Sains ... 163
e. Uji Hipotesis Keterampilan Proses Sains ... 164
Lampiran 5. Perijinan... 165
a. Surat Permohonan Izin Penelitian ... 166
b. Surat Permohonan Izin Penyusunan Skripsi ... 170
c. Surat Bukti Telah Melakukan Penelitaian ... 172
Lampiran 6. Dokumentasi Penelitian ... 173
a. Dokumentasi Kelas Eksperimen ... 174
b. Dokumentasi Kelas Kontrol ... 176
Lampiran 7. Tabel Distribusi F dan t ... 178
a. Tabel Distribusi F ... 179
b. Tabel Distribusi t... 182
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan adalah proses pembelajaran yang didapat oleh setiap manusia (peserta didik) untuk dapat membuat manusia itu mengerti, paham, dan lebih dewasa serta mampu membuat manusia lebih kritis dalam berpikir. Pendidikan dapat diperoleh baik secara formal maupun nonformal. Pendidikan formal diperoleh melalui progam-program yang sudah dirancang secara terstruktur oleh suatu institusi, departemen atau kementrian suatu negara. Pendidikan non- formal adalah pengetahuan yang didapat manusia dari pengalaman kehidupan sehari-hari baik yang dirasakan sendiri atau yang dipelajari dari orang lain (mengamati dan mengikuti).
Tujuan pendidikan untuk mengembangkan kualitas manusia, maka dalam pelaksanaanya berada dalam suatu proses yang berkesinambungan dalam setiap jenis dan jenjang pendidikan semuanya berkaitan dalam suatu sistem pendidikan yang integral. Ketercapaian tujuan pendidikan dibutuhkan suatu proses pembelajaran. Menurut Annurahman (2009) belajar adalah suatu proses yang menimbulkan terjadinya perubahan dalam tingkah laku dan kecakapan.
Keseluruhan proses belajar menghasilkan perubahan tingkah laku baik dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Siswa yang belajar berarti menggunakan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Salah satu upaya untuk menghasilkan perubahan perilaku siswa pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik adalah dengan pendekatan proses sains.
Belajar yang berhasil haruslah melalui berbagai macam aktivitas, baik aktivitas fisik maupun psikis. Dua aktivitas ini memiliki hubungan yang erat seperti yang diungkapkan Piaget dalam Rohani (2004) bahwa seorang anak berpikir sepanjang ia berbuat. Tanpa melakukan suatu perbuatan anak tidak akan dapat berpikir. Agar anak aktif berpikir sendiri, anak harus diberi kesempatan berbuat sendiri. Berdasarkan kenyataan yang ada bahwa siswa tidak mengaktifkan dirinya selama kegiatan belajar mengajar. Siswa cenderung pasif
2
tanpa melibatkan kelima panca indera mereka secara maksimal. Kebanyakan siswa hanya menunggu instruksi dari guru, hal ini disebabkan: (1) siswa tidak memiliki budaya belajar mandiri, selalu bergantung pada guru, tanpa diterangkan guru siswa tidak mau belajar sendiri, (2) kurangnya sumber belajar sehingga siswa tidak memiliki kesempatan untuk mengetahui lebih dahulu materi yang akan dibahas. Fenomena di atas mengakibatkan pembelajaran menjadi tidak bermakna.
Salah satu komponen manusiawi yang sangat berperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial di bidang pembangunan adalah guru. Sardiman (2004) mengatakan bahwa guru tidak semata-mata sebagai pengajar yang melakukan transfer of knowledge, tetapi juga sebagai pendidik yang melakukan transfer of values dan pembimbing yang memberikan pengarahan dan menuntun siswa dalam belajar. Guru merupakan salah satu unsur pendidik yang berperan aktif dalam menempatkan kedudukannya sebagai tenaga profesional. Pada diri guru terletak tanggung jawab untuk membawa siswa pada suatu kedewasaan atau taraf kematangan tertentu.
Siswa dalam pembelajaran harus mengalami sendiri apa yang dipelajarinya. Proses belajar tidak hanya menghafal, tetapi siswa harus membangun pengetahuan dipikirannya sendiri tanpa harus dipaksa sehingga pembelajaran akan menjadi bermakna. Suparno (2008) berpendapat bahwa pembelajaran bermakna adalah suatu proses pembelajaran di mana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dipunyai seseorang yang sedang dalam proses pembelajaran. Pembelajaran yang bermakna terjadi bila siswa mencoba menghubungkan fenomena baru ke dalam struktur pengetahuan mereka. Artinya, bahan pelajaran itu harus cocok dengan kemampuan siswa dan harus relevan dengan struktur kognitif yang dimiliki siswa. Oleh karena itu, pelajaran harus dikaitkan dengan konsep-konsep yang sudah dimiliki siswa, sehingga konsep-konsep baru tersebut benar-benar terserap olehnya.
Tujuan dari pembelajaran biologi di sekolah adalah siswa mampu memahami konsep-konsep biologi. Berdasarkan tujuan dari pembelajaran biologi tersebut maka selama proses pembelajaran biologi, siswa dituntut untuk aktif dalam menemukan konsep-konsep utama dari materi biologi baik melalui kegiatan
3
observasi, eksperimen, membuat gambar, grafik, tabel dan mengkomunikasikan hasilnya pada orang lain. Pembelajaran biologi diharapkan dapat menjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari dirinya sendiri dan alam sekitarnya. Siswa akan mampu membaca grafik, bagan, peta, dan diagram yang menjelaskan mengenai sistem dalam diri siswa sendiri sehingga siswa akan mampu memahami konsep materi biologi.
Biologi sebagai ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup, sebaiknya melibatkan objek-objek nyata dalam kehidupan. Pencemaran lingkungan merupakan salah satu contoh objek nyata dalam kehidupan disekitar kita. Masalah tersebut adalah masalah yang dapat dipecahkan dalam ilmu biologi, terutama masalah yang berhubungan dengan alam. Proses pembelajaran Biologi akan lebih berarti apabila menggunakan objek-objek yang dapat diamati dan dipegang secara langsung oleh siswa. Pembelajaran biologi membutuhkan berbagai macam sumber belajar untuk menunjang proses pembelajaran biologi.
Sumber belajar dapat diartikan sebagai sesuatu yang digunakan untuk memfasilitasi kegiatan belajar. Sumber belajar dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu : resources by design (sumber belajar yang dirancang) dan resources by utilization (sumber belajar yang dimanfaatkan). Hal tersebut sesuai dengan
simpulan Association of Education Communication and Technology (AECT,1977) bahwa sumber belajar yang dirancang maksudnya sumber belajar itu sengaja direncanakan untuk keperluan pembelajaran, misalnya : buku paket, modul, Lembar kerja Siswa (LKS). Sumber belajar yang dimanfaatkan yaitu segala sesuatu yang sudah tergelar disekitar kita dan dapat dimanfaatkan untuk keperluan belajar, misalnya: pasar, museum, kebun binatang, lingkungan, semuanya itu tidak dirancang untuk pembelajaran karena memang sudah tersedia dan tinggal memanfaatkan (Anitah,2009).
Penggunaan media pembelajaran memungkinkan siswa untuk memberikan reaksi terhadap penjelasan guru, mengamati dan menyentuh objek kajian pelajaran serta mengkongkritkan konsep yang abstrak. Kegiatan pengamatan oleh siswa memunculkan berbagai fenomena yang menarik perhatian siswa. Fenomena-fenomena yang ditangkap oleh siswa dari efek penggunaan
4
media memunculkan keingintahuan tentang hal-hal yang berkaitan dengan topik yang dipelajari. Selanjutnya muncul berbagai pertanyaan yang di antaranya dapat diangkat sebagai suatu permasalahan yang harus dipecahkan. Tugas belajar siswa adalah mencari jawaban atau solusi atas setiap permasalahan yang diangkat tersebut.
Salah satu solusi untuk menciptakan pembelajaran bermakna yang mengutamakan keaktifan siswa adalah dengan modul dalam pembelajaran.
Nasution (2005) mengatakan bahwa pembelajaran modul termasuk salah satu sistem individual yang menghubungkan keuntungan dari berbagai pembelajaran individual lainnya seperti; tujuan spesifik dalam bentuk kelakuan yang dapat diamati dan diukur, belajar menurut kecepatan masing-masing, balikan atau feedback yang banyak. Dalam pembelajaran modul siswa, diberi kesempatan untuk belajar menurut cara masing-masing menggunakan teknik yang berbeda- beda untuk memecahkan masalah-masalah tertentu, berdasarkan latar belakang pengetahuan dan kebiasaan masing-masing. Modul merupakan suatu unit yang lengkap dan dapat berdiri sendiri serta terdiri atas suatu rangkaian kegiatan belajar-mengajar yang disusun untuk dapat membantu siswa dalam mencapai sejumlah tujuan yang akan dicapai serta dirumuskan secara khusus dan jelas.
Modul merupakan suatu paket kurikulum yang disediakan untuk siswa supaya dapat belajar sendiri untuk dapat mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan.
Mulyasa (2006) berpendapat bahwa terdapat beberapa keunggulan pembelajaran dengan menggunakan media modul, antara lain: pertama berfokus pada kemampuan individual peserta didik, karena pada hakikatnya mereka memiliki kemampuan untuk bekerja sendiri dan lebih bertanggung jawab atas tindakan-tindakannya. Kedua adanya kontrol terhadap hasil belajar melalui penggunaan standar kompetensi dalam setiap modul yang harus dicapai oleh peserta didik. Ketiga relevansi kurikulum ditunjukkan dengan adanya tujuan dan cara penyapaiannya, sehingga peserta didik dapat mengetahui keterkaitan antara pembelajaran dan hasil yang akan diperoleh.
Pendekatan pembelajaran IPA tidak hanya mengutamakan hasil, tetapi juga mengharapkan terjadinya proses pembelajaran. Hal ini sesuai dengan
5
pendapat Kamalia (2010) bahwa pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsporasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoritis tertentu. Penggunaan pendekatan pembelajaran IPA harus sesuai dengan karakteristik materi IPA yang akan dipelajari siswa juga harus sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang harus dicapai siswa.
Keterampilan proses sains perlu dikembangkan khususnya dalam mata pelajaran biologi, terkait dengan pembelajaran sains yang lebih banyak menuntut keterampilan dari siswa. Menurut Semiawan (1992) alasan pertama, perkembangan ilmu pengetahuan berlangsung semakin cepat sehingga tak mungkin lagi guru mengajarkan semua fakta dan konsep kepada siswa. Alasan kedua, para ahli psikologi berpendapat bahwa anak-anak mudah memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak bila disertai dengan contoh konkret, contoh yang sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi, dan dengan cara mempraktekan melalui benda-benda yang benar-benar nyata.
Keterampilan proses sains merupakan pendekatan pembelajaran yang mengutamakan proses IPA. Jenis-jenis keterampilan proses dalam pendekatan keterampilan proses sains dapat dikembangkan secara terpisah-pisah, tergantung dari metode yang akan digunakan (Rustaman, 2005).
Dimyati (2006) berpendapat bahwa terdapat berbagai keterampilan dalam keterampilan proses, keterampilan-keterampilan tersebut terdiri dari keterampilan- keterampilan dasar (basic skills) dan keterampilan-keterampilan terintegrasi (integrated skills). Keterampilan-keterampilan dasar terdiri dari enam keterampilan, yaitu : mengobservasi, mengklasifikasi, memprediksi, mengukur, menyimpulkan, dan mengkomunikasikan. Keterampilan-keterampilan terintegrasi terdiri dari : mengidentifikasi variabel, membuat tabulasi data, menyajikan data dalam bentuk grafik, menggambarkan hubungan antar variabel, menyimpulkan dan mengolah data, menganalisa penelitian, menyusun hipotesis, mendefinisikan variabel secara operasional, merancang penelitian dan melaksanakan eksperimen.
6
Proses pembelajaran yang berlangsung di sekolah-sekolah masih menggunakan sistem konvensional dengan metode ceramah meskipun divariasi tanya jawab dengan siswa dan pemberian tugas pada siswa. Sebagian besar waktu belajar siswa, dihabiskan untuk mendengarkan ceramah guru, menghafalkan materi dan mencatat materi. Suasana kelas yang monoton, membuat siswa merasa bosan dan mengantuk serta lebih memilih berbicara sendiri dengan temannya daripada memperhatikan penjelasan dari guru. Akibatnya, siswa menjadi pasif dan kurang kreatif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
Kurangnya interaksi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa dan siswa dengan sumber maupun media belajar dalam kegiatan pembelajaran menyebabkan kurangnya kemampuan psikomotor dan afektif siswa. Siswa jarang berdiskusi dan bekerja sama dengan siswa lain yang mengakibatkan siswa menjadi pasif, keterampilan proses sains tidak berkembang, dan sikap ilmiah siswa kurang. Kebanyakan siswa hanya berorientasi pada kemampuan kognitif saja serta menganggap bahwa biologi merupakan mata pelajaran yang banyak menghafal dan membosankan sehingga timbul rasa malas untuk belajar biologi.
Keterampilan proses sains siswa menjadi kurang terakomodasi dengan baik yang seharusnya ada dalam pembelajaran biologi. Berdasarkan pernyataan–pernyataan tersebut maka diperlukan suatu inovasi dalam pembelajaran berupa metode atau model pembelajaran yang interaktif dan dapat membantu siswa dalam penguasaan keterampilan proses sains. Salah satu inovasi pembelajaran tersebut dengan menggunakan media modul pembelajaran.
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan diatas, hasil penelitian diharapkan dapat meningkatkan keterampilan proses sains pada mata pelajaran biologi, maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian yang berjudul sebagai berikut: “Pengaruh Penggunaan Modul Hasil Penelitian Bentos sebagai Bioindikator pada Pokok Bahasan Pencemaran Lingkungan terhadap Keterampilan Proses Sains Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Mojolaban Tahun Pelajaran 2011/2012”.
7
B. Pembatasan Masalah
Dengan melihat identifikasi masalah yang ada di atas, maka perlu dijelaskan batasan masalah yang ada sehingga penelitian memiliki arti yang jelas dan terarah. Adapun batasan masalah tersebut adalah :
1. Subjek penelitian
Subyek dalam penelitian ini menggunakan siswa kelas X semester 2 SMA Negeri 1 Mojolaban Tahun Pelajaran 2011/2012.
2. Obyek penelitian Objek penelitian dibatasi pada:
a. Strategi pembelajaran, meliputi : konvensional ceramah pada kelas kontrol dan penggunaan modul pada kelas eksperimen.
b. Keterampilan proses sains, meliputi keterampilan terintegrasi dan dasar yang mengacu pada standart kompetensi dan kompetensi dasar biologi di X SMA Negeri 1 Mojolaban.
C. Perumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah maka dapat dirumuskan adakah pengaruh penggunaan modul hasil penelitian bentos sebagai bioindikator pada pokok bahasan pencemaran lingkungan terhadap keterampilan proses sains siswa kelas X SMA Negeri 1 Mojolaban tahun pelajaran 2011/2012?
D. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan perumusan masalah, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya pengaruh penggunaan modul hasil penelitian bentos sebagai bioindikator pada pokok bahasan pencemaran lingkungan terhadap keterampilan proses sains siswa kelas X SMA Negeri 1 Mojolaban tahun pelajaran 2011/2012.
8
E. Manfaat penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, antara lain : 1. Bagi Siswa
a. Meningkatkan keterampilan proses sains siswa dalam pembelajaran biologi.
b. Melalui penggunaan modul untuk mengaktifkan siswa dalam proses belajar mengajar.
2. Bagi Guru
a. Memotivasi guru untuk mengembangkan lebih lanjut penggunaan modul pada konsep yang lain.
b. Memberikan solusi terhadap kendala pelaksanaan pembelajaran biologi khususnya terkait dengan keterampilan proses sains terintegrasi dan dasar.
3. Bagi Institusi
Memberikan masukan atau saran dalam upaya mengembangkan suatu proses pembelajaran yang mampu meningkatkan keterampilan proses sains terintegrasi dan dasar siswa kelas X SMA Negeri 1 Mojolaban sehingga meningkatkan sumber daya pendidikan untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas.
9 BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka 1. Pengertian Modul Pembelajaran a. Pengertian Modul
Modul merupakan paket belajar mandiri yang meliputi serangkaian pengalaman belajar yang direncanakan dan dirancang secara sistematis untuk membantu peserta didik mencapai tujuan belajar. Hal ini senada dengan pendapat Daryanto (2010) yang menyatakan bahwa dalam pembelajaran dapat diartikan sebagai proses penciptaan lingkungan yang dapat memungkinkan terjadinya proses belajar. Belajar dalam pengertian aktifitas mental siswa dalam berinteraksi dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan perilaku siswa yang bersifat konstan. Materi belajar siswa akan menjadi lebih mudah untuk dapat dipahami dengan bantuan berbagai macam-macam media pembelajaran, salah satunya yaitu modul pembelajaran.
Pengertian modul menurut Nasution (2005) modul merupakan suatu unit yang lengkap dan dapat berdiri sendiri serta terdiri atas suatu rangkaian kegiatan belajar-mengajar yang disusun untuk dapat membantu siswa dalam mencapai sejumlah tujuan yang akan dicapai serta dirumuskan secara khusus dan jelas.
Modul merupakan suatu paket kurikulum yang disediakan untuk siswa supaya dapat belajar sendiri untuk dapat mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan.
Mulyasa (2006) berpendapat bahwa modul adalah suatu proses pembelajaran mengenai suatu satuan pokok bahasan tertentu yang disusun secara sistematis, operasional dan terarah untuk digunakan oleh peserta didik, disertai dengan pedoman penggunaannya untuk guru. Sebuah modul merupakan pernyataan satuan pembelajaran dengan tujuan-tujuan, pretes aktivitas belajar yang memungkinkan peserta didik untuk dapat memperoleh kompetensi- kompetensi yang belum dikuasai dari hasil pretest dan mengevaluasi kompetensinya untuk mengukur keberhasilan belajar yang akan dicapai.
10
Winkel (1999) menyatakan bahwa modul merupakan suatu unit program belajar-mengajar terkecil yang secara rinci menggariskan tujuan instruksional umum yang ditunjang, tujuan instruksional khusus yang harus dicapai, satuan bahasa yang dipelajari, peranan guru, alat-alat serta sumber yang dipakai, kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa secara berurutan serta tugas-tugas yang harus dikerjakannya, cara diadakan evaluasi serta alatnya, cara siswa mendapat umpan balik.
Terdapat beberapa keuntungan untuk siswa dalam penggunaan modul sebagai media pembelajaran, sesuai dengan pendapat Nasution (2005) menyatakan bahwa modul yang disusun dengan baik dapat memberikan banyak keuntungan bagi siswa, antara lain : balikan atau feedback, penguasaan tuntas atau mastery, tujuan, motivasi, fleksibilitas, kerja sama, pengajaran remedial.
Modul juga mempunyai sejumlah keuntungan bagi tenaga pengajar, antara lain : rasa kepuasan, bantuan individual, pengayaan, kebebasan rutin, mencegah kemubasiran, meningkatkan profesi tenaga pengajar, dan evaluasi formatif.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa modul merupakan suatu proses pembelajaran mengenai suatu satuan bahasan tertentu yang disusun secara sistematis, operasional dan terarah untuk digunakan oleh peserta didik.
b. Modul Sebagai Media Pembelajaran
Media pendidikan adalah segala jenis sarana pendidikan yang digunakan sebagai perantara dalam proses belajar mengajar untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pencapaian darri tujuan pendidikan. Hal ini senada dengan pendapat Winkel (1999) memberi batasan bahwa pengajaran individual yang digunakan, bukan pengajaran yang diberikan kepada siswa secara individu, melainkan pengajaran yang melibatkan setiap siswa yang berada dalam kelas secara maksimal dengan kondisi-kondisi eksternal yang di optimalkan bagi masing- masing siswa.
Mulyasa (2006) berpendapat bahwa tujuan penggunaan modul adalah untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas pembelajaran di sekolah meliputi, waktu, dana, fasilitas, maupun tenaga guna mencapai tujuan secara optimal.
11
Pembelajaran dengan sistem modul memiliki karakteristik sebagai berikut : pertama setiap modul harus memberikan informasi dan memberikan pelaksanaan yang jelas tentangapa yang harus dilakukan oleh seorang peserta didik, bagaimana melakukannya dan sumber belajar apa yang harus digunakan. Kedua modul merupakan pembelajaran individual, sehingga mengupayakan untuk melibatkan sebanyak mungkin karakteristik peserta didik. Ketiga pengalaman belajar dalam modul disediakan untuk membantu peserta didik mencapaii tujuan pembelajaran seefektif dan seefisien mungkin, serta memungkinkan peserta didik untuk melakukan pembelajaran secara aktif, tidak sekedar membaca dan mendengar.
Modul memberikan kesempatan untuk bermain peran (role playing), simulasi dan berdiskusi. Keempat materi pembelajaran disajiakan secara logis dan sistematis, sehingga peserta didik dapat mengetahui kapan dia memulai dan kapan dia mengakhiri suatu modul dan tidak meninbulkan pertanyaan mengenai apa yang harus dilakuakan. Kelima setiap modul memiliki mekanisme untuk mengukur pencapaian tujuan belajar peserta didik.
Rustaman (2005) menyampaikan beberapa fungsi dari media pembelajaran, yaitu : pertama memperjelas dan memperkaya informasi yang diberikan secara verbal. Kedua meningkatkan motivasi dan perhatian siswa untuk belajar. Ketiga meningkatkan efektifitas dan efisiensi penyampaian informasi.
Keempat menambah variasi penyajian materi. Kelima pemilihan media yang tepat akan menimbulkan semangat, gairah dan mencegah kebosanan siswa untuk belajar. Keenam kemudahan materi untuk dicerna dan lebih membekas, sehingga tidak mudah dilupakan siswa. Ketujuh memberikan pengalaman yang lebih konkret bagi hal yang mungkin abstrak. Kedelapan meningkatkan keingintahuan siswa. Kesembilan memberikan stimulus dan mendorong respon siswa.
Tujuan penggunaan modul menurut Nasution (2005) yaitu : pertama membuka kesempatan bagi siswa untuk dapat belajar menurut kecepatan masing- masing dalam belajar. Siswa dianggap tidak akan dapat mencapai hasil yang sama dalam waktu yang sama dan tidak dapat mempelajari sesuatu pada waktu yang sama. Kedua dapat memberi pilihan dari sejumlah besar topik dalam rangka sebuah materi dalam suatu mata pelajaran, mata kuliah, bidang studi atau disiplin
12
bila kita anggap bahwa pelajar tidak akan mempunyai minat atau motivasi yang sama untuk dapat mencapai tujuan yang sama. Ketiga memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat mengenal kelebihan dan kekurangan serta memiliki kelemahannya yang dapat dilihat melalui modul remedial.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan utama penggunaan modul sebagai media pembelajaran adalah untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas pembelajaran disekolah.
2. Keterampilan Proses Sains
Keterampilan proses merupakan pendekatan belajar-mengajar yang mengarah kepada pengembangan kemampuan mental, fisik, dan sosial yang mendasar sebagai penggerak kemampuan yang lebih tinggi dalam diri invidu siswa. Pendekatan keterampilan proses lebih menekankan pada penumbuhan dan pengembangan sejumlah keterampilan tertentu pada diri peserta didik agar mereka mampu memproses informasi sehingga ditemukan hal-hal yang baru dan bermanfaat baik berupa fakta, konsep, maupun pengembangan sikap dan nilai.
Hal ini senada dengan pendapat Sriyono (1992) menyatakan bahwa dalam pendekatan keterampilan proses dilaksanakan dengan lebih menekankan pada bagaimana cara siswa dalam belajar, bagaimana cara siswa mengelola perolehannya, sehingga dapat menjadi miliknya; dimengerti dan dapat diterapkan sebagai bekal dalam kehidupan di masyarakat sesuai kebutuhannya. Untuk pembelajaran.
Kamalia (2010) berpendapat bahwa pendekatan keterampilan proses adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat berproses untuk dapat menemukan fakta-fakta, membangun konsep-konsep dan teori-teori dengan keterampilan intelektual dan sikap ilmiah siswa sendiri.
Terdapat beberapa alasan yang mendasari perlunya keterampilan proses sains dilatihkan pada siswa dalam kegiatan belajar mengajar diungkapkan oleh Dimyati dan Mudjiono (2006) bahwa terdapat berbagai keterampilan dalam keterampilan proses, keterampilan-keterampilan tersebut terdiri dari keterampilan- keterampilan dasar (basic skills) dan keterampilan-keterampilan terintegrasi
13
(integrated skills). Keterampilan-keterampilan dasar terdiri dari enam keterampilan, yaitu : mengobservasi, mengklasifikasi, memprediksi, mengukur, menyimpulkan, dan mengkomunikasikan. Keterampilan-keterampilan terintegrasi terdiri dari : mengidentifikasi variabel, membuat tabulasi data, menyajikan data dalam bentuk grafik, menggambarkan hubungan antar variabel, menyimpulkan dan mengolah data, menganalisa penelitian, menyusun hipotesis, mendefinisikan variabel secara operasional, merancang penelitian dan melaksanakan eksperimen.
Semiawan (1992) berpendapat bahwa terdapat beberapa alasan yang mendasari perlunya dilatihkan keterampilan proses sains pada siswa dalam kegiatan belajar mengajar diungkapkan oleh yaitu: siswa harus dilatih untuk menemukan pengetahuan dan konsep serta mengembangkan sendiri, siswa akan mudah memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak jika disertai contoh yang konkrit, siswa perlu dilatih untuk selalu bertanya, berfikir kritis dan mengusahakan kemungkinan-kemungkinan untuk menjawab suatu masalah, serta pengembangan konsep dalam proses belajar mengajar. Pengembangan konsep tidak lepas dari pengembangan sikap dalam diri siswa, dengan dilatihkannya keterampilan proses sains dapat mengembangkan sikap ilmiah dalam diri siswa.
Peran guru dalam mengembangkan keterampilan proses sains siswa menurut Rustaman (2005) terdiri dari: (1) memberikan kesempatan pada siswa untuk menggunakan keterampilan proses dalam melakkan eksplorasi materi dan fenomena yang memungkinkan siswa menggunakan alat indranya, mengumpulkan bukti-bukti, bertanya, merumuskan hipotesis dan keterampilan proses sains yang lainnya, (2) memberi kesempatan pada siswa untuk berdiskusi dalam kelompok ataupun kelas, tugas-tugas dirancang agar siswa berbagi gagasan, menyimak teman lain, mempertahankan dan menjelaskan gagasan mereka sehingga mereka dituntut untuk berfikir reflektif, (3) membantu siswa untuk menyadari bahwa keterampilan proses sains penting sebagai bagian dari proses belajar mereka sendiri, dengan kata lain membantu pengembangan keterampilan bergantung pada pengetahuan siswa, (4) mendorong siswa mengulas (review) secara kritis tentang kegiatan yang telah mereka lakukan, (5) memberi teknik atau strategi untuk meningkatkan keterampilan, khususnya ketepatan dalam
14
observasi. Guru bertindak sebagai fasilitator, guru tidak memberikan konsep kepada siswa, tetapi berusaha untuk membimbing dan menciptakan kondisi belajar yang memungkinkan siswa untuk dapat melakukan penemuan konsep- konsep atau fakta-fakta.
Kamalia (2010) berpendapat bahwa pendekatan keterampilan proses adalah perlakuan yang diterapkan dalam pembelajaran yang menekankan pada pembentukan keterampilan memperoleh pengetahuan kemudian mengkomunikasikan perolehannya. Keterampilan memperoleh pengetahuan dapat dengan menggunakan kemampuan olah pikir (psikis) atau olah perbuatan (fisik).
Belajar sains tidak hanya belajar dalam wujud pengetahuan dekklaratif berupa fakta, konsep, hukum, prinsip, tetapi juga belajar tentang pengetahuan prosedural berupa cara memperoleh informasi, cara sains dan teknologi bekerja, kebiasaan bekerja ilmiah dan keterampilan berfikir. Belajar sains memfokuskan kegiatan pada penemuan dan pengolahan informasi melalui kegiatan mengamati, mengukur, mengajukan pertanyaan, mengklasifikasi, memecahkan masalah dan lain-lain (Wenno, 2008).
Keterampilan proses sains mempunyai ciri-ciri tertentu, menurut Samana (1992) ciri-ciri tersebut meliputi pendekatan pembelajaran yang strategis, mendayagunakan semua fungsi diri siswa, mendukung nilai tambah dan meningkatkan kreativitas, berasaskan utuh serta kemanusiaan dan meningkatkan sosialisasi diri siswa.
Rustaman (2005) berpendapat bahwa keterampilan proses sains mempunyai ciri-ciri aktifitas yang dapat diamati sehingga memudahkan dalam pengukurannya. Penjelasan jenis keterampilan proses sains dan ciri indikatornya dapat dilihat pada Tabel 2.1
15
Tabel 2.1 Macam-macam Keterampilan Proses Sains dan Indikatornya Keterampilan Proses
Sains
Indikator
1. Mengamati v Menggunakan banyak indera untuk memperoleh informasi
2. Mengelompokkan v Membandingkan beberapa objek v Membandingkan ciri-ciri
v Mencari persamaan dan perbedaan
3. Menafsirkan v Mencari hubungan hasil-hasil pengamatan v Menyimpulkan hasil pengamatan
4. Memprediksi v Menggunakan pola hasil pengamatan
v Mengemukakan kejadian yang mungkin terjadi pada sesuatu yang belum diamati
5. Mengajukan pertanyaan
v Membuat pertanyaan apa, bagaimana, dan mengapa v Bertanya meminta suatu penjelasan
6. Berhipotesis v Mengetahui terdapat bangak penjelasan dari satu kejadian
v Memahami bahwa suatu penjelasan perlu diuji kebenarannya
7. Merencanakan percobaan
v Menentukan alat/bahan/sumber yang akan digunakan v Menentukan variabel
v Menentukan apa yang akan dilaksanakan berupa langkah kerja
v Menentukan apa yang akan diukur, diamati, dan dicatat
8. Menggunakan Alat
v Mengetahui bagaimana menggunakan alat dan bahan 9. Menerapkan
konsep
v Menggunakan konsep yan telah dipelajari dalam situasi baru
v Menggunakan konsep lama untuk memahami kejadian baru
10. Berkomunikasi v Memvariasi bentuk penyajian
v Menggunakan grafik, tabel, atau diagram 11. Melaksanakan
percobaan
v Menentukan alat/bahan/sumber yang akan digunakan v Menentukan variabel
v Menentukan apa yang akan dilaksanakan berupa langkah kerja
v Menentukan apa yang akan diukur, diamati, dan dicatat
Keterampilan proses sains dilatihkan untuk mendapatkan suatu pengetahuan dari dalam siswa. Guru mengajar bukanlah memindahkan pengetahuan dari guru pada siswa, melainkan suatu aktivitas yang memungkinkan siswa dapat membangun sendiri pengetahuannya sehingga siswa aktif dalam
16
pembelajaran. Diperlukan suatu pembelajaran yang dapat menunjang dilatihkannya keterampilan proses sains siswa.
Siswa akan mendapatkan ditribusi yang baik dari keterampilan proses, siswa memperoleh pengertian yang tepat tentang hakikat pengetahuan, memperoleh kesempatan bekerja dengan ilmu pengetahuan dan merasa senang memperoleh kesempatan belajar proses memperoleh dan memproduk ilmu pengetahuan (Dimyati dan Mudjiono, 2006)
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa keterampilan proses sains dapat membantu siswa dalam menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta dapat menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut. Keterampilan proses sains juga menjadi roda penggerak penemuan dan pengembangan sikap dan nilai. Seluruh irama gerak atau tindakan dalam proses belajar-mengajar seperti ini akan menciptakan kondisi belajar siswa aktif .
B. Hasil Penelitian Relevan
Penelitian tentang modul sebagai media pembelajaran dan keterampilan proses sain sudah digunakan oleh peneliti-peneliti yang sudah lalu. Berikut ini merupakan beberapa penelitian yang menggunakan modul sebagai media pembelajaran dan keterampilan proses sains, yaitu :
Kesimpulan yang diperolah dari hasil penelitian Yulianti (2010) menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif tipe Learning Together disertai modul pada pokok bahasan pencemaran dan perubahan lingkungan dapat meningkatkan keterampilan proses sains dasar siswa kelas X-6 SMA Negeri 8 Surakarta Tahun Pelajaran 2010/2011.
Hasil penelitian Wenno (2010) dalam jurnal model modul pembelajaran sains berbasis problem solving method, dan sistem evaluasi berdasarkan karakteristik siswa dalam pembelajaran sains dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai alternatif pemecahan masalah proses pembelajaran sains SMP/MTs di Propinsi Maluku.
17
Sunyoto (2006) dalam jurnal efektifitas yang berjudul penggunaan Modul Pembelajaran Interaktif untuk meningkatkan prestasi belajar siswa SMK bidang keahlian teknik mesin, diperoleh hasil penelitian bahwa penggunaan Modul Pembelajaran Interaktif dalam pembelajaran siswa SMK bidang keahlian Teknik Mesin lebih efektif daripada pembelajaran tanpa menggunakan Modul Pembelajaran Interaktif.
C. Kerangka Berpikir
Pembelajaran biologi sebagai sains yang harus berorientasi pada hasil dan proses. Pembelajaran biologi selain mendapatkan hasil yang baik seseorang juga harus melalui proses ilmiah supaya dapat memaknai pembelajaran biologi sebagai sains. Dengan mengikuti proses yang baik seseorang juga akan mempunyai keterampilan proses sains yang bagus. Pembelajaran biologi tidak cukup hanya dengan menghafalkan fakta dan konsep yang sudah jadi, tetapi dituntut pula menemukan fakta-fakta dan konsep-konsep tersebut melalui observasi dan eksperimen.
Banyak hal yang yang dapat mempengaruhi keterampilan proses sains siswa. Salah satu hal yang dapat mempengaruhi keterampilan proses sains adalah penggunaan media pembelajaran yang diterapkan dikelas dengan baik dan tepat.
Banyak dikembangkan media-media pembelajaran oleh para ahli-ahli pendidikan dan guru sebagai tenaga pengajar. Salah satu media pembelajaran yang baik untuk kreativitas guru dan menunjang keaktifan siswa adalah dengan menggunakan media pembelajaran modul. Peneliti bermaksud untuk mengetahui pengaruh penggunaan modul hasil penelitian sebagai bioindikator terhadap keterampilan proses sains siswa SMA Negeri 1 Mojolaban. Supaya lebih jelas kerangka berpikir juga disajikan dalam bentuk peta konsep berikut :
18
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir Masalah:
1. Pembelajaran disekolah cenderung hanya menghafal materi yang disampaikan guru.
2. Pembelajaran saat ini siswa kurang diberi kesempatan mengembangkan keterampilan proses sains.
Akibatnya:
a) Siswa hanya mendengarkan guru ceramah dan tidak aktif saat proses pembelajaran.
b) Keterampilan proses sains siswa rendah.
Manfaat:
a. Meningkatkan keterampilan proses sains siswa dalam pembelajaran biologi.
b. Melalui penggunaan modul untuk mengaktifkan siswa dalam proses belajar mengajar
Penerapan Modul Sebagai Media Pembelajaran Keterampilan Proses
Sains Siswa Rendah
Meningkatkan Keterampilan Proses Sains Siswa
19
D. Hipotesis
Dengan dasar kajian teori beberapa referensi tersebut, peneliti mengajukan hipotesis berikut : Terdapat pengaruh penggunaan modul hasil penelitian bentos sebagai bioindikator terhadap keterampilan proses sains siswa kelas X SMA Negeri 1 Mojolaban.
20 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (Quasi experiment) yang menggunakan modul sebagai sumber atau bahan pembelajaran pada kelas kontrol. Modul sebagai bahan pembelajaran ini disusun dari hasil penelitian.
I. Penelitian Laboratorium
A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Sungai Pepe Surakarta, Jawa tengah.
2. Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan pada Juni-November 2011.
B. Penyusunan Modul Hasil Penelitian 1. Alat dan Bahan
Penelitian ini memerlukan alat dan bahan yaitu SRCC (Sedgwick Rafter Counting Cell), formalin 40%, water sampler, jala sauber, pipet tetes, cawan petri, saringan standard berpori 0.595 mm, botol sampel, cawan petri bergaris, buku identifikasi plankton bentos,
2. Cara Kerja a. Pengambilan sampel bentos
Penelitian dilakukan di sepanjang perairan Sungai Pepe Surakarta dengan menentukan 3 lokasi penelitian yaitu hulu,tengah dan hilir. Dalam setiap lokasi penelitian atau stasiun diambil sampel pada 3 titik yaitu tepi kiri, tengah dan tepi kanan sebagai substasiun. Pada tiap substasiun, dilakukan 3 kali pengambilan sampel sebagai ulangan.
Pengambilan sampel bentos dilakukan dengan menggunakan Sauber dan Ekman Grab disesuaikan dengan kondisi di setiap stasiun apakah berarus deras/tidak dan dasar berpasir/berbatu. Sampel bentos yang sudah diambil selanjutnya disaring dengan saringan bertingkat dan diawetkan dengan formalin 40%.
21
Sampel bentos yang sudah diambil selanjutnya diidentifikasi di laboratorium dengan bantuan mikroskop, mikroskop stereo dan buku identifikasi bentos.
b. Penghitungan kerapatan bentos
Kerapatan atau densitas bentos dihitung dengan rumus :
å
´ ´
= S c
l N r
1
000 . 10
N = kerapatan bentos S = jumlah spesies
c = jumlah individu tiap spesies
r = jumlah ulangan pengambilan l = luas bidang pengambilan pada alat (cm2)
c. Pengukuran parameter kimia fisika air sungai
Dilakukan pengukuran parameter kimia dan fisika air sungai meliputi DO (Dissolved Oxigen). pH dan Suhu. Pengukuran parameter ini dilakukan langsung di tempat pengambilan sampel.
d. Interpretasi Data
Dilakukan interpretasi data melalui uji lanjutan pengukuran Indeks Diversitas bentos yang dihitung berdasarkan rumus Shanon & Weaver yaitu:
H = - ∑ phi ln phi sedangkan phi = Dimana:
H = Indeks Diversitas (ID) Shanon-Wiener N = Jumlah total seluruh spesies
n = Jumlah spesies X
Selanjutnya nilai ID tiap stasiun dikonversikan ke dalam Table 3.1 Tabel 3.1 Tingkat Pencemaran Berdasarkan Indeks Diversitas
No Tingkat Pencemaran ID
1. Tidak tercemar >2
2. Tercemar ringan 2 - 1,6
3. Tercemar sedang 1,6 – 1
4. Tercemar berat <1
Sumber (Wisnu Wardhana, 2006)
22
II. Penelitian Sekolah
A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di SMA Negeri 1 Mojolaban Sukoharjo tahun pelajaran 2011/2012.
2. Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2011/2012.
Pelaksanaan penelitian dibagi menjadi tiga tahap, yaitu:
Tahap Kegiatan penelitian Bulan ke (dalam tahun 2012)
01 02 03 04 05 06 07 08 09 10
Persiapan
1. Permohonan pembimbing 2. Survei sekolah 3. Konsultasi judul 4. Konsultasi draf
proposal 5. Konsultasi
instrument dan seminar proposal
Pelaksanaan
1. Ijin penelitian dan melengkapi instrument
2. Try out instrumen penelitian
3. Pelaksanaan penelitian dan konsultasi bab I, II, dan III Pengolahan
data dan penyusunan laporan
Pengolahan data hasil penelitian dan penyusunan laporan
Gambar 3.1 Jadwal Penelitian
23
B. Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental semu (Quasi experiment). Alasan digunakan penelitian eksperimental semu adalah peneliti tidak mungkin mengontrol semua variabel yang relevan. Tujuan penelitian eksperimen adalah untuk mencari hubungan sebab akibat dengan memberi perlakuan-perlakuan tertentu pada dua kelompok eksperimen. Rancangan penelitian ini adalah Posttest Only Control Design menurut Sugiyono (2011:
112) dapat digambarkan pada Tabel 3.2.
Tabel 3.2 Skala Rancangan Posttest Only Control Design.
Kelompok Treatment Posttest
Kontrol (R) X1 O1
Eksperimen (R) X2 O2
Keterangan:
X1 : Perlakuan yang diberikan kepada kelompok kontrol dengan pendekatan pembelajaran konvensional.
X2 : Perlakuan yang diberikan kepada kelompok eksperimen dengan pendekatan pembelajaran konvensional disertai dengan modul.
O1 :Tes akhir yang diberikan kepada kelompok kontrol.
O2 :Tes akhir yang diberikan kepada kelompok eksperimen.
(R) : Random assigment (pemilihan kelompok secara random)
Keterkaitan antara variabel bebas yang berupa modul hasil penelitian dan pendekatan konvensional terhadap variabel terikat yang berupa Keterampilan Proses Sains tertuang dalam paradigma penelitian. Skema paradigma penelitian bisa dilihat pada Gambar 3.2.
24
Gambar 3.2 Skema paradigma penelitian
Keterangan :
X : Model pembelajaran
X1 : Model pembelajaran konvensional dengan ceramah bervariasi disertai dengan media modul
X2 : Model pembelajaran konvensional dengan ceramah bervariasi Y : Keterampilan proses sains
Y1 : Keterampilan proses sains mengamati Y2 : Keterampilan proses sains mengelompokkan
Y3 : Keterampilan proses sains merencanakan percobaan Y4 : Keterampilan proses sains menggunakan alat dan bahan Y5 : Keterampilan proses sains berkomunikasi
X1 Y1 X1 Y2
X1 Y3
X1 Y4 X1 Y5 X1 Y6
X2 Y1 X2 Y2
X2 Y3
X2 Y4 X2 Y5 X2 Y6 Y1
Y2
Y3
Y4 Y5 Y6
Y1 Y2
Y3
Y4 Y5 Y6 Y
X1
X2 Y
X
25
Y6 : Keterampilan proses sains mengajukan pertanyaan
X1 Y1 : Keterampilan proses sains mengamati dengan media modul X1 Y2 : Keterampilan proses sains mengelompokkan dengan media modul
X1 Y3 : Keterampilan proses sains merencanakan percobaan dengan media modul X1 Y4 : Keterampilan proses sains menggunakan alat dan bahan dengan media
modul
X1 Y5 : Keterampilan proses sains berkomunikasi dengan media modul
X1 Y6 : Keterampilan proses sains mengajukan pertanyaan dengan media modul X2 Y1 : Keterampilan proses sains mengamati dalam pembelajaran konvensional X2 Y2 :Keterampilan proses sains mengelompokkan dalam pembelajaran
konvensional
X2 Y3 : Keterampilan proses sains merencanakan percobaan dalam pembelajaran konvensional
X2 Y4 :Keterampilan proses sains menggunakan alat dan bahan dalam pembelajaran konvensional
X2 Y5 :Keterampilan proses sains berkomunikasi dalam pembelajaran konvensional
X2 Y6 :Keterampilan proses sains mengajukan pertanyaan dalam pembelajaran konvensional
C. Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel 1. Populasi Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X semester 2 SMA Negeri 1 Mojolaban Sukoharjo tahun pelajaran 2011/2012 sebanyak enam kelas.
2. Sampel Penelitian
Sampel merupakan bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Sugiyono, 2011). Sampel dalam penelitian ini terdiri dari dua kelas, yaitu kelas X.6 sebagai kelas kontrol sebanyak 36 siswa dan kelas X.5 sebagai kelas eksperimen sebanyak 38 siswa.
26
D. Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah cluster random sampling. Cluster random sampling merupakan cara pengambilan sampel pada sumber data yang luas, dimana sampel dipilih dalam kelompok- kelompok tertentu secara random. Menurut Subana dan Sudrajat (2009) cluster random sampling adalah pengambilan sampel secara random yang bukan individual, tetapi kelompok-kelompok unit yang kecil atau cluster. Pengambilan sampel dilakukan secara acak dari tiga kelas pada kelas X Negeri 1 Mojolaban Sukoharjo. Jumlah sampel yang dibutuhkan adalah dua cluster diperoleh dengan membagi besarnya sampel dengan ukuran cluster, sehingga dari populasi sebanyak tiga kelas diambil dua kelas sebagai sampel. Sampel yang diambil sebanyak dua kelas yang akan diperlakukan sebagai kelas kontrol dan kelas eksperimen.
Uji normalitas dilakukan dengan uji Anderson Darling (α = 0,05) dan menggunakan bantuan program minitab 16. H0 menyatakan bahwa sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal dan H1 menyatakan bahwa sampel tidak berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Keputusan uji dinyatakan bahwa Ho diterima jika p-value>0.05. Hasil pengolahan data menunjukan bahwa tiap kelompok dalam populasi kelas X SMA N 1 Mojolaban memiliki nilai p- value>0.05 pada setiap kelompok sehingga menunjukan distribusi yang normal.
Hasil tes normalitas disajikan pada Tabel 3.3 dan selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 4.
Tabel 3.3. Rangkuman Uji Normalitas Keterampilan
Proses Sains
P-value Kriteria Keputusan
Uji H0
Kelompok Kontrol
Kelompok Eksperimen
0.223 0.122 P-value >
0.05
Diterima (Normal)
Data yang berupa dokumen hasil belajar pada kelompok-kelompok dalam populasi kemudian diuji dengan uji Levene’s (α=0,05) yang menggunakan bantuan program minitab 16 untuk mengatahui apakah populasi bersifat homogen.
H0 dinyatakan bahwa tiap kelompok memiliki variansi yang sama (Homogen). H1