• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

B. Keterampilan Proses Sains

1. Pengertian Keterampilan Proses Sains

Keterampilan berarti kemampuan menggunakan pikiran, nalar dan

perbuatan secara efisien dan efektif untuk mencapai suatu hasil

tertentu, termasuk kreativitas. Proses merupakan konsep besar yang

dapat diuraikan menjadi komponen-komponen yang harus dikuasai

Sains merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari gejala-gejala

melalui serangkaian proses yang dikenal dengan proses ilmiah yang

dibangun atas dasar sikap ilmiah dan hasilnya terwujud sebagai produk

ilmiah (Trianto, 2012:141). Collete dan Chiappetta dalam Prasetyo

(2013:3) menyatakan bahwa sains pada hakekatnya merupakan sebuah

kumpulan pengetahuan (a body of knowledge), cara atau jalan berpikir (a way of thinking), dan cara untuk penyelidikan (a way of investigating).

Keterampilan proses sains dapat didefinisikan sebagai perangkat

keterampilan kompleks yang digunakan ilmuwan dalam melakukan

penelitian ilmiah. Menurut Semiawan, dkk (1985) Keterampilan proses

adalah keterampilan fisik dan mental terkait dengan

kemampuan-kemampuan mendasar yang dimiliki, dikuasai dan diaplikasikan dalam

suatu kegiatan ilmiah, sehingga para ilmuan berhasil menemukan

sesuatu yang baru. Keterampilan proses melibatkan

keterampilan-keterampilan kognitif atau intelektual, manual dan sosial (Fuadi,

2008).

Dalam perspektif siswa Dahar (1985:11) memaparkan bahwa

keterampilan proses sains adalah kemampuan siswa untuk menerapkan

metode ilmiah dalam memahami, mengembangkan dan menemukan

ilmu pengetahuan. Funk (dalam Devi, 2010) mengajukan batasan

mengenai keterampilan proses (science processes skill) sebagai hal-hal yang dilakukan oleh ahli sains dalam belajar dan melakukan

penyelidikan. Keterampilan proses sains sebagai pendekatan dalam

pembelajaran sangat penting karena dapat menumbuhkan pengalaman

dalam penyelidikan melalui proses belajar.

IPA berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara

sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kesimpulan

pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau

prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan (Depdiknas,

2006). Secara garis besar komponen IPA terdiri atas tiga yaitu: (1)

proses ilmiah atau keterampilan proses; (2) sikap ilmiah; dan (3)

produk ilmiah. Sehingga dapat dikatakan bahwa dalam

perkembangannya, IPA tidak hanya ditandai oleh adanya kumpulan

fakta-fakta tetapi oleh adanya metode ilmiah dan sikap ilmiah. Dengan

demikian metode ilmiah dan sikap ilmiah merupakan bagian yang

tidak terpisahkan dalam belajar IPA.

Keterampilan proses sains sebagai keterampilan dasar harus

dikembangkan atau dilatihkan dengan menggunakan metode ilmiah.

Oleh karena itu, proses belajar mengajar IPA lebih ditekankan pada

pendekatan keterampilan proses. Dalam pembelajaran IPA dengan

pendekatan keterampilan proses dapat ditemukan fakta-fakta,

konsep-konsep, teori-teori dan sikap ilmiah yang dapat berpengaruh pada

proses maupun produk pendidikan (Trianto, 2012:143).

Dalam mengembangkan keterampilan proses sains dapat

eksperimen ini, siswa secara langsung mengikuti suatu proses

mengamati, menafsirkan data, menggunakan alat dan bahan,

meramalkan, menerapkan konsep, merencanakan percobaan,

mengkomunikasikan hasil eksperimen dan mengajukan pertanyaan.

Sehingga keterampilan proses sains dalam pembelajaran dapat

diajarkan atau dilatihkan melalui kegiatan eksperimen.

2. Keterampilan Proses Sains Terpadu (Integrated Science Process Skill)

American Association for the Advancement of Science dalam Devi

(2010), mengklasifikasikan keterampilan proses sains menjadi

keterampilan proses dasar dan keterampilan proses terpadu.

Keterampilam Proses Dasar meliputi: pengamatan, pengukuran,

menyimpulkan, meramalkan/prediksi, menggolongkan, dan

mengkomunikasikan. Sedangkan, Keterampilan Proses Terpadu

(Integrated Science Process Skill) meliputi: pengontrolan variabel, interpretasi data, perumusan hipotesa, definisi variabel secara

operasional, dan merancang eksperimen.

Berikut uraian beberapa keterampilan proses terpadu :

a. Mengidentifikasi variabel

Variabel adalah satuan besaran kualitatif atau kuantitatif

yang dapat bervariasi atau berubah pada situasi tertentu. Besaran

pengukuran baku tertentu. Besaran kuantitatif adalah besaran

yang dinyatakan dalam satuan pengukuran baku tertentu.

Menurut Devi (2010) Keterampilan identifikasi variabel

dapat diukur berdasarkan tiga tujuan pembelajaran berikut:

a) Mengidentifikasi variabel dari suatu pernyataan tertulis atau

dari deskripsi suatu eksperimen.

b) Mengidentifikasi variabel manipulasi dan variabel respon dari

deskripsi suatu eksperimen.

c) Mengidentifikasi variabel kontrol dari suatu pernyataan

tertulis atau deskripsi suatu eksperimen.

Dalam suatu eksperimen terdapat tiga macam variabel,

yaitu variabel bebas, variabel terikat dan variabel kontrol.

a) Variabel bebas adalah suatu variabel yang secara sengaja

diubah atau dimanipulasi dalam suatu situasi.

b) Variabel terikat adalah variabel yang berubah sebagai hasil

akibat dari kegiatan manipulasi.

c) Variabel kontrol adalah variabel yang sengaja

dipertahankan konstan agar tidak berpengaruh terhadap

b. Mendefinisikan variabel secara operasional

Mendefinisikan secara operasional suatu variabel berarti

menetapkan bagaimana suatu variabel itu diukur. Definisi

operasional variabel adalah definisi yang menguraikan bagaimana

mengukur suatu variabel. Definisi ini harus menyatakan tindakan

apa yang akan dilakukan dan pengamatan apa yang akan dicatat

dari suatu eksperimen.

c. Merumuskan hipotesa

Hipotesis dirumuskan dalam bentuk penyataan bukan

pertanyaan. Pertanyaan biasanya digunakan dalam merumuskan

masalah yang akan diteliti. Hipotesis dapat dipandang sebagai

jawaban sementara dari rumusan masalah.

d. Merancang eksperimen

Eksperimen dapat didefinisikan sebagai kegiatan terinci

yang direncanakan untuk menghasilkan data untuk menjawab

suatu masalah atau menguji suatu hipotesis. Setiap eksperimen

harus dirancang terlebih dahulu, baru kemudian di uji coba.

Melatihkan merencanakan eksperimen tidak harus selalu dalam

bentuk penelitian yang rumit, tetapi cukup dilatihkan dengan

menguji hipotesis-hipotesis yang berhubungan dengan

e. Interpretasi data

Pengumpulan data merupakan langkah awal dalam

intepretasi data. Langkah selanjutnya yaitu analisis data dan

mendeskripsikan data yang diperoleh. Mendeskripsikan data

dapat disajikan dalam bentuk tabel maupun grafik. Data yang

sudah dianalisis kemudian diiterpretasikan menjadi suatu

kesimpulan dalam bentuk pernyataan. Data yang

diinterpretasikan harus data yang membentuk pola atau beberapa

kecenderungan (Devi, 2010).

3. Pentingnya Keterampilan Proses Sains

Menurut Semiawan (1985:14-15), terdapat empat alasan mengapa

pendekatan keterampilan proses sains perlu diterapkan dalam proses

belajar mengajar, yaitu:

1) Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berlangsung

semakin cepat sehingga tidak mungkin lagi guru mengajarkan

semua konsep dan fakta pada siswa,

2) Adanya kecenderungan bahwa siswa lebih memahami

konsep-konsep yang rumit dan abstrak jika disertai dengan contoh yang

konkret,

3) Penemuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

tidak bersifat mutlak benar seratus persen, tapi penemuannya

4) Dalam proses belajar mengajar, pengembangan konsep tidak

terlepas dari pengembangan sikap dan nilai dalam diri anak didik.

Menurut Nuh (2010), terdapat beberapa hal yang mempengaruhi

keterampilan proses sains yang dituntut untuk dimiliki siswa. Hal-hal

yang berpengaruh terhadap keterampilan proses sains, diantaranya

yaitu perbedaan kemampuan siswa secara genetik, kualitas guru serta

perbedaan strategi guru dalam mengajar.

Berbicara mengenai kualitas guru, kualitas atau kemampuan

seorang guru menjadi hal yang penting dalam implementasi

keterampilan proses sains. Kualitas guru dalam pembelajaran juga

berhubungan erat dengan strategi guru dalam mengajar. Apabila dalam

pelaksanaan pembelajaran guru telah menerapkan strategi belajar yang

tidak diimbangi dengan kualitas (kemampuan) guru dalam mengajar,

maka hasilnya tidak akan baik. Oleh karena itu, strategi dan kualitas

(kemampuan) guru dalam pembelajaran menjadi sangat penting. Bila

guru menginginkan siswanya untuk memiliki kemampuan tertentu,

maka guru harus terlebih dahulu memiliki kemampuan tersebut. Salah

satu contoh kemampuan yang biasanya diinginkan oleh guru yaitu

kemampuan memecahkan masalah. Kemampuan memecahkan

masalah berhubungan sangat erat dengan kemampuan dasar bekerja

ilmiah (Rustaman, 2005). Sedangkan kemampuan dasar bekerja ilmiah

merupakan salah satu bentuk dari keterampilan proses sains

dapat mengajarkan IPA dengan keterampilan proses sains (Sarwanto,

2008).

Dokumen terkait