• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keterangan Saksi A Charge yang Bernilai Alat Bukti

BAB I PENDAHULUAN

2.1 Keterangan Saksi A Charge yang Bernilai Alat Bukti

Dari tata urutan alat-alat bukti yang sah menurut Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana Pasal 184 ayat (1). Maka akan didengar atau menjadi saksi

utama (Kroon Getudie) ialah saksi A Charge. Saksi A Charge ialah orang yang

dirugikan akibat terjadi kejahatan atau pelanggaran tersebut atau saksi pelapor. Oleh karena itu, adalah wajar jika ia di dengar sebagai saksi yang pertama-tama

dan ia merupakan saksi utama atau kroon getuige.17 Akan tetapi, dalam

prakteknya tidak menutup kemungkinan saksi lain didengar keterangannya terlebih dahulu, misalnya terjadi tindak pidana pencurian di sebuah rumah yang di tinggal oleh pemiliknya, sedangkan tetangga di sebelah rumah itu mengetahui kejadian tindak pidana tersebut. Maka tetangga itu bisa melaporkan dan menjadi saksi yang di dengar pertamakali dan mendapatkan perlindungan hukum, dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, pasal 108 ditentukan bahwa :

1. Setiap orang yang mengalami, melihat, menyaksikan dan atau menjadi

korban peristiwa yang merupakan tindak pidana berhak untuk mengajukan laporan atau pengaduan kepada penyelidik dan atau penyidik baik lisan maupun tulisan.

2. Setiap orang yang mengetahui permufkatan jahat untuk melakukan

tindak pidana terhadap ketenteraman dan keamanan umum atau terhadap jiwa atau terhadap hak milik wajib seketika itu juga melaporkan hal tersebut kepada penyelidik atau penyidik.

3. Setiap pegawai negeri dalam rangka melaksanakan tugasnya yang

mengetahui tentang terjadinya peristiwa yang merupakan tindak pidana wajib segera melaporkan hal itu kepada penyelidik atau peyidik.

4. Laporan atau pengaduan yang diajukan tertulis harus ditandatangani

oleh pelapor atau pengaduan.

      

5. Laporan atau pengaduan yang diajukan secara lisan harus di catat oleh peyidik dan ditandatangani oleh pelapor atau pengadu dan penyidik.

6. Setelah menerima laporan atau pengaduan, penyidik atau penyelidik

harus memberikan surat tanda penerimaan laporan atau pengaduan kepada yang bersangkutan.

Pemeriksaan keterangan saksi A Charge harus didasarkan luas dan mutu

keterangan saksi yang harus di peroleh atau di gali oleh penyidik dan penuntut umum dalam pemeriksaan. Untuk mengetahui mutu dan luas keterangan saksi yang diperlukan, harus di ujikan cara pemeriksaan kepada landasan hukum. Keterangan saksi yang bernilai yudisial atau landasan hukum, berpatokan kepada penjelasan pasal 1 butir 27 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, di hubungkan dengan pasal 116 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana:

1. Memberikan keterangan yang sebenarnya sehubungan dengan tindak

pidana yang di periksa.

2. Keterangan saksi yang relevan untuk kepentingan yudisial. Patokan

menentukannya merujuk pada pasal 1 butir 27, sebagai berikut :

Keterangan saksi adalah salah satu alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari saksi mengenai satu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri dengan menyebut alasan pengetahuannya itu.

Dari rujukan pasal 1 butir 27 di tegaskan lagi pada pasal 185 ayat (1), sebagai berikut :

keterangan saksi sebagai alat bukti ialah apa yang saksi nyatakan di siding pengadilan.

Dalam penegasan di atas penyidik dapat mengarahkan pemeriksaan saksi A Charge ke arah yang dijelaskan pada Pasal 1 butir 27 :

a. “yang Ia dengar”, bukan hasil cerita atau hasil pendengaran orang lain.

b. “yang ia lihat sendiri”, berarti pada saat kejadian ataupun rentetan

kejadian peristiwa pidana yang terjadi, sunggu-sungguh disaksikan oleh mata kepala sendiri.

c. “Di alami sendiri oleh saksi”, saksi ini adalah yang menjadi korban

peristiwa pidana tersebut.18

Sejumlah penelitian yang di lakukan oleh Komisi Nasional Perempuan mengingatkan bahwa dalam pemberian keterangan sebagai saksi perlu di perhatikan, hal-hal yang penting misalnya :

c. Unreliable witness.

Penelitian yang dilakukan oleh Maguire dan Norris menunjukan bahwa

adanya saat-saat dimana saksi di persuasi untuk menyampaikan keterangan untu memperkuat posisi jaksa, terutama jika saksi menghadapi ancaman pidana juga.

d. Witness as product of bullying and harassment

Kemungkinan adanya metode tertentu oleh penyidik dalam meminta keterangan, misalnya pertanyaan yang berulang-ulang dan tidak relevan, yang diajukan dalam yang waktu yang panjang tanpa jeda yang layak.

      

18 M. Yahya Harahap, pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP,sinar Grafika, Jakarta, 1986, hlm 144

e. Lying witness

Tidak menutup kemungkinan adanya saksi yang mengatakan bukan hal yang sebenarnya, walaupun ia ada di bawah sumpah, baik karena ia telah disuap ataupun karena ia diintimidasi pihak tertentu.

f. Silent witness

Saksi yang khawatir akan menyudutkan dirinya sendiri dan menolak

memberikan jawaban yang sesungguhnya (asas Non-self incrimination),

baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain dalam kasus peyertaan yang melibatkan dirinya.

g. Incompetent witness

Saksi dalam kategori ini tentunya keterangannya tidak layak menjadi alat

bukti yang sah di pengadilan karena saksi tersebut Infant, mental diseas

atau mental defect.

h. Turn-coat witness

Saksi yang semula diduga akan membela terdakwa kemudian ternyata ia melakukan yang sebaliknya, sesuatu yang diluar dugaan penasehat hukum. Di beberapa negara seorang penasehat hukum tidak dapat

menarik kembali saksi a de charge yang diajukannya sendiri, karena

dengan mengajukan sang saksi berarti ia telah memastikan akan

kreadibilitas saksi.19

Pada prinsipnya menjadi seorang saksi merupakan suatu kewajiban hukum (legal obligation) bagi setiap orang. Akan tetapidi dalam Pasal 168 Kitab

Undang Hukum Acara Pidana memberikan pengecualian di bebaskan kewajiban menjadi saksi misalnya seorang yang masih dibawah umur (belum berumur 15 yahun) dan seorang yang hilang ingatan atau mereka yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara sempurna dalam hukum pidana. Mereka yang wajib menjadi saksi atau boleh memberikan keterangan tidak dibawah sumpah. Disamping itu seseorang yang dapat dibebaskan dari kewajiban menjadi saksi karena adanya hubungan darah (keluarga) atau perkawinan (semenda) dengan

terdakwa.20 Orang-orang ini tidak dapat didengar keterangannya atau dapat

mengundurkan diri sebagai saksi. Orang-orang tersebut adalah :

1. Keluarga sedarah atau semenda dalam garis lurus ke atas atau kebawah

sampai derajat ketiga dengan terdakwa atau yang bersama-sama sebagi terdakwa.

2. Saudara dari terdakwa atau bersama-sama sebagi terdakwa, saudara ibu

atau saudara bapak (bibi atau paman dari terdakwa), juga mereka yang mempunyai hubungan karena perkawinan dan anak-anak saudara (keponakan) terdakwa sampi derajat ketiga.

3. Suami atau istri terdakawa meskipun sudah bercerai atau yang

bersama-sama sebagi terdakwa.

Dalam penilaian seorang saksi hakim harus sungguh-sungguh memperhatikan :

1. Persesuaian antara keterangan saksi satu dengan lain.

2. Persesuaian atara keterangan saksi dengan alat bukti lain.

      

20

3. Alasan yang mungkin dipergunakan oleh saksi untuk memberikan keterangan yang tertentu.

4. Cara hidup dan kesusilaan saksi serta segala sesuatu yang pada

umumnya dapat mempengaruhi dapat tidaknya keterangan itu diberikan. (pasal 185 ayat (6) Kitab Undang-Undang Acara Pidana)

Menilai keterangan saksi dengan menghubungkan dengan keterangan saksi lain, yang mungkin saling bertentangan, kemudian menghubungkan dengan alat bukti lain, serta keterangan kausal (hubungan sebab akibat) saksi dengan alat bukti lain, merupakan pekerjaan yang tidak mudah. Keterangan saksi yang tidak disumpah bersesuaian satu dengan yang lain, tidak merupakan alat bukti menurut

pasal 185 ayat (7) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.21

Satu hal yang harus diperhatikan bahwa keterangan seorang saksi tidak cukup untuk membuktikan bahwa terdakwa bersalah atas perbuatan yang didakwakan, jika terdakwa mungkir atas dakwaan yang di dakwakannya, maka hakim tidak boleh memberikan pidana kepada terdakwa hanya didasarkan kepada

keterangan seorang saksi A Charge. Keterangan saksi A Charge harus dikuatkan

dengan satu alat bukti yang lain, misalnya dengan keterangan terdakwa atau keterangan saksi ahli atau alat bukti yang sah menurut Undang-Undang hal ini

sesuai dengan asas unus testis nulus testis.22

Untuk keterangan saksi yang bernilai alat bukti yang berdiri sendiri- sendiri tetapi saling berhubungan satu dengan yang lainnya sehingga dapat di simpulkan bahwa terjadi suatu tindak pidana maka keterangan ini dapat di sebut keterangan       

21

saksi berantai. Jadi tidak setiap kejadian tindak pidana atau keadaan dapat di saksikan oleh seorang saksi secara lengkap, akan tetapi keterangan seorang saksi A Charge yang berdiri sendiri-sendiri, dapat di gunakan sebagai alat bukti yang

sah, jika keterangan Saksi A Charge tersebut ada hubungannya satu dengan yang

lain atau saling berhubungan, sehingga dapat membenarkan adanya suatu kejadian

tindak pidana.23

Dokumen terkait