Istilah keterbacaan secara harfiah mengacu kepada banyak definisi. istilah keterbacaan digunakan dalam bidang penerjemahan karena setiap kegiatan menerjemahkan tidak lepas dari kegiatan membaca. Secara umum, keterbacaan bisa dimaknai dalam banyak cara. Keterbacaan (readability) adalah seluruh unsur yang ada dalam teks (termasuk di dalamnya interaksi antarteks) yang berpengaruh terhadap keberhasilan pembaca dalam memahami materi yang dibacanya pada kecepatan membaca yang optimal (Dale & Chall dalam Gilliland, 1972). Mc Laughin (1980) menambahkan bahwa keterbacaan itu berkaitan dengan pemahaman pembaca karena bacaannya itu memiliki daya tarik tersendiri yang memungkinkan pembacanya terus “tenggelam” dalam bacaan. Formula keterbacaan pada dasarnya merupakan instrumen untuk memprediksi kesulitan dalam memahami teks.
Dengan demikian, keterbacaan adalah keseluruhan tingkatan teks dalam sebuah tulisan untuk dimengerti isinya.
commit to user
Lima pendapat di atas belum melibatkan pembaca sebagai sasaran utama. Artinya bahwa pembaca adalah individu yang paling menentukan dalam proses keterbacaan. Untuk diketahui bahwa, masing-masing pembaca akan memiliki tingkat keterbacaan yang berbeda-beda, tergantung dari tingkat kecerdasan, keluasan ilmu pengetahuan dan informasi yang dia miliki dan juga kepekaan bahasa.
Apabila pendapat Adjad Sakri di atas dipegangi, maka faktor pembaca terabaikan.
Oleh karena itu, di dalam menentukan keterbacaan suatu teks, unsur pembaca menjadi sangat dominan karena sangat sulit menentukan derajat kemudahan antara masing-masing individu terhadap teks yang dibacanya karena masing-masing memiliki keterampilan dan daya tangkap yang berbeda-beda sesuai dengan ilmu pengetahuan dan wawasan yang dimiliki.
Banayk faktor yang mempengaruhi keterbacaan. Faktor-faktor itu antara lain (1) panjang rata-rata kalimat, jumlah kata baru, dan kompleksitas gramatikal dari bahasa yang digunakan (Richard dalam Nababan: 63), (2) Tingkat sulit mudahnya keterbacaan juga bergantung pada kosa kata dan bangun kalimat yang dipilih oleh pengarang untuk tulisannya tersebut, (3)faktor seperti isi teks, rupa tulisan dan kemampuan pembaca atau penerjemah (Nababan:
78), (4) hal-hal seperti ukuran tulisan, ejaan, ukuran garis tepi (margin) dan spasi (space) antara baris-baris yang semua mempengaruhi tes keterbacaan “Readability may also be affected by formatting matters. The size of type, punctuation, spelling, size of margins and space between lines may all affect the readability tests”.
Suatu teks dikatakan memiliki tingkat keterbacaan baik apabila teks tersebut bagus dari segi tulisan, mempunyai gaya bahasa yang menyenangkan, ritme atau iramanya bagus dan runtut serta panjang kalimat wajar yang mudah ditangkap “A text is readable because it is good writing, that is, has a pleasing style, a good rhythm, and moves along at an
acceptable pace” (Hosseini, 2008: 3).
Karena penerjemahan melibatkan pembaca, sebagai sasaran penerjemahan, penelitian tingkat keterbacaan di sini melihat dengan open ended questions yang menggabungkan antara
commit to user
teori keterbacaan dan pendapat, ide, gagasan pembaca secara bebas sesuai dengan apa yang mereka pahami. Jadi pembaca selain sebagai pembaca keterbacaan juga sekaligus berperan sebagai informan. Yang digali datanya berupa wawasan pengetahuan tentang apa yang dibaca, pendapat dan gagasan tentang mudah atau sulitnya teks yang dibaca dan unsur emosi yang terlibat dalam proses membaca. Penelitian tingkat keterbacaan dalam penelitian ini dengan open ended questions .
Model pertanyaan dengan open ended questions yang digunakan di sini misalnya:
Bagaimanakah keterbacaan ungkapan keagamaan di bawah ini? Jika responden menentukan pilihan pada ”keterbacaan tinggi” berarti ungkapan keagamaan di dalam teks tersebut mudah dipahami, atau teks ini memiliki ”keterbacaan sedang” yang berarti cukup mudah dipahami pembaca. Yang lain berpendapat bahwa buku The Choice: Dialog Islam – Kristen memiliki tingkat “keterbacaan rendah” yang berarti sulit dipahami. Jika memilih salah satu dari tiga opsi tersebut, maka jelaskan dengan alasan sendiri atau sebutkan faktor-faktor penyebabnya.
Pembaca harus mengutip faktor-faktor penyebab tersebut dari kalimat, yang dapat menyangkut struktur kalimat, kelengkapan unsur-unsur kalimat, dan istilah teknis dan ungkapan keagamaan yang digunakan.
Dari penelitian ini, diketemukan data keterbacaan dari buku The Choice: Dialog Islam –Kristen yang menunjukkan bahwa tingkat keterbacaan teks tersebut cukup tinggi. Ini berarti pembaca yang menjadi responden memberi tanggapan dan evaluasi dengan pernyataan memuaskan. Rasa puas tersebut didasari atas mudahnya menangkap makna yang ada di dalam teks terjemahan tersebut.
Tabel 5.5 Persentase Tingkat Keterbacaan Ungkapan Ungkapan Keagamaan dalam Buku Teks The Choice : Islam and Christianity dan The Choice: Dialog Islam –Kristen
Skala Jumlah Prosentase
3 181 54,52 %
2 101 32,42 %
1 50 15,06 %
Skala 3 : Keterbacaan Tinggi. Skala 2 : Keterbacaan Sedang Skala 1 : Keterbacaan Rendah
commit to user
Pertanyaan diberikan kepada 5 pembaca yang bertindak sebagai informan dan evaluator yang memberi informasi mengenai keterbacaan teks, kemudian diolah sesuai dengan jenis dan karakter teks tersebut. Hasil dari tanggapan yang disampaikan pembaca melalui kuesioner dan wawancara menunjukkan bahwa teks yang diterjemahkan memiliki kriteria secara umum antara lain : keterbacaan tinggi (teks sangat mudah dipahami) sebanyak 88,1%, keterbacaan sedang (teks mudah dipahami) sebanyak 29,7% , keterbacaan rendah (teks sukar dipahami) sebanyak 29,1%. Secara rinci hasil keterbacaan dalam penelitian ini sebagai berikut.
a. Keterbacaan Tinggi
Terjemahan kata dan fraa yang termasuk kategori keterbacaan tinggi yang sangat mudah dipahami oleh pembaca. Data yang termasuk keterbacaan tinggi antara lain ;
001 002 005 008 010 013 014 016 018 019 020 021 024 026 028 031 034 037 039 044 045 048 051 053 055 056 058 060 065 066 067 069 071 072 076 080 084 086 088 089 093 096 097 100 103 105 109 110 113 114 115 116 120 123 128 131 133 134 135 136 139 143 149 151 154 155 158 163 169 170 171 173 175 177 180 182 184 185 187 189 192 195 196 198 200 203 205 207 211 214 217 219 221 223 225 227 229 230 232 235 238 240 241 243 245 249 253 258 262 263 265 267 270 274 276 279 282 285 289 291 294 297 301 303 307 309 310 311 314 316 318 319 321 322 323 325 328 331 334 337 340 341 343 347 350 352 354 360 364 367 370 373 375 376 377 379 382 383 385 388 391 394 397 399 404 406 410 412 414 416 418 419 420 422 424 428 430 431 434 438 440
Berikut ini disajikan beberapa contoh data terjemahan yang termasuk dalam kategori terjemahan dengan keterbacaan tinggi.
No. data Bahasa sasaran
002 Maka tentunya harus ada sesuatu yang mengatakan “Israel” maka tentunya harus ada yang mengatakan tentang kedermawanan terbesar dari umat manusia Nabi Suci Muhammad Shallalahu Alaihi wa Sallam.
commit to user
Ungkapan ”Nabi Suci Muhammad ”Shallalahu Alaihi wa Sallam” adalah ungkapan umum dalam teks keagamaan yang mudah dipahami, baik orang muslim maupun bukan.
Ungkapan ”Shallalahu Alaihi wa Sallam” merupakan ungkapan umum dalam agama Islam yang berasal dari bahasa Arab. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, bisa bermakna
”semoga keselamatan tetap tercurahkan kepada Rasul beserta keluarganya”, namun ungkapan tersebut sudah sangat lazim dalam bahasa Arab dan sudah diketahui umum, sehingga tidak perlu diterjemahkan ke dalam bahasa sasaran.
Kelima pembaca menyatakan hal yang hampir sama bahwa ungkapan ”Nabi Suci Muhammad Shallalahu Alaihi wa Sallam” mudah mereka pahami. Hanya satu pembaca yang menyatakan bahawa ungkapan ”suci” kurang terbiasa digunakan dalam teks keislaman, karena pada dasarnya semua nabi menyandang predikat sudi. Penmgertian suci bisa dimaknai
”maksum” atau terjaga dari perbuatan tercela. Namun demikian dari lima pembaca teks tersebut menyatakan bahwa ungkapan tersebut mudah diterima, sehingga masuk dalam kategori keterbacaan tinggi. Hal yang sama juga terjadi pada data nomor 017.
No. data Bahasa sasaran
017 Pada Perjanjian Baru, kita temukan bahwa orang-orang Yahudi masih mengharapkan terpenuhinya ramalan “ Seorang seperti Musa”, lihat Yohanes 1:19-25. Ketika Yesus menyatakan sebagai Mesias dari orang-orang Yahudi, mereka mulai bertanya dimana Elia?
Orang-orang Yahudi mempunyai sebuah ramalan parallel bahwa sebelum kedatangan Mesias, Elia harus datang terlebih dahulu pada kedatangannya yang kedua. Yesus menyatakan kepercayaan Yahudi ini:
Ungkapan ”Perjanjian Baru” dalam konteks kalimat yang demikian mudah ditangkap oleh pembaca. Kemudahan menangkap gagasan tersebut karena karena konteks kalimat yang mendukungnya sehingga pembaca dengan cepat memahami pesan tentang ungkapan
”Perjanjian Baru”. Di samping itu pembaca telah memiliki informasi yang memadai pada teks-teks sebelumnya yang dikaitkan dengan ”Perjanjian Lama”. Ketika pembaca sejak awal telah mengenal ungkapan ”Perjanjian Lama” yang berarti kitab Taurat, maka ketika pembaca
commit to user
menemukan ungkapan ”Perjanjian Baru” maka mereka secara otomatis memaknai kitab Injil, yang merupakan kitab bagi agama Nasrani. Oleh karena itu, ungkapan ”Perjanjian Baru”
dalam konteks kalimat di atas termasuk dalam kategori keterbacaan tinggi.
Ungkapan tersebut tidak jauh berbeda dengan ungkapan yang terdapat pada data nomor 028 berikut ini.
No. data Bahasa sasaran
028 Adalah tugas setiap Muslim-pria wanita, atau anak-anak untuk terlibat, sesuai dengan kemampuan masing-masing. Ingatlah ayat di atas dengan artinya juga kutipan yang mendahului dan
mengikutinya sehingga anda mempunyai bekal untuk membagi dien kita dengan non-Muslim. Tak ada jalan pintas untuk berda‟wah.
Ada dua ungkapan, yang satu merupakan ungkapan yang sangat lazim dalam agama islam, yakni kata ”dien”, yang bermakna agama dan kata ”berdakwah” yang bisa dimaknai menyampaikan atau mengajak. Dua ungkapan ini bagi pembaca muslim sesuatu yang sangat mudah dipahami. Dien yang berasal dari bahasa Arab berarti agama, maka sering dikaitkan dengan dienul Islam, yang berarti agama Islam, bahkan pembaca awampun tidak mengalami kesulitan menangkap makna tersebut karena konteks kalimat telah menuntunnya secara baik. Disamping itu, informasi awal yang telah diperoleh pembaca menjadi data yang mempermudah pembaca memahami ungkapan tersebut.
Sementara ungkapan ”berdakwah” telah menjadi bahan pembicaraan sehari-hari di kalangan umat muslim. Dakwah dalam arti khusus mengajak orang lain untuk berbuat baik, menjauhi perbuatan tercela. Sementara dalam pengertian yang sangat sempit dan spesifik, dakwah dimaknai mengajak orang yang belum masuk Islam agar mau memeluk agama Islam dan menjalankan semua syariatnya tanpa ada paksaan. Bagi kelima pembaca menyatakan hal yang sama bahwa dua ungkapan yakni ”dien” dan ” berdakwah” sangat mudah dipahami.
Oleh karena itu, ungkapan tersebut termasuk dalam kategori keterbacaan tinggi.
commit to user No. data Bahasa sasaran
030 Ingat, tak ada yang dapat menggantikan pekerjaan berat. Saya yakin atas apa yang saya katakan dan saya lakukan apa yang saya ucapkan.
Insya Allah.
Hal yang hampir sama juga terjadi pada data nomor 030, yakni ungkapan ”Insya Allah”. Ungkapan ini dengan mudah dipahami oleh kelima pembaca bahasa sasaran.
Kemudahan pembaca memahami ungkapan tersebut karena didukung oleh konteks kalimat yang menyertainya. Apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi ” Jika Allah mengijinkan”, namun bentuk terjemahan seperti ini justru kurang lazim karena jarang digunakan orang baik untuk kepentingan percakapan maupun bahasa tulis. Di dalam forum-forum umum, yang dihadiri baik dari kalangan muslim maupun non-muslim, ungkapan
”Insya Allah” sudah bisa dipahami dengan mudah karena ungkapan tersebut sangat sering digunakan sehingga maknanya bisa dipahami dengan baik sekalipun orang tersebut tidak mengerti bahasa Arab. Oleh karena itu, ungkapan tersebut termasuk dalam kategori keterbacaan tinggi.
No. data Bahasa sasaran
024 Diantara Kitab Matius dan Lukas mereka memberi Utusan Tuhan yang hebat ini 66 ayah dan kakek.
Ungkapan data nomor 024 yakni ”Utusan Tuhan” juga memberi gambaran yang terang mengenai keterbacaan tinggi karena baik orang Islam maupun orang Kristen, keduanya memiliki isitilah ini untuk konteks agamanya masing-masing. Dalam agama Islam, utusan Tuhan bisa seorang Rasul atau Nabi sementara pembaca yang beragama Kristen bisa menafsirkan utusan Tuhan sebagai hamba-hamba mulia yang mengajak gembala ke jalan selamat bersama Allah Bapa di Sorga. Dalam konteks agama Kristen, utusan Tuhan bisa para Romo, Pastur, Pendeta, Zending dan para misionaris yang lainnya. Di dalam keyakinan Islam, utusan Tuhan bisa dipahami ”manusia” karena manusia adalah khalifah atau pemimpin
commit to user
di muka bumi dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya. Manusia menjadi utusan Tuhan di muka bumi.
Karena manusia diutus ke bumi untuk mengelola bumi, maka di akherat kelak akan diminta tanggung jawabnya. Jadi ungkapan ”Utusan Tuhan” merupakan ungkapan yang mudah dipahami oleh lima pembaca bahasa sasaran, sehingga termasuk dalam kategori keterbacaan tinggi. Keterbacaan tinggi dalam pengertian bahwa teks tersebut mudah dipahami isinya, tidak menimbulkan taksa dan tida membingungkan. Ini berati juga teks tersebut mudah ditangkap pesannya dari bahasa sumber ke bahasa sasaran tenpa mengalami reduksi makna.
b. Keterbacaan Sedang
Keterbacaan sedang pada umumnya terjemahan dapat dipahami oleh pembaca, namun ada bagian tertentu yang harus dibaca lebih dari satu kali untuk memahami terjemahan. Data yang termasuk keterbacaan sedang antara lain ;
022 023 027 032 033 035 036 038 040 046 049 052 054 057 061 063 064 070 073 074 075 077 078 079 081 082 083 085 087 091 092 093 094 095 098 099 101 102 104 106 107 108 111 112 117 118 119 121 122 124 125 127 130 132 137 140 141 145 146 147 150 152 153 156 157 159 160 161 162 164 165 167 168 172 174 175 176 178 179 181 186 190 191 193 194 197 199 201 203 206 208 211 215 216 218 441 444 445 447 448 450
Berikut ini disajikan beberapa contoh data terjemahan yang termasuk dalam kategori dengan keterbacaan sedang.
No. data Bahasa sasaran
079 Para penginjil terlalu lambat menarik gurauan tersebut.
Data nomor 079 „para penginjil terlalu lambat menarik gurauan‟ memiliki keterbacaan sedang karena pengertian ‟menarik gurauan‟ sulit dipahami maksudnya dan cenderung membingungkan. Kesulitan yang muncul tersebut menimbulkan banyak penafsiran terhadap ungkapan tersebut. Sebagai contoh, salah satu pembaca memahami ungkapan ‟menarik gurauan‟ artinya membatasi sendagurauannya dan menghentikan
commit to user
perilaku sembrono, sementara pembaca yang lain memaknai ungkapan ‟menarik gurauan‟
artinya bersikap berbalik dari hal-hal yang sifatnya sebagai goyunan menjadi serius atau segera menghentikan bersikap main-main. Namun demikian dengan banyaknya pemahaman pembaca yang beragam tersebut menyebabkan teks tersebut berkategori keterbacaan sedang.
No.
data
Bahasa sasaran
239 Berbeda dengan para uskup Gereja Inggris (Anglican), gereja Skotlandia dengan sangat hormat menghilangkan setiap referensi untuk “kelahiran perawan” dari penerbitan terbaru Sebuah Pernyataan tentang Keyakinan (A Statement of Faith).
Data nomor 239, ungkapan ‟kelahiran perawan‟ dari penerbitan terbaru, sulit ditangkap maknanya dan cenderung menimbulkan bias makna. Ungkapan antara ‟kelahiran perawan dan penerbitan terbaru‟, tampaknya tidak memiliki korelasi logis dari kalimat utuhnya, sehingga dua ungkapan tersebut berbeda konteks satu sama lain. Pembaca sulit menangkap ungkapan ‟kelahiran perawan‟ meskipun ungkapan ini bukan ungkapan yang sebenarnya, sementara ungkapan ‟penerbitan terbaru secara umum bisa dimaknai sebagai suatu edisi perdana dari media tetapi ungkapan tersebut tidak memiliki hubungan logis secara linguistis diantara keduanya.
Penerjemah seyogyanya memberi tambahan catatan berupa anotasi atau catatan pinggir sebagai penjelas ungkapan tersebut, jika tidak, maka pembaca cenderung bingung menangkap makna yang dimaksud penulis bahasa sumber. Oleh karena itu, terjemahan tersebut termasuk dalam kategori keterbacaan sedang.
Ungkapan ‟Yesus beristirahat di surga‟, sulit ditangkap maknanya, karena dalam kisah-kisah kitab Injil, bahwa Yesus telah berada di surga di samping Allah Bapa. Pengertian Yesus beristirahat di surga bisa bertentangan dengan pernyataan di atas. Di samping itu, ungkapan ‟istirahat‟ bisa dimaknai sesuatu kegiatan yang sifatnya sementara untuk keperluan mengembalikan stamina dengan durasi waktu yang terbatas, sementara tinggal di surga sifatnya abadi. Jika Yesus beristirahat di surga, maka waktunya juga sementara,
commit to user
padahal dalam kisah-kisah kitab Injil, Yesus telah tiada karena pengorbanannya di tiang salib untuk menebus dosa-dosa umat. Oleh karena itu, ungkapan ‟Yesus beristirahat di surga‟
termasuk terjemahan dengan kategori keterbacaan sedang.
No. data Bahasa sasaran
224 Mereka masih percaya bahwa ”waktu” akan menyelesaikan masalah, mungkin 2000 tahun lagi.
Data 224, ungkapan ‟waktu akan menyelesaikan masalah‟ merupakan ungkapan yang tingkat keterbacaannya sedang. Ungkapan ‟ waktu akan menyelesaikan masalah‟
membingungkan karena waktu bukanlah subjek yang menjadi kata kerja tetapi sebagai benda.
Dengan demikian, pembaca masih sulit menangkap ungkapan tersebut. Oleh karena itu, tingkat keterbacaan teks ini kategori sedang.
Demikian juga data nomor 315 ‟hatinya senang berfilsafat tentang peminta-minta di dunia‟. Ungkapan ini mengandung ketaksaan karena sulit dipahami oleh pembaca.
Seharusnya bukan hatinya yang suka berfilsafat akan tetapi pikiran atau logikanya, namun jika memang demikian, penerjemah akan lebih baik membubuhkan tanda kutip pada ungkapan hatinya sehingga pembaca bisa memahami bahwa itu adalah ungkapan metaforis, yakni bukan ungkapan yang sebenarnya. Sementara, ungkapan ‟peminta-minta di dunia‟
juga menimbulkan ketaksaan dan cenderung sulit dipahami maknanya. Oleh karena itu, ungkapan di atas termasuk dalam ketagori keterbacaan sedang.
No. data Bahasa sasaran
315 Meskipun secara spirituil, Yesus Kristus sangat kaya akan kebijaksaan, cahaya dan kebenaran; hatinya senang berfilsafat tentang peminta-minta di dunia.
commit to user No. data Bahasa sasaran
320 Orang Islam dibuat bingung atas kekeraskepalaan, kesombongan dan lorong impian orang Kristen yang menghalanginya melihat cahaya dari dalam dirinya dan mendengarkan hati nuraninya sehingga tidak dapat mengenali kejelasan tersebut.
Hal yang sama juga terjadi pada data nomor 320, ungkapan ‟lorong impian orang Kristen‟ merupakan ungkapan yang sulit ditangkap maknanya. Pengertian lorong merupakan gambaran dari sebuah jalan sempit yang memanjang, sehingga kalau dikaitkan dengan orang Kristen, bisa jadi maknanya, bahwa orang Kristen memiliki impian-impian yang penuh rintangan dan sangat panjang, namun demikian makna sebenarnya yang dikehendaki penulis masih sulit ditangkap oleh penerjemah sehingga hasil terjemahannya sukar ditangkap pembaca. Oleh karena itu, ungkapan tersebut termasuk dalam keterbacaan sedang karena dalam terjemahan tersebut, penerjemah tidak memberi anotasi ataupun catatan secukupnya untuk menuntun pembaca menangkap makna secara utuh.
c. Keterbacaan Rendah
Keterbacaan rendah dapat dimaknai bahwa terjemahan tersebut sulit dipahami isinya oleh pembaca dan membingungkan serta cenderung terjemahannya menyesatkan. Data yang termasuk keterbacaan rendah antara lain ;
025 029 041 043 047 050 062 068 126 129 138 142 148 166 183 182 188 202 209 210 213 254 266 68 273 277 281 288 290 298 302 317 330 333 335 345 346 356 359 368 369 371 374 384 395 400 401 407 423 433
Berikut ini disajikan beberapa contoh data yang termasuk dalam kategori terjemahan dengan keterbacaan rendah.
No. data Bahasa sasaran
138 Tentu saja semua mu‟jizat adalah “tanda-tanda” dan itulah ketidakpercayaan mereka, keragu-raguan mereka, kurangnya iman memotivasi mereka meminta tanda.
commit to user
Data nomor 138 kurangnya iman memotivasi mereka „meminta tanda‟ merupakan kalimat yang sulit ditangkap maknanya. Kesulitan yang dialami pembaca menangkap makna tersebut menyebabkan tujuan teks ke dalam bahasa sasaran menemui kegagalan. Di samping itu, pemahaman dari para pembaca cenderung bermacam-macam dan satu sama lain saling bertentangan. Dari kesimpulan peneliti, dengan ungkapan yang sulit diterima secara umum tersebut mengkategorikan terjemahan teks semacam ini termasuk dalam kategori keterbacaan rendah.
No. data Bahasa sasaran
142 Saya bersedia mengakui bahwa Muhammad adalah seseorang yang tulus dan memberikan banyak ajaran yang indah untuk kesejahteraan manusia. Yang tidak dapat saya ikuti adalah apa yang umat Islam nyatakan‟ sebuah ‟kekuatan gaib‟ untuk pendekteannya.
Pada data nomor 142, yakni ‟yang tidak dapat saya ikuti adalah apa yang umat Islam nyatakan ‟sebuah kekuatan gaib‟ untuk pendekteannya. Kalimat ini sulit dipahami secara utuh karena adanya ungkapan ‟untuk pendekteannya‟. Ungkapan tersebut sulit dicarikan padanannya sehingga pembaca mengalami kesulitan dalam memahaminya. Karena sulit ditangkap maknanya secara komprehensif, maka teks tersebut memiliki tingkat keterbacaan yang rendah.
No. data Bahasa sasaran
281 Tidakkah saya sedang menaruh kata-kata asing yang belum pernah didengar dan telah kamu ucapkan, ke dalam mulut Anda?
Data nomor 281 “Tidakkah saya sedang menaruh kata-kata asing yang belum pernah didengar dan telah kamu ucapkan, ke dalam mulut Anda?” sebagai contoh teks dengan keterbacaan rendah. Rendahnya tingkat keterbacaan ini antara lain dari ungkapan
‟menaruh kata-kata asing yang belum pernah didengar‟ yang cenderung menimbulkan pamahaman beragam. Ungkapan ‟menaruh kata-kata asing‟ oleh sebagian pembaca dipahami
commit to user
‟meletakkan kata-kata yang belum banyak dikenal‟. Sementara pembaca lain memahami bahwa kalimat tersebut menggunakan kata-kata asing yang tidak dipahami oleh orang banyak, dan yang lain menyatakan bahwa kalimat tersebut menggunakan kata-kata khusus yang jarang dipakai orang awam. Perbedaan pemahaman yang beragam mengindikasikan bahwa ungkapan tersebut sulit dipahami sehingga memiliki tingkat keterbacaan rendah.
Nom. data Bahasa sasaran
298 Umat Islam memulai setiap kegiatan yang sah menurut hukum dengan formula suci. Tetapi umat Kristen memulai : “ Dengan nama Bapak, Anak dan Roh Kudus.”
Demikian juga kalimat yang terdapat pada data nomor 298 yakni kalimat ‟Umat Islam memulai setiap kegiatan yang sah menurut hukum dengan „formula suci‟. Kalimat ini sulit dipahami, terutama dengan adanya istilah ‟formula suci‟, yang cenderung ambigu. Kalimat tersebut akan terasa mudah dipahami jika diubah menjadi ‟Umat Islam memulai setiap kegiatan yang sah menurut aturan agama dengan melafalkan kalimat suci
„bismillaahhirrohmaanirrahiim‟. Ungkapan ‟formula suci‟ sulit dihubungkan dengan tindakan kegiatan, namun sebenarnya penerjemah bisa memprediksi dari konteksnya bahwa ungkapan tersebut melukiskan bagaimana seorang muslim memulai setiap aktivitasnya sesuai dengan aturan atau syariah agama. Disinilah peran penerjemah melakukan intepretasi atau penafsiran terhadap ungkapan yang diselaraskan dengan konteks temanya. Karena ungkapan tersebut menimbulkan banyak tafsiran diantara satu pembaca dengan pembaca yang lain, maka terjemahan yang demikian dikategorikan teks dengan keterbacaan rendah.
No. data Bahasa sasaran
401 Sebelum beliau membebaskan mereka untuk tetap tinggal di kota tersebut, Beliau bertanya kepada mereka” Apa yang kamu harapkan dari tanganku hari ini?”
Teks dengan keterbacaan rendah juga terjadi pada data nomor 401 „Apa yang kamu harapkan dari tanganku hari ini‟. Ungkapan ini juga sulit dimengerti oleh para pembaca.
commit to user
Kesulitan tersebut terletak pada kata ‟tangan‟, yang memiliki banyak arti. Apakah ‟tangan‟
yang dimaksud adalah tangan dalam arti sebenarnya, sebagai anggota tubuh pada manusia, atau dalam pengertian kekuasaan.
Ungkapan ‟tangan‟ sering digunakan dalam pengertian yang bermacam-macam tergantung konteks yang melingkupi. Misalnya kalimat, ‟Tangan di atas lebih baik daripada
Ungkapan ‟tangan‟ sering digunakan dalam pengertian yang bermacam-macam tergantung konteks yang melingkupi. Misalnya kalimat, ‟Tangan di atas lebih baik daripada