HASIL PENELITIAN
J, DGAL (E-F-G-H), SGAL-I, MATEC dan JOBS
6.1 Keterbatasan Penelitian
Dalam penelitian ini memiliki keterbatasan yaitu dipaparkan
sebagai berikut.
1. Informan kunci tidak hadir saat melakukan identifikasi bahaya di
Bidang Profilling Prismatic Machine. Hal itu disebabkan karena
adanya keterbatasan ijin dari pihak PT. Dirgantara Indonesia dan
keterbatasan waktu yang dimiliki oleh informan kunci sebagai staf
ahli K3 di suatu perusahaan. Oleh karena itu, informan kunci
dalam memberikan masukan terhadap identifikasi bahaya,
penilaian risiko dan analisa kebutuhan safety sign yang telah dibuat
oleh peneliti untuk diliat keakuratannya. Hanya saja dalam
memahami gambaran proses kerja pada mesin di Bidang Profilling
kepada informan kunci, didukung oleh rekaman video yang
dibuat peneliti saat melakukan identifikasi bahaya.
2. Kualitas gambar safety sign yang diambil dalam rangka
menunjukkan keberadaan safety sign yaitu dengan jarak yang jauh
karena kondisi yang tidak memungkinkan. Sehingga berpengaruh
151
6.2Prosedur Identifikasi Bahaya, Penilaian Risiko, dan Pengendalian
Risiko
Berdasarkan prosedur risk assessment No. Dokumen D4 G0 03 dengan judul “petunjuk penilaian dan pengendalian risiko (risk assessment)”, bahwa penilaian risiko menggunakan teknik semi kuantitatif dan mengklasifikasikan bahaya berdasarkan mesin yang ada di
proses tersebut. Menurut PP No.50 tahun 2012 sebagaimana pengusaha
paling sedikit harus melakukan identifikasi potensi bahaya, penilaian dan
pengendalian risiko. Maka PT. Dirgantara Indonesia telah sesuai untuk
melaksanakan prosedur yang telah ditetapkan pemerintah dengan
melakukan identifikasi bahaya, penilaian dan pengendalian risiko.
Prosedur manajemen risiko yang dimiliki PT. Dirgantara
Indonesia berdasarkan hasil wawancara kepada kepala staf pengendalian
dan pengukuran Departemen K3LH bahwa manual kebijakan dalam
melakukan manajemen risiko tidak mutlak dengan indutri penerbangan.
Oleh karena itu peneliti melakukan observasi dengan mengidentifikasi
potensi bahaya dan penilaian risiko di Bidang Profilling Prismatic
152
6.3Daftar Bahaya, Risiko, Penilaian Risiko dan Pengendalian
Berdasarkan Hasil Identifikasi Bahaya di Bidang Profilling Prismatic Machine
Menurut Peraturan Pemerintah No.50 tahun 2012 tentang
penerapan SMK3 yang menyatakan bahwa identifikasi potensi bahaya,
penilaian dan pengendalian risiko sebagai rencana strategi K3 yang
dilakukan oleh petugas yang berkompeten. Hal tersebut sebagaimana
telah disampaikan menurut Redja (2003), risiko dapat diartikan sebagai
kejadian yang tidak tentu dan dapat mengakibatkan suatu kerugian. Pada
tahap ini peneliti menggunakan informan kunci sebagai staf ahli K3 yang
membantu dalam proses identifikasi dan penilaian risiko, bahwa terdapat
potensi bahaya yang bersumber dari berbagai faktor yaitu faktor teknis,
faktor lingkungan, dan faktor manusia. Hal tersebut sebagaimana telah
diungkapkan oleh Tarwaka (2008) yang menyatakan potensi bahaya
dilingkungan kerja bersumber dari berbagai faktor yaitu faktor teknis,
lingkungan dan manusia.
Menurut Risk Assessment and Management Handbook risiko
terbagi menjadi 5 macam, yaitu diantaranya risiko keselamatan kerja
(Safety Risk), risiko kesehatan (Health Risk), risiko lingkungan dan
ekologi, risiko kesejahteraan masyarakat, dan risiko keuangan.
Berdasarkan Risk assessment and Management Handbook, di Bidang
153 diantaranya risiko keselamatan kerja, risiko kesehatan, risiko lingkungan
dan ekologi yang didapat dari hasil identifikasi bahaya.
Sebagaimana macam-macam risiko yang sudah dijelaskan, risiko
yang ada di Bidang Profilling Prismatic Machine yang dapat
mengakibatkan kecelakaan, diantaranya yaitu terpeleset, terjatuh, tertimpa,
tersayat, tergores, jari terpotong, gangguan pernapasan, tersengat listrik,
tersandung, tertiban, tergencet, cipratan dural (kontak dengan bahaya),
terjepit, gangguan pendengaran, tertusuk, sisa material mengenai mata,
dan kebakaran. Risiko yang ada di area mesin DGMP, DGAL, MATEC,
dan JOBS berdasarkan klasifikasi menurut jenis kecelakaan sebagaimana
telah diungkapkan menurut ILO (1962) yaitu seperti terjatuh, tertimpa
benda jatuh, terkena benda-benda, terjepit oleh benda, gerakan melebihi
kemampuan, pengaruh suhu tinggi, terkena arus listrik, serta kontak
dengan bahan-bahan berbahaya atau radiasi, jika dibiarkan akan
mengakibatkan kecelakaan kerja dan akan menimbulkan kerugian. Oleh
karena itu, harus dilakukan strategi terhadap pengendalian risiko bahaya.
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Peraturan Pemerintah No. 50 tahun
2012 tentang penerapan SMK3 yang dibahas pada bab 2.1 rencana strategi
K3.
Selanjutnya klasifikasi penilaian risiko terhadap potensi bahaya
menurut Tarwaka (2008), yaitu dibedakan berdasarkan tingkat bahaya
sangat tinggi, serius, sedang, dan kecil. Hal tersebut telah sesuai dengan
154 berdasarkan tingkat risiko extrime, high, medium, low. Dari hasil
identifikasi penilaian risiko di Bidang Profilling Prismatic Machine
sebagian besar adalah high risk.
Menurut Tarwaka (2008) apabila suatu risiko terhadap kecelakaan
dan penyakit akibat kerja telah di identifikasi dan dinilai, maka
pengendalian risiko harus diimplementasikan untuk mengurangi risiko
sampai batas-batas yang dapat diterima berdasarkan ketentuan, peraturan
dan standar yang berlaku. Sedangkan Menurut AS/NZS 4360:2004 risiko
adalah peluang munculnya suatu kejadian yang dapat menimbulkan efek
terhadap suatu objek. Oleh karena itu, sesuai dengan pengendalian yang
dilakukan di Direktorat Produksi dalam prosesnya produksinya untuk
mencegah terjadinya risiko kecelakaan dilakukan pengendalian di Bidang
Profilling Prismatic Machine. Menurut OHSAS 18001, terdapat 5 hirarki
pengendalian risiko yaitu dengan eliminasi, substitusi, pengendalian
teknis, pengendalian administratif, dan penggunaan APD (Alat Pelindung
Diri). Pengendalian yang diterapkan di bidang Profilling Prismatic
Machine masih dengan pendekatan administratif dan penggunaan APD,
yaitu dengan pelatihan, pengaturan jadwal kerja, penerapan safety sign,
penggunaan APD yang disesuaikan dengan potensi bahaya dengan tujuan
untuk mengurangi risiko terjadinya kecelakaan. Oleh karena itu, Bidang
Profilling Prismatic Machine sebaiknya lebih meningkatkan pengendalian dengan hirarki yang lain. Seperti misalnya dengan pengendalian teknis,
155 Hirarki pengendalian dengan pendekatan administratif yaitu salah
satunya dengan tindakan pemasangan safety sign di Bidang Profilling
Prismatic Machine berdasarkan No. Dokumen D4 S2 07 tentang Standar
Rambu Keselamatan Kerja telah sesuai dengan UU No.01 Tahun 1970
bahwa telah memenuhi syarat keselamatan kerja untuk mencegah dan
mengurangi kecelakaan. Pada UU No.01 Tahun 1970 Pasal 14b yang
menyatakan memasang dalam tempat kerja yang dipimpinnya, semua
gambar keselamatan kerja yang diwajibkan dan semua bahan pembinaan
lainnya, pada tempat-tempat yang mudah dilihat dan terbaca menurut
petunjuk pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja. Akan tetapi,
keberadaan safety sign di Bidang Profilling Prismatic Machine belum
sesuai jika disesuaikan dengan hasil identifikasi bahaya. Analisa
kesesuaian tersebut dapat terlihat pada tabel 5.6. Hal tersebut dikarenakan
masih minimnya safety sign yang terpasang di area kerja Bidang Profilling
Prismatic Machine yang disesuaikan dengan potensi bahaya maupun
risiko pekerjaan.
6.4 Keberadaan Safety Sign di Bidang Profilling Prismatic Machine
Berdasarkan daftar bahaya di mesin DGMP dan DGAL yang
memilki karakteristik mesin yang sama dari hasil identifikasi bahaya.
Menurut Tarwaka (2008) terdapat potensi bahaya dari proses produksi,
156 dilakukan dalam proses produksi, yang sangat tergantung dari bahan, dan
peralatan yang dipakai, serta jenis kegiatan yang dilakukan. Potensi
bahaya mekanik dari proses produksi tersebut di mesin DGMP dan DGAL
mengakibatkan risiko terpeleset, terjatuh, tertimpa, tersayat, tergores, jari
terpotong, tertusuk chips, tertiban, tergencet, terjepit. Selanjutnya,
pengendalian yang diterapkan terhadap potensi bahaya mekanik dan risiko
di mesin tersebut yaitu dengan penggunaan APD, seperti sepatu safety agar
pekerja tidak terpeleset, tertiban, tertusuk chips, penggunaan sarung
tangan agar tidak tersayat, helm agar tidak tertimpa. Diberi tangga agar
pekerja tidak jatuh. Diberi pelatihan agar pekerja tidak tergencet dan risiko
jari terpotong.
Selain potensi bahaya mekanik dari proses produksi di mesin
DGMP dan DGAL juga terdapat potensi bahaya fisik, kimia, fisiologis
dan ergonomi. Hal tersebut sebagaimana telah diungkapkan oleh Tarwaka
(2008), potensi bahaya fisik di area mesin DGMP dan DGAL dapat
mengakibatkan gangguan pendengaran, karena bahaya dari suara mesin.
Potensi bahaya kimia dapat mengakibatkan risiko paparan toksisitas dari
material, risiko gangguan kesehatan berasal dari cairan hasil collant yang
dapat membahayakan kesehatan. Sedangkan potensi bahaya fisiologis
dalam bentuk posisi kerja naik turun mesin, jongkok, berdiri dan duduk
yang dilakukan secara berulang-ulang, dapat mengakibatkan gangguan
157 dijelaskan pada tabel 5.1 dan 5.2 yaitu identifikasi dan penilaian risiko
pada mesin DGMP, DGAL, MATEC dan JOBS.
Jika ditempat kerja memiliki potensi bahaya maka harus dilakukan
pengendalian, yang dapat mereduksi paparan bahaya kepada pekerja.
Menurut Tarwaka (2008), terdapat 2 metode yaitu sarana pengendalian
permanen (jangka panjang) dan pengendalian sementara (jangka pendek).
Untuk menentukan sarana dengan pengendalian permanen atau sementara
harus dilakukan prioritas pengendalian terlebih dahulu. Sebagaimana yang
yang diungkapkan oleh Ramli (2010a) terdapat strategi pengendalian
risiko yaitu menekan likelihood / kemungkinan terjadinya suatu kejadian,
menekan kosekuensi / paparan yang diterima, dan pengendalian risiko.
Sebagaimana pedoman pengendalian risiko yang lebih spesifik
menurut OHSAS yaitu dengan pendekatan eliminasi, substitusi,
pengendalian teknis, pengendalian administratif, dan penggunaan alat
pelindung diri (APD). Sebagaimana berdasarkan beberapa teori yang telah
diungkapkan bahwa hirarki pengendalian tentu saja harus dibuat prioritas
untuk menekan kemungkinan terjadinya kejadian. Berdasarkan prinsip
pengendalian permanen menurut Tarwaka (2008), pengendalian teknis
seperti eliminasi (menghilangkan sumber bahaya) adalah yang utama,
selanjutnya diikuti oleh pengendalian lainnya. Di Bidang Profilling
Prismatic Machine itu sendiri berdasarkan hasil wawancara mendalam dan observasi belum pernah meningkatkan dengan pengendalian teknis.
158 bentuk pelatihan, shift kerja, penerapan safety sign. Akan tetapi dalam
pelaksanaan pengendalaian administratif dengan penerapan safety sign
masih belum maksimal.
Oleh karena itu, sebaiknya pengendalian administratif dalam
bentuk safety sign dibuat sesuai dengan potensi bahaya, risiko dan
pengendaliannya agar pekerja dan tamu perusahaan mengetahui potensi
dan risiko bahaya yang mungkin terjadi. Menurut standar ANSI
pemasangan safety sign harus berdasarkan potensi bahaya yang ada di
tempat kerja dan berdasarkan Peraturan Pemerintah No.50 tahun 2012
pada bab keamanan bekerja berdasarkan SMK3 tentang sub bab area
terbatas, bahwa rambu-rambu mengenai keselamatan dan tanda pintu
darurat harus dipasang sesuai dengan standar dan pedoman teknis. Jika
dibandingkan dengan kenyataan, tidak ada satupun keberadaan safety sign
yang mengindikasikan risiko dan potensi bahaya dari proses produksi
secara tepat. Sementara, pengaruh dari potensi bahaya dan risiko tersebut
dapat mengganggu kesehatan secara fisik dimana dapat menyebabkan
gangguan-gangguan atau kerusakan pada tubuh (Tarwaka, 2008).
Di bagian mesin DGMP dan DGAL hanya terdapat tanda berupa
mandatory penggunaan sepatu safety, kacamata safety, ear muff, dan safety line. Letak 1 tanda sepatu safety juga terhalang oleh mesin besar dari
DGMP sehingga tidak terlihat dan tidak dapat memberikan pesan kepada
pekerja maupun pengunjung yang datang ke area kerja. Safety sign lainnya
159 Warna sign juga sudah pudar dan ukurannya juga kecil Karena belum di
update.
Gambar 6.1 Keberadaan Safety Sign di Mesin DGMP
Gambar 6.2 Keberadaan Safety Sign di Mesin DGAL
Keberadaan Safety Sign di mesin DGMP dan DGAL menurut
standar safety sign ANSI Z535.4-2007 berdasarkan situasi bahaya yang
menginstruksikan pesan keselamatan untuk melindungi pekerja maupun
properti dari risiko kerugian belum sesuai dengan risiko bahaya yang ada
ditempat kerja. Oleh karena itu, harus dilakukan evaluasi terhadap
penerapan safety sign sebagai bentuk pengendalian bahaya yang sudah
diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 50 tahun 2012 tentang sistem
manajemen keselamatan.
Menurut Sumbo Tinarbuko (2008), pembuatan safety sign yang
baik adalah yang memenuhi 4 kriteria seperti : mudah dilihat, mudah
160 mesin DGAL memiliki kelebihan dibandingkan dengan mesin DGMP,
yaitu dengan adanya caution sign (terpeleset). Letak 1 tanda sepatu safety
juga terhalang oleh mesin besar dari DGAL sehingga tidak terlihat dan
tidak dapat memberikan pesan kepada pekerja maupun pengunjung yang
datang ke area kerja. Warna sign juga sudah pudar dan ukurannya juga
kecil karena penerapan safety sign yang belum di update. Sedangkan
tanda-tanda tersebut bertujuan menyampaikan suatu informasi sehingga
bersifat komunikatif. Menurut Sumbo Tinarbuko (2008), keberadaan
safety sign mampu menggantikan sesuatu yang lain, dapat dipikirkan, atau dibayangkan. Berdasarkan teori tersebut bahwa keberadaan safety sign di
mesin DGMP dan DGAL sepenuhnya belum lengkap dan belum berfungsi
dengan baik. Hal tersebut dapat dibuktikan pada tabel 5.4 yaitu keberadaan
safety sign berdasarkan potensi bahaya dan risiko.
Begitu juga keberadaan safety sign yang ada di mesin MATEC dan
JOBS yang memilki potensi bahaya dan risiko sama dengan mesin
DGMP, seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya. Tetapi, terdapat
sedikit perbedaan potensi bahaya yang dihasilkan yaitu risiko terjatuh,
tergencet karena mesin MATEC dan JOBS tidak tinggi dan besar. Risiko
terpapar cipratan dural, karena bentuk dari mesin MATEC dan JOBS yang
sudah terisolasi. Di mesin MATEC dan JOBS tidak ada sama sekali
indikasi penerapan safety sign untuk pekerja, hanya terdapat tanda
161
Gambar 6.3 Keberadaan Safety Sign di Mesin MATEC dan JOBS
Keberadaan Safety Sign di mesin MATEC dan JOBS menurut
standar safety sign ANSI Z535.4-2007 berdasarkan situasi bahaya yang
menginstruksikan pesan keselamatan untuk melindungi pekerja maupun
properti dari risiko kerugian belum sesuai dengan risiko bahaya yang ada
ditempat kerja. Hal tersebut karena tidak ada safety sign sama sekali yang
terpajang di mesin MATEC dan JOBS, yang mengindikasikan adanya
tanda risiko bahaya sesuai dengan hasil identifikasi yang dilakukan.
Menurut Kusrianto (2009), bahwa manusia mampu memberikan
makna dan menginternalisasikan makna terhadap suatu objek, tempat,
maupun suasana dari orang-rang yang berada dalam lingkungan simbolik.
Hal tersebut menunjukkan bahwa di mesin MATEC dan JOBS tidak
terdapat makna untuk mengindikasikan suasana bahaya yang dapat terjadi
kapan saja untuk pekerja dan tamu perusahaan, karena tidak adanya
satupun safety sign yang terpasang.
Menurut Gustosign (2013) sebagai ahli konsultan dan pembuat
safety sign, keberadaan safety sign memiliki tujuan untuk mencegah
kecelakaan ditempat kerja. Safety sign berisi pesan-pesan mengenai
162 keamanan kerja. Begitu juga di Bidang Profilling Prismatic Machine,
penempatan safety sign yang masih kurang tepat serta tidak adanya safety
sign yang mengindikasikan adanya potensi bahaya atau pemberitahuan
akan memberikan makna sikap yang normal saja untuk pekerja. Akan
tetapi, jika disetiap mesin atau proses kerja yang memiliki sign¸ akan
memberikan rasa tanggung jawab untuk menjaga dirinya agar lebih
berhati-hati untuk mencegah terjadinya kecelakaan. Sehingga risiko yang
dapat muncul, bisa diminalisir dengan memunculkan safety sign tersebut.
Sebaiknya, PT. Dirgantara Indonesia dalam manajemen K3LH,
pada penerapan safety sign, menggunakan standar yang berlaku dan
memilih perusahaan pembuat safety sign yang terbaik agar penerapan
safety sign dapat tepat sesuai dengan standar dan komposisi. Selain itu,
keberadaan safety sign sebaiknya dilakukan berdasarkan hasil identifikasi
bahaya, agar penerapannya dapat berguna untuk meminimalisir terjadinya
kecelakaan kerja.
6.5 Kebutuhan Safety Sign Berdasarkan Daftar Bahaya
Kebutuhan safety sign berdasarkan hasil identifikasi bahaya yang
telah didiskusikan oleh key informan, yaitu dengan memberikan
rekomendasi safety sign di mesin DGMP, DGAL, MATEC dan JOBS
berdasarkan situasi bahaya dan risiko pekerjaan. Safety sign dalam bentuk
163 standar ANSI Z535 dan BSI 5499 dengan pictogram, symbol panel, signal
word, dan word message yang terbaru.
Berdasarkan hasil identifikasi bahaya dan penilaian risiko, di dapat
daftar potensi bahaya yang ada di mesin DGMP, DGAL, MATEC dan
JOBS adalah berupa potensi bahaya mekanik, fisik, kimia, fisiologis,
ergonomis. Kebutuhan safety sign berdasarkan risiko bahaya dan
pengendalian yang diterapkan di Bidang Profilling Prismatic Machine.
Oleh karena itu, analisa kebutuhan safety sign sudah sesuai dengan
pedoman Peraturan Pemerintah No. 50 tahun 2012 tentang penerapan
sistem keselamatan dan kesehatan kerja pada bab area terbatas yang
menyatakan bahwa rambu-rambu K3 harus dipasang sesuai dengan standar
dan pedomen teknis. Standar yang digunakan yaitu dengan ANSI Z535
dan BSI 5499 yang dibuat berdasarkan hasil identifikasi bahaya di Bidang
Profilling Prismatic Machine.
Berdasarkan daftar potensi bahaya, risiko dan pengendalian
kebutuhan safety sign sudah disesuaikan dengan klasifikasi tanda bahaya
sesuai dengan standar ANSI Z535 dan BSI 5499. Diantaranya warning
sign, caution sign, danger sign, notice sign, dan prohibition sign. Potensi
bahaya yang memilki risiko tinggi sangat diutamakan untuk diberikan
informasi, karena akan mengakibatkan bahaya mekanik seperti terpeleset,
164 Menurut standar safety sign ANSI Z535.4-2007 yang menyatakan
bahwa safety symbol dipilih berdasarkan representasi grafis dengan jelas
untuk menyampaikan pesan keselamatan secara spesifik, dan juga
memberikan signal word (DANGER : merah, WARNING : oranye.
CAUTION : kuning, NOTICE : biru). Safety sign menurut ANSI
Z535.4-2007 juga harus dilengkap dengan symbol panel (pictogram), dan pesan
yang disampaikan. Hal tersebut membuktikan keberadaan safety sign
belum sesuai dengan standar ANSI Z535 yang juga diterapkan di Bidang
Profilling Prismatic Machine.
Untuk memberikan perbandingan kesesuaian terhadap keberadaan
safety sign dilapangan, kebutuhan penggunaan safety sign berdasarkan
potensi bahaya, risiko dan perintah penggunaan APD. Menurut ANSI
Z535.4 2007 dan Gustosign (2013) dapat dijelaskan dengan pesan yang
disampaikan seperti :
a. Warning sign
Warning sign dengan background berwarna oranye dan kata
WARNING berwarna hitam. Hal tersebut mengindikasikan situasi
kemungkinan terjadinya kecelakaan serius atau kematian. Sementara
di Bidang Profilling Prismatic Machine memiliki risiko bahaya
tersayat, tergores, jari terpotong, tertusuk chips, tersengat listrik,
terjepit mesin, serta tertiban benda berat. Oleh karena itu, di Bidang
165 khusus di mesin MATEC dan JOBS karena karakteristik bentuk mesin
yang tidak besar maka tidak dibutuhkan warning sign dengan risiko
bahaya terjepit.
b. Caution sign
Caution sign dengan background berwarna kuning dan kata
CAUTION berwarna hitam, mengindikasikan situasi berbahaya yang
dapat menyebabkan luka ringan atau sedang. Oleh karena itu,
himbauan atau waspada akan adanya risiko bahaya di Bidang
Profilling Prismatic Machine dibutuhkan tanda caution sign,
diantaranya karena adanya potensi bahaya dan risiko terpeleset,
lintasan forklift, bahaya terjatuh (hanya mesin DGMP dan DGAL),
tersandung, serta tertiban alat kerja yang berat.
c. Danger sign
Danger sign dengan background berwarna merah dan kata
DANGER berwarna putih, mengindikasikan situasi bahaya yang
memiliki kemungkinan tinggi terjadinya kematian atau luka serius.
Sementara di Bidang Profilling Prismatic Machine memiliki risiko
bahaya kebakaran karena satu ruang dengan ruang produksi yang
memiliki risik terbakar. Oleh karena itu, dibutuhkan tanda bahaya
terbakar, mengindikasikan adanya alat APAR sebagai fire fighting
166 d. Notice Sign
Notice sign dengan background berwarna biru dan kata
NOTICE berwarna putih, yang menyampaikan pesan keselamatan
personil atau perlindungan terhadap properti perusahaan
bersangkutan. Notice sign biasa dipakai unuk membeikan mandatory
sign. Di Bidang Profilling Prismatic Machine membutuhkan Notice
sign dalam bentuk himbauan pemakaian / mandatory penggunaan alat
pelindung diri seperti : sepatu safety, helm, sarung tangan, masker,
seragam kerja, earmuff, dan kacamata safety.
e. Safe Condition Sign / safety first background berwarna hijau dan
gambar atau kata berwarna putih, yang memberikan
Instruksi-instruksi umum yang berhubungan dengan praktek kerja yang aman,
serta memberikan tanda jalur evakuasi. Oleh karena itu, berdasarkan
potensi bahaya di Bidang Profilling Prismatic Machine
dibutuhkannya tanda jalur evakuasi.
f. Selain tanda diatas kebutuhan safety sign juga ditambah dengan
adanya prohibition sign di mesin MATEC dan JOBS yaitu tanda
dilarang masuk saat mesin beroperasi. Selain itu, untuk semua mesin
di Bidang Profilling dibutuhkan tanda bahaya dari limbah material
dan risiko gangguan kesehatan pada pekerja efek dari collant dan
167 Material yang digunakan berdasarkan standar BSI 5499 yaitu
diantaranya adalah poliester, plastik kaku, alumunium dan polypropylene
juga sudah sesuai secara keseluruhan, karena material safety sign yang
digunakan di Bidang Profilling Prismatic Machine terbuat dari bahan
alumunium, plastik kaku dan stainless.
Walaupun sifat dari pengendalian dalam bentuk safety sign hanya
berupa tanda peringatan, pemberitahuan / informasi akan lebih baik jika
safety sign diterapkan secara optimal berdasarkan potensi bahaya dengan
memberikan tanda warning, caution, danger, notice, serta indikasi adanya
alat-alat pemadam kebakaran.
6.6 Kesesuaian Keberadaan Safety Sign di Bidang Profilling Prismatic