• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

D. Keterbatasan Penelitian

Pada penelitian ini, peneliti memiliki beberapa keterbatasan di lapangan saat penelitian. Adapun keterbatasan tersebut antara lain:

1. Cuaca

Faktor cuaca yang saat ini memasuki musim hujan, membuat peneliti harus lebih berhati-hati dalam menentukan waktu ketika akan turun ke lapangan melakukan penelitian.

2. Jarak Tempuh

Lokasi penelitian utama yang berjarak kurang lebih 15 km dari tempat tinggal peneliti dan akses geografis perbukitan, serta jalanan menuju desa binaan yang terjal menyebabkan jarak tempuh dalam penelitian ini cukup sulit untuk dilalui.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari hasil penelitian dan analisis yang dilakukan oleh peneliti, dapat disimpulkan bahwa kelompok sosial Istana Belajar Anak Banten (ISBANBAN) yang fokus pengabdiannya adalah pada bidang pendidikan memiliki peranan penting dalam membantu memajukan pendidikan di Kabupaten Lebak, khususnya di Desa Sindangsari. Berbagai upaya atau kegiatan yang dilakukan ISBANBAN seperti taman belajar dan kegiatan minggu belajar yang dilakukan bersama anak-anak usia sekolah di Desa Sindangsari memiliki dampak baik dalam mengurangi angka putus sekolah di Kabupaten Lebak. Oleh masyarakat, kehadiran ISBANBAN juga dipercaya untuk menjadi role model atau inspirasi dalam dunia pendidikan sehingga masyarakat memiliki motivasi dan kesadaran bahwa pendidikan anak-anak dan generasi muda di lingkungan mereka haruslah tinggi dan berkualitas, artinya tidak hanya pada batas mengenyam pendidikan sampai bangku sekolah dasar saja. Konsistensi ISBANBAN dalam melakukan pengabdian di Kabupaten Lebak yang diawali pada tahun 2014 diakui mampu membuka pikiran dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan dalam kehidupan.

Harapannya kedepan untuk ISBANBAN dapat terus konsisten dalam melakukan pengabdian pendidikan di masyarakat dan mampu berinovasi lebih banyak lagi dalam menciptakan program-program yang lainnya sebagai bagian dari upaya mewujudkan perubahan pendidikan di Kabupaten Lebak ke arah yang lebih baik lagi.

B. Implikasi

Hasil penelitian ini dapat memberikan implikasi pada peran kelompok sosial terhadap kesadaran pendidikan di Kabupaten Lebak. Adapun peran dari kelompok sosial ISBANBAN di Desa Sindangsari yaitu:

Pertama, kehadiran ISBANBAN di Desa Sindangsari mampu membantu pemerintah daerah dalam menyelesaikan angka putus sekolah yang tinggi di desa tersebut.

Kedua, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pendidikan. Dengan adanya ISBANBAN yang dijadikan percontohan, masyarakat khususnya para orangtua berani bermimpi untuk menyekolahkan anak-anaknya setinggi mungkin.

Ketiga, ISBANBAN berupaya untuk selalu konsisten dalam melakukan pengabdian pendidikan di Kabupaten Lebak serta terus berusaha untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas program yang mereka jalankan.

C. Saran

Sebagai kelompok sosial yang melakukan pengabdian pada bidang pendidikan, ISBANBAN sudah mengabdikan diri di Desa Sindangsari selama enam tahun dengan cukup baik dan membawa banyak perubahan pada masyarakat.

Namun ada hal yang bisa menjadi bahan pertimbangan untuk perbaikan oleh kelompok sosial ini, sebaiknya konsistensi yang sudah di bangun selama enam tahun lamanya tetap dijaga ghirohnya meski dalam kondisi sulit di masa pandemi covid-19 sekalipun. Artinya, ISBANBAN diharapkan mampu menghadirkan inovasi dan upaya agar kegiatan pengabdian di Desa Sindangsari tidak terhenti di luar timeline aktivitas kegiatan yang sudah ditentukan.

Bagi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lebak sebaiknya lebih memperhatikan kondisi pendidikan di wilayah-wilahah desa tertinggal. Sehingga bisa mengetahui apa yang masyarakat butuhkan dalam menunjang pendidikan yang berkualitas. Selain itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lebak diharapkan mampu lebih transparan terkait data kependidikan agar bisa di akses

oleh masyarakat umum dan mensupport banyaknya kelompok sosial yang berusaha untuk membantu pemerintah dalam menyelesaikan masalah pendidikan di Kabupaten Lebak.

DAFTAR PUSTAKA

Abdulsyani. 2012. Sosiologi Skematika, Teori, dan Terapan. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Biro Pemerintahan Provinsi Banten. Profil Kabupaten Lebak.

Data dan Informasi Statistik Sektoral Daerah Kabupaten Lebak. Data Angka Putus Sekolah Tahun 2017.

Hadi, Amirul dan Haryono. 2005. Metodologi Penelitian Pendidikan.

Bandung: CV Pustaka Setia.

Ilahi, Muhamad Takdir. 2012. Revitalisasi Pendidikan Berbasis Moral.

Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

Kadir, Amirul. 2012. Dasar-Dasar Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Sekretariatan Jenderal Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan. 2020. Data Pendidikan Tahun 2017/2018 dan 2018/2019. Jakarta.

Ketetapan MPR-RI Nomor 2 Tahun 1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila.

Narwoko, J. Dwi dan Bagong Suyanto. 2007. Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta: Kencana.

Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2008 tentang Wajib Belajar Pasal 3.

Profil Kabupaten Lebak. Review Dokumen RPIJM 2016 Bidang PU / Cipta Karya Rencana Program Investasi Jangka Menengah Kabupaten Lebak 2015-2019.

Raco, J.R. 2010. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

Ramayulis. 2015. Dasar-Dasar Kependidikan Suatu Pengantar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Kalam Mulia.

Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, dan R&D.

Bandung: Alfabeta.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1.

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 2.

SKRIPSI DAN JURNAL

Andriani, Seka, dkk. 2019. Peran Kelompok Sosial Argowayang dalam Menanamkan Nilai Kesadaran Lingkungan. Jurnal Civic Hukum, Volume 4, Nomor 1.

Isnin, Yayu Hardiyanti. 2018. Peran Komunitas Mengajar terhadap Pendidikan di Kecamatan Muncang Provinsi Banten (Studi Kasus: Komunitas Ayo Mengajar). Skripsi. Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Sahid, Rahmat. 2011. Analisis Data Penelitian Kualitatif Model Miles dan Huberman. Surakarta: Pasca Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Suhaida, Dada. 2016. Pemahaman Mahasiswa terhadap Dampak Negatif Rokok untuk Meningkatkan Kesadaran Pendidikan Nilai Moral. UCEJ, Vol. 1, No.

1.

Syawi, Mochamad. 2007. Peran Kelompok Sosial dalam Penguatan Ketahanan Nasional di Kabupaten Badung, Bali. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Vol 12, No 01.

LAMPIRAN-LAMPIRAN

LAMPIRAN 1

LEMBAR UJI REFERENSI

UJI REFERENSI

Seluruh referensi yang digunakan dalam penulisan skripsi yang berjudul “Peran Kelompok Sosial Terhadap Kesadaran Pendidikan di Kabupaten Lebak (Studi Kasus: Istana Belajar Anak Banten)” yang disusun oleh Uun Unwanah, NIM. 11160150000082, Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta telah diuji kebenarannya oleh dosen pembimbing skripsi pada tanggal 07 Februari 2021.

Jakarta, 07 Februari 2021

Mengetahui,

Pembimbing Skripsi I Pembimbing Skripsi II

Cut Dhien Nourwahida, MA Anissa Windarti, M.Sc.

NIP. 197912212008012016 NIP. 198208022011012005

UJI REFERENSI

Nama : Uun Unwanah

NIM : 11160150000082

Jurusan/Semester : Tadris IPS/9

Judul Skripsi : Peran Kelompok Sosial Terhadap Kesadaran Pendidikan di Kabupaten Lebak (Studi Kasus: Istana Belajar Anak Banten)

No. Referensi Paraf

Pembimbing I

Paraf Pembimbing II BAB I

1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1.

2. Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2008 tentang Wajib Belajar Pasal 3.

3. Data Pendidikan Tahun 2017/2018 dan 2018/2019, (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Sekretariatan Jenderal Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan: Jakarta, 2020)

4. Data Angka Putus Sekolah Tahun 2017, (Data dan Informasi Statistik Sektoral Daerah Kabupaten Lebak)

BAB II

5. Abdulsyani, Sosiologi Skematika, Teori, dan Terapan, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2012), h. 98.

6. J. Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto, Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan, (Jakarta: Kencana, 2007), h. 23.

7. Abdul Kadir, Dasar-Dasar Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2012), h. 59.

8. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1.

9. Ramayulis, Dasar-Dasar Kependidikan Suatu Pengantar Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Kalam Mulia, 2015), h. 15-17.

10. Muhamad Takdir Ilahi, Revitalisasi Pendidikan Berbasis Moral, (Jogjakarta:

Ar-Ruzz Media,2012), h. 30.

11. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 2.

12. Ketetapan MPR-RI Nomor 2 Tahun 1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila.

13. Mochamad Syawi, “Peran Kelompok Sosial dalam Penguatan Ketahanan Nasional di Kabupaten Badung, Bali ”, Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Vol 12, No. 01, 2007 : 45-51.

14. Yayu Hardiyanti Isnin, “Peran Komunitas Mengajar terhadap Pendidikan di Kecamatan Muncang Provinsi Banten (Studi Kasus: Komunitas Ayo Mengajar)”, Skripsi pada Sarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2018.

15. Seka Andriani, dkk, “Peran Kelompok Sosial Argowayang dalam Menanamkan Nilai Kesadaran Lingkungan”, Jurnal Civic Hukum, Volume 4, Nomor 1, Mei 2019.

16. Dada Suhaida, “Pemahaman Mahasiswa terhadap Dampak Negatif Rokok untuk Meningkatkan Kesadaran Pendidikan Nilai Moral”, UCEJ, Vol. 1, No. 1, April 2016, Hal. 1-17.

BAB III

17. Sugiyono, Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, dan R&D, (Bandung:

Alfabeta, 2016), h. 9.

18. J.R. Raco, Metode Penelitian Kualitatif, (Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia, 2010) h. 7.

19. Amirul Hadi dan Haryono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2005), h. 129.

20. Rahmat Sahid, “Analisis Data Penelitian Kualitatif Model Miles dan Huberman ”, Pasca Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2011.

BAB IV

21. Profil Kabupaten Lebak (Review Dokumen RPIJM 2016 Bidang PU / Cipta Karya Rencana Program Investasi Jangka Menengah Kabupaten Lebak 2015-2019)

22. Profil Kabupaten Lebak (Biro Pemerintahan Provinsi Banten)

LAMPIRAN 2

TRANSKIP WAWANCARA

Founder Yayasan ISBANBAN

Keterangan:

P : Peneliti

F : Founder Yayasan ISBANBAN (Panji Aziz Pratama)

P : “Apa yang melatarbelakangi berdirinya ISBANBAN?”

F : “Miris ya, jadi aku sempet cerita juga. Jadi latar belakangnya sebenernya ada 2 ya, ada personal experience ada namanya kondisi di Banten yang bikin greget. Nah, kalo personal experience itu Kak Panji kan emang lahir dari keluarga yang emang sederhana, bukan dari orang kaya maksudnya ekonomi juga pas-pasan gitu, dan Kak Panji lahir dari bapak itu dulu ayahku tuh guru IPS kayak kamu nih guru IPS. Ayahku guru SMP tapi ngajarnya IPS dan selama tapi beliau almarhum jadi udah meninggal di usiaku 2 tahun, usia Kak Panji 2 tahun beliau meninggal setelah itu ekonomi keluarga cukup bergejolak. Ibunya Kak Panji kan cuma lulusan SMP. Jadi kebayang yah, lulusan SMP kerja apaan gitu. Jadi akhirnya struggle lah ibu tuh dan yaudah hidup tuh cukup pas-pasan dan ibu waktu itu akhirnya bikin rias pengantin sama salon. Dan Alhamdulillah dari situlah akhirnya Kak Panji bisa sekolah. Nah personal experiencenya itu, jadi personal experiencenya Kak Panji pernah ngerasain susah sekolah, ngerasa tuh kayak sekolah tuh hal yang mahal, beli buku harus ngumpulin dulu dari hasil uang jajan, ibu tuh harus apa namanya rias pengantin atau potong rambut dulu berapa orang baru bisa beli buku. Jadi cukup sulit itu. Jadi personal backgroundnya Kak

Panji pernah merasakan bahwa pendidikan itu hal yang sangat-sangat tersier dan ngerasa ketika kuliah kakak tuh Alhamdulillah dapat Bidikmisi. Dan ketika Kak Panji dapat beasiswa Bidikmisi ngerasa aja gitu ketika semester 1, jurusan kakak tuh dulu Kesejahteraan Sosial di UNPAD. Bahkan lebih apa namanya punya tanggung jawab sosial, ini jurusan ko kayaknya beban moral banget. Lulus tuh sebagai lulusan sarjana kesejahteraan sosial kalau belum bisa mensejahterakan tuh kayaknya malu gitu. Yaudah jadi akhirnya semester 1 Kak Panji bikin yang namanya ISBANBAN. Cuma atas dasar personal background Kak Panji tuh ngerasa Kak Panji udah dapat beasiswa Kak Panji harus bisa kasih feedback buat orang lain supaya gaada anak-anak kecil yang ngerasain apa yang kakak rasain dulu waktu kecil. Jadi semoga anak-anak di desa, latar nya kan ngambil di desa, yang secara latar ekonomi tuh lemah. Itu Kak Panji banget zaman dulu lah sebetulnya. Nah diambil dari situ akhirnya pengen ngebeasiswain anak-anak supaya mereka bisa sekolah. Itu personal experience. Tapi kalau yang condition kayak atas latar belakang Banten kak Panji lahir dari Banten, besar dan dibesarkan dan punya banyak teman serta keluarga di Banten, di Serang Banten khususnya.

Tapi ngerasa Banten tuh data pendidikan rata-rata lama sekolah, angka partisipasi kasar pendidikan di Banten semuanya sangat-sangat hancur gitu.padahal kita tuh deket sama ibukota. Nah disitulah Kak Panji ngerasa ya ini saatnya memang gerakan ini emang harus didasari atas dasar gerakan pendidikan. Karena Banten ini masih sangat butuh bantuan. Dan Kak Panji punya personal background yang emang cocok sama hal itu, yaudah bikinlah Kak Panji ISBANBAN. Kak Panji tuh merintis ISBANBAN bareng sama teman-teman dari Forum OSIS Banten. Jadi inisiator nya itu kak Panji dan teman-teman dari Forum OSIS Banten ada sekitar 5 atau 6 orang waktu dulu. Cuma ya mereka sementara aja, cuma satu tahun ga bertahan lagi. Jadi yaudah. Tapi Kak Panji mengapresiasi mereka, karena mereka itu semangat utamanya ISBANBAN itu ada di mereka. Jadi dapat relawan baru, akhirnya diteruskanlah semangat-semnagt di ISBANBAN itu sama mereka.”

P : “Apa tujuan ISBANBAN atau target besar kedepannya?”

F : “Kami akan menjamah seluruh daerah/desa di Banten. Visi kita itu kan sebanyak-banyaknya anak muda yang bisa kontribusi aktif yang bisa bantuin pendidikan di daerah/desa. Jadi goals utamanya itu sebenernya banyak ga sih atau makin banyak ga sih orang-orang yg tergerak hatinya untuk bantuin adik-adik kita yang pendidikannya masih sangat-sangat perlu dibantu di Banten. Kalau makin banyak berarti goals kita nyampe. Jadi kalau ditanya kedepan ISBANBAN mau apa kita akan semakin melebarkan apa namanya melebarkan titik-titik pergerakan tepatnya gitu ya. Kita ingin melebarkan hal itu karena kita percaya setiap gerakan kebaikan itu bisa berlipat-lipat apa namanya gerakannya atau kebaikannya. Jadi insyaAllah gacuma ada di 7 kabupaten atau kota, ini kan ada 7 chapter ya. Semoga ada di 8 kabupaten/kota bisa lengkap tuh ada satu Tangerang Kota nanti nyangkut. Tapi di satu chapter kan harusnya sekarang tuh masih satu taman baca. Nah kedepannya harapannya kita bisa satu chapter itu lebih banyak taman baca yang dibina jadi mungkin bisa sepuluh dua puluh gitu. Bisa 20 titik, 50 titik. Kalau kebayang ada 50 titik di satu kabupaten/kota dikali 7 ada 350 titik pengabdian kita di Banten. Tapi ga cuma itu sebenarnya mimpi kita, mimpi kita itu pengen jadiin Banten ini atau ISBANBAN di Banten ini jadi model, permodelan untuk nanti bisa anak muda lain di luar Banten di seluruh daerah Indonesia bisa ngelakuin hal yang sama. Jadi harapannya semangat giroh kita tuh ga hanya di Banten, tapi ada di luar Banten. Itu di tahun kesepuluh mungkin, kita udah rencanain sih hal-hal kayak gitu.

Semoga nanti ada di Jogja, ada di Kabupaten Bandung, ada di Sulawesi, dan itu ISBANBAN. Semangatnya sama, volunteer value nya sama, hal yang kita kejar juga sama, jadi sama-sama masih banyak anak muda yang mau gerak sama-sama.”

P : “Mengapa memilih Kampung Sanding, Desa Sindangsari, Kecamatan Sajira sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan ISBANBAN?”

F : “Jadi ada 2 alasan. Yang pertama kenapa akhirnya kita pilih di Sanding, kita itu waktu itu ada namanya program Banten Youth For Education isinya adalah pelatihan anak-anak muda se Provinsi Banten untuk bikin taman baca di daerahnya masing-masing. Jadi kita ngundang anak muda ada 40 anak muda gabung, kita latih dan yang dari Lebak itu singkat cerita dia akhirnya jadi koordinator atau project officer seperti Ari Apriyanti yang sekarang jadi PO (project officer) Lebak, dia angkatan ke 7. Nah angkatan pertama itu dulu hasil dari pemilihan tadi, yang Kak Panji bilang itu. Nah, kenapa milih di Sanding jadi si PO angkatan ke satu adalah bapaknya adalah kepala sekolah di SDN 1 Sanding. Ini real strory nya gini, jadi dia anak dari kepala sekolah SDN 1 Sanding dimana dia sendiri ngeliat Sanding ini daerah yang cukup tertinggal jauh dari peradaban, jauh dari Rangkasbitung kebayang yah, jauh banget sampe masuk ke dalam. Anak-anaknya juga jarang terekspos ke dunia luar jadi maksudnya ke Rangkas aja mereka jarang gitu. Gapunya transportasi kebayang ga, tranportasi jauh, mereka gapunya motor. Mereka tuh hidup, besar, makan, ngaji, sekolah, sampe punya anak lagi disitu terus. Jadi kampung itu tuh adalah sumber dari segala sumber disitu lagi disitu lagi gitu artinya. Nah hal itu yang melatarbelakangi kami bahwa oh ada nih anak-anak desa daerah Sanding yang perlu dikasih wawasan baru karena datangnya kami artinya kami akan membawa hal-hal baru ada wawasan, ada pembelajaran baru, ngajar setiap hari minggu, ada buku-buku bacaan yang kita bawa, itu kan wawasan. Jadi ini cocok sama pemilihan pertama kita. Nah alasan kedua adalah ternyata si PO itu memilih itu juga emang ga salah, karena secara data mereka tuh rata-rata tuh engga lanjut SMA. SMA aja udah paling cocok, maksudnya udah paling tinggi gitu yah. Karena lokasi SD tuh paling dekat, jadi anak-anak bisa SD tuh pasti, karena deket banget sama SD tapi kalo untuk SMP bisa jadi agak 50:50 nih karena ada yang ngelanjutin ada yang engga ngelanjutin karena jauh. SMP nya tuh harus keluar desa sekitar 3-5 km. Mereka tuh gapunya transportasi jadi mereka milih buat ga ngelanjutin atau mondokin sekalian di pondok. Nah yang ketiga adalah jarang banget yg lanjut ke SMA atau ke

sekolah menengah lah ya, atau STM atau SMK. Jarang banget karena satu biaya SMA atau SMK lebih mahal gitu. Mau masuk negeri engga diterima karena spesifikasinya kurang mau masuk swasta, swasta biaya uang pangkalnya mahal, jadi serba salah. Jadi anak desa tuh serba salah. Kita di bilang pinter engga, tapi pengen sekolah yang bagus ga keterima gitu. Jadi kalo milih swasta, pengen sekolah sih pengen, tapi ketika milih swasta orangtuanya ga mampu. Jadi serba salah, gaada pilihan buat mereka. Jadi ya artinya kami memilih Desa Sindangsari karena alasan 2 tadi, satu karena background dari pemilihnya si PO. Yang kedua adalah secara data kasar kita ngeliat bahwa angka lanjut sekolah atau angka rata-rata lama sekolah masih rendah di Kampung Sanding.”

P : “Apakah ada kemungkinan ISBANBAN mendirikan taman baca di desa lain?”

F : “Ada kemungkinan. Kita berharap di satu chapter ada beberapa titik ga cuma satu. Jadi harapannya ada berbagai desa binaan yang lain. Jadi sebenarnya program kita itu 3 tahun di satu desa, setelah 3 tahun kita pindah ke desa lain gitu. Jadi sebenarnya di luar chapter Lebak itu desa binaan itu kita udah ada yang 3 kali angkatan artinya di A, terus udah 3 tahun pindah ke B, udah 3 tahun lagi sekarang udah di desa binaan yang C. Jadi satu kabupaten. TangSel udah 2 kali pindah, Kabupaten Serang udah 2 kali pindah eh 3 kali, kota serang udah 4 kali bahkan. Nah yang beda memang di kecualikan di Lebak kita nih di Sanding ini sudah hampir 7 tahun. Nah alasannya kami melihat Sanding ini memang unik nih, di Kampung Sanding ini kita melihat bahwa oh pengabdian ga cukup 3 tahun tapi kita perlu ada namanya pengabdian lanjutan dimana tadinya kita kan fokus nya ke anak-anaknya doang yah, kita pengen ngembangin minat bakat, ngembangin wawasan anak tapi lama kelamaan karena respon masyarakat begitu baik di Lebak tuh, anak-anaknya sopan sekali, pak ustadz, stake holdernya juga ngebantuin kita banget, makanya betah banget disana tuh kayak keluarga baru yah. Nah akhirnya alasan kita kenapa lanjut di Lebak kita mau

mengembangkan yang lebih besar lagi ga cuma menyentuh anak-anaknya tapi kita mau memberdayakan masyarakatnya. Orangtua disana, masyarakat disana. Sebelumnya masyarakat masih agak susah menerima orang baru tapi semenjak ada ISBANBAN sudah hampir 8 tahun ini masyarakat yang di Lebak sekarang sama orang baru tuh respon, senang ada hal-hal baru, karena akhirnya terbuka gitu, masyarakat terbuka sama yang namanya pendidikan.

Dulu orangtua masih mikir bahwa pendidikan cukup SMP aja lah nanti bantuin emak atau bapak untuk nyawah. Tapi sekarang karena ada ISBANBAN relawannya adalah para mahasiswa mahasiswi anaknya tuh punya mimpi untuk bisa kuliah. Secara tidak langsung anak-anak punya mimpi untuk kuliah. Kak pengen kuliah kayak kakak, gimana caranya kak kalau mau kuliah. Kan kita bilang harus kuliah sampaii SMA nanti kuliah nanti kita beasiswa jadi lama-lama anak-anaknya ke trigger ke dorong untuk minat lanjut sekolah itu ada, dan akhirnya lama-lama orangtua juga ke dorong oh iya yah anak saya tuh bisa sekolah bisa sampai tinggi itu karena kakak ISBANBAN juga bisa. Jadi akhirnya kehadiran kami disana ngebuat masyarakat jadi makin pede bahwa pendidikan itu ga mahal, pendidikan itu bisa tinggi kalau orangtuanya yakin. Nah itu yang buat kita akhirnya bertahan bahwa kita nih bisa nih memberdayakan masyarakat jadi sempat coba kita pikirkan gimana caranya kita bikin program pemberdayaan untuk masyarakat. Kayak bikin bisnis unit lah, kita sempat bikin kripik disana jadi entar di kelola sama masyarakat jadi penghasilan tambahan masyarakat supaya nanti ketika ada penghasilan tambahan mereka atau orangtuanya bisa ngebiayain anak bisa sekolah sampai SMA atau lanjut kuliah gitu.

Harapannya gitu jadi kita ga cuma pengen menyentuh anak-anak, kita pengen menyentuh pemberdayaan ekonomi masyarakatnya. Supaya apa?

Supaya masalah yang selama ini tuh di hadapi di Sanding itu kan masalahnya adalah kekurangan ekonomi, keterbatasan ekonomi. Jadi kita

Supaya masalah yang selama ini tuh di hadapi di Sanding itu kan masalahnya adalah kekurangan ekonomi, keterbatasan ekonomi. Jadi kita