• Tidak ada hasil yang ditemukan

KERANGKA KONSEP 3.1. Kerangka Konsep

METODE PENELITIAN 4.1. Desain Penelitian

5.3. Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini menggunakan instrumen kuesioner yang memiliki kelemahan, yaitu

a. Responden tidak teliti dalam

menjawab sehingga ada

pertanyaan yang terlewati dan tidak dijawab, hal ini dapat diatasi dengan menggunakan metode wawancara. Namun

tetap saja memiliki kelemahan, yaitu pada saat peneliti telah

mewawancarai beberapa

responden dalam satu waktu dan mengalami kelelahan.

b. Peneliti dapat melakukan

kesalahan dalam bertanya sehingga responden tidak

mengerti maksud dari

pertanyaan yang diajukan. Selain itu kesalahan dapat terjadi pada saat responden tidak ingin menjawab salah satu atau beberapa pertanyaan dalam proses wawancara.

c. Banyak responden yang

menolak mengisi kuesioner dengan alasan sibuk, banyak pekerjaan, tidak mengerti, tidak bisa membaca dan alasan lainnya.

d.

Responden tidak tinggal dalam satu wilayah sehingga proses pengumpulan data berlangsung

lama, dan responden biasanya dapat ditemui pada waktu

malam hari sehingga pengumpulan data sulit

dilakukan.

KESIMPULAN

a. Distribusi usia responden, mayoritas adalah kelompok usia < 20 tahun yaitu, sebanyak 47,9%

b. Distribusi pendidikan

responden, mayoritas adalah kelompok responden dengan pendidikan terakhir SD yaitu, sebanyak 45,8%

c. Distribusi status perkawinan responden, mayoritas adalah kelompok responden dengan

status perkawinan belum

menikah yaitu, sebanyak

d. Distribusi responden berdasarkan lama bekerja

sebagai PSK adalalah

kelompok responden mayoritas dengan lama bekerja dibawah 6 bulan yaitu, sebanyak 47,9%.

e. Distribusi responden

berdasarkan pemakaian

kondom adalah kelompok

responden mayoritas yang tidak menggunakan kondom yaitu, sebanyak 62,5%

f. Distribusi responden

berdasarkan tingkat

pengetahuan, mayoritas

terdapat pada tingkat

pengetahuan buruk yaitu

39,6%, tingkat pengetahuan responden dengan kategori

kurang sebanyak 35,4%,

tingkat pengetahuan responden

dengan kategori cukup

sebanyak 25%, dan tingkat pengetahuan baik adalah 0%.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. (2007). Manajemen Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta.

Budiman, C. (1995). Pengantar Statistika Kesehatan. Jakarta : EGC.

Budiantoro, E. (2004). Metodologi Penelitian Kedokteran : Sebuah Pengantar. Jakarta : EGC.

Daili, S.F., Makes, W. I. B., Zubier, F. (2011). Infeksi Menular Seksual, edisi 2, Jakarta : Badan Penerbit Fakultas Kedokteran UI.

Djuanda, A., Hamzah, M., Aisyah, S. (2007). Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta : Balai

Penerbit Fakultas Kedokteran UI. Fitriani, S. (2011). Promosi Kesehatan. Yogyakarta. Graha Ilmu Hidayat, A. L. (2010). Metode Penelitian Kebidanan dan

Teknik Analisa Data.

Jakarta. Salemba Medica Humairo, H., Anwar, D., Andriani, K.

(2011-2014). Gambaran

Pengetahuan dan Sikap

Wanita Tuna Susila

mengenai Infeksi Menular Seksual. Jurnal Pendidikan Bidan. (diakses tanggal 6 November 2014).

Istiyanto, S. B. (2007). Menguak

Konsep Diri Perempuan

Pelacur di Lokalisasi Wisata Batu Raden. Skripsi : dipublikasikan.

Kartono, K. (2011). Patologi Sosial – (Jilid I). Jakarta : PT Raya Grafindo Persada.

Lina, N. (2011). Faktor-Faktor Resiko Kejadian Gonore. Prosiding

Seminar Nasional “Peran

Kesehatan Masyarakat

dalam Pencapaian MDG’s di Indonesia”. 12 April

2011. FKM Universitas

Siliwangi.

Murtiastutik, D. (2008). Buku Ajar Infeksi Menular Seksual.

Surabaya. Airlangga

University Press.

Notoatmodjo, S. (2007). Konsep

Perilaku Kesehatan :

Promosi kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta : Rineka Cipta.

Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi

Penelitian Kesehatan.

Jakarta : Rineka Cipta. Sari, P. K., Muslim, H. M., Ulfah, S. (2012). Kejadian Infeksi Gonore pada Pekerja Seks Komersial. Jurnal buski. Volume 4, no 1, hal. 29-35. (Diakses pada tanggal 11 November 2014).

Subekti, H. (2011). Upaya Menanggulangi Pelacuran

sebagai Penyakit

Masyarakat. Jurnal Ilmiah Inkoma. Volume 22 no. 2. (Diakses pada tanggal 11 November 2014).

Sastroasmoro, S., Ismael, S. (2014).

Dasar-Dasar Metodologi

Penelitian Klinis. Jakarta : Sagung Seto.

Sugibastuti. Koencoro. (1999).

Pelacur, Wanita Tuna

Susila, dan “Apa Lagi?”.

Humaniora no. 11. hal 30-34.

Sugiono. (2010). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan

R & D. Bandung.

ALFABETA, cv.

Swajana, I. K. (2012). Metodologi

Penelitian Kesehatan :

Tujuan Praktis Pembuatan

Proposal Penelitian.

Pengaruh Pemberian Rhodamin B Terhadap Struktur Histologis Ginjal Mencit Putih (Mus musculus L.)

Argun Widarsa

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam

Abstract

Rhodamine B is synthetic textile dye that currently still used for food coloring. Thus, it is important to analyse the effect of the substance on health. It was aimed to identify the histological structure changes of the mice kidney caused by Rhodamin B. This research was used experimental method with Completely Randomized Design in factorial pattern consisting of two factors such as dose of (0; 3.5; 7.0 and 14 mg/g body weight) and duration of treatment (0; 7; 14 and 21 days). The result showed that of dose and duration of treatment Rhodamin B have significant effect on the percentages of glomerular damage, and so did the interactions of both factors. Histological analysis showed the presence of narrowing of bowman space in glomerular, hipertrophy, necrosis and serosis of the tubules. The higher dose and the longer duration of treatment of Rhodamin B, the more serious of structural damages of kidney.

Pendahuluan

Penambahan zat warna dalam

makanan, minuman, serta bumbu masak mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap selera dan daya tarik konsumen. Penyalahgunaan pewarna buatan yang tidak diizinkan untuk digunakan sebagai zat pewarna makanan sudah lama dilakukan.

Salah satu contohnya adalah

penggunaan bahan pewarna

Rhodamin B, yaitu zat pewarna yang lazim digunakan dalam industri tekstil dan berbahaya bila digunakan sebagai pewarna makanan (Depkes RI, 2006).

Konsumsi Rhodamin B

secara terus menerus dapat

menyebabkan kanker hati dan

kerusakan ginjal (Sugiyatmi, 2006). Rhodamin B bersifat karsinogenik yang ditandai dengan gejala adanya pembesaran hati, ginjal, dan limfa diikuti perubahan anatomi berupa pembesaran organnya (Anggraini, 2008).

Ginjal merupakan organ ekskresi utama yang sangat penting untuk mengeluarkan sisa-sisa metabolisme tubuh, termasuk zat-zat toksik yang tidak sengaja masuk ke dalam tubuh akibatnya ginjal menjadi salah satu organ sasaran utama dari efek toksik. Urin sebagai jalur utama ekskresi, dapat mengakibatkan ginjal memiliki

volume darah yang tinggi,

mengkonsentrasikan toksikan pada filtrat, membawa toksikan melalui sel tubulus dan mengaktifkan toksikan tertentu (Guyton, 1995). Oleh sebab itu, penelitian ini penting dilakukan untuk mengetahui efek pemberian Rhodamin B terhadap perubahan struktur histologis ginjal mencit.

Metode Penelitian

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan

Januari sampai Maret 2014 di

Laboratorium Struktur

Perkembangan Hewan Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas, Padang.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan adalah 48 ekor mencit putih jantan umur 3-4 bulan dan berat badan rata-rata 20-40 g, pellet sebagai pakan, Rhodamin B (serbuk), larutan

fisiologis, larutan Bouin’s, alkohol seri

70-100%, parafin keras, aquades, xilol, hematoxilin-eosin, Meyer’s albumin, dan entelan. Alat yang digunakan adalah kandang untuk pemeliharaan mencit, spuit ukuran 3 ml, tempat air minum, timbangan analitik, gelas ukur dan pengaduk, alat bedah (skapel, pinset, gunting, jarum), bak pewarna, kertas label, mikrotom, mikroskop histologis, kaca objek, kaca penutup dan inkubator 35 C.

Cara Kerja

Perlakuan : Mencit dibagi secara acak menjadi 4 kelompok, yaitu kelompok kontrol negatif, dosis I, dosis II dan dosis III. Kelompok dosis diberikan Rhodamin B masing-masing 3,5 mg/gBB, 7 mg/gBB, dan 14 mg/gBB. Mencit diberikan nutrisi yang sama secara ad libitum. Rhodamin B diberikan secara oral dengan frekwensi pemberian 1x sehari selama 7, 14 dan 21 hari. Penentuan dosis sesuai dengan

penelitian Rhodamin B sebelumnya

terhadap organ hati (Rahardi, 2009).

Pembuatan Larutan Rhodamin B :

Rhodamin B ditimbang dan dilarutkan dalam 125 ml aquadest dengan masing-masing konsentrasi sesuai dengan dosis dalam perlakuan.

Pengambilan jaringan dan penimbangan berat ginjal : Mencit dikorbankan pada hari ke-8, 15, dan 22 dengan cara dislokasi leher, lalu diambil organ ginjalnya dan ditimbang beratnya.

Pembuatan preparat : Pembuatan preparat

menggunakan metode parafin dengan

pewarnaan HE (Hematoksilin Eosin)

(Suntoro, 1983).

Pengamatan: Data kuantitatif berupa

sedangkan data kualitatif dilihat

perubahan yang terjadi pada

glomerulus, tubulus proksimal dan tubulus distal dan dideskripsikan. Analisis Data

Persentase glomerulus yang rusak dianalisa secara statistik dengan Uji

ANOVA. Jika hasil analisis

bermakna maka dilanjutkan dengan uji Duncan New Multiple Range Test (DNMRT) 5 %. Hasil dari foto-foto mikroskopis organ ginjal dianalisa secara deskripsif (data kualitatif).

Hasil dan Pembahasan

Persentase Kerusakan Glomerulus Ginjal

Mencit (%)

Hasil analisis persentase kerusakan

glomerulus ginjal mencit

menunjukkan bahwa faktor dosis, lama pemberian dan interaksi antara kedua faktor memberikan pengaruh

yang berbeda nyata terhadap

persentase kerusakan glomerulus (Tabel 1).

Pemberian Rhodamin B

dengan dosis yang bertingkat dapat meningkatkan persentase kerusakan glomerulus ginjal mencit. Hal ini

dikarenakan Rhodamin B yang

bersifat toksik dan dapat memberikan efek yang semakin tinggi seiring dengan meningkatnya dosis yang

diberikan. Hanifah (2008)

menyatakan bahwa bahan-bahan

yang bersifat toksik akan mudah menyebabkan kerusakan jaringan ginjal dalam bentuk perubahan struktur dan fungsi ginjal. Suhenti (2007) menyatakan bahwa seperti halnya hati, ginjal juga rawan terhadap zat-zat kimia sehingga zat kimia yang terlalu banyak berada di dalam ginjal akan mengakibatkan kerusakan sel.

Pada Tabel 1 persentase kerusakan glomerulus pada lama pemberian 0 hari sebesar 36,354 %

dan semakin meningkat pada lama

pemberian 21 hari sebesar 60,876 % (efek tertinggi). Apabila paparan zat toksik pada sel cukup lama atau berlangsung lama, maka sel akan mencapai suatu titik hingga sel tidak dapat lagi mengkompensasi dan tidak dapat melanjutkan metabolisme (Susanti, 2009).

Tabel 1. Hasil analisis rata-rata persentase kerusakan glomerulus ginjal mencit yang diberi Rhodamin B dengan dosis dan lama pemberian tertentu

Perlakuan Lama pemberian

Rata-rata Dosis Rhodamin B B0 (0 hari) B1 (7 hari) B2 (14 hari) B3 (21 hari)

A0 (0 mg/gBB) 5.629 f 6.313 f 11.820 f 35.797 e 14.890 d

A1 (3.5 mg/gBB) 35.383 e 52.831 c 53.106 c 37.262 e 44.645 c

A2 (7 mg/gBB) 48.000 d 59.124 c 63.111 c 77.293 c 61.882 b

A3 (14 mg/gBB) 56.403 c 81.953 c 78.360 b 93.152 a 77.467 a

Rata-rata 36.354 c 50.055 bc 51.599 b 60.876 a

Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf kecil yang sama pada kolom dan baris menunjukkan pengaruh yang tidak berbeda nyata pada uji taraf 5 %

Dosis dan lama pemberian Rhodamin B juga menunjukkan rata-rata persentase kerusakan ginjal mencit sebanding dengan semakin tingginya perlakuan dosis dan lama perlakuan yang diberikan. Paparan dosis Rhodamin B yang bersifat toksik dalam jangka waktu yang cukup lama dapat mempengaruhi

fungsi glomerulus. Filtrasi

glomerulus adalah inti yang paling penting dari fungsi ginjal (Guyton, 1994). Bahan toksik dalam hal ini Rhodamin B akan mempengaruhi daya filtrasi glomerulus, sehingga daya saring menjadi berkurang (Ressang, 1963).

Pengamatan Mikroskopis Organ Ginjal

Pemeriksaan preparat histologis

terhadap ginjal ditemukan

peningkatan kerusakan pada ginjal seiring dengan meningkatnya dosis dan lama yang diberikan (Gambar 1-4). Pada dosis 0 mg/g BB dengan lama 0, 7 dan 14 hari belum terlihat kerusakan pada organ, sedangkan pada lama pemberian 21 hari sudah terlihat kerusakan yaitu pengecilan beberapa ruang bowman (Gambar 1).

Ditemukannya kerusakan glomerulus pada kelompok kontrol hari ke-21 kemungkinan disebabkan oleh keadaan stres pada mencit. Hal ini sesuai dengan pendapat Seely (1999) yang menyatakan salah satu faktor pemicu timbulnya kerusakan glomerulus adalah stres.

Salah satu bentuk kerusakan pada ginjal terlihat adanya penyempitan pada

ruang bowman. Penyempitan ruang

bowman disebabkan terjadinya peradangan glomerulus ataupun proliferasi dari epitel kapsul bowman (Price, 1992).

Menurut Bevelander dan Ramaley (1998) perubahan yang terjadi pada

glomerulus dan kapsula akan

mengakibatkan terganggunya fungsi

produksi filtrat dan kontrol komposisi filtrat sendiri, sementara perubahan pada tubula

mengakibatkan terganggunya proses

reabsorbsi daripada filtrat.

Pada dosis 3,5 ; 7 dan 14 mg/g BB

dengan lama pemberian bervariasi

ditemukan adanya tubulus yang mengalami hipertropi (Gambar 2-4). Nefron ginjal akan mengalami hipertropi apabila mendapat beban kerja yang besar. Hipertropi pada

nefron ini dapat terjadi karena

menggantikan fungsi nefron lain yang telah hancur dan rusak, sehingga hemostatis tubuh tidak terganggu meskipun sejumlah

nefron yang lain telah rusak (Arifin et al., 2004).

Jenis kerusakan lainnya pada sayatan ginjal mencit adalah nekrosis

dan serosis. Nekrosis adalah

hilangnya membran sel dan

sitoplasma pecah membentuk

partikel. Nekrosis sel dicirikan oleh sitoplasma yang terlihat lebih eusinofilik disertai penggumpalan kromatin inti dengan inti mengecil dan lebih basofilik (Cheville, 2006). Nekrosis adalah tingkat kerusakan tubulus yang lebih tinggi setelah terganggunya permeabilitas membran

dengan adanya bengkak keruh

kemudaian diikuti oleh lisis (Marusin et al., 2001). Nekrosis ditandai dengan penyerapan warna oleh inti yang berkurang, serta terlepasnya

sel-sel tubulus kedalam lumen.

Sedangkan serosis merupakan

kematian sel yang bersifat parah dan dapat meluas yang ditandai dengan hilangnya inti sel atau kekosongan pada jaringan dimana jaringan tersebut digantikan oleh jaringan

parut (jaringan ikat) yang

sebelumnya mengalami lisis dan nekrosis.

Kesimpulan

Dosis dan lama pemberian Rhodamin B pada mencit memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase kerusakan glomerulus. Hasil analisis

histologis ginjal mencit

memperlihatkan adanya tingkat

kerusakan pada komponen penyusun ginjal yang meningkat seiring tingginya dosis dan lama pemberian. Kerusakan yang ditemukan berupa penyempitan ruang bowman pada glomerulus, hipertropi, nekrosis dan serosis tubulus.

Daftar Pustaka

Anggraini, S. 2008. Keamanan

Pangan

Kaitannya dengan

PenggunaanBahan Tambahan dan Kontaminan.

Fakultas TeknikPertanian

Universitas GajahMada.Yogyakarta

Arifin, H., Y. S. Rahmi, dan N. Marusin. 2004. Kajian Toksisitas Ekstrak Etanol Daun Kompri (Symphytum officinale L). Jurnal Sains dan Teknologi Farmasi, 9 (1) : 28-35. Bevelander, G dan J. A. Ramaley. 1998.

Dasar-Dasar Histologi (Edisi 8).

Terjemahan Wisnu Gunarso.

Erlangga. Bandung.

Cheville, N. F. 2006. Introduction to Veterinary Pathology. 3rd Ed. Blackwell Publishing. USA.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

2006. Bahaya Penggunaan

Rhodamine B sebagai Pewarna Makanan. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. Guyton, A. C. 1994. Buku Ajar Fisiologi

Kedokteran. Edisi 7. Kedokteran EGC. Jakarta

Guyton, A.C. 1995. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit (Edisi 3). Terjemahan P. Andrianto. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. Hanifah, L. 2008. Pengaruh Pemberian

Buah Pepaya (Carica papaya. L) Terhadap Tingkat Nekrosis Epitel Glomerulus dan Tubulus Ginjal Mencit (Mus musculus) yang

diInduksi CCL4 (Karbon

Tetraklorida). [Skripsi]. Universitas Islam Negeri Malang. Malang. Marusin, N., W. Munir dan Febrina. 2001.

Pengaruh Lama Pemaparan Pb

Terhadap Gambaran Histologi

Ginjal Mencit Putih (Mus musculus L). Jurnal Matematika dan Pengetahuan Alam, 10 (1). 4-5.

Price, S.A. dan L. M. Wilson. 1992.

Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Buku 2. (Edisi 4).

Terjemahan P. Anugerah. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta

Rahardi, A. S. 2009. Pengaruh Pemberian

Rhodamin B terhadap

Struktur

Histologis Sel Hati

Mencit. [Skripsi]. Universitas Sebelas Maret. Surakarta. Ressang, A. A. 1963. Patologi Chusus Veteriner. Departemen Urusan

Research National Republik Indonesia. Jakarta.

Seely, J. C. 1999. Kidney. Di dalam: Maronpot RR, Gary

AB, Beth WG, editor.

Pathology of The Mouse. USA: Cache River Press. hlm. 207-226.

Sugiyatmi, S. 2006. Analisis Faktor-faktor Resiko Pencemaran Bahan Toksik Borak dan

Pewarna pada Makanan

Jajanan Tradisional yang dijual di pasar-pasar kota

Semarang. [Tesis].

Universitas Diponegoro.

Semarang.

Suhenti, R. 2007. Pengaruh Tepung

Tempe Terhadap Jaringan Kanker Mamma Dan Gambaran Mikroanatomi Ginjal Mencit (Mus musculus) Galur C3H Yang Ditransplantasi Sel Adenocarcinoma mammae.

[Skripsi]. UNNES. Semarang.

Suntoro. 1983. Metode Pewarnaan Histologi dan Histokimia.

Bhatara Karya Aksara.

Jakarta.

Susanti, D. R. 2009. Pengaruh Pemberian Ekstrak Etanol Temulawak

(Curcuma xanthorrhiza roxb.) pada

Gambaran Histopatologi Ginjal

Ayam Petelur. [Skripsi]. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Uji Daya Hambat Air Perasan Buah Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia s.) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus Aureus Secara In Vitro

Abu Dzarrim Al Ghifari

Program Studi Farmasi STIKes MEDISTRA Lubuk Pakam

Abstract

Lime (Citrus aurantifolia S.) is kind of family’s herbal medicine, most using in the community is widely used as a traditional herb. The most common used part is the lime fruit squeeze with one of the function is used for removing acne and wound healing to prevent the form of abscess. Pimples and abscesses of the wound is one of the infections caused by the bacterium Staphylococcus aureus.

The purpose of this study was to determine the inhibition of lime fruit (Citrus aurantifolia S.) squeeze towards the growth of the bacteria Staphylococcus aureus in vitro condition. The study was conducted with laboratory experimental methods to the design of control group design postest only performed at the Laboratory of Microbiology Faculty of Medicine, University of Andalas.

The results showed that the lime fruit (Citrus aurantifolia S.) squeeze has the ability to inhibite the bacterial growth of Staphylococcus aureus with various concentrations of 25%, 50%, 75%, and 100% and there is the effect of contact time on the growth of bacteria which the bacteria do not grow after contact the first 5 minutes and the next minute followed by lime fruit squeeze with 100% concentration lime fruit squeeze. Thus, the higher the concentration of lime fruit squeeze and the longer the contact with the bacteria Staphylococcus aureus is the better towards.

Pendahuluan

Jeruk nipis (Citrus aurantifolia S.) merupakan salah satu tanaman toga yang di gunakan pada masyarakat, baik untuk bumbu masakan maupun untuk obat-obatan dari bagian perasan air buah jeruk nipisnya. Untuk obat, jeruk nipis digunakan sebagai penambah

nafsu makan, penurun panas

(antipireutik), diare, menguruskan badan, antiinflamasi, dan antibakteri.(1,2)

Efek air perasan buah jeruk nipis sebagai antibakteri dapat menghambat pertumbuhan bakteri Eschericiacolli,Streptococcushaemolyti cus,dan Staphylococcus aureus. Salah satu bakteri yaitu Staphylococcus aureus, merupakan bakteri jenis gram positif yang diperkirakan 20-75% ditemukan pada

saluran pernapasan atas, muka, tangan, rambut dan vagina. Infeksi bakteri ini dapat menimbulkan penyakit dengan

tanda-tanda yang khas, yaitu

peradangan, nekrosis, tampak sebagai jerawat, infeksi folikel rambut, dan pembentukan abses. Diantara organ yang sering diserang oleh bakteri Staphylococcus aureus adalah kulit yang mengalami luka dan dapat menyebar ke orang lain yang juga mengalami luka.(2-6)

Lesi yang ditimbulkan oleh bakteri Staphylococcus aureus dapat dilihat pada abses lesi ataupun jerawat. Bakteri menginvasi dan berkembang biak dalam folikel rambut yang

menyebabkan kematian sel atau

nekrosis pada jaringan setempat.

Selanjutnya diikuti dengan

penumpukan sel radang dalam rongga tersebut. Sehinggga terjadi akumulasi

penumpukan pus dalam rongga.

Penumpukan pus ini mengakibatkan terjadinya dorongan terhadap jaringan sekitar dan terbentuklah dinding-dinding oleh sel-sel sehat sehingga terbentuklah abses. Bakteri ini juga akan bisa menyebar ke bagian tubuh yang lain lewat pembuluh getah bening

dan pembuluh darah, sehingga terdapat

juga peradangan dari vena dan

trombosis.(6,7)

Pengobatan akibat infeksi Staphylococcus aureus dapat diberi antibiotik berupa Penisilin G atau derivat penisilin lainnya, namun pada infeksi yang berat diduga sudah ada beberapa yang telah resisten terhadap penisilin. Akibat timbulnya resistensi dari antibiotik, maka saat ini telah dilakukan pengujian efek tanaman obat

antaranya jeruk nipis sebagai

antibakteri. Hasil penelitian

menunjukan bahwa minyak atsiri daun

jeruk nipis mempunyai aktivitas

hambatan terhadap pertumbuhan

Staphyloccus

aureus pada kadar 20%, 40% dan 80% serta Escherichia coli pada kadar 40% dan 80%.(7,8)

Berdasarkan hasil penelitian, minyak atsiri pada daun jeruk nipis yang menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus, juga terdapat pada air perasan buah jeruk nipis. Selain itu juga, dengan mengetahui adanya kebiasaan ditengah masyarakat, mengenai penggunaan air perasan buah jeruk nipis dalam upaya menghilangkan jerawat serta penyembuhan luka agar tidak terjadi abses, dimana salah satu penyebabnya Staphylococcus aureus. Mengetahui adanya efek antibakteri air perasan buah jerk nipis yang telah diuji pada beberapa kuman patogen, maka dari itu penulis tertarik untuk melakukan uji daya hambat buah jeruk

nipis terhadap pertumbuhan

Staphylococcus aureus secara invitro. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui daya hambat air perasan buah jeruk nipis (Citrus aurantifolia S.) terhadap pertumbuhan bakteri

Metode

Penelitian dilakukan di

Laboraturium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas pada bulan Oktober 2011 - September 2012. Penelitian ini bersifat eksperimental dengan desain

Postest Only Control Group Design. Variabel adalah air perasan buah jeruk nipis dengan berbagai konsentrasi yaitu 25%, 50%, 75%, dan 100% dan bakteri Staphylococus aureus. Alat yang digunakan adalah cawan petri, tabung reaksi, kertas saring, pelubang kertas, lem, jarum ose, lampu spiritus, pinset, gelas ukur, otoklaf, inkubator, spuiy dispossible, lidi kapas steril, mistar, pisau, dan talenan. Bahan yang digunakan adalah air perasan buah

jeruk nipis, biakan murni

Staphylococcus aureus, aquades steril, NaCl 0,9%, dan Alkohol 70%. Data hasil penelitian diolah secara statistik dengan metode Anova satu arah dengan derajat kepercayaan 95% (=0,05) dan bila didapat perbedaan nyata antar perlakuan maka akan dilanjutkan dengan Post Hoc Test dengan taraf

kesalahan 1%.

Hasil dan Pembahasan

Tabel 1. Hasil Uji daya hambat air

perasan buah jeruk nipis (Citrus aurantifolia S.) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus

Diameter bebas kuman Diamet er Konsentrasi (m m) bebas kuman rata-rata I II III Larutan Kontrol (Aquades 0 0 0 0 steril) 25% 5 5.167 5, 5 5 50% 6, 5 6,5 5,5 6,167 75% 8 8 6,5 7,5 100% 13 ,5 10 8 10,5

Dari Tabel 1. didapatkan bahwa pemberian air perasan buah jeruk nipis dengan konsentrasi berbeda memiliki daya hambat yang berbeda pula terhadap pertumbuhan

bakteri Staphylococcus aureus.

Perbedaan ini selanjutnya diuji dengan pengukuran statistik secara komputerisasi menggunakan program SPSS 15.0 for Windows. Berhubung data hasil penelitian yang didapatkan ternyata tidak memenuhi syarat uji annova satu arah. Untuk melanjutkan pengolahan, data ditranformasi, tetapi ternyata data tidak dapat ditranformasi maka pengolahan data dilanjutkan dengan Kruskall Wallis Test. Hasil dpat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Perbandingan data stasitik

diameter hambatan air perasan buah jeruk nipis (Citrus aurantifolia S.)

terhadap pertumbuhan bakteri

Staphylococcus aureus dengan menggunakan Mann-Whitney Test

No. Variabel Konsentrasi

Konsentrasi P lainnya 50% 0,068 1. 25% 75% 0,043 Konsentrasi 100% 0,046 air perasan 75% 0,099 2. buah jeruk 50% nipis 100% 0,046 3. 75% 100% 0,105

Hasil uji statistik didapatkan nilai p=0,022 (p<0,05) yang berarti bahwa perbedaan yang bermakna antara konsentrasi yang diberikan dengan daerah bebas bakteri yang dihasilkan, sehingga pengolahan data dilanjutkan dengan Mann-Whitney Test. Hasil yang didapatkan adalah terdapat perbedaan yang bermakna antara pemberian konsentrasi 25% dengan 75% , 25% dengan 100%, dan 50% dengan 100%. Terlihat bahwa tidak terdapatnya perbedaan bermakna antara pemberian konsentrasi 25% dengan 50%, 50% dengan 75%, dan 75% dengan 100%, dimana hal tersebut dapat dimungkinkan karena

adanya perbedaan kadar zat

antibakteri dan tingkat keasaman yang tidak memiliki perbedaan yang bermakna antara konsentrasi.

Tabel 3. Pengaruh lama kontak dari air

perasan buah jeruk nipis (Citrus aurantifolia S.) konsentrai 100% terhadap pertumbuhan bakteri

Dokumen terkait