• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian

3.7. Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan penelitian mencakup uraian tentang keterbatasan dan hambatan yang ditemui dalam penelitian baik yang berkaitan dengan metode dan tehnik

penulisan yang digunakan maupun keterbatasan peneliti sendiri. Keterbatasan dalam penelitian ini disebabkan karena terbatasnya kemampuan dan pengalaman yang dimiliki oleh peneliti untuk melakukan kegiatan penelitian ilmiah.

Selain itu, peneliti juga belum menguasai secara penuh tehnik dan metode penelitian sehingga dapat menjadi keterbatasan dalam menyajikan dan mengolah data. Akan tetapi kendala tersebut dapat diatasi melalui proses bimbingan skripsi dan peneliti berusaha mencari informasi dari berbagai sumber yang mendukung penelitian ini.

Walaupun terdapat berbagai keterbatasan, peneliti tetap berusaha semaksimal mungkin dalam mengumpulkan informasi dari responden serta informasi yang diperoleh dapat dipertanggung jawabkan validitasnya.

BAB IV

HASIL DAN ANALISA PENELITIAN 4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian

Penelitian ini berada di wilayah kelurahan Jati, Kecamatan Medan Maimun Propinsi Sumatera Utara dengan ibukota adalah kota Medan. Pada zaman dahulu Kota Medan ini dikenal dengan nama Tanah Deli dan keadaan tanahnya berawa-rawa kurang lebih seluas 4000 Ha. Beberapa sungai melintasi Kota Medan ini dan semuanya bermuara ke Selat Malaka. Sungai-sungai itu adalah Sei Deli, Sei Babura, Sei Sikambing, Sei Denai, Sei Putih, Sei Badra, Sei Belawan dan Sei Sulang Saling/Sei Kera. http://www.pemkomedan.go.id/images/orang_payung.jpgPada mulanya yang membuka perkampungan Medan adalah Guru Patimpus lokasinya terletak di Tanah Deli, maka sejak zaman penjajahan orang selalu merangkaikan Medan dengan Deli (Medan–Deli). Setelah zaman kemerdekaan lama kelamaan istilah Medan Deli secara berangsur-angsur lenyap sehingga akhirnya kurang popular.

Dahulu orang menamakan Tanah Deli mulai dari Sungai Ular (Deli Serdang) sampai ke Sungai Wampu di Langkat sedangkan Kesultanan Deli yang berkuasa pada waktu itu wilayah kekuasaannya tidak mencakup daerah diantara kedua sungai tersebut.Secara keseluruhan jenis tanah di wilayah Deli terdiri dari tanah liat, tanah

penelitian dari Van Hissink tahun 1900 yang dilanjutkan oleh penelitian Vriens tahun 1910 bahwa disamping jenis tanah seperti tadi ada lagi ditemui jenis tanah liat yang spesifik. Tanah liat inilah pada waktu penjajahan Belanda ditempat yang bernama Bakaran Batu (sekarang Medan Tenggara atau Menteng) orang membakar batu bata yang berkwalitas tinggi dan salah satu pabrik batu bata pada zaman itu adalah Deli Klei.

Mengenai curah hujan di Tanah Deli digolongkan dua macam yakni : Maksima Utama dan Maksima Tambahan. Maksima Utama terjadi pada bulan-bulan Oktober s/d bulan Desember sedang Maksima Tambahan antara bulan Januari s/d September. Secara rinci curah hujan di Medan rata-rata 2000 pertahun dengan intensitas rata-rata 4,4 mm/jam. Menurut Volker pada tahun 1860 Medan masih merupakan hutan rimba dan disana sini terutama dimuara-muara sungai diselingi pemukiman-pemukiman penduduk yang berasal dari Karo dan semenanjung Malaya. Pada tahun 1863 orang-orang Belanda mulai membuka kebun Tembakau di Deli yang sempat menjadi primadona Tanah Deli. Sejak itu perekonomian terus berkembang sehingga Medan menjadi Kota pusat pemerintahan dan perekonomian di Sumatera Utara.

Kota Medan memiliki luas 26.510 hektar (265,10 km²) atau 3,6% dari keseluruhan wilayah Sumatera Utara. Dengan demikian, dibandingkan dengan kota/kabupaten lainya, Medan memiliki luas wilayah yang relatif kecil dengan jumlah penduduk yang relatif besar. Secara geografis kota Medan terletak pada 3° 30' – 3° 43' Lintang Utara dan 98° 35' - 98° 44' Bujur Timur. Untuk itu topografi kota Medan

cenderung miring ke utara dan berada pada ketinggian 2,5 - 37,5 meter di atas permukaan laut.

Secara administratif, batas wilayah Medan adalah sebagai berikut:

- Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Malaka

- Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang - Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang - Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang

Kota Medan memiliki beberapa kecamatan, salah satu diantaranya adalah Kecamatan Medan Maimun. Sebelum pemekaran Kecamatan Medan Maimun dahulu bergabung dengan Kecamatan Medan Baru. Tahun 1988 terjadi pemekaran di Kotamadya Medan. Maka berdirilah Kecamatan Medan Maimun. Kecamatan Medan Maimun ini terdapat bangunan peninggalan sejarah kejayaan Kesultanan Deli masa dahulu yaitu Istana Maimun yang terletak di Kelurahan Sukaraja.Walaupun bukan sebagai daerah pusat industri di Kecamatan Medan Maimun ini juga terdapat beberapa Industri sebagai Potensi dan Produk Unggulan, seperti Konveksi Pakaian Jadi, Roti Bika Ambon, Anyaman Rotan, Perabot rumah tangga dari kayu, Sepatu, Syrup marquisa, Kerupuk.

Kecamatan Medan Maimun terletak di wilayah Selatan Kota Medan dengan batas-batas sebagai berikut :

- Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Medan Johor - Sebelah Baratberbatasan denganKecamatan Medan Polonia

- Sebelah Timurberbatasan denganKecamatan Medan Kota

Kecamatan Medan Maimun mempunyai beberapa kelurahan diantaranya adalah Kelurahan Sukaraja, Kelurahan AUR, Kelurahan Jati, Kelurahan Hamdan, Kelurahan Sei Mati, dan Kelurahan Kampung Baru. Kelurahan Jati pada awalnya adalah sebuah kebun sayur yang juga ditumbuhi oleh pepohonan jati yang rimbun sehingga melindungi tanaman sayur warga dari sinar matahari secara langsung yang dapat merusak tanaman sayur tersebut. Menurut pengakuan ibu Masni, salah seorang warga kelurahan Jati yang telah tinggal sejak tahun 1950 sampai sekarang, kelurahan jati memang dahulunya banyak ditanamani pohon jati. Namun seiring dengan perkembangan zaman yang semakin modern kelurahan jati pun dimekarkan sehingga kelurahan jati yang cukup luas dipecah menjadi dua dengan kelurahan yang sekarang dikenal orang-orang dengan kelurahan Hamdan. Kelurahan Jati yang awalnya kebun sayur warga yang ditanami pohon jati dengan semakin banyaknya pendatang di kelurahan Jati maka semakin lama pepohonan jati sudah tidak dapat ditemukan di daerah kelurahan Jati. Banyak pula warga yang sudah tidak mengetahui asal mula dari kelurahan Jati tersebut.

Kelurahan Jati ini dapat dikatakan pemukiman kumuh atau slum area karena pemukiman kumuh ini merupakan pemukiman kumuh yang mendukung apabila dilihat dari kriteria sosial ekonomi, kriteria letak lokasi dan kriteria berdasarkan jenis dan aktifitas pekerjaan penduduk. Ditinjau dari kriteria sosial ekonomi, masyarakat

pada Kelurahan Jati memiliki pendidikan rendah yaitu penduduk tamatan sekolah menengah atas. Pemukiman ini merupakan pemukiman yang rawan terhadap banjir. Ditinjau dari kriteria letak lokasi, pemukiman ini berada pada lokasi yang berbahaya menurut rencana induk kota. Pemukiman kumuh ini sangat dekat dengan bantaran sungai. Ditinjau dari kriteria jenis dan aktifitas kelurahan jati, masyarakat ini memiliki jenis usaha berskala kecil dan tidak menentu jumlah jam kerjanya seperti kedai kopi dan warung yang menjual makanan ringan.

Kehidupan masyarakat pemukiman ini merupakan kehidupan masyarakat yang menarik. Hal tersebut dapat dilihat dari kehidupan mereka sehari-hari yaitu kepedulian dan solidaritas yang dimiliki masyarakat tersebut. Kepedulian dan solidaritas yang dimaksud adalah peduli terhadap kesulitan yang dihadapi orang lain, meringankan beban atau penderitaan orang lain. Masyarakat Kelurahan Jati ini memiliki alasan mengapa mereka tetap tinggal di pemukiman ini. Alasan mereka adalah pemukiman tempat tinggal mereka nyaman untuk dijadikan tempat tinggal, orang-orang yang berada di pemukiman ini adalah orang yang benar-benar peduli antara yang satu dengan yang lainnya.

Kelurahan Jati memiliki 5 lingkungan dan mempunyai batas wilayah sebagai berikut: - Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Hamdan

- Sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Sukadamai Medan Polonia

- Sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan Anggung Medan Polonia

1. Kependudukan

a. Jumlah penduduk berdasarkan Agama

Tabel 4.1

Agama Frekuensi Persen

Islam Kristen Protestan Katolik Hindu Buddha 868 390 310 36 187 48,5 21,8 17,3 2,0 10,4 Jumlah 1791 100

Sumber: Profil Kelurahan Jati Desember 2010

Berdasarkan tabel 4.1 mengenai jumlah penduduk berdasarkan agama dapat dilihat dari profil Kelurahan Jati Desember 2010 yaitu pada masyarakat Kelurahan Jati yang menganut Agama Islam adalah 868 orang dengan persentase 48,5%, masyarakat Kelurahan Jati yang menganut Agama Kristen Protestan adalah 390 orang dengan persentase 21,8 %, masyarakat Kelurahan Jati yang menganut Agama Katolik adalah 310 orang dengan persentase 17,3%, masyarakat Kelurahan Jati yang menganut Agama Hindu adalah 36 orang dengan persentase 2,0%, sedangkan masyarakat Kelurahan Jati yang menganut Agama Hindu adalah 187 orang dengan persentase 10,4%. Keanekaragaman dari segi agama tidak menjadi permasalahan dalam kehidupan masyarakat pemukiman kumuh ini. Keanekaragaman agama membuat masyarakat ini lebih mempunyai variasi di dalam kehidupan.

Variasi dalam kehidupan maksudnya adalah setiap agama pastinya memiliki perayaaan keagamaan mereka masing-masing, pada perayaan setiap agama ini menjadi bagian yang paling menyenangkan dikarenakan dapat mengetahui berbagai bentuk hari kebesaran agama tersebut. Selain itu, pada masyarakat ini tidak pernah mengalami konflik antaragama. Saling menghargai dan hidup rukun antaragama memang terjadi dalam masyarakat ini.

b. Jumlah penduduk berdasarkan pendidikan terakhir

Tabel 4.2

Pendidikan Terakhir Frekuensi Persen Sekolah Dasar SLTP SLTA S1 S2 S3 175 325 450 56 30 13 16,7 30,9 42,9 5,4 2,9 1,2 Jumlah 1049 100 Sumber: Profil Kelurahan Jati Desember 2010

Berdasarkan tabel 4.2 mengenai pendidikan terakhir yang diperoleh adalah masyarakat Kelurahan Jati yang pendidikan terakhirnya sekolah dasar adalah 175 orang dengan persentase 16,7%, masyarakat Kelurahan Jati yang pendidikan terakhirnya SLTP adalah 325 orang dengan persentase 30,9%, masyarakat Kelurahan Jati yang pendidikan terakhirnya SLTA adalah 450 orang dengan persentase 42,9%, masyarakat Kelurahan Jati yang pendidikan terakhirnya S1 adalah 56 orang dengan persentase 5,4%, masyarakat Kelurahan Jati yang pendidikan terakhirnya S2 adalah 30 orang dengan persentase 2,9%, sedangkan masyarakat Kelurahan Jati yang pendidikan

merupakan aspek terpenting di dalam kehidupan. Hal ini terlihat dari pendidikan terakhir yang diperoleh oleh masyarakat ini. Beraneka ragam pendidikan yang diperoleh tidak membuat masyarakat antara yang satu dengan yang lain untuk menyombongkan diri. Pendidikan yang diperoleh merupakan aspek yang dapat menolong antara masyarakat yang satu dengan yang lain. Hal demikian dapat terlihat dalam kehidupan mereka, misalnya untuk membuka usaha kecil masyarakat yang memiliki pendidikan lebih tinggi memberikan saran-saran dalam membuka usaha kecil mereka. Sehingga dalam pengelolaan usaha kecil mereka benar-benar terlaksana dengan baik. c. Jumlah penduduk berdasarkan suku

Tabel 4.3

Suku Frekuensi Persen

Batak Simalungun Karo Mandailing Dairi Nias Minang Aceh Jawa Keturunan 575 58 425 6 4 19 45 423 236 32,1 3,3 23,8 0,3 0,2 1,0 2,5 23,7 13,1 Jumlah 1791 100 Sumber: Profil Kelurahan Jati Desember 2010

Berdasarkan tabel 4.3 mengenai suku yang dimiliki masyarakat Kelurahan jati yaitu Suku Batak Simalungun adalah 575 orang dengan persentase 32,1%, masyarakat Kelurahan Jati yang sukunya Karo adalah 58 orang dengan persentase 3,3%, masyarakat Kelurahan Jati yang sukunya Mandailing adalah 425 orang dengan persentase 23,8%, masyarakat

Kelurahan Jati yang sukunya Dairi adalah 6 orang dengan persentase 0,3%, masyarakat Kelurahan Jati yang sukunya Nias adalah 4 orang dengan persentase 0,2%, masyarakat Kelurahan Jati yang sukunya Minang adalah 19 orang dengan persentase 1,0%, masyarakat Kelurahan Jati yang sukunya Aceh adalah 45 orang dengan persentase 2,5 %, masyarakat Kelurahan Jati yang sukunya Jawa adalah 423 dengan persentase 23,7 %, sedangkan masyarakat Kelurahan Jati yang sukunya Keturunan adalah 236 orang dengan persentase 13,1%. Tabel diatas merupakan hasil yang peneliti peroleh dari data kependudukan mengenai suku yang terdapat di Kelurahan Jati. Beraneka ragam suku-suku yang terdapat di kelurahan ini. Sewaktu peneliti melakukan observasi, peneliti melihat kehidupan di kelurahan ini adalah kehidupan yang nyaman. Hal tersebut dikarenakan tidak terdapat sedikit pun ketidaknyamanan antarsuku yang satu dengan yang lain. Kenyataan yang terlihat, suku yang satu dengan suku yang lain benar-benar memiliki kenyamanan dan saling bertenggang rasa di dalam kehidupan bertetangga. Sama sekali tidak memiliki rasa ketidaknyamanan di dalam kehidupan bertetangga.

2. Jumlah Lembaga Pendidikan

Tabel 4.4

Lembaga Pendidikan Frekuensi Persen

TK Sekolah Dasar SLTP Swasta SLTA Swasta Perguruan tinggi 4 5 2 1 1 25 31,2 12,5 6,3 6,3

Jumlah 16 100 Sumber: Profil Kelurahan Jati Desember 2010

Berdasarkan tabel 4.4 mengenai lembaga pendidikan yaitu Lembaga Pendidikan TK yang berada di Kelurahan Jati adalah 4 unit dengan persentase 25%, Lembaga Pendidikan Sekolah Dasar yang berada di Kelurahan Jati adalah 5 unit dengan persentase 31,2%, Lembaga Pendidikan SLTP Swasta yang berada di Kelurahan Jati adalah 2 unit dengan persentase 12,5%, Lembaga Pendidikan SLTA Swasta yang berada di Kelurahan Jati adalah 1 unit dengan persentase 6,3%, Lembaga Pendidikan Perguruan Tinggi yang berada di Kelurahan Jati adalah 1 unit dengan persentase 6,3 %, sedangkan Lembaga Pendidikan Non Formal adalah 3 unit dengan persentase 18,7%. Hal diatas merupakan lembaga pendidikan yang tersedia di kelurahan Jati. Lembaga pendidikan yang tersedia di Kelurahan ini merupakan lembaga pendidikan yang dipergunakan oleh masyarakat Kelurahan Jati. Masyarakat Kelurahan Jati mengecap pendidikan tidak perlu bersekolah jauh dari rumah mereka. Masyarakat yang memiliki anak sekolah khususnya sekolah dasar dapat dengan mudah memperhatikan anak-anak mereka. Jarak antara sekolah dengan rumah tidak jauh sehingga mempermudah orangtua dalam memperhatikan anak mereka.

3. Jumlah Rumah Ibadah

Tabel 4.5

Rumah Ibadah Frekuensi Persen

Mesjid Gereja Kuil 1 1 1 33,3 33,3 33,3 Jumlah 3 100

Berdasarkan tabel 4.5 mengenai rumah ibadah yang berada di Kelurahan Jati adalah Mesjid yang berada di Kelurahan Jati adalah 1 unit dengan persentase 33,3%, Gereja yang berada di Kelurahan Jati adalah 1 unit dengan persentase 33,3%, sedangkan Kuil yang berada di Kelurahan Jati adalah 1 unit dengan persentase 33,3%. Hal diatas merupakan fasilitas rumah ibadah yang berada di Kelurahan Jati. Rumah Ibadah seperti Mesjid merupakan rumah ibadah yang sangat dekat jaraknya dengan rumah-rumah masyarakat. Mayoritas agama di kelurahan ini adalah Islam sehingga terlihat dari rumah ibadah mereka yang bersih karena masyarakat tesebut benar-benar memelihara rumah ibadah mereka. 4.2. Penyajian Data

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada tahun 2011 di Kelurahan Jati, informasi yang diperoleh merupakan hasil kuesioner yang telah disebarkan kepada masyarakat pemukiman kumuh yang berada di Kelurahan Jati . Hasil penelitian yang ini akan ditabelkan melalui tabel tunggal dengan analisis data. Di dalam penyajian data, peneliti membagi ke dalam 2 bagian yaitu:

1. 4.2.1. Membahas mengenai karakteristik Responden

2. 4.2.2. Membahas mengenai kondisi sosial responden

Pembagian kelompok tersebut akan dijelaskan secara berurutan yang disesuaikan dengan kuesioner penelitian. Penyajian data yang diperoleh dengan menggunakan cara manual adalah sebagai berikut:

4.2.1. Karakteristik Responden 4.2.1.1. Usia Responden

Tabel 4.6

Distribusi Responden Berdasarkan Usia

Usia Frekuensi Persen

21-29 30-38 39-47 48-56 57-65 4 45 34 5 7 4,2 47,4 35,8 5,3 7,3 Jumlah 95 100

Sumber: Data Primer peneliti tahun; 2011

Berdasarkan tabel 4.6 penulis mengkategorikan jenjang usia responden yaitu 21-29 tahun, 30-38 tahun, 39-47 tahun, 48- 56 tahun dan 57-65 tahun. Dari hasil penelitian dapat dilihat frekuensi jenjang usia 21-29 tahun adalah 4 responden (4,2%), frekuensi jenjang usia 30-38 tahun merupakan responden terbanyak yang ditemui peneliti saat di lapangan yaitu sekitar 45 responden (47,4%), frekuensi jenjang usia 48-56 tahun adalah 5 responden (5,3%) dan frekuensi jenjang usia 57-65 adalah 7 responden ( 7,3%). Usia produktif adalah usia 18-45 tahun. Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa responden yang mengisi kuesioner adalah usia yang produktif. Usia produktif dapat dikatakan bahwa usia yang memiliki pemikiran-pemikiran yang cerah. Pemikiran yang masih ingin memiliki banyak keinginan. Usia produktif ini sangat membantu penulis karena dapat menjawab kuesioner yang diberikan. Dan responden usia produktif ini lebih banyak meluangkan waktunya untuk berbicara kepada penulis baik itu menanyakan apa kegunaan dari kuesioner ini, menanyakan kepada penulis dari universitas mana. Sedangkan responden yang usia non produktif, tidak terlalu banyak bertanya. Hanya saja setelah selesai mengisi kuesioner beberapa responden memberi nasehat kepada penulis. Hal inilah yang ditemukan penulis saat di lapangan.

4.2.1.2. Jenis kelamin

Tabel 4.7

Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis kelamin Frekuensi Persen

Laki-laki Perempuan 41 54 43,1 56,9 Jumlah 95 100 Sumber: Data Primer peneliti tahun; 2011

Berdasarkan tabel 4.7 dapat dilihat responden perempuan lebih banyak dibandingkan dengan responden laki-laki yaitu frekuensi perempuan sebanyak 54 responden (56,9%) sedangkan frekuensi laki-laki sebanyak 41 responden (43,1%). Dari hasil penyebaran kuesioner yang telah dilakukan, penulis menemukan responden perempuan lebih meluangkan waktu untuk mengisi kuesioner dibandingkan responden laki-laki. Hal ini dikarenakan ketika penulis melakukan penelitian, kuesioner yang diberikan penulis kepada responden laki-laki diberikan kepada responden perempuan untuk diisi. Selain itu penulis juga menemukan dilapangan responden perempuan lebih banyak ditemukan dibandingkan responden laki-laki. Hal lain juga yang ditemukan penulis adalah faktor status perkawinan juga mempengaruhi lebih banyak responden perempuan dibandingkan laki-laki yaitu perempuan yang berada di Kelurahan Jati ini yang telah menikah lebih banyak dirumah, karena suami mereka harus bekerja di luar rumah untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sedangkan perempuan harus memperhatikan kondisi anak-anak mereka di rumah. 4.2.1.3. Status Perkawinan

Tabel 4.8

Distribusi Responden Berdasarkan Status Perkawinan

Belum kawin Kawin Janda/duda Lainnya 0 85 10 0 0 89,5 10,5 0 Jumlah 95 100 Sumber: Data Primer peneliti tahun; 2011

Berdasarkan tabel 4.8 dapat dilihat bahwa penulis memberikan beberapa pilihan mengenai status perkawinan. Beberapa pilihan tersebut antara lain yaitu belum kawin, kawin, janda/duda. Dari hasil menyebarkan kuesioner penulis menemukan bahwa yang memiliki status perkawinan belum kawin adalah 0 responden (0%), status perkawinan yaitu kawin adalah 85 responden (89,5%) dan status perkawinan janda/duda yaitu 10 responden (10,5%). Hal ini menunjukkan bahwa ketika penulis berada di lapangan yang lebih banyak dijumpai adalah masyarakat yang status perkawinannya adalah kawin. Hal demikian akan lebih mempermudah penulis karena masyarakat yang status perkawinannya adalah kawin akan lebih memahami isi dan maksud dari kuesioner tersebut. Faktor yang juga mempengaruhi adalah faktor usia karena usia mereka yang memiliki status perkawinan adalah usia yang yang termasuk usia yang cocok untuk menikah yaitu usia 20 tahun keatas. Apabila dilihat dari umur mereka, umur < 20 tahun merupakan umur yang sudah dikategorikan dewasa sehingga dapat dengan mudah menjawab dengan baik kuesioner yang telah diberikan oleh penulis. Status perkawinan masyarakat yaitu janda maupun duda juga merupakan responden yang dapat memahami dan menjawab dengan baik terhadap kuesioner yang telah diberikan. Karena usia yang status perkawinannya adalah janda maupun duda yang ditemukan di lapangan merupakan usia produktif sehingga dapat menjawab pertanyaan yang terdapat pada kuesioner tersebut.

4.2.1.4. Jumlah Anak

Tabel 4.9

Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Anak

Jumlah anak Frekuensi Persen

1-2 3-4 5-6 Lainnya 17 62 14 2 17,9 65,3 14,7 2,1 Jumlah 95 100 Sumber: Data Primer peneliti tahun; 2011

Berdasarkan tabel 4.9 penulis mengkategorikan jumlah anak yaitu 1-2 anak, 3-4 anak, 5-6 anak dan lainnya tersebut adalah anak yang lebih dari 6 orang. Dari hasil penyebaran kuesioner yang dilakukan penulis, Kategori dengan jumlah 1-2 anak yaitu 17 responden (17,9%), kategori dengan jumlah 3-4 anak merupakan kategori dengan responden terbanyak yaitu 62 responden (65,3%), kategori dengan jumlah 5-6 anak yaitu 14 responden ( 14,7%) sedangkan kategori lainnya ini penulis menemukan jumlah anak yang dimiliki adalah 7 anak yaitu 2 responden (2,1%). Hal ini menunjukkan bahwa alasan responden yang memiliki jumlah anak 3-4 orang adalah faktor ekonomi. Seperti ungkapan ‘Banyak Anak Banyak Rezeki’ itu hanya sebatas ungkapan bagi masyarakat ini. Memiliki banyak anak berarti harus mampu memenuhi kebutuhan hidup setiap anak. Dari hasil yang diperoleh di lapangan, responden tersebut memiliki anak dengan jumlah sedikit supaya dapat memenuhi kebutuhan hidup anak-anak mereka.

4.2.1.5. Pendidikan Terakhir

Tabel 5.0

Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir

Tamat SD

Tamat SLTP/ sederajat Tamat SLTA/ sederajat Tamat Akademi/ D3 Tamat S1/ sarjana Lainnya 8 34 37 14 2 0 8,4 35,8 39 14,7 2,1 0 Jumlah 95 100 Sumber: Data Primer peneliti tahun; 2011

Berdasarkan tabel 5.0 mengenai pendidikan terakhir responden dapat dilihat bahwa responden yang tamat SD adalah 8 responden dengan persentase 8,4%, tamat SLTP/ sederajat adalah 34 responden dengan persentase 35,8 %, tamat SLTA/ sederajat responden terbanyak yaitu 37 responden dengan persentase 39%, tamat Akademi/D3 adalah 14 responden dengan persentase 14,7% sedangkan tamat S1/ sarjana adalah 2 responden dengan persentase 2,1 %. Hal di atas menunjukkan bahwa pendidikan terakhir yang diperoleh oleh masyarakat di kelurahan ini beraneka ragam. Pendidikan terakhir masyarakat tersebut 38% merupakan pendidikan terakhir tamat SLTA/sederajat. Sewaktu di lapangan, penulis memiliki beraneka ragam pendapat dari responden yaitu responden yang mengeyam pendidikan terakhir hanya sampai tamat SLTA/ sederajat dikarenakan ketika mereka mengikuti ujian untuk masuk perguruan tinggi negeri tidak mendapatkan hasil yang memuaskan dengan kata lain tidak lulus. Apabila kuliah di perguruan tinggi swasta responden tersebut tidak akan mampu. Faktor ekonomi merupakan faktor yang melatarbelakangi mengapa responden tersebut tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Selain itu, alasan dari beberapa responden yang memperoleh pendidikan terakhir hanya tamat SD, tamat SLTP/ Sederajat yaitu responden tersebut memiliki pemikiran tidak berguna sekolah tinggi-tinggi karena tetap saja akan menjadi pengangguran.

4.2.1.6. Agama/ kepercayaan

Tabel 5.1

Distribusi Responden Berdasarkan Agama/ Kepercayaan

Agama/ kepercayaan Frekuensi Persen

Islam Kristen Protestan Katolik Buddha Hindu Lainnya 77 7 11 0 0 0 81 7,4 11,6 0 0 0 Jumlah 95 100

Sumber: Data Primer peneliti tahun; 2011

Berdasarkan tabel 5.1 dapat dilihat mengenai agama/ kepercayaan responden. Dari hasil penyebaran kuesioner yang dilakukan penulis, hasilnya adalah Agama Islam merupakan agama yang paling banyak dianut oleh responden yaitu 77 responden dengan persentase 81%, Agama Kristen Protestan yang dianut responden adalah 7 responden dengan persentase 7,4 %, sedangkan Agama Katolik yang dianut oleh responden adalah 11 responden dengan persentase 11,6 %. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Kelurahan Jati memiliki keanekaragaman dalam Agama. Agama Islam adalah Agama yang banyak ditemukan oleh penulis dilapangan. faktor yang mempengaruhi adalah faktor status perkawinan dan faktor jumlah anak. Masyarakat yang telah menikah dan memiliki anak tetap tinggal dan tidak ingin pindah dari

Dokumen terkait