• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4. Metodologi Penelitian

4.9 Keterbatasan Penelitian

Penelitian yang saya lakukan memiliki keterbatasan yaitu penelitian ini tidak melakukan wawancara secara mendalam terhadap masing-masing responden, dikarenakan pada penelitian ini menggunakan kuisioner tertutup yang pilihan jawabannya sudah ditentukan oleh masing-masing responden.

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian

Pada bagian ini akan dijabarkan hasil penelitian dan penjelasan tentang Pengaruh Kebiasaan Merokok terhadap Kadar Kolesterol Total pada Laki-Laki Dewasa di Kelurahan Sidorejo Kecamatan Medan Tembung. Pengambilan data telah dilakukan pada bulan Maret 2020 sampai dengan bulan Juni dan data diolah awal bulan Juli 2020 dengan jumlah sampel sebanyak 50 orang. Penyajian data hasil penelitian meliputi data karakteristik responden, data kebiasaan merokok dan data kadar kolesterol total responden serta hasil pengaruh kebiasaan merokok terhadap kadar kolesterol total.

5.1.1 Karakteristik Demografi Responden

Karakteristik demografi responden yang didapat dari proses pengumpulan data antara lain meliputi umur, TB/BB, pendidikan, pekerjaan, riwayat keluarga yang mengalami kolesterol tinggi, dan gaya hidup. Dari 50 responden yang diteliti, diketahui bahwa mayoritas berada pada kelompok usia dewasa awal (26-35 tahun) yakni berjumlah 26 orang (52%). Rata-rata TB/BB responden yaitu 176-185 cm dan 61-70 kg yang berjumlah 29 orang (58%), dan mayoritas tingkat pendidikan terakhir adalah SMA yang berjumlah sebanyak 18 orang (36%) dengan mayoritas pekerjaan responden yaitu tukang becak, driver online, dan tukang bersih-bersih yang berjumlah sebanyak 20 orang (40%). Rata – rata seluruh responden tidak ada yang memiliki keluarga yang mempunyai riwayat kadar kolesterol tinggi. Dilihat dari sisi gaya hidup mayoritas responden sering

berolahraga dan terbiasa melakukan pekerjaan yang melibatkan ativitas fisik, dan tidak mengkonsumsi alkohol. Rata-rata jenis makan yang sering dikonsumsi responden yakni makanan rendah lemak dan tinggi karbohidrat yaitu berjumlah 32 orang (64%).

Untuk lebih jelasnya, gambaran karakteristik demografi dari responden bisa dilihat dalam tabel 5.1 berikut ini.

Tabel 5.1 Distribusi frekuensi dan presentase karakteristik laki-laki dewasa di Kelurahan Sidorejo Kecamatan Medan Tembung (n=50)

Variabel F %

Riwayat keluarga yang mengalami kadar kolesterol tinggi:

melibatkan aktifitas fisik secara aktif

Data yang diperoleh dari kebiasaan merokok, didapatkan 25 responden merokok dengan persentase 50% dan 25 responden tidak merokok dengan persentase 50%. Pada responden yang merokok, sebagian besar sudah merokok selama lebih dari 10 tahun yaitu berjumlah sebanyak 20 responden dengan persentase (40%), dan jenis rokok yang dihisap sebagian besar rokok dengan filter (50%). Sebagian besar responden yang merokok merupakan perokok sedang yang

menghisap rokok 11-20 batang per hari dengan rata-rata 16 batang per hari.

Rincian lengkapnya telah tertera pada tabel berikut:

Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Kebiasaan Merokok Responden (n=50)

Kebiasaan Merokok f %

5.1.3 Kadar Kolesterol Total Responden Merokok dan Tidak Merokok

Sampel terdiri dari 25 laki-laki dewasa yang merokok dan 25 laki-laki dewasa yang tidak merokok. Didapatkan pada responden yang merokok dengan kadar kolesterol total normal berjumlah 5 orang dengan persentase (20%).

Responden dengan kadar kolesterol ambang batas atas berjumlah 15 orang dengan persentase (60%), dan yang memiliki nilai kadar kolesterol yang tinggi berjumlah 5 orang dengan persentasi (20%). Pada responden yang tidak merokok didapatkan hasil kadar kolesterol yang memiliki nilai normal berjumlah 20 orang dengan persentasi (80%), nilai kolesterol pada ambang batas atas berjumlah 5 orang dengan persentase (20%), dan tidak ada responden yang memiliki nilai kadar kolesterol pada jumlah yang tinggi. Rincian lengkapnya tertera pada tabel berikut:

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Kadar Kolesterol Total Responden Merokok dan Tidak Merokok (n=50)

Nilai Kadar Kolesterol Total Kelompok

Merokok Tidak Merokok

(n) (%) (n) (%)

Normal (<200 mg/dL) 5 20 20 80

Ambang Batas Atas (200-239 mg/dL) 15 60 5 20

Tinggi (>240 mg/dL) 5 20 - -

Jumlah 25 100% 25 100%

5.1.4 Pengaruh Kebiasaan Merokok terhadap Kadar Kolesterol Total pada Laki-Laki Dewasa di Kelurahan Sidorejo Kecamatan Medan Tembung

Berdasarkan hasil yang didapatkan sebanyak 20 laki –laki dewasa yang merokok memiliki nilai kadar kolesterol total yang tinggi dan yang memiliki nilai kadar kolesterol total normal sebanyak 5 responden. Sementara sebanyak 20 laki-laki dewasa yang tidak merokok memiliki nilai kadar kolesterol total normal dan sebanyak 5 responden memilki nilai kadar kolesterol total yang tinggi. Hasil uji wilcoxon menunjukkan terdapat pengaruh merokok terhadap kadar kolesterol total (p=0,000) dan terdapat pengaruh tidak merokok terhadap kadar kolesterol total (p=0,000). Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis pengaruh kebiasaan merokok terhadap kadar kolesterol total pada laki-laki dewasa di Kelurahan Sidorejo Kecamatan Medan Tembung dengan menggunakan uji Menn-withney diperoleh nilai p= 0,000. Angka ini lebih kecil dari nilai α (alpha)=0,05 sehingga terdapat pengaruh kebiasaan merokok terhadap kadar kolesterol total pada laki-laki dewasa di Kelurahan Sidorejo Kecamatan Medan Tembung.

Tabel 5.4 Pengaruh Merokok dan Tidak Merokok terhadap Kadar

Kolesterol Total pada Laki-Laki Dewasa di Kelurahan Sidorejo Kecamatan Medan Tembung

Kadar Kolestrol Tidak Merokok Merokok p

Total (n) (%) (n) (%)

Normal 20 80 5 20

Ambang Batas Atas 5 20 15 60

Tinggi - - -

-Mean Negative 10.50 .00 0,000

Mean Positive .00 10.50

Tabel 5.5 Pengaruh Kebiasaan Merokok terhadap Kadar Kolesterol Total pada Laki-Laki Dewasa di Kelurahan Sidorejo Kecamatan Medan Tembung

Nilai Kadar Kolesterol Total

Normal Ambang Batas Atas Tinggi Mean Rank Nilai p n % n % n %

Merokok 5 20 15 60 5 20 33,92 0,000 Tidak Merokok 20 80 5 20 - - 17,08

Total 25 100 20 80 5 20

Uji Mann-Whitney; P 0,00 Rerata klasifikasi Kadar Kolesterol Total Merokok 33,92;

Tidak Merokok 17,08

5.2 Pembahasan

5.2.1 Karakteristik Responden

Pada penelitian ini rata-rata usia responden berada pada dewasa awal sebanyak 26 orang dengan persentase 52%. Secara teori faktor usia

yang signifikan selama masa remaja, dikarenakan adanya pengaruh hormon testosterone yang mengalami peningkatan pada masa itu. Laki-laki dewasa di atas 20 tahun umumnya memiliki kadar kolesterol lebih tinggi dibandingkan wanita.

Sebelum menopause, wanita cenderung memiliki kadar kolesterol total yang lebih rendah dibandingkan laki-laki pada usia yang sama. Kadar kolesterol pada wanita dan pria, secara alami meningkat seiring bertambahnya usia. Menopause sering dikaitkan dengan peningkatan kolesterol pada wanita. Pada perempuan yang masih belum menopause masih dilindungi oleh hormon estrogen yang dapat mencegah pembentukan plak pada arteri dan meningkatkan kadar HDL (Ujiani, 2015).

Berdasarkan data responden rata-rata laki-laki dewasa memiliki TB/BB yaitu 61-70Kg (27%). Overweight dan obesitas diakibatkan karena ketidakseimbangan asupan energi dengan energi yang dikeluarkan. Kelebihan energi akan disimpan dalam tubuh dalam bentuk lemak. Penimbunan lemak terutama di bagian tengah tubuh akan meningkatkan risiko terjadinya resistensi terhadap insulin, hipertensi dan hiperkolesterolemia

Berdasarkan data pekerjaan dan aktivitas fisik responden yang memiliki pekerjaan lain-lain (tukang becak dan petugas kebersihan) sebanyak 20 orang (40%) dan aktivitas fisik sebanyak 26 orang memiliki pekerjaan yang melibatkan aktivitas fisik (52%). Melakukan latihan fisik yang rutin dan teratur dapat meningkatkan kadar HDL Jika kadar HDL mengalami peningkatan, itu sangat baik bagi tubuh karena HDL dapat menghindarkan kita dari penyakit kardiovaskuler (Hengkengbala, Polii dan Wungouw, 2013). Olahraga yang teratur

dapat menurunkan kadar LDL dalam plasma, namun dapat meningkatkan kadar HDL dalam plasma, kadar kolesterol juga akan berkurang karena kemungkinan besar karena meningkatnya sensitivitas insulin yang meningkatkan ekspresi lipoprotein lipase (Lombo, 2012).

Berdasarkan data pola makanan/ makanan yang dikonsumsi setiap hari sebanyak 32 orang mempunyai kebiasaan mengkonsumsi makanan rendah lemak dan tinggi karbohidrat (64%). Asupan karbohidrat yang tinggi akan meningkatkan kolesterol, karena hasil dari pemecahan karbohidrat yang berupa glukosa mengalami hidrolisis menjadi piruvat yang selanjutnya menjadi asetil-KoA.

Apabila asupan karbohidrat lebih banyak dari yang dibutuhkan maka karbohidrat diubah menjadi glikogen dan apabila penyimpanan glikogen sudah penuh maka karbohidrat akan diubah dalam bentuk trigliserida dan disimpan dalam jaringan adipose. Peningkatan asupan lemak juga dapat meningkatkan kolesterol.Hal ini disebabkan karena sebagian besar lemak dalam bentuk trigliserida yang kemudian mengalami hidrolisis menjadi asam lemak bebas.Asam lemak bebas ini selanjutnya mengalami oksidasi menjadi asetil-KoA untuk menghasilkan energi.

Bila asupan karbohidrat, protein dan lemak berlebih maka pembentukan asetil-KoA akan meningkat dan dapat meningkatkan kadar kolesterol (Mulyani, 2018).

Berdasarkan data responden, riwayat/keturunan yang mengalami kadar kolesterol total tinggi yaitu seluruh responden tidak memiliki riwayat atau pun keturunan yang memiliki kadar kolesterol total tinggi (100%). Adanya unsur homocystine dalam darah yang merupakan unsur genetik juga dapat memicu peningkatan kolesterol.Unsur tersebut dapat meningkatkan aktivitas sel platelet

hypercoagulation, gangguan fungsi lapisan dalam pembuluh darah (endothelium) dan oksidasi kolesterol LDL. Jika seseorang memiliki familial hypercholesterolemia (keturunan hiperkolesterolemia) akan menyebabkan kadar kolesterol tinggi yang turun-menurun dalam anggota keluarga dan juga dapat menempatkan seseorang memiliki risiko tinggi terkena serangan jantung lebih awal (Mulyani, 2018).

5.2.2 Kebiasaan Merokok pada Laki-Laki Dewasa

Seluruh responden dalam penelitian ini adalah (50 orang) laki-laki dewasa awal sampai dewasa akhir. Dari hasil penelitian di dapatkan bahwa sebanyak 25 responden dengan persentase 50% memiliki kebiasaan merokok setiap hari dan sebanyak 25 responden dengan persentase 50% tidak memiliki kebiasan merokok.

Pada penelitian ini didapatkan bahwa rata-rata responden sudah merokok lebih dari 10 tahun dan rata-rata dimulai pada usia 20 tahun. Hasil penelitian ini sama dengan data Riskedas tahun 2018 dimana kebiasaan merokok di mulai pada usia

>15 tahun. Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nararaya dan Sudhana (2013) pada penelitiannya didapatkan bahwa 12 dari 23 responden (52,2%) yang merokok mengaku mulai merokok sekitar umur 20 – 29 tahun.

Berdasarkan jenis rokok yang dihisap, dari 50 responden seluruhnya mengaku mengisap rokok dengan filter dan tidak ada yang menghisap rokok tanpa filter. Pada penelitian Narayana dan Sudhana (2013) berdasarkan jenis rokok yang dihisap sebesar 60,9% responden yang merokok mengaku mengisap rokok dengan filter dan 39,1% mengisap rokok tanpa filter.

Dari hasil penelitian ini didapatkan sebanyak 5 dari 25 responden yang merokok merupakan perokok ringan yaitu orang yang merokok kurang dari 10 batang perhari, 14 dari 25 responden yang merokok merupakan perokok sedang yaitu orang yang merokok 11-20 batang perhari, dan 6 dari 25 responden merupakan perokok berat yaitu orang yang merokok lebih dari 20 batang perhari.

Dengan rata-rata jumlah rokok yang dihisap dalam sehari sebanyak 15 batang per hari. Penelitian yang dilakukan Narayana dan Sudhana (2013) juga mendukung hasil penelitian, menjelaskan bahwa didapatkan 16 dari 23 responden (69,6%) yang merokok merupakan perokok ringan yaitu orang yang merokok kurang dari 10 batang per hari, dan 7 dari 23 responden (30,4%) yang merokok merupakan perokok sedang yaitu orang yang merokok antara 10 – 20 batang per hari.

5.2.3 Nilai Kadar Kolesterol Total pada Laki-Laki Dewasa Merokok dan Tidak Merokok

Menurut peneliti kemungkinan terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kadar kolesterol total terjadi peningkatan antara lain faktor usia atau umur responden, lamanya merokok, banyaknya jumlah rokok yang dihisap per hari dan juga olahraga. Davidson (2012) mengungkapkan bahwa kadar kolesterol di pengaruhi oleh asupan lemak, karbohidrat dan protein. Asupan serat, asupan kolesterol dari pangan dan aktifitas fisik atau olahraga juga dapat berpengaruh terhadap kadar kolesterol darah (Waloya, Rimbawani dan Andarwulan, 2013).

Hasil penelitian ini menunjukkan responden perokok yang mempunyai

dengan 15 responden (60%) kategori ambang batas atas, dan 5 responden (20%) dengan kategori tinggi. Sementara untuk responden yang bukan perokok memiliki nilai kadar kolesterol normal sebanyak 20 responden (80%), dan sebanyak 5 responden (20%) memiliki kadar tinggi. Hasil penelitian Elsa (2018) menunjukkan responden yang cenderung memiliki kadar kolesterol total diatas normal adalah pada umur 41 – 60 tahun dan >60 tahun. Pada responden yang berumur 40 – 60 tahun yaitu sebanyak 9 responden dari 12 responden sedangkan pada umur >60 tahun yaitu sebanyak 2 responden dari 3 responden.

Merokok menjadi hal penting yang dapat mempengaruhi kadar kolesterol dalam tubuh. Dalam penelitian Lambo (2012), didapatkan responden dengan kebiasaan merokok 14 responden dengan jumlah batang rokok yang bervariasi antara <10 batang per hari, 11-20 batang per hari dan juga ada yang >20 batang per hari. Berdasarkan hasil tersebut responden belum menyadari bahwa merokok dapat mempengaruhi kadar kolesterol dalam darah. Merokok berhubungan dengan rendah-nya kadar kolesterol HDL dalam darah sehingga dapat meningkatkan resiko terkena PJK. Berdasarkan hasil penelitian dari Kusuma et all dalam Zakiyah (2008), asap rokok mengandung karbonmonoksida, sedangkan sel darah merah mempunyai kemampuan lebih besar dalam mengikat karbonmonoksida dari pada oksigen sehingga kapasitas oksigen yang dibawa oleh sel ke jaringan akan berkurang menyebabkan hipoksia jaringan. Nikotin dalam rokok menyebabkan mobilisasi katekolamin yang dapat menambah reaksi trombosit dan menyebabkan kerusakan dinding arteri, sedangkan glikoprotein dalam tembakau dapat menimbulkan reaksi hipersensitivitas dinding arteri.

Berdasarkan hasil penelitian di dapatkan 16 responden melakukan olahraga secara teratur, dan 26 responden terbiasa melakukan pekerjaan yang melibatkan aktivitas fisik seperti tukang becak, dan tukang bersih-bersih.

Sementara responden yang jarang melakukan olahraga sebanyak 8 orang dan seluruhnya memiliki kadar kolesterol total lebih dari normal. Aktifitas fisik seperti berolahraga juga dalam penelitian ini penting karena berhubungan dengan kadar kolesterol dalam darah. Manfaat olahraga diantaranya melancarkan sirkulasi darah, memperkuat otot, mencegah pengeroposan tulang, menurunkan tekanan darah, menurunkan LDL dan menaikan HDL. Olahraga juga bermanfaat untuk membakar kalori (Pontoh, Pangemanan dan Wungouw, 2013). Melalui hasil penelitian yang dilakukan Lombo (2012) ternyata terdapat 12 responden yang suka untuk berolahraga dan 10 responden tidak menyukai olahraga tetapi dari wawancara didapat bahwa dari responden yang tidak menyukai olahraga mempunyai latar belakang pekerjaan dengan aktifitas fisik yang berat seperti berolahraga yakni bekerja sebagai nelayan, tukang dan petani. Olahraga yang teratur dapat menurunkankadar LDL dalam plasma, namun dapat meningkatkan kadar HDL dalam plasma, kadar kolesterol juga akan berkurang karena kemungkinan besar karena meningkatnya sensitivitas insulin yang meningkatkan ekspresi lipoprotein lipase.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Heslet dalam Sulviana (2008) berolahraga dapat meningkatkan HDL dalam darah sampai 20-30%, kebiasaan berolahraga ini dapat menyingkirkan kolesterol, namun tidak bertahan lama apabila berhenti berolahraga. Penelitian juga dilakukan oleh Durstine dalam

Sulviana (2008) menunjukkan bahwa kebiasaan berolahraga menurunkan kadar LDL dan meningkatkan kadar HDL dalam darah yaitu dengan melakukan olahraga aerobik setidaknya 12 minggu berturut-turut dalam kurun waktu 45-60 menit berolahraga. Melakukan latihan fisik yang rutin dan teratur dapat meningkatkan kadar HDL. Jika kadar HDL mengalami peningkatan, itu sangat baik bagi tubuh karena HDL dapat menghindarkan kita dari penyakit kardiovaskuler. Kolesterol HDL dikenal sebagai kolesterol baik yang terbentuk didalam hati dan usus kecil, yang kemudian di lepaskan ke dalam aliran darah (Hengkengbala, Polii dan Wungouw, 2013)

Dari data penelitian responden yang mengonsumsi makanan tinggi lemak dan tinggi karbohidrat sebanyak 4 orang dengan kadar kolesterol melebihi dari normal. Makanan rendah lemak dan tinggi karbohidrat dikonsumsi sebanyak 32 responden dan hampir seluruhnya memiliki nilai kadar kolesterol total yang tinggi, dan responden yang mengonsumsi makanan rendah lemak dan rendah karbohidrat sebanyak 14 responden dan rata-rata memiliki kadar kolesterol total yang normal. Kolesterol adalah produk khas hasil metabolisme hewan, dengan demikian terdapat dalam berbagai makanan berasal dari hewan seperti kuning telur, hati, daging, dan otak. Setidaknya lebih dari separuh jumlah kolesterol tubuh berasal dari sintesis (sekitar 700 mg/hari) dan sisanya berasal dari makanan sehari-hari.

Asupan makanan yang mengandung asam lemak jenuh dapat meningkatkan kadar kolesterol darah, kenaikan 25 mg kolesterol diet dapat meningkatkan kolesterol darah sebesar 1 mg/dl. Lemak makanan digolongkan

dalam asam lemak jenuh, Asam lemak tidak jenuh rantai tunggal, dan asam lemak tidak jenuh rantai ganda. Arachidonic acid(AA) dan docosahexaenoic acid (DHA) termasuk dalam golongan asam lemak tidak jenuh rantai ganda, dan merupakan asam lemak esensial yang tidak dapat disintesis oleh tubuh. Umumnya masukan asam lemak jenuh dengan atom karbon 10-18 akan meningkatkan kadar kolesterol LDL. Diet asam lemak jenuh dalam makanan berasal antara lain dari hewan yaitu daging, kuning telur, produk dari susu dan dari tumbuhan tertentu (minyak kelapa, margarin). Arachidonic acid (AA) banyak terdapat pada minyak tumbuh-tumbuhan, misalnya minyak jagung. Minyak ini banyak dianjurkan untuk menggantikan peranan asam lemak jenuh, sebab dapat menurunkan kadar kolesterol LDL. Docosahexaenoicacid (DHA) dapat menurunkan kadar trigliserida, kemungkinan hal ini melalui penghambatan sintesis very low density lypoprotein (VLDL). Penurunan kadar LDL baru tercapai apabila masukan lemak jenuh juga diturunkan. Bahan makanan sumber omega 3 adalah minyak ikan.

Penggantian minyak jenuh dengan asam lemak tidak jenuh rantai tunggal dapat menurunkan kadar kolesterol terutama LDL dan HDL (Lombo, 2012).

Dalam penelitian ini tidak ada hasil data responden yang mengonsumsi alkohol, seluruh responden tidak pernah mengonsumsi alkohol. Dijelaskan pada penelitian Lombo (2012) bahwa terdapat Pengaruh minum alkohol dengan kadar kolesterol dalam darah. efek yang ditimbulkan oleh alkohol untuk menginduksi peningkatan HDL-C konsentrasi melalui peningkatan apolipo-proteins HDL utama, yaitu apoA-I dan-II. Pada sisi lain alkoholisme menyebabkan penimbunan lemak di hati, hiperlipidemia, dan akhirnya sirosis. Perlemakan hati disebabkan

karena kombinasi gangguan oksi-dasi asam lemak dan meningkatnya lipogenesis yang diperkirakan disebabkan oleh perubahan potensial redoks (NADH)/ (NAD+) di hati, ini dikarenakan NADH yang dihasilkan bersaing dengan ekuivalen pereduksi dari substrat lain, termasuk asam lemak untuk rantai respiratorik, yang menghambat oksidasi substrat tersebut, dan menyebabkan peningkatan esterifikasi a-sam lemak menjadi triasilgliserol sehingga terjadi perlemakan hati.

5.2.3 Pengaruh Kebiasaan Merokok terhadap Kadar Kolesterol Total

Hasil penelitian menggunakanan uji Wilcoxon menunjukkan bahwa terdapat pengaruh tidak merokok terhadap kadar kolesterol total (p=0,000), dan terdapat pengaruh merokok terhadap kadar kolesterol total (p=0,000). Hasil analisis pengaruh kebiasaan merokok terhadap kadar kolesterol total pada laki-laki dewasa di Kelurahan Sidorejo Kecamatan Medan Tembung dengan menggunakan uji Menn-Withney diperoleh nilai p-value =0.000. Angka ini lebih kecil dari nilai α (alpha)= 0.05. Hal ini menunjukkan terdapat pengaruh kebiasaan merokok terhadap kadar kolesterol total pada laki-laki dewasa di Kelurahan Sidorejo Kecamatan Medan Tembung.

Berdasarkan hasil penelitian mengenai kebiasaan merokok terhadap kadar kolesterol total pada laki-laki dewasa, diketahui bahwa responden yang merokok sebagian besar berada dalam kategori nilai kadar kolesterol total yang tinggi yaitu sebanyak 80% (20 responden), dan sebanyak 20% (5 responden) memiliki nilai kadar kolesterol total normal. Responden yang tidak merokok sebagian besar berada dalam kategori nilai kadar kolesterol total yang normal sebanyak 80 % (20 responden), dan sebanyak 20% (5 responden) memiliki nilai kadar kolesterol total

yang tinggi. Merokok dapat mempengaruhi kolesterol sebab kandungan zat kimia yang terdapat di dalamnya dapat menurunkan kadar HDL (kolesterol baik yang normalnya > 55 mg/100 ml) dan mempengaruhi lapisan pembuluh darah sehingga menyebabkan atherosclerosis atau penyempitan pembuluh darah

Data hasil pemeriksaan kadar kolesterol total menunjukkan bahwa responden yang merokok cenderung memiliki kadar kolesterol total diatas normal adalah pada umur 30-45 tahun. Pada responden yang berumur 30-45 tahun yaitu sebanyak 19 responden dari 22 responden, sedangkan pada umur < 30 tahun yaitu sebanyak 1 responden. Responden yang tidak merokok memiliki nilai kadar kolesterol lebih dari normal pada umur 28-40 tahun yaitu sebanyak 5 responden dari 18 responden, dan 20 responden memiliki kadar kolestertol total yang normal.

Menurut peneliti semakin bertambahnya umur responden dapat meningkatkan kadar kolesterol total responden. Kadar kolesterol total meningkat secara bertahap seiring bertambahnya usia. (Pontoh, Pangemanan dan Wungouw, 2013). Usia berhubungan dengan perubahan metabolisme lipoprotein. Karena proses penuaan, metabolisme tubuh secara alami akan melambat dan mobilitas yang rendah mempercepat proses penggantian massa otot dengan lemak tubuh (Ujiani, 2015).

Berdasarkan hasil pemeriksaan kolesterol total lamanya merokok menunjukkan bahwa responden yang merokok >10 tahun cenderung memiliki kadar kolesterol total diatas normal yaitu sebanyak 17 responden sedangkan responden yang memiliki kadar kolesterol total normal yaitu sebanyak 3 responden. Dan berdasarkan hasil pemeriksaan kolesterol total berdasarkan banyaknya rokok yang dikonsumsi per hari menunjukkan bahwa responden yang

mengonsumsi rokok <10 batang perhari memiliki nilai kadar kolesterol total lebih dari normal sebanyak 4 responden. Rokok yang dikonsumsi sebanyak 11 – 20 batang per hari sebagian besar memiliki kadar kolesterol total diatas normal sebanyak 10 responden. Pada responden yang mengonsumsi rokok >20 batang per hari seluruhnya memiliki kadar kolesterol total diatas normal yaitu sebanyak 7 responden. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Trivedi et al (2013) bahwa kadar kolesterol total lebih tinggi pada perokok dibandingkan dengan non perokok. Peningkatan kadar kolesterol total yang tidak signifikan ditemukan pada perokok ringan, sedangkan peningkatan yang signifikan ditemukan pada perokok sedang dan berat. Menurut peneliti peningkatan kadar kolesterol dapat dipengaruhi oleh lamanya merokok dan juga banyaknya rokok yang dikonsumsi setiap harinya. Hal ini desebabkan oleh semakin lama menghisap Carbon Monoxida. Nikotin juga merangsang peningkatan tekanan darah dan zat kimia yang terkandung dalam rokok dapat meningkatkan kadar kolesterol (Malaeny, Katuuk dan Onibala, 2017). Kolesterol total tinggi dapat diakibatkan oleh komponen didalam rokok. Menurut Veena et al (2014) nikotin yang merupakan komponen utama rokok dapat meningkatkan sekresi dari katakolamin sehingga meningkatkan lipolisis. Hal ini menyebabkan meningkatnya kadar trigliserida, kolesterol, dan VLDL, serta menurunkan kadar HDL. Merokok juga dapat menyebabkan peningkatan oksidasi LDL kolesterol yang akan menyebabkan aterosklerosis.

Penelitian Kusumasari tahun 2015 didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan positif antara merokok dengan kadar kolesterol total pada pegawai

Pabrik Gula Tasikmadu Karanganyar dengan nilai p sebesar 0.000 (p<0,05).

Berdasarkan hasil penelitian, teori dan penelitian terdahulu maka peneliti berpendapat bahwa terdapat pengaruh perilaku merokok dengan kadar kolesterol

Berdasarkan hasil penelitian, teori dan penelitian terdahulu maka peneliti berpendapat bahwa terdapat pengaruh perilaku merokok dengan kadar kolesterol

Dokumen terkait