BAB V KESIMPULAN, KETERBATASAN PENGEMBANGAN,
B. Keterbatasan Pengembangan
Tes hasil belajar matematika materi pengukuran sudut yang merupakan produk dari pada penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan sebagai berikut: 1. Wawancara hanya dilakukan kepada dua guru kelas V.
2. Pengembangan produk hanya sampai pada tahap tujuh yaitu revisi produk setelah diuji cobakan karena keterbatasan waktu.
3. Produk berupa tes hasil belajar belum diuji cobakan lagi setelah dianalisis validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, daya pembeda, dan analisi pengecohnya.
C. Saran
Peneliti memberi beberapa sara supaya dapat memberi manfaat untuk kedepannya. Saran-saran yang ingin disampaikan peneliti yaitu:
1. Penelitian selanjutnya sebaiknya melakukan wawancara kepada lebih dari dua narasumber.
2. Penelitian selanjutnya sebaiknya dapat mengembangkan produk sampai tahap kesepuluh yaitu produksi produk masal.
3. Penelitian selanjutnya sebaiknya mengujikan produk kembali setelah dianalisis validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, daya pembeda, dan analisi pengecohnya.
DAFTAR REFERENSI
Abdurrahman, Maman & Sambas A.M. (2011). Panduan Praktis Memahami Penelitian. Bandung: CV. Pustaka Setia.
Ali, Mohammad & Muhammad Asrori. (2014). Metodologi dan Aplikasi Riset Pendidikan. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Arifin, Zainal. (2009). Evaluasi Pembelajaran: Prinsip, Teknik, dan Prosedur. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Arifin, Zainal. (2011). Penelitian Pendidikan Metode dan Paradigma. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Arikunto, Suharsimi. (2012). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Dally, Dadang. (2010). Balanced Scorecard: Suatu Pendekatan dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Daryanto. (2007). Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Duskri, M., dkk. (2014). Pengembangan Tes Diagnostik Kesulitan Belajar Matematika di SD. Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Tahun 18, Nomor 1.
Jihad, Asep & Abdul Haris. (2012). Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Multi Pressindo.
Kountur, Ronny. (2003). Metode Penelitian untuk Penulisan Skripsi dan Tesis. Jakarta: PPM.
Kusaeri. (2014). Acuan & Teknik Penilaian Proses & Hasil Belajar dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA.
Mardhiyanti, Devi., dkk. (2011). Pengembangan Soal Matematika Model PISA untuk Mengukur Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Ilmiah Studi Pendidikan Matematika Pascasarjana UNSRI Vol.5 No.1.
Margono, S. (2010). Metodologi Penelitian Pendidikan: Komponen MKD. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Masidjo. (1995). Penilaian Pencapaian Hasil Belajar Siswa di Sekolah. Yogyakarta: Kanisius.
Muslich, Masnur. (2007). KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Narbuko, Cholid & Abu Achmadi. (2007). Metodologi Penelitian. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Purwanto. (2009). Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Setyosari, Punaji. (2010). Metode Penelitian Pendidikan dan Pengembangan. Jakarta: Prenada Media Group.
Setyosari, Punaji. (2013). Metode Penelitian Pendidikan & Pengembangan. Jakarta: PT. Fajar Interpratama Mandiri.
Subali, Bambang. (2012). Prinsip Asesmen & Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: UNY Press.
Sudijono, Anas. (2009). Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo.
Sudjana, Djudju. (2008). Evaluasi Program Pendidikan Luar Sekolah untuk Pendidikan Nonformal dan Pengembangan Sumber Daya Manusia. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Sudjana, Nana. (2009). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan RnD. Bandung: Alvabeta.
Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alvabeta.
Sukardi. (2012). Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Sukmadinata, Nana Syaodih. (2008). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Sulistyorini. (2009). Evaluasi Pendidikan dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan. Yogyakarta: TERAS.
Suryabrata, Sumadi. (1997). Pengembangan Tes Hasil Belajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Suwandi, Sarwaji. (2010). Model Assesmen dalam Pembelajaran. Surakarta: Yuma Pustaka.
Suwarto. (2013). Pengembangan Tes Diagnosik dalam Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Trianto. (2010). Pengantar Penelitian Pendidikan Bagi Pengembangan Profesi Pendidikan dan Tenaga Kependidikan. Jakarta: Kencana.
Widoyoko, E.P. (2009). Evaluasi Program Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Widoyoko, E.P. (2014). Penilaian Hasil Pembelajaran di Sekolah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Wirastri, T.Y. (2014). Analisis Kualitas Soal Pilihan Ganda Ulangan Tengah Semester II Mata Pelajaran Matematika Kelas I Tahun Ajaran 2013/2014. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.
LAMPIRAN 1
Hasil Wawancara Analisis Kebutuhan
Wawancara yang dilakukan peneliti dilakukan pada hari Senin tanggal 27 Juli 2015 dan hari Rabu tanggal 19 Juli 2015. Wawancara pertama dilakukan di SD tempat peneliti melakukan PPL yaitu di SD A. Narasumber yang peneliti wawancarai bernama guru X. Pertama-tama peneliti bertanya mengenai pemahaman guru terhadap prosedur pembuatan soal tes hasil belajar. Guru X menjawab bahwa dia tahu cara pembuatan tes yang baik karena dia merupakan salah satu guru yang membuat kumpulan soal atau LKS di Yayasan. Guru X menjelaskan bahwa membuat tes itu tidak lah mudah, harus menentukan KD dan indikator, lalu menenjukan jenis tes yang akan dibuat. Pembuatan tes harus dengan bahasa yang mudah dipahami siswa dan harus diujikan terlebih dahulu untuk melihat valid dan reliabilitas tes tersebut.
Guru X melanjutkan bahwa adanya pengujian tes tersebut sangat penting dalam pembuatan tes karena hal itu merupakan tahap yang wajib dilakukan pembuat tes agar taraf kepercaan terhadap tes tersebut tinggi. Menanggapi jawaban guru X, peneliti mengajukan pertanyaan apakah guru X pernah membuat tes sedemikian rupa untuk siswanya atau tidak. Ketika ditanya demikian, guru X tersenyum dan menjawab bahwa dia pernah melakukan hal itu namun hanya satu kali, yaitu ketika beliau baru menjadi guru. Setelah guru X melakukan pengujian, guru X banyak kehilangan waktu untuk hal semacam itu dan mendapat masukan dari guru seniornya. Seniornya mengatakan bahwa untuk membuat tes semacam
dibuat dengan teliti baru setelah itu langsung dibuat tes kalau sudah dianggap bagus.
Sejak saat itulah guru X tidak membuat tes dengan prosedur yang sebenarnya karena waktu bagi guru sendiri sangatlah terbatas apa lagi untuk membuat tes hasil belajar yang seperti itu. Sebagai tanggapan, peneliti betanya apakah kesulitan guru X dalam membuat tes hasil belajar yang memakai prosedur yang baik. Guru X langsung menjawab bahwa kesulitan guru dalam membuat tes yang baik yaitu keterbatasan waktu. Seorang guru tidak hanya bertugas membuat tes tapi mengajarlah tugas utama guru. Mengejar ketinggalan materi saja memerlukan banyak waktu, jadi waktu untuk penguji cobaan tes itu hampir mustahil dilakukan apalagi ditambah waktu untuk menguji valid dan reliabilitas tes tersebut. Mendengar jawaban guru X, peneliti lalu bertanya apakah guru X akan menerima apabila ada yang memberi contoh tes hasil belajar yang baik dan telah teruji valid dan reliabilitasnya, dan langsung dijawab dengan tegas bahwa guru X tentu akan menerima contoh tes tersebut.
Wawancara kedua dilakukan di SD B yang mana merupakan SD tempat peneliti melakukan Probaling II dulu. Peneliti mewawancara seorang guru yang merupakan guru senior di SD tempatnya berkarya yang selanjutnya akan peneliti beri nama guru Y. Wawancara dimulai dengan pertanyaan yang sama seperti wawancara sebelumnya, dan guru Y menjawab bahwa beliau tahu cara membuat tes hasil belajar yang baik. Pembuatan tes hasil belajar beliau ketahui karena adanya sosialisasi yang ada di SD tempatnya bekerja. Tanpa peneliti bertanya tentang prosedur pembuatan tes yang baik, guru Y sudah mengatakannya terlebih dahulu. Beliau berkata bahwa langkah pembuatan tes hasil belajar yang baik itu
harus disesuaikan dengan materi dan KD. Setelah itu tes diuji terlebih dahulu agar ketemu validitas dan reliabilitasnya, agar tes ini dianggap layak untuk digunakan sebagai alat ukur.
Beliau melanjutkan kalau tes hasil belajar seperti itu baik untuk digunakan, terlebih dapat menguji kemampuan siswa secara baik. Tapi bagi guru, mengujikan tes dan mencari valid tidaknya reliabilitas tes membutuhkan waktu yang lama. Guru Y melanjutkan bahwa guru tidak mempunyai cukup waktu untuk hal demikian sehingga beliau tidak pernah membuat tes dengan prosedur yang baik. Kendati demikian beliau tetap membuat tes untuk digunakan dalam menguji kemampuan siswanya. Setelah mendengar penjelasan tersebut peneliti kemudian bertanya apakah menurut guru Y tes yang beliau buat sudah diaggap baik atau belum. Menanggapi pertanyaan peneliti, guru Y menjawab bahwa tentu saja tes tersebut baik karena guru Y selalu mengkaji ulang tes nya sebelum digunakan.
Peneliti lalu menanyakan pertanyaan terakhir sebagai penutup pertanyaan, yaitu apakah guru Y bersedia menerima contoh tes hasil belajar yang baik apabila ada yang ingin memberinya. Pertanyaan tersebut disambut guru Y dengan seutas senyum dan sedikit tawa lalu dengan cepat mengatakan bahwa dia pasti mau menerima contoh tes hasil belajar tersebut. Baginya dan bagi guru lain, contoh tes semacam itu sangat menguntungkan.
LAMPIRAN 2 FORMAT VALIDASI AHLI