• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keterbukaan terhadap Pengunjung

BAB V KAPASITAS MASYARAKAT UNTUK TERLIBAT DALAM

5.6 Keterbukaan terhadap Pengunjung

Penduduk Pekon Pahmungan memiliki sikap keterbukaan yang memudahkan orang luar masuk dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. Masyarakat Pekon Pahmungan sudah terbiasa dengan kedatangan orang luar yang datang untuk melakukan studi banding atau penelitian. Sudah tidak ada rasa terkejut ketika mereka melihat adanya orang luar yang berjalan-jalan di lingkungan mereka.

Keterbukaan ini terutama mereka tunjukkan kepada pengunjung dari luar yang mau bergabung dengan mereka. Informan yang diwawancara penulis menunjukkan kebanggaan mereka saat menceritakan hubungan baik mereka dengan para peneliti baik dari dalam maupun dari luar negeri yang pernah datang ke rumah mereka, baik untuk menginap atau sekedar ngobrol-ngobrol. Peneliti yang meneliti di Pekon Pahmungan pada umumnya tinggal selama satu sampai tiga bulan. Selama mereka tinggal di Pekon Pahmungan, masyarakat akan menyambut mereka dengan ramah jika mereka memperlakukan penduduk dengan ramah juga. Bila ada pengunjung yang bersikap sombong atau tidak menyenangkan lain, hal yang akan dilakukan masyarakat adalah sebatas mempergunjingkan mereka. Tidak pernah terjadi pengusiran atau tindakan kasar terhadap pengunjung di Pekon Pahmungan.

Gunjingan ini pernah dilontarkan kepada rekan penulis, seorang peneliti dari CIFOR. Peneliti tersebut memarkir mobilnya di sebuah lapangan yang berada di depan rumah seorang penduduk. Pemilik rumah waktu itu sedang berada di depan rumahnya, tetapi peneliti tersebut tidak menyapa pemilik rumah, dia langsung pergi setelah meninggalkan mobilnya di lapangan tersebut. Hal ini sempat menjadi gunjingan penduduk sampai peneliti kembali ke Bogor. Person kontak tempat peneliti CIFOR menginap juga tidak memberikan teguran kepada peneliti tersebut, alasannya adalah bahwa peneliti tersebut sudah akan kembali ke Bogor

mungkin karena latar belakang pendidikan mereka, mereka merupakan lulusan D3 Institut Pertanian Bogor (IPB) dan S1 sebuah Universitas swasta di Lampung. Kedua pengurus tersebut tidak tinggal di Pekon Pahmungan, tetapi di mereka tinggal Pasar Krui dan di Pekon Gunung Kemala.

66 Sebagian dari aspek kapasitas keterbukaan ini terkait dengan aspek kapasitas kemampuan

menjadi tuan rumah penginapan dan sudah dibahas pada aspek kemampuan menjadi tuan rumah penginapan tersebut.

beberapa hari lagi. Penduduk Pekon Pahmungan memiliki sikap keingintahuan yang cukup besar kepada setiap pengunjung yang datang, setiap kali mereka memiliki kesempatan untuk bertanya kepada pengunjung mereka akan menanyakan latar belakang dan tujuan pengunjung. Hal yang harus dilakukan pengunjung adalah menjawab dengan baik, maka penduduk akan dengan cepat dan mudah menerima pengunjung dengan baik.

Hal tidak menyenangkan lain yang mungkin muncul adalah tata cara berpakaian mereka. Hal ini dialami oleh beberapa penduduk67 yang memandu peneliti-peneliti wanita dari Belgia. Saat para peneliti tersebut sampai di sebuah air terjun, mereka langsung melepas pakaian mereka dan hanya menggunakan bikini68. Hal ini bertentangan dengan adat budaya di Pekon Pahmungan, sehingga mereka merasa sungkan. Namun, mereka bingung untuk mengingatkan para peneliti itu sehingga mereka memilih menyingkir dari tempat tersebut. Hal yang mereka takutkan adalah jika yang kebetulan memandu adalah dari kalangan pemuda yang kurang bisa menjaga mata dan hati mereka, sehingga akan menimbulkan hal-hal yang akan merusak nama Pekon Pahmungan. Hal ini seperti yang diutarakan oleh Jr:

”Waktu itu saya d an Pak Tp kebetulan mandu peneliti dari Belgia, mereka semua cewek-cewek, ada seorang yang bahasa Indonesianya lancar. Awalnya mereka pake baju yang biasa-biasa saja. Celana panjang sama kaos gitulah. Mereka ngajak kami ke dalam repong. Saat sudah sampai di air terjun, mereka langsung buka baju dan ternyata mereka sudah menyiapkan memakai baju untuk basah-basahan di dalam baju yang mereka pakai. Bajunya yang kayak daleman itu lho, apa namanya? Bikini ya? Bukan baju renang yang udelnya masih ketutup. Kami berdua jadi malu sendiri, kami bingung, masalahnya mereka tidak ngomong dulu, langsung saja buka baju di depan kami. Kami malah diajakin untuk mandi-mandi bareng mereka. Kami kan merasa tidak enak sendiri, lalu kami bilang saja mau istirahat terus kami agak menjauh dan malah jagain mereka. Takutnya kan ada orang-orang dalam repong yang nakal melihat mereka. Kami pikir, untung juga waktu itu kami yang mandu, kalau yang mandu anak muda-anak muda itu, walaupun awalnya tidak ada niat apa-apa, kalau melihat hal kayak gitu kan namanya juga darah muda. Kan yang jelek bawa-bawa nama pekon juga” Wawancara 18 Mei 2005

Seorang informan menyatakan bahwa memang orang-orang Lampung terkenal dengan kekerasan sifat dan kesulitan untuk menerima orang baru di

67 Kedua penduduk yang memandu pada saat itu berusia 40-an dan keduanya adalah tokoh

masyarakat di Pekon Pahmungan (mantan kepala desa dan ketua RT).

68 Hal ini seperti yang diutarakan penduduk, peneliti tersebut memakai bikini, bukan pakaian

lingkungan mereka. Namun, hal ini menurutnya tidak berlaku lagi sejak tahun 1980-an terutama di wilayah-wilayah yang menjadi tujuan transmigrasi. Seperti kawasan Pesisir Krui. Di kawasan Pesisir Krui, daerah yang dijadikan tempat transmigrasi penduduk yang berasal dari Pulau Jawa. Di Pekon Pahmungan sendiri, jumlah penduduk pendatang kurang lebih 10 % dari seluruh penduduk Pahmungan yang berjumlah 981 orang pada tahun 2003. Pada umumnya mereka menikah dengan penduduk asli dan kemudian menetap di Pekon Pahmungan69. Penduduk pendatang pada umumnya berasal dari pekon-pekon lain di sekitar Pekon Pahmungan, Palembang dan Pulau Jawa. Pada umumnya mereka pindah dan menetap di Pekon Pahmungan karena pernikahan mereka dengan penduduk asli.

Stigma bahwa penduduk Krui merupakan komunitas yang relatif sulit untuk menerima orang luar juga terdapat di lingkup akademis di Pulau Sumatera sendiri. Pada tahun 1990-an, sejumlah mahasiswa dari sebuah universitas swasta di Bandar Lampung mendatangi Pekon Pahmungan untuk melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Menurut mahasiswa-mahasiswa tersebut salah satu alasan mengapa Pekon Pahmungan dipilih adalah untuk membuktikan apakah stigma yang menyatakan bahwa penduduk Krui sulit menerima orang luar memang benar.

Hal yang terjadi saat itu adalah, penduduk menerima dengan baik kedatangan mereka dan mereka melaksanakan program-program kerja mereka dengan mendapat dukungan dari penduduk70. Dan menurut penduduk, saat mahasiswa pergi meninggalkan Pekon Pahmungan ada beberapa dari mereka dan keluarga yang dirumpangi menangis karena sudah menganggap para mahasiswa tersebut seolah-olah sebagai bagian dari keluarga mereka sendiri. Setelah itu,

69 Seorang informan yang berdarah Jawa dan masih fasih berbahasa Jawa menyatakan bahwa dia

sudah tinggal di Pekon Pahmungan sejak tahun 1980-an. Dia menikah dengan wanita asli Pekon

Pahmungan dan sudah menganggap Pekon Pahmungan sebagai rumahnya.

70 Memang tidak semua penduduk menerima dengan baik, ada yang menganggap kedatangan

rombongan mahasiswa tersebut membawa pengaruh buruk bagi generasi muda Pekon Pahmungan. Anggapan ini muncul karena ada beberapa mahasiswa yang menunjukkan perilaku pergaulan yang cenderung bebas. Contohnya adalah pasangan mahasiswa dan mahasiswi yang berpacaran, mengobrol di rumah penduduk sampai larut malam*. Meskipun terdapat tuan rumah yang akan mengawasi pasangan tersebut, menurut penduduk hal itu seharusnya tidak dilakukan oleh kalangan yang relatif memiliki latar belakang pendidikan lebih tinggi, seperti mahasiswa.

* Rumah tempat tinggal mahasiswa dan mahasiswi dipisah, jadi ketika terjadi hal ini mahasiswa yang mendatangi rumah tempat pasangannya menginap.

menurut mereka rombongan mahasiswa dari Bandar Lampung rutin mendatangi Pekon Pahmungan. Universitas yang setiap tahun mengirimkan mahasiswa untuk melakukan praktikum di Pekon Pahmungan adalah Universitas Negeri Lampung (Unila).

5.7 Nilai-nilai Dalam Masyarakat

Masyarakat Pekon Pahmungan yang sebagian besar merupakan penduduk asli Lampung dengan adat istiadat mereka yang unik. Mereka memiliki bahasa daerah, adat istiadat dan norma-norma sendiri. Hampir semua penduduk asli Lampung memeluk agama Islam. Hal ini cukup mempengaruhi adat dan norma- norma yang diyakini dalam penduduknya. Salah satu tradisi dahulu adalah dibatasinya pergaulan laki-laki dan perempuan. Jika seorang pemuda tertarik terhadap seorang pemudi maka dia akan mendatangi rumah pemudi dan memohon kepada ayah pemudi agar diperbolehkan untuk berbincang-bincang. Setelah diizinkan, maka ia akan berbincang-bincang dengan pemudi, tetapi tidak dalam satu ruangan. Si pemudi akan tetap berada di dapur, sedangkan pemuda ruangan di sampingnya dan mereka berbicang-bincang dengan dibatasi oleh pintu.

Menurut informan, tradisi ini mulai luntur sejak radio dan televisi masuk Pahmungan. Apalagi sejak listrik masuk pada tahun 80-an. Listrik yang mampu membuat suasana malam seolah siang ini menjadikan pergaulan antara pemuda dan pemudi semakin bebas. Saat ini, sudah beberapa kali dijumpai kasus hamil di luar nikah di kalangan generasi muda. Saat penulis melakukan penelitian pada bulan Maret – Juni, terdapat satu kasus hamil di luar nikah di Pekon Pahmungan. Pelunturan nilai-nilai budaya ini cukup meresahkan warga masyarakat Pekon Pahmungan. Keresahan ini seperti dinyatakan oleh Sp, seorang pejabat pemerintahan Pekon Pahmungan yang berumur sekitar 35 tahun:

”Jaman sekarang ini generasi mudanya memang lebih bebas. Jaman saya muda dulu, habis magrib kita sudah tinggal di rumah tidak keluar-keluar lagi. Keluar paling kalau ada latihan pencak silat atau hajatan. Dulu kan gelap mbak, sekarang sudah ada listrik, sudah malem juga muli (pemudi-penulis) dan meranai (pemuda- penulis) masih pada keluyuran di luar. Pacaran juga sekarang sudah gampang sekali, jaman dulu kalau ketemu orang tua cewek yang ditaksir, sopan banget, grogi juga. Tapi sekarang kalau datang ke rumah cewek terus ada bapaknya penginnya disuruh pergi saja. Tidak ada sopan-sopannya. Pernah tuh Pak Dt (tetangga Sp, penduduk Pekon Pahmungan-penulis) bilang katanya cowok anaknya datang pas

anaknya lagi tidur, eh masak cowok itu dengan enaknya bilang ke Pak Dt ”bangunin dong”. Aneh ya anak jaman sekarang?” Wawancara 25 Mei 2005

Di kalangan masayarakat terdapat beberapa orang yang aktif dalam menyikapi pelunturan nilai-nilai budaya ini. Di Pekon Pahmungan terdapat tokoh agama yang berusaha menggiatkan pengajian untuk anak-anak untuk membentengi anak-anak tersebut dari pengaruh buruk. Selain anak-anak, pengajian yang masih dilakukan adalah pengajian untuk bapak-bapak dan ibu-ibu. Pengajian yang dilakukan biasanya dilakukan dengan membaca Al Qur’an.

Keunikan nilai dalam masyarakat yang masih lestari sampai sekarang adalah persepsi mereka terhadap repong damar. Mereka menganggap repong mereka tidak hanya sekedar sebagai sumber penghasilan, tetapi juga warisan leluhur yang harus dilestarikan. Dan jika mereka mengingkari maka mereka meyakini akan mendapatkan balasannya dan mereka akan sengsara. Hal ini diungkapkan dalam sebuah petuah berbahasa Lampung

Manat ni tamong kajong: repong damar andankon, pulan dang ti pubela, kintu neram sengsara

Petuah tersebut memiliki arti

”Leluhur kita beramanat: tetap lestarikan repong damar dan janganlah merusak hutan, nanti kita sengsara”

Saat ini memang ada kenyataan yang menunjukkan sudah kurangnya rasa hormat yang dimiliki generasi muda terhadap repong damar. Mereka melakukan pencurian getah damar di repong yang bahkan mungkin di repong milik orangtuanya sendiri. Namun, pemuda tersebut mengakui jika mereka akan menghentikan aktifitas pencurian tersebut setelah mereka menikah. Setelah menikah, anak akan diberi repong orangtuanya sebagai sumber kehidupannya. Kepemilikan terebut menimbulkan rasa tanggungjawab untuk menjaga repongnya.

5.8Ikhtisar

Berbagai macam pengunjung yang datang ke Pekon Pahmungan telah membuat sebagian penduduknya terbiasa untuk menerima pengunjung yang menginap di rumahnya. Ketersediaan fasilitas dan sikap keterbukaan penduduk adalah hal utama yang menjadi dasar pertimbangan pemilihan tuan rumah. Saat ini, sudah ada indikasi kecemburuan di kalangan penduduk karena mereka merasa

akses kepada pengunjung yang menguntungkan secara ekonomi (peneliti, penggiat LSM) hanya dimiliki oleh orang tertentu saja. Penduduk yang tidak diinapi pengunjung ini merasa selama ini mereka hanya menjadi tempat tujuan menginap pengunjung yang tidak memberi keuntungan ekonomi saja (pedagang, mahasiswa).

Selama ini, pengunjung dari luar membawa penerjemah yang berasal ibu kota Kabupaten di Liwa atau dari kawasan pasar yang pada umumnya bukan penduduk asli Lampung sehingga mereka tidak memiliki pengetahuan tentang pengelolaan repong damar seperti yang dimiliki penduduk asli pada umumnya. Penduduk memang melakukan pemanduan, tetapi tidak mampu melakukan penerjemahan sehingga mereka tidak dapat mendapatkan keuntungan optimal dari proses pemanduan yang mereka lakukan.

Keterampilan dalam pengoperasian komputer terutama dimiliki oleh beberapa generasi muda. Mereka memiliki kemampuan ini karena di sekolah mereka diajarkan keterampilan mengoperasikan program-program dasar komputer seperti microsoft word dan excel sebagai bagian dari kurikulum. Sejauh ini keterampilan ini belum digunakan di Pekon Pahmungan sehingga sebagian besar dari anak-anak muda ini segera melupakan keterampilan tersebut saat sudah tidak diajarkan lagi di sekolah.

Sampai saat ini, pengelolaan keuangan yang kurang baik masih menjadi musuh utama setiap organisasi yang berdiri di lingkungan Pekon Pahmungan. Informan yang diwawancara penulis menyatakan bahwa semua organisasi yang beridiri di lingkungan Pekon Pahmungan pasti akan hancur jika sudah mulai berhubungan dengan keuangan. Hal ini menunjukkan masih lemahnya keterampilan manajemen keuangan yang dimiliki oleh penduduk Pekon Pahmungan.

Jejaring yang dimiliki oleh para penduduk terutama para pengurus organisasi kemasyarakatan Pekon Pahmungan memang cukup luas. Namun hal ini belum menjamin kemampuan penduduk Pekon Pahmungan untuk melakukan pemasaran. Persoalan komunikasi dan alat komunikasi menjadi faktor penghambat yang penting dalam melakukan pemasaran. Alat komunikasi jarak

jauh yang digunakan penduduk Pekon Pahmungan masih sebatas penggunaan telepon, telepon rumah, surat atau faximile yang relatif mahal dan terbatas penggunaannya. Penggunaan e-mail dan promosi melalui web site belum dikenal di kalangan penduduk Pekon Pahmungan, termasuk di kalangan pejabat pemerintah desa atau pengurus PMPRD. Persoalan komunikasi terutama karena para pengurus PMPRD hampir tidak ada yang mampu berbahasa Inggris, selain itu masyarakat belum menguasai media untuk melakukan promosi dan pemasaran produk mereka

Penduduk Pekon Pahmungan memiliki sikap keterbukaan yang memudahkan orang luar masuk dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. Masyarakat Pekon Pahmungan sudah terbiasa dengan kedatangan orang luar yang datang untuk melakukan studi banding atau penelitian. Sudah tidak ada rasa terkejut ketika mereka melihat adanya orang luar yang berjalan-jalan di lingkungan mereka. Keterbukaan ini terutama mereka tunjukkan kepada pengunjung dari luar yang mau bergabung dengan mereka. Informan yang diwawancara penulis menunjukkan kebanggaan mereka saat menceritakan hubungan baik mereka dengan para peneliti baik dari dalam maupun dari luar negeri yang pernah datang ke rumah mereka, baik untuk menginap atau sekedar ngobrol-ngobrol. Bila ada pengunjung yang bersikap sombong atau tidak menyenangkan lain, hal yang akan dilakukan masyarakat adalah sebatas mempergunjingkan mereka. Tidak pernah terjadi pengusiran atau tindakan kasar terhadap pengunjung di Pekon Pahmungan.