• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keterdedahan Khalayak pada Siaran Televisi

II. PENDEKATAN TEORITIS

2.1.2 Keterdedahan Khalayak pada Siaran Televisi

Keterdedahan khalayak terhadap siaran televisi diartikan bagaimana khalayak mengkonsumsi berbagai program acara yang disuguhkan televisi untuk memenuhi kebutuhan yang belum terpuaskan. Televisi sebagai media massa dianggap mampu memenuhi kebutuhan khalayak, seperti kebutuhan akan informasi, hiburan, maupun sosial budaya. Selanjutnya, khalayak akan memilih berbagai jenis tayangan televisi yang dapat memuaskan kebutuhan pribadinya.

Model Uses and Gratification memandang individu sebagai makhluk supra rasional dan sangat selektif. Dalam model ini perhatian bergeser dari proses pengiriman pesan ke proses penerimaan pesan (Wiryanto, 2004). Perhatiannya terpusat pada kerangka psikologis yang mendasari motif serta pemuasan kebutuhan melalui komunikasi massa. Menurut aliran uses and gratification, perbedaan motif dalam konsumsi media massa menyebabkan kita bereaksi pada media massa secara berbeda pula. Teori ini memfokuskan pada kemampuan media dalam menambah pengetahuan, mengubah sikap dan menggerakkan perilaku. Lanjutnya efek media massa juga akan berlainan pada setiap anggota khalayaknya (Rakhmat, 2004).

Penelitian (Suharto, 2004) membuktikan teori Uses and Gratification ini bahwa motif menonton khalayak siswa SMPN 1 Dramaga berhubungan nyata dengan tindakan siswa SMPN 1 Dramaga. Semakin sedikit motif menonton maka semakin tinggi mereka melakukan tindakan pencegahan terlibat kriminalitas.

Keterdedahan khalayak terhadap tayangan kekerasan di televisi didasari adanya motif-motif khalayak menonton televisi. Umumnya khalayak menggunakan media massa karena didorong oleh motif-motif tertentu (Rakhmat, 2004). Menurut McGuire (Rakhmat, 2004) mengelompokkan motif dalam dua kelompok besar yakni motif kognitif (berhubungan dengan pengetahuan) dan motif afektif (berkaitan dengan perasaan). Menurut Blumler (Rakhmat, 2001) motif yang ada pada tiap individu sangat beragam, yaitu : informasi (information), pengawasan (surveillance), hiburan (entertainment), ketidakpastian (uncertainty).

Keterdedahan khalayak terhadap tayangan kekerasan di televisi didasari adanya motif-motif khalayak menonton televisi. Umumnya khalayak menggunakan media massa karena didorong oleh motif-motif tertentu (Rakhmat, 2004). Menurut McGuire (Rakhmat, 2004) mengelompokkan motif dalam dua kelompok besar yakni motif kognitif (berhubungan dengan pengetahuan) dan motif afektif (berkaitan dengan perasaan). Menurut Blumler (Rakhmat, 2001) motif yang ada pada tiap individu sangat beragam, yaitu : informasi (information), pengawasan (surveillance), hiburan (entertainment), ketidakpastian (uncertainty). Menurut aliran uses and gratification, perbedaan motif dalam konsumsi media massa menyebabkan kita bereaksi pada media massa secara berbeda pula. Lanjutnya efek media massa juga akan berlainan pada setiap anggota khalayaknya (Rakhmat, 2004).

Motif kognitif merupakan motif yang timbul untuk memenuhi kebutuhan pengetahuannya atau bersifat informatif. Motif khalayak menonton tayangan kekerasan di televisi sebatas ingin memuaskan kebutuhannya akan informasi kekerasan. Menurut Nathanson dalam Budhiarty (2004) seseorang menyaksikan tayangan kekerasan guna memuaskan keingintahuan tentang hal-hal yang mengerikan. Hal ini diperkuat oleh Romer (2003) keterdedahan menonton tayangan televisi berhubungan dengan keterdedahan informasi yang mereka terima dari berita televisi setempat serta tergantung dari karakteristik penonton.

Dimana penonton mempercayai apapun isi yang disampaikan media dan pengaruhnya langsung pada personal. Khalayak yang didasari motif kognitif memiliki keterdedahan informasi yang tinggi.

Motif afektif merupakan motif yang timbul berupa perasaan atau emosi khalayak akan tayangan kekerasan. Motif afektif menonton tayangan kekerasan didasari pada rasa penasaran, mengobati kegelisahan, menghibur, dan sekedar mengisi waktu luang. Menurut Budhiarty (2004) remaja menonton program berita bukan sekedar untuk memperoleh informasi, terkadang responden hanya sekedar iseng menonton berita kriminal karena tidak ada acara lain yang menarik.

Keterdedahan tayangan kekerasan menyangkut format acara atau jenis tayangan terutama yang mengandung unsur kekerasan atau adanya adegan kekerasan. Umumnya format acara yang mengandung adegan kekerasan lebih diminati oleh khalayak. Kekerasan yang ditayangkan di TV tak hanya muncul dalam film kartun, film lepas, serial, dan sinetron. Adegan kekerasan juga tampak pada hampir semua berita, khususnya berita kriminal. Seolah, tak ada film lain yang menarik tanpa salah satu adegan tersebut yang patut untuk dihadirkan di ruang keluarga penonton Indonesia (Pitaloka, 2006)1. Hasil penelitian Mazdalifah (1999) Film atau sinetron yang bermuatan kekerasan digemari responden yang berusia 7-9 tahun. Alasannya, karena ceritanya seru, banyak berkelahi, tokoh jagoannya berkelahi, dan punya senjata.

Keterdedahan tayangan kekerasan pada khalayak juga menyangkut frekuensi dan durasi menonton tayangan kekerasan di televisi. Menurut Mazdalifah (1999) adegan kekerasan ditelevisi jika ditonton secara teratur dalam waktu yang panjang akan berpengaruh pada keterdedahan pada pengetahuan anak tentang kekerasan, penumpukkan sikap terhadap perilaku kekerasan dan peniruan terhadap perilaku kekerasaan. Hasil penelitian Mazdalifah (1999) pada murid SD Gunung Batu Bogor menunjukkan bahwa responden yang terpaan media yang tinggi, sebagian besar memiliki pengetahuan yang tinggi. Selain itu, tingginya keterdedahan tayangan kekerasan pada anak-anak terutama dalam memenuhi

1

Pitaloka, Ardiningtiyas RR. 2006. Pengkondisian Kekerasan oleh Media Televisi Kita. http://www.e-psikologi.com/sosial/111206.htm. Diakses pada Sabtu, 17 Januari 2009.

kebutuhan pengetahuan dimana anak-anak mengetahui senjata, gaya berkelahi, dan tokoh jagoan dari televisi terutama dari film kartun dan film non kartun.

Pengawasan orangtua berpengaruh pada keterdedahan tayangan kekerasan bagi khalayak khususnya anak-anak dan remaja. Menurut Singer yang dikutip Surono (Budhiarty, 2004) menyatakan bahwa terdapat hubungan yang nyata antara kebiasaan menonton televisi dengan tingkat pengawasan orang tua. Ada hubungan nyata antara kebiasaan menonton TV dengan tingkatan pengawasan orang tua. Pengawasan itu berupa pengenalan orang tua akan teman-teman sang anak, di mana mereka berada sepanjang hari. Selain itu, apakah orang tua juga menetapkan dan menjalankan peraturan pembatasan waktu bermain di luar rumah atau nonton TV. Anak yang tidak diawasi dengan ketat akan menonton TV lebih banyak dibandingkan anak-anak yang lain. Kelompok ini lebih banyak menonton program aksi dan perkelahian atau video musik. "Sebanyak 58% anak perempuan yang kurang diawasi, lebih memilih program TV berbau kekerasan atau video musik," ungkap Singer. Sehingga semakin jelas bahwa keterdedahan anak-anak dan remaja akan tayangan kekerasan dipengaruhi adanya peran orang tua.

Keterdedahan tayangan kekerasaan dalam penelitian ini meliputi format atau jenis tayangan terutama yang mengandung adegan kekerasan, frekuensi dan durasi menonton tayangan kekerasan.

2.1.3 Efek Siaran Televisi

Dokumen terkait