HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Keterdedahan Pada Media Massa
Tingkat keterdedahan yang diteliti adalah frekuensi, lama dan banyaknya responden membaca koran, majalah, brosur, mendengarkan radio, dan menonton TV yang diukur dalam jam perminggu.
a. Keterdedahan terhadap media cetak (Koran dan Majalah)
Hasil analisis data keterdedahan responden terhadap media cetak menunjukkan bahwa dari seluruh responden yang diteliti yakni 100 orang, maka sebanyak 75 orang (75%) menyatakan membaca koran dalam satu minggu terakhir, sebanyak 11 orang (11%) membaca majalah dalam satu minggu terakhir dan 14 orang lainnya (14%) tidak membaca media cetak. Sebanyak empat orang (5,33%) menyatakan membaca koran tujuh kali per minggu, 35 orang (46,67%) membaca koran antara satu sampai dua kali per minggu, 26 orang (34,67%) membaca tiga sampai empat kali per minggu, dan 10 orang (13,33%) lainnya membaca koran antara lima sampai enam kali per minggu. Sedang responde n
yang membaca majalah antara satu sampai dua kali per minggu sebanyak 11 orang (11%).
Rendahnya minat membaca responden disebabkan karena kesibukan responden, sehingga waktu yang tersedia lebih banyak dimanfaatkan untuk beristirahat sambil mendengar radio atau menonton televisi. Sedang waktu membaca yang disenangi responden adalah pada pagi hari sebanyak 41 persen, sore hari 16 persen, siang hari 11 persen, dan pada malam hari sebesar 18 persen. Responden yang membeli koran sebanyak 58 persen, pinjam dari kantor 12 persen, dan pinjam dari tetangga sebanyak lima persen.
Sebanyak 75 orang dari 100 orang responden yang selalu membaca koran menunjukkan bahwa jenis koran Pos Kota menempati urutan pertama terbanyak yang dibaca oleh sebanyak 22 orang (29,33%), disusul Kompas 20 orang (26,67%), Republika 16 orang (21,33%), Media Indonesia delapan orang (10,67%), Merdeka tujuh orang (9,33%), Suara Jagakarsa satu orang (1,33%), dan koran Indo Pos satu orang (1,33%). Pos Kota merupakan media yang banyak dibaca responden karena beritanya lebih mudah dimengerti dan menarik, bahasa yang digunakan adalah bahasa sederhana, dan harganya murah. Sedangkan Kompas dan Republika, beritanya lebih tajam, membuat pembaca lebih berpikir dan harganya juga lebih mahal.
Sebanyak 24 orang (32%) dari 75 orang responden mengaku pernah membaca informasi tentang Perkampungan Budaya Betawi Situ Babakan dari media cetak dan 51 orang (68%) tidak pernah membaca tentang Perkampungan Budaya Betawi Situ Babakan. Kurangnya promosi dan kurangnya berita mengenai PBBSB, membuat objek wisata ini tidak banyak dikenal orang sehingga perkembangannya sangat lambat. Media yang pernah memuat tentang PBBSB adalah Kompas dan dibaca oleh 10 orang (13,33%), Pos Kota dibaca oleh tujuh orang (9,33%), Republika oleh empat orang (5,33%), Suara Jagakarsa, koran Merdeka dan Indo Pos masing-masing dibaca oleh satu orang (1,33%).
Keterdedahan media massa cetak lainnya seperti majalah, relatif rendah. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa dari semua responden yang diteliti, yang membaca majalah selama seminggu, relatif sedikit yaitu sebanyak 11 orang (11%). Kemudian, dari jumlah tersebut yang menyatakan membaca majalah
antara satu sampai dua kali per minggu adalah yang paling banyak, yaitu sembilan orang (81,82%), diikuti oleh responden yang membaca majalah antara tiga sampai empat kali per minggu sebanyak dua orang (18,18%). Intensitas keterdedahan media ini berkisar antara nol sampai tujuh jam per minggu.
Jenis majalah yang paling disukai responden adalah Hidayah sebanyak tujuh orang (63,64%), Trubus dua orang (18,18%), dan Tempo sebanyak dua orang (18,18%). Responden yang membeli majalah sebanyak sembilan orang (81,81%), dan pinjam dari tetangga sebanyak dua orang (18,18%).
b. Keterdedahan terhadap media elektronik Radio
Analisis data lebih lanjut menunjukkan bahwa dari jumlah 100 orang responden, ternyata sebanyak 63 orang (63%) mendengarkan siaran radio antara satu sampai dua jam per hari, kemudian 23 orang (23%) mendengarkan radio kurang dari satu jam/hari, dan sebanyak 14 orang (14%) tidak pernah mendengarkan siaran radio. Responden yang tidak mendengarkan siaran radio karena persoalan rutinitas kerja sehingga tidak punya waktu untuk mendengar radio. Namun ada juga responden yang memang tidak mempunyai radio.
Sebanyak 86 orang (86%) responden yang mengaku mendengarkan siaran radio dan menurut stasiun radio yang paling banyak diminati maka sebanyak 48 orang (55,81%) mendengarkan Bens Radio, Elsinta sebanyak 14 orang (16,28%), Radio Republik Indonesia (RRI) sebesar 11 orang (12,79%), Ria FM didengar oleh tujuh orang (8,14%), Radio Kayu Manis (RKM) oleh empat orang (4,66%), Radio Asyafiiyah oleh satu orang (1,16%), dan Radio SP FM didengar oleh satu orang (1,16%). Banyaknya minat masyarakat untuk mendengarkan siaran Bens Radio karena saluran tersebut lebih banyak menyiarkan acara yang bernuansa Betawi dimana salahsatu acaranya adalah tentang Budaya Betawi dengan aksen
Betawi. Radio ini kepunyaan orang Betawi asli yakni milik Bapak Benyamin Sueb. Setelah beliau tiada, radio ini dikelola oleh anaknya Biem Benyamin yang memang merupakan salahsatu penggagas berdirinya Budaya Betawi di Situ Babakan.
Acara radio yang paling banyak didengar responden berturut-turut adalah Berita, hiburan, dan lagu yang masing-masing didengar oleh 29 orang (33,72%), 23 orang (26,74%), dan 18 orang (20,93%). Sedangkan acara budaya daerah, dan
kuliah subuh, masing-masing didengar oleh sembilan orang (10,47%), dan tujuh orang (8,14%). Hal tersebut memperlihatkan kenyataan bahwa media radio masih tetap dibutuhkan oleh masyarakat perkotaan.
Frekwensi (keseringan) mendengar siaran radio, satu sampai dua kali per minggu sebanyak 27 orang (31,40%), tiga sampai empat kali per minggu sebanyak 21 orang (24,42%), lima sampai enam kali per minggu 20 orang (23,25%), dan tujuh kali per minggu sebanyak 18 orang (20,93%). Waktu terbanyak yang digunakan oleh 39 orang responden (45,35%) untuk mendengarkan siaran radio adalah pada pagi hari yakni sebelum mereka mulai melakukan aktivitas kerja, kemudian 32 orang (37,21%) mendengar siaran radio pada malam hari, dan sebanyak 15 orang (17,44%) mendengarkan siaran radio pada siang hari.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa, stasiun radio yang pernah menyiarkan acara tentang PBBSB sangat minim sekali, sehingga keberadaan PBBSB tidak banyak dikenal. Namun demikian Bens radio pernah menyiarkan acara Budaya Betawi, yang dinyatakan oleh sebanyak 21 orang (24,42%) responden yang pernah mendengar acara tersebut. Intisari dari acara itu adalah informasi sekitar Perkampungan Budaya Betawi, adat perkawinan dan pengembangan pelestarian kebudayaan, dan Betawi tempo dulu dan sekarang. Hanya satu orang (1,16%) dari responden yang mengaku pernah mendengarkan siaran tentang PBBSB di stasiun Radio Republik Indonesia (RRI) dengan intisari siaran tersebut adalah tentang pengenalan budaya betawi.
c. Keterdedahan terhadap media Televisi (TV)
Dibandingkan dengan radio, pemanfaatan TV sebagai media hiburan oleh responden nampak lebih menonjol. Hal ini dapat diilustrasikan dari hasil lapangan, bahwa responden yang menonton TV sebanyak 100 orang (100%), sedangkan responden yang mendengar siaran radio sebanyak 86 orang (86%). Siaran berita dari TV ditonton oleh 98 orang (98%) responden, sedang berita dari radio didengarkan oleh 29 orang (33,72%). Untuk acara musik yang disiarkan dari TV ditonton oleh 46 persen, berturut-turut film/sinetron, hiburan, dan kebudayaan ditonton oleh 38 persen, 11 persen dan 5 persen. Hal tersebut memperlihatkan kenyataan bahwa media TV merupakan media informasi yang
penting bagi masyarakat. Namun, disamping itu media TV juga merupakan media hiburan, melalui acara-acara yang dikemas dalam berbagai bentuk, seperti musik dan film/sinetron.
Frekwensi (keseringan) menonton TV setiap hari dalam seminggu sebanyak 36 orang (36%), kemudian menyusul sebanyak 31 orang (31%) menonton TV antara satu sampai dua kali setiap minggu, sebanyak 18 orang (18%) antara tiga sampai empat kali setiap minggu, dan terakhir 15 orang (15%) antara lima sampai enam kali setiap minggu. Sementara berdasarkan intensitas menonton TV, responden dikelompokkan ke dalam tiga golongan, yaitu: responden yang memiliki intensitas rendah atau menonton TV kurang dari 4.0 jam/minggu (56%), sedang (4.0–11.0 jam per minggu) sebanyak 27 persen responden, dan tinggi (lebih dari 11.0 jam per minggu) sebanyak 17 persen. Intensitas responden menonton TV sangat bervariasi berkisar dari yang terendah sebesar tiga koma lima jam per minggu hingga yang tertinggi 14 jam per minggu, dengan rata-rata sebesar delapan koma lima jam per minggu.
Waktu yang paling banyak digunakan untuk menonton TV adalah malam hari yang ditonton oleh sebanyak 56 responden (56%), kemudian 29 orang pada sore hari (29%) , dan 15 orang pada pagi hari (15%). Hal ini mencerminkan bahwa responden memang memanfaatkan malam hari untuk istirahat sambil berkumpul dengan keluarga dan menikmati hiburan ataupun berita teraktual yang terjadi pada hari tersebut.
Stasiun TV yang paling banyak diminati oleh responden berturut-turut adalah RCTI (27%), SCTV (20%), TPI (17%), Trans TV (14%), TVRI (12%), Metro TV (3%), ANTV ( 3%), Lativi (2%), dan Indosiar (2%). Banyaknya responden yang menikmati hiburan dari stasiun RCTI, dikarenakan RCTI merupakan stasiun TV swasta yang pertama di Indonesia dan sudah melekat dihati pemirsa. Acara sinetron keagamaan yang setiap malam ditayangkan merupakan siaran yang ditunggu-tunggu oleh responden penonton RCTI dan tentunya dengan tidak meninggalkan acara berita yang memang mereka minati juga.
Responden yang pernah menonton acara tentang Perkampungan Budaya Betawi Situ Babakan adalah sebanyak 44 orang (44%), sedang 56 persen
menyatakan tidak pernah menonton tayangan tentang PBBSB. Penonton yang tidak pernah menonton tayangan tentang PBBSB, bukanlah karena tidak suka dengan tayangan tersebut, tetapi karena faktor jam tayang yang bersamaan dengan tayangan acara lain dari TV lain yang lebih menarik.
RCTI merupakan stasiun TV yang sering menayangkan informasi tentang Perkampungan Budaya Betawi Situ Babakan. Sebanyak 17 orang (17%) menyatakan pernah menonton tayangan tentang PBBSB di RCTI yang dikemas dalam berita Nuansa Pagi di Situ Babakan, Prosesi Adat Betawi, Pembangunan dan Perkembangan PBBSB, dan lain sebagainya. Acara SCTV ditonton oleh sebanyak 10 orang (10%) dengan acara, pentingnya mempertahankan kesenian dan kebudayaan Betawi. Selanjutnya TVRI ditonton oleh enam orang (6%) berita yang disajikan adalah sejarah Betawi, pelestarian dan prosesi perkawinan adat Betawi. Stasiun televisi Trans ditonton oleh lima orang (5%) yang menyajikan acara mengenai ragam budaya Betawi, khitanan ala Betawi, dan perkenalan Situ Babakan. Sedangkan Metro TV ditonton oleh tiga orang (3%) dengan sajian acara, pentingnya mempertahankan Rumah Adat Betawi dan Masakan Betawi.