Pada bab II dipaparkan beberapa kemungkinan besar penyebab job burnout yang dialami oleh dosen saat melakukan penelitian dan publikasi berdasarkan pada masing-masing tahapan. Untuk tahapan pengusulan proposal, penyebab yang cenderung terjadi ialah tuntutan untuk membuat proposal yang baik dengan tujuan yang jelas dapat mengakibatkan kelelahan secara fisik maupun emosional sedangkan pada penelitian ini, satu informan mengungkapkan penyebab seperti lembur saat bekerja dan lebih sering membaca literatur. Pada penelitian ini pula, tahapan pengusulan proposal mendapatkan total frekuensi paling sedikit dibanding tahapan lainnya atau dapat dikatakan tahapan ini tidak menjadi penyebab job burnout yang paling utama saat melakukan penelitian dan publikasi.
Di pelaksanaan penelitian, dijelaskan beberapa penyebab yang kemungkinan besar dapat menimbulkan job burnout yaitu ketika dosen melakukan penelitian dengan metode yang sudah ditentukan, misalnya menggunakan teknik wawancara maka dosen harus bertemu
JOB BURNOUT (DIMENSI ATAU
INDIKATOR)
GEJALA/CIRI PENYEBAB
25
dengan narasumber agar mendapatkan informasi yang dibutuhkan pada penelitian tersebut dimana untuk melakukan pertemuan, narasumber dan dosen harus membuat janji dan meluangkan waktu satu sama lain kemudian menentukan lokasi yang tepat untuk melakukan wawancara. Narasumber yang ditemui kemungkinan tidak hanya satu dan berada di lokasi yang berbeda-beda. Dengan begitu, dosen dapat mengalami job burnout seperti kelelahan fisik sedangkan pada penelitian ini penyebab yang terjadi ialah adanya masalah alokasi waktu yang diungkapkan oleh dua informan.
Untuk penulisan laporan, ada tiga hal yang menjadi alasan atau penyebab terjadinya job burnout pada dosen yaitu pertama saat menulis laporan penelitian maka laporan harus lengkap dan objektif. Kedua, laporan harus jelas. Ketiga, laporan harus langsung mengenai sasaran. Dengan demikian, untuk membuat suatu laporan perlu ketelitian dan keahlian agar laporan tersebut dapat dimengerti orang lain dan memiliki tujuan yang jelas. Karena adanya tuntutan tersebut maka dosen harus mampu melaksanakannya sampai mendapat hasil yang diharapkan. Namun dalam penelitian ini, terdapat masing-masing satu informan yang mengungkapkan penyebab job burnout seperti lebih banyak membaca literatur dan rekan dalam kelompok tidak bekerja sama dengan baik saat penulisan laporan.
Dosen memiliki kewajiban untuk melakukan publikasi ilmiah sesuai dengan laporan penelitian yang telah dibuat. Namun, terdapat ketentuan atau kriteria yang harus dimiliki sehingga tidak sembarang dalam melakukan publikasi. Dosen cenderung berhati-hati dan teliti agar tidak tersangkut pada plagiarisme. Dalam penelitian ini, terdapat dua informan mengalami hal yang hampir sama yaitu terdapat kesulitan atau permasalahan pada bagian publikasi dan lebih banyak membaca literatur.
Dalam bagian beban administrasi, dosen diwajibkan menyusun segala beban administrasi selama penelitian dan publikasi dimana memiliki persyaratan atau ketentuan yang harus dipenuhi. Sama halnya dalam penelitian ini, sebanyak enam informan mengungkapkan bahwa pelaporan administrasi dianggap rumit dan menyulitkan informan.
26
Indikator atau dimensi Job Burnout (kelelahan kerja) yang sering muncul (modus) pada dosen (kelompok) yang melakukan penelitian dan publikasi dengan dana eksternal
Sumber: Data primer, Mei – Juli 2018
Pada tabel 4.10, penulis membuat tabel yang berisi indikator atau dimensi job burnout yang digunakan dalam penelitian beserta seberapa banyak frekuensi yang ada pada setiap indikator atau dimensi. Gejala/ciri yang sudah dipaparkan pada tabel 4.8 dan 4.9 dimasukkan dan dijumlahkan ke dalam masing-masing indikator dan dimensi sehingga memudahkan dalam mengidentifikasi job burnout yang dialami oleh dosen. Kemudian terdapat kolom yang berisi seberapa banyak frekuensi untuk gejala/ciri baru yang muncul dalam penelitian ini.
Pertama, kelelahan fisik merupakan indikator atau dimensi dari gejala/ciri berikut yaitu kekurangan energi, keluhan fisik, perubahan pola makan, kurang bersemangat dalam bekerja, dan sering melakukan kesalahan. Kedua, kelelahan emosional merupakan indikator atau dimensi dari gejala/ciri seperti merasa cemas dalam bekerja, merasa bosan dalam bekerja, mudah putus asa, dan merasa tersiksa dalam melakukan pekerjaan. Ketiga, bersikap sinis terhadap orang lain, mudah curiga pada orang lain, dan bersikap masa bodoh adalah
27
gejala/ciri dari indikator atau dimensi kelelahan mental. Keempat, depersonalisasi merupakan indikator atau dimensi dari gejala/ciri seperti menjaga jarak dengan orang terlibat dalam pekerjaan dan acuh tak acuh.
Secara keseluruhan, indikator atau dimensi job burnout (kelelahan kerja) yang sering muncul pada dosen (kelompok) dalam penelitian dan publikasi dengan dana eksternal ialah kelelahan fisik. Masing-masing tahapan yang ada menunjukkan adanya kelelahan fisik yang dialami oleh dosen. Namun, kelelahan fisik yang paling sering muncul berada pada tahapan pelaksanaan penelitian dengan frekuensi sebesar 38 sedangkan kelelahan emosional paling sering muncul pada tahapan publikasi ilmiah dengan frekuensi sebesar 23. Kelelahan mental menjadi satu-satunya indikator yang sering muncul diantara lima tahapan yaitu pada bagian beban administrasi dengan frekuensi sebesar 12. Indikator atau dimensi depersonalisasi juga sering muncul pada bagian beban administrasi dengan frekuensi sebanyak lima. Jika dilihat pada kolom tahapan penelitian maka bagian beban administrasi memiliki total frekuensi terbanyak sebesar 69 dibandingkan dengan tahapan lainnya. Dengan begitu, dapat dikatakan bahwa sebagian besar informan mengalami job burnout pada bagian beban administrasi dan indikator atau dimensi job burnout dengan frekuensi paling banyak dipilih oleh informan ialah kelelahan fisik.
Lain halnya dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Maharani dan Triyoga (2012) yaitu mengungkapkan bahwa domain burnout yang paling menonjol ialah kelelahan emosional dimana mengarah pada perasaan lelah dalam segi psikologis maupun fisik.
Perbedaan hasil tersebut dapat disebabkan oleh jenis pekerjaan yang dimiliki yaitu dosen yang melakukan penelitian dan publikasi hanya pada waktu tertentu atau telah ditetapkan sedangkan perawat yang memiliki intensitas waktu kerja yang hampir setiap hari tergantung pada giliran kerjanya sekaligus kuantitas perawat yang lebih sering bertemu dengan orang-orang dibanding dosen saat melakukan penelitian dan publikasi.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan kuesioner terbuka yang dilaksanakan di Universitas Kristen Satya Wacana tentang Identifikasi Job Burnout pada Dosen (kelompok) yang melakukan Penelitian dan Publikasi dengan Dana Eksternal dapat diambil kesimpulan yaitu sebagai berikut:
28
1. Sesuai dengan hasil penelitian yang diperoleh oleh peneliti, Identifikasi Job Burnout Pada Dosen (Kelompok) Yang Melakukan Penelitian Dan Publikasi Dengan Dana Eksternal adalah menyatakan bahwa tingkat job burnout yang dialami dosen ialah sebesar 3.64 dimana hampir mendekati cukup tinggi dan dapat berpotensi mengalami job burnout yang sangat tinggi. Dari kesimpulan tersebut, terdapat beberapa penjelasan yang berkaitan dengan persoalan penelitian pertama yaitu sebagai berikut:
Terdapat alasan dari dosen ketika memilih tingkat job burnout yang dikemukakan sebagai penyebab job burnout dan paling banyak dipilih yaitu masalah alokasi waktu dan pelaporan administrasi yang rumit. Dari hasil penelitian yang didapat, dosen terkendala waktu dalam pelaksanaan penelitian dan penulisan laporan serta publikasi ilmiah.
Sebagian besar dosen menjadikan penelitian dan publikasi sebagai kewajiban saja untuk memenuhi tugas yang diberikan sehingga masih banyak dosen yang tidak begitu menyenangi dan menikmati penelitian dan publikasi dilihat dari jumlah penelitian dan publikasi yang dilakukan sepanjang tahun 2016-2017.
Sebagian besar dosen yang melakukan penelitian dan publikasi secara berkelompok lebih menyenangi melakukan penelitian dan publikasi dengan rekan kerja yang memiliki latar belakang yang sama. Dengan begitu, dosen dapat memperdalam ilmu dan pengetahuan yang telah didapatkan sebelumnya.
Informan yang berada pada kelompok yang sama dan berasal pada rumpun ilmu yang sama, sebagian besar tidak mengalami job burnout yang disebabkan oleh rekan kerja. Walaupun demikian, terdapat dua informan yaitu ketua yang mengalami job burnout karena hubungan dengan anggota yang tidak terjalin dengan baik saat melakukan penelitian dan publikasi.
2. Untuk menjawab kesimpulan pada persoalan penelitian kedua maka terdapat beberapa bagian yang dipaparkan sebagai berikut:
Pada tahapan pengusulan proposal, indikator atau dimensi job burnout yang muncul ialah kelelahan fisik dan kelelahan emosional. Pada tahapan pelaksanaan penelitian, penulisan laporan dan publikasi ilmiah, indikator atau dimensi job burnout yang dialami oleh informan ialah kelelahan fisik,
29
kelelahan emosional dan depersonalisasi. Kemudian pada bagian beban administrasi, semua indikator atau dimensi job burnout muncul yaitu kelelahan fisik, kelelahan emosional, kelelahan mental dan depersonalisasi.
Terdapat satu gejala/ciri job burnout yang tidak muncul dalam penelitian ini yang sebelumnya dimasukkan dalam daftar pertanyaan pada kuesioner yaitu dapat sengaja menyakiti diri sendiri dimana salah satu gejala/ciri kelelahan mental namun secara garis besar dosen mengalami job burnout dari dimensi atau indikator yang digunakan dalam penelitian ini.
3. Sebagian besar dosen mengalami job burnout (kelelahan kerja) pada indikator atau dimensi kelelahan fisik di semua tahapan yaitu pengusulan proposal, pelaksanaan penelitian, penulisan laporan, publikasi ilmiah dan beban administrasi namun pada tahapan yang paling sering muncul ialah pelaksanaan penelitian sebesar 38 dan pada tahapan publikasi ilmiah, indikator atau dimensi job burnout yang sering muncul ialah kelelahan emosional sebesar 24. Secara keseluruhan, job burnout yang sering muncul dilihat dari empat indikator atau dimensi berada pada beban administrasi dengan frekuensi sebanyak 69.
IMPLIKASI
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan maka implikasi teoritis dan terapan adalah sebagai berikut:
1. Implikasi Teoritis
Penggunaan gejala/ciri maupun indikator atau dimensi yang tepat sangat berperan penting untuk mengidentifikasi job burnout pada dosen (kelompok) yang melakukan penelitian dan publikasi dengan dana eksternal.
Berbagai tahapan dalam penelitian memberikan pengaruh pada indikator atau dimensi yang dipilih oleh dosen. Tidak semua mengalami gejala/ciri yang digunakan dalam penelitian ini namun terjadi job burnout pada semua tahapan penelitian.
Walaupun dalam penelitian ini tidak menggunakan penyebab untuk mengidentifikasi job burnout namun dosen mengemukakan beberapa penyebab yang dapat membantu menjelaskan hubungan antar indikator atau dimensi dan gejala/ciri. Penyebab job burnout tersebut ialah masalah alokasi waktu, rumit dengan pelaporan atau kelengkapan administrasi, rekan
30
kelompok tidak bekerja sama dengan baik, kesulitan yang berkaitan dengan publikasi, sering mengeluarkan pemikiran, gagasan dan ide, lembur saat bekeja, lebih banyak membaca literatur, berusaha lebih teliti, serta menjadi lebih sering berkumpul/rapat bersama tim penelitian.
Terdapat gejala/ciri job burnout yang ditemukan dalam penelitian ini yaitu susah tidur, tidak fokus, tegang, kurang istirahat, gangguan fisik ringan, kurang istirahat, masuk angin, flu, tensi turun dan kadang mudah lupa tergolong ke dalam dimensi kelelahan fisik, sedangkan kelelahan emosional ialah marah, mudah merasa kesal dengan hal-hal sepele serta merasa tidak enak mengganggu responden dan atau partisipan. Untuk dimensi atau indikator job burnout selain yang digunakan dalam penelitian ini, terdapat dimensi kelelahan intelektual dimana informan mengalami kelelahan akibat mengeluarkan pemikiran, ide atau gagasan yang berhubungan dengan pekerjaan dan dilakukan secara berulang-ulang dan terus menerus.
2. Implikasi Terapan
Bagi pihak-pihak yang berkaitan dengan sumber dana eksternal seperti DIKTI, Pemerintah non DIKTI ataupun Pihak Perusahaan Swasta lainnya, diharapkan dapat mempertimbangkan berbagai ketentuan dalam melakukan penelitian dan publikasi dengan dana eksternal agar dosen tidak mengalami job burnout yang lebih tinggi dan dapat mempengaruhi keefektifitasan dalam melakukan penelitian dan publikasi maupun pekerjaan lainnya. Hal tersebut dikarenakan sebagian besar informan memilih beban administrasi sebagai bagian yang memberikan kelelahan lebih besar dibandingkan tahapan penelitian yang lain.
Dosen yang mengalami job burnout sebaiknya tidak larut dalam masalah yang menyangkut penelitian dan publikasi dengan memaksakan diri untuk melakukan suatu hal yang memberikan dampak negatif bagi diri sendiri.
Mencari cara yang tepat dan baik bagi diri sendiri dengan mengatur stamina, emosi dan mental dalam melaksanakan suatu pekerjaan. Berhubungan baik seperti menjalin komunikasi dengan rekan kerja dapat mencegah job burnout.
Berusaha untuk menikmati pekerjaan yang dilakukan dan berpikir positif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah dosen dari setiap fakultas yang melakukan penelitian dan publikasi dengan dana eksternal tidak sama.
31
Terdapat fakultas yang memiliki perwakilan lebih dari 20 dosen dan fakultas yang hanya ada satu dosen. Dengan demikian, perbedaan jumlah tersebut sangat jauh maka diperlukan pemerataan tugas bagi setiap fakultas yang ada di Universitas Kristen Satya Wacana sehingga semua fakultas dapat ambil bagian dalam melakukan penelitian dan publikasi.