2. TINJAUAN PUSTAKA
2.5. Keterkaitan Karakteristik Oseanografi terhadap Foraminifera
Karakteristik oseanografi ditentukan oleh berbagai parameter oseanografi, diantaranya suhu, salinitas, total padatan tersuspensi (TSS), kedalaman,
fitoplankton, bahan-bahan terlarut, bahan anorganik, bahan organik, penetrasi cahaya, kandungan oksigen, gelombang, arus, turbiditas, substrat, nutrisi. Suhu memiliki peranan dalam pembentukan ukuran cangkang dan bentuk morfologi cangkang (Boltovskoy dan Wright, 1976). Foraminifera dapat ditemukan pada kisaran suhu (10- 300C) (Boersma dan Haq, 1984 in Okvariani, 2002), namun pada suhu hangat (tropis) foraminifera dapat tumbuh optimal pada kisaran suhu antara 210 sampai 260C (Boltovskoy dan Wright, 1976). Pada suhu terendah foraminifera mempunyai ukuran cangkang yang maksimal dan komposisi yang padat, sedangkan pada suhu air yang tinggi foraminifera kurang dapat bertahan pada kondisi tersebut (Okvariani, 2002).
Salinitas mempengaruhi pertumbuhan foraminifera, siklus reproduksi dan bertahan untuk hidup. Foraminifera planktonik sangat sensitif terhadap perubahan salinitas. Foraminifera ini hidup pada salinitas normal dengan kisaran salinitas (30-40‰). Foraminifera bentonik dominan pada kisaran salinitas (18-30‰) (Boltovskoy dan Wright, 1976). Namun sebagian besar spesimen foraminifera menunjukkan pertumbuhan rata-rata tertinggi dan kelimpahan populasi besar pada perairan salinitas 34‰ (Boltovskoy dan Wright, 1976).
Kelimpahan foraminifera cenderung mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya kedalaman (Adithya, 2008). Pada laut dangkal variasi jenis
foraminifera serta jumlah foraminifera semakin besar. Pada laut dalam yang memiliki tekanan yang besar menyebabkan foraminifera berdinding aglutinin saja yang dapat bertahan walaupun dengan jumlah yang sangat sedikit. Pada laut dangkal kandungan oksigen masih tinggi dan nutrien phosphate dan nitrat menyebabkan jumlah foraminifera benthonik pada area ini sangat tinggi.
Bahan anorganik berupa, sisa bahan industri, buangan limbah pabrik, sampah plastik, sisa-sisa bahan kimia, bahan bakar fosil dan kemasan produk serta detergen dapat mengganggu keberadaan, pertumbuhan, perkembangan dan
diversitas foraminifera. Bahan-bahan organik berupa detergen menyebabkan perairan yang terkontaminasi bahan tersebut menjadi asam dan mengganggu metabolisme foraminifera dan mekanisme pembentukan cangkang foraminifera serta mengganggu proses sekresi kalsium karbonat (CaCO3) (Rositasari, 1993)
Penetrasi cahaya matahari berperan penting dalam fotosintesis fitoplankton dan algae yang hidup bersimbiosis dengan foraminifera (Okvariani, 2002) dan sebagai sumber makanan foraminifera (Boltovskoy dan Wright, 1976). Apabila organisme-organisme tersebut tidak dapat berfotosintesis kembali mengakibatkan jumlah foraminifera berkurang seiring menurunnya jumlah fitoplankton dan Algae tersebut.
Konsentrasi oksigen memiliki pengaruh terhadap struktur morfologi cangkang. Pada umumnya foraminifera yang beradaptasi dengan oksigen minim berukuran kecil, tidak berornamentasi, tipis, hidupnya menempel, dan berdinding cangkang gampingan. Kandungan oksigen yang minim dan pH yang asam
mengakibatkan berkurangnya kemampuan foraminifera untuk mensekresi kalsium karbonat (Rositasari, 1993).
Gelombang dan arus berperan penting dalam difusi oksigen dari udara ke dalam perairan laut serta berperan dalam distribusi nutrien dan sumber makanan bagi foraminifera. Arus juga berperan dalam distribusi organisme laut dan siklus reproduksinya. Arus membantu dalam penyebaran fase gamet dan embrio
foraminifera planktonik, dimana foraminifera tersebut sangat tergantung oleh arus (Boltovskoy dan Wright, 1976; Pringgoprawiro et al., 1994).
Foraminifera memanfaatkan material substrat untuk mensekresikan bahan penyusun cangkang melalui mekanisme kimiawi (Boltovskoy dan Wright, 1976).
Substrat lumpur dan lanau merupakan tempat yang ideal bagi foraminifera.
Foraminifera yang hidup pada substrat lumpur–lanau pada umumnya memiliki cangkang yang tipis, rapuh berbentuk bulat telur, struktur kamar trochospira.
Foraminifera jenis Elphidium sp banyak ditemukan pada area tersebut. Pada subtrat berpasir dan berkerikil kandungan bahan organiknya rendah cangkang foraminifera tebal, ornamentasi unik, lonjong dan cembung-cembung seperti Quinqueloculina sp (Rositasari, 1996).
Turbiditas dapat mengganggu proses fotosintesis antara algae dan
fitoplankton sebagai sumber makanan bagi foraminifera. Hal ini mengakibatkan ketersediaan makanan menjadi terbatas sehingga terjadi persaingan antara organisme termasuk predasi sehingga populasi foraminifera menjadi berkurang.
Turbiditas mempengaruhi proporsi jumlah foraminifera bentonik berdinding gampingan “calcareous”, sedangkan foraminifera pembentuk dinding cangkang pasira (agglutinated) semakin meningkat karena tidak memerlukan bikarbonat dari hasil fotosintesis fitoplankton (Boltovskoy dan Wright, 1976).
2.6. Kondisi Umum Lokasi Penelitian
Pulau Kelapa merupakan salah satu dari ratusan pulau-pulau pasir dan terumbu karang yang terdapat di Kepulauan Seribu dan merupakan salah satu pulau dari sebelas pulau yang berpenghuni. Secara geografis Kepulauan Seribu terletak pada 106020’00” BT hingga 106057’00” BT dan 5010’00” LS hingga 5057’00” LS (Gambar 4), Pulau Kelapa dan Pulau Harapan termasuk kedalam tata wilayah Kabupaten Kepulauan Seribu bagian dari Provinsi DKI Jakarta,
Kelurahan Pulau Kelapa termasuk dalam Kepulauan Seribu Utara bersama-sama dengan Kelurahan Pulau Panggang dan Pulau Harapan. Berdasarkan Peta Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu tahun 2010-2030, jumlah pulau yang tersebar di Kepulauan Seribu mencapai 117 pulau yang terbagi dalam 2 kecamatan dan 6 kelurahan.
Secara geologis Pulau Kelapa merupakan paparan benua yaitu bagian dari gugusan pulau-pulau tropis yang membentuk Kepulauan Seribu dengan kondisi perairan yang hangat sirkulasi air relatif lancar kondisi seperti ini sangat mungkin ekosistem terumbu karang dan biota-biota laut berasosiasi dengannya mencapai pertumbuhan maksimal (Dahuri, 1996 in Dewi dan Darlan, 2008). Lokasi
pengambilan contoh sedimen terletak di bagian utara Teluk Jakarta sekitar 30 mil laut dari pesisir Teluk Jakarta memiliki air yang cukup jernih dan pasir laut yang putih dengan kedalaman 20-37 meter pada umumnya kurang dari 30 m. Pada zaman purba perairan ini merupakan daratan yang tidak tergenang oleh air karena terdapat pola aliran sungai bawah laut yang sekarang terjadi endapan sedimen (Nontji, 1993), sehingga penetrasi cahaya matahari mampu mencapai permukaan dasar laut, sehingga banyak sekali terdapat spot-spot terumbu karang.
Gambar 4. Lokasi Kepulauan Seribu di sebelah Utara Teluk Jakarta
Kondisi perairan laut dipengaruhi oleh dua musim antara lain musim Barat pada periode Bulan November-Maret dan musim Timur (Mei-September). Rata-rata suhu di Kepulauan Seribu Rata-rata-Rata-rata antara 250-330 Celcius, sedangkan
salinitas sangat variabel di perairan Indonesia. Hal ini disebabkan karena adanya curah hujan yang tinggi dan besarnya limpasan dari banyak sungai. Musim hujan terjadi pada bulan November hingga bulan April dengan intensitas hujan
mencapai 20 hari/bulan. Berdasarkan data tahun 2000, curah hujan bulanan di Kepulauan Seribu rata-rata tercatat sebesar 142,54 mm dengan curah hujan terendah pada bulan Juni dan tertinggi pada bulan September (TERANGI, 2007).
Kepulauan Seribu dipengaruhi oleh perairan Teluk Jakarta dimana bermuara 13 sungai yang membawa air tawar dalam jutaan meter kubik (m3) ke laut sehingga mempengaruhi salinitas dan tingkat kesadahan dari laut serta pH. Nilai pH yang
terukur pada lokasi pengamatan rata-rata sebesar 8,00-8.50 pada semua stasiun pengamatan (Huda, 2008). Perairan Indonesia termasuk iklim tropis, salinitas meningkat dari arah barat ke timur dengan kisaran antara 30 – 34‰
(Wyrtki, 1961). Namun salinitas di Pulau Kelapa cenderung konstan berkisar antara 32‰-33‰.
Arus laut dipengaruhi angin musim barat dan musim timur. Pada musim barat angin bertiup kencang berakibat arus laut yang kuat bergerak dari barat ke timur disertai hujan deras, pada saat ini arus dapat mencapai 4-5 Knot dan tinggi gelombang mencapai 2 meter dan rata-rata 2-4 m tetapi tidak lebih dari 5 meter (Muzaki, 2008). Kecepatan arus pada musim barat dapat mencapai lebih dari 0,5 m/s dengan kecepatan arus tertinggi berada pada bagian timur (Muzaki, 2008).
Perairan Kepulauan Seribu juga merupakan air laut yang berasal dari Samudera Pasifik melalui mekanisme Arlindo (Arus lintas Indonesia) yang membawa material Samudera Pasifik menuju Samudera Hindia pada umumnya, air laut dari Samudera Pasifik merupakan air laut yang hangat dan banyak ditumbuhi plankton yang merupakan salah satu makanan dari foraminifera. Hal ini ditunjukkan dari hasil penelitian Hakim (2011) menyebutkan perairan Indonesia khususnya perairan Utara Jawa memiliki kandungan klorofil-a antara 0,5-1,0 mg/m3 Nilai kandungan klorofil-a yang tinggi di perairan tersebut disinyalir membawa banyak substrat yang mengandung unsur organik dan zat hara lainnya (Hakim, 2011).
Kondisi lingkungan Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu diperkirakan mengalami berbagai perubahan seiring dengan pertumbuhan penduduk yang meningkat dan diikuti dengan berubah fungsinya menjadi obyek wisata dan tempat tinggal penduduk. Hal ini ditandai dengan berbagai masalah seperti
pengaruh sampah, tumpahan minyak, deterjen, tingkat erosi dan abrasi tinggi yang secara tidak langsung merusak struktur komunitas foraminifera pada daerah ini.
Berbagai spesies foraminifera sangat memerlukan persyaratan hidup yang spesifik untuk dapat tumbuh dan berkembang karena cara hidup dan struktur tubuh yang sederhana memungkinkan foraminifera berperan sebagai rantai pertama yang terkena oleh pencemaran. Karakteristik spesifik itu pula yang memungkinkan foraminifera memberikan respon terhadap kondisi lingkungan hidupnya dalam waktu relatif cepat (Rositasari,1996) sehingga foraminifera ini membentuk struktur komunitas yang mampu menggambarkan kondisi lingkungan dan sumberdaya yang terdapat pada daerah ini.
2.7. Karakteristik Sedimen
Seluruh permukaan dasar laut diselimuti oleh partikel-partikel sedimen yang merupakan endapan yang terjadi selama puluhan sampai jutaan tahun yang lalu sehingga menyimpan banyak informasi yang dapat menjelaskan fenomena-fenomena pembentukan sedimen ini terbentuk, termasuk yang berkaitan erat dengan pencemaran seperti kondisi kimia dan fisika perairan, kualitas lingkungan dan biota-biota laut serta pola hidup manusia (Hutabarat dan Evans, 1985).
Sedimen terbentuk dari hasil pembongkaran dan penguraian batu-batuan serta cangkang dan sisa rangka organisme laut terutama moluska dan foraminifera (Supriyadi, 1996).
Menurut tipe asalnya sedimen terbagi dalam dua kriteria, yaitu:
a. Sedimen Terigenous (material endapan berasal dari input daratan) dan b.
Sedimen Pelagik (material endapan berasal dari kolom laut). Partikel sedimen pelagik 85% terdiri dari endapan ooze kurang lebih 30% endapan ooze ini terdiri
dari organisme kecil yang keras. Endapan calcareous ini sebagian besar meluas pada dasar laut dan membentuk lapisan berdasarkan umur batuan sedimen.
Kebanyakan sedimen calcareous ini berukuran mikroskopis dan mempunyai cangkang yang mengandung CaCO3.Salah satu komponen biogenik kontributor materi endapan penyusun tipe sedimen ini adalah foraminifera. Foraminifera dalam sedimen laut telah banyak diteliti oleh para peneliti baik di Indonesia maupun di mancanegara dengan berbagai tujuan penelitian dan manfaatnya. Oleh karena itu, Kepulauan Seribu sendiri mempunyai sedimen terdiri dari batu-batu kapur (karang), pasir dan kerikil yang mengandung foraminifera dapat dijadikan tempat tujuan penelitian yang ideal (Muzaki, 2008).
3. METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini menggunakan sampel sedimen yang diperoleh secara in situdari hasil survey Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (P3GL), Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Kegiatan tersebut merupakan salah satu kerja sama dengan Pemerintah Daerah DKI untuk memperoleh berbagai aspek kelautan di Pulau Kelapa dan Pulau Harapan. Kepulauan Seribu pada koordinat 05o39’25’’-05o39’40’’LS dan 106o33’44”-106o35’27” BT pada kedalaman kurang dari 20 m (Gambar 6). Contoh sedimen diambil pada 15 titik pengamatan dengan rincian posisi ditampilkan dalam Tabel 1.
Penelitian berlangsung sejak 1 Oktober 2010 sampai dengan 31 November 2010,meliputi kegiatan koleksi foraminifera, penghitungan jumlah spesies
foraminifera. Studi ini dilakukan di Laboratorium Mikropaleontologi. Pusat Penelitian Pengembangan Geologi Kelautan (P3GL), Bandung.
3.2. Bahan dan Alat
Bahan lain yang digunakan adalah:
1. 15 contoh sedimen
2. Air untuk membantu pemisahan spesies foraminifera dari spesimen non foraminifera
3. Perekat organik untuk melekatkan spesimen terpilih dalam foraminiferal plat
22
Gambar 5. Peta lokasi penelitian dan titik lokasi pengambilan sampel sedimen Tabel 1. Perincian Letak geografis pengambilan sampel sedimen Pulau
Kelapa Kepulauan Seribu berdasarkan posisi koordinat No Stasiun Posisi Bujur Posisi Lintang 1 T1 106034'06"E 05039'08"S
2 T2 106034'04''E 05039'38"S
3 T3 106034'45"E 05039'22"S 4 T4 106034'36"E 05039'24"S 5 T5 106034'16"E 05039'16"S 6 T6 106034'17"E 05039'20"S 7 T7 106034'31"E 05039'13"S 8 T8 106034'31"E 05039'18"S 9 T9 106034'30"E 05039'22"S 10 T10 106034'30"E 05039'26"S 11 T11 106034'56"E 05039'11"S 12 T12 106035'01"E 05039'11"S 13 T13 106031'06"E 05039'09"S 14 T14 106034'32"E 05039'04"S 15 T15 106034'32"E 05039'01"S
Peralatan yang dipergunakan adalah:
1. Saringan bertingkat dengan bukaan 0,063 mm ,125 mm dan 0,250 mm 2. Slide foraminiferal dilengkapi penutup cover glass
3. Kuas berbagai ukuran, ukuran terkecil untuk pemisahan specimen, ukuran besar untuk memindahkan sampel dalam kantong plastic dan kuas kasar untuk membersihkan ayakan
4. Cawan logam (picking tray) untuk menabur sedimen hasil cucian, 5. Mikroskop binocular untuk determinasi foramnifera
6. Program software NIS Elemen untuk mendokumentasikan spesimen terpilih.
3.3. Metode Pengambilan Data
Sample sedimen yang dianalisis dalam penelitian ini berupa sample yang sudah dikeringkan dan disiapkan sebelumnya. Sample-sample tersebut diambil dengan menggunakan grab sampler. Sampel sedimen kemudian dicuci dalam ayakan berukuran 0.063 mm dan kemudian dikeringkan lalu sedimen diberikan larutan asam HCl agar terlihat sisa protoplasma dari organisme benthik di dalamnnya guna membedakannya dari batuan sedimen non-foraminifera, selain itu fosil cangkang terlihat lebih putih dan mengkilat. Sampel sedimen hasil cucian (washed residu) digunakan dalam pengamatan selanjutnya untuk diproses dilakukan tahapan metode berikutnya.
3.3.1. Tahap persiapan
Persiapan bahan sampel yang diamati yaitu 15 kantong contoh sedimen yang mewakili 15 stasiun di daerah penelitian. Setiap preparat foraminifera
(foraminiferal slide) disiapkan dan diberikan nomor lokasi serta tahun
pelaksanaan kegiatan. Tutup setiap preparat dibuka dan alas bagian hitam dipoles dengan cairan Perekat organik secara tipis untuk mencegah tenggelamnya
spesimen dalam lem.
Sampel sedimen hasil cucian dibagi ke dalam microsplitter bila sampel dalam volume besar. Pembagian dapat dilakukan menjadi setengah, seperempat atau seperdelapan dan seterusnya. Jika volume sampel sedimen sedikit (<50 gram), maka pembagian tidak diperlukan atau langsung digunakan.
3.3.2. Tahap Picking
Proses picking adalah pemisahan spesimen sebagai objek yang
diinginkan (foraminifera) dari organisme-organisme atau partikel-partikel lain yang terdapat dalam suatu sedimen pengamatan (Pringgoprawiroet al., 1994).
Sample sedimen ditaburkan kedalam picking tray secara merata dan tidak menumpuk. Spesimen foraminifera dipisahkan dari komponen sedimen non foraminifera dengan bantuan kuas halus yang telah dicelupkan ke dalam air.
Picking ini dilakukan dengan bantuan mikroskop binokuler dengan perbesaran 40x. Spesimen yang telah diambil dimasukkan pada kotak bernomor 1 dari fossil foraminiferal slides sampai bernomor 60 sebagai nomor kelompok spesiman. Jika dalam satu kotak jumlah spesimen lebih dari lima, maka spesimen tersebut
diletakkan pada kotak berikutnya karena umumnya satu kota hanya mampu terisi 5 spesimen. Karena keterbatasan jumlah kotak, spesimen yang diperhitungkan dan terkumpul adalah sampai kotak ke 60 atau total maksimum adalah 300 spesimen, dan kelebihannya tidak diperhitungkan karena 300 spesimen tersebut sudah dianggap terwakili untuk satu sample sedimen. Setelah selesai sampel
sedimen dimasukkan kembali kedalam kantong dan dilanjutkan perlakuan sampel sedimen lain hingga lima belas lokasi.
Dalam satu slide foraminiferal yang dihasilkan dari proses picking selanjutnya dilakukan proses koleksi. Hal ini dilakukan dengan cara mengambil keterwakilan dari setiap kelompok spesimen yang memiliki bentuk sempurna.
Setiap wakil spesimen tersebut dikumpulkan ke dalam kolektor slide foramiferal.
Fungsi spesimen yang dikoleksi adalah hanya untuk proses identifikasi dan dokumentasi spesies dengan menggunakan peranti lunak NIS Elemen berupa foto spesies dilengkapi dengan ukuran/perbesaran dari cangkangnya. Untuk
menghasilkan kelimpahan dilakukan seluruh spesimen yang diperoleh dari hasil picking pada setiap sample.
3.3.3. Tahap Determinasi
Determinasi/identifikasi adalah penentuan nama genus dan spesies foraminifera. Kedudukan taksonomi setiap spesimen dilakukan sampai tingkat genus dan spesies jika memungkinkan teridentifikasi. Penentuan taksonomi menggunakan acuan dari Barker (1960); Yassini dan Jones (1995); Loeblich dan Tappan (1994), serta beberapa acuan dari hasil penelitian foraminfera terdahulu dari sekitar Kepulauan Seribu.
Determinasi berdasarkan bentuk dan bahan pembentuk struktur cangkang (hialin, pasiran, gampingan), apertura, bentuk tubuh, jumlah kamar/chambers, dan lain-lain. Kemudian spesimen dibandingkan dengan yang ada dalam pustaka untuk validasi nama spesies.
3.4. Analisis StrukturKomunitas Foraminifera
Analisis struktur menggunakan beberapa indeks-indeks yang merupakan hasil analisis unvariabel, Indeks Keanekaragaman Shanon-Weinner (H’),
Keseragaman (E’), dan Dominansi Margalef (D’) (Clarke & Warwick, 2001).
3.4.1. Indeks Keanekaragaman (H’)
Indeks H’(log2) digunakan untuk mengukur keragaman hayati (Clarke &
Warwick, 2001), dengan cara merangkum komposisi dan kelimpahan jenis setiap stasiun. Indeks ini menunjukkan nilai kelimpahan relatif dan keragaman jenis pada pada tiap-tiap stasiun. Indeks yang digunakan dengan spesifikasi dari Shanon-Wiener. Semakin besar nilai indeks H’(log2), maka kelimpahan relatif dan keragaman jenis serta variasi jenis di setiap stasiun akan semakin besar.
Penggunaan H’(log2) dilakukan menurut Mendes et al. (2004), yaitu jika nilainya 0-2 disebut keranekaragaman rendah, 2-4 keanekaragaman sedang, dan lebih besar dari 4 disebut dengan keanekaragamn tinggi. Berikut adalah rumus indeks keragaman Shannon-Wienner.
..
...
(1)Keterangan rumus:
H’= Indeks Shannon-Wienner pi = Proporsi jenis ke-i
n = Individu ke-n
Logaritma log2 digunakan untuk komunitas foraminifera karena
merupakan spesies yang tersedia disedimen, memiliki kelimpahan relatif tinggi dan preferensi habitat tertentu.
3.4.2. Indeks Keseragaman (E’)
Indeks (E’) digunakan untuk mengukur meratanya kelimpahan jenis yang tersebar dalam suatu komunitas. Nilai tersebut selalu dalam kisaran 0 dan 1.
dalam hal ini nilai 1 adalah keseragaman sempurna, sedangkan nilai 0
menunjukkan sebaran sangat tidak merata (Drinia et al., 2004; Setiawati, 2005;
Burone dan Pires-Vanin, 2006). Berikut merupakan definisi indeks keseragaman (E’).
...
(2) Keterangan:E’ = Indeks Keseragaman Equitability
H’ = Indeks Shannon-Wienner (Indeks keanekaragaman).
H’ max = Nilai Kemungkinan Maksimum Indeks Shannon-Wienner(logs) S = Jumlah total jenis.
Nilai indeks berkisar antara 0-1 dengan kriteria sebagai berikut : E’ ≤ 0,4 = Keseragaman kecil, komunitas tertekan 0,4 <E’ ≤ 0,6 = keseragaman sedang, komunitas labil 0,6<E’≤ 1.0 = keseragaman tinggi, komunitas stabil
H’ max dapat tercapai jika semua jenis sama-sama melimpah artinya jika dan keanekaragaman pada setiap stasiun pengamatan tinggi dan jumlah spesies relatif sama dan tidak terjadi kesenjangan spesifik antar stasiun pengamatan maka
keseragaman dapat tercapai. Hal tersebut berarti semua data kelimpahan tetap dapat dianalisis, meskipun terdapat selang perbedaan besar diantara data kelimpahan masing-masing jenis. Analisis data kelimpahan tersebut dapat dilakukan karena nilai S dimasukkan ke dalam fungsi log, menjadi log S.
3.4.3. Indeks Dominansi Margalef (D’)
Indeks D’menunjukkan nilai dominan dari suatu jenis kelimpahan jumlahnya pada tiap-tiap stasiun; semakin besar nilainya, maka dominansi jenis dan keragaman komunitas pada stasiun tersebut semakin besar karena dominansi margalef dipengaruhi hubungan antara jumlah spesies dan jumlah total individu pada area pengambilan sample serta keterkaitan kelimpahan pada stasiun pengambilan sample (Drinia et al., 2004; English et al., 1994; Setiawati, 2005;
Burone & Pires-Vanin, 2006).
...
(3) Keterangan :D = Indeks Dominansi Margalef S = Jumlah Total Spesies
N = Jumlah Total Individu
Menurut Jorgensenet al.,( 2005). Indeks dominansi memiliki kisaran 0-10, apabila nilai mendekati 1 maka ada kecenderungan nilai dominansinya rendah sedangkan apabila nilai dominansi lebih besar dari 4,0 maka nilai dominansinya tinggi, dengan kriteria:
0 <D’≤ 2,0 : Nilai Dominansi rendah 2,0 <D’≤ 4,0 : Nilai Dominansi sedang 4,0<D≤ 10,0 : Nilai Dominansi Tinggi
3.5. Teknik Analisis Identifikasi
Penelitian ini analisis mempergunakan analisis deskriptif untuk menggambarkan atau mendeskripsikan hasil pengamatan dari foraminifera, berdasarkan ciri-ciri fisik foraminifera tersebut yang berupa bentuk tubuh, struktur tubuh, pola hidup, jenis, aperture dan jumlah kamar, struktur tubuh dan bahan pembentuk dinding foraminifera melalui pengamatan langsung dari objek
penelitian. Hal ini memungkinkan karena foraminifera memiliki spesifikasi untuk hidup pada daerah-daerah lingkungan tertentu dan sangat peka sekali terhadap lingkungan sehingga organisme ini sesuai sebagai bioindikator lingkungan.
3.5.1. Analisis Deskriptif
Data-data penelitian akan dianalisis menggunakan beberapa analisis deskriptif, yaitu antara lain:
a) Analisis Deskriptif kuantitatif
Analisis deskriptif kuantitatif adalah metode analisis yang
menitikberatkan jumlah individu dalam kandungan sedimen. Foraminifera dilakukan penghitungan hingga tingkat taksonomi terendah yaitu spesies foraminifera. Spesies foraminifera dikoleksi kemudian dikumpulkan dan diklasifikasikan dan terlihat struktur komunitas foraminifera benthik di Pulau Kelapa. Kemudian selanjutnyaagar dapat terlihat lebih spesifik dipergunakan indeks-indeks secara kuantitas bertujuan mendukung penelitian. Nilai kelimpahan
dan dominansi serta keseragaman yang terhitung dapat mendeskripsikan kondisi lingkungan daerah penelitian secara kuantitas. Foraminifera melalui metode ini dapat diketahui jumlahnya di alam, seberapa besar jenis spesiesnya, seberapa besar cakupan wilayah keberadaannya yang dapat dijelaskan melalui angka
b) Analisis Deskriptif Kualitatif
Model Analisis Deskriptif Kualitatif yang menekankan kondisi lingkungan dimana foraminifera tersebut hidup dan sebagai makhluk penciri lingkungan secara spesifik (Dewi dan Darlan, 2008). Hasil Analisis Deskriptif berdasarkan habitat dimana organisme ini hidupmelalui nilai rata-rata indeks-indeks dan kelimpahan marga tiap-tiap stasiun yang sudah dikelompokkan ke dalam masing-masing stasiun yang mencerminkan daerah pada stasiun-stasiun penelitian yang menginformasikan spesies yang dominan apakah memberikan pengaruh terhadap lingkungan atau lingkungan yang memberikan dampak sehingga spesies tersebut mendominasi. Metode ini dapat mempergunakan spesies foraminifera sebagai penciri dilihat dari keberadaannyapada stasiun-stasiun pengamatan yang mencerminkan deskripsi kualitatif suatu lingkungan daerah penelitian.
3.5.2. Multivariate Analisis dengan Minitab 14
Penelitian menggunakan instrumen statistik multivariat analisis Biplot yang bertujuan memperkuat hasil analisis menggunakan indeks komunitas.
Analisis Biplot merupakan analisis yang dapat menggambarkan berbagai parameter menjadi suatu faktor kriteria yang lebih sederhana. Analisis Biplot menghasilkan komponen baru yang mampu menjelaskan berbagai komponen parameter yang terdapat dalam penelitian. Analisis multivariate analisis dapat menggambarkan hubungan atau korelasi antara satu stasiun pengamatan dengan
stasiun pengamatan lain yang memiliki karakteristik stasiun yang berbeda satu sama lain. Analisis ini dapat memperlihatkan kemiripan atau similarity antar stasiun sehingga mampu menunjukkan stasiun yang memiliki kemiripan yang besar ataupun stasiun yang memiliki keunikan serta perbedaan dari stasiun lain.
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
Foraminifera yang berhasil ditemukan di perairan sekitar Pulau Kelapa dan Pulau Harapan terbagi dalam 5 ordo yaitu: Textulariida, Miliolida, Rotaliida, Lagenida dan Spirillinida. Ordo Rotaliida merupakan kelompok terbesar dari populasi Foraminifera di sekitar perairan Pulau Kelapa dan Pulau Harapan dengan persentase sebesar 60,37% dengan proporsi lebih dari 50% dari total jumlah keseluruhan (Gambar 6). Kelompok besar lainnya Ordo Milliolida dengan persentase 31,76%. Sedangkan Ordo Lageniida, Textulariida dan Spiriliniida merupakan kelompok dengan komposisi rendah berturut-turut, yaitu: 5,80% , 1,85% dan 0,21%.
Gambar 6. Komposisi persentase (%) foraminifera berdasarkan Ordo
ORDO ROTALIIDA 60,37%
ORDO TEXTULARIIDA
1,85%
ORDO LAGENIDA
5,80% ORDO SPIRILLINIDA
0,21%
Komposisi foraminifera
33
Dominansi Rotaliida hampir terjadi pada seluruh wilayah pengamatan dan hanya beberapa stasiun yang menunjukkan terjadinya dominansi pada Ordo Milliolida (St-7 dan St-8; Gambar 8).
Gambar 7. Diagram batang kelimpahan (Ind/m2) berdasarkan Ordo Foraminifera
Ketersediaan kelompok foraminifera pada dasarnya menunjukkan karakter
Ketersediaan kelompok foraminifera pada dasarnya menunjukkan karakter