• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keterlambatan penyerapan anggaran

Dalam dokumen TESIS. Oleh HERTATI S.A. SIMANJUNTAK (Halaman 29-35)

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teori

2.1.1. Keterlambatan penyerapan anggaran

APBD merupakan suatu bentuk konkrit rencana kerja keuangan daerah yang komprenhensif yang mengaitkan penerimaan dan pengeluaran pemerintah daerah yang dinyatakan dalam bentuk uang untuk mencapai tujuan yang direncanakan dalam jangka waktu tertentu dalam satu tahun anggaran. Sebagai instrumen kebijakan pemerintah daerah, APBD menduduki posisi sentral dalam upaya pengembangan kapabilitas dan efektivitas. APBD digunakan sebagai alat untuk menentukan besar pendapatan dan pengeluaran, membantu pengambilan keputusan dan perencanaan pembangunan, otorisasi pengeluaran di masa yang akan datang, sumber pengembangan ukuran strandar untuk evaluasi kinerja, alat untuk memotivasi para pegawai, dan alat koordinasi bagi semua aktivitas dari berbagai unit kerja. Proses penyusunan dan pelaksanaan anggaran hendaknya

difokuskan pada upaya untuk mendukung pelaksanaan aktivitas atau program yang menjadi prioritas dan preferensi daerah yang bersangkutan.

Partisipasi SKPD selaku pengguna anggaran di pemerintah daerah dalam penyusunan APBD sangat diperlukan karena usulan program yang disampaikan kepada Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) akan menjadi dasar dalam penyusunan rancangan APBD.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, pasal 66, APBD memiliki fungsi sebagai berikut:

1. Fungsi otorisasi

Fungsi otorisasi berarti APBD menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk melaksanakan pendapatan dan belanja pada tahun yang bersangkutan.

2. Fungsi perencanaan

Fungsi perencanaan berarti APBD menjadi pedoman bagi pemerintah daerah untuk merencanakan kegiatan pada tahun yang bersangkutan.

3. Fungsi pengawasan

Fungsi pengawasan berarti APBD menjadi pedoman untuk menilai (mengawasi) apakah kegiatan penyelenggaraan pemerintah daerah sudah sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.

4. Fungsi alokasi

Fungsi alokasi berarti APBD dalam pembagiannya harus diarahkan dengan tujuan untuk mengurangi pengangguran, pemborosan sumber daya, serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas perekonomian.

12

5. Fungsi Distribusi

Fungsi distribusi berarti APBD dalam pendistribusiannya harus memerhatikan rasa keadilan dan kepatutan.

Selain melaksanakan hak-haknya, daerah juga memiliki kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhinya kepada publik. Kewajiban-kewajiban-kewajiban tersebut adalah sebagai pelayanan kebutuhan dan kepentingan publik.

Kewajiban-kewajiban tersebut dapat berupa pembangunan berbagai fasilitas publik dan peningkatan kualitas pelayanan terhadap publik. Belanja di sektor publik terkait dengan penganggaran, yaitu menunjukkan jumlah uang yang telah dikeluarkan selama satu tahun anggaran.

Berdasarkan Permendagri No.59 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Permendagri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah diungkapkan pengertian belanja daerah, yaitu “belanja daerah adalah kewajiban pemerintah daerah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih”. Pengertian tersebut menyatakan bahwa belanja daerah adalah semua pengeluaran pemerintah daerah pada suatu periode anggaran yang berupa arus kas aktiva keluar, atau timbulnya utang yang bukan disebabkan oleh pembagian kepada milik ekuitas dana (rakyat).

Adapun pos belanja APBD adalah:

1. Belanja tidak langsung a. Belanja pegawai b. Belanja bunga c. Belanja hibah

d. Belanja bantuan sosial

e. Belanja tidak terduga f. Belanja bantuan keuangan 2. Belanja langsung

a. Belanja pegawai

b. Belanja barang dan jasa c. Belanja modal

Penyerapan anggaran merupakan salah satu tahapan dari siklus anggaran yang dimulai dari perencanaan anggaran, penetapan dan pengesahan anggaran oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), penyerapan anggaran, pengawasan anggaran, dan pertanggungjawaban penyerapan anggaran.

Penyerapan anggaran, khususnya belanja barang dan jasa dan belanja modal memiliki pengaruh signifikan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. SKPD harus mengatur pengeluarannya agar berjalan lancar dan dapat mendukung keberhasilan pencapaian sasaran pembangunan nasional. Namun, penyerapan anggaran tidak diharuskan mencapai 100%. Penyerapan anggaran diharapkan mampu memenuhi setidak-tidaknya lebih 80% dari anggaran yang telah ditetapkan (Arif dan Halim, 2013).

Tinggi rendahnya penyerapan anggaran suatu SKPD menjadi tolok ukur kinerja SKPD tersebut. Tingkat akurasi penarikan dana yang rendah akan menyebabkan pencairan anggaran yang tidak tepat waktu sehingga mengakibatkan penumpukan penyerapan anggaran pada akhir tahun yang mendorong SKPD untuk melaksanakan kegiatan hingga akhir tahun guna mencairkan seluruh pagu yang tercantum dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA).

14

Menurut Mardiasmo (2009:67), “Kinerja manajer publik akan dinilai berdasarkan pencapaian target anggaran, berapa yang berhasil dicapai. Penilaian kinerja dilakukan dengan menganalisis simpangan kinerja aktual dengan yang dianggarkan”. Laporan mengenai penyerapan anggaran dilaksanakan per triwulan dan per semester. Dengan adanya laporan tersebut, persentase tingkat keterlambatan penyerapan anggaran dapat diketahui.

Sampai saat ini pemerintah pusat maupun daerah belum memiliki definisi baku tentang standar dari berapa persen suatu daerah masuk ke dalam kategorisasi mengalami keminiman penyerapan APBD. Namun, ada beberapa daerah yang memiliki pakta integritas yang kemudian ditanda-tangani oleh Kepala SKPD, bahwa suatu pemerintah daerah akan tercatat mengalami keminiman serapan anggaran apabila sampai dengan akhir tahun tidak mampu merealisasikan 90%

dari total APBD yang telah disusun (Arif dan Halim, 2013).

Halim (2008:236) menyatakan, “Penyerapan dana per triwulan menggambarkan kemampuan pemerintah daerah dalam melaksanakan dan mempertanggungjawabkan secara periodik kegiatan yang direncanakan pada setiap triwulan”. Sesuai dengan Pasal 37 Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah menegaskan bahwa pemerintah daerah menyampaikan laporan triwulan pelaksanaan APBD kepada DPRD.

Apabila realisasi penerimaan pendapatan per triwulan dikurangi realisasi pengeluaran per triwulan terjadi surplus dan sementara penyerapan dana untuk pengeluaran terbesar terjadi pada periode triwulan terakhir, berarti beban kerja

pelaksanaan pembangunan terpusat pada triwulan terakhir, inilah yang disebut dengan keterlambatan penyerapan anggaran.

Keterlambatan penyerapan anggaran merupakan keterlambatan waktu dalam menindaklanjuti rencana anggaran sesuai dengan alokasi dana yang telah tertuang dalam APBD. Hal ini mengindikasikan bahwa pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya pada masing-masing periode triwulan tidak efektif karena dana yang sudah tersedia sejak triwulan pertama kurang dimanfaatkan secara efektif.

Pengukuran tingkat penyerapan anggaran belanja dapat dilakukan dengan membandingkan realisasi belanja terhadap anggaran belanja dan biasanya dinyatakan dalam persentase. Penyerapan anggaran belanja dikatakan optimal apabila realisasi dapat dicapai dengan maksimal. Berikut formula untuk mengukur tingkat penyerapan anggaran belanja :

Tingkat penyerapan anggaran = 𝑅𝑅𝑅𝑅𝑅𝑅𝑅𝑅𝑅𝑅𝑅𝑅𝑅𝑅𝑅𝑅𝑅𝑅 𝑏𝑏𝑅𝑅𝑅𝑅𝑅𝑅𝑏𝑏𝑏𝑏𝑅𝑅

𝐴𝐴𝑏𝑏𝐴𝐴𝐴𝐴𝑅𝑅𝐴𝐴𝑅𝑅𝑏𝑏 𝑏𝑏𝑅𝑅𝑅𝑅𝑅𝑅𝑏𝑏𝑏𝑏𝑅𝑅

𝑥𝑥100%

Dengan menggunakan formula di atas, maka proporsi persentase penyerapan anggaran per triwulan dapat dilihat seperti pada pada Tabel 2.1. di bawah ini :

Tabel 2.1. Proporsi Persentase Penyerapan Anggaran per Triwulan

No Uraian Persentase Penyerapan Anggaran

1 Triwulan I ≤ 25%

2 Triwulan II > 25% ; ≤ 50%

3 Triwulan III > 50% ; ≤ 75%

4 Triwulan IV > 75% ; ≤ 100%

16

Tabel 2.1. menunjukkan proporsionalitas penyerapan anggaran antar periode, yaitu derajat kesesuaian antara tingkat realisasi anggaran dengan target penyerapan anggaran yang dianggap proporsional untuk setiap periode. Periode yang dimaksud dalam penelitian ini adalah periode triwulanan. Penyerapan anggaran yang proporsional adalah penyerapan anggaran yang memenuhi jumlah persentase yang hampir sama setiap triwulannya, dengan asumsi bahwa target penyerapan anggaran yang proporsional setiap triwulannya adalah 25%. Jika per triwulan persentase penyerapan anggaran tidak mencapai atau jauh di bawah besaran maksimal persentanse penyerapan anggaran, dapat dinyatakan bahwa keterlambatan penyerapan anggaran tinggi.

Dalam dokumen TESIS. Oleh HERTATI S.A. SIMANJUNTAK (Halaman 29-35)

Dokumen terkait