• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tingginya keterlibatan pemangku kepentingan (stakeholders) adalah kunci keberhasilan dalam pembuatan dan pelaksanaan rencana pengelolaan KKP. Keterlibatan pemangku kepentingan adalah suatu proses berkelanjutan mereka dalam mengkaji, merencanakan dan melaksanakan rencana pengelolaan KKP. Keterlibatan para pemangku kepentingan pada setiap tahapan proses perencanaan akan memastikan terbangunnya dan dimasukannya pandangan atau perspektif, pengetahuan dan dukungan mereka. Jika mereka tidak sempat dilibatkan dalam setiap tahapan proses perencanaan, setidaknya mereka harus diberi informasi tentang proses tersebut, dan diikutsertakan dalam pengambilan keputusan kunci yang mungkin akan berdampak langsung ataupun tidak langsung pada kepentingan mereka masing-masing. Semakin banyak pemangku kepentingan yang percaya dan menjalankan rencana tersebut (karena rasa “memiliki”) maka akan semakin berhasil pelaksanaan rencana Anda dalam jangka panjang.

Pemangku kepentingan adalah mereka yang memiliki minat dan “kepentingan” bagi keputusan yang dibuat. Mereka adalah mitra dalam proses perencanaan. Pemangku kepentingan juga termasuk individu maupun kelompok yang terlibat, tertarik, atau terpengaruh oleh sumber daya laut dan pesisir. Tidak hanya penduduk setempat, pemangku kepentingan di wilayah pesisir juga termasuk:

1) Nelayan

2) Pelaku usaha penangkapan ikan komersial 3) Pelaku usaha budidaya laut

4) Otoritas pengelola kawasan konservasi perairan 5) Pemerintah daerah

6) Industri pariwisata (operator tur, hotel, rumah makan, dll.) 7) Kelompok konservasi lokal

9) Organisasi pengembangan masyarakat 10) Organisasi masyarakat pribumi

11) Kelompok perempuan 12) Ilmuwan

13) Pendidik

14) Lembaga swadaya masyarakat

Jika Anda belum memiliki hubungan dengan para pemangku kepentingan, yang harus diingat adalah bahwa menjalin hubungan dengan para pemangku kepentingan dapat memerlukan waktu yang panjang. Investasi ini tidak hanya berharga, namun mutlak harus dilaksanakan. Ini adalah bagian dari proses perencanaan yang harus Anda perbaharui secara terus-menerus untuk meyakinkan bahwa kepentingan mereka telah diperhatikan, dipertimbangkan dan dijadikan masukan, rasa saling percaya telah terbentuk, dan peranan serta tanggung jawab telah dilaksanakan dengan baik.

Kiat mengidentifikasi pemangku kepentingan

Dalam proses mengidentifikasi pemangku kepentingan, akan sangat wajar untuk tanpa sengaja mengabaikan pemangku kepentingan kunci atau melibatkan pemangku kepentingan baru yang datang ke lokasi. Sangat penting untuk membangun kesadaran pemain yang tajam ketika mereka datang dan pergi, dan memahami bagaimana kemungkinan mereka untuk ikut atau tidak dalam proses perencanaan pengelolaan yang sedang berlangsung.

Tujuan dilibatkannya para pemangku kepentingan dalam proses perencanaan pengelolaan adalah untuk mengidentifikasi dan membangun hubungan dengan para pemangku kepentingan kunci; dan menetapkan peranan dan tanggung jawab mereka dalam perencanaan dan implementasi rencana pengelolaan KKP.

3.2 Keterlibatan para pemangku kepentingan dalam proses perencanaan 3.2.1 Tahapan dalam melibatkan para pemangku kepentingan

Sekalipun pada tahap awal persiapan perencanaan pengelolaan, ada beberapa keputusan utama yang harus dibuat dan akan berpengaruh besar terhadap keberhasilan pengembangan dan implementasi rencana pengelolaan. Identifikasi dan keterlibatan para pemangku kepentingan adalah batu pertama sebagai fondasi yang akan mendukung seluruh proses perencanaan. Kesepakatan dalam peran dan tanggung jawab masing-masing pada tahap awal ini sangatlah penting untuk meraih keberhasilan.

Langkah-langkah utama proses tersebut adalah sebagai berikut:

1) Mengidentifikasi para pemangku kepentingan di dalam dan di sekitar KKP.

2) Mengidentifikasi ketertarikan dan hubungan di antara para pemangku kepentingan dan KKP.

3) Mendefinisikan peran para pemangku kepentingan dalam pengembangan dan implementasi rencana pengelolaan.

4) Mengidentifikasi peranan dan tanggung jawab lain dari para pemangku kepentingan dalam pengelolaan KKP, termasuk pemetaan, pemantauan dan evaluasi keefektifan pengelolaan.

Proses yang didijabarkan di bawah ini telah melalui berbagai tahapan identifikasi dan melibatkan pemangku kepentingan dalam perencanaan dan implementasi pengelolaan. Langkah 1: Mengidentifikasi dan mengenal karakter pemangku kepentingan

Pemangku kepentingan maupun masyarakat bukanlah sebuah kelompok yang terdiri dari orang-orang yang memiliki keseragaman dalam hal pengetahuan, pemikiran, keterampilan dan sikap serta status kehidupannya. Kedua kelompok orang ini juga terdiri dari orang-orang dengan tingkatan ekonomi, kelompok keluarga, dan etnis berbeda, juga terdiri dari dua gender, berbagai kelompok dengan ketertarikan berbeda, dan kelompok pengguna. Bahkan kelompok yang terlihat sama seperti “nelayan” juga terdiri dari berbagai sub-kelompok: penangkap udang, pukat, perahu dayung, kapal penangkap tuna internasional, pekerja pemrosesan dan pengalengan, dan lain sebagainya. Setiap kelompok pemangku kepentingan ini memiliki perspektif berbeda dan akan memberi tanggapan berbeda pula terhadap strategi pengelolaan KKP yang diajukan. Melibatkan para pemangku kepentingan termasuk juga mengakui keberadaaan dan menghargai peran kelompok-kelompok tersebut dan keragaman mereka.

Selain pengetahuan tentang siapa saja para pemangku kepentingan dari sebuah KKP, pengetahuan tentang keterkaitan mereka dengan KKP juga penting. Sebagai contoh, selain pemangku kepentingan yang mungkin banyak tinggal dan bekerja secara fisik dekat sekali dengan KKP namun ada juga yang tinggal dan bekerja di tempat yang jauh dari KKP. Di mana pun mereka tinggal, para pemangku kepentingan ini memiliki derajat kekuasaan dan pengaruh yang berbeda-beda berkaitan dengan pengambilan keputusan KKP. Industri berbasis kelautan diperkuat dengan para pelobi berpengaruh, atau kementrian negara yang secara geofrafis tidak terlihat secara fisik di KKP namun memiliki pengaruh besar, sementara bisnis kecil atau masyarakat lokal hanya memiliki sedikit sekali pengaruh–-atau malah sebaliknya. Informasi ini penting untuk mengidentifikasi dan menggolongkan pemangku kepentingan.

Mengidentifikasi dan menggolongkan pemangku kepentingan di awal akan menghasilkan informasi yang digunakan tim perencana ketika akan mengambil keputusan tentang siapa saja pemangku kepentingan yang harus terlibat dan bagaimana melibatkan mereka dalam proses perencanaan. Akhirnya, banyak keputusan tentang pelibatan pemangku kepentingan menjadi semakin bersifat politis—berdasar pada identifikasi pemenang dan musuh, dan dalam banyak kasus, keduanya akan dibutuhkan untuk duduk bersama dan berdiskusi.

Langkah 2: Membangun kepercayaan pemangku kepentingan

Anda telah mengidentifikasi pemangku kepentingan kunci, namun sebelum melibatkan mereka dalam proses perencanaan pengelolaan sangat penting untuk membangun hubungan. Salah satu cara terbaik melakukannya adalah meluangkan waktu secara informal dengan orang-orang. Ini akan memberi Anda kesempatan untuk bertanya, mendengar, dan mempelajari seluas apa pengetahuan yang dimiliki para pemangku kepentingan mengenai isu dan sumber daya di KKP. Tanyakan bagaimana pandangan

mereka mengenai isu tentang KKP dan apa gagasan mereka untuk memecahkan masalah tersebut.

Kiat membangun kepercayaan dengan pemangku kepentingan

Ketika bekerja dengan pemangku kepentingan dan masyarakat, uji kembali pandangan mereka mengenai sumber daya dengan pengamat independen, karena sering kali ada berbagai opini yang berdasar pada kesan yang tidak akurat.

Dengan cara meluangkan waktu bersama orang-orang tersebut, terbentuk hubungan yang saling percaya yang dapat membantu pengelolaan KKP sehingga manajer KKP dan pemangku kepentingan dapat mulai menyelesaikan masalah bersama. Misalnya, nelayan dapat menyumbangkan pengetahuan dan penyadar-tahuan mengenai status kesehatan sumber daya pesisir, namun mereka kekurangan kegiatan alternatif untuk mengurangi atau tidak melakukan praktek penangkapan ikan yang berbahaya. Contohnya, jika Anda mendapat kepercayaan mereka, selanjutnya Anda dapat bekerjasama untuk mengembangkan peluang mata pencaharian alternatif bagi mereka. Mereka akan lebih mudah mengerti bahwa anggota staf KKP ada di sekitarnya untuk membantu mereka ketimbang melarang atau membayar biaya perijinan dan pajak. Hubungan yang saling percaya dapat membawa keyakinan yang mereka butuhkan untuk dapat melihat bahwa resiko yang terjadi dengan adanya perubahan tersebut dapat dikelola dan bermanfaat. Ada banyak cara untuk memulai keterlibatan pemangku kepentingan. Para manajer KKP telah menggunakan beberapa cara di bawah ini, sebagai tambahan, untuk membuka dialog dengan pemangku kepentingan, untuk mempelajari lebih jauh tentang pengetahuan dan pandangan para pemangku kepentingan, dan untuk mengumpulkan berbagai informasi untuk proses perencanaan pengelolaan:

1) Wawancara informal atau kelompok alamiah: Percakapan sederhana dengan kelompok orang di lingkungan alami mereka. Teknik ini membuka tinjauan yang luas mengenai isu kunci yang penting bagi masyarakat lokal atau kelompok pemangku kepentingan yang berbeda, dan mungkin juga penting bagi KKP.

2) Kelompok fokus: Diskusi semi-terstruktur (semi-structured) dengan kelompok orang yang memiliki ketertarikan atau karakteristik sama. Pesertanya dipilih berdasarkan metode pengambilan sampel statistik atau nonstatistik (misalnya lintas usia, desa yang berlainan dan kelompok pengguna yang berbeda). Teknik ini sangat berguna untuk mengidentifikasi dan menggambarkan pandangan kelompok, sikap dan kebutuhan berkaitan dengan topik yang telah ditentukan sebelumnya.

3) Wawancara semi-structured: Wawancara menggunakan daftar topik bahasan , bukan menggunakan kuesioner yang rinci. Responden didorong agar mau membicarakan topik-topik tersebut secara umum tanpa diganggu oleh pewawancara, namun bisa dilewati jika topiknya memang perlu diabaikan. Teknik ini dapat menemukan topik yang tidak diduga sebelumnya.

4) Sesi curah gagasan (brain storming): Diskusi yang difasilitasi agar sekelompok orang bisa mengidentifikasi masalah dan isu di masyarakat atau di antara kelompok pemangku kepentingan. Tujuan sesi curah gagasan ini adalah untuk

mendorong para pemangku kepentingan untuk berpikir kreatif mengenai topik tertentu dan membuat opini serta gagasan baru. Fasilitator menulis gagasan-gagasan tersebut ketika muncul satu-satu tanpa membuat diskusi menjadi panjang. Gagasan itu bisa didiskusikan bersama nanti, karena tujuan curah gagasan ini adalah untuk memunculkan gagasan sebanyak-banyaknya.

5) Pengamatan sambil berjalan kaki dan naik kapal: Dilakukan oleh kelompok dan berguna untuk mengidentifikasi isu-isu sosial, lingkungan dan penghidupan. Teknik ini kerap membantu para pemangku kepentingan untuk mendapatkan perspektif baru mengenai sumber daya. Perhatikan bahwa kunjungan lapangan dapat berjalan dua arah: anggota masyarakat harus mengunjungi KKP, dan staf KKP juga harus mengunjungi masyarakat pelaku (misalnya, pengrajin pengolahan ikan, kegiatan budidaya kelautan, kapal penangkap ikan, dan kegiatan pariwisata). 6) Pemetaan partisipatif: Membuat sketsa besar wilayah lokal dengan cara

berteknologi rendah. Peta ini dibahas dalam kelompok dan digunakan untuk mengumpulkan data mengenai sumber daya dan isu sosial, serta untuk mendorong keterlibatan para pemangku kepentingan. Data dapat digabungkan ke dalam peta yang lebih formal melalui rekaman GPS dan teknik GIS.

7) Diagram Venn: Menggunakan bentuk yang saling bertumpang tindih untuk menggambarkan dan meringkas hubungan, konflik dan isu di antara pemangku kepentingan. Kelompok pemangku kepentingan dapat menggambar atau menggunakan bentuk-bentuk yang sudah digunting sebelumnya. Tumpang tindih akhir ditangkap oleh pewawancara. Teknik ini dapat digunakan selama sesi kelompok fokus.

8) Pohon masalah dan solusi: Diagram grafik tentang masalah terkini dan akar masalah serta efeknya. Hal ini membantu mengembangkan kemampuan masyarakat untuk mengkaji isu-isu yang rumit dan mengembangkan pemahaman komprehensif terhadap isu yang saling berhubungan.

9) Analisis gender: Penelitian mengenai hubungan gender dan bagaimana hal tersebut mungkin terpengaruh oleh tindakan pengelolaan seperti penetapan KKP baru atau pengenalan zonasi dan larangan.

Meskipun teknik-teknik tersebut merupakan pembuka yang bagus, ada teknik partisipatif tambahan untuk terus melibatkan pemangku kepentingan, misalnya berpartisipasi dalam upaya penegakan hukum, pemantauan, dan program penjangkauan. Pemangku kepentingan juga akan menjadi juru bicara yang sangat baik untuk KKP, berfungsi sebagai penghubung atau pendamping untuk masyarakat pemangku kepentingan yang lebih luas dan bahkan untuk media massa. Sebagai sikap penghormatan, perlu dipertimbangkan untuk meletakkan perwakilan pemangku kepentingan sebagai garda depan pada setiap kegiatan publik yang berhubungan dengan perencanaan dan pengelolaan KKP seperti lokakarya, pertemuan dengan donor, dan kegiatan media massa.

Langkah 3: Melibatkan pemangku kepentingan dalam proses perencanaan

Anda telah mengidentifikasi pemangku kepentingan kunci dalam KKP. Anda kemudian akan memanfaatkan kegiatan partisipatif untuk berdialog dengan para pemangku kepentingan dan mulai menjalin hubungan, sebuah proses yang berkelanjutan dan terus berkembang. Langkah berikutnya adalah menentukan bagaimana dan kapan saat yang

tepat bagi pemangku kepentingan untuk terlibat aktif dalam proses perencanaan pengelolaan.

Melibatkan pemangku kepentingan dapat memunculkan berbagai kemungkinan. Di satu sisi, pemangku kepentingan mungkin sangat tidak menyadari tentang apa yang terjadi dalam KKP dan sangat tidak terlibat dalam pengambilan keputusan. Di sisi lain, pemangku kepentingan mungkin dapat mempertahankan tingkat keterlibatan yang konsisten, menyadari akan semua informasi yang ada, dan mereka adalah pengambil keputusan yang aktif dan proaktif terhadap berbagai tindakan pengelolaan. Kisaran keterlibatan pemangku kepentingan diilustrasikan seperti di bawah ini:

Rangkaian Kesatuan Partisipasi Pemangku Kepentingan

Untuk bergerak menjadi aktif dalam kesatuan rangkaian, para pemangku kepentingan harus diberdayakan. Ini adalah proses berkelanjutan yang akan memberikan pengetahuan dan keterampilan bagi para pemangku kepentingan untuk dapat terlibat— melalui pendidikan lingkungan, pengembangan kapasitas dan komunikasi sosial, misalnya. Ketika pemangku kepentingan menambah pengetahuan dari apa yang telah mereka ketahui, mereka paham bahwa sebenarnya mereka memiliki kekuasaan, pengetahuan dan dukungan administratif dari staf KKP untuk membuat perbedaan nyata; karena itulah mereka menjadi berdaya. Ketika pemangku kepentingan kemudian semakin paham bahwa manager KKP sangat menerima terhadap opini dan usulan, mereka akan lebih mampu mengungkapkan opini secara akurat dan lebih siap membantu membuat keputusan dan merancang rencana pengelolaan yang efektif.

Pemberdayaan pemangku kepentingan harus menjadi tujuan aktif dalam seluruh proses perencanaan pengelolaan karena hal ini akan merupakan sumbangan terhadap kesuksesan rencana pengelolaan KKP apapun. Melalui proses pengembangan dan pelaksanaan rencana pengelolaan KKP, manajer KKP secara berkala harus mengkaji tingkat partisipasi para pemangku kepentingan dan masyarakat. Siapa saja yang berpartisipasi? Apakah hanya beberapa orang? Adakah tokoh masyarakatnya? Seberapa besar partisipasi mereka, dan dalam hal apa? Apakah semua kelompok pemangku kepentingan juga terlibat? Apakah perempuan dan lelaki juga terlibat? Adakah halangan administratif, sosial maupun politis untuk berpartisipasi?

Partisipasi dari banyak pemangku kepentingan yang bervariasi juga memiliki berbagai bentuk yang dalam rangkaian kesatuan digambarkan sebagai berikut:

1) Pendekatan instruktif: Instansi eksternal (biasanya pemerintahan) menginformasikan tentang berbagai perubahan yang akan terjadi tanpa membuka kesempatan berkomentar atau memberi umpan balik bagi para pemangku kepentingan. Pengalaman menunjukkan bahwa pendekatan seperti ini tidak akan menghasilkan sukses jangka panjang karena merupakan metode yang inklusif. 2) Pendekatan konsultatif: Pemangku kepentingan memberikan masukan terhadap

usulan yang diajukan oleh instansi eksternal namun tidak berpartisipasi dalam keputusan utama.

3) Pendekatan partisipatif terbatas: Instansi eksternal membuat keputusan utama kemudian mengundang partisipasi para pemangku kepentingan untuk aspek tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. Partisipasi pemangku kepentingan oleh instansi eksternal tersebut dapat dianggap sebagai alat untuk meraih sasaran yang ditetapkan sebelumnya dan mengurangi perlawanan.

4) Pendekatan pengelolaan kolaboratif : Pemangku kepentingan (biasanya anggota masyarakat) berpartisipasi dalam analisis dan pengembangan rencana dari awal. Partisipasi ini membantu menentukan tujuan akhir dan dipandang sebagai hak, bukan alat untuk mencapai tujuan akhir proyek yang ditetapkan sebelumnya. 5) Pendekatan penasihat: Pemangku kepentingan (khususnya masyarakat) membuat

keputusan utama sendiri, kemudian memberitahukannya ke pemerintah mengenai rekomendasi mereka. Pemerintah biasanya mengesahkan rekomendasi mereka.

6) Pendekatan swa-mobilisasi: Para pemangku kepentingan (khususnya anggota masyarakat) merencanakan dan mengorganisir diri mereka sendiri, kemudian dapat memberitahu atau tidak ke pemerintah mengenai keputusan mereka.

Pemangku kepentingan mengalami berbagai tekanan yang mungkin dapat memfasilitasi atau menghalangi maksud mereka untuk aktif berpartisipasi. Pengelola KKP perlu menyadari kekuatan tekanan ini dan bagaimana kekuatan ini dapat mempengaruhi partisipasi para pemangku kepentingan. Tidak semua orang dalam masyarakat dapat atau harus terlibat penuh—karena akan menjadi tidak praktis—namun staf KKP harus selalu memiliki intuisi yang baik mengenai siapa yang harus terlibat dan mengapa. Dalam setiap tahapan proses perencanaan, staf KKP perlu mengetahui hal-hal berikut (dari Francis dkk., 2003):

1) Siapa yang akan terpengaruh oleh tahapan perencanaan ini? 2) Siapa yang memerlukan masukan?

3) Siapa yang memiliki informasi kunci?

4) Siapa yang harus dilibatkan, dan bagaimana?

5) Siapa yang akan menggagalkan proses jika mereka tidak dilibatkan? 6) Siapa atau apa yang mungkin kita lupakan?

STUDI KASUS

Pembelajaran dari Tanga (dari Salm et al. 2000)

Di wilayah Tanga, Tanzania, terumbu karang makin memburuk dan berbeda jauh dari kondisi terumbu karang terbaik di Tanzania tahun 1968 dan hanya menjadi tempat buangan beberapa terumbu rusak dan sedikit ikan. Penangkapan ikan besar-besaran, ditambah dengan digunakannya metode penangkapan yang makin membahayakan seperti dinamit, merusak terumbu karang dan membuat para nelayan semakin putus asa. Para nelayan ini menyadari masalah yang mereka hadapi namun enggan mengemukakannya karena kebutuhan mereka akan makanan dan nafkah. Mencari

alternatif mata pencaharian lain akan menjadi beban yang terlalu berat dan beresiko karena kebutuhan mereka harus segera terpenuhi dan karena mereka hidup di bawah garis kemiskinan.

Lalu dirancanglah sebuah program yang akan menitikberatkan pada kebutuhan penduduk lokal dan lingkungan, kemudian dilaksanakan dengan bantuan IUCN atas permintaan pemerintah lokal yang berwenang. Ketika petugas pemerintahan dan masyarakat telah mengatasi kecurigaan dan persepsi mereka terhadap satu sama lain, kemudian mampu bekerjasama secara efektif, masyarakat tersebut kemudian menunjukkan keinginan dan kapasitas mereka dalam menginvestasikan waktu dan upaya untuk menangani isu kesulitan pemberdayaan dan pengelolaan.

Penduduk desa mengembangkan rencana pengelolaan mereka sendiri untuk wilayah laut dan mangrove, dan termasuk larangan memanen dan penutupan beberapa wilayah. Sebagai gantinya, wilayah-wilayah tersebut dan wilayah yang berkaitan berdasarkan hukum secara resmi telah diakui oleh pemerintahan lokal dan pusat, dan mengamankan akses eksklusif untuk anggota masyarakat yang mengimplementasikan pengelolaan, sesuai dengan persyaratan yang disetujui oleh mereka sendiri.

Pendekatan partisipatif untuk pengelolaan kawasan lindung laut dan pesisir membutuhkan pengurangan persepsi negatif dari pengelola yang berwenang yang dipegang oleh masyarakat, dan sebaliknya. Masyarakat akan menganggap bahwa staf pengelola yang berwenang sebagai pengumpul pajak, polisi, tidak berguna, korup dan pemalas; sementara pihak pengelola akan menganggap masyarakat sebagai orang-orang manja, tidak peduli dan serakah. Akan memerlukan waktu untuk mengubah persepsi tersebut dan menciptakan hubungan baik untuk mencapai kerjasama dan saling percaya. Menciptakan hubungan ini di Tanga, Tanzania, memerlukan waktu delapan belas bulan dan waktu tersebut merupakan investasi yang sangat baik.

Langkah 4: Membentuk Tim Perencanaan Pengelolaan

Tahapan utama yang ke dua untuk proses keseluruhan sesungguhnya adalah membuat rencana pengelolaan yang baru. Hal ini akan melibatkan perumusan dan kesepakatan atas tujuan akhir (goals) dan tujuan antara (objectives) yang dinyatakan secara jelas, mengembangkan rencana strategi dan tindakan dan membuat—jika diperlukan—badan administratif. Salah satu cara untuk melibatkan para pemangku kepentingan dalam proses ini adalah melalui rangkaian lokakarya perencanaan.

Mengembangkan rencana pengelolaan adalah proses tahunan (multi years). Kesabaran dan komitmen jangka panjang terhadap proses sangatlah penting untuk menarik berbagai pemangku kepentingan bersama-sama, mengatasi konfik yang tidak dapat dihindari dan halangan administratif, membangun tujuan akhir bersama, dan akhirnya menetapkan rencana yang praktis. Tetapkan sasaran jangka panjang dalam pikiran Anda setiap saat dengan kesabaran. Banyak kemungkinan tujuan akhir dan tujuan yang diinginkan, namun dana dan staf selalu dalam jumlah terbatas. Oleh karena itu, sangat penting bagi KKP dan pemangku kepentingan agar fokus pada sasaran baru dan yang terpenting. Identifikasi hasil yang diinginkan dan berbagi tujuan akhir yang sama akan membantu masyarakat membidik prioritas utama dari tujuan akhir dan tujuan tersebut.

Melibatkan pemangku kepentingan dalam proses perencanaan: Pemangku kepentingan dapat mengisi berbagai peranan dan tanggung jawab yang berbeda dalam proses

perencanaan pengelolaan. Tidak semua perwakilan pemangku kepentingan diperlukan dalam tahapan ini. Namun sangat baik jika dapat melibatkan mereka yang memang memiliki kepentingan, kebutuhan maupun keahlian terhadap isu dan sumber daya target yang Anda tuju. Meskipun penting untuk melibatkan pemangku kepentingan dalam pengembangan rencana pengelolaan, semua orang harus paham siapa yang ditunjuk sebagai pihak yang berwenang legal, dan siapa pengambil keputusan akhirnya.

Dalam membentuk sebuah tim perencanaan, ada beberapa hal yang harus dilakukan atau diperhatikan. Beberapa di antaranya adalah:

(1) Memilih anggota tim (2) Memilih ketua tim

(3) Menentukan peran dan tanggungjawab tim (4) Menentukan cara komunikasi di dalam tim

(5) Membuat pernyataan tujuan dan hasil kerja tim yang jelas (6) Melibatkan pemangku kepentingan tidak bisa hanya sekali (7) Memanfaatkan pihak netral sebagai fasilitator

Berikut adalah penjelasan singkat tentang ketujuh hal di atas. Memilih anggota tim

Mungkin Anda memiliki anggota tim dengan latar belakang bervariasi, namun tim tersebut harus sesuai dengan daerah yang akan dituju dengan berbagai pemangku kepentingan yang mungkin akan terpengaruh secara langsung atas keputusan pengelolaan Anda. Beberapa faktor yang menentukan pilihan anggota tim adalah dampak khusus yang mungkin terjadi di wilayah tersebut; operasional pemerintah, infrastrutur, dan kebijakan yang mungkin terpengaruh.

Harus ada penasehat ilmiah eksternal di dalam tim yang dapat mengarahkan para anggota ke sumber daya informasi dan meringkas informasi ilmiah mengenai bagaimana dampak keterlibatan manusia dengan format yang tidak terlalu teknis. Anggota tim lainnya yang dapat dipercaya dapat termasuk beberapa anggota staf (jika Anda telah

Dokumen terkait