• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keterlibatan Peserta Didik dalam Melakukan Observasi QS Yu>nus/10: 101:

E. Tinjauan Alquran terhadap Pelibatan Peran Orang Dewasa dalam Pendidikan.

1. Keterlibatan Peserta Didik dalam Melakukan Observasi QS Yu>nus/10: 101:































“Katakanlah: “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman.”∗

Makna yang terkandung dalam ayat 101 Surah Yu>nus ini memiliki relevansi dengan konsep pendidikan orang dewasa. Ayat ini menekankan pentingnya berpikir dan bersikap ilmiah terhadap objek-objek yang dapat ditelaah di alam semesta dengan membangkitkan kreativitas pembelajar dewasa agar

terlibat langsung untuk berhadapan dengan objek pembelajaran. Tentu saja berpikir dan bersikap ilmiah lazimnya diajarkan pada level pendidikan tinggi dan orientasi pembelajarannya diarahkan untuk pendidikan orang dewasa.

Secara umum, Al-Mara>g}i> dan Ibn Kas|i>r menyatakan ayat ini menerangkan fungsi akal manusia untuk membedakan yang baik dan buruk serta dapat mengambil pelajaran dengan mata kepala dan hati dari segala ciptaan Allah yang ada di langit dan di bumi, mulai dari bintang-bintang, matahari, bulan, awan, hujan, air, malam, siang, aneka ragam tumbuh-tumbuhan dan hewan, demikian pula gunung-gunung dan lautan.∗ Menurut As-Shiddieqy,

pembelajaran terhadap alam semesta ini akan mendorong untuk meyakini kebenaran Allah dan Rasul serta beriman kepada Alquran.∗ `Abdu>h dan Rid}a>

menegaskan bahwa kesempurnaan pengaturan terhadap berbagai unsur alam semesta itu menunjukkan tanda keagungan atas keesaan Allah, baik secara

rubu>biyah maupun ulu>hiyah.∗

Di samping itu, Hamka berpendapat bahwa ayat ini mengarahkan manusia untuk berfilsafat secara terpimpin yang dipandu oleh wahyu ilahi. Sebelum sampai pada pemikiran filsafat, manusia diperintahkan untuk memandang, meninjau, dan merenung. Baik memandang secara sepintas atau mendalam, semuanya itu akan menghasilkan aktivitas berpikir. Dengan berpikir dapat diketahui bahwa alam semesta tidak akan tercipta dengan sendirinya, karena itu tentu ada sang Mahapencipta.∗

Kata unz}uru> (( اورظن أ dalam ayat di atas berasal dari kata رظن (naz}ar),

oleh Ibn Zakariya>> diartikan dengan keinginan untuk mencapai sesuatu dengan menggunakan pandangan inderawi, kemudian pandangan itu dikembangkan dan diperluas.∗ Al-As}faha>ni> memperluas pengertian رظن(naz}ar) dengan

mengerahkan segenap pandangan inderawi dan akal untuk mencapai sesuatu

Al-Mara>g}i>, Tafsi>r al-Mara>g}i>, vol. 4, h. 189; dan Ibn Kas|i>r, Tafsi>r al-Qur’a>n al-

`Az}i>m, vol. 2, h. 538.

As-Shiddieqy, Tafsir an-Nur, vol. 2, h. 379.

`Abdu>h dan Rid}a>, Tafsi>r al-Mana>r, vol. 11, h. 348.

Hamka, Tafsi>r Al-Azhar, vol. 11, h. 323.

yang berorientasi pada konsep (harapan), penelitian, dan pengetahuan yang dihasilkan setelah penelitian, dan itulah yang disebut konsep pemikiran. Naz}ar

berdasarkan pandangan inderawi dominan bersifat umum, sedangkan naz}ar

berdasarkan akal dominan bersifat khusus.∗

Menurut Shihab, kata unz}uru> (( اورظن أ mengandung makna melakukan

pengamatan yang seksama dan mendalam dengan bertumpu pada pandangan akal dan hati.∗ Kata unz}uru> juga menunjukkan perpaduan antara perintah

memperhatikan secara seksama dan berpikir secara mendalam.∗ Atas dasar ini

pula Qut}ub menegaskan bahwa pemikiran manusia dalam membentuk visi yang Islami umumnya bersandar pada apa yang ada di langit dan dibumi.∗

Berdasarkan pendapat mufasir di atas, dapat disimpulkan bahwa ayat 101 Surah Yu>nus mengandung aspek pembelajaran bagi orang dewasa. Sebab perintah yang terdapat pada ayat tersebut adalah seruan untuk melakukan observasi yang intens terhadap fenomena yang terdapat di alam semesta ini, sekaligus dituntut kemampuan menginterpretasikan hasil observasi tersebut dalam bentuk konsep dan pemikiran yang disertai dengan analisis yang mendalam. Tentu saja tingkat kemampuan seperti ini hanya tepat diterapkan untuk level pendidikan orang dewasa, baik yang bersifat nonformal di masyarakat atau yang bersifat formal di perguruan tinggi.

Untuk mencapai optimalisasi tujuan pembelajaran observasi di atas, maka metode yang dipandang tepat untuk aktivitas pembelajarannya adalah metode al- muna>z}arah. Istilah metode ini diambil dari kata unz}uru> (( اورظن أ yang terdapat

pada ayat 101 Surah Yu>nus tersebut. Al-muna>z}arah adalah metode

pembelajaran yang diprakarsai oleh pendidik dengan melibatkan pembelajar dewasa (peserta didik) untuk melakukan pengamatan mendalam dan berpikir kritis terhadap objek yang dipelajari, kemudian peserta didik memberikan hasil

Al-As}faha>ni>, Mu`jam Mufrada>t, h. 518-519.

Shihab, Tafsir Al-Misbah, vol. 5, h. 515.

Wahbah az-Zuh}aili>, Tafsi>r al-Muni>r fi al-`Aqi>dah wa al-Syari>`ah wa al-Manhaj

(Beirut: Da>r al-Fikr, 1991), vol. 11, h. 276.

pekerjaannya kepada pendidiknya, baik secara lisan maupun tertulis untuk dibahas bersama dan diberi kesimpulan.

Bila bertumpu pada ayat di atas, maka objek pembelajaran yang diamati adalah makhluk dan sistem kerja yang ada di langit dan di bumi. Hasil temuan dari metode ini pada intinya menggiring peserta didik mengakui kemahabesaran Allah dan memantapkan keimanan. Dengan metode ini pula peserta didik dapat membuktikan sendiri bahwa ajaran Islam memiliki khazanah hukum-hukum dan teori-teori yang berlaku tentang alam semesta (kosmos).

Melalui metode al-muna>z}arah, peserta didik dewasa dapat diarahkan

untuk tekun melakukan penelitian atau riset ilmiah tentang rahasia alam semesta yang belum terungkap secara ilmiah. Nabi saw. sendiri banyak memberikan isyarat agar umatnya gemar melakukan penelitian dengan mengungkapkan hadis-hadis tentang makhluk hidup, antara lain hadis yang diriwayatkan Abu> Nu`aim tentang khasiat cendawan sebagai berikut:

ذضإرذ دلثلزذ نإبل دإلعإسذ نلعذ ثلثلرذحن نإبل ورإملعذ نلعذ كإلإمذلل دإبلعذ نلعذ نننلذفلسن ننذثذدلحذ ملللعذنن ابنأذ ننذثذدلحذ

لذنقذ هننلعذ للن

:

نإتتللعذلللإ ءرنفذتتشإ نتتهذؤننمذوذ نقتتمذلل نلتتمإ ةنأذتتملكذلل مذللسذوذ هإلللذعذ للن للصذ للإ لناسنرذ لذنقذ

.(يرنخبل ه ور)

“Kami mendapat hadis dari Abu> Nu`aim, ia menuturkan, “Kami mendapat hadis dari Sufya>n, dari `Abdul Malik, dari Amru> ibn Hurais|, dari Sa`|i>d ibn Zaid ra., ia mengatakan: Rasulullah saw. bersabda: “Cendawan termasuk anugerah, dan airnya dapat menyembuhkan (sakit) mata.” (HR. Bukhari).

Kandungan hadis di atas berkorelasi dengan QS. Yu>nus/10:101, keduanya memotivasi pembelajar dewasa untuk melakukan penelitian terhadap berbagai unsur alam semesta. Keabsahan informasi hadis tersebut, telah dibuktikan melalui penelitian ilmiah. Mu’tar Marzuqi, seorang dokter mata di Mesir telah melakukan percobaan untuk menguji kebenaran hadis ini secara praktis. Dari percobaan ini dia banyak menemukan hasil penting, di antaranya bahwa air cendawan dapat mencegah terjadinya fibrosis pada penderita trachoma. Fibrosis

ini terjadi karena masuknya formasi sel yang berbentuk serat pada bagian yang terkena penyakit. Air cendawan juga dapat mengurangi terjadinya kerusakan

pada kornea mata dalam derajat tertentu, dan mencegah pertumbuhan sel-sel yang menutupi selaput dalam mata secara tidak wajar.∗

Melalui penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa kandungan QS. Yu>nus/10:101 memuat konsep pendidikan orang dewasa dalam hal pelibatan peserta didik untuk melakukan observasi yang intens terhadap fenomena alam (lingkungan). Dengan mempergunakan metode pembelajaran al-muna>z}arah,

peserta didik digiring untuk mengakui kemahabesaran Allah dan memantapkan keimanan serta membuktikan ajaran Islam memiliki dasar-dasar pembelajaran tentang seluk-beluk alam semesta. Secara lebih rinci, pelibatan peran peserta didik dewasa pada aktivitas pendidikan dapat diperhatikan melalui tabel berikut:

Tabel 16

Pelibatan Peran Peserta Didik Dewasa pada Aktivitas Pendidikan dalam Surah Yu>nus/10:101

Bentuk Pelibatan

Metode Tujuan

Melibatkan peserta didik dalam melakukan observasi yang intens terhadap fenomena alam (lingkungan)

Al-Muna>z}arah - Mengarahkan peserta didik

mengakui kemahabesaran Allah dan memantapkan keimanan - Membuktikan ajaran Islam

memiliki khazanah hukum- hukum dan teori-teori yang berlaku tentang alam semesta (kosmos)

2. Prinsip, Metode, dan Sikap Keterlibatan yang Dikembangkan pada