Tingkat Kepentingan
FAKTOR INTERNAL STRENGTH-S :
2. KETERPD SEKTORAL
4. SDA 5. SDS 6. SDB 1. KETERPADUAN INSTITUSI 2. KETERPD SEKTORAL 3. KETERPD WILAYAH AHP PENDEKATAN STRATEGI
Berdasarkan analisis persepsi stakeholders, maka secara garis besar, strategi pengembangan wilayah dilakukan dengan menggunakan tiga pendekatan, dengan prioritas secara berturut-turut adalah sebagai berikut : (1) Keterpaduan Institusi/stakeholders, (2) Keterpaduan sektoral dan (3) keterpaduan wilayah.
Dari hasil analisis silang pada tabel 78, maka dapat dirumuskan strategi umum pengembangan wilayah di Kapet Bima, yakni sebagai berikut :
1. Pengembangan kerjasama dan peningkatan kapasitas institusi 2. Pengembangan sosial ekonomi perdesaan
3. Pengembangan sektor unggulan dan optimalisasi sumber daya lahan kering dan pesisir/kelautan
4. Pengembangan infrastruktur transportasi dan perdagangan skala regional
a. Pengembangan Kerjasama dan Peningkatan Kapasitas Institusi
Pengembangan Wilayah Kapet Bima melibatkan berbagai pihak dan secara administratif Kapet Bima terdiri dari tiga kabupaten/kota, yakni : Kabupaten Bima, Kabupaten Dompu dan Kota Bima. Konsekuensi dari hal di atas adalah dibutuhkan koordinasi dan kerjasama antar pemerintah kabupaten/kota serta dengan pelaku pembangunan lainnya.
Untuk memenuhi hal tersebut maka dibutuhkan pengembangan kerjasama dan peningkatan kapasitas institusi yang meliputi strategi : (1) Pengembangan kerjasama antar kabupaten/kota dalam Pengelolaan Kapet Bima; (2) Penyusunan dan penganggaran pembangunan Kapet Bima secara reguler pada jangka pendek, menengah dan panjang; (3) Reposisi dan restrukturisasi BP Kapet Bima dan (4) Promosi dan kerjasama inter regional.
Kerjasama antar pemerintah kabupaten/kota dalam lingkup wilayah Kapet Bima merupakan syarat utama dalam pengembangan wilayah Kapet Bima secara terpadu karena permasalahan struktural-adiministratif, kendala teknis dan keterbatasan infrastruktur merupakan kendala utama dalam kegiatan pembangunan. Selain itu alternatif lainnya adalah dengan melakukan penggambungan daerah administratif. Hal ini sesuai dengan pasal 4 sampai dengan pasal 7 Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 yang dalam pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Pemerintah Nomor 129 tahun 2000 yang
sekarang sedang dalam proses revisi, namun alternatif penggabungan daerah administrasi dapat dilakukan apabila adanya usulan dan persetujuan dari daerah yang bersangkutan dan memenuhi syarat administratif, teknis dan fisik wilayah. Berbagai pilihan alternatif ini dalam pelaksanaannya harus melalui kajian yang lebih mendalam sehingga tujuan peningkatan pelayanan kepada masyarakat serta percepatan pelaksanaan pembangunan perekonomian daerah secara terpadu dapat diwujudkan.
Dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999, kerjasama antar daerah ini secara jelas ditekankan guna mendukung pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah. Pada pasal 87 ayat (1) disebutkan bahwa beberapa daerah dapat mengadakan kerjasama antar daerah yang diatur dengan keputusan bersama. Untuk itu daerah dapat membentuk Badan Kerjasama Antar Daerah. Lebih lanjut dinyatakan bahwa daerah dapat juga mengadakan kerjasama dengan badan lain yang diatur dengan keputusan bersama.
Dalam penyempurnaannya, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 menegaskannya kembali tentang kerjasama tersebut. Pada Pasal 195 disebutkan bahwa dakam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat, daerah dapat mengadakan kerjasama dengan daerah lain yang didasarkan pada pertimbangan efisiensi dan efektifitas pelayanan publik, sinergi dan saling menguntungkan. Kerjasama ini justru diwajibkan seperti yang tersurat pada pasal 196, yakni : (1) pelaksanaan urusan pemerintahan yang mengakibatkan dampak lintas daerah dikelola bersama oleh daerah terkait; (2) untuk menciptakan efisiensi, daerah wajib mengelola pelayanan publik secara bersama dengan daerah sekitarnya untuk kepentingan masyarakat; (3) untuk pengelolaan kerjasama itu daerah dapat membentuk badan kerjasama; (4) apabila daerah tidak melaksanakan kerjasama tersebut, pengelolaan pelayanan publik tersebut dapat dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat.
Terdapat banyak model kerjasama antar daerah yang telah dipraktekkan, mulai dari pembagian (sharing) informal sumber-sumber pendapatan sampai penciptaan daerah-daerah dengan tujuan khusus dan usaha bersama untuk pencapaian layanan-layanan khusus. Banyak pengaturan kerjasama antara Pemerintah Daerah dimulai dengan perlunya untuk mempertimbangkan
kepentingan bersama seperti : (1) memastikan untuk saling melengkapi penataan lahan daerah-daerah terdekatnya; (2) pengelolaan bersama atas sumber-sumber alam; dan (3) membentuk aliansi untuk bersaing dengan daerah-daerah lain atau bernegosiasi agar lebih efektif (Sarundajang 2005).
Sampai saat ini terdapat beberapa daerah yang telah menjalin kerjasama dengan bentuk-bentuk kerjasama seperti Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi) dan sekarang berkembang sesuai dengan tuntutan yang terus berkembang, sehingga kerjasama itu menjadi Jabodetabekpunjur (Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Puncak dan Cianjur). Kerjasama ini berkembang mulai dari kerjasama memecahkan masalah-masalah kependudukan, transportasi dan infrastruktur berkembang menjadi suatu kesatuan ekosistem. Jabodetabekpunjur yang berpenduduk lebih dari 22 juta sekarang ini sudah berkembang menjadi megapolitan dengan berbagai aktivitasnya dan merupakan pusat kegiatan nasional yang harus dapat bersaing dengan wilayah lainnya dalam menarik investasi.
Daerah-daerah lain yang mengikuti Jabodetabekpunjur adalah bandung dan daerah sekitarnya membentuk Bandung Raya (Great Bandung), semarang dan daerah sekitarnya membentuk Badan Kerjasama Kedungsepur (Kendal, Ungaran, Semarang dan Purwodadi), Surabaya dan daerah sekitarnya membentuk Gerbang Kertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo dan Lamongan), Maminasata (Makassar, Maros, Sungguminasa/Gowa dan Takalar).
Kerjasama antar daerah meliputi berbagai skema sangat luas. Mulai dari kerjasama bersifat mikro (misalnya penempatan TPA sampah di daerah lain), transfer fiskal antar daerah (telah ada contoh, misalnya antara Denpasar dan Kabupaten Badung dengan beberapa daerah disekitarnya, hal ini disebabkan oleh kesadaran eksternalitas ekstra yurisdiksi kegiatan pariwisata), kerjasama ekonomi antar daerah (misalnya kasus kerjasama antar provinsi se-Sumatra), hingga kerjasama tata pemerintahan antar daerah (misalnya pembentukan Supra DPRD, asosiasi Kepala Daerah dengan tingkat koordinasi dan kewenangan tertentu) Kerjasama-kerjasama antar daerah seperti ini perlu terus didorong agar mempercepat pencapaian cita-cita otonomi daerah yang sekarang sedang dilaksanakan.
Kerjasama antar daerah dilakukan dengan prinsip efisiensi, efektifitas, sinergi dan saling menguntungkan, dimana objek kerjasama antar daerah meliputi seluruh urusan pemerintahan yang telah menjadi kewenangan daerah otonom. Dengan memperhartikan karakteristik dan permasalahan daerah-daerah kabupaten/kota di Kapet Bima, maka tiga kabupaten/kota ini dapat melakukan kerjasama dibidang :
(1) Transportasi/perhubungan. Letak geografis daerah-daerah di Kapet Bima cenderung menyebar dan terpisah, seperti Kecamatan Wera, Ambalawi, Wawo, Sape dan Lambu Kabupaten Bima yang harus melewati Kota Bima sedangkan Kecamatan Sanggar dan Tambora harus melewati Kabupaten Dompu. Demikian pula keberadaan Kecamatan Kilo untuk menuju Ibu Kota Kabupaten Dompu maka harus melewati Kecamatan Sanggar Kabupaten Bima. Tiga kabupaten/kota ini berada pada satu jalur transportasi jalan negara, sedangkan di sisi lain keberadaan Bandara Udara tersedia di Kabupaten Bima dan Pelabuhan Laut skala regional berlokasi di Kota Bima yang digunakan oleh berbagai daerah di Pulau Sumbawa, sehingga berbagai hal tersebut dapat menjadi pertimbangan pola kerjasama terkait perijinan dan pengelolaan serta pemanfaatan infrastruktur transportasi/perhubungan ini.
(2) Pengelolaan sumber daya hutan dan wilayah perbatasan. Terdapat beberapa kawasan hutan dan wilayah perbatasan antar daerah kabupaten/kota di Kapet Bima, antara lain Kawasan Hutan Gunung Tambora antara Kabupaten Bima dan Dompu. Kawasan Hutan Gunung Tambora memiliki kekayaan aneka ragam sumber daya hayati, namun kerusakan kawasan hutan Gunung Tambora ini sudah mencapai tingkat yang mengkuatirkan. Demikian juga Daerah Aliran Sungai (DAS) yang menuju Teluk Bima, dimana yang menjadi daerah hulu adalah Kecamatan Ambalawi dan Wawo Kabupaten Bima, sedangkan yang menjadi daerah hilir adalah Kota Bima. Pengelolaan dan pemanfaatan (DAS) yang tidak terarah, pendekatan penataan ruang yang belum dilakukan secara terpadu serta makin berkurangnya daerah resapan air telah menyebabkan banjir besar di Kota Bima pada tahun 2006 yang lalu. Berbagai hal tersebut menjadi alasan penting bagi perlunya pengelolaan
kawasan hutan dan wilayah perbatasan secara bersama, terpadu, dan berkelanjutan.
(3) Pengelolaan pesisir dan kelautan. Antara lain Teluk Bima yang keberadaannya di Kabupaten Bima dan Kota Bima, Teluk Sanggar dan Teluk Ombo merupakan wilayah Kabupaten Bima dan Dompu.
(4) Pengelolaan air bersih dan energi kelistrikan, antara Kabupaten Bima, Kota Bima dan Kabupaten Dompu
(5) Pengembangan kegiatan ekonomi, industri dan perdagangan. Dibutuhkan pengembangan industri pengolahan perikanan, pertanian dan peternakan serta sumber daya alam masing-masing kabupaten/kota untuk meningkatkan efisiensi dan skala ekonomi pada tingkat regional yang pada akhirnya dapat meningkatkan kegiatan eksport kawasan baik di Kabupaten Bima, Dompu dan Kota Bima.
(6) Pengembangan sosial budaya dan pariwisata. Kabupaten Bima, Dompu dan Kota Bima merupakan satu kesatuan komunitas sosial budaya ”Suku Mbojo” yang memiliki keadaan sosial dan nilai budaya yang secara generalnya relatif sama, dan di sisi lain memiliki keragaman dan kekayaan budaya dan objek pariwisata. Potensi sosial budaya dan pariwisata ini perlu dibuatkan paket promosi dan pengembangan yang dilaksanakan secara bersama dan terpadu, karena memiliki peluang pasar yang besar dan menawarkan banyak pilihan wisata bagi turis domestik maupun mancanegara.
Kerjasama antar daerah yang dilakukan dalam jangka panjang membutuhkan suatu institusi penyelenggara kerja sama yang dapat berbentuk badan kerja sama. Badan kerja sama dibentuk pada setiap bidang kerja sama, dimana pembentukan dan susunan organisasi badan kerja sama sebaiknya ditetapkan dengan Keputusan Bersama Kepala Daerah sehingga memiliki kekuatan hukum yang tetap. Penyelenggaraan kerjasama antar daerah kabupaten/kota dapat difasilitasi oleh Gubernur, baik karena keberadaannya sebagai Kepada Pemerintah Daerah Propinsi (kewenangan dalam bentuk desentralisasi dan dekonsentrasi, pasal 1 UU Nomor 32 Tahun 2004) maupun karena kewenangannya mengkoordinir fasilitasi lintas pemerintah daerah
kabupaten/kota dalam lingkup daerah propinsi (pasal 13, pasal 15, pasal 16, pasal 17 dan pasal 18 UU Nomor 32 Tahun 2004).
Perubahan kebijakan pemerintah pusat terkait keberadaan Kapet dan pengelolaannya seperti yang tertuang dalam Keppres Nomor 150 Tahun 2000, berimbas pada kelembagaan dan pengelolaan Kapet yang tidak jelas. Karena struktur hirarki Tim Teknis dan Badan pengelola yang cenderung mengambang dan kewenangannya hanya memberikan pertimbangan teknis bagi pemberian perijinan investasi, padahal secara hirarki, kelembagaan pada level yang semakin rendah, maka fungsi-tugasnya harus lebih teknis-operasional dan jelas. Dengan memperhatikan berbagai permasalahan dan kebutuhan pengembangan wilayah di atas, maka reposisi dan restrukturisasi BP Kapet Bima dapat didorong untuk melaksanakan fungsinya sebagai Badan Kerja Sama Antar Daerah (Bakesda) di bidang pengembangan ekonomi, industri dan perdagangan.
Tugas Badan Kerja Sama Antar Daerah (Bakesda) diarahkan untuk melakukan kajian, perencanaan, pengelolaan dan evaluasi atas pelaksanaan kerja sama. Sehingga Badan Kerjasama Antar Daerah (Bakesda) dapat memberikan masukan atau saran secara lebih efektif kepada kepada masing-masing Kepala Daerah mengenai kebijakan dan program pengembangan wilayah pada bidang kerja sama dimaksud.
Badan Kerja Sama Antar Daerah (Bakesda) didalam penyelenggaraan kerja sama perlu menyusun program kerja baik untuk periode jangka pendek (satu tahun) maupun untuk jangka menengah dan panjang. Program kerja tersebut terintegrasi dengan program pembangunan wilayah masing-masing daerah sehingga segala pembiayaan dan pendapatan daerah sebagai akibat kerja sama ini dimasukkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang sebelumnya telah dikonsultasikan dan disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) masing-masing. Selain itu pembiayaan dapat pula diusahakan melalui pembiayaan APBD Propinsi, APBN dan atau dari pihak ketiga.
Pasal 195 ayat (3) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 menyatakan bahwa dalam penyediaan pelayanan publik, daerah dapat bekerja sama dengan pihak ke tiga yang dapat berbentuk perusahaan swasta yang berbadan hukum, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD),
koperasi, yayasan, dan lembaga di dalam negeri lainnya. Objek kerja sama antara lain pembuatan kartu tanda penduduk (KTP) dan dukumen lainnya, pengembangan dan pendampingan usaha tani, penyediaan kredit usaha kecil dan menengah, pengembangan klaster atau kawasan sentra produksi, serta kerja sama lainnya.
Kebijakan otonomi daerah yang mendorong dan memberikan peluang kepada daerah-daerah di Kapet Bima untuk mengelola sumber daya wilayahnya adalah sabagai peluang untuk bekerja sama dengan daerah atau pihak lain dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan kemajuan daerah itu sendiri. Kegiatan promosi juga perlu didorong melalui pameran/expo, kampanye, serta pemanfaatan media massa dan internet sehingga informasi tentang berbagai keunggulan dan kekayaan berbagai sumber daya wilayah dapat diketahui dan direspon oleh pihak atau daerah lain yang pada akhirnya akan melahirkan transaksi dan kerjasama/kemitraan.
Untuk mendukung promosi dan kerjasama, maka yang tidak kalah pentingnya adalah penciptaan image suatu produk suatu wilayah. Dibutuhkan promosi dan kerjasama yang yang efektif untuk membangun pencitraan komoditi dan wilayah yang didukung oleh pengembangan mutu dan ciri produk yang khas (varietas/spesifik lokal) sehingga dapat membentuk trade mark Kapet Bima.
b. Pengembangan Sosial Ekonomi Perdesaan
Sebagian besar wilayah di Kapet Bima bercirikan agraris dan perdesaan, dengan topografi yang berbukit dan berupa pegunungan dengan kemiringan lahan yang agak curam dan curam (luas wilayah yang memiliki kemiringan 15-40o = 35.56 % dan > 40o = 32.24 %), sehingga memiliki faktor kesulitan yang relatif tinggi untuk menghubungkan antar wilayah melalui prasarana jalan yang di bangun serta dalam membangun jaringan irigasi untuk mendukung kegiatan pertanian. Arah pergerakan dan sebaran penduduk tidak menyebar merata tapi membentuk pola linear dan melingkar karena permasalahan topografi yang berbukit disamping mengikuti arah perkembangan wilayah yang terpusat dan mengikuti sekitar jalur jalan raya negara.
Daerah-daerah belakang Kapet Bima bagian utara, selatan dan barat secara relatif kurang berkembang dibandingkan daerah di pusat wilayah (Kota Bima) dan daerah disekitar jalan negara (jalan arteri). Di bagian utara terdapat Kecamatan Wera, Ambalawi, Donggo Kabupaten Bima, dan Kilo Kabupaten Dompu. Di bagian selatan, Kecamatan Huu, Pajo Kabupaten Dompu dan Kecamatan Langgudu Kabupaten Bima. Sedangkan Bagian Barat adalah Kecamatan Sanggar dan Tambora Kabupaten Bima, Kecamatan Kempo, dan Pekat Kabupaten Dompu. Daerah-daerah belakang ini memiliki kekayaan sumber daya alam.
Untuk mengembangan kondisi sosial ekonomi perdesaan maka dibutuhkan beberapa strategi pengembangan wilayah, yakni : (1) Pengembangan infrastruktur sosial ekonomi perdesaan; (2) Peningkatan kualitas SDM dan ketrampilan usaha masyarakat desa; (3) Pemberdayaan KUKM serta lembaga lokal lainnya; dan (4) Pengembangan pusat pertumbuhan/ pelayanan di daerah hinterland.
Pengembangan infrastruktur sosial ekonomi perdesaan ditujukan untuk meningkatkan derajat kesejahteran masyarakat. Peningkatan tingkat pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan dasar penduduk diperdesaan akan dapat mendorong produktivitas masyarakat yang pada akhirnya dapat menggerakkan perekonomian wilayah serta memiliki daya saing atau kemampuan berkompetisi dengan daerah lainnya.
Secara relatif, Struktur penduduk Kapet Bima dominan berusia produktif (59.21 %), dengan tingkat partisipasi dan tingkat pendidikan di Kapet Bima lebih tinggi dari pada Propinsi NTB, dimana yang tidak/belum pernah sekolah di Kapet Bima adalah sebanyak 9.11 % sedangkan Propinsi NTB sebanyak 10.57 %. Penduduk Kapet Bima yang mencapai tingkat pendidikan SMP ke atas adalah 39.02 %, di atas rata-rata Propinsi NTB yang baru mencapai 28.46 %, namun tingkat pendidikan yang diharapkan adalah outcome-nya dapat memanfaatkan potensi sumber daya khususnya di perdesaan. Untuk itu dibutuhkan pendidikan-pendidikan informal dan sekolah-sekolah kejuruan yang berbasis sumber daya lokal (sekolah kejuruan pertanian, peternakan, perikanan, industri, ekonomi, dan lainnya) yang tersedia di tingkat perdesaan sehingga akan terjadi alih pengetahuan dan teknologi yang mendorong modernisasi di tingkat perdesaan.
Untuk mendukung aktivitas sosial ekonomi perdesaan, maka diperlukan peran lembaga koperasi, usaha mikro, kecil dan menengah (UKMK) serta lembaga-lembaga lokal lainnya. Peningkatan kapasitas lembaga dan usaha sosial ekonomi perdesaan, dapat dilakukan melalui pendampingan manajemen usaha, kemitraan dan perkuatan permodalan.
Perkuatan lembaga-lembaga perdesaan tidak berarti meninggalkan nilai-nilai setempat/kearifan lokal. Nilai-nilai-nilai tersebut dapat diadopsi mulai dari pembentukan kelompok dan pemilihan pengurus dengan kriteria kepemimpinan ”nggusu waru”, penanaman jiwa kepemimpinan ”katohompara wekiku sura dou mari na labo dana”, prinsip pengambilan keputusan ”nggahi ra sama kai”, penanaman prinsip kerja ”nggahi rawi pahu” dan nilai-nilai pengendalian ”majo labo dahu” serta kearifan budaya lainnya.
Berkembangnya infrastruktur dan aktivitas sosial dan ekonomi dengan karakteristik spesifik masing-masing wilayah wilayah (sebagai keunggulan komparatif wilayah) akan meningkatkan interaksi dan transaksi dengan wilayah lainnya. Untuk mendorong pertumbuhan wilayah serta meningkatkan efisiensi usaha dalam skala ekonomi tingkat wilayah maka perlu dibangun pusat-pusat pertumbuhan sekaligus sebagai pusat pelayanan pedesaan di daerah hinterland. Pengembangan pusat-pusat pertumbuhan/pelayanan di daerah hinterland memungkinkan untuk dilakukan, karena di daerah sekitarnya sudah terbentuk pula pusat pertumbuhan/pelayanan yang dapat mendukung atau mendorong daerah
hinterland. Disamping itu pula sekitar 89.42 % kebutuhan hidup dan usaha penduduk Kapet Bima saat ini cukup tersedia dalam kabupaten masing-masing, walaupun produk-produk hasil kegiatan industri sebagian besar didatangkan dari Surabaya dan Makasar, sehingga kebutuhan hidup dan usaha masyarakat perdesaan dapat dipenuhi melalui suply barang jasa tersebut ke pusat pelayanan daerah hinterland-nya.
Pengembangan wilayah dan pusat-pusat pertumbuhan/pelayanan di daerah-daerah belakang dapat meningkatkan akselarasi pertumbuhan ekonomi secara agregat di tingkat reginal (Kapet Bima) serta dapat mengurangi kesenjangan antar wilayah. Tingginya kesenjangan antar wilayah dapat mendorong perpindahan penduduk (migrasi) secara berlebihan akibat alasan
ekonomi atau daya tarik lainnya (infrastruktur pendidikan, perdagangan dan industri, lapangan pekerjaan dan pendapat yang lebih tinggi), hal ini mengakibatkan makin berkurangnya ketersediaan tenaga kerja di sektor pertanian/perdesaan dan dapat mendorong kemandekan ekonomi secara jangka panjang.
c. Pengembangan Sektor Unggulan dan Optimalisasi Sumber Daya Lahan Kering dan Pesisir/Kelautan
Pertumbuhan ekonomi Kapet Bima sebesar 4.45 % di atas pertumbuhan Propinsi NTB yang hanya mencapai 3.64 %, sedangkan Total PDRB Kapet Bima mencapai Rp.2.61 trilyun, dengan kontribusi 46.31 % berasal dari sektor pertanian, namun struktur perekonomian masih bertumpu pada sektor pertanian khususnya pada subsektor tanamanan bahan makanan (pangan dan hortikultura) sedangkan luas lahan basah mengalami keterbatasan dan tingkat produksi akan mengalami tingkat kejenuhan.
Secara umum ketersedian lahan masih cukup luas untuk pengembangan pertanian, industri dan pengembangan kawasan terbangun lainnya. Luas lahan kering mencapai 94.68 % (termasuk di dalamnya hutan negara dengan luas mencapai 55.80 %). Di sisi lain, luas lahan kritis semakin terus meningkat, yang berkorelasi pula dengan banyaknya pengelolaan lahan dan hutan yang belum dilaksanakan secara optimal baik untuk tujuan ekonomi maupun ekologi. Sedangkan luas lautan mencapai 12,180.96 Km2 (63.77 % dari total luas wilayah Kapet Bima) juga pemanfaatannya masih dilakukan secara terbatas. Ketersediaan lahan dan perairan dapat dimanfaatkan secara lebih optimal dengan mengembangkan atau mengusahakan komoditi-komoditi unggulan.
Sektor unggulan merupakan sektor yang dapat berperan sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi wilayah. Perkembangan ekonomi regional terjadi melalui pertumbuhan sektor ekonomi unggulan serta adanya diversifikasi dan keterkaitan dengan sektor ekonomi lainnya.
Berdasarkan peringkat keunggulan sektor, maka yang menjadi sektor unggulan I (total skor = 3) adalah : tanaman bahan makanan dan industri pengolahan non migas; Sektor unggulan II (total skor = 2) adalah : Peternakan dan
hasilnya, Perikanan, bangunan, perdagangan besar dan eceran, angkutan, bank dan lembaga keuangan bukan bank serta sektor jasa pemerintahan umum; Sektor unggulan III adalah (total skor = 1) : kehutanan, listrik, air bersih, hotel dan restoran, pos dan telekomunikasi, dan jasa swasta; sedangkan unggulan IV (total skor = 0) adalah : tanaman perkebunan, penggalian dan sewa bangunan dan jasa perusahaan.
Agar sektor unggulan dan pemanfaatan sumber daya lahan kering dan perairan berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan perkembangan wilayah di Kapet Bima, dibutuhkan strategi pengembangan wilayah sebagai berikut : (1) Pengembangan sektor unggulan melalui kegiatan agrobisnis dan agroindustri; (2) Optimalisasi sumber daya pesisir dan kelautan melaui kegiatan penangkapan dan budidaya; (3) Pengembangan sumber daya lahan kering melalui usaha tani lahan kering, industri dan perdagangan; (4) Pengembangan industri pengolahan berbasis sumber daya lokal baik pada sektor hulu maupun hilir; (5) Pengembangan daya saing produk unggulan melalui kebijakan pendukung.
Pengembangan sektor unggulan melalui kegiatan agroindustri dan agribisnis merupakan suatu strategi yang dapat meningkatkan keterkaitan sektor unggulan dengan sektor lainnya. Pengembangan sektor unggulan dengan memperhatikan sektor hulu, seperti pengadaan faktor produksi, sampai pada kegiatan sektor hulu, pengolahan, pengemasan dan pemasaran yang dilakukan secara terpadu, serta didukung oleh ketersediaan lembaga pendamping/ penyuluhan, lembaga keuangan serta kegiatan penelitian untuk alih teknologi berbasis sumber daya lokal akan dapat mendorong peningkatan produksi dan produktivitas, efisiensi dengan skala usaha yang lebih besar, sehingga sektor unggulan di Kapet Bima dapat memiliki keunggulan komparatif (sebagai sektor basis) dan keunggulan kompetitif (berdaya saing) terhadap wilayah lainnya.
Sektor-sektor unggulan seperti tanaman bahan makanan, peternakan, dan perikanan adalah sektor-sektor primer, sektor yang memiliki keterkaitan langsung dengan sumber daya lahan dan air (sumber daya alam). Sektor-sektor ini merupakan sektor basis, yang memiliki pemusatan kegiatan yang tinggi serta merupakan sektor eksport unggulan di Kapet Bima, namun kegiatan usaha sektor
ini, perlu didorong agar aktivitas ekonominya memiliki keterkaitan yang tinggi dengan sektor lainnya.
Industri pengolahan non migas dan perdagangan besar dan eceran adalah sektor yang memiliki keterkaitan yang tinggi dengan aktivitas usaha sektor lainnya, namun sektor-sektor ini memiliki aktivitas dan volume usaha yang relatif masih rendah jika dibandingkan dengan daerah lain di Propinsi NTB. Berbagai faktor produksi usaha (hulu) masih banyak yang didatangkan dari luar kawasan, seperti pakan ikan/ternak, ayam broiler, pupuk dan obat-obatan pertanian, alat dan