• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ketersediaan Fasilitas/Pelayanan Kesehatan dan Pendidikan

Dalam dokumen BAB VI ANALISIS EFEKTIVITAS MANFAAT PKH (Halaman 33-36)

6.4 Analisis Kualitatif Terhadap Efektivitas Manfaat PKH RTSM Responden di Kelurahan Balumbang Jaya

6.4.2 Ketersediaan Fasilitas/Pelayanan Kesehatan dan Pendidikan

Faktor berikutnya yang mempengaruhi efektivitas manfaat PKH adalah ketersediaan fasilitas/pelayanan kesehatan. Fasilitas kesehatan yang didatangi oleh peserta di Babakan Lebak RW 05 adalah Posyandu Dahlia, sedangkan RTSM yang bertempat tinggal di Babakan Lio RW 10 dan 11 masing-masing mendatangi Posyandu Anggrek dan Posyandu Cingcalo. Untuk RTSM yang bertempat tinggal

di Sawah Baru RW 12, balita diperiksa di Posyandu Cingcalo. Selama penelitian ini, tidak ditemukan RTSM responden yang sedang hamil/akan melahirkan/dalam masa nifas.

Ada tiga alasan mengapa RTSM memeriksakan anak balita di Posyandu-Posyandu tersebut. Pertama, baik Posyandu-Posyandu Dahlia, Anggrek, maupun Cingcalo, ketiganya terletak di setiap RW. Dengan kata lain, tiap RW memang memiliki satu Posyandu. Alasan kedua adalah ketiga Posyandu mempunyai jarak yang dekat dengan rumah peserta PKH sehingga dapat diakses hanya dengan berjalan kaki.

Selain kedua alasan tersebut, faktor terakhir mengapa ketersediaan fasilitas atau pelayanan kesehatan di Kelurahan Balumbang Jaya ini mempengaruhi efektivitas manfaat PKH adalah kualitas pelayanan yang diberikan oleh semua Posyandu tersebut. Dalam setiap kegiatan pemeriksaan kesehatan bayi/balita, tidak dipungut biaya apa pun. Pemberian vitamin A sebanyak dua kali dalam setahun juga dilakukan tanpa biaya (gratis). Posyandu justru memberikan makanan gratis kepada bayi/balita, seperti bubur kacang hijau, bubur ayam, dan biskuit bayi.

Faktor terakhir yang mempengaruhi efektivitas manfaat PKH, yaitu ketersediaan fasilitas/pelayanan pendidikan. Lembaga pendidikan formal yang dapat diakses oleh anak dari RTSM peserta PKH di kelurahan ini terdiri atas 2 buah gedung Sekolah Dasar (SD) dan 4 gedung Sekolah Menengah Pertama (SMP). Keenam sekolah tersebut adalah:

1. Sekolah Dasar Negeri (SDN) Balumbang Jaya:

Sekolah ini terletak di Jalan Babakan Lebak RW 06. Karena adanya program BOS oleh pemerintah, sekolah ini bebas biaya (uang) gedung dan SPP.

Namun, tetap ada biaya untuk seragam, alat tulis, kegiatan ekstrakulikuler, dan pembelian Lembar Kerja Siswa (LKS). Khusus LKS, besarnya biaya ditentukan oleh pihak sekolah, yaitu Rp. 15.000,00 (lima belas ribu rupiah).

Dalam setahun, LKS ini menelan dana sebesar Rp. 30.000,00 (tiga puluh ribu rupiah).

2. Sekolah Dasar Negeri (SDN) 4 Dramaga:

Sekolah ini berada di Kelurahan Balumbang Jaya. Sama seperti SDN Balumbang Jaya, sekolah ini tidak membebankan uang gedung dan SPP kepada para muridnya. Tapi, tetap ada anggaran dana untuk keperluan lain.

Harga LKS pun sama seperti harga di SDN Balumbang Jaya.

3. Sekolah Menengah Pertama (SMP) Sejahtera:

Sekolah ini beralamat di Jalan Babakan Lebak RW 06. Sekolah ini adalah lembaga pendidikan formal milik swasta (nonpemerintah) sehingga dikenakan biaya gedung dan SPP bagi para siswanya. Uang gedung dikenakan tarif sebesar Rp. 650.000,00 (enam ratus lima puluh ribu rupiah), sedangkan SPP dikenakan biaya Rp. 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah). Adapun harga LKS adalah Rp. 98.000,00 (sembilan puluh delapan ribu rupiah) sehingga dalam satu tahun LKS ini menelan biaya Rp. 196.000,00 (seratus sembilan puluh enam ribu rupiah).

4. Sekolah Menengah Pertama (SMP) 1 Dramaga:

Terletak di Jalan Babakan Dramaga. Sekolah negeri ini membebaskan uang gedung dan SPP kepada para siswanya. Adapun harga LKS yang harus dibayar dalam satu tahun sebesar Rp. 32.000,00 (tiga puluh dua ribu rupiah).

5. Sekolah Menengah Pertama (SMP) Kornita:

Berada di Jalan Dramaga. Uang pangkal yang dibebankan kepada para siswanya sebesar Rp. 750.000,00 (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah), sementara itu SPP dikenakan biaya Rp. 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah). Untuk LKS, harga yang harus dibayar oleh para siswa dalam satu tahun (dua semester), yakni Rp. 100.000,00 (seratus ribu rupiah).

6. Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) Terbuka 1 Dramaga:

Lembaga pendidikan formal yang berada di Jalan Babakan Dramaga. Sekolah ini, sesuai dengan namanya “Sekolah Terbuka”, memberikan uang kepada para siswanya. Namun, uang itu tidak diberikan langsung ke tangan siswa.

Dana tersebut langsung digunakan untuk uang gedung, SPP, dan LKS. Khusus seragam, biaya ditanggung sendiri oleh para siswa.

Seperti halnya fasilitas kesehatan, terdapat latar belakang mengapa RTSM menyekolahkan anak di berbagai lembaga pendidikan tersebut. Untuk SDN

Balumbang Jaya dan SDN 4 Dramaga, keduanya dapat ditempuh oleh anak peserta PKH dengan hanya berjalan kaki atau menaiki angkutan umum sebanyak satu kali. Selain itu, menurut para orang tua, kedua sekolah tersebut mampu memberikan pengajaran (baik materi maupun moral) yang memang seharusnya diterima oleh anak-anak. Sekolah juga tidak pernah membeda-bedakan antara anak peserta PKH dengan anak yang bukan peserta PKH. Alasan terakhir adalah kedua lembaga pendidikan itu tidak memungut biaya yang macam-macam selain uang LKS.

Bagi anak peserta PKH yang bersekolah di SMP Sejahtera dan SMP Kornita, ada alasan tersendiri mengapa anak tersebut menempuh pendidikan di kedua sekolah itu. Nilai akhir anak itu, sewaktu masa kelulusan SD, tidak mencukupi untuk memasuki sekolah negeri. Akhirnya, para orang tua menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan swasta yang dekat dengan rumah.

Selain itu, kedua sekolah ini tidak pernah memungut biaya yang bersifat memeras RTSM.

Terkait dengan anak peserta PKH yang menempuh pendidikan di SMP 1 Dramaga dan SMPN Terbuka 1 Dramaga, ada alasan utama mengapa anak-anak tersebut bersekolah di sana. Tentu saja karena nilai akhir sewaktu kelulusan SD mencukupi untuk memasuki sekolah negeri. Apalagi kedua sekolah itu dapat ditempuh dengan hanya berjalan kaki atau menaiki angkutan umum sebanyak satu kali. Sekolah pun membebaskan biaya gedung dan SPP serta tidak memungut biaya yang sifatnya sangat memberatkan RTSM peserta PKH.

Berdasarkan hasil yang ditemukan di lokasi penelitian, dapat disimpulkan bahwa peran pendamping serta ketersediaan fasilitas/pelayanan kesehatan dan pendidikan mempengaruhi efektivitas manfaat PKH. Semua RTSM responden menuturkan bahwa PA dan BI selaku pendamping di Kelurahan Balumbang Jaya selalu melaksanakan setiap tugas dan kegiatan pendampingan dengan baik.

Kuantitas dan kualitas fasilitas/pelayanan kesehatan serta pendidikan di kelurahan ini pun mampu memenuhi kebutuhan RTSM. Ketiga hal ini yang turut mendorong RTSM responden untuk menggunakan dana bantuan PKH sebaik mungkin sehingga sekitar 75 persen rumah tangga merupakan RTSM yang memiliki efektivitas manfaat PKH yang cenderung “tinggi”.

Dalam dokumen BAB VI ANALISIS EFEKTIVITAS MANFAAT PKH (Halaman 33-36)

Dokumen terkait