HASIL DAN PEMBAHASAN
2. Ketersediaan makanan ( produksi & distribusi ) 52
3. Infrastruktur (bangunan & transportasi.) 63
4. Pola (konsumsi & Pengelolaan limbah padat ) 73
5. Air (sumber, kwalitas & pola penggunaan) 59
6. Manajemen (limbah cair & polusi air) 62
7. Energi, (sumber& penggunaan) 72
Total 432
Dalam aspek ekologis nilai setiap parameter rata rata mencapai di atas 50 yang berarti seluruh parameter dalam bidang ekologis menunjukkan progres yang sangat baik pada keberlanjutan. Total nilai aspek ekologis mencapai di atas 333 yaitu 432 yang berarti masyarakat Baduy Dalam dan wilayahnya menunjukkan progres yang sangat baik pada keberlanjutan ekologis.
Tabel 4 Nilai keberlanjutan dalam aspek sosial
Aspek Sosial Total
1. Keterbukaan,( kepercayaan & keamanan; ruang bersama) 58
2. Komunikasi; (aliran gagasan & informasi) 32
3. Jaringan (pencapaian & jasa) 38
4. Keberlanjutan sosial 58
5. Pendidikan * 51
6. Pelayanan kesehatan 55
7. Keberlanjutan ekonomi; (kesehatan ekonomi local) 56
Total 348
Dalam aspek sosial nilai hampir setiap parameter mencapai di atas 50 yang berarti hampir setiap parameter dalam bidang sosial menunjukkan progres yang sangat baik pada keberlanjutan. Terdapat dua parameter yang bernilai dibawah 50
yaitu untuk komunikasi mendapatkan nilai 32 dan untuk jaringan mendapatkan nilai 38. Untuk parameter komunikasi terdapat pertanyaan tentang penggunaan alat komunikasi modern yang dilarang dipergunakan di daerah Baduy. Untuk parameter jaringan terdapat pertanyaan tentang jaringan hubungan dengan komunitas lain yang tidak dilakukan masyarakat Baduy karena mereka meutup diri. Total nilai aspek ekologis mencapai di atas 333 yaitu 348 yang berarti masyarakat Baduy Dalam dalam aspek sosial menunjukkan progres yang sangat baik pada keberlanjutan.
Tabel 5 Nilai keberlanjutan dalam aspek spiritual
Aspek Spiritual Total
1. Keberlanjutan budaya 74
2. Seni dan rekreasi 45
3. Keberlanjutan spiritual 50
4. Keterikatan masyarakat 67
5. Ketahanan masyarakat 71
6. Holographic baru; (pandangan dunia/global) 66
7. Kedamaian dan pemikiran global 62
Total 414
Dalam aspek spiritual nilai setiap parameter hampir seluruhnya mencapai di atas 50 yang berarti seluruh parameter dalam aspek spiritual menunjukkan progres yang sangat baik pada keberlanjutan. Dalam parameter seni dan rekreasi jumlah nilai hanya mencapai 45 karena dalam pertanyaan tentang pencerminan masyarakat dalam kualitas seni keindahan tidak dapat dinilai. Total nilai aspek ekologis mencapai di atas 333 yaitu 414 yang berarti masyarakat Baduy Dalam menunjukkan progres yang sangat baik pada keberlanjutan spiritual.
Pencapaian total nilai setiap aspek adalah 1196 yang menunjukkan bahwa masyarakat Baduy Dalam dan wilayah Desa kanekes menunjukkan progress yang sangat baik dalam keberlanjutan dan sudah sesuai dengan konsep eco-village dari Global Eco-village Network.
Kearifan Lokal pada Keberlanjutan Aspek Ekologis
Hasil analisis data menggunakan kuesioner dari Community Sustainabily Assessment untuk Aspek Ekologis mencapai 432. Pencapaian tingkat
keberlanjutan masyarakat Baduy Dalam sangat didukung oleh kearifan lokal dalam konsep pemanfaatan wilayah yang diatur oleh adat pikukuh Baduy antara lain (Tabel 6).
Konservasi Lahan.
a. Tata Guna Lahan Desa Kanekes
Luas lahan Desa Kanekes adalah 5101, 85 ha, luas hutan tetap adalah 2493,06 ha (48,85%), sedangkan luas lahan pertanian hanya sekitar 2146,25 ha. (42,06 ) seperti dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 6 Kearifan lokal dalam keberlanjutan masyarakat Baduy Dalam
Variabel Indikator Penjelasan
Aspek Ekologis
a.Konservasi lahan a. aturan tata guna lahan b. zoning
Hutan , huma, permukiman Puncak bukit, lereng, lembah
c. peruntukan lahan Leuwung kolot, leuweung ngora, leuweung lembur, lembur
b.Tata berladang a. aturan masa bera b. teknik berladang & kalender
c. pembagian jenis ladang
4,5 tahun (semakin cepat)
Nerawas, nyacar, nukuh,ngaseuk, mipit, panen,kawalu.
Huma Puun, huma serang , huma tangtu c.Konservasi Energi a.aturan tentang bahan bakar
b.aturan tentang orientasi bangunan & penerangan c.aturan dan sistem transportasi
Biomassa
Sesuai iklim & lingkungan, energi minyak picung Jalan kaki d.Konservasi Margasatwa e.Konservasi sumber daya alam
a.aturan tentang waktu dan teknik pengambilan a. air b. sampah c. limbah cair a. site pan b. Orientasi
Pada acara adat
Teknik ramah lingkungan Puncak bukit, lereng dan lembah Organik, non organik
Zoning hulu, hilir Lembah, leuweung Utara-Selatan
Tabel 7 Tata guna lahan
Penggunaan Lahan Luas (ha) % Luas
Lahan Desa Kanekes 5101. 85 100
Hutan tetap (Leuweung Kolot) 2493.06 48.8 Lahan pertanian (Leuweung Ngora) 2146.25 42
Lahan huma 270 5.29
Lahan permukiman 78 1.53
Sungai, rawa tegalan dan lainnya 114.54 2.24 Sumber Purnomohadi, 1985.
Pada wilayah Kanekes luas lahan datar dan dengan kemiringan 0-3% hanya 20.2 % yang kebanyakan terletak di bagian Utara. Bagian tengah dan selatan
bertopografi landai dan curam berbukit. Menurut hasil survey, penduduk Baduy Dalam berdiam di tiga kampung berjumlah 1.053 jiwa, terdiri atas 388 jiwa warga Cikeusik, 537 jiwa warga Cibeo, dan 158 jiwa warga Cikartawana. Letak Kampung Cikeusik adalah 450 m dpl, Cibeo dan Cikartawana 400 m dpl dan Panamping berada pada 300 – 450 m dpl.
b. Zoning
Menurut pikukuh (aturan/adat) Baduy wilayah Kanekes hanya untuk orang
Baduy. Karuhun (nenek moyang) memberi tugas mereka untuk menyepikan
tempat itu bagi kepentingan seluruh umat manusia. Pandangan masyarakat Baduy dalam mempertapakan diri menyebabkan tindakan konsevasi sangat menonjol dalam mengeksploitasi lingkungan sumber daya alam. Melalui aturan adat yang ketat, pengelolaan dan pengubahan lahan dilakukan seminimal mungkin dan seperlunya saja. Puncak bukit dan gunung dilarang untuk dijadikan huma maupun diambil kayunya dan yang boleh diusahakan untuk menjadi huma hanya bagian lereng dan lembah saja. Puncak dari pegunungan Kendeng dengan ketinggian 800 – 1200 meter dari permukaan laut merupakan hutan larangan.
Tempat ini sangat penting bagi orang Baduy karena terdapat Sasaka Domas. Hutan tersebut terlarang untuk umum dan hanya beberapa orang saja yang terpilih untuk melakukan upacara sakral yang boleh memasukinya. Menurut orang Baduy puncak gunung tersebut tempat bersemayam roh nenek moyang (karuhun).
Hutan di puncak puncak bukit dilarang untuk dirusak dan diambil kayunya secara berlebihan dan tidak boleh untuk dibuat ladang. Masyarakat Baduy sudah sejak lama mengenal dan melaksanakan konservasi hutan dengan baik sesuai tuntunan adat mereka.
c. Peruntukan Lahan
Aturan adat yang ketat, menyebabkan tindakan konsevasi sangat menonjol dalam mengeksploitasi lingkungan sumber daya alam. Pengolahan dan pengubahan lahan dilakukan seminimal mungkin dan seperlunya saja. Terdapat aturan tentang zoning wilayah di mana puncak bukit dan gunung dijadikan Leuweung kolot atau hutan larangan yang dijadikan sebagai wilayah konservasi.
Jadi dilarang untuk dijadikan huma maupun diambil kayunya. Bagian lereng bukit merupakan leuweung ngora yang boleh diusahakan untuk menjadi huma. Wilayah untuk perumahan terletak di lembah. Wilayah Desa Kanekes dibagi menjadi beberapa jenis peruntukan lahan antara lain : Leuweung Tutupan, Leuweung Kolot, Leuweung Ngora, Huma, dan lembur (permukiman).
Peruntukan Lahan Wilayah Desa Kanekes antara lain:
1. Hutan Larangan: ketentuan pada hutan ini adalah tidak boleh dimasuki oleh masyarakat Baduy. Merupakan sumber dari hulu sungai, merupakan resapan air, tempat sakral dimana Sasaka Domas dan arwah para leluhur Baduy berada.
2. Leuweung Tutupan. Atau disebut juga hutan primer. Hutan ini terletak didekat aliran sungai/mata air/hulu sungai. Pada hutan ini tidak boleh dijadikan huma. Hutan ini merupakan tempat jalur hijau yang dilarang ditebang pohon pohonnya untuk diambil kayunya dan yang diperbolehkan adalah mengambil hasilnya seperti daun, buah , ranting dan lain lain. Hutan primer tidak boleh dibuka untuk ladang atau keperluan lainnya .
3. Leuweung Kolot, lokasinya dipuncak dan lereng gunung dan bukit. Hutan ini merupakan hutan lindung atau hutan titipan oleh sebab itu pada hutan ini tidak boleh menebang sembarangan. Jikalau ingin mengambil kayu harus seijin Puun. Hanya diperbolehkan mengambil hasilnya seperti buah-buahan dan madu. Hutan ini merupakan tempat resapan air dan hulu sungai dan tidak boleh untuk berladang.
4. Leuweung Ngora . Hutan ini disebut juga reuma atau bekas huma (hutan sekunder). Penggunaan reuma harus seijin Puun dan masyarakat boleh mengambil kayu disini. Reuma adalah lahan yang ditinggalkan setelah panen padi dan diberakan selama 3-5 tahun. Reuma kolot; adalah huma yang sudah diberakan selama 4, 7 sampai 9 tahun.
5. Huma, Lahan ini merupakan lahan yang boleh digarap untuk dibuat ladang, boleh ditanami tanaman lain asalkan tidak mengganggu huma, kepemilikan pada pohon tetapi tanpa kepemilikan lahan. Huma boleh
ditanami pohon buah, sayuran, dan lain lain. Kemiringan lahan huma biasanya mencapai 45 %.
6. Lembur atau permukiman, merupakan daerah yang datar yang terletak didekat sungai dan dikelilingi oleh hutan. Daerah ini merupakan tempat tinggal masyarakat Baduy
7. Leuweung Lembur hutan yang terletak disekitar kampung. Hutan ini merupakan hutan buatan masyarakat Baduy untuk ditanami dengan pohon buah-buahan dan tanaman yang dapat difungsikan dan dijual.
Tata Berladang. a. Masa Bera
Masyarakat Baduy berladang di lereng-lereng bukit dan tidak sampai ke puncaknya pada lahan yang berkemiringan sampai 45 %. Lahan yang dapat digarap untuk dijadikan ladang adalah hutan sekunder yaitu bekas ladang yang telah diberakan cukup lama dan telah menghutan. Ladang masyarakat Baduy terletak di punggung bukit atau lereng diantara kaki bukit dan puncak bukit. Menurut adat berladang hanya boleh dilakukan pada hutan sekunder (reuma), sesuai dengan waktunya dengan luas penggunaan secukupnya. Bekas ladang baru dapat ditanami kembali setelah 4 – 9 tahun untuk Baduy Dalam.
Kepemilikan tanah lamanya penggunaan untuk berhuma di dalam Kanekes ditentukan oleh adat. Karena itu lahan bekas huma (reuma) di kampung kampung desa Kanekes dan bakal huma (leuweung ngora) hampir semuanya sudah dikerjakan dan menjadi milik garapan warga Kanekes. Bekas huma (reuma) yang letaknya didekat kampung lama kelamaan akan berubah menjadi kebon (kebun) karena ditanami berbagai tanaman untuk keperluan obat dan keperluan upacara, seperti koneng beureum, honje, seureuh, bangban, laleus, laja, cengek, roay, jahe dan panglay.
b. Kalender & Teknik Berladang
Penggunaan lahan di daerah Baduy Dalam disesuaikan dengan kemampuan masing masing pengelolanya. Lahan yang dipergunakan sebagai lahan garapan luasnya bervariasi antara 0,5 – 2 ha disesuaikan kemampuan untuk mengelolanya. Untuk Baduy Dalam setiap kepala keluarga umumnya hanya mampu menggarap
satu hektar lahan. Ketentuan adat dalam berladang tidak boleh membolak balik tanah dengan cangkul dan menggunakan pupuk kimia. Tanaman utama yang ditanam di ladang adalah padi, selain itu ditanam juga jagung, kacang panjang, dangdeur, ketimun, roay, terung dan labu. Pada lahan lahan huma banyak dijumpai pohon kayu yang tumbuh secara tersebar. Dalam mengerjakan ladang mereka menggunakan pengolahan minimum (minimum tillage). Pengolahan tanah hanya ditugal dengan menggunakan kayu runcing disebut aseuk. Perhitungan kalender tahunan masyarakat Baduy erat kaitannya dengan sistem pertanian mereka. Awal tahun dimulai dengan kondisi alam yang dalam istilah Baduy disebut nanggalkeun kidang (kemunculan bintang Waluku). Pada saat itu menurut mereka matahari sudah bergeser kearah utara yang menyebabkan keadaan tanah menjadi dingin. Keadaan ini merupakan kondisi terbaik sebagai awal penggarapan ladang. Dalam kalender Baduy jatuh pada bulan Kapat dan biasanya diadakan upacara seba-laksa pada saat itu. Segala aktivitas keseharian masyarakat Baduy didasari oleh patokan kondisi matahari yang melintas di wilayah mereka dalam menentukan waktu (Tabel 8). Narawas, artinya mencari atau memilih lahan untuk dijadikan huma. Nyacar, berarti menebas rumput atau semak belukar. Nukuh, berarti mengeringkan rumput dan hasil tebasan lainnya. Ngaduruk adalah
kegiatan membakar sampah yang telah dikumpulkan pada kegiatan nukuh.
Ngaseuk, artinya membuat lubang kecil dengan menggunakan aseukan (penugal) untuk mananam benih padi. Menugal dilakukan oleh pria, sedangkan memasukkan benih padi ke dalam lubang tugalan dilakukan oleh perempuan. Ngirab sawan, membersihkan sampah bekas ranting dan daun atau tanaman lain yang mengganggu tanaman padi yang sedang tumbuh. Mipit adalah kegiatan pertama kali memetik atau menuai padi. Tiga bulan saat pemanenan tersebut sering pula dikenal dengan bulan kawalu. Dibuat, berarti menuai atau memotong padi (panen). Ngunjal, artinya mengangkut hasil panen padi dari huma ke lumbung padi. Nganyaran, upacara makan nasi baru atau nasi pertama kali hasil dibuat di huma serang. Seluruh tata urutan perladangan di ikuti oleh masyarakat Baduy.
Tabel 8 Sistem kalender dan aktivitas berladang
Bulan Baduy Sunda Masehi Aktivitas
1 Sapar/ Kapat Kasa Mei -Juli Seba, narawas, nyacar
2 Kalima Karo Juni - Agustus Inisiasi, perkawinan, muja
3 Kanem Katiga Juli - September Nukuh,selametan
4 Katujuh Kapat Agustus - September Ngaduruk, Ngaseuk serang
5 Kadalapan Kalima September - November Ngaseuk huma puun
6 Kasalapan Kanem Oktober - Desember Ngaseuk huma tangtu
7 Kasapuluh Kapitu November Pebruari Ngaseuk huma warga
8 Hapit-lemah Kawalu Desember Maret Mipit
9 Hapit-kayu Kasonga Januari -Maret Semi panen
10 Kasa Kasadasa Februari - April Kawalu tembeuy
11 Karo Desta Maret -Mei Kawalu panengah
12 Katiga Sada April -Juni Kawalu tutug, ngalaksa
Alat pertanian masih menggunakan teknologi sederhana seperti menggunakan kored, aseuk, parang dan bedog. Dalam penanaman padi di ladang orang Baduy tidak menggunakan alat cangkul, bajak atau menggunakan pupuk, atau obat hama modern. Peralatan yang digunakan yaitu bedog(golok), kujang (parang pendek), baliung (kapak besar) dan kored (pembersih rumput) dan aseuk (tugal). Untuk pupuk dipergunakan campuran daun mengkudu, atau karakas(daun kering), air, pasir dan jampi-jampi.
c. Jenis-jenis Ladang
Orang Baduy Tangtu berhuma di wilayah taneuh larangan dan tidak pernah keluar dari daerah itu. Dilihat dari letak dan kegunaan dan orang yang mengerjakannya terdapat berbagai jenis huma yaitu huma Puun, huma serang , huma tangtu yang masing masing mempunyai fungsi yang berbeda.Huma serang merupakan huma yang dianggap suci dan menjadi contoh gambaran tentang proses berladang orang Baduy. Huma serang merupakan tempat suci karena rangkaian proses perladangan penuh dengan upacara adat yang sakral. Letak huma serang di sebelah timur kampung. Bagi masyarakat Baduy arah Timur sebagai tempat terbitnya matahari mengandung makna simbolik kehidupan dan kesejahteraan dan memberi cahaya kehidupan. Barat dianggap mempunyai makna kematian yang dihubungkan dengan tenggelamnya matahari. Huma tangtu terletak di bagian utara dan barat merupakan tempat yang sifatnya biasa biasa saja.
Jumlah penduduk setiap tahunnya meningkat dengan sekitar 2 % maka dapat dilihat bahwa lahan permukiman mereka menjadi padat. Juga dalam berladang yang biasanya masa bera harus 7 – 9 tahun sekarang semakin cepat
menjadi 3 – 4 tahun karena keterbatasan lahan. Hal ini dimasa mendatang menjadi masalah besar bagi mereka karena lahan pertanian mereka sudah tidak cukup untuk mendukung penduduk suatu kampung. apabila tidak dilakukan suatu hal karena panen mereka terus menerus menurun hasilnya sehingga terlihat bahwa saat ini mereka sudah perlu membeli beras untuk makan sehari-hari. Beras hasil panen biasanya disimpan dan dipergunakan apabila dibutuhkan dan untuk acara sosial masyarakat.
Konservasi Energi.
a. Bahan Bakar dan Penerangan
Pikukuh telah mengatur gaya hidup masyarakat Baduy dalam melaksanakan kehidupan sehari hari mereka tidak merusak lingkungan, proses kehidupan alami, margasatwa dan habitat tumbuhan dikonservasi. Masyarakat Baduy Dalam menggunakan bahan bakar untuk memasak dari kayu bakar. Kayu merupakan sumber energi terbarukan disebut biomassa. Pada saat membersihkan lahan untuk dipergunakan huma, kayu yang ditebang dipergunakan untuk kayu bakar sedangkan ranting dan daun dipergunakan untuk memupuk tanah. Pada saat sebelum menanam mereka membakar di atas tanah agar akar alang alang mati.
Untuk memasak mereka mengumpulkan ranting ranting dan dahan dari leuweung
lembur ataupun huma yang disimpan ditepi atau kolong rumah. Mereka tidak menggunakan alat alat yang menggunakan listrik atau bahan bakar fosil sama sekali karena dilarang oleh pikukuh. Bahkan untuk penerangan pun mereka dilarang menggunakan bahan kimiawi. Biasanya mereka menggunakan minyak picung atau kadang kadang lilin. Mereka sangat hemat dalam menggunakan energi untuk penerangan.
b. Transportasi
Konservasi dipraktekkan dalam metoda dan sistem transportasi. Di dalam wilayah Desa Kanekes tidak diperbolehkan menggunakan kendaraan. Jalan hanya dibuat untuk pejalan kaki saja. Orang Baduy dilarang menggunakan kendaraan bermotor. Mereka harus berjalan kaki kemanapun untuk keperluan mereka. Sampai dalam menjajakan hasil bumi ke tempat yang jauh dilakukan dengan berjalan kaki. Mereka sering berjalan sampai ke Jakarta dan kota kota lainnya.
Para pemimpin adat tidak setuju dengan program inftrastruktur jalan, penerangan, pendidikan karena akan membuat masyarakat konsumtif. Menurut mereka dengan berlaku konsumtif akan melarat karena menjual sawah untuk membeli motor, TV dan lainnya.
Konservasi Margasatwa. Terdapat aturan adat dalam konservasi margasatwa. Masyarakat diperbolehkan mengambil hewan hanya pada waktu waktu tertentu saja biasanya saat ada upacara adat atau daur kehidupan. Hewan tersebut akan dibagikan untuk hidangan masyarakat sekampung. Dalam mengambil hewan seperti dalam berburu. Berburu disebut dengan ngalanjak menurut pikukuh hanya diperbolehkan menggunakan tombak dan dilaksanakan
pada bulan kawalu. Pelaksanaan ngalanjak dipimpin oleh Puun dan hewan yang
boleh di buru hanya jenis-jenis tertentu seperti peucang, bajing dan mencek. Hewan yang salah tangkap harus dilepas kembali. Menangkap ikan dalam istilah Baduy disebut munday. Menangkap ikan di sungai menurut aturan dalam pikukuh Baduy hanya boleh menggunakan jaring atau jala. Munday dilaksanakan pada buka kawalu dipimpin oleh Puun. Jenis ikan yang boleh dijaring terbatas hanya empat jenis yaitu ikan soro, kancra, parang dan hurang. Ikan jenis lain harus dilepas kan kembali ke sungai. Ayam dipelihara oleh rata rata masyarakat Baduy. Apabila ada upacara adat atau daur kehidupan, masing masing keluarga akan menyumbangkan ayam mereka untuk keperluan acara untuk dibagikan kepada masyarakat seluruh kampung.
Struktur & Infrastruktur. Lokasi permukiman Baduy Dalam yang terletak paling Utara adalah Kampung Cibeo. Luas kampung Cibeo sekitar 25.000 m2. Kampung-kampung Baduy umumnya berada di kaki suatu bukit, sedikit lebih tinggi daripada aliran sungai atau anak sungai sehingga mudah untuk warga kampung mandi dan mencuci dan keperluan lainnya.
1. Sampah
Masyarakat menggunakan metoda yang mengurangi konsumsi sumber daya alam dan membuat banyak buangan. Menurut aturan adat masyarakat harus menyederhanakan kehendak. Kebanyakan aktifitas dilakukan bersama-sama untuk seluruh masyarakat termasuk pembelian keperluan-keperluan kampung.
Seluruh masyarakat telah mengerti dari sistem pendidikan mereka bagaimana menangani sampah mereka. Menurut pikukuh Baduy dalam menjalankan hidup orang harus bertindak baik, jujur dan tidak merusak, tidak mencemari lingkungan dan tidak merugikan orang lain selama hidup. Dunia bawah walaupun berkonotasi negatif tidak boleh seenaknya dikotori dirusak atau dicemari karena ada yang menguasai dan mengayominya bahkan merupakan terminal transit menuju ke dunia atas. Sebelum memasuki rumah kaki di cuci di Golodog dengan air yang tersedia di kelek.Oleh karena itu rumah orang Baduy terlihat bersih walaupun sederhana. Masyarakat Baduy sangat mengenal konsevasi dan preservasi lingkungan. Kampung mereka sangat bersih dibandingkan dengan kampung dan desa lain di Indonesia. Seluruh masyarakat Baduy Dalam telah mengerti bagaimana cara untuk menangani sampah yang mayoritas sampah organik. Mereka mengumpulkan sampah untuk ditaruh di tempat sampah di Golodog (Tabel 9). Setiap pagi sampah tersebut dibawa ke leuweung lembur untuk dibuang. Adapun saat ini makanan anak-anak telah dijual di kampung dengan berbungkus plastik. Mereka memisahkan plastik dari sampah organik dan membakarnya di parako atau di kampung. Jadi perilaku konservasi dan preservasi lingkungan telah diatur dalam pikukuh dan menjadi prilaku keseharian orang Baduy Dalam.