• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

5. Sistem Pembangunan

Proses pendirian rumah dilakukan pada bulan kalima saat di lahan pertanian (huma) tidak ada kegiatan. Tanah dilarang untuk digali untuk mendirikan rumah dan hal ini disebabkan kepadatan tanah yang akan berkurang daya dukungnya apabila tanah merupakan urugan sehingga kemungkinan akan terjadinya

penurunan bangunan. Elemen-elemen konstruksi bangunan dibuat ditempat pengambilan bahan bangunan seperti reuma, huma dan dibawa ke lokasi sudah

berupa komponen. Pembuatan rumah Baduy Dalam menggunakan sistem pre-

fabrikasi. Sebelum suatu rumah didirikan. bagian-bagian dan komponen-komponen rumah seperti penutup atap, penutup dinding, penutup lantai sudah disiapkan pemilik rumah menjadi bagian-bagian yang siap untuk dipasang. Apabila kayu tidak tersedia di reuma maka dapat di ambil di leuweung kolot atas seijin Puun (Tabel 10). Dengan sistem pre-fabrikasi pembangunan rumah menjadi sangat cepat dan efisien. Dalam sehari dapat didirikan sebanyak 5 –10 rumah. Sistem pelaksanaan pembangunan secara gotong royong antar warga sekampung. Sistem pembangunan di Baduy ini sejalan himbauan pembangunan ramah lingkungan yang dikembangkan saat ini dalam rangka proteksi lingkungan.

Tabel 10 Sistim konstruksi & pembangunan yang ramah lingkungan ELEMEN

KONSTRUKSI

MATERIAL ASAL MATERIAL TEMPAT

PEMBUATAN CARA 1.Atap -Penutup atap -Rangka atap -Kuda kuda Rumbia Bambu Kayu Reuma Leuweung lembur Leuweung Lembur Reuma Leuwung kolot Reuma Kampung Huma Kampung Kampung Gotong royong Keluarga Gotong royong Keluarga Gotong royong Keluarga

2.Kolom Kayu Leuweung kolot

Reuma

Huma Keluarga

3.Balok Kayu Leuweung kolot

Reuma

Huma Keluarga

4.Dinding Bambu Leuweung lembur Huma Keluarga

5.Lantai -Penutup lantai -Rangka lantai Bambu Kayu Bambu Leuweung lembur Reuma Leuweung kolot Huma Huma Keluarga Gotong royong

6.Pondasi Batu kali Sungai Kampung Gotong royong

EPA (2010) menyarankan agar bahan bangunan yang dipergunakan diproses di tempat dan elemen bangunan dipasang di luar lokasi. Elemen dibawa ke lokasi sudah berupa komponen untuk meminimalkan buangan dan tidak mencemari lokasi dengan bunyi dan debu (EPA, 2010).

Konservasi Sumber Daya Alam. Preservasi alam sudah diajarkan oleh pikukuh Baduy. Mereka sudah membagi suatu wilayah dengan zoning dan peruntukan yang dimaksudkan untuk mempreservasi lingkungan dan sumber daya air. Dalam pikukuh Baduy wilayah puncak suatu gunung atau bukit harus dibiarkan sebagai hutan dan tidak boleh di ditebangi pohon-pohonnya. Demikian pula hutan yang menjadi hulu dari sungai atau disekitar sungai. Yang

diperbolehkan untuk digarap menjadi huma adalah hanya lereng gunung.

Air. Masyarakat menggunakan pancuran air yang berasal dari mata air untuk keperluan minum dan memasak. Air untuk keperluan rumah tangga dari sungai sekeliling kampung dalam kondisi bersih tidak perlu di olah lagi. Ketersediaan air bersih merupakan syarat utama dari suatu permukiman sehat (Frick dan Suskiyanto, 1998). Masyarakat di komunitas mengerti cara dan menghormati dan memproteksi sumber air. Puncak gunung atau bukit tidak boleh ditanami atau dibuka dan harus dibiarkan. Pohon yang ada hanya boleh diambil hasilnya dan kayunya dengan seijin Puun tidak diijinkan untuk menebang tanpa ijin. Mereka mengetahui bahwa daerah puncak bukit merupakan daerah resapan air dan merupakan sumber mata air yang mengalir ke sungai-sungai dan pancuran yang mereka pergunakan untuk memasak dan MCK. Jadi prilaku konservasi telah diatur oleh pikukuh dan diketahui dan dilaksanakan oleh seluruh masyarakat.

Kearifan Lokal dalam Keberlanjutan Aspek Sosial

Hasil pencapaian nilai analisis data pada Aspek Sosial mencapai 348 yang berarti masyarakat Baduy Dalam dalam Aspek Sosial menunjukkan progres yang sangat baik pada keberlanjutan (Tabel 4). Beberapa hal yang menunjang keberlanjutan dalam Aspek Sosial adalah:

Tabel 11 Kearifan lokal dalam Aspek Sosial

Aspek Sosial Indikator Keterangan

a. Pendidikan a. aturan adat & pendidikan adat b.pendidikan praktek berladang dan kehidupan

spiritual, bekerja, sosial pemuka adat dan orang tua b. Kesehatan. a. obat tradisional Dukun, tumbuh-tumbuhan c. Ekonomi. a. aturan teknik berladang

b. aturan hasil panen c. aturan hasil hutan

Tidak dijual, disimpan, bibit dan dimakan

Leuit

Dapat dijual (Sistem barter hilang)

d.Keberlanjutan sosial

a. keterbukaan & kekeluargaan b. gotong royong

c. komunikasi

Homogen, Seluruh aktivitas lisan

Aturan Adat. Pendidikan bagi orang Baduy adalah pendidikan adat dan menjalankan perikehidupan yang baik. Dalam menjalankan kehidupan sehari hari masyarakat Baduy melaksanakan sesuai dengan Pikukuh. Pikukuh mengajarkan

tata cara mereka dalam bertingkah laku. Pemuka adat selalu membimbing mereka untuk menjalankan pikukuh dengan benar. Tertungkap segala tindakan mereka dilandasi sikap teuwasa, sikap tak berdaya melanggar pantangan adat atau buyut. Mulai mandi, masak, ke huma, merajut, ke pasar sampai bersantai menjelang tidur merupakan hidup keseharian mereka yang senantiasa terjaga oleh adat. Kolenjer kayu bergambar titik-titik dan kotak kotak merupakan alat keramat bagi orang Baduy dalam menentukan langkah dan tindakan mereka.

Sistem Pendidikan. Masyarakat Baduy Dalam maupun Baduy Luar tidak bersekolah. Masyarakat Baduy tabu untuk bersekolah formal karena menurut aturan adat mereka pendidikan dari aturan adat lebih baik dibandingkan dengan pendidikan formal di sekolah. Menurut pendapat mereka kalau bersekolah orang akan menjadi pintar dan setelah pintar mereka akan cenderung berlaku buruk terhadap orang lain. Prinsip mereka adalah manusia bukan harus pintar tetapi harus bertindak benar. Pendidikan merupakan hal penting bagi orang Baduy. Orang tua mengajar anak mereka sambil mengerjakan segala sesuatu dan untuk masalah adat oleh pemuka adat. Pendidikan utama di keluarga adalah untuk melestarikan adat mereka. Pendidikan yang diberikan adalah pendidikan tentang bertapa yaitu bagaimana cara untuk mengkonservasi sumber daya alam, membangun, beraktivitas sosial dalam masyarakat dan tata pelaksanaan kehidupan sehari-hari termasuk dalam mengerjakan huma. Mereka dididik untuk mengerti dan mempreservasi keragaman biologi dan tata cara berhubungan dengan lingkungan alami. Teknik pendidikan yang diterapkan adalah belajar sambil praktek. Anak-anak diajarkan segala macam pelajaran setelah diberi contoh sambil melakukan pekerjaan tersebut di bimbing oleh orang tua mereka.

Seluruh masyarakat mengetahui aturan mengenai jenis-jenis hewan dan tanaman yang boleh dan yang tidak boleh di wilayah Baduy dan teknik dalam mengambil sumber daya alam seperti tanaman dan hewan. Hal ini sejalan dengan proteksi terhadap sumber daya lokal. Mereka mempreservasi keragaman biologi yang terdapat di wilayah mereka baik jenis-jenis padi dan tumbuhan dan hewan lokal.

Baduy tersedia berbagai jenis obat obatan untuk manusia maupun untuk pertanian dan penyimpanan padi. Mereka memiliki cara pengobatan tradisional untuk berbagai macam penyakit. Pada umumnya penyakit yang ada seperti sakit kulit dan batuk pada orang lanjut usia. Pada umumnya para dukun menangani masalah kesehatan. Saat ini bidan sudah diperbolehkan untuk masuk Desa Kanekes untuk mengurus balita, dan orang sakit dan memberikan obat obatan terutama di Baduy Luar.

Sistem Ekonomi. Mata pencarian utama masyarakat Baduy adalah pertanian lahan kering yang dilaksanakan dengan berpindah-pindah tempat dalam waktu tertentu. Padi yang ditanam adalah padi ladang varietas lokal yang berumur sekitar 5 bulan. Kegiatan ini disebut ngahuma. Menjual padi tidak diperbolehkan oleh aturan adat. Menurut kepercayaan padi merupakan jelmaan dari dewi Nyi Pohaci Sanghyang Asri yang harus dihormati dan tidak boleh diperjual belikan. Biasanya padi hanya dipinjamkan kepada keluarga yang membutuhkan. Sebagian dari panen disimpan di leuit. Aturan adat dalam berladang terutama terdapatnya leuit dan huma serang mengandung sistem logistik yang baik. Dengan adanya Huma Serang segala keperluan adat akan tetap terjamin. Penyelenggaraan upacara adat yang cukup banyak tidak membebankan kepada warga Baduy. Adanya jenis jenis huma menjamin terkonsevasinya keragaman jenis jenis varietas padi lokal. Berladang juga dilakukan secara individual dan komunal. Huma serang, huma Puun, huma Girang Seurat tidak boleh digarap masyarakat karena merupakan ladang pribadi tetapi warga berkewajiban untuk bekerja dihuma tersebut.

Hasil dari Huma Serang yang dikerjakan secara kolektif disimpan dalam lumbung khusus yang kegunaannya untuk upacara adat, menjamu tamu masyarakat, membantu orang jompo, yatim piatu dan warga Baduy.

Huma serang diurus oleh Girang Seurat, bawahan Puun. Huma Serang bermakna dua yaitu sebagai keperluan upacara yang telah terprogram dan sebagai pemenuhan hidup pengurusnya.

Luas tanah Baduy Dalam sekitar 1065 ha. Luas ladang yang digarap antara 0,5 – 2 ha tergantung kemampuan penggarap . Hasil panen rata rata masyarakat

Baduy Dalam adalah 123,75 ranggeong atau sekitar 500 gedeng untuk 1 keluarga. Menurut aturan adat hasil panen yang 1/3 bagian untuk dimakan, 1/3 bagian untuk bibit, dan 1/3 bagian untuk disimpan bilamana terpaksa baru akan dikeluarkan. Penyimpanan padi di leuit biasanya dapat tahan lama sampai berpuluh puluh tahun. Dengan adanya aturan adat untuk menyimpan padi, masyarakat Baduy tidak pernah kekurangan pangan. Untuk kebutuhan sehari hari mereka membeli dari pasar Ciboleger atau Cibengkung sehingga persediaan beras di dalam leuit selalu terjaga. Menurut kebiasaan masyarakat makan dengan ikan asin japuh bakar dan rebusan waluh dengan garam. Ikan di beli di pasar terdekat. Mereka tidak merokok, makanan yang biasa dikonsumsi antara lain gula aren, madu dan tanaman palawija. Jenis-jenis palawija adalah kacang hiris, wijen, jagung, singkong, umbili, cabe, ubi jalar dan kacang tanah. Tanaman ini ditanam di huma bersamaan dengan padi. Padi akan di tanam setahun sekali .

Mata pencaharian sampingan Baduy Dalam adalah membuat kerajinan boboko dari bambu, tas koja dari kulit kayu teureup, jarog, topi, tempat minum, membuat kalung, gelang dan berdagang kerajinan tersebut. Hasil hutan merupakan penghasilan sampingan warga Baduy. Hasil hutan dibagi dua yaitu hasil produksi dari leuweung kolot dan reuma. Hasil Leuweung kolot yang dijual adalah aren, durian, petai, keranji, dan madu. Reuma merupakan hutan sekunder yang paling menghasilkan pendapatan bagi masyarakat Baduy karena menghasilkan durian, petai, dukuh, pisang rambutan dan lain lain

Masyarakat Baduy dapat mencukupi kebutuhan kebutuhan mereka dengan adanya hutan di sekeliling mereka. Para leluhur dan adat telah membuat zoning dan site plan yang baik dan juga aturan aturan adat yang jelas. Baik dalam pekerjaan utama mereka yaitu mengerjakan huma yang menurut pikukuh adat mereka adalah upacara sakral yaitu mengawinkan Nyi Pohaci. Aturan tentang menanam padi juga telah diatur oleh pikukuh adat. Saat ini yang mereka beli keluar hanyalah garam dan ikan asin dari pasar sekitar. Biasanya pembelian sesuatu dilakukan secara kolektif pada kampung untuk seluruh warga. Jadi pengurus adat yang mengurusi kebutuhan-kebutuhan warga secara kolektif.

lainnya, sebagai layaknya satu keluarga besar. Segala sesuatu acara dilakukan secara bergotong royong. Segala masalah yang terjadi diselesaikan di dalam keluarga, masyarakat atau kalau diperlukan diselesaikan secara adat. Dalam aturan adat banyak acara acara sosial yang harus dilakukan. seperti melakukan upacara adat perkawinan, dan perayan perayaan kematian yang dirayakan 3, 7, 14 harinya dan dilaksanakan secara gotong royong. Pengumuman dilakukan secara lisan sebab mereka selalu bertemu satu dengan lainnya dan ada jadwal waktu tertentu untuk pelaksanaan acara sosial. Proses daur kehidupan seperti kelahiran biasanya dilakukan di rumah masing masing yaitu di ruang Imah dengan dibantu ambeu beurang. Anak Baduy selain bermain juga sudah membantu orang tuanya. Upacara sunatan dan perkawinan diadakan di bale dan dirayakan oleh seluruh kampung. Seluruh masyarakat dan pemuka adat akan berpartisipasi dalam acara ini baik menyumbang makanan, menyiapkan untuk acara adat dan pesta serta pelaksanaan acara perkawinan. Acara ini dipimpim oleh Puun. Untuk acara masal dilaksanakan pada alun-alun di tengah kampung.

Menurut survey tahun 2008, populasi penduduk Baduy Dalam hanya 10.8 % dari keseluruhan penduduk Baduy yang mendiami 56 kampung di Desa Kanekes. Jumlah penduduk Cibeo tahun 2004 adalah 117 kepala keluarga dengan jumah penduduk sebesar 507 orang. Sedangkan pada tahun 2008 jumlah penduduk menjadi 573 orang dengan jumlah keluarga menjadi 132 kk. Jadi pertambahan penduduk di desa Cibeo sekitar 2.8 % per tahunnya. Dengan pertambahan penduduk maka dikuatirkan akan terjadi kekurangan lahan untuk ladang. Hal ini dikuatirkan akan mengakibatkan pergeseran adat dan budaya mereka yang gejalanya sudah mulai tampak saat ini.

Kearifan Lokal dalam Keberlanjutan Aspek Spiritual

Total nilai aspek spiritual mencapai 414 yang berarti masyarakat Baduy Dalam menunjukkan progres yang sangat baik pada keberlanjutan spiritual (Tabel 12).

Tabel 12 Kearifan lokal dalam keberlanjutan aspek spiritual Aspek Spiritual

Adat/budaya

b.hirarhi suci profan& kiblat arah

Baduy Luar dan Dangka Utara ke selatan Tinggi- rendah, utara- selatan

pelaksanaan aturan adat c. keterikatan masyarakat Visi,tujuan sama, homogen d. sistem informasi terbatas

e. kepercayaan f. pemerintahan adat

Sunda wiwitan organisasi

Tata Wilayah. Wilayah desa Kanekes dibagi menjadi Baduy Luar yang seluruh kampungnya terletak di bagian utara Desa Kanekes dan kampung Baduy Dalam yang terletak di bagian selatan Desa Kanekes. Perkampungan Baduy Luar merupakan pintu masuk ke desa Kanekes. Pengaturan sirkulasi jalan mengikuti arah Utara -Selatan (Gambar 2). Jadi pengunjung yang memasuki wilayah Baduy diharuskan masuk melalui bagian Utara yaitu Kampung Kaduketug dimana terdapat Jaro Pamarentah. Dalam peraturan adat terdapat aturan dalam sirkulasi untuk pengunjung. Pengunjung harus mengikuti arah Utara -Selatan. Jadi setiap orang luar yang datang tidak dapat masuk dengan bebas ke wilayah Desa Kanekes selain dari arah sebelah Utara atau kampung Baduy Luar menuju arah Selatan yaitu perkampungan Baduy Dalam. Perkampungan Baduy Luar merupakan pintu masuk ke Desa Kanekes. Kampung Kaduketug merupakan desa terluar dari desa Kanekes dari arah Utara. Selain jalan itu pengunjung tidak diperkenankan memasuki wilayah Baduy. Setiap pengunjung yang memasuki wilayah ini harus berhubungan dengan Jaro Pamarentah dan selanjutnya Jaro Pamarentah akan mengatur sesuai dengan aturan dan tata cara yang berlaku di desa Kanekes. Jaro Pamarentah berfungsi sebagai penghubung orang luar dengan Desa Kanekes terutama untuk kunjungan ke kampung Baduy Dalam. Kampung Baduy Dalam terletak di sebelah Selatan yang berjarak sekitar 15 km dari jalan masuk ke Desa Kanekes dengan jalan yang sangat sulit dilewati karena naik turun dan licin. Jadi tidak ada tamu yang masuk tanpa diketahui dan ijin terutama ke wilayah Baduy Dalam. Wilayah Dangka merupakan penjaga pertama terhadap kemurnian adat dan budaya mereka (Gambar 2) Tata wilayah masyarakat Baduy juga merupakan sistem ketahanan sosial budaya setempat terhadap penetrasi agama Hindu, Islam dan Budha dalam jangka waktu yang panjang. Dalam pembagian wilayah terdapat hirarhi dimana semakin kearah Selatan wilayah Desa Kanekes semakin suci dan semakin tinggi dalam menjaga kemurnian adat dan pikukuh. Masing masing kampung Baduy Dalam mempunyai tugas berbeda dalam menjalankan

adat. Cikeusik bertugas menjaga kemurnian adat, Cikartawana bertugas menjaga keamanan kawasan dan Cibeo bertugas sebagai penerima tamu dan hubungan masyarakat. Daerah Tangtu merupakan inti jagat yaitu tempat asal mula leluhur manusia di bumi ini. Warga Tangtu merupakan pertapa dan bertugas menjaga agar pikukuh Baduy tetap murni.

Panamping berfungsi sebagai penjaga orang yang sedang bertapa. Mereka tinggal pada bagian sebelah utara dari Desa Kanekes yang merupakan pintu masuk ke wilayah ini. Masyarakat Baduy tidak dipaksa dalam menjalankan adat. Apabila ada warga Baduy yang sudah tidak mau melaksanakan adat maka dipersilahkan keluar ke kampung Dangka.Dangka hidup berdampingan dengan orang di luar Baduy, hanya pada upacara adat mereka datang. Dangka berfungsi sebagai penyaring pertama pada kemurnian adat Baduy Dalam. Derajat kesucian dalam adat Baduy dicerminkan dengan pakaian mereka. Baduy Dalam berpakaian putih berarti suci, sedangkan pakaian Baduy Luar hitam berarti kotor

Kepercayaan. Pikukuh masyarakat Baduy merupakan dasar dari segala tindak perbuatan masyarakatnya yang tidak boleh dilanggar. Pikukuh diamalkan dalam peri kehidupan masyarakat dibawah pimpinan Puun sebagai pemimpin adat . Pedoman bagi tingkah laku dan tindakan serta kehidupan sehari hari adalah pikukuh yang dianggap bersumber dari karuhun, yang kemudian diturunkan dari generasi ke generasi. Ajaran utama pikukuh adalah ketentuan bahwa tempat bermukim mereka perlu dipelihara oleh semua orang karena merupakan pancer bumi, atau inti jagad yaitu pusat bumi yang membuat sejahtera kehidupan dunia. Menurut orang Baduy, kehidupan di dunia ini adalah proses perjalanan yang ditempuh seseorang seperti layaknya suatu pengembaraan. Sisi mula dari kehidupan yaitu kelahiran akan menentukan tentang kematian nanti. Hal ini berkaitan dengan cara-cara bagaimana pengembaraan itu diselesaikan. Karuhun yang juga pernah mengalami pengembaraan telah menyusun pikukuh ( pedoman, adat, aturan hidup ) bagi para keturunannya. Salah satu prinsip dalam pikukuh adalah buyut, teu wasa yaitu prinsip bahwa; tidak boleh merubah, seperti dikatakan bahwa lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung (panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung). Puun merupakan

melaksanakan pikukuh. Kepercayaan yang kuat terhadap agama Sunda Wiwitan merupakan hal yang mendasari keberlanjutan adat mereka. Dengan kepercayaan yang kuat bahwa masa hidup ini akan menentukan kematian nantinya maka ajaran adat mengenai perilaku mereka di dunia dilaksanakan dengan sukarela. Oleh sebab itu maka adat dan budaya Baduy terutama Baduy Dalam tidak banyak mengalami perubahan sejak abad ke 16. Hal tersebut dapat berlangsung hingga saat ini terutama didukung oleh sistem adat, organisasi desa dan pembagian wilayah di atas. Buyut memberi pertanda tentang bagaimana seharusnya orang Baduy berlaku dan bertindak sesuai dengan pikukuh. Masyarakat Baduy harus hidup bersahaja atau apa adanya dan tidak boleh kaya sebab materi dianggap merupakan ancaman ketentraman kehidupan sebuah mandala (tempat suci) dan sebagai pertapa harus berbuat baik dan patuh kepada pikukuh.

Pemerintahan Adat. Masyarakat Baduy dibagi dalam 2 paroh masyarakat yaitu kajeroan dan panamping. Menurut Garna (1985), struktur sosial kehidupan warga masyarakat Baduy seperti tersirat dari pikukuh pada hakekatnya terlingkup oleh tiga bagian kajeroan dan jaro tujuh yang melaksanakannya struktur sosial itu dapat dilihat pada struktur organisasi desa dan juga menjadi landasan pokok bagi mekanisme pemerintahan adat menurut pikukuh Baduy. Karena itu orang Baduy mengangkat Jaro Pamarentah sebagai pelaksana kepala desa menurut keperluan dan untuk berhubungan dengan pemerintah formal. Keadaan itu memberikan peluang bagi kelangsungan dari struktur sosial dan sistem pemerintahan adat Baduy serta kepercayaan Sunda Wiwitan sejak diketahui keberadaan orang Baduy pada zaman Hindia Belanda dulu.

Kedudukan para pemimpin adat dan Puun sifatnya kekal. Para pemimpin adat memiliki peranan dan kekuasaan luas terhadap keseluruhan sistem sosial budaya Baduy. Wewenang dan kedudukan itu sudah ditentukan oleh karuhun dan sangat terkait dengan sistem sosial budaya. Oleh sebab itu masyarakatnya hampir tak tergoyahkan oleh pengaruh serta perubahan yang ada. Pemilihan calon untuk Puun, Jaro dan Tangkesan dilakukan oleh warga. Walaupun Baduy Luar dianggap kurang kesuciannya daripada Baduy Dalam tetapi mereka secara organisasi, peraturan kemasyarakatan adat merupakan satu sistem yang saling terkait dan mendukung satu dengan lainnya.

Adat dan Budaya. Dalam menjalankan kehidupan sehari hari Pikukuh mengajarkan tata cara mereka dalam bertingkah laku. Pemuka adat selalu

membimbing mereka untuk menjalankan pikukuh dengan benar. Tertungkap

segala tindakan mereka dilandasi sikap teuwasa, sikap tak berdaya melanggar pantangan adat atau buyut. Mulai mandi, masak, ke huma, merajut, ke pasar sampai bersantai menjelang tidur merupakan hidup keseharian mereka yang senantiasa terjaga oleh adat. Kolenjer kayu bergambar titik titik dan kotak kotak merupakan alat keramat bagi orang Baduy dalam menentukan langkah dan tindakan mereka. Segala perilaku dan kegiatan pada kehidupan di rumah, berhuma atau berpergian dapat dikaji baik buruknya lewat penafsiran dari titik, kotak dan garis silang yang ada pada kolenjer. Alat ini yang dijadikan pegangan dalam

proses kehidupan orang Baduy selain menjalani buyut. Budaya setempat

dilestarikan melalui aktivitas dan perayaan perayaan dari kehidupan dan siklus

dalam perladangan yang dirayakan bersama orang sekampung. Pikukuh

menetapkan aturan seluruh perilaku dalam kehidupan termasuk tata cara mengerjakan huma, upacara dan jadwal dalam proses perladangan itu. Dalam merayakan hasil pertanian mereka juga memainkan alat seperti angklung buhun.

Rekonstruksi Desain Rumah Baduy Dalam

Pengambilan data di Baduy Dalam dilakukan pada 8-11 Agustus 2008. Dengan melakukan wawancara dengan wakil pemuka adat, melakukan pengukuran untuk mengambil data primer, pengamatan pada lokasi.

Rekonstruksi Tata Letak Rumah

Permukiman masyarakat Baduy Dalam kampung Cibeo mempunyai sistem tata letak dan peraturan tertentu yang serupa dengan tata letak pada wilayah Desa Kanekes. Konsep penempatan seperti ini memang sudah dikenal pada tata letak

Dokumen terkait