• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ketertarikan Interpersonal Pada Lanjut Usia Di Panti Sosial Tresna Werdha

Dalam dokumen JURUSAN PSIKOLOGI (Halaman 63-72)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Deskripsi Hasil

4.2.1 Ketertarikan Interpersonal Pada Lanjut Usia Di Panti Sosial Tresna Werdha

4.2.1.2 Rasa Kasihan

Rasa kasihan merupakan perasaan atas dasar ketidaknyamanan pada kesusahan atau kesulitan yang dialami individu lain. Tema rasa kasihan dialami ketiga partisipan penelitian ini, bentuk rasa kasihan yang ditunjukkan adalah rasa kasihan karena adanya kisah yang memilukan, kondisi fisik serta keadaan yang sulit. Perasaan kasihan partisipan W karena kondisi fisik lanjut usia tersebut yang memprihatinkan, seperti pernyataan dari partisipan W sebagai berikut:

“Karna kasian, karna dio tu ngesot.” (W, 905-906)

Pada partisipan S, rasa kasihan ditunjukkan karena lanjut usia lawan jenis tersebut sudah tidak memiliki keluarga lagi, sehingga partisipan S menganggapnya sebagai saudara, seperti pernyataan dari partisipan S sebagai berikut:

“Kasian nengok dio, dio anak rantau dari pulau jawa ke Sumatra ni tidak ada keluarga kan. Jadi kalo seandainya aku pergi ninggalkan dio, kemana nasib dia nak” (S, 226-231)

“bapak gak sampai hati kalo mau niggalin dia kan.” (S, 235-237)

“Aku jugo kasian negok dio, kasian” (S, 238-239)

“padahal aku biso ninggalkan dio kan tapi aku dak biso dak tega ninggalin dio kan, berat.” (S, 459-462)

Tema rasa kasihan yang ditunjukkan partisipan P adalah rasa kasihan saat mengetahui kisah hidup yang dilalui lanjut usia lawan jenis tersebut yang memilukan yang menjadi awal ketertarikan partisipan P pada lanjut usia lawan jenis tersebut, seperti pernyataan dari partisipan P sebagai berikut:

“Nangis nya gini karna iba, karna dia punya anak sebetulnya, punya anak 5 SM ni. Banyak anaknya, ad yang sopir, ada yang guru kok sampai tega nya ke orang tua kayak gitu.” (P, 538-549)

“Kasian ya punya anak yang gak ingat dengan bapaknya, ke orang struk pulak.”

(P, 582-585)

“karna kasian juga karna dia baru aja istrinya meninggal baru aja ni pas aku sudah disini.” (P, 620-623)

Partisipan P menjelaskan bahwa rasa kasihannya juga muncul karena kondisi fisik lanjut usia lawan jenis tersebut yang sempat memprihatinkan,

sehingga hal ini membuat partisipan P semakin tertarik, seperti pada pernyataan dari partisipan P sebagai berikut:

“Cuma kasian matanya buta sampai ditinggalkan anaknya, aku itu tertariknya.

Kasian kasian ini, dalam hati ini nangis, ya gimana kadang 3 hari makan 3 hari enggak gitu kek mana gak kasian.” (P, 590-596)

“gara-gara tertarik karna dia sakitnya kan iba tu karna kadang bisa makan kadang enggak.” (P, 609-612)

“Sekarang udah buta kasian tulah iya kasian iba hati ku aku iba, aku kasian sama dia” (P, 615-618)

Tema rasa kasihan ini juga diperkuat oleh pernyataan partisipan A”

sebagai petugas di panti bahwa partisipan W dan partisipan P merasa kasihan pada lanjut usia lawan jenis hingga rela berkorban, seperti pernyataan dari partisipan A” sebagai berikut:

“karna kan ya katanya “kasian untuk kakak aku” kayak gitu padahal dia aja butuh tapi dia lebih berkorban untuk si cowok itu gitu loh, sering tuh sampai sekarang masih” (A”, 332-336)

4.2.1.3 Perilaku Tolong Menolong

Manusia sebagai makluk sosial yang memiliki arti bahwa setiap individu membutuhkan keberadaan individu lain dan dapat pula di artikan bahwa setiap individu tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri dan membutuhkan pertolongan dari orang lain. Perilaku tolong menolong pada sesama lanjut usia di panti merupakan hal yang sering terjadi karena lanjut usia dipanti tidak memiliki keluarga lagi.

Pada tema ini mengungkapkan bahwa perilaku tolong menolong merupakan bentuk ketertarikan interpersonal yang dilakukan oleh semua partisipan. Perilaku tolong menolong yang ditunjukkan dari setiap partisipan dalam bentuk saling tolong menolong dalam hal apa saja. Tema Perilaku tolong menolong yang ditunjukkan oleh partisipan W adalah saling tolong menolong dalam segala hal baik dalam menjemur pakaian, mengambil air dan membuat minuman, seperti pernyataan dari partisipan W sebagai berikut:

“…sekarang nenek sering tolong kakek S” (W, 97-98)

"…sama-sama tolong jadi kan dio ngesot jadi susah mau kegiatan apo-apo”

(W, 108- 110)

“Cuma bilang pak ini kopi minumlah, cuman itu bae ya” (W, 121-123)

“…kakek S minta tolong nenek jemurkan bajunyo, jadi nenek bawak baju nyo nenek gendong, pas kering nenek antarkan karna orang ngesot dionyo tapi dibilang orang nenek ni berselingkuh,” (W, 164-168)

“Terus dio kan dak biso ambek air ke bawah jadi nek bantu ambilin,” (W, 598-600)

“Nek M ni kalo baju nenek berantakan di ambeknyo di gantung dikaiti didinding” (W, 708-710)

“Ini orang kakek S nak minta tolong sudah nyuci minta tolong jemurkan.” (W, 750-752)

“Jadi nenek jemurkan sudah kering kagek nenek kasi bawakkan kadang-kadang” (W, 752-755)

“Nek bantu karna dio ni dak bisa, kemana-mana dak bisa, ngesooot be teruss ngesot ke depan dari kamar dio tu ke depat entah berapa kali ngesot.” (P, 909-914)

Partisipan S menjelaskan bahwa perilaku tolong menolong yang ditunjukan adalah dengan mendapatkan pertolongan untuk melakukan kegiatan sehai-hari yang tidak dapat ia lakukan sendiri karena kondisi fiiknya dan memberikan pertolongan sebisanya seperti membantu memijit, seperti pernyataan dari partisipan S sebagai berikut:

“Saling bantu membantu gitu lah” (S, 96-97)

“Kebaikan dia, bawain air minum bikin kopi kan, emang kita yang beli tapi dia yang ngantar gitu, kakek nyuci dio ngejemurkan, kakek dak biso jemur” (S, 101-106)

“Nenek tu tengok jalan be susah diseret kadang-kadang minta tolonglah dengan aku mijitin kakinya, nganuin asam uratnya gitu kan” (S, 355-359)

“…dipijit be sini nya, urat sarafnya ni supaya ringan jalan kan. Diterapi lah kan” (S, 369-371)

“Nah kalo aku dak katek aek “ dek, ya” “tolong dek aku dak katek aek” nah botol kan disiin di antarinyo kesini, disini lah di luar air minum, biasa aja itu minta.”( S, 669-674)

Partisipan S menjelaskan bahwa dia sering mendapatkan pembelaan dari lanjut usia lawan jenis tersebut, jenis pembelaan yang partisipan S dapatkan adalah ketika partisipan S dalam masalah atau sedang ribut dengan sesama lanjut usia di panti, lanjut usia lawan jenis tersebut membelanya, seperti pernyataan dari partisipan S sebagai berikut:

“Dia selalu membagus-baguskan laki-laki kan. Saya be disini sering dibelanya kan, ya kalo ribut-ribut gitu kan dio bilang”jangan sakitin” (S, 327-331)

“…iya belaaa lah kalo ada ribut-ribut tu” (S, 344-345)

Partisipan P menjelaskan bahwa perilaku tolong menolong yang ditunjukkan adalah dengan meminta pertolongan untuk menyeduhkan makanan instan, membuang sampah, menolong berdiri dan memijit karena kondisi fisiknya yang lumpuh sebagian, seperti pernyataan dari partisipan P sebagai berikut:

“…sering aku nyuruh-nyuruh “tok tolong kau pegangin mie” dulu sebelum ada penjual tekwan, sering buatin mie aku. “ada mie ya P” “bikin mie yo” “iyoo”

Aku suruh kakek buatin mie, kakek J sebelum ada tekwan, baru-baru ada tekwan.” (P, 159-167)

“R yang tinggi ku suruh buang kan sampah itulah” (P, 180-182)

“…baek nya gini “ aku minta tolong SM aku tolong tangan ku sering tegang kan tolong pijit ni” di pijitin, aku gak bisa tegak “dek (SM)” “apa kak”(P) “ tolong aku tegak” baek aku di tegakkan baek nian” (P, 197-203)

“…bisa tolong ya tolong, kadang aku kan manggil tolongin “gak bisa” kalo gak bisa ya sudah gak bisa tegak. Balik “hati-hati kak” pergaulan baguslah minta tolong dia” (P, 440-446)

Tema perilaku tolong menolong diperkuat pula dengan pernyataan partisipan A” sebagai petugas di panti bahwa partisipan P meminta pertolongan pada lanjut usia lawan jenis meski terdapat petugas yang dapat menolong, seperti pernyataan dari partisipan A” sebagai berikut:

“…tapi kadang mereka tu ee caperrrr gitu misalnya yang pakai tongkat caper pengen di tuntun sama yang cowok gitu padahal kan lansia yang cewek kan banyak dan petugas pun ada gitu,…” (A”, 297-303)

“…misalnya beliau pake tongkat ni tapi karna mungkin perangainya pengennya sama cowok gitu kan padahal petugas banyak gitu kan terkadang dia ingin rasa ingin pengen di apo di tuntun sama laki-laki ya sama lawan jenisnya gitu,..”

(A”, 305-312)

Partisipan E” sebagai petugas di panti menambahkan bahwa partisipan S dan partisipan W menunjukkan perilaku tolong menolong dengan saling menyisihkan apa saja mulai dari hal yang umum hingga hal spesifik, seperti pernyataan dari partisipan E” sebagai berikut:

“Nampak nian memang dek, kalo beli sesuatu tu memang disisihkan bukan disisihkan tu kadang biarlah mereka dulu ketimbang diok, kalo nenek W ke kakek S memang semuanya memang di kasi memang sampai kadang berobat itu

“buk pesanan datuk” nah kek gitu selalu di ingatkan dengan dio.” (E”, 525-536)

4.2.1.4 Cinta

Cinta berupa perasaan positif yang kuat dan dapat dirasakan oleh individu.

Cinta merupakan suatu emosi dari afeksi yang kuat dan ketertarikan antar individu. Tema cinta dialami oleh partisipan W, partisipan S dan partisipan P yang berupa perasaan bahwa dirinya dicintai maupun perasaan dirinya mencintai.

Tema cinta yang dialami oleh partisipan W termasuk dalam tipe cinta rasa suka yang berupa adanya kedekatan dengan lanjut usia lawan jenis. Partisipan W menjelaskan bahwa adanya perasaan yang semakin dekat setelah bertemu kembali di panti hingga berkunjung ke tempat tinggal serta partisipan W menjelaskan bahwa dirinya mendapatkan cinta dari lawan jenis, seperti pernyataan dari partisipan W sebagai berikut:

“Nah jadi nenek dekatnya dengan kakek S tu lah. Kalo lansia lain yo sekedar kenal bae” (W, 129-132)

“nah sudah sampai sini kami bertemu jadi makin dekat rasonyo” (W, 196-198)

“pas kakek S tu tinggal di wisma 1 kan sebrangan dengan wisma 1. Ini kan kamar S, sebelahnya mbah nah jadi naik dari samping dio masuk dari jendela kamar kakek S nah main cinta lah disitu,” (W, 309-316)

“terus kakek S ngomong “aku dak cinto dengan kau M, aku cinto dengan mak ntut(nek W) (tertawa) jadi kakek S ni cinto. (W, 698-702)

Tema cinta partisipan S termasuk dalam tipe cinta sempurna. Partisipan S menjelaskan bahwa dirinya menjalin hubungan pacaran dengan lanjut usia lawan jenis hingga berencana untuk menikahi lanjut usia tersebut, hal ini bermakna bahwa ketertarikan antar partisipan S dan lanjut usia tersebut sudah sangat dalam hingga terjalin hubungan romantis seperti pacaran dan mengarah pada pernikahan, seperti pernyataan dari partisipan S sebagai berikut:

“Nah kalo dengan nenek yang tadi (nek W) nah itu maaf ngomong pacar kakek lama tapi nenek ada cerita dak” (S, 69-73)

“kita tuh dikit banyak kan apo, pacaran kan” (S, 224-225)

“mau menikah” (S, 226)

“yah kalo dijelasin. Masa gak tau pacaran” (S, 260-261)

Partisipan S menjelaskan bahwa dia menjalin hubungan pacaran secara sembunyi-sembunyi karna adanya aturan larangan menjalin hubungan dengan

sesama lanjut usia didalam panti, hingga partisipan S berencana untuk keluar dari panti untuk melanjutkan hubungannya ke jenjang pernikahan yang menadakan bahwa tingginya ketertarikan partsipan S pada lanjut usia tersebut, seperti pernyataan dari partisipan S sebagai berikut:

“cuman kito ni macam mano didalam ini ni kan dak boleh pacar-pacaran. Kami ni kan sembunyi-sembunyi, sembunyi aja lah” (S, 146-150)

“Tu bukan apo yo kalo ado jodoh aku boleh lah dak apo nak jadi istri suami istrikan tapi kalo bisa kan jangan disini, diluar sini lah” (S, 240-244)

Partisipan S menjelaskan bahwa bentuk cinta yang digambarkan melalui adanya hubungan pacaran ini diawali karna adanya ajakan lanjut usia lawan jenis tersebut untuk mengulang hubungannya yang dahulu pernah ada. Partisipan S dan lanjut usia lawan jenis tersebut sempat menjalin hubungan pacaran sebelum masuk ke panti namun kandas sehingga pertemuannya di panti membuat cinta mereka bersemi kembali dan membentuk cinta yang lebih kuat lagi, seperti pernyataan dari partisipan S sebagai berikut:

“Jadi dio ngomong “ a’” kubilang ngapo “kito ulangin lagi yok pacaran kito dulu” “ ayokk”, waktu dio masih diwisma 14 kan aku diwisma 5 ayok kataku.”

(S, 270-275)

Bentuk tema cinta berdasarkan pernyataan partisipan S adalah tipe cinta persahabatan berupa adanya rasa memiliki hubungan adik beradik dan hubungan saudara yang menandakan bahwa cinta yang dalam, seperti pernyataan dari partisipan S sebagai berikut:

“yah berhubung-hubung gitu, anggap ajalah adek beradek udah.” (S, 92-94)

“Karna baek sama baek kan, anggap aja lah dia saudara saya, saya saudara dio” (S, 94-96)

Tema cinta partisipan P adalah tipe cinta persahabatan. Partisipan P menjelaskan bahwa hubungannya dengan lanjut usia lawan jenis tersebut sudah seperti saudara meski bukan saudara kandung namun hal ini menandakan bahwa tingginya tingkat ketertarikannya pada lanjut usia lawan jenis tersebut, seperti pernyataan dari partisipan P sebagai berikut:

“karna aku kakak adek kan dengan SM gitu SM” (P, 205-207)

“aku dengan kakek SM kakak adek, dia anggap aku kakak, matanya buta, tiap hari ku beliin jajan karna aku punya kakak gak punya adek , dia gak punya kakak dia aku orang 5 anak pertama dia, aku orang 7 anak terakir gak punya adek.”(P, 432-439)

“Yo lain lah, beda, aku dengan SM yo lain. aku degan SM kakak adek” (P, 478-480)

Berdasarkan penjelasan partisipan P, bentuk cinta yang digambarkannya adalah adanya rasa menyayangi lanjut usia yang dia sukai tersebut, seperti pernyataan dari partisipan P sebagai berikut:

“merasa seneng sayang lah karna aku merasa gak punya saudara” (P, 467-469)

Tema cinta diperkuat pula oleh pernyataan salah satu petugas dipanti yaitu partisipan A”. Partisipan A” menjelaskan bahwa partisipan S berencana untuk keluar dari panti dan berencana untuk menikah, seperti pernyataan dari partisipan A” sebagai berikut:

“Yang inisial W dan S ini mereka pernah bilang “ saya mau keluar dari sini, saya mau nikah”, oh kalo

petugas panti bilang “ silahkan”, ya kan.” (A”, 702-706)

Partisipan A” menjelaskan bahwa bentuk cinta partisipan S dan partisipan W tidak hanya sebatas pacaran saja, namun sampai kepada masuk ke kamar lanjut usia lawan jenis dan berencana untuk berhubugan badan serta sampai kepada kontak fisik antar lanjut usia dengan lanjut usia lawan jenis, seperti penyataan dari partisipan A” sebagai berikut :

“eeee ya lebih perhatian gitu ya, tapi pernah juga di laporin sama lansia di sini pernah ada kontak fisik, gitu” (A”, 820-823)

“Lansia S memegang kemaluannya si W.” (A”, 820-823)

“masuk kekamar dan itu gak boleh makanya di pindahin tu ke belakang karna kan kecolongan gitu na,” (A, 823-824)

“kalo misalnya bahasanya, bahasanya bahasa jambi lah ya karna kakak gak ngerti ngomongnya, cuman kalo diartikan “kalo saya sehat saya bisa naikin dia” si W nih, kalo bahasa nya tuh “tengkengin” kakak juga gak ngerti jadi artinya tuh di naikin” (A”, 839-843)

“Nah diwisma 7 ada laporan bahwa dia kontak fisik” (A, 859-867)

“Si nenek nya (W) datang ke wisma 7, gituu. Kata yang saksi mata itu, almarhum ya sekarang ya. Kata yang saksi mata itu itu celana si nenek nya di

buka, si cowok (S) nih kan ngesot (tertawa) jadi kemaluannya di pegang katanya gitu dan itu tuh neneknya yang ngasih aja gitu didengar dari pembicaraannya jadi ada yang nguping pembicaraan mereka berdua tu.” (A”, 895-897)

Partisipan E” sebagai salah satu petugas di panti juga menambahkan bahwa partisipan S dan partisipan W saling menyukai satu sama lain, seperti pernyataan dari partisipan E” sebagai berikut:

“yang sangat menanggaapi sama-sama suka tu cuman nenek W sama datuk S, kalo nenek P dengan datuk SM kayaknya datuk SM Cuma memanfaatin bae.”

(E”, 899-910)

“Kalo mereka yang Cuma sekadar suka-sukaan itu ya gak papa lah, itu tadi memang kebutuhan biologisnya” (E”, 626-630)

4.2.1.5 Dampak Positif

Dampak Postif merupakan perubahan keadaan emosi individu kearah yang lebih baik. Tema dampak positif dialami oleh dua orang partisipan yaitu partisipan S dan partisipan P. Dampak positif yang dialami partisipan S, bahwa adanya perubahan setelah bertemu dengan lanjut usia lawan jenis tersebut berupa emosi seperti adanya perasaan tenang dan merasa memiliki kecocokan, seperti pernyataan dari partisipan S sebagai berikut:

“Nah semenjak dio ado, hati tuh kan agak tenang sikit istilahnyo bertemu kawan lamo kan, itulah.” (S, 402-406)

“Bapak kalo sudah merokok, ngobrol sebentar sama nenek sudah tenang pikiran, dak banyak ini itu lagi” (S, 505-508)

Tema dampak positif yang ditunjukkan oleh partisipan P adalah adanya emosi berupa perasaan senang dan bahagia dengan adanya hubungan saudara dengan lanjut usia lawan jenis, seperti pernyataan dari partisipan P sebagai berikut:

“ya seneng lah. Perasaaan ku ya seneng karna gak pernah punya saudara adek”

(P, 461-464)

“seperti seneng lah kan punya adek,” (P, 466-469)

“ya perubahannya seneng punya adek, merasa bahagia, meskipun bukan adek satu kandungan. Itulah.” (P, 510-513)

4.2.2 Faktor Ketertarikan Interpersonal Pada Lanjut Usia Di Panti Sosial

Dalam dokumen JURUSAN PSIKOLOGI (Halaman 63-72)