SKRIPSI
Disusun Oleh:
ASTI RAMADHANI NIM. G1C118001
JURUSAN PSIKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JAMBI
2022
SKRIPSI
Diajukan Kepada Jurusan Psikologi
Fakultas Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi Untuk Memenuhi Sebagian Dari Persyaratan Guna Memperoleh
Gelar sarjana Psikologi
Disusun Oleh:
ASTI RAMADHANI NIM. G1C118001
JURUSAN PSIKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JAMBI
2022
iii
HALAMAN PERSETUJUAN
iv
PENGESAHAN SKRIPSI
v
PERSETUJUAN SKRIPSI
GAMBARAN KETERTARIKAN INTERPERSONAL LANJUT USIA DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA (PSTW) BUDI LUHUR JAMBI
Disusun Oleh:
ASTI RAMADHANI NIM. G1C118001
Telah disetujui oleh Dosen Pembimbing Skripsi Pada tanggal 15 Desember 2022
Pembimbing I : Dessy Pramudiani, S.Psi., M.Psi., Psikolog Pembimbing II : Agung Iranda, S.Psi., M.A
Penguji I : Siti Raudhoh, S.Psi., M.Psi., Psikolog Penguji II : Nurul Hafizah, S.Psi., M.Psi., Psikolog
vi
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN
vii
KATA PENGANTAR
Bismillahirahmanirahim, Puji syukur Alhamdulillah atas kehadirat Allah SWT, Dzat yang Maha Esa yang telah mencurahkan rahmat dan karunianya sehingga peneliti mampu menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Gambaran Ketertarikan Interpersonal Pada Lanjut Usia di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Luhur Jambi”. Dalam pembuatan skripsi ini peneliti mendapatkan bimbingan serta petunjuk dari banyak pihak sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini. Selanjutnya melalui tulisan ini peneliti mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Prof. Drs. H. Sutrisno, M.Sc., Ph.D., selaku Rektor Universitas Jambi 2. Bapak Dr. dr. Humaryanto, Sp. OT, M. Kes., selaku Dekan Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi.
3. Ibu Yun Nina Ekawati, S. Psi., M. Psi., Psikolog., selaku ketua Program Studi Psikologi Universitas Jambi
4. Ibu Dessy Pramudiani, S. Psi., M. Psi., Psikolog selaku pembimbing I yang telah membimbing dan meluangkan waktu dalam segala kesibukan untuk berdiskusi, memberi saran dan motivasi kepada peneliti.
5. Bapak Agung Iranda, S. Psi., M.A. selaku pembimbing II yang telah membimbing dan meluangkan waktu dalam segala aktivitas untuk berdiskusi, memberikan saran dan motivasi kepada peneliti.
6. Bapak dan ibu Dosen Program Studi Psikologi Universitas Jambi yang selama ini telah memberikan ilmu dan pengalaman yang luar biasa dan sangat berharga bagi peneliti.
7. Pihak UPTD Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Luhur Jambi yang telah memberikan dukungan kepada peneliti selama penelitian
8. Kedua orang tua yang terkasih Ayahanda Abd Basir dan Ibunda Marlina yang telah memberikan cinta, kasih sayang dan do’a yang tulus kepada peneliti
viii
9. Kedua kakek dan nenek tersayang H. Ambok dan Hj. Dewi Nur Alam(Alm) yang telah mendidik, mengasihi, mencurahkan kasih sayang dan membimbing hingga peneliti mampu sampai pada titik ini.
10. Tante tercinta Yuni Asih, A.Md. Keb. dan Suami Burhanudin yang telah mencurahkan kasih sayang, memberikan support dan semangat serta selalu siap dalam memberikan dukungan moril dan materil kepada peneliti.
11. Sahabat Peneliti Tina Melisa Purnama Sari, Aditya Febrian dan Meidi Maulina yang selalu siap membantu, berdiskusi, dan mendengarkan keluh kesah peneliti.
12. Teman-teman Kos Bugis, Kakak Ners. Dian Anna Sari Simanjutak, S. Kep, Tina Melisa Purnama Sari, Puja Dwi Lestari, S. Psi dan Mardalia, S. Kep yang selalu membersamai peneliti dalam perkuliahan baik suka maupun duka.
13. Teman teman Psycho-G dan mahasiswa Psikologi Universitas Jambi.
14. Partisipan peneitian yang telah bersedia membantu dan meluangkan waktu serta berbagi pengalaman kepada peneliti.
15. Kepada diri saya sendiri, terimakasih karena telah kuat dan mampu sampai di titik ini, terimakasih untuk diri ini sudah tegar dan berani melangkah.
Peneliti menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna oleh karena itu peneliti mengharapkan saran dan masukan dari semua pihak. Jika terdapat hal yang ingin ditanyakan atau didiskusikan dapat menghubungi peneliti di [email protected]. Semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dibidang ilmu psikologi.
Jambi, 03 Desember 2022
Asti Ramadhani
ix DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... iii
HALAMAN PERSETUJUAN ... iiiii
PENGESAHAN SKRISI ... iv
PERSETUJUAN SKRIPSI ... v
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR BAGAN ... xiiiii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiv
RIWAYAT HIDUP PENULIS ... xvi
ABSTRAK ... xvi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 7
1.3 Tujuan Penelitian ... 7
1.4 Manfaat Penelitian ... 8
1.5. Ruang Lingkup Penelitian ... 9
1.6. Keaslian Penelitian ... 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 13
2.1 Pengertian Ketertarikan Interpersonal ... 13
2.3 Aspek Ketertarikan Interpersonal ... 14
2.4 Faktor yang Mempengaruhi Ketertarikan Interpersonal ... 15
2.5 The Triangular Theory of Love (Teori Cinta Stenberg) ... 18
2.5.1 Komponen Cinta ... 18
2.5.2 Tipe-tipe Cinta ... 19
2.6 Lanjut Usia ... 21
x
2.6 Tugas Perkembangan Lanjut Usia ... 22
2.8 Permasalahan yang di alami Lanjut Usia ... 22
BAB III METODE PENELITIAN ... 23
3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian ... 23
3.2 Kerangka Konsep ... 24
3.3. Definisi Istilah ... 25
3.4 Sumber Data ... 25
3.4.1. Partisipan/Informan ... 25
3.4.2 Significant Others ... 25
3.4.3 Instrumen Penelitian ... 26
3.4.4 Peran Peneliti ... 26
3.4 Metode Pengumpulan Data ... 26
3.4.1 Wawancara... 26
3.4.2 Observasi ... 27
3.5. Keabsahan Data ... 27
3.6 Analisis Data ... 29
3.7 Etika Penelitian ... 33
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 35
4.1 Hasil ... 35
4.1.1 Data Profil ... 36
4.1.2 Gambaran Umum Partisipan ... 36
4.1.3 Hasil Observasi Partisipan Selama Proses Wawancara ... 38
4.2 Deskripsi Hasil ... 43
4.2.1 Ketertarikan Interpersonal Pada Lanjut Usia Di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Luhur Jambi. ... 43
4.2.2 Faktor Ketertarikan Interpersonal Pada Lanjut Usia Di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Luhur Jambi. ... 52
4.3 Skema Hasil Temuan ... 59
xi
4.4 Pembahasan Teori ... 60
4.4.1 Ketertarikan Interpersonal pada Lanjut Usia di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Luhur Jambi ... 60
4.4.2 Faktor-Faktor Ketertarikan Interpersonal pada Lanjut Usia di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Luhur Jambi ... 60
4.5 Keterbatasan Penelitian ... 66
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 69
5.1 Kesimpulan ... 69
5.2 Saran ... 70
DAFTAR PUSTAKA ... 70
LAMPIRAN ... 73
xii
DAFTAR BAGAN
3.1 Kerangka Konsep ... .. 24 3.2 Alur Analisis Data. ... 30 4.3 Skema Hasil Temuan ... 61
xiii
DAFTAR TABEL
1.1 Peningkatan Persentase Jumlah Lanjut Usia di Provinsi Jambi ... 2
1.2 Jumlah Lanjut Usia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Luhur Jambi ... 3
1.3 Keaslian Penelitian ... . 10
1.4 Data Profil Partisipan ... . 35
1.5 Data Profil Significan Other ... 35
xiv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Surat Izin Pengambilan Data Awal ... 74
Lampiran 2 Guide Wawancara ... 75
Lampiran 3 Verbatim Wawancara Data Awal ... 76
Lampiran 4 Informend Consent Survey Data Awal ... 95
Lampiran 5. Draft Panduan Wawancara Penelitian ... 97
Lampiran 6. Surat Izin Penelitian ... 103
Lampiran 7. Informed consent penelitian ... 104
Lampiran 8. Persetujuan Partisipan S ... 105
Lampiran 9. Persetujuan Partisipan P ... 106
Lampiran 10. Persetujuan Partisipan W ... 107
Lampiran 11. Persetujuan Partisipan A ... 108
Lampiran 12. Persetujuan Partisipan E ... 109
Lampiran 13 Transkip Wawancara Penelian ... 110
Lampiran 14. Transkrip Wawancara Partisipan S ... 137
Lampiran 15. Transkrip Wawancara Partisipan P ... 157
Lampiran 16. Transkrip Wawancara Partisipan A ... 174
Lampiran 17. Transkrip Wawancara Partisipan E ... 210
Lampiran 18. Surat Keterangan Member Checking ... 216
Lampiran 19. Member Checking Partisipan W ... 217
Lampiran 20. Member Checking Partisipan S ... 218
Lampiran 21. Member Checking Partisipan P ... 219
Lampiran 22. Member Checking Partisipan A (Petugas) ... 220
Lampiran 23. Member Checking Partisipan E (Petugas) ... 221
Lampiran 24. Pengembangan Tema Superordinat Partisipan “W” ... 222
Lampiran 25. Pengembangan Tema Superordinat Partisipan “S” ... 224
Lampiran 26. Pengembangan Tema Superordinat Partisipan “P” ... 226
xv
Lampiran 27. Pengembangan Tema Superordinat Partisipan “A” (Petugas) ... 231
Lampiran 28. Pengembangan Tema Superordinat Partisipan “E” (Petugas) ... 232
Lampiran 29. Penataan Tema Antar Partisipan ... 233
Lampiran 30. Tabel Induk Untuk Semua Partisipan ... 230
Lampiran 31. Tabel Identifikasi Tema Berulang ... 242
Lampiran 32. Dokumentasi ... 247
Lampiran 33. Cek Index Similarity Turnitin ... 250
xvi
RIWAYAT HIDUP PENULIS
Nama lengkap peneliti Asti Ramadhani, lahir di Parit Dapat pada tanggal 03 Desember 2000, merupakan anak pertama dari empat bersaudara dari pasangan bapak Abd Basir dan Ibu Marlina. Peneliti merupakan lulusan dari SD Negeri 026 Pancur pada tahun 2012, SMP Negeri 4 Keritang pada tahun 2015, dan SMA Swasta Karya Pengalihan pada tahun 2018. Pada tahun 2018, peneliti resmi menjadi mahasiswa Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Jambi (UNJA).
Selama perkuliahan peneliti turut andil dalam kepanitian acara kampus seperti Inaugurasi, Dies Natalis dan Upgrading di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Jambi (UNJA). Peneliti juga aktif di dalam kegiatan kampus seperti Tutor PAI Universitas Jambi tahun 2021-2022. Peneliti juga ikut berpartisipasi dalam Call Paper “Kajian Literatur Penyusunan Alat Ukur Fungsi Keluarga” tahun 2020. Peneliti juga mengikuti komunitas di luar kampus seperti Komunitas Kampung Pintar Indonesia (KOKAPI) sebagai Staff Kompartemen Pemberdayaan Masyarakat Dan Kewirausahaan tahun 2019-2020.
xvii
GAMBARAN KETERTARIKAN INTERPERSONAL PADA LANJUT USIA DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA
(PSTW) BUDI LUHUR JAMBI
1Asti Ramadhani, 2Dessy Pramudiani, 3Agung Iranda
1Jurusan psikologi, universitas jambi/[email protected]
2Jurusan psikologi, universitas jambi/[email protected]
3Jurusan psikologi, universitas jambi/[email protected]
ABSTRAK
LATAR BELAKANG Pada masa lanjut usia hidup tanpa keluarga bukanlah hal yang mudah, sehingga menimbulakan berbagai masalah, seperti mengalami kesepian, gelisah, kecemasan, stress, dan menarik diri. Untuk tetap bertahan maka mereka menjalin ketertarikan interpersonal agar dapat tetap bahagia menikmati hari tua.
TUJUAN penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran, dinamika dan faktor- faktor yang mempengaruhi ketertarikan interpersonal pada lanjut usia di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Luhur Jambi
METODE Metode penelitian adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi.
Pemilihan partisipan menggunakan teknik purposive sampling yaitu lanjut usia di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Luhur Jambi, berusia 60-70 tahun, berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan wawancara. Teknik analisis data adalah Interpretative Phenomenological Analysis (IPA).
HASIL Gambaran ketertarikan interpersonal lanjut usia di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Luhur Jambi meliputi ketertarikan fisik dan penampilan, rasa kasihan, perilaku tolong menolong dan cinta dan dampak positif. Adapun faktor yang mempengaruhi ketertarikan interpersonal yaitu saling kenal, kehangatan personal, keadilan pertukaran, kompetensi dan asosiasi.
KESIMPULAN Seluruh partisipan menunjukkan ketertarikan interpersonal, dinamika serta faktor-faktor yang mempengaruhi ketertarikan interpersonal pada lanjut usia di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Luhur Jambi.
Kata kunci: Ketertarikan Interpersonal, Lanjut Usia
xviii
INTERPERSONAL ATTRACTION IN THE ELDERLY IN TRESNA WERDHA SOCIAL INSTITUTION (PSTW) BUDI LUHUR JAMBI
1Asti Ramadhani, 2Dessy Pramudiani, 3Agung Iranda
1Departement of Psychology, Jambi University/[email protected]
2Departement of Psychology, Jambi University/[email protected]
3Departement of Psychology, Jambi University/[email protected]
ABSTRACT
BACKGROUND In elder life, living without a family is not easy, giving rise to various problem, causing various problems, such as experiencing loneliness, anxiety, restless stress and withdrawing. To survive, they develop interpersonal attraction so they can stay happy and enjoy their elder life.
PURPOSE This study aimed to discover the depiction, dynamics and factors that influence interpersonal attraction in the elderly at the Tresna Werdha Social Institution (PSTW) Budi Luhur Jambi
METHODS The methods used were qualitative with a phenomenological approach.
The selection of participants used a purposive sampling technique namely the elderly at the Tresna Werdha Social Institution (PSTW) Budi Luhur Jambi, aged 60-70 years, male and female. Data collection techniques used observation and interviews. The data analysis technique was interpretative phenomenological analysis (IPA).
RESULTS The portrayal of interpersonal attraction in the elderly in the Tresna Werdha Social Institution (PSTW) Budi Luhur Jambi includes the emergence of physical attraction and appearance, compassion, behavior to help and love and positive impact. Factors that influence interpersonal attraction are acquaintance, personal warmth, fairness of exchange, competence and association.
CONCLUSION All participants showed interpersonal attraction, dynamics and factors that influenced interpersonal attraction in the elderly at the Tresna Werdha Social Institution (PSTW) Budi Luhur Jambi
Keyword: Interpersonal Attraction, Elderly
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Rentang kehidupan manusia akan terus tumbuh dan berkembang dari dalam kandungan hingga meninggal. Perkembangan manusia dimulai dari masa prenatal sampai masa tua dan masing-masing tahap perkembangan ini saling berhubungan serta saling mempengaruhi tahap perkembangan selanjutnya (Uraningsari & Djalali, 2016). Perkembangan manusia itu tidak hanya berupa perkembangan fisik, tetapi juga emosi serta kognitif dan perkembangan tersebut merupakan suatu proses yang saling berkesinambungan. Dalam tahapan berkembang ini manusia akan terus tumbuh dan berkembang sampai akhirnya memasuki masa lanjut usia (Desmita, 2015).
World Health Organization (WHO), mendefinisikan lanjut usia merupakan seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia Bab I Pasal 1 ayat 2 menyebutkan, yang dimaksud dengan lanjut usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Pernyataan ini juga sesuai dengan pernyataan yang menyatakan bahwa masa lanjut usia dimulai saat seseorang memasuki usia 60 tahun sehingga usia 60 tahun di pandang sebagai garis pembatas antara akhir usia dewasa madya dengan lanjut usia. Masa lanjut usia di bagi menjadi dua tahap yakni usia lanjut dini yang berusia antara 60 tahun sampai 70 tahun dan usia lanjut yang mulai pada usia 70 tahun sampai akhir kehidupan (Hurlock, 2012; Afrizal, 2018)
Pada masa lanjut usia juga terdapat tugas-tugas perkembangan yang harus terselesaikan dengan baik agar kehidupan pada masa lanjut usia dapat sejahtera, ada tujuh tugas perkembangan selama hidup yang harus dilaksanakan oleh lanjut usia, yaitu penyesuaian terhadap penurunan kemampuan fisik dan psikis, penyesuaian terhadap pensiun dan penurunan pendapatan, menemukan arti hidup, mempertahankan hidup yang memuaskan, menemukan kebahagiaan hidup dalam keluarga, menerima kenyataan akan meninggal dunia dan menerima diri menjadi lanjut usia (Hurlock, 2012).
Penduduk lanjut usia di Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat. Hal ini ditandai seiring dengan berkembangnya bidang kesehatan sehingga meningkatkan angka harapan hidup dan menurunnya angka kematian. Peningkatan persentase jumlah lanjut usia di Indonesia sejak tahun 2017 sebanyak 8,97%, tahun 2018 sebanyak 9,27%, tahun 2019 sebanyak 9,60% dan tahun 2020 sebanyak 9,92% (BPS, 2020). Populasi rata-rata lanjut usia berada pada lanjut usia muda berusia 60-69 sebanyak 64,29%, lanjut usia madya 70-79 tahun sebanyak 27,23% dan lanjut usia tua berusia 80 tahun ke atas sebanyak 8,49% dari total jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia (BKKBN, 2020).
Tabel 1.1 Peningkatan Persentase Jumlah Lanjut Usia di Provinsi Jambi Persentase Jumlah Lanjut usia di Provinsi Jambi
No Tahun Persentase
1 2017 6,93
2 2018 7,29
3 2019 7,59 ,
4 2020 7,90
Sumber: Data Badan Pusat Statistik (BPS Provinsi Jambi, 2020)
Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Luhur Jambi merupakan sebuah institusi yang memberikan pelayanan serta perawatan baik jasmani, rohani, serta sosial dan perlindungan untuk lanjut usia yang terlantar agar dapat menikmati hidup (Safitri Andrean, 2015). Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Luhur Jambi ini berdiri dibawah naungan Dinas Sosial Provinis Jambi. Wadah atau institusi ini dibentuk khusus agar dapat memberikan kesejahteraan kepada lanjut usia yang tidak memiliki keluarga atau terlantar.
Tabel 1.2 Jumlah Lasia di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Luhur Jambi Jumlah Lasia di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Luhur Jambi No Tahun Jumlah Lanjut usia Laki-Laki Perempuan
1 2018 70 31 39
2 2019 70 34 36
3 2020 68 34 34
4 2021 52 29 25
Sumber: Data Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Luhur Jambi 2021
Data Jumlah lanjut usia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Luhur Jambi sejak tahun 2018 hingga 2021 tercatat jumlahnya cukup bervariasi, sejak tahun 2019 jumlah lanjut usia mengalami penurunan dan pada tahun 2021 tarjadi penurunan jumlah lanjut usia yang sangat drastis yang diakibatkan oleh kematian serta akibat adanya wabah pandemi covid 19.
Lanjut usia merupakan usia yang sangat rentan mengalami berbagai masalah yang diakibatkan oleh ketidakmampuan mereka dalam menyelesaikan tugas perkambangan dengan baik dan juga dapat ditimbulkan dari berbagai faktor, seperti ekonomi, sosial, kesehatan, psikis maupun fisik serta tidak semua lanjut usia hidup bersama keluarganya, ada banyak sekali lanjut usia yang kurang beruntung sehingga tidak hidup bersama keluarga hingga ada pula yang terlantar (Afrizal, 2018).
Terdapat beberapa resiko sosial yang dapat dialami oleh lanjut usia yang terlantar antara lain masalah keuangan, pekerjaan, pensiun, tempat tinggal, transisi, kehilangan peranan, isolasi dan kematian (BPS, 2020).
Memasuki masa lanjut usia, terdapat empat stigma yang terjadi. Pertama, masa lanjut usia disebut sebagai masa yang tidak menyenangkan. Kedua, lanjut usia cenderung menimbulkan sikap negatif. Ketiga, lanjut usia disebut sebagai orang yang memiliki fisik dan mental yang lomah, lusuh, pelupa, jalannya membungkuk, serta kesulitan untuk hidup bersama orang lain. Keempat, lanjut usia memiliki status kalangan minoritas, menjadi lanjut usia mengalami perubahan peran, penyesuaian diri yang buruk, dan adanya skeinginan untuk menjadi muda kembali (Partini, 2011).
Masalah-masalah yang utama terjadi pada lanjut usia berupa adanya penurunan kondisi fisik yang drastis, ketergantungan padaorang lain, merasa tidak berguna dan merasa terasing. Pada masa lanjut usia umumnya akan mengalami penurunan pada kemampuan fisik sehingga kekuatan fisik berkurang drastis, aktivitas yang biasanya dilakukan mengalami penurunan, sering mengalami masalah kesehatan sehingga menyebabkan mereka kehilangan semangat yang akibatnya lanjut usia menjadi merasa dirinya tidak lagi berharga dan kurang dihargai (Afrizal, 2018).
Melalui hasil wawancara yang telah dilakukan peneliti kepada salah satu petugas dan satu lanjut usia di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Luhur Jambi, didapatkan permasalahan yang dialami oleh lanjut usia di panti diantaranya perilaku menarik diri dan banyak lanjut usia yang mengalami kecemasan, stress dan kesepian akibat kesendirian hidup dipanti yang kemudian mereka atasi dengan cara membangun relasi dengan lanjut usia lainnya seperti komunikasi. Dapat dibuktikan dengan melalui kutipan wawancara sebagai berikut:
“…Ngobrol dengan temannya mungkin teman sebayanya itu mungkin bisa jadi salah satu eeeee apa cara dia apa namanya tu mungkin kesentresannya mereka kan disini juga mereka kan sendiri ya, terlantar otomatis mereka kan harus punya teman sebaya yang bisa di ajak ngobrol yang sepemahaman mungkin, yang ngobrolnya nyambung itukan semua disini kadang ada yang nyambung ada yang enggak kan berarti lansia tersebut juga memilih ya dalam hal untuk berkomunikasi…” (A, 30 Tahun, 17 Maret 2022).
“…ya banyak banget ya permasalahan yang ada di sini eee seperti ya kayak menarik diri, seperti kecemasan itu banyak…” (A, 30 Tahun, 17 Maret 2022).
“…ketertarikan dalam arti misalnya berbaur dengan teman-temannya itu yang gak papa ya malah bagus karna dia biar apa ya mengisi kesepiaanya mungkin dengan cara ngobrol, ngota (tertawa)” (A, 30 Tahun, 17 Maret 2022).
Kesepian pada lanjut usia dapat dikaitkan dengan bertambahnya ketidakmampuan fungsi dan menurunnya relasi sosial (Jennifer Yeh & & Lo, 2004).
Lanjut usia yang dititipkan di panti, cenderung jarang dikunjungi oleh keluarga dan temannya sehingga menyebabkan kesehatan psikologis lanjut usia menjadi memprihatinkan. Lanjut usia mengalami kesulitan untuk tidur, makan, bahkan beberapa memiliki keinginan untuk keluar dari panti karena tidak adanya kunjungan keluarga Sehingga membuat lanjut usia yang tinggal di panti merasakan cemas, mengalami kesepian dan mengalami depresi sehingga lanjut usia kesulitan mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya dimasa tua (Nalungwe, 2009; Alriskiana, R., & Azza, 2015).
Masalah kesepian dan kesendirian yang dialami lanjut usia dapat diatasi dengan menjalin hubungan romantis, namun jika tidak diatasi dengan baik maka lanjut usia akan mengalami stress dan depresi (Oktariza & Nurhayati, 2020).
Hubungan romantis didefinisikan sebagai perasaan yang ditandai dengan adanya
kedekatan, kelembutan dan disertai dengan keintiman, hasrat dan komitmen. Hubungan romantis berkaitan dengan adanya bentuk cinta, kasih sayang, penerimaan, komitmen, dan kesetiaan terhadap pasangannya (Purwari & Murisal, 2019; Oktariza & Nurhayati, 2020)
Melalui hasil observasi dan wawancara terhadap lanjut usia di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Luhur Jambi, didapatkan bahwa lanjut usia menggambarkan prilaku ketertarikan kepada lanjut usia lain dengan kedekatan antara sesama lanjut usia dengan sama-sama berbagi makanan dan uang yang dilakukan berulang kali. ditunjukkan seperti mengobrol dengan sesama lanjut usia, menjalin relasi dengan sesama lanjut usia, berbagi satu sama lain, dan saling tolong menolong.
Dapat dibuktikan dengan melalui kutipan wawancara sebagai berikut:
“…baek ya gitu baek ya baek lah, ngasi makanan, dio ado, dio belebih rejeki di kasi gitu na gitu jadi orang-orang disini ni nenek tu pacaran gitu sebetunya gak pacaran (tertawa) repot pacaran (tertawa)” (W, 70 Tahun, 17 Maret 2022)
“…Baek orangnyo, pengertian, tarok lah gampang kasian gitu na, Cuman yo karno dio tu keadaan dio kayak gitu ndak biso ngomong kasian dio bae susah kan…” (W, 70 Tahun, 17 Maret 2022)
“Kadang-kadang ya ado jugo kadang-kadang dak katek jugo” (W, 70 Tahun, 17 Maret 2022).
“Ya misale anak datang kan bawak kue ibaratnya ngasih kuee, ada duit lebih ngasi paling lima ribu apa sepuluh ribu gitu bae dah itulah cuman…” (W, 70 Tahun, 17 Maret 2022).
Berdasarkan dari hasil observasi di panti selama PKL (Praktek Kerja Lapangan) selama kurang lebih dua bulan yaitu sejak tanggal 30 agustus 2021 hingga 16 oktober 2021, terdapat beberapa lanjut usia yang menunjukkan prilaku seperti duduk bersama sepanjang waktu, mengobrol dengan waktu yang lama dan terus menerus, memberikan makanan, memberikan minuman, hingga memberikan uang dan dilakukan secara berulang-ulang.
Berdasarkan dari hasil observasi dan wawancara terhadap salah satu petugas pekerja sosial dan salah satu lanjut usia yang tinggal di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Luhur Jambi. Dengan terjalinnya hubungan romantis seperti berpacaran pada lanjut usia, sehingga menimbulkan perilaku melanggar aturan lanjut
usia di panti dengan berkunjung ke wisma lanjut usia lawan jenis, melanggar norma agama dengan memegang alat kelamin lanjut usia lawan jenis, melakukan mastrubasi, kecemburuan, menimbulkan kebohongan, penyangkalan (denial) dan bersikap tertutup. Dapat dibuktikan dengan melalui kutipan wawancara sebagai berikut:
“Si nenek w ni kan ke wisma 7 terus katanya ngomong gini “boleh aa pegang ajah”.
Kan si beliau jarang make pakaian dalem, dia berdiri yang satunya dibawah hadapan.
yang lihatnya kakek B. …” (A, 30 Tahun, 13 April 2022).
“…Kek nenek W tu sering datang ke wisma kakek S, tapi sekali ditanyain nenek nya gak mau terbuka masih ngelak aja…” (A, 30 Tahun, 13 April 2022)
“…dari laporan salah satu lansia yah Kan wisma mereka dulunya depan-depanan wisma 14 sama 5 pas kakek s ni masih di wisma 5, jadi kata kakek M yang sehat ya di wisma itu jadi sebrang-sebragan dia ngangkang” (A, 30 Tahun, 13 April 2022)
“Nah jauh nih ceritanya kan sebrangan nih, dia ngangkang si cewek tu dak yang disebrangnya si cowok tuh gini (megang kelamin) dalam sarung, jadinya bingung yah.
Tapi kalau itu gak mau ngaku sih”. (A, 30 Tahun, 13 April 2022).
Lanjut usia sebagai usia degenarasi yang disertai dengan berbagai penyakit, selain itu lanjut usia juga dianggap tidak mudah jatuh cinta dan tidak memiliki gairah seksual pada lawan jenis (Syah & Mulyadi, 2016). Pada lanjut usia telah terjadi beberapa penurunan pada fungsi organ, penurunan fungsi fisik dan mental yang dialami lanjut usia yang dapat menyebabkan penurunan hasrat seksual pada masa lanjut usia (Santoso, H., & Ismail, 2009)
Permasalahan yang terjabarkan diatas menggambarkan adanya perilaku ketertarikan interpersonal pada lanjut usia di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Luhur Jambi. Menurut Rahman (2018) ketertarikan interpersonal merupakan penilaian individu terhadap orang lain berdasarkan pada apakah individu tersebut menyukai orang lain atau tidak menyukainya. Ketertarikan interpersonal juga di artikan sebagai bentuk sikap diri kepada orang lain, dapat menjadi suka maupun tidak suka, karena pada kenyataannya terdapat individu yang disukai dan terdapat pula yang tidak disukaioleh orang lain (Mahmudah, 2021).
Ketertarikan interpersonal dapat terjadi pada lanjut usia karena lanjut usia mengalami penurunan fungsi fisik dan sosioemosional serta kehilangan yang mewarnai kehidupannya. Lanjut usia yang hidup sendiri di panti membuat mereka kembali bertemu dengan rekan sebaya yang mampu untuk memenuhi kebutuhan psikologisnya akan cinta. Mereka yang secara psikologis merasa sepi dengan kesendirian tanpa anak maupun cucu pasti membutuhkan kenyamanan dan perhatian sebagaimana ketika mereka tinggal di rumahnya. Lanjut usia membentuk relasi baru dengan lawan jenis yang tinggal di Panti untuk memenuhi kebutuhan psikologisnya akan cinta (Maharani, 2013).
Dilihat dari permasalahan-permasalahan yang telah dikaji diatas, sehingga membuat peneliti tertarik dan merasa bahwa hal ini dianggap penting untuk dikaji mengenai ketertarikan interpersonal pada lanjut usia tersebut dengan judul penelitian gambaran ketertarikan interpersonal pada lanjut usia di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Luhur Jambi.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan dan latar belakang yang telah dijabarkan oleh peneliti, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana gambaran ketertarikan interpersonal lanjut usia yang tinggal di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Luhur Jambi
1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran ketertarikan interpersonal pada lanjut usia di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Luhur Jambi
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi ketertarikan interpersonal pada lanjut usia di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Luhur Jambi
1.3.2.2 Untuk mengetahui dinamika ketertarikan interpersonal pada lanjut usia di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Luhur Jambi
1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Secara Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi dan memberikan manfaat secara teoritis dalam pengembagan wawasan di bidang psikologi yang dapat digunakan untuk penelitian selanjutnya, khususnya psikologi sosial dan psikologi perkembangan tentang ketertarikan interpersonal lanjut usia.
1.4.2 Secara Praktis 1.4.2.1 Bagi Instansi
Penelitian ini juga diharapkan memberikan manfaat secara praktis bagi instansi Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Luhur Jambi sebagai masukan untuk evaluasi, monitoring serta pengembangan program terhadap lanjut usia yang tinggal di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Luhur Jambi.
1.4.2.2 Bagi Partisipan
PeneIitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang berguna serta dampak positif untuk partisipan terutama mengenai topik ketertarikan interpersonal yang akan ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
1.4.2.3 Bagi Peneliti
Penelitian yang dilakukan ini diharapkan mampu menambah pemahaman peneliti akan bidang ilmu psikologi serta penerapannya dalam kehidupan, khususnya pada bidang yang berkaitan dengan sosial dan perkembangan, yaitu mengenai ketertarikan interpersonal.
1.4.2.4 Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai salah satu referensi bagi penelitian selanjutnya yang terkait dengan ketertarikan interpersonal maupun variable lainnya yang terdapat pada penelitian ini.
1.5. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini akan meneliti mengenai gambaran ketertarikan interpersonal pada lanjut usia yang tinggal di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Luhur Jambi, penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan jenis pendekatan fenomenologi yang mana peneliti ingin melihat gambaran ketertarikan interpersonal pada lanjut usia. Metode pengumpulan data yang akan dilakukan pada penelitian ini adalah observasi dan wawancara mengenai hal-hal yang terkait dengan ketertarikan interpersonal yang dilakukan pada 3 (tiga) orang partisipan dengan karakteristik lanjut usia yang tinggal di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Luhur Jambi, berjenis kelamin laki-laki dan perempuan, lanjut usia muda dengan rentang usai 60 sampai 70 tahun dan bersedia menjadi partisipan penelitian.
Responden penelitian ini adalah lanjut usia yang tinggal di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Luhur Jambi, pemilihan partisipan akan dilakukan menggunakan teknik non probability sampling. Selain itu pemilihan partisipan penelitaian peneliti akan menggunakan teknik purposive sampling. Teknik analisis data yang akan digunakan adalah Interpretative Phenomenological Analysis (IPA).
Penelitian ini akan dilaksanakan pada pertengahan bulan juli hinggan agustus.
Penelitian ini dilakukan untuk melihat gambaran ketertarikan interpersonal pada lanjut usia di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Luhur Jambi. Penelitian ini menarik untuk di kaji lebih lanjut karena fenomena yang didapatkan sangat menarik yaitu pada masa lanjut usia itu dianggap tidak mudah jatuh cinta dan tidak memiliki gairah seksual pada lawan jenis namun kenyataannya di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Luhur Jambi masih terdapat lanjut usia yang memiliki ketertarikan interpersonal hingga menjalin hubungan pada sesama lanjut usia di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Luhur Jambi.
1.6. Keaslian Penelitian
Penelitian ini ingin mengungkap gambaran ketertarikan interpersonal pada lanjut usia di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Luhur Jambi. Beberapa penelitian sebelumnya digunakan sebagai tinjauan dalam penelitian ini, penelitian ini
memiliki kesamaan variabelnya mengenai ketertarikan interpersonal namun juga terdapat beberapa perbedaaan dengan penelitian sebelumnya untuk tetap menjaga keaslian penelitian ini. Berikut beberapa perbedaan penelitian ini akan diungkapkan berdasarkan pembahasan beberapa penelitian sebelumnya.
Tabel 1.4. Keaslian Penelitian
No Judul Penelitian Peneliti Metode Penelitian
Hasil Penelitian
1. Hubungan antara Ketertarikan
Interpersonal dengan Perilaku Prososial pada Remaja SMA Islam Hidayatullah Semarang
Inggit Kartika Sari & Siswati
Kuantitatif Dari hasil penelitian menunjukkan rxy=0,623 dengan p=0,000 (p<0,001) terdapat hubungan positif dan signifikan antara ketertarikan interpersonal dengan perilaku prososial.
Sehingga menunjukkan bahwa semakin tinggi ketertarikan interpersonal maka semakin tinggi perilaku prososial remaja.
Kemudian semakin rendah ketertarikan interpersonal maka semakin rendah perilaku prososial remaja.
2. Perbedaan Persepsi Ketertarikan
Interpersonal Siswa Pada Guru Sekolah Dasar Berdasarkan Ukuran Tubuh
Gumgum Gumelar dan Cintya
Guswiananda Nugraheni
Metode Kuantitatif, pra-
eksperiment
Hasil analisis statistik diperoleh F
= 28,284, p = 0,000 < 0,05 (signifikan). Hasil penelitian menunjukkan perbedaan persepsi minat interpersonal siswa guru SD yang signifikan menurut ukuran tubuh.
3. Hubungan Ketertarikan
Interpersonal dengan Work Engangement Pegawai PT. Salindo Berlian Motor Jakarta
Ayu Yuningsih dan Sulis Mariyanti
Metode Kuantitatif, non
eksperiment
Didapatkan hasil penelitian dari uji kategorisasi diperoleh tingkat ketertarikan interpersonal dan work engagement pegawai cenderung rendah.
4. Persepsi Ketertarikan
Interpersonal Pada Gaya Berpakaian Guru Di Jakarta Timur
Gumgum Gumelar dan Abdul Haris
Metode Penelitian Pra
Eksperiment al
Kuantitatif
Hasil penelitian yang dipengolahan melalui repeated measure disimpulkan, terdapat perbedaan signifikan persepsi ketertarikan interpersonal siswa pada guru SD berdasarkan gaya berpakaian. Dari beberapa variasi gaya berpakaian yang disajikan, hasilnya menunjukan bahwa pakaian formal lebih menarik dibandingkan dengan pakaian casual, baik untuk perempuan maupun laki-laki.
5. Conceptual Review:
Interpersonal
Siti Mahmudah Metode konseptual
Dari Hasil penelitian diperoleh konsep interpesonal attraction ke
Attraction dalam Padangan Sosial, Perkembangan dan Kognitif
review arah positif maupun negatif, pengaruh kehadiran emosi individu yang positif memberikan penilaian positif dan sebaliknya.
Selain kehadiran emosi individu, terdapat hal seperti, atraksi, perbandingan sosial, kenyamanan, kecocokan kepribadian dan exposure. Perilaku menyukai dalam interpersonal attraction dapat dipengaruhi oleh lingkungan dan intensitas interaksi
6. Ketertarikan
Interpersonal Lawan Jenis Lansia di Panti Werdha Pangesti Lawang
Lintang Dwi Maharani
Metode Penelitian Kualitatif Fenomenolo gis
Hasil penelitian diperoleh ketertarikan interpersonal lawan jenis lanjut usia yang memenuhi syarat berdasarkan faktor penyebab ketertarikan interpersonal. Jenis cinta dua pasangan lansia adalah Companionate Love (komponen keintiman dan komitmen), satu pasangan lansia adalah Empty Love (komponen komitmen).
Berdasarkan beberapa penelitian yang telah diulas di atas, didapatkan beberapa persamaan dan perbedaan antara penelitian ini dan penelitian sebelumnya.
Persamaannya adalah variabel penelitian yaitu mengenai ketertarikan interpersonalsedangkan perbedaan penelitian-penelitian sebelumnya dengan penelitian ini yaitu terletak pada subjek penelitian, variabel penelitian, jenis penelitian, metode penelitian, waktu penelitian dan lokasi penelitian serta tujuan dalam penelitian.
Penelitian ini membahas mengenai ketertarikan interpersonal pada lanjut usia di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Luhur Jambi menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yang belum pernah diteliti sebelumnya. Hal ini merupakan bukti keaslian dalam penelitian dan menjelaskan bahwa penelitian ini tidak sama dengan penelitian-penelitian yang ada sebelumnya.
13 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Ketertarikan Interpersonal
Ketertarikn interpersonal merupakan suatu sikap seseorang mengenai orang lain, ketertarikan disini memiliki penilaian bahwa seseorang membuat penilaian yang positif setiap merasakan perasaan yang positif dan membuat penilaian yang negatif jika merasakan perasaan yang negatif (Baron et al., 2006). Ketertarikan interpersonal kembali pada suatu sikap diri kepada orang lain, dapat menjadi suka maupun tidak suka, memang pada kenyataannya ada individu yang disukai dan ada yang tidak disukai oleh orang lain (Mahmudah, 2021). Ketertarikan Interpersonal merupakan penilaian individu terhadap orang lain berdasarkan pada apakah individu tersebut menyukai orang lain atau tidak menyukainya (Rahman, 2018).
Ketertarikan interpersonal sebagai unsur dasar dalam interaksi sosial menjelaskan fakto-faktor yang berkaitan dengan daya tarik yang salah satunya mempengaruhi penilaian seseorang seperti bentuk kemenarikan fisik (Gumelar &
Haris, 2018). Ketertarikan interpersonal merupakan gambaran sikap individu terhadap orang lain. Ketertarikan interpersonal adalah suatu proses bagaimana induvidu dapat saling tertarik, saling mengenal dan bagaimana dapat munculnya gairah tarik menarik satu sama lain (Dayakisni & Hudaniyah, 2009).
Konsep dari ketertarikan interpersonal dipengaruhi oleh emosi, emosi positif mengarah pada penilaian positif dan emosi negatif mengarah pada penilaian negatif, artinya emosi dapat mempengaruhi penilaian individu baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini berarti bahwa jika penilaian individu bersifat positif, maka individu tersebut akan cenderung menyukai mereka yang memiliki kesamaan nilai dan jika penilaian individu bersifat negatif, maka individu tersebut akan cenderung tidak menyukai (Mahmudah, 2021).
Berdasarakan penjabaran mengenai keteratikan interpersonal diatas sehingga dapat disimpulkan bahwa ketertatrikan interpersonal merupakan penilaian serta sikap individu terhadap individu lain baik itu besifat positif atau menyukai maupun negatif atau tidak menyukai.
2.3 Aspek Ketertarikan Interpersonal
Aspek ketertarikan interpersonal menurut Lahey ( 2012 ) sebagai berikut:
a) Ketertarikan kesukaaan atau hubungan Sosial (sosial or liking dimension) Ketertarikan kesukanaan merupakan ketertarikan terhadap sesorang berdasarkan perasaan tertarik maupun perasaan suka terhadap seseorang yang dilandasi dari kesamaan karakteristik seperti nilai, minat dan sikap dengan diri sendiri. Namun ketertarikan social juga bisa timbul berdasarkan perbandingan atau berlawanan dengan diri sendiri seperti orang yang suka mengatur lebih tertarik dengan orang yang mau di atur.
Ketertarikan hubungan sosial adalah interaksi sosial yang dilakukan oleh individu antara yang satu dengan individu lainnya dengan tujuan untuk saling mempengaruhi. Manusia merupakan mahluk sosial dan melakukan hal ini atas dorongan yang datang baik dari dalam diri maupun dari luar.
b) Ketertarikan Tugas dan rasa hormat (task and respect dimension)
Ketertarikan tugas dan rasa hormat merupakan ketertarikan interpersonal yang di landasi dengan perasaan suka terhadap seseorang yang berdasarkan keterhandalan seseorang tersebut, dan akan menjadi berguna bagi kehidupanya. Hal ini juga biasa disebut sebagai ketertarikan terhadap seseorang sebagai pelengkap dari kekurangan dirinya hal ini cenderung terbalik dengan ketertarikan social dimana berdasarkan kesamaan karakteristik terhadap dirinya namun didalam ketertarikan tugas malah merupakan ketertarikan terhadap seseorang yang berbeda dengan karakteristik dirinya dan akan menjadi pelengkap dari karakter dirinya.
Aspek rasa hormat merupakan ketertarikan yang dilandari dengan adanya perilaku saling menghargai antar individu saling sapa saat bertemu dan menganggukkan kepala. Meskipun seseorang sedang tidak berkerja atau sudah lama meninggalkan pekerjaannya namun hubungan dengan rekan-rekan sekitarnya tetap masih terjaga seperti memberikan senyuman atau menganggukan kepala ketika berpapasan. Hal-hal kecil seperti inilah yang mampu membuat orang lain menjadi tertarik.
c) Ketertarikan Fisik atau penampilan (physically or appearance)
Ketertarikan fisik atau penampilan merupakan ketertarikan yang mendasar terhadap seseorang dimana hal ini melibatkan indra penglihatan, yang mana hal ini akan menjadi permulaan interaksi. Ketertarikan fisik dan penampilan merupakan ketertarikan yang di landaskan perasaan tertarik atau suka terhadap hal yang tampak dari seseorang seperti wajah, bentuk tubuh, penampilan dan lain-lain.
Ketertarikan penampilan adalah satu hal yang harus diperahatikan.
Dengan menunjukkan penampilan secara tidak langsung sudah melakukan komunikasi dengan orang lain. Berpernampilan menarik bisa menjadi salah satu faktor seseorang diperhatikan oleh orang lain. Berpenampilan menarik adalah salah satu kunci untuk mendapatkan kesan pertama yang baik.
2.4 Faktor yang Mempengaruhi Ketertarikan Interpersonal
Menurut Rahman (2018) agar bisa terbentuknya ketertarikan interpersnal, terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi ketertarikan interpersonal. Berikut ini beberapa penejelasan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi ketertarikan interpersonal, yaitu:
1. Kesenangan
Ketertarikan yang diyakini dapat memberikan kesenangan atau keuntungan bagi individu tersebut. Kesenangan atau keuntungan yang
dimaksud ialah berupa kesenangan psikologis, imbalan, pujian, penghargaan, informasi, kemudahan akses kepada orang lain yang disukai, dan lain-lain 2. Kesamaan
Ketertarikan yang diyakini karena adanya kesamaan antara individu dengan indvidu lainnya. Kesamaan yang dimaksud ialah kesamaan dalam hal sikap, hobi, kepribadian, atau kesamaan dalam hal agama, suku bangsa, tempat tinggal dan bahasa. Kesamaan tersebut dapat menimbulkan ketertarikan karena kesamaan akan memudahkan dalam mengidentifikasi apa yang akan terjadi dan akan mendapatkan kesenangan karena adanya kesamaan pendapat, kebiasaan serta kesatuan aktivitas yang dilakukan.
3. Kedekatan
Ketertarikan yang diyakini karena adanya kedekatan tempat antara individu dengan individu lainnya. Kedekatan akan meningkatkan kemudahan interaksi, kesamaan dan interaksi pertemuan. Kedekatan yang dimaksud ialah kedekatan tempat tinggal, kedekatan tempat kerja, tempat menuntut pendidikan maupun dalam aktivitas lainnya.
4. Saling Melengkapi
Ketertarikan yang diyakini karena adanya kebutuhan saling melengkapi dari individu dengan individu lainnya. Saling melengkapi yang dimaksud ialah seperti individu yang memiliki fisik yang tinggi menyukai individu yang memiliki fisik yang lebih pendek, individu yang memiliki kulit yang gelap menyukai individu yang memiliki warna kulit yang lebih cerah, serta individu yang pendiam lebih menyukai individu yang cerewet.
5. Daya Tarik Fisik
Ketertarikan yang diyakini karena penampilan fisik individu yang menarik bagi individu lainnya. Daya tarik fisik yang dimaksud ialah penampilan fisik yang menarik misalnya cantik ataupun tampan.
6. Kompetensi
Ketertarikan yang diyakini karena adanya kompetensi tertentu pada individu. Kompetensi yang dimaksud ialah cerdas secara akademi maupun non akademis misalnya pandai bergaul, pintar ngomong, ataupun ahli dalam bidang teretntu.
7. Kehangatan Personal
Ketertarikan yang diyakini karena adanya kehangatan personal antara individu dengan individu lainnya dalam melakukan interaksi. Kehangatan personal yang dimaksud ialah menunjukkan sikap positif dalam komunikasi serta menujukkan ketertarikan terhadap topik yang dibicarakan, menanggapi lawan bicara dengan baik, memuji dan memberikan persetujuan pada individu lain.
8. Keadilan Pertukaran
Ketertarikan yang diyakini karena adanya pertukaran yang seimbang antara individu dengan individu lainnya. Keadilan pertukaran yang dimaksud ialah ketika individu memberi maka individu tersebut juga akan menjadi penerima.
9. Asosiasi
Ketertarikan yang diyakini karena adanya asosiasi antara karakteristik yang dimiliki individu dengan individu lainnya. Asosiasi yang dimaksud ialah skema dalam diri individu mengenai karakteristik individu yang menarik, skema akan aktif ketika bertemu individu yang sesuai dengan skema karakteristik yang menarik dari individu lainnya.
2.5 The Triangular Theory of Love (Teori Cinta Stenberg)
Cinta dapat diartikan sebagai suatu perasaan kasih yang mendalam terhadap orang lain atau suatu emosi yang kuat penuh kasih sayang terhadap seseorang yang bersifat positif serta memiliki pengaruh yang positif. Teori segitiga cinta Sternberg (1986), menyatakan bahwa terdapat komponen cinta yaitu keintiman (intimacy), hasrat (passion), dan komitmen (commitment).
Gambar 2.1 Triangular Theory of Love dari Robert Sternberg 2.5.1 Komponen Cinta
Menurut Sternberg (1986) cinta terdiri dari 3 komponen, yaitu keintiman (intimacy), hasrat (passion) dan komitmen (commitment).
1. Komponen keintiman intimacy)
Komponen keintiman mengacu pada perasaan-perasaan dalam suatu hubungan yang merujuk pada kedekatan, keterikatan, dan keterhubungan. Keintiman menunjukkan bahwa itu mencakup perasaan, yaitu keinginan untuk meningkatkan kesejahteraan, merasa bahagia, dapat mengandalkan, saling pengertian, berbagi diri dan kepemilikan seseorang dengan orang yang dicintai, menerima dan memberi dukungan emosional, komunikasi intim, dan menghargai orang yang dicintai.
INTIMACY
Consummate Love Liking
Companionate Love
Love
Romantic Love
PASSION
FATUOUS LOVE
COMMITMENT Empty Love Infatuation
3. Hasrat (passion)
Hasrat mengacu dalam dorongan hubungan romantis, ketertarikan fisik, kesempurnaan seksual, & kenyataan terkait pada interaksi cinta. Dalam interaksi cinta, kebutuhan seksual mendominasi pada pengalaman ini. Komponen hasrat juga terkait pada keinginan yang mengarah pada ketertarikan fisik, konsumsi seksual, dan perasaan suka dalam hubungan romantis, seperti kebutuhan seksual, kebutuhan untuk bertemu, keinginan untuk diperhatikan dan mengendalikan pasangan.
3. Komitmen (commitment)
Komponen komitmen merupakan komponen cinta yang terdiri dari dua aspek, yaitu jangka pendek dan jangka panjang. Aspek jangka pendek adalah keputusan untuk mencintai seseorang. Aspek jangka panjang adalah komitmen untuk mempertahankan cinta itu. Kedua aspek dari komponen komitmen dalam cinta tidak harus berjalan bersamaan.
2.5.2 Tipe-tipe Cinta
Berikut tipe-tipe cinta berdasarkan kombinasi dari tiga komponen cinta yang membentuk 7 tipe cinta yang berbeda Sternberg (1986) delapan (7) tipe-tipe cinta adalah sebagai beriku:
1. Tidak Cinta
Tipe cinta ini mengacu pada tidak adanya komponen cinta. Tipe cinta tidak cinta mencirikan sebagian besar hubungan antar individu, yang hanya sebatas interaksi tidak melibatkan cinta sama sekali.
2. Rasa suka
Rasa suka adalah jenis cinta yang terdiri dari komponen keintiman (intimacy). Ciri-ciri cinta pada tipe ini meliputi rasa kedekatan, pengertian, dukungan emosional, cinta dan kehangatan. Contohnya adalah persahabatan yang tidak menimbulkan hasrat seksual.
3. Cinta Nafsu
Cinta nafsu adalah jenis cinta yang terdiri dari komponen yang penuh dengan hasrat. Ciri-ciri cinta pada tipe ini adalah adanya ketertarikan fisik dan ketertarikan seksual. Tipe cinta ini biasa terjadi pada awal hubungan dan disebut juga dengan istilah "cinta pada pandangan pertama".
4.
Cinta HampaCinta hampa adalah jenis cinta yang terdiri dari kemelekatan. Ciri-ciri cinta pada tipe ini adalah adanya komitmen yang kuat untuk menjaga hubungan. Pada tipe cinta ini tidak memiliki komponen keintiman dan hasrat.
Cinta hampa terjadi pada hubungan jangka panjang di mana komponen keintiman dan hasrat yang dimiliki sudah berkurang dan komitmen adalah satu-satunya hal yang membuat hubungan tetap bertahan.
5. Cinta Romantis
Cinta romantis adalah jenis cinta yang terdiri dari keintiman dan hasrat. Seseorang merasakan kedekatan emosional dan ketertarikan seksual tetapi tidak dalam keterikatan yang serius. Tipe ini dicirikan oleh pasangan yang secara fisik tertarik satu sama lain, merasa seperti sahabat dan nyaman menghabiskan waktu bersama. Jenis cinta ini sering dimiliki oleh remaja dan dewasa awal
.
6. Cinta Persahabatan
Cinta persahabatan adalah jenis cinta yang terdiri dari keintiman dan komitmen. Tipe ini terjadi dalam hubungan perkawinan jangka panjang di mana hasrat (ketertarikan fisik/seksual) telah hilang, namun pasangan masih merasakan hubungan emosional yang mendalam dan komitmen (keputusan untuk tetap bersama). Hal ini juga ditemukan dalam hubungan antar anggota keluarga.
7. Cinta Buta
Cinta buta adalah jenis cinta yang terdiri dari hasrat dan komitmen.
Tipe ini ditandai dengan adanya komitmen dan keterikatan seksual dalam suatu hubungan, tetapi tidak ada kedekatan emosional. Jenis cinta ini sering dijumpai pada pasangan yang hanya menekankan komitmen pada diri terhadap ketertarikan seksual tanpa adanya keintiman emosional.
8. Cinta Sempurna
Cinta sempurna adalah jenis cinta yang sempurna dan mewakili hubungan yang ideal. Tipe ini meliputi kedekatan emosional, ketertarikan fisik/seksual, dan komitmen dalam suatu hubungan. Dalam tipe cinta ini, sangat penting menekankan dan mengekspresikan tiga komponen cinta kedalam sebuah tindakan.
2.6 Lanjut Usia
Lansia atau lanjut usia merupakan tahap akhir dari perkembangan manusia.
Santrock (2011) menyatakan bahwa masa lanjut usia dimulai saat seseorang memasuki usia 60 tahun. Usia 60 tahun di pandang sebagai garis pembatas antara akhir usia dewasa madya dengan lanjut usia (Afrizal, 2018). Masa lanjut usia di bagi menjadi dua tahap yakni usia lanjut dini yang berusia antara 60 tahun sampai 70 tahun dan usia lanjut yang mulai pada usia 70 tahun sampai akhir kehidupan (Hurlock, 2012).
Lanjut usia sendiri disebut sebagai usia degenarasi yang disertai dengan berbagai penyakit, selain itu lansia juga dianggap tidak mudah jatuh cinta dan tidak memiliki gairah seksual pada lawan jenis (Syah & Mulyadi, 2016). Secara umum perubahan biologis yang terjadi sebagai akibat bertambahnya usia akan mengurangi kemampuan seseorang untuk merespon fisik maupun psikis lansia, berbagai masalah bisa terbawa oleh kondisi tersebut dan paling menonjol adalah masalah yang berkaitan dengan dorongan dan sikap perilaku seksual seseorang. Menurunnya gairah
seksual pada lanjut usia dapat dipengaruhi oleh banyak faktor seperti perasaan, lingkungan dan faktor hormonal (Baziad, 2003).
2.6 Tugas Perkembangan Lanjut Usia
Pada masa lanjut usia juga terdapat tugas-tugas perembangan yang harus terselesaikan dengan baik agar kehidupan pada masa lanjut usia dapat sejahtera.
Menurut Hurlock (2012) terdapat tujuh tugas perkembangan selama hidup yang harus dilaksanakan oleh lanjut usia, yaitu: pertama, penyesuaian terhadap penurunan kemampuan fisik dan psikis. Kedua, penyesuaian terhadap pensiun dan penurunan.
Ketiga, menemukan makna kehidupan. Keempat, mempertahankan pengaturan hidup yang memuaskan. Kelima, menemukan kepuasan dalam hidup berkeluarga. Keenam, penyesuaian diri terhadap kenyataan akan meninggal dunia. Ketujuh, menerima dirinya sebagai seorang lanjut usia.
2.8 Permasalahan yang di alami Lanjut Usia
Menurut Partini (2011) masalah yang umumnya dihadapi oleh lanjut usia sebagai berikut:
1. Masalah Ekonomi
Lanjut usia ditandai juga dengan menurunnya produktivitas kerja, memasuki masa pensiun atau berhentinya pekerjaan utama. Hal ini mengakibatkan menurunnya pendapatan lanjut usia yang kemudian berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, seperti sandang, pangan, papan, kesehatan, rekreasi dan kebutuhan sosial. Pada sebagian lanjut usia mengalami kondisi yang tidak memungkinkan yang berarti tidak produktif lagi dan berkurang atau bahkan tidak berpenghasilan.
2. Masalah Sosial
Memasuki lanjut usia juga ditandai dengan berkurangnya kontak sosial, baik dengan anggota keluarga, anggota masyarakat, maupun teman kerja sebagai akibat terputusnya hubungan kerja karena pensiun. Disamping itu kecenderungan meluasnya keluarga inti (nucleus family) daripada keluarga besar (extended family) juga akan mengurangi kontak sosial lanjut usia. Selain
itu juga perubahan nilai sosial masyarakat yang mengarah kepada tatanan masyarakat individualistik, berpengaruh bagi para lanjut usia yang kurang mendapat perhatian, sehingga sering tersisih dari kehidupan masyarakat dan terlantar. Kurangnya kontak sosial ini menimbulkan perasaan kesepian dan murung. Sehingga hal ini tidak sejalan dengan hakikat manusia sebagai mekhluk sosial yang dalam hidupnya selalu membutuhkan kehadiran orang lain.
Untuk menghadapi kenyataan ini perlu dibentuk kelompok-kelompok usia lanjut yang memiliki kegiatan untuk mempertemukan para anggotanya agar kontak sosial berlangsung. Kontak sosial ini sangat berguna bagi para lanjut usia agar memiliki kesempatan untuk saling bertukar informasi, saling belajar dan saling bercanda.
3. Masalah Kesehatan
Keberhasilan pembangunan kesehatan di Indonesia adalah meningkatnya usia harapan hidup manusia Indonesia. Terjadinya peningkatan persentase jumlah jiwa lanjut usia diikuti dengan meningkatnya permasalahan kesehatan, seperti masalah kesehatan indera pendengaran, penglihatan serta pengecapan. Pada lanjut usia terjadi kemunduran sel-sel karena proses penuaan yang berakibat pada kelemahan organ, kemunduran fisik, timbulnya berbagai macam penyakit terutama penyakit degenerative.
Masa lanjut usia ditandai oleh penurunan fungsi fisik dan rentan terhadap berbagai penyakit. Kerentanan terhadap penyakit ini ditandai dengan menurunnya fungsi berbagai organ tubuh. Diperlukan pelayanan kesehatan terutama untuk kelainan degenaratif untuk meningkatkan kesehatan dan mutu kehidupan usia lanjut agar tercapai masa tua yang bahagia dan berguna dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.
4. Masalah Psikologis
Masalah psikologis yang dialami lanjut usia pada umumnya adalah:
kesepian, terasing dari lingkungan, ketidakberdayaan, perasaan tidak berguna,
kurang percaya diri, ketergantungan, keterlantaran terutama bagi para lanjut usia yang miskin, post power syndrome dan lain sebagainya. Kehilangan perhatian dan dukunga dari lingkungan sosial biasanya berkaitan dengan kehilangan jabatan atau kedudukan, dapat menimbulakan konflik atau keguncangan. Berbagai permasalahan tersebut bersumber dari menurunnya fungsi-fungsi fisik dan psikis sebagai akibat proses penuaan. Aspek psikologi merupakan faktor yang penting dalam kehidupan lanjut usia, bahkan sering lebih menonjol dari pada aspek lainnya dalam kehidupan seorang lanjut usia.
23 BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Metode penelitian kualitatif sering disebut metode penelitian naturalistic karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting) dimana instrumen kunci dari penelitian ini adalah peneliti itu sendiri, teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif atau deduktif, dan hasil nya penelitian ini lebih menekankan makna daripada generalisasi (Sugiyono, 2019). Metode kualitatif merupakan metode yang digunakan untuk menganalisis sebuah fenomana, kejadian di sekitar partisipan, sikap, kepercayaan, kesadaran, pemikiran, pemaknaan partisipan baik pada konteks kehidupan pribadi maupun sosial (Ghony & & Almanshur, 2012)
Berdasarkan penjelasan yang telah dijabarkan di atas, penelitian mengenai fenomena ketertarikan interpersonal pada lanjut usia yang tinggal di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Luhur Jambi akan dikaji secara lebih luas dan mendalam pada setiap partisipan (lanjut usia) yang terlibat. Sehingga kita bisa mengetahui pemahaman yang mendalam tetang ketertarikan interpersonal tersebut. Sehingga metode kualitatif dianggap tepat untuk digunakan dalam melakukan penelitian ini.
Adapun pendekatan yang akan digunakan peneliti dalam menganalisa fenomena yang tertera di atas yaitu dengan pendekatan fenomenologi.
Fenomenologi akan dapat menemukan secara dekat interpretasi atau menafsirkan sendiri data yang telah didapatkan dari partisipan. Peneliti akan berusaha memahami sebuah pengalaman dari partisipan secara mendalam (Kahija, 2017).
Pendekatan fenomenologi merupakan pendekatan yang berdasar pada tradisi keilmuan sosiologi dan antropologi yang bertujuan untuk memahami suatu gejala yang terjadi dengan apa adanya tanpa tanpa adanya proses mengontrol suatu variable dan tidak perlu adanya usaha untuk menggeneralisasikan gejala tersebut terhadap gejala-gejala yang lain (Mulyadi, 2011).
Lanjut Usia
3.2 Kerangka Konsep
Permasalahan Lanjut Usia di Panti 1. Kesepian
2. Stress 3. Kecemasan
Aspek Ketertarikan Interpersonal
1. Ketertarikan kesukaan atau hubungan sosial
2. Ketertarikan tugas dan rasa hormat
3. Ketertarikan fisik dan penampilan
Faktor yang mempengaruhi Ketertarikan Interpersonal 1. Faktor Kesenangan 2. Faktor Kesamaan 3. Faktor Kedekatan 4. Faktor Saling Melengkapi 5. Faktor Daya Tarik Fisik 6. Faktor Kompetensi
7. Faktor Kehangatan Personal 8. Faktor Keadilan Pertukaran 9. Faktor Asosiasi
Gambaran Ketertarikan Interpersonal Ketertarikan Interpersonal
3.3. Definisi Istilah
1. Ketertarikan interpersonal merupakan sikap dan penilaian individu terhadap idividu lainnya yang berdasar pada dimensi sangat suka hingga sangan tidak suka pada individu tersebut. Hal ini dapat didasarkan pada alasan individu bisa tertarik pada orang lain sehigga melakukan interaksi interpersonal yang kemudian merujuk pada ketertarikan interpersonal, yaitu untuk mengurangi ketidakpastian dengan melakukan perbandingan sosial, untuk mendapatkan stimulus yang menyenangkan melalui kontak yang menyenangkan dan menarik, untuk mendapatkan pujian dan perhatian serta untuk mendapatkan dukungan emosiaonal.
2. Lanjut usia merupakan individu yang telah memasuki usia 60 tahun ke atas, usia 60 tahun juga di artikan sebagai usia pembatas antara dewasa akhir dan lanjut usia. Lanjut usia ditandai dengan berbagai penurunan fungsi baik itu fungsi fisik, psikologis, ekonomi maupun sosial.
3.4 Sumber Data
3.4.1. Partisipan/Informan
Penentuan partisipan penelitian sebagai data primer menggunakan teknik purposive sampling dimana peneliti membuat karakteristik khusus terhadap partisipan penelitian. Partisipan yang dipilih sudah ditentukan karakteristiknya sesuai dengan tujuan penelitian. Adapun karakteristik yang akan menjadi partisipan penelitian peneliti susun sebagai berikut:
1. Lanjut Usia yang tinggal di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Luhur Jambi
2. Berjenis kelamin laki-laki dan perempuan
3. Usia lanjut usia muda dengan rentang usai 60 sampai 70 tahun.
4. Bersedia menjadi partisipan penelitian 3.4.2 Significant Others
Significant others sebagai data sekunder dalam penelitian. Significant others merupakan individu yang sangat dekat dengan individu tersebut dan sangat mengetahui serta memahami individu tersebut. Significant others adalah individu-