UHH SULTENG UHH PEREMPUAN
A. Kesehatan Ibu 1. Kematian Ibu
4. Kunjungan ANC Ibu Hamil K4
8.1. KETERWAKILAN PEREMPUAN DI LEMBAGA LEGISLATIF
Perempuan sebagai warga negara secara normatif mempunyai keududukan dan kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam segala aspek kehidupan. Akan tetapi seiring dengan perkembangan jaman dan teknologi, peran perempuan tidak terbatas pada sektor domestik melainkan sudah merambah ke sektor publik. Peran perempuan dapat diketahui dari berpartisipasinya dalam berbagai bidang pembangunan seperti di bidang sosial, budaya, ekonomi, politik, dan hukum.
Meskipun keterlibatan perempuan di ranah publik sudah mulai kelihatan dan diakui eksistensinya, namun jika dibandingkan dengan keterlibatan kaum laki-laki memang masih belum menunjukkan kesetaraan, khususnya pada beberapa aspek pembangunan. Sebagai contoh sampai saat ini kaum perempuan masih kurang dilibatkan dalam berbagai struktur dan proses pengambilan keputusan baik di keluarga maupun di masyarakat bahkan ditingkat pemerintahan dan politik. Hal ini tercermin dari kurangnya keterwakilan perempuan dalam posisi-posisi strategis yakni dalam pengambilan keputusan di sektor publik, dan hal ini telah berujung pada pembangunan kebijakan ekonomi dan sosial yang memberikan keistimewaan pada perspektif dan kepentingan kaum laki-laki, serta investasi sumber-sumber daya nasional dengan mempertimbangkan keuntungan bagi kaum laki-laki. Kondisi demikian ini sebenarnya dipengaruhi nilai sosial budaya yang berkembang dalam suatu masyarakat dan sangat kuat mengikat. Ideologi gender yang berfokus pada kesetaraan tidak selaras dengan perkembangan di masyarakat yang kadang-kadang masih memarginalkan perempuan pada beberapa aspek kehidupan.
118
Keterlibatan perempuan di lembaga legislatif, khususnya di tingkat DPRD Provinsi Sulawesi Tengah belum mencapai 30%, yaitu berjumlah 12 orang atau 27%.
Tabel 8.1. disajikan data jumlah keanggotaan DPRD menurut jenis kelamin yang menunjukkan keterwakilan perempuan sebagai anggota DPRD Provinsi, dimana jumlah laki-laki sebanyak 33 orang dan perempuan 12 orang. Hal ini menunjukkan bahwa partisipasi perempuan di lembaga legislatif sesuai ketentuan masih kurang dari 30%. Jika diperinci menurut partai, maka Parta Keadilan Sejahtera memiliki komposisi perempuan sebanyak 75%, yaitu 3 orang perempuan dari jumlah 4 orang wakil rakyat. Sedangkan 4 (empat) partai yang tidak memiliki wakil perempuan adalah Partai Golkar, Partai Amanat Nasional, Partai Persatuan Indonesia, dan Partai Persatuan Pembangunan.
Tabel 8.1
Jumlah dan Persentase Keterlibatan Perempuan Di DPRD Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2019-2024
Meskipun komposisi perempuan sebagai anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah periode 2019-2024 baru mencapai 27%, tetapi jumlah ini telah mengalami peningkatan yang signifikan dari periode sebelumnya. Keterlibatan perempuan sebagai
NAMA PARTAI
LAKI-LAKI PEREMPUAN JUMLAH KETERLIBATAN PEREMPUAN
Sumber: Sekretariat DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, 2020
119
anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah pada periode 2014-2019 hanya mencapai 16%., atau 7 orang dari total 45 orang. Dari keseluruhan perempuan yang terpilih pada
Tabel 8.2
Jumlah dan Persentase Keterlibatan Perempuan Di DPRD Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2014-2019
NAMA PARTAI
LAKI-LAKI PEREMPUAN JUMLAH KETERLIBATAN
PEREMPUAN
Partai Golkar 6 1 7 14%
Partai Gerindra 5 1 6 17%
Partai Demokrat 6 - 6 0%
Partai PDIP 5 1 6 17%
Partai nasdem 4 1 5 20%
Partai Hati Nurani Rakyat 3 1 4 25%
Partai Keadilan sejahtera 1 2 3 67%
Partai Amanat Nasional 3 - 3 0%
Partai Persatuan Kebangkitan
Bangsa 3 - 3 0%
Partai Persatuan Pembangunan 1 - 1 0%
Total 38 7 45 16%
Sumber: Sekretariat DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, 2020
Sebagaimana telah disebutkan di atas, keterlibatan perempuan di DPRD Provinsi Sulawesi Tengah periode 2019-2024 adalah 27%. Sedangkan keterlibatan perempuan di DPR RI Daerah Pemilihan (Dapil) Sulawesi Tengah jauh lebih rendah yaitu hanya 14% atau hanya 1 orang dari 7 anggota DPR RI. Kondisi yang buruk adalah DPD RI Sulawesi Tengah karena keterlibatan perempuan adalah nol, atau dari 4 orang anggota DPD RI Sulawesi Tengah, semuanya adalah laki-laki. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut.
120 Tabel 8.3
Jumlah dan Persentase Keterlibatan Perempuan Di DPR RI Dapil Sulawesi Tengah, DPD Sulawesi Tengah dan DPRD Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2019-2024
NO NAMA DAERAH
PEMILIHAN JUMLAH
LAKI-LAKI PEREMPUAN KETERLIBATAN
PEREMPUAN
DPRD Provinsi Sulawesi
Tengah 45 33 12 27%
Sumber: Sekretariat DPRD Provinsi Sulawesi Tengah
Selanjutnya, keterlibatan perempuan di DPRD periode 2019-2024 di 13 kabupaten/kota lebih rendah, yaitu rata-rata hanya 12%. Yang paling buruk adalah DPRD Kabupaten Morowali karena tidak ada satu orangpun perempuan. Daerah yang paling banyak persentase perempuan adalah Kabupaten Banggai yaitu 26% atau berjumlah 9 orang dari 35 anggota DPRD di kabupaten tersebut. Secara rinci, keterlibatan perempuan di masing-masing DPRD kabupaten/kota yang ada di Sulawesi Tengah dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 8.4
Jumlah dan Persentase Keterlibatan Perempuan Di DPRD Kabupaten/Kota Tahun 2019-2024
NO NAMA DAERAH
PEMILIHAN JUMLAH
LAKI-LAKI PEREMPUAN KETERLIBATAN
PEREMPUAN
121
NO NAMA DAERAH
PEMILIHAN JUMLAH
LAKI-LAKI PEREMPUAN KETERLIBATAN
PEREMPUAN
Sumber: Sekretariat DPRD Provinsi Sulawesi Tengah
Angka tersebut dalam Tabel 8.4. menunjukkan keterlibatan perempuan di DPRD kabupaten/kota, yaitu rata-rata 12%. Angka mengalami penurunan dari periode sebelumny (2014-2019) yaitu 15% atau sebanyak 56 orang dari 375 orang yang tersebar di 13 kabupaten/kota. Pada periode tersebut, komposisi perempuan paling tinggi terdapat di DPRD Kabupaten Buol yaitu sebesar 24% atau berjumlah 6 orang dari total 25 anggota dewan. Sedangkan kabupaten yang komposisi perempuannya paling sedikit adalah Kabupaten Banggai Laut, yaitu hanya 5% atau 1 orang dari 20 anggota dewan.
Secara lengkap, keterwalikan perempuan dalam Lembaga legislatif yaitu DPRD kabupaten/kota pada periode sebelumnya yaitu Tahun 2014-2019 disajikan pada tabel berikut.
Tabel 8.5
Jumlah dan Persentase Keterlibatan Perempuan Di DPRD Kabupaten/Kota Tahun 2019-2024
KABUPATEN/KOTA
LAKI-LAKI PEREMPUAN JUMLAH KETERLIBATAN PEREMPUAN
122
Parigi Moutong 36 4 40 10%
Tojo Una-Una 23 2 25 8%
Sigi 27 3 30 10%
Banggai Laut 19 1 20 5%
Morowali Utara 20 5 25 20%
Palu 30 5 35 14%
Total 319 56 375 15%
Sumber: Sekretariat DPRD Provinsi Sulawesi Tengah
Kurangnya keterlibatan perempuan di lembaga legislatif mungkin disebabkan karena adanya hambatan yang dialami calon legislatif perempuan dalam menjalankan pemilu. Hambatan tersebut misalnya masih kentalnya budaya patriarki yang seringkali mendiskriminasi perempuan, adanya beban berlapis yang ditanggung oleh perempuan di ruang privat dan ruang publik, dan adanya anggapan bahwa pendidikan dan kemampuan politik perempuan lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki. Masih kurangnya representasi perempuan dalam parlemen dapat disiasati dengan penguatan dan peningkatan angka batas kuota dalam rangka meningkatkan kemungkinan keterpilihan perempuan. Selain itu, penguatan kebijakan terkait penempatan caleg perempuan pada nomor urut teratas dan penambahan caleg perempuan dalam daftar calon di semua Dapil.
Disamping itu perlu adanya sanksi yang tegas pada partai politik jika tidak memenuhi ketentuan penempatan caleg perempuan sebanyak kuota yang telah ditetapkan. Hal ini menjadi penting, sebab UU Partai Politik dan Pemilu ini merupakan salah satu parameter dalam melihat respons negara terkait kesetaraan gender. Keterwakilan perempuan dalam parlemen ini perlu menjadi perhatian penting. Kehadiran perempuan di parlemen diharapkan memberikan otoritas pada perempuan untuk membuat kebijakan yang berkontribusi besar pada pencapaian hak-hak perempuan, khususnya kesetaraan gender. Sebab seringkali anggota laki-laki
123
tidak dapat sepenuhnya mewakili kepentingan perempuan karena adanya perbedaan pengalaman dan kepentingan antara keduanya.