• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSEP KESETARAAN GENDER

2.1. Pengertian Gender

Istilah Gender digunakan untuk menjelaskan perbedaan peran perempuan dan laki-laki yang bersifat bawaan sebagai ciptaan Tuhan. Gender adalah pembedaan peran, kedudukan, tanggung jawab, dan pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan yang ditetapkan oleh masyarakat berdasarkan sifat perempuan dan laki-laki yang dianggap pantas menurut norma, adat istiadat, kepercayaan atau kebiasaan masyarakat.

Gender tidak sama dengan kodrat. Kodrat adalah sesuatu yang ditetapkan oleh Tuhan YME, sehingga manusia tidak mampu untuk mengubah atau menolak.

Sementara itu, kodrat bersifat universal, misalnya melahirkan, menstruasi dan menyusui adalah kodrat bagi perempuan, sementara mempunyai sperma adalah kodrat bagi laki-laki.

Ketidakadilan gender merupakan kondisi tidak adil akibat dari sistem dan struktur sosial, sehingga perempuan maupun laki-laki menjadi korban daripada sistem tersebut. Laki-laki dan perempuan berbeda hanya karena kodrat antara laki-laki dan perempuan berbeda. Keadilan gender akan dapat terjadi jika tercipta suatu kondisi di mana porsi dan siklus sosial perempuan dan laki-laki setara, serasi, seimbang dan harmonis.

Dalam menghadapi pasar bebas, generasi muda bangsa Indonesia harus memiliki keberanian untuk introspeksi, keunggulannya dan kelemahannya. Selain itu dilakukan penilaian tentang keadaan 2020 formal, dan bagaimana kualitas hasil 2020 nya. Jenis dan kualitas keterampilan yang dimiliki oleh sumber daya manusia di Indonesia, harus dapat dibanggakan dan mampu berkompetensi tanpa

17

membedakan gender. Kesenjangan gender dipengaruhi oleh empat faktor, diantaranya adalah: (1) faktor akses, (2) faktor kontrol, (3) faktor partisipasi, dan (4) faktor manfaat.

Ketidakadilan gender ditemui diberbagai bidang kehidupan, diantaranya kesehatan, pelatihan, akses terhadap sumber daya, 2020, hak asasi, dan sebagainya.

Penyebabnya sangat kompleks, salah satunya berkaitan dengan proses pengambilan keputusan baik di lingkungan domestik maupun publik.

Keputusan di lingkungan rumah tangga akan mempengaruhi alokasi sumber daya yang dikuasai rumah tangga yang bersangkutan, seperti besarnya pengeluaran untuk 2020, kesehatan, dan makanan yang diterima anak laki-laki dibandingkan dengan anak perempuan. Proses pengambilan keputusan di dalam rumah tangga sangat kompleks dan dipengaruhi banyak faktor termasuk norma sosial dan budaya.

Dalam lingkungan publik, sumber daya dialokasikan melalui berbagai kebijakan publik. Alokasi sumber daya dalam lingkup publik pun terbukti tidak memberikan kesempatan yang sama berdasarkan gender. Alasan yang paling sering dikemukakan adalah karena representasi berdasarkan gender dalam badan-badan pengambilan keputusan di level publik tidak seimbang. Pilihan-pilihan dan partisipasi perempuan dalam proses kebijakan sangat terbatas akibat proses sosialisasi yang selama ini menyebabkan perempuan harus melalui banyak rintangan ketika akan memasuki arena politik dan kebijakan.

Pada tahun 2002, Kementerian Pemberdayaan Perempuan bekerjasama dengan Bappenas dan CIDA dalam melakukan Pengarusutamaan Gender di berbagai sektor menunjukkan perkembangan positif karena membangun komitmen penyusunan kebijakan dan 32 program yang responsif gender meliputi bidang ekonomi, politik, 2020, dan sosial budaya. Dari sekian jumlah tersebut terbagi ke

18

dalam beberapa sektor, yaitu MA, Depkeh, HAM, Kejagung, Depanakertrans, Deptan, Depkes, Depsos, Depdiknas, dan sebagainya. Hal itu belum maksimal karena masih perlu ditingkatkan jangkauan kebijakan dan programnya yang dimiliki seluruh lembaga tinggi dan tertinggi negara (Supiandi, 2002).

Hal itu disebabkan politik dan kebijakan dipercaya sebagai dunia laki-laki, karenanya banyak perempuan merasa inferior di hadapan laki-laki di dalam arena politik dan kebijakan. Bahkan kadang kalau memasuki dunia ini masih dianggap sebagai pelanggaran terhadap ―kodrat‖ perempuan. Dalam praktik di masyarakat, masih banyak ditemukan kebijakan-kebijakan publik yang gender inequality atau tidak adil gender.

Kebijakan publik adalah arah yang harus dipilih untuk memenuhi kepentingan masyarakat yang didasarkan atas keterbatasan sumber daya di satu pihak dan permasalahan yang mendesak di pihak lain, umumnya kebijakan publik selama ini hanya menguntungkan laki-laki dengan atau tanpa merugikan perempuan. Di lain pihak, ada kebijakan yang memberikan dampak positif lebih besar kepada laki-laki dibandingkan perempuan.

Perempuan sebagai warga negara dan sumber daya insan pembangunan mempunyai hak dan kewajiban, tanggung jawab, peranan dan kesempatan yang setara dengan kaum pria di segala bidang kehidupan dan dalam segala gerak pembangunan sesuai dengan UUD 45 dan GBHN, terutama kesempatan yang sama dalam pembangunan. Dalam Bulaksumur Menggagas Negara Sejahtera (Sumijati dan Rianty, 2005) diperoleh gambaran tentang pemahaman pemerintah terhadap keberadaan perempuan dalam bidang-bidang pembangunan pada masa Orde Baru terkait kondisi perempuan dalam bidak ekonomi, 2020, kesejahteraan sosial, ilmu pengetahuan dan teknologi. Program pembangunan yang sentralistis tidak selalu

19

dapat diterapkan di daerah-daerah. Akibatnya penduduk dari berbagai daerah berbondong-bondong menuju Jakarta dan kota-kota besar. Lonjakan jumlah penduduk di daerah perkotaan melahirkan persoalan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Program menuju kesejahteraan rakyak masih mengindikasikan ketimpangan gender dalam perencanaan dan implementasinya. Masih adanya kecenderungan memarginalkan kaum perempuan.

Ketidaksetaraan dan ketidakadilan gender dikenal dengan kesenjangan gender (gender gap) yang pada gilirannya menimbulkan permasalahan gender. Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk mengukur kesenjangan tersebut adalah indeks pembangunan Gender Development Index (GDI) dan indeks pemberdayaan gender/Gender Empowerment Measure (GEM) yang merupakan bagian tak terpisahkan dari Human Development Index (Rejeki Sumaryoto, 2001).

Human Development Index (HDI) adalah satuan yang dikembangkan UNDP guna mengukur kesuksesan pembangunan suatu negara. Angka yang diolah dalam HDI berdasarkan tiga dimensi, yaitu panjang usia (longevity), pengetahuan (knowledge), dan standar hidup (standart of living) suatu bangsa. Secara teknis ketiga dimensi ini dijabarkan menjadi beberapa indikator, yaitu kesehatan (dan kependudukan), 2020, serta ekonomi (Tojirin, 2006). Ketiga indikator tersebut dapat menunjukkan tingkat pembangunan manusia suatu wilayah melalui pengukuran penduduk yang sehat dan berumur panjang, berpendidikan dan berketerampilan, serta memiliki kehidupan yang layak.

Sementara itu, ukuran yang dapat menunjukkan tingkat keberhasilan pembangunan pemberdayaan perempuan adalah Indeks pemberdayaan Gender/Gender Empowerment Measure (GEM). Angka indeks ini dihitung dari partisipasi khususnya perempuan di bidang ekonomi, politik, dan pengambilan

20

keputusan, sehingga berguna untuk mengukur ketimpangan gender di tiga hal tersebut (Anonim, 2006).

Pengertian gender bukan dimaknai sebagai perbedaan fisik antara laki-laki dan perempuan dalam arti biologis. Pemaknaan gender mengacu pada perbedaan laki-laki dan perempuan dalam peran, perilaku, kegiatan serta atribut yang dikonstruksikan secara sosial. Kesetaraan gender adalah kesamaan kondisi bagi perempuan dan laki-laki untuk memperoleh kesempatan dan hak- haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan, dan kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan.

Kesetaraan gender dapat dicapai dengan mengurangi kesenjangan antara penduduk perempuan dan laki-laki dalam mengakses dan mengontrol sumber daya, berpartisipasi dalam pengambilan keputusan dan proses pembangunan, serta mendapatkan manfaat dari kebijakan dan program pembangunan.

Dalam mengukur kesetaraan gender tersebut, ada beberapa indeks yang digunakan yaitu IPM, IPG, dan IDG. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan ukuran kualitas hidup manusia dalam bidang kesehatan, pendidikan, maupun ekonomi. Ukuran tersebut kemudian digunakan untuk mengukur Indeks Pembangunan Gender (IPG) yang difokuskan pada faktor ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan di berbagai level. Sedangkan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) mengukur partisipasi aktif perempuan pada kegiatan ekonomi yaitu dengan indikator persentase sumbangan perempuan dalam pendapatan kerja, kegiatan politik dengan indikator keterlibatan perempuan di parlemen, serta dalam pengambilan keputusan melalui indikator perempuan sebagai tenaga manajer,

21

profesional, administrasi, teknisi. Kesimpulannya, IDG digunakan untuk melihat sejauh mana pencapaian kapabilitas perempuan dalam berbagai bidang kehidupan.

Dalam bidang kesehatan misalnya, WHO (2010) menyatakan bahwa ―Tidak ada seorang pun yang berhak sakit atau meninggal karena ketimpangan gender‖.

Hal ini mengisyaratkan bahwa tidak boleh ada perbedaan dalam pemberian akses bagi laki-laki maupun perempuan dalam pemberian layanan kesehatan. Salah satu indikator yang dapat dijadikan acuan untuk melihat bagaimana perempuan mendapatkan pelayanan kesehatan adalah Angka Kematian Ibu (AKI) yang masih berada pada angka 305 kematian per 100.000 kelahiran hidup (www.bps.go.id).

Selain itu juga jumlah perempuan yang melahirkan dengan bantuan tenaga kesehatan dan melahirkan di fasilitas kesehatan juga menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan dalam melihat ketimpangan akses perempuan dan laki-laki dalam bidang kesehatan.

Kesetaraan gender akan memperkuat kemampuan negara untuk berkembang, mengurangi kemiskinan, dan memerintah secara efektif. Dengan demikian mempromosikan kesetaraan gender adalah bagian utama dari strategi pembangunan dalam rangka untuk memberdayakan masyarakat (semua orang) —perempuan dan laki-laki-untuk mengentaskan diri dari kemiskinan dan meningkatkan taraf hidup mereka. Sebagaimana dinyatakan McKinsey and Company (2015), jika perempuan dan laki-laki memainkan peran yang sama dalam pasar tenaga kerja, maka pada tahun 2025 GDP global tahunan akan bertambah sebesar $28 triliun atau meningkat 26 persen.

22 2.2 Kesetaraan Gender

Pengertian kesetaraan gender merujuk kepada suatu keadaan setara antara laki-laki dan perempuan dalam pemenuhan hak dan kewajiban. Diskriminasi berdasarkan gender masih terjadi pada seluruh aspek kehidupan, diseluruh dunia. Ini adalah fakta meskipun ada kemajuan yang cukup pesat dalam kesetaraan gender dewasa ini. Sifat dan tingkat diskriminasi sangat bervariasi diberbagai negara atau wilayah.

Tidak ada satu wilayahpun di negara dunia ketiga dimana perempuan telah menikmati kesetaraan dalam hak-hak hukum, sosial dan ekonomi Kesenjangan gender dalam kesempatan dan kendali atas sumber daya, ekonomi kekuasaan, partisipasi politik terjadi di mana-mana. Perempuan dan anak perempuan menanggung beban paling berat akibat ketidaksetaraan yang terjadi , namun pada dasarnya ketidaksetaraan itu merugikan semua orang. Oleh sebab itu, kesetaraan gender merupakan persoalan pokok suatu tujuan pembangunan yang memiliki nilai tersendiri.

Kesetaraan gender akan memperkuat kemampuan negara untuk berkembang, mengurangi kemiskinan, dan memerintah secara efektif.

Dengan demikian mempromosikan kesetaraan gender adalah bagian utama dari strategi pembangunan dalam rangka untuk memberdayakan masyarakat (semua orang)-perempuan dan laki-laki-untuk mengentaskan diri dari kemiskinan dan meningkatkan taraf hidup mereka. Pembangunan ekonomi membuka banyak jalan untuk meningkatkan kesetaraan gender dalam jangka panjang. Agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan memiliki makna yang penting karena setelah diadopsi maka akan dijadika n acuan secara global dan nasional sehingga agenda pembangunan menjadi lebih fokus. Setiap butir tujuan tersebut menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia

23

(HAM) dan untuk mencapai kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, baik tua maupun muda.

Pada dasarnya kesetaraan gender, dikenal juga sebagai keadilan gender, adalah pandangan bahwa semua orang harus menerima perlakuan yang setara dan tidak didiskriminasi berdasarkan identitas gender mereka, yang bersifat kodrati.

Sedangkan pengertian Gender adalah pembedaan peran, atribut, sifat, sikap dan perilaku yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Kata gender dapat diartikan sebagai peran dan perilaku yang dibentuk oleh masyarakat melalui proses sosialisasi yang berhubungan dengan jenis kelamin perempuan dan laki- laki.

Perbedaan secara biologis antara perempuan dan laki-laki seringkali ditafsirkan juga sebagai sebuah tuntutan sosial mengenai pantas atau tidaknya seseorang dalam berperilaku. Tutuntan yang diberikan berbeda sesuai dengan lingkungannya, namun sebagian besar masih memiliki pandangan yang sama dalam penyerahan tanggung jawab pengasuhan dan perawatan anak kepada perempuan, sedangkan tugas kemiliteran diberikan kepada laki-laki.

Adanya ketimpangan kesempatan antara laki-laki dan perempuan menimbulkan ketidakadilan yang dapat berpengaruh terhadap kebijakan dan kehidupan sosial. Pengertian kesetaraan gender merujuk kepada suatu keadaan setara antara laki-laki dan perempuan dalam pemenuhan hak dan kewajiban. Atau dapat pula diartikan bahwa ―kesetaraan gender mengacu pada persamaan hak, tanggung jawab dan kesempatan antara perempuan dan laki-laki‖ (UN Women).

Memberikan akses yang setara terhadap perempuan dan anak perempuan baik di bidang pendidikan, kesehatan, pekerjaan yang layak, keterwakilan dalam politik dan ekonomi dapat memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat yang lebih luas. Kesetaraan gender dapat juga diartikan sebagai upaya memberikan

24

kerangka hukum bagi perempuan di lingkungan pekerjaan serta memberantas praktek diskriminasi terhadap perempuan.

Pembangunan ekonomi membuka banyak jalan untuk meningkatkan kesetaraan gender dalam jangka panjang. Agenda tujuan pembangunan berkelanjutan memiliki makna yang penting karena setelah diadopsi maka akan dijadikan acuan secara global dan nasional sehingga agenda pembangunan menjadi lebih fokus. Setiap butir tujuan tersebut menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM) dan untuk mencapai kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan baik tua maupun muda.

Dokumen terkait