• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.2.2. Ketetapan MPR Nomor III/MPR/2000

2.2. Perubahan Hierarki Tata Urutan Perundang-Undangan.

2.2.1. Ketetapan MPRS nomor XX/MPRS/1966

Peraturan peraturan perundang-undangan dimulai dan dilatar belakangi oleh ketetapan MPRS nomor XX/MPRS/1966 tentang memorandum DPR-GR mengenai sumber tertib hukum Republik Indonesia dan tata urutan peraturan perundang-undangan Republik Idonesia, sebagai berikut :27

1. Undang-Undang Dasar 1945; 2. Ketetapan MPR;

3. Undang-Undang/Perppu; 4. Peraturan Pemerintah; 5. Keputusan Presiden;

Peraturan Pelaksana lainya yang meliputi: a. Peraturan Menteri;

b. Instruksi Menteri; c. dan lain-lain.

Ketetapan MPRS ini merupakan hasil dari pada sidang MPR tahun 1973 dan MPR tahun 1978 dengan ketetapan MPR No V/MPR/1973 dan ketetapan MPR No IX/MPR/1978 akan disempurnakan, namun sampai runtuhnya pemerintahan orde baru ketetapan MPR tersebut tidak mengalami perubuhan.28

2.2.2. Ketetapan MPR Nomor III/MPR/2000

Pasca reformasi, hierarki peraturan perundang-undangan Indonesia dirubah melalui ketetapan MPR No III/MPR/2000, dalam peraturan ini terdapat pergeseran kedudukan yakni kedudukan undang-undang adalah lebih tinggi

27

Ketetapan mprs no XX/MPRS/1966 tentang memorandum DPR-GR mengenai tertib hukum republik Indonesia dan tata urutan perundang-undangan republik idonesia jo ketetapan MPR nomor V/MPR/1973 tentang peninjauan produk-produk yang berupa ketetapan majelis.

21 daripada Perppu (Perppu), dan terjadi perubahan yakni di hapusnya “Peraturan Pelaksana lainya” di gantikan dengan Peraturan Daerah (Perda). Adapun tata urutan peraturan perundang-undangan jenis peraturan perundang-undangan menurut Ketetapan MPR No III/2000 adalah sebagai berikut: 1. Undang-undang dasar 1945; 2. Ketetapan MPR; 3. Undang-Undang; 4. Perppu (Perppu); 5. Peraturan Pemerintah; 6. Keputusan Presiden; 7. Peraturan Daerah.

Selain tata urutan peraturan perundang-undangan di atas, masih terdapat peraturan perundangan lain sebagimana ditentukan pasal 4 ayat (2) Tap MPR No. III/MPR/2000, yaitu peraturan atau keputusan Mahkamah Agung, badan Pemeriksa Keuangan, Menteri, Bank Indonesia, Badan Lembaga, Atau komisi yang setingkat yang di bentuk oleh pemerintah.

2.2.3. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan.

Suatu peraturan perundang-undangan selalu berlaku, bersumber dan berdasar pada peraturan yang lebih tinggi dan norma yang lebih tinggi berlaku, bersumber dan berdasar pada peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi lagi, dan seterusnya sampai pada peraturan perundang-undangan yang paling tinggi tingkatnya. Kosekuensi logis dari pernyataan diatas adalah peraturan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Berdasarkan ketetapan MPR RI No. I/MPR/2003 tentang peninjauan terhadap materi dan status hukum ketetapan

22 MPR sementara dan ketetapan MPR RI Tahun 1960 sampai dengan tahun 2002, dalam pasal 4 ketetapan MPR tersebut dinyatakan bahwa ketetapan MPR No III/MPR/2000 masih tetap berlaku sampai dengan terbentuknya undang-undang. Ketentuan pasal ini disesuaikan dengan ketentuan pasal 22A UUD 1945 yang mengamanatkan tentang tata cara pemebentukan undang-undang diatur dengan undang-undang-undang-undang.29 Selanjutnya pembentukan peraturan perundang-undangan Republik Indonesia diperbarui lagi dengan Undang-undang Nomor 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan PerUndang-undang- Perundang-Undangan.30 dalam undang-undang tersebut memuat tiga bagian besar yaitu tata urutan perundang-undangan dan materi muatan perundangan, pembentukan peraturan perundang-undangan dan teknis perundang-undangn. Undang-undang Nomor 10 tahun 2004 menyatakan hierarki peraturan perundang-undangan dalam pasal 7, sebagai berikut:

1. Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945; 2. Undang-undang/ Perppu;

3. Peraturan Pemerintah; 4. Peraturan Presiden; 5. Peraturan Daerah.

Peraturan daerah termaksud dalam poin 5 diperjelas dalam ayat 2 :

1. Peraturan daerah provinsi dibuat oleh dewan perwakilan rakyat daerah provinsi bersama dengan gubernur

2. Peraturan derah kabupaten/kota dibuat oleh dewan perwakilan rakyat daerah kabupaten/kota bersama dengan Bupati/Walikota.

3. Peraturan Desa/peraturan yang setingkat dibuat oleh badan perwakilan desa atau nama lainya bersama dengan kepala desa atau nama lainya.

29I id Ar e yasir …hl .

30 Lembaran Negara republik Indonesia (LNRI) tahun 2004 No 53, Tambahan Lembaran negara Republik Indonesia (TLNRI) Nomor 4389.

23 2.2.4. Undang-Undang nomor 12 tahun 2011 tentang Pembentukan

Peraturan Perundang-Undangan.

Pembaruan mengenai hierarki peraturan perundang-undangan Republik Indonesia terjadi lagi pada 12 Agustus 2011 lahirlah undang-undang baru yang menggantikan undang Nomor 10 Tahun 2004 yaitu Undang-undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan PerUndang-undang- Perundang-Undangan.31

Dalam hierarki ini kedudukan Perppu dikembalikan lagi seperti yang tercantum dalam Tap MPR No XX/MPR/1966 yakni sederajat dengan Undang-Undang, serta sedikit perubahan yakni adanya pemisahan Peraturan Daerah (Perda) menjadi Perturan Daerah Provinsi dan Peraturan Daerah Kabupaten.

Jimly Asyidiqie Berdasarkan teori tentang norma sumber legitimasi, yaitu apa bentuk norma hukum yang menjadi sumber atau yang memberikan kewenanangan kepada sumber atau pemberi kewenanangan terhadap lembaga negara yang bersangkutan, mengkalisfikanya lembaga ditingkat dalam empat tingkatan, yaitu:32

1. Lembaga negara tingkat konstitusional misalnya presiden, wakil presiden, DPR, DPD, MPR, MK, MA, dan Badan Pemeriksa Keuangan. Lembaga ini kewenanganya diatur dalam UUD dan diatur lebih rinci dalam Undang-undang.

2. Lembaga tingkat ke dua adalah lembaga yang dibentuk berdasarkan undang-undang yang berarti sumber kewenangannya bersumber dari

31 LNRI tahun 2001 nomor 82, TNLRI nomor 5234

24 pembentuk undang-undang, lembaga tingkat ini misalkan: Kejaksaan Agung, Bank Indonesia, Komisi Pemelihan Umum, Komisi Pemberantasan Korupsi, Komisi Penyiaran Indonesia, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, dll.

3. Lembaga tingkat ketiga adalah lembaga yang sumber kewenanganya bersumber dari presiden sebagai kepala pemerintahan, sedangkan yang lebih rendah adalah tingkatan lembaga yang di bentuk berdasarkan peraturan menteri, atas inisiatif menteri sebagai pejabat public berdasarkan kebutuhan yang berkaitan dengan tugas-tugas pemerintah dan pembangunan di bidang tanggung jawabnya dapat saja dibetuk badan, dewan lembaga atau panitia yang sifatnya tidak permanen dan bersifat spesifik.

4. Tingkat daerah, lembaga-lembaga semacam ini tidak disebut lembaga negara. Lembaga ini disebut sebagai lembaga daerah.

Adapun susunan peraturan perundang-undangan berdasarkan pasal 7 ayat (1) Undang-undang Nomor 12 Tahun 2011 adalah:

1. Udang-undang dasar Negara repubik Indonesia tahun 1945; 2. Ketetapan majelis permusyawaratan Rakyat;

3. Undang-undang/Perppu; 4. Peraturan Daerah; 5. Peraturan Presiden;

6. Peraturan Daerah Provisi Dan; 7. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.

Dari beberapa perubahan diatas jelaslah bahwa kedudukan Undang-undang dan Perppu masih sama kedudukanya, dalam Undang-undang ini tap MPR kembali ditempatkan dalam Hierarki Perundang-undangan yakni berada di

Dokumen terkait