• Tidak ada hasil yang ditemukan

KETIMPANAGN LINGUISTIK DAN SOSIAL Pengantar

Dalam dokumen FUNGSI DAN PERANAN rumah BAHASA (Halaman 32-35)

Semasa belum lahir linguistik modern, orang sering mengaggap bahwa ada bahasa yang baik dan teratur da nada pula bahasa yang tidak atau kurang baik. Bahasa bertinggi berendah sebagaimana perkembangan manusia bertinggi renda. Akan tetapi dengan lahirnya dengan lahirnya linguistic modern, pendapat seperti itu tak dapat diterimah secara ilmia. Menurut linguistik, semua jenis bahasa yang dipakai oleh manusia sama saja tingkatnya, tidak ada yang tinggi dan tidak ada pula yang rendah.

Akan tetapi orang kadang-kadang tidak sadar bahwa linguistik modern tidak tiba-tiba saja ada. Kajian bahasa untuk merasa yang panjang ada kaitannya dengan bahasa baku da nada kalahnya ahli bahasa yang merasa membuat deskripsi ternyata menghasilkan deskripsi yang mengandung preskripsi atau kaedah-kaedah yang dianjurkan di anggap demikian oleh masyarakat umum.

Parah ahli bahasa menekangkan adanya persamaan linguistik dalam masyarakat, tetapi orang awan tidak melihat persamaan itu. Hal ini timbul karena apa yang dikatakan bahasa oleh ahli linguistik sering berbeda dari apa yang di anggap bahasa oleh orang awan. Bagaimana pu juga, dengan menekankan adanya persamaan linguistik ini, orang melupakan bahwa bahasa bisa merupakan salah satu sumber ketimpangan sosial, sumber ketidak samaan.

Ketimpangan linguistik

Ketimpangan linguistik sering terdapat dalam masyarakat dan ia bisa merupakan sebab (tentu saja sering dengan faktor-faktor lain) dari ketimpangan sosial, tetapi ia juga dapat menjadi akibat dari ketimpangan sosial. Sosialinguistik melihat hal ini sebagai sesuatu fenomena yang perlu diterangkan dan karena itu ucapan ahli bahasa yang menekankan bahwa bahasa yang tidak brtinggi-berndah kita anggap tidak banyak menolong. Di mata masyarakat bahasa memang bertinggi berendah sebagaiman juga manusia, sekurang-kurangnya dalam pencapaiannya, bertinggi berendah.

Ketimpangan linguistik yang pertama ialah yang berkaitan dengan sikap dari banyak pemakaian bahasa, yaitu sikap subjektif. Di beberapa masyarakat, orang sering di nilai tentang sifat-sifatnya yang baim seperti cerdas, ramah-tamah dan sebagainya dengan memandang kepada cara bicaranya.

Ketimpangan linguistik yang kedua ialah yang berhubunga langsung dengan bahasa, jadi bersifat linguistik betul. Ketimpangan ini timbul karena tidak samanya manusia dalam kemampaunnya menguasai dan menggunakan bahasa.

Memang mengenai kosa kata pengetahuan dan pengalaman serta lingukngan seseorang sangat menentukan. Dalam sosiolinguistik, kita lebih memperhatikan perbedaan-perbedaan bahasa pada bidang-bidang kehidupan yang dianggap penting.

Walaupun ada kaitannya dengan penguasaan bahasa, namun kemampuan mengkomunikasikan ide atau gagasan dapat dianggap sebagai keterampian tersendiri. Sudah jelas bahwa orang yang tidak terampil ini mempunyai kekurangan yang sangat dirasakan atau yang dapat merugikan yang bersangkutan. Walaupun barangkali dia mempunyai gagasan yang bagus, akan tetapi kerena tidak mempunyai keterampilan menyampaikan gagasan itu tetap terpendam, tidak diketahui atau digunakan oleh orang lain. Jadi sebagai keterampilan linguistik yang ketiga dapatlah kita namakan sebagai ketimpangan komunikatif.

Prasangka bahasa

Prasangka bahasa umum terdapat dimana-mana bahkan ia sangat meninjol dari bermacam-macam prasangka yang terdapat dalam masyarakat. Cara orang berbicara berbeda-beda kadang terasa aneh bagi kita. Ada kalanya kita lebih cepat menerimah cara berpakaian orang lain itu. Secara otomatis kita memberikan reaksi asal usulnya adalah prasangka bila mendengar bahasa atau ragam bahasa yang berbeda daripada ragam atau bahasa sehari-hari. Ragam bahasa yang kita pakai tetap merupakan ragam bahasa yang cocok untuk kita dan sekitarnya orng lain itu ikut mempergunakan ragam bahasa kita itu dengan sempurna, maka takpelak lagi kita akan dengan segera menerimah orang itu dikalangan kita sendiri, menganggapnya sebagai orang kita saja.

Prasangka bahasa ini biasa terdapat dalam berbagai golongan dan lapisan masyarakat. Apabila prasangka bahasa itu terdapat dikalangan kaum guru, maka yang

jadi korbannya adalah murid-muri yang berprasangka bahasa atas ragam bahasa gurunya maka pelajaran dapat terganggu jalannya.

Prasangka bahasa timbul dalam masyarakat karena beberapa faktor. Salah satu faktor penting yang menyebabkan orang berprasangka bahasa terhadap orang lainilah faktor ketidak-pastian kita tentang keadaan orang lain itu. Apabila kita dengar orang asing itu memakai bahasa tertentu yang tidak kita pahami, maka kita lalu menilai orang itu berdasarkan bahasa yang dipakainya itu. Ini tentu dapat pula berlaku tentang suku-suku yang ada ditanah air.

Keanggotaan kita dalam suatu masyarakat bahasa ikut memperkuat rasa prasangka bahasa kita. Apa yang kita sebut kesetiaan bahasa walaupun tidak sama dengan prasangka bahasa dapat diperkuat atau diperlemah kadarnya oleh prasangka bahasa. Dalam kajian sosiolinguistik kita dapat pula mencarikan korelasi antara prasangka bahasa ini dengan variable-variable sosial.

Kajian kuantitatif

Pengkajian bahasa atau bicara secara kuantitatif sangat penting. Ada ahli sosiolinguisik yang menganggap bahwa hanya kajian kuantitatif ini saja yang dapat diterimah betul-betul sebagai kajian sosiolinguistik yang ilmiah.

Untuk mengadakan kajian-kajian yang bersifat kuantitatif, maka kita lebih dahulu menentukan variable-variable linguistik yang akan dipelajari. Apabila kita akan mempelajari teks, baik tertulis maupun yang berasal dari bicara lisan, kita menmpuh hal-hal sebagai berikut:

a. Memilih pembicara, situasi-situasi dan variable-variable linguistik. b. Mengumpulkan teks itu.

c. Mengidentifikasikan variabel-variabel linguistik dan varant-variantnya dalam teks itu.

d. Memproses angka-angka.

e. Membuat interpretasi hasil-hasil hitungan itu.

Ketimpangan bahasa yang disengajakan

Kepentingan linguistik yang terdapat dalam masyarakat biasanya menyerupai kepentingan-lepentingan sosial. Ia adalah kelanjutan dari kepentingan-kepentingan

dari masa yang silam dan umumnya tak diciptakan dengan sengaja. Akan tetapi terdapat pula ketimpangan-ketimpangan linguistik yang sengaja diciptakan.

Ketimpangan linguistik yang disengajakan memang tidak banyak terlihat lagi dalam masyarakat mana pun. Akan tetapi perbedaan-perbedaan tingkat bahasa dalam satu masyarakat yang sudah melembaga, dalam satu pengertian , dapat digolongkan kepada ketimpangan linguistik yang disengajakan itu. Oleh karena pertimbangan-pertimbangan tertentu ada golongan yang ingin melestarikan ketimpangan tersebut.

Dalam dokumen FUNGSI DAN PERANAN rumah BAHASA (Halaman 32-35)

Dokumen terkait