BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.5. Ketimpangan Gender dalam Keluarga terhadap Anemia
Keluarga sebagai unit terkecil dari sebuah masyarakat merupakan sasaran yang strategis bagi pensosialisasian konsep kesetaraan gender, karena kultur Indonesia yang patriarki masih mendominasi dalam keluarga.
2.5.1. Distribusi Makanan
Nilai-nilai sosial budaya yang menganggap perempuan sebagai masyarakat nomor dua menyebabkan timbulnya perbedaan perlakuan dari orang tua sejak kecil dalam hal penyediaan makanan untuk anak perempuan. Pembagian makanan yang tepat kepada setiap orang dalam keluarga adalah penting untuk mencapai gizi baik. Makanan harus dibagikan untuk memenuhi kebutuhan gizi seimbang setiap orang dalam keluarga. Secara tradisional dalam masyarakat ada aturan dimana ayah mempunyai prioritas utama atas jumlah dan jenis makanan tertentu dalam keluarga, anggota keluarga lainnya menempati urutan prioritas berikutnya dan yang paling umum mendapat prioritas terbawah adalah ibu. Apabila hal yang demikian itu masih dianut dengan kuat oleh keluarga maka dapat saja timbul distribusi konsumsi makanan yang tidak baik diantara anggota keluarga (Simatauw dkk, 2001).
Diskriminasi dalam alokasi makanan, konsumsi makanan yang tak memadai pada keluarga miskin, diduga menyebabkan kekurangan gizi bagi perempuan. Tradisi sosial budaya saat ini menempatkan anak perempuan bernilai lebih rendah daripada
anak lelaki, mengingat anak lelaki dipandang sebagai pewaris garis keluarga. Beberapa pengamatan kualitatif menunjukkan bahwa selama kekurangan makanan, kegagalan panen, dan kelaparan, perempuan dan anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan (Sibagariang dkk, 2010 ).
Norma yang berlaku di masyarakat bahwa perempuan seyogyanya makan bagian yang terakhir sesudah suami, orang tua dan anak-anaknya, merupakan bentuk dari subordinasi atau penomorduaan perempuan. Nilai semacam ini merupakan etika kehidupan secara umum, yang kemudian mengatur tingkah laku dalam keluarga. Akibatnya ibu hamil tidak mendapatkan makanan yang bergizi dan menyebabkan anemia yang berpengaruh terhadap kehamilannya. Bentuk subordinasi yang lain bagi perempuan adalah banyaknya mitos yang merugikan ibu hamil seperti dilarang makan udang, kepiting, ikan menyebabkan gangguan gizi seimbang alias kurang protein. Apabila kebiasaan ini berlangsung terus menerus pada ibu hamil dapat terjadi anemia (Luhulima, 2006).
Paath dkk (2004) yang dikutip oleh Salmah dkk (2006), menyatakan makanan pantangan, sangat memengaruhi kecukupan zat gizi pada ibu hamil. Banyak makanan yang seharusnya dikonsumsi tapi dilarang untuk ibu hamil, akibatnya ibu hamil tidak memakan makanan tertentu sehingga mengurangi intake makanan dan akhirnya menurunkan status gizinya. Sementara kita ketahui bahwa seorang ibu yang sedang hamil seharusnya terpenuhi kecukupan gizinya untuk kepentingan dirinya sendiri dan janin yang sedang dikandungnya.
2.5.2. Beban Ganda (Double Burden)
Perempuan mempunyai peran reproduktif, peran produktif dan peran sosial. Adanya anggapan bahwa kaum perempuan memiliki sifat memelihara dan rajin, serta tidak cocok untuk menjadi kepala rumah tangga, mengakibatkan semua pekerjaan domestik rumah tangga menjadi tanggung jawab kaum perempuan. Konsekuensinya, banyak perempuan yang harus bekerja keras dan lama untuk menjaga kebersihan dan kerapian rumah tangganya, mulai dari membersihkan dan mengepel lantai, memasak, mencuci, mencari air untuk mandi hingga memelihara anak (Daulay, 2007).
Waktu yang dicurahkan untuk pekerjaan rumah tangga oleh wanita di pedesaan adalah intensif dan banyak, khususnya rumah tangga dari golongan ekonomi lemah. Pekerjaan itu memerlukan banyak waktu dan energi, disebabkan oleh kurangnya fasilitas dan teknologi. Berbeda dengan rumah tangga lapisan atas yang mampu mengurangi beban dalam pekerjaan rumah tangga karena mempunyai alat- alat dan fasilitas yang lebih baik dan mempunyai biaya untuk membayar orang untuk membantunya.
Di kalangan keluarga miskin beban yang sangat berat ini harus ditanggung oleh perempuan sendiri (peran reproduktif). Terlebih-lebih jika si perempuan tersebut harus bekerja mencari penghasilan (peran produktif), maka ia memikul beban ganda. Kesehatan ibu hamil akan terganggu jika ibu harus bekerja keras untuk mendapatkan penghasilan keluarga, disamping tetap dituntut melaksanakan pekerjaan rumah tangga (Kelompok studi wanita FISIP UI, 1990).
Bias gender yang mengakibatkan beban kerja tersebut seringkali diperkuat oleh adanya pandangan atau keyakinan di masyarakat bahwa pekerjaan yang dianggap jenis pekerjaan perempuan seperti pekerjaan domestik, dinilai lebih rendah dibandingkan dengan jenis pekerjaan lelaki, serta dikategorikan sebagai bukan produktif sehingga tidak diperhitungkan dalam statistik ekonomi negara. Hampir separuh istri melakukan aktivitas ekonomi di sektor publik seperti karyawan, buruh, pembantu dan lain-lain, untuk menutupi kekurangan pendapatan suami dalam upaya memenuhi kebutuhan rumah tangga. Keputusan istri terjun ke sektor publik ini sebagai wujud tanggung jawab mereka terhadap masa depan rumah tangga terutama anak-anaknya (Sihite, 2007).
Dari hasil penelitian kelompok studi wanita FISIP-UI 1990 ditemukan 95% wanita dari golongan bawah bekerja karena ingin menambah penghasilan rumah tangga. Perempuan juga harus berperan secara sosial yang mencakup kegiatan sosial dan gotong royong dalam kehidupan masyarakat, seperti perayaan, selamatan, kesertaan dalam organisasi, kesertaan dalam kegiatan politik. Kegiatan ini tidak menghasilkan uang tetapi seringkali menyerap banyak waktu dan penting bagi pemeliharaan dan pengembangan aspek spiritual, kultural komunitas serta sebagai alat komunikasi untuk dapat menentukan nasibnya sendiri (Handayani dan Sugiarti, 2008).
Peranan suami dalam kegiatan rumah tangga akan membantu menyelamatkan istri dari kelebihan peran dalam keluarga dan peran dalam masyarakat, serta akan mengurangi konflik antar keluarga. Menurut hasil penelitian Umami dan Puspitasari
(2007), bahwa 78,2 % suami membantu pekerjaan rumah tangga pada saat istri sedang hamil. Penelitian ini juga menyatakan salah satu faktor yang memengaruhi seorang suami ikut berpartisipasi dalam pekerjaan rumah tangga adalah pandangan peran gender yang dianut suami.
Suami yang memiliki pandangan peran gender tradisional memandang bahwa laki-laki adalah sebagai penguasa utama rumah tangga yang memiliki hak-hak istimewa dan otoritas terbesar dalam keluarga sehingga kurang bersedia mengerjakan tugas rumah tangga. Suami yang memiliki pandangan peran gender yang modern berpendapat bahwa laki-laki dan perempuan adalah setara, karena itu suami dapat menyesuaikan diri dengan peran istri di rumah tangga dan bersedia menerima tanggung jawab yang lebih besar dalam kegiatan rumah tangga terutama pada saat istri sedang hamil (Umami dan Puspitasari, 2007).
Melakukan pekerjaan yang berat disaat hamil memang menjadi salah satu penyebab dari berkurangnya kemampuan tubuh dalam memenuhi kebutuhan gizi untuk ibu dan janin yang dikandungnya. Cadangan energi terkuras habis untuk memenuhi aktivitas ibu hamil. Energi yang seharusnya bisa didapat dari konsumsi makanan ternyata tidak didapatkan, karena kehamilan dianggap biasa saja. Bagi masyarakat, ritual persalinan lebih penting daripada kehamilan itu sendiri. Akibatnya, seorang ibu hamil bisa mengalami anemia dalam kehamilan (Daulay, 2007).
2.5.3. Pengambilan Keputusan terhadap Kehamilan
Kesehatan reproduksi menurut WHO dalam Nugroho dan Setiawan (2010), adalah kesejahteraan fisik, mental dan sosial yang utuh bukan hanya bebas dari
penyakit atau kecacatan, dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya. Hak reproduksi mencakup pengakuan hak-hak asasi pasangan dan pribadi untuk menentukan secara bebas dan bertanggung jawab mengenai jumlah anak dan menentukan waktu kelahiran anak-anak mereka. Perempuan diharapkan tampil menjadi subjek utama yang mengontrol kesehatan reproduksinya, karena perempuanlah yang memiliki rahim. Meskipun perempuan merupakan key-person dari efektivitas pelaksanaan kesehatan reproduksinya, dalam kenyataannya perempuan di Indonesia masih banyak yang belum dapat mengambil keputusan sendiri meski itu menyangkut dirinya. Perempuan masih selalu tergantung pada orang diluar dirinya seperti suami, orangtua, keluarga besarnya (Yustina, 2005).
Hak-hak reproduksi meliputi sebagian hak-hak azasi manusia yang sudah diakui kekuatan hukumnya baik secara nasional maupun internasional. Menurut hasil kesepakatan Konferensi Kependudukan dan Pembangunan Internasional (ICPD) di Kairo tahun 1994, hak-hak reproduksi mencakup hak untuk hidup bebas dari resiko kematian karena kehamilan, hak atas kebebasan dan keamanan atas kehidupan reproduksinya, hak atas kesetaraan dan bebas dari segala bentuk diskriminasi, hak atas kerahasiaan pribadi, hak kebebasan berpikir, hak memilih bentuk keluarga dan untuk membangun serta merencanakan keluarga, hak untuk memutuskan secara bebas mengenai jumlah anak, menentukan waktu kelahiran anak dan cara untuk mernperolehnya. Masalah kesehatan reproduksi ini, walau telah memiliki landasan hukum yang kuat, namun dalam prakteknya terdapat kesenjangan antara prinsip-
prinsip hukum dengan realitas sosial, karena hak reproduksi banyak dipengaruhi oleh masalah relasi sosial (Depkes RI, 2003).
2.5.3.1. Faktor-faktor yang memengaruhi pengambilan keputusan dalam keluarga
Pengambilan keputusan dalam keluarga dipengaruhi oleh informasi, ketrampilan dalam berkomunikasi dan posisi anggota keluarga. Pengetahuan seseorang terkait erat dengan terpaan informasi, baik bersumber dari media massa maupun non media massa. Akses wanita ke media massa lebih rendah dari pria. Konstruksi gender telah berhasil membangun satu aspek pendidikan keluarga bahwa anak wanita dididik untuk tidak banyak bicara sehingga akan mencerminkan wibawa. Wibawa yang terpancar akan memiliki kekuatan dengan sekali bicara akan didengar dan dipatuhi terutama oleh anak-anaknya, tetapi hasil pendidikan dalam keluarga ini yang menonjol bukan produk kewibawaan tapi ketidakberanian mengeluarkan pendapat, gagap berbicara, sulit merumuskan kalimat yang sesuai apa yang diinginkannya, tidak memiliki kekuatan untuk mengemukakan masalah tersebut.
Pemasungan kreativitas berkomunikasi pada anak-anak wanita yang dipraktekkan banyak keluarga di pedesaan, akhirnya bermuara pada kondisi yang menempatkan mereka pada posisi tidak dapat melaksanakan keputusan. Ketidakterampilan berkomunikasi dalam proses pembuatan keputusan, menempatkan ibu-ibu rumah tangga dalam posisi yang relatif rendah, sehingga kebutuhan dan keinginannya sulit terealisasikan. Keputusan yang dihasilkan cenderung didominasi
kepentingan suami, sekalipun keputusan tersebut menyangkut masalah-masalah yang berkaitan hidup matinya ibu-ibu itu sendiri seperti masalah kesehatan reproduksi.
Apabila ibu-ibu rumah tangga bermodalkan pengetahuan yang memadai dan akurat tentang kesehatan reproduksi, communication skill yang bagus maka akan dapat menaikkan position bargainingnya dalam proses pembuatan keputusan sehingga akan mampu menentukan apa yang menurutnya terbaik bagi kesehatan dirinya. Faktor komunikasi dan informasi dapat mendudukkan ibu-ibu rumah tangga pada posisi penentu dalam pembuatan keputusan, bukan lagi berada pada posisi marginal yang hanya sebagai pelaksana keputusan.
2.5.3.2. Tipe-tipe Pengambilan Keputusan
Menurut Abdullah (2001), terdapat tiga tipe pengambilan keputusan pemeliharaan kesehatan reproduksi dalam keluarga :
1) Musyawarah, banyak ditempuh oleh keluarga di pedesaan. Prosedurnya si istri menyampaikan masalah atau keinginan yang berkaitan dengan pemeliharaan kesehatan reproduksi. Dilanjutkan untuk mencari jalan ke luar atau memecahkan masalah, atas dasar argumen yang dikemukakan suami dan istri sehingga diperoleh keputusan yang memuaskan kedua pihak.
2) Dominan istri, umumnya terjadi pada kelompok ibu-ibu rumah tangga yang wewenang penuh untuk mengambil keputusan sendiri. Ibu-ibu rumah tangga ini dalam prakteknya tetap memberitahu suami sebagai bentuk permintaan izin sebelum melaksanakan keputusan yang ia buat sendiri.
3) Dominan suami, tipe pengambilan keputusan seperti ini banyak berlaku pada ibu-ibu rumah tangga yang relatif tua. Terdapat dua klasifikasi pengambilan keputusan dari tipe dominan suami ini, yaitu pertama, suami yang langsung membuat keputusan sendiri begitu istrinya mengemukakan permasalahan yang dihadapi, tanpa banyak bertanya atau meminta pertimbangan istri terlebih dulu. Kedua, suami akan meminta pendapat dan keinginan istrinya dalam proses pembuatan keputusan. Selanjutnya ia memutuskan tindakan yang harus dijalankan istrinya tanpa melalui tahapan pencapaian kesepakatan antara suami dan istri.
Hasil penelitian Mien Hidayat (2005) secara kualitatif ditemukan bahwa sebagian bapak-bapak yang umumnya pegawai dan berusia relatif muda mengemukakan proses pembuatan keputusan terhadap kehamilan dilakukan secara musyawarah suami dan istri. Dalam musyawarah tersebut dikemukakan berbagai solusi pemecahan masalah kemudian si istri diberi wewenang untuk memilih salah satu solusi terbaik menurutnya, suami menopang berbagai aspek dalam pelaksanaan keputusan tersebut. Bagian lainnya menyatakan bahwa untuk kesehatan kehamilannya, mereka menyerahkan penuh kepada istrinya untuk memutuskan sendiri apa yang akan ditempuh dalam pemeliharaan kehamilannya, karena merekalah yang paling tahu mengenai masalah tersebut dan apa yang mereka butuhkan. Dengan syarat apa yang akan diputuskan itu, terlebih dulu diberitahukan kepada suami sebelum dilaksanakan.
2.6. Karakteristik Ibu